AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
40
PENERAPAN PERILAKU JUJUR MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DASAR
Awalia Marwah Suhandi
1
, Dinie Anggraeni Dewi
2
, Yayang Furi Furnamasari
3
1,2,3
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia,
Kampus Daerah Cibiru
1
Email: awaliamarwah@upi.edu
ABSTRAK
Perilaku jujur merupakan kunci untuk pendidikan yang lebih baik. Dalam hal ini pendidikan seakan tutup
telinga menanggapi berbagai permasalahan terkait permasalahan jujur tersebut. Untuk itu diperlukan
sebuah solusi untuk meminimalisirnya. Solusi yang strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut
adalah dengan dilakukakkannya pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar. Tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah untuk menerapkan perilaku hidup jujur melalui pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar. Dalam hal ini, pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan di sekolah dasar penting untuk diselenggarakan karena akan membentuk sikap yang
berkarakter bagi peserta didik. Adapun, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan
studi literatur terhadap pendapat para tokoh dan mengkaji jurnal yang terkait dengan mater. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah, pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar menjadikan peserta didik
menjadi warga negara yang baik karena di dalam muatan materi pembelajaran yang diajarkan terkandung
nilai pendidikan karakter salah satunya adalah berperilaku jujur.
Kata Kunci: Pembelajaran PKn di SD, penerapan perilaku jujur, solusi permasalahan kebiasaan
menyontek
ABSTRACT
Honest behavior is the key to better education. In this case, education seems to turn a deaf ear to various
problems related to honest problems. For that we need a solution to minimize it. A strategic solution to
overcome these problems is to carry out civic education learning in elementary schools. The purpose of
this research is to apply honest living behavior through civic education learning in elementary schools.
In this case, civics education learning in elementary schools is important to be held because it will form
a character attitude for students. Meanwhile, this study uses a qualitative method by conducting a
literature study on the opinions of the figures and reviewing journals related to the material. The
conclusion of this study is that civic education in elementary schools makes students good citizens
because the content of the learning materials taught contains the value of character education, one of
which is honest behavior.
Keywords: Civics learning in elementary school, application of honest behavior, solution to the problem
of cheating habits
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sebuah upaya menjadikan peserta didik memiliki akhlak yang baik
untuk masa depan suatu bangsa. Menurut Yuli Sectio Rini (2013) Pendidikan memiliki peran
penting untuk memberdayakan kemampuan dan potensi dalam mengendalikan emosi,
meningkatkan kecerdasan, berkarakter sesuai pancasila, dan menjunjung tinggi perilaku sesuai
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
41
hak dan kewajiban di masyarakat. Pendidikan tercipta melalui interaksi sadar yang dilakukan
segenap elemen pendidikan, misalnya antara guru dan siswa, kurikulum pembelajaran, dan mata
pelajaran untuk meunjang pembelajaran siswa. Dengan mempertimbangkan beberapa konsep,
Pendidikan dapat diselenggarakan dengan berbagai upaya misalnya dengan pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan kepada siswa, khususnya pada siswa sekolah dasar.
Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan perlu diajarkan kepada peserta didik berdaya
guna meningkatkan penerapan hidup sesuai dengan perilaku yang baik di masyarakat. Menurut
Machful Indra Kurniawan (2013) kunci dari penerapan pendidikan yang berkarakter bisa dilihat
dari pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Sekolah dasar merupakan fondasi
awal sebuah pendidikan, maka dari itu dengan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di
sekolah dasar bisa menjadi salah satu strategi untuk menjembatani tujuan pendidikan yang
berakhlak mulia sesuai dengan pancasila.
Generasi muda menentukan arah masa depan suatu bangsa. Jika, generasi mudanya tidak
menunjukkan sesuatu transisi haluan yang positif. Akan dapat dipastikan arah dari haluan suatu
bangsa mengalami kekacauan dalam berbagai aspek. Hal ini sejalan dengan pendapat Awalia
Marwah Suhandi dan Dini Anggraeni Dewi (2021) kunci dari pembentukkan suatu bangsa yang
baik terletak pada sikap menjunjung tinggi penerapan pancasila oleh generasi mudanya.
Pendidikan di Indonesia tidak kekurangan peserta didik yang cerdas, namun pendidikan di
Indonesia kekurangan peserta didik yang berperilaku jujur. Hal ini ditunjukkan dengan
banyaknya permasalahan terkait perilaku jujur, contohnya adalah kebudayaan menyontek.
Perilaku menyontek merupakan wujud penerapan perilaku tidak jujur di lingkungan
sekolah. Dalam hal ini ditemukan berbagai kasus tentang perbuatan yang buruk ini yaitu
perilaku menyontek. Tidak berperilaku jujur dengan menyontek ini sudah terjadi sejak lama,
sehingga sudah menjadi suatu kebiasaan di lingkungan sekolah. Peserta didik yang menyontek
menganggap bahwa jalan satu-satunya menuju nilai yang baik adalah dengan menyontek.
Perilaku seperti ini harus dihentikan dan diminimalisir demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Menurut Anugrahening Kushartanti (2009) pendidik harus menanamkan rasa percaya kepada
peserta didik dalam pembelajaran. Para guru harus mengubah pemikiran siswa, Karena sejatinya
nilai dari kertas ulangan itu tidak akan memengaruhi masa depan, namun akhlak yang sesuai
dengan pendidikan karakterlah yang dapat menuntun menuju kesuksesan.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
42
Penerapan perilaku hidup jujur bisa dilakukkan dengan melakukkan pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan. Dalam pendidikan kewarganegaraan diterapkan pendidikan
karakter sebagai wujud implementasi pembelajarannya. Menurut T Heru Nurgiansah (2021)
dengan penerapan nilai-nilai yang ada pada pancasila maka akan terciptanya pendidikan yang
menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya. Nilai pancasila ada pada muatan PKn di SD,
untuk itu harus dimaknai oleh peserta didik sebagai upaya meningkatkan kualitas diri dengan
berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pemaparan tersebut, pengkaji akan mengkaji secara komperhensif
bagaimana pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar dapat mengatasi
permasalahan yang sudah mengakar yang melahirkan kebudayaan bahkan kebiasaan di sekolah
yaitu tidak berperilaku jujur misalnya menyontek dan berbohong.
METOE PENELITIAN
Pada metode penelitian setidaknya ditemukan gambaran atau arah penelitian yang akan
dikembangkan. Pada penelitian kali ini, digunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Conny
R Semiawan (2010) mencari definisi secara menyeluruh tentang sesuatu data secara faktual
dapat menggunakan penelitian kualitatif. Untuk itu, penelitian kualitatif sudah sangat tepat
untuk dijadikan metode dalam penelitan kali ini.
Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai macam teknik untuk memudahkan
penelitian, salah satunya adalah studi literature. Menurut Mulyo (2012) peneliti yang
menentukakkan apakah kajian ini dapat terselenggara, untuk itu peneliti harus menganalisis
beberapa pendapat dan mengambil kesimpulan. Kajian pada penelitian kali ini, membandingkan
beberapa pendapat dari sumber-sumber jurnal yang teraktual kemudian dikembangkan, dicatat,
dikelola, serta diambil kesimpulannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Pembelajaran dapat berlangsung ketika terjadi keharmonisan antara pendidik, peserta
didik, dan pengelolaan kelas efektif. Artinya harus mempertimbangkan rasa kemanusiaan di atas
segalanya dan memiliki karakter yang kuat untuk hidup yang senantiasa berlaku jujur dalam
segala tindakan. Ketika dalam diri seseorang sudah tertanam bagaimana cara
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
43
mengimplemetasikan nilai baik dalam diri, maka orang tersebut telah berhasil mencapai tujuan
pendidikan yang sesungguhnya. Menurut Tata Herawati Daulae (2014) dalam pembelajaran
harus memiliki beberapa komponen yaitu adanya cita-cita yang digapai, yang ingin dicapai,
kompetensi materi , tindakan dan strategi, refernsi bacaan, dan bahan penilaian. Pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan mengandung beberapa esensi mencetak generasi unggul karena
mengandung materi pendidikan karakter sesuai dengan sila yang terdapat pada pancasila.
Dalam pendidikan kewarganegaraan terkandung nilai-nilai karakter bangsa yang termuat
dalam pendidikan karakter. Menurut Ina Magdalena (2020) wujud dari materi pendidikan
kewarganegaraan sebagai berikut:
1. Perilaku Taat
Dalam hal ini wujud yang memuat materi dalam pendidikan kewarganegaraan adalah
perilaku taat. Taat dalam hal ini adalah bersikap tunduk dan patuh kepada arahan sang
pencipta. Perilaku taat bisa dilakukan dengan cara berdoa ketika hendak memulai
pembelajaran.
2. Perilaku Tenggang Rasa
Pada perilaku ini, materi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dapat membuat
peserta didik memiliki rasa empati dan saling tolong menolong terhadap satu dengan
yang lainnya. Hal ini terwujud ketika peserta didik bisa bekerjasama dalam tugas
kelompoknya.
3. Perilaku Cinta Tanah Air
Perilaku ini ditunjukkan pada materi Pendidikan kewarganegaraan yang senantiasa
mengandung unsur jiwa patriotisme yang tinggi. Cinta tanah air ini merupakan wujud
materi pendidikan kewarganegaraan yang menjadi ciri khas pelajaran ini dipelajari di
sekolah dasar.
4. Perilaku Disiplin
Disiplin dalam materi PKn ini adalah bagaimana peserta didik dapat menjalani
kehidupannya sesuai dengan aturan yang berlaku dimana peserta didik tinggal. Misalnya
ketika guru memberikan aturan tidak boleh telat, maka murid harus menaati peraturan
tersebut untuk terciptanya perilaku disiplin.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
44
5. Perilaku Bekerja Sama
Kerja sama dalam hal ini mampu berdiskusi dan mampu menempatkan dirinya sejajar
dengan yang lain. Bekerja secara bersama akan mewujudkan pembelajaran yang
harmonis dan pekerjaan atau tugas akan cepat terlaksana dengan baik.
6. Perilaku Jujur
Dalam wujud perilaku jujur ini, materi pendidikan kewarganegaraan memuat sebuah
konsep yang mudah dipahami oleh peserta didik dan mampu memberikan stimulus untuk
senantiasa berperilaku jujur dalam perkataan dan tindakan yang telah dilakukannya.
Perilaku jujur merupakan wujud implementasi pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan yang dapat dilaksanakan dengan baik.
Pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar merupakan suatu upaya menciptakan
generasi penerus bangsa yang menjunjung tinggi nilai kejujuran di dalam jiwanya. Menurut Ina
Magdalena, Ahmad Syaiful Haq, dan Fadlatul Ramdhan (2020) materi dalam pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan mengandung konsep mengedepankan perilaku moral yang mampu
berfikir dengan logika. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan terintegrasikan dengan
beberapa mata pelajaran lain, sehingga peserta didik dibimbing oleh guru untuk memahami
bagaimana cara agar tidak terjadi misskonsepsi pemahaman tentang hidup jujur.
Pendidik harus mampu mengusai metode pembelajaran dalam pendidikan
kewarganegaraan. Metode ini dibutuhkan untuk mengubah paradigma lama mengenai mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan, menjadi paradigma baru untuk masa depan. Menurut
Feri Tirtoni (2016) ciri dari paradigma baru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah
(1) membentuk siswa yang dapat mengetahui masalahnya sendiri, (2) melatih siswa
menganalisis permasalahnya, (3) membantu siswa menemukan solusi yang tepat bagi suatu
permasalahannya.
B. Penerapan Perilaku Jujur Kepada Peserta didik
Jujur merupakan perilaku yang baik, namun saat ini sulit untuk ditemui dalam dunia
pendidikan. semua seakan-akan lupa bahwa esensi pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana
penerapan pendidikan karakter salah satunya berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Daviq Chairilsyah (2016) hal yang paling fundamental dalam kehidupan adalah nilai
kejujuran. Nilai kejujuran harus diajarkan sedini mungkin. Tanamkan pemikiran bahwa jujur itu
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
45
adalah di atas segalanya. Berikut adalah cara yang dapat dilakukan pendidik untuk menerapkan
perilaku jujur kepada peserta didik:
1. Tanamkan Perilaku Jujur secara sederhana
Dalam hal ini pendidik bisa memberi contoh kepada peserta didik mengenai perilaku
jujur. Misalnya jujur kepada diri sendiri bahwa sudah melakukkan ibadah tepat waktu,
jujur ketika berbicara kepada kedua orang tua, jujur di kalangan masyarakat. Pendidik
harus merasakan dan berdialog dengan peserta didik dan tanamkan nilai religius yang
kuat kepada peserta didik.
2. Berikan pemahaman bahwa nilai bukan segalanya
Dalam hal ini pendidik bisa memotivasi siswa dengan cara mengatakan bahwa
berperilaku jujur itu di atas segalanya. Dalam penerapannya peserta didik tidak akan
mendewakan nilai dan mengejar nilai tanpa memerhatikan kejujuran yang ada.
penanaman pemahaman ini akan menjadikan peserta didik percaya dan yakin kepada
dirinya sendiri.
3. Berikan Pujian
Ketika peserta didik sudah melakukkan sikap hidup jujur dalam kehidupannya, pendidik
jangan sampai lupa memberikan sebuah pujian agar peserta didik dapat melakukkan hal
baik tersebut secara terus menerus.
Membiasakan hidup jujur di lingkungan sekolah memang sangat sulit, terlebih sistem
pendidikan di Indonesia saat ini dirasa hanya memperhatikkan aspek pengetahuan saja tanpa
melihat proses perkembangan pembelajaran peserta didik. Usaha berperilaku jujur dapat
menciptakan sebuah pemerdekaan belajar yang mengartikan bahwa kejujuran merupakan kunci
dari kesuksesan. Menurut Teuku Zulkhairi (2011) Pendidikan di indonesia terlalu berlomba
mencapai tujuan berupa nilai, tanpa mempertimbangkan potensi pengelolaan sikap. Perilaku
seperti ini harus diminalisir, bahwa sesungguhnya pendidikan itu bukan ajang berpacu dalam
nilai semata, namun bagaimana mencetak generasi unggul yang menjunjung tinggi nilai
kejujuran.
C. Permasalahan Perilaku Jujur dalam Pendidikan
Masalah utama dari perilaku jujur dalam dunia pendidikan adalah kebudayaan menyontek
oleh para peserta didik. tidak dapat dipungkiri bahwasannya menyontek pasti pernah dilakukan
oleh peserta didik. Menurut Awalia Marwah Suhandi dan Triana Lestari (2021) Perilaku
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
46
menyontek adalah sebuah kebiasaan yang muncul secara tidak sengaja, namun diwajarkan
terjadi di lingkungan sekolah. Artinya, sebenarnya kebudayaan menyontek ini bisa diatasi, tetapi
semua orang memilih diam menanggapi permasalahan ini.
Kegiatan menyontek terjadi disemua tingkatan mulai dari SD sampai kuliah. Jika pada
jenjang pendidikan sekolah dasar peserta didik sudah melakukkan kegiatan tersebut, maka
peserta didik nantinya akan terus mengulanginya. Dengan demikian, fungsi guru sekolah dasar
sangat dibutuhkan. Pendidik di sekolah dasar harus bisa memberikan education kepada peserta
didik, bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak mencerminkan akhlak yang baik.
Dari berbagai alasan yang timbul mengenai perilaku menyontek, alasan yang paling
banyak dikemukakan adalah takut nilai yang diraih tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
Menurut Chistine Masada & Sabrina Dachmiati (2016) menyontek merupakan jalan pintas
meraih nilai yang pantas. Maka dari itu diperlukan refleksi menanggapi hal tersebut. Pendidikan
seharusnya tidak menekkan peserta didik meraih nilai yang baik, namun diperlukan penilaian
proses dalam sebuah pembelajaran. Pemerintah dan guru harus berkaca dan mengkaji ulang
mengapa para peserta didik melakukkan tindakan tersebut, dengan mengkaji hal tersebut dapat
ditemukkan sebuah jalan keluar mengenai kebudayaan menyontek tersebut.
Selain karena takut nilai tidak maksimal, faktor yang mengakibatkan peserta didik
menyontek adalah perilaku yang malas dalam belajar. Peran guru yang harus dilakukkan dalam
hal ini adalah memberikan motivasi dan menyiapkan strategi apa yang tepat untuk mengatasi
hal tersebut. Cari tahu keinginan apa yang diinginkan oleh siswa agar terciptanya iklim belajar
yang menyenangkan dengan mengedepankan nilai kejujuran.
Selain peran guru yang harus ditingkatkan dalam kebiasaan menyontek ini, peran peserta
didik juga dibutuhkan. Setelah guru membimbing dan mengajarkan berbagai pemahaman
tentang perilaku hidup jujur dengan mengikuti pembelajaran pendidikan kewarganegaraan,
selanjutnya peserta didik harus benar-benar menerapkan perilaku itu di dalam dirinya. Peserta
didik harus sadar mengenai pentingnya berperilaku jujur di sekolah, rumah, dan masyarakat.
D. Solusi Mengatasi Permasalahan Tidak Berperilaku Jujur
Seperti pemaparan pada point-point sebelumnya, dikatakan bahwa perilaku jujur sudah
mengakar dan sulit sekali dihilangkan dari jati diri peserta didik sekarang. Terlebih dimasa
pandemi potensi peserta didik melakukkan tindakan kecurangan itu sangat besar sekali. Untuk
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
47
itu diperlukan sebuah upaya pemberantasan hal tersebut. Cara yang paling efektif adalah melalui
pembelajaran yang dilakukan.
Pengajaran ini, merupakan hal dasar yang wajib diberikan kepada siswa. Muatan
pembelajaran dasar termuat berbagai macam konsep, proses, dan kegiatan untuk mencapai
tujuan pendidikan sesungguhnya. Pendidikan karakter adalah salah satu wujud nyata adanya
mata pelajaran PKn di SD. Dengan mempelajari hal tersebut, maka dapat mengatasi
permasalahan yang ada pada dunia pendidikan. Adapun manfaat pengajaran PKn:
1. Menjadikkan siswa sebagai masyarakat baik
Tujuan utama pembelajaran merupakan menciptakan siswa yang memiliki berkarakter.
Peserta didik harus senantiasa berkontribusi untuk kemajuan bangsanya. Dalam
pembelajaran ini, siswa diperkenalkan bagaimana dapat bertoleransi dan tenggang rasa
kepada orang lain serta berkontribusi secara aktif untuk kemajuan bangsanya.
2. Memunculkan kesadaran akan pentingnya hak dan kewajiban warga negara
Pembelajaran telah dilakukan diberbagai tingkatan kelas, misalnya menghormati hak
orang lain, mendapatkan haknya, serta harus menjalankan kewajiban sebagai warga
negara, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa
peserta didik diharapkan setelah mempelajari PKn di sekolah dasar dapat menjalankan
hak dan kewajiban secara benar.
3. Membentuk jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi
Manfaat pendidikan kewarganegaraan diajarkan sedini mungkin adalah untuk
menumbuhkan rasa jiwa nasionalisme kebangsaan. Dalam hakikatnya, nasionalisme
merupakan wujud dari penerapan pembelajaran PKn yang dilakukkan dengan efektif.
Pembelajaran PKn dengan mengenal lambang pancasila dan menyanyikan lagu nasional
bisa dilakukkan guru untuk memupuk jiwa nasionalisme di sekolah dasar kelas awal.
4. Menerapkan perilaku hidup jujur
Manfaat yang paling terasa dari implementasi pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan di sekolah dasar adalah peserta didik mengaplikasikan hidup jujur
dimanapun dan kapanpun. Pendidikan karakter yang di dalamnya terdiri dari nilai
kejujuran dapat mengendalikan peserta didik untuk termotivasi untuk melakukkan
tindakan perilaku hidup jujur tersebut.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
48
Menurut Sukadi (2013) perlu dikembangkan nilai relugius taat kepada tuhan agar
mampu mengendalikan dirinya agar terhindar dari perilaku buruk. Dalam pendidikan
kewarganegaraan nilai spiritual merupakan materi pemahaman yang menjadi cita-cita
pendidikan nasional.
SIMPULAN
Terkait pemaparan pembahasan di atas, kesimpulan dari pemaparan tersebut adalah
bahwa pengajaran ini adalah salah satu solusi yang strategis untuk menerapkan perilaku hidup
jujur dilingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. dengan memerhatikan beberapa konsep
materi yang dikaji dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, guru dan peserta didik
dapat menerapkan perilaku hidup jujur yang berkeadilan di lingkungan sosialnya. Pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan menyediakan keleluasaan menyampaikan pemikirannya untuk
senantiasa berguna dan bermanfaat bagi orang banyak. Menanamkan sifat jujur pada peserta
didik, dapat mengurangi perilaku kurang baik ketika dewasa kelak. Jujur pada diri sendirilah
yang menjadikan kunci bagi kesuksesan kehidupan, setelah mampu jujur kepada diri sendiri,
peserta didik dapat mengimpementasikan pikirannya untuk melakukan sikap jujur karena
sejatinya jujur itu sebuah perbuatan yang indah.
SARAN
Saran bagi pemerintah adalah penerapan dan pengembangan kurikulum harus sangat
memerhatikan situasi dan kondisi yang ada pada dunia pendidikan, pemerintah harus
menciptakan sebuah regulasi tentang penerapan penerapan perilaku hidup jujur di lingkungan
masyarakat khususnya di lingkungan sekolah. saran bagi Pendidik dalam hal ini harus terus
memberikan pemahaman untuk siswa agar senantiasa berperilaku hidup jujur dan jangan jadikan
nilai menjadi tolak ukur kecerdasan peserta didik. saram bagi peserta didik adalah dalam jiwa
peserta didik harus ditanamkan pemikiran bahwa jujur harus di atas segalanya.
DAFTAR PUSTAKA
Budiutomo, T. (2013). PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MEMBENTUK
KARAKTER BANGSA. Academy of Education Journal, 4(1).
https://doi.org/10.47200/aoej.v4i1.94
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
49
Chairilsyah, D. (2016). Metode dan Teknik Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Sejak Usia Dini.
Jurnal Educhild. Vol 05, 8-14
Daulae, T.H. (2014). Menciptakan Pembelajaran yang Efektif. Jurnal Forum Pedagogik, Vol
06, 131-150
Haris, L. (2017). IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU SISWA
BERWARGA NEGARA YANG BAIK DI SD JUARA KELURAHAN BACIRO
KECAMATAN GONDOKUSUMAN KOTA YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN
2016. Academy of Education Journal, 8(2), 226-269.
https://doi.org/10.47200/aoej.v8i2.372
Kurniawan, M.I. (2013). Integrasi Pendidikan Karakter Ke Dalam Pembekajaran
Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Jurnal Pemikiran dan Pengembangan SD. Vol 01,
37-45
Kushartanti, A. (2009). Perilaku Menyontek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri. Jurnal Indigenus.
Vol 11, 38-46
Kusumawati, I. (2012). PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA MELALUI PENDIDIKAN
KEPRAMUKAAN. Academy of Education Journal, 3(1).
https://doi.org/10.47200/aoej.v3i1.85
Kusumawati, I., & Kriswanto, Y. (2013). PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
NEGERI BRENGOSAN 1 KECAMATAN NGAGLIK KABUPATEN SLEMAN.
Academy of Education Journal, 4(1). https://doi.org/10.47200/aoej.v4i1.93
Magdalena, I. et al., (2020). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Negeri Bojong 3 Pinang. Jurnal Bintang : Pendidikan dan Sains. Vol 02, 418-430
Masada, C. & Dachmiati, S. (2016). Faktor Pemengaruh Perilaku Siswa dan Mahasiswa
Menyontek. Jurnal Sosio E-Kons. Vol 08, 227-233
Mulyo. (2012). Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava media
Nurgiansah, T. H. (2021). Pendidikan Pancasila Sebagai Upaya Membentuk Karakter Jujur.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha. Vol 09, 33-41
Paiman, P., & Temu, T. (2013). TANGGUNG JAWAB DAN KINERJA PESERTA DIDIK
DALAM MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SD MUHAMMADIYAHWIROBRAJAN
II YOGYAKARTA. Academy of Education Journal, 4(1).
https://doi.org/10.47200/aoej.v4i1.95
Rini, Y.L. (2013). Pendidikan : Hakekat, Tujuan, dan Proses. Jurnal Pendidikan dan Seni
Universitas Negeri Jogyakarta. 1-13
Semiawan, C.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Grasindo
Suhandi, A.M. & Dewi, D.A. (2021). Implementasi Nilai Pancasila Terhadap Esensi Nilai
Humanisme dalam Kehidupan Bermasyarakat di Kalangan Generasi Muda. JepJurnal. Vol
03, 37-43
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
50
Suhandi, A.M. & Lestari, T. (2021). Pengaruh Kebudayaan Menyontek Terhadap
Perkembangan Kemandirian Anak: Upaya Pemberantasan Kebiasaan Menyontek di
Lingkungan Sekolah. Jurnal AoEJ. Vol 12, 285-293
Sukadi. (2013). Belajar dan Pembelajaran PKn SD sebagai Yadnya Dalam Rangka Perwujudan
Dharma Agama dan Dharma Negara Berbasis Konstruktivisme.Jurnal Cakrawala
Pendidikan. Vol 02, 196-206
Tirtoni, F. (2016). Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar: Inovasi Melalui Strategi Habituasi dan
Program Kegiatan Sekolah Berkarakter. Yogyakarta: CV Buku Baik Yogyakarta
Wati, R. (2016). STUDI PERBEDAAN ANTARA PRESTASI BELAJAR MANDIRI
DENGAN BELAJAR PENDAMPINGAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN PADA SISWA TUNA WICARA SMALB. Academy of
Education Journal, 7(2), 123-134. https://doi.org/10.47200/aoej.v7i2.407
Zulkhairi, T. (2011). Membumikan Karakter Jujur Dalam Pendidikan di Aceh. Jurnal Ilmiah
Islam Futura. Vol 11, 105-115