AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
51
STUDI KOMPARASI: MANAJEMEN PENGEMBANGAN BUDAYA RELIGIUS
DI SMA NEGERI 5 YOGYAKARTA DAN MAN 1 YOGYAKARTA
Muhammad Iqbal Ma’ruf
Manajemen Pendidikan Islam, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
E-mail: Marufiqba[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk megetahui manajmen perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak
lanjut dan faktor-faktor pengembangan budaya religius. Penelitian ini menggunakan kualitatif dan
data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumen, kemudian uji keabsahan data
menggunakan trianggulasi sumber, teknik, waktu, teknik analisis data menggunakan reduksi data,
menyajikan data, dan menyimpulkan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
hasil: Perbandingan manajemen perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak lanjut, serta faktor
yang mempengaruhi pengembangan budaya religius, dari segi perencanaan kedua sekolah memiliki
perencanaan yang berbeda, kemudian segi pelaksanaanya memiliki kesamaan, hasil dan tindak
lanjut memiliki kesamaan, serta faktor yang mempengaruhi memiliki perbedaan.
Kata Kunci: Manajemen Pendidikan, Budaya Religius, Pengembangan Budaya Religius.
ABSTRACT
This research aims at identifying the management of planning, implementation, result and follow-
ups, and aspects of religious culture development. This research used a qualitative approach and
the data were compiled through observation, interview, and documentation. Further, a validity test
was done through triangulation of the source, technique, and time. The data analysis was done
through the process of reduction, data presentation, and conclusion. Based on the research
conducted, the results showed that: When compared, the management aspects of planning
implementation, result and the follow-ups, and other influencing factors towards the religious
development management at both schools are different. In terms of the planning, both schools’
plans are different. In terms of implementation, and results and follow-ups, they share similarities.
Whilst in terms of the influencing factors, they have differences.
Keywords: Education Management, Religious Culture, Religious Culture Development.
PENDAHULUAN
Upaya pembentukan karakter tidak hanya dilakukan disekolah melalui serangkaian
pembelajaran di dalam dan di luar kelas, tetapi juga melalui pembiasaan sehari-hari, seperti
penerapan nilai keagaaman, kejujuran, kedisiplinan, toleransi, tekun, tentram, amanah,
serta lainnya. Pembiasaan tidak cuma terdiri dari menanamkan kognitif terkait benar dan
salah, namun diharapkan bisa memiliki rasa untuk menilai mana yang baik serta tidak baik,
dan bersedia melaksanakannya dari lingkungan di sekelilingnya, contohnya lingkungan
keluarga dan yang lebih luas yakni lingkungan masyarakat. Nilai-nilai tersebut penting
untuk dikembangkan dan terpatri dalam hati peserta didik sehingga menjadi lebih baik lagi
dan menjadi ciri khas negera kita. Maka dari itu, sekolah mempunyai peran penting untuk
mengembangkan kepribadian peserta didik, karena peranan sekolah yang menjadi sentral
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
52
membiasakan budaya religius melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah (school
culture).
Nilai kepribadian sangat berarti buat dilaksanakan dalam pelaksanaan pengembangan
kepribadian. Nilai tersebut akan menjadi hasil dari rangkaian penerapan pembelajaran serta
budaya sekolah. Aspek pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, tindakan untuk
melaksanakaan nilai-nilai, baik untuk Allah SWT, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun
kebangsaan merupakan sebuah rangkaian pembiasaan menjadi insan kamil. Penguatan
budaya religius salah satu dari banyak cara dalam membangaun karakter bangsa yang
dimana penerapannya meliputi aktualisasi nilai pancasila, implementasi ajaran keagamaan,
menjadi teladan.
Urgensi pengembangan budaya religius di sekolah agar seluruh warga sekolah,
keimanannya sampai pada tahap keyakinan, praktik agama, pengalaman, pengetahuan
agama, dan dimensi pengalaman keagamaan, dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan
keagamaan sebagai wahana untuk menciptakan dan mengembangkan budaya religius.
Diharapkan penanaman nilai-nilai agama di sekolah dapat diamalkan di lingkungan
keluarga dan lingkungan masyarakat. Sekolah yang merupakan salah satu agen
pembentukan karakter juga berperan aktif dalam menentukan keberhasilan moral bangsa.
Setiap sekolah memiliki cara yang berbeda dalam menanamkan nilai-nilai religius pada
peserta didik. Hal ini dipengaruhi oleh sistem, kondisi lingkungan sekitar dan lain
sebagainya.
MAN 1 Yogyakarta sekolah dengan kurikulum keislmaan dan non-keislaman tentu
memiliki perbedaan dalam cara pembentukan karakter religius peserta didik. SMA Negeri
5 Yogyakarta merupakan sekolah dengan heterogenitas latar belakang peserta didik,
namun hal ini bukan menjadi penghambat bagi sekolah tersebut untuk mengembangkan
budaya religius. Tujuan riset ini untuk mengambarkan, menjelaskan, serta mendeskripsikan
manajemen perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak lanjut serta faktor yang
mempengaruhi kemudian perbandingan pengembangan budaya religius di sekolah tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian kali ini menggunakan kualitatif lapangan dengan jenis studi kasus.
Penelitian kualitatif diawali dengan hipotesis yang kemudian dijadikan sebagai landasan
untuk menafsirkan dan memberikan pengaruh pada riset tentang permasalahan sosial.
Peneliti memakai pendekatan antropologi dan sosiologi. Pendekatan antropologi
merupakan studi yang menganalisis manusia serta budayanya. Pendekatan sosiologi
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
53
merupakan studi yang mengkaji struktur sosial serta tahapan-tahapan terjadinya perubahan
sosial. Sumber data ada dua yakni primer dan sekunder, data primer penelitian kali ini
berasal dari data yang didapatkan melalui pengamatan, wawancara dan dokumen,
sedangkan data sekunder merupakan kumpulan data-data pendukung untuk melengkapi.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni, observasi, wawancara dan dokumen,
kemudian uji keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber, teknik, dan waktu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Perencanaan Pengembangan Budaya Religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN
1 Yogyakarta
A. SMA Negeri 5 Yogyakarta
Sekolah yang memiliki brand sekolah berbasis afeksi yang memiliki berbagai
rencana kegiatan pengembangan budaya religius. Rencana tersebut disusun tim
pengembang sekolah meliputi, kepala sekolah selaku pemimpin, waka kurikulum,
waka kesiswaan, waka afeksi, dan waka humas. Berdasarkan hasil wawancara,
secara manajerial membentuk Waka afeksi yang orientasinya mewujudkan sesuatu
program baik untuk guru berseta stakeholder sekolah maupun peserta didik.
Siagian berpendapat, perencanaan yakni proses tahapan-tahapan untuk
dilakukan di masa yang akan datang dengan pemikiran dan penentuan yang matang
sehingga mencapai tujuan yang diharapkan bersama. Sedangkan menurut Robbins
and Coulter menyatakan dalam merencanakan sebaiknya harus menyusun target
dan tujuan yang jelas, strategi yang jitu, sumber daya manusia dan alokasi yang
tepat, waktu yang baik, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Mengacu pernyataan ahli di atas peneliti mengaitkan dengan hasil yang
diperoleh terkait perencanaan pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta kenyataan yang terjadi prosesnya sudah sesuai dengan teori yang
diungkapkan oleh para ahli tersebut.
B. MAN 1 Yogyakarta
Salah satu sekolah unggulan, MAN 1 Yogyakarta mempunyai ciri khusus
yakni pendidikan Agama islam mendapatkan prioritas, dimana pedidikan agama
islam mempunyai peren dalam pengembangan budaya religius perserta didik. Tim
pengembang MAN 1 Yogyakarta menjadi penggerak dalam penyusunan program.
Berdasarkan data yang didapatkan melalui wawancara, perencanaan program
pengembangan budaya religius, waka kurikulum menjadi penggerak dalam proses
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
54
pengembangan budaya religius serta prosesnya dilaksanakan dengan terstruktur
dengan melalui tahapan evaluasi dan review kemudian baru dirumuskan dan di uji
publik. Melihat proses yang terjadi peneliti mengambil point penting dalam
merencakan sebuah progrram yakni komunikasi yang baik.
Siagian berpendapat, perencanaan yakni proses tahapan-tahapan untuk
dilakukan di masa yang akan datang dengan pemikiran dan penentuan yang matang
sehingga mencapai tujuan yang diharapkan bersama. Sedangkan menurut Robbins
and Coulter menyatakan dalam merencanakan sebaiknya harus menyusun target
dan tujuan yang jelas, strategi yang jitu, sumber daya manusia dan alokasi yang
tepat, waktu yang baik, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Mengacu pendapat ahli tersebut dengan kenyataan yang terjadi di lapangan
secara teori yang disampaikan tahapan perencanaan pengembangan budaya religius
di MAN 1 Yogyakarta sesuai dengan teori yang dikemukan oleh ahli.
2. Pelaksanaan Pengembangan Budaya Religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN
1 Yogyakarta
A. SMA Negeri 5 Yogyakarta
Proses perlaksanaan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta sudah
terlaksana dengan baik guru dapat memberikan teladan yang baik serta didukung
dengan program yang dilaksanakan secara terstruktur, baik itu dalam kondisi
offline sebelum pandemi, ataupun online saat pandemi. Sedangkan siswa yang
melakukan program tersebut melaksanakan dengan senang dan bermanfaat untuk
mereka. Menurut peneliti pelaksanaan budaya di SMA Negeri 5 Yogyakarta telah
berjalan dengan efektif, koordinasi baik dari guru dan siswa juga berjalan dengan
baik.
Langkah terwujudnya budaya religius pada sebuah lembaga pendidikan
menurut Fathurrohman terdapat 2 metode yakni, dengan cara penurutan, peniruan,
penganutan, dan penataan suatu skenario (tradisi, perintah) maka pola tersebut
disebut pelakon sehingga budaya religius bisa terbentuk dengan cara seperti itu.
Kedua, pembentukan budaya terorganisir melalui proses pembelajaran. Cara
ini berawal dari nurani pelaku, kepercayaan, keyakinan dasar yang dipegang teguh
sebagai pendirian, dan diwujudkan melalui sikap dan tingkah laku. Kebenaran
dapat diperoleh melalui pengalaman hasil mencoba dan membuktikan
keyakinannya, proses ini merupakan bentuk olah rasa.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
55
Pendapat para ahli tersebut peneliti mengaitkan dengan pelaksanaan
pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta pola pembengangan
budaya religius yang dinyatakan oleh ahli dan yang terjadi di lapangan sudah
sesuai, guru menjadi teladan dan memberikan keyakinan terhadap peserta didik dan
perserta didik juga melakukannya dengan baik.
B. MAN 1 Yogyakarta
Bedasarkan hasil wawancara proses pelaksanaan budaya religius di MAN 1
Yogykarta sudah berjalan dengan baik ditunjukkan dengen guru memberikan
teladan untuk perserta didik dan didukung oleh tersusunnya program
pengembangan budaya religius secara terstruktur serta sistematis, peserta didik juga
melaksanakannya dengan baik dan di tengah kondisi pandemi ini juga pelaksanaan
budaya religius sudah baik.
Langkah terwujudnya budaya religius pada sebuah lembaga pendidikan
menurut Fathurrohman terdapat 2 metode yakni, dengan cara penurutan, peniruan,
penganutan, dan penataan suatu skenario (tradisi, perintah) maka pola tersebut
disebut pelakon sehingga budaya religius bisa terbentuk dengan cara seperti itu.
Kedua, pembentukan budaya terorganisir melalui proses pembelajaran. Cara
ini berawal dari nurani pelaku, kepercayaan, keyakinan dasar yang dipegang teguh
sebagai pendirian, dan diwujudkan melalui sikap dan tingkah laku. Kebenaran
dapat diperoleh melalui pengalaman hasil mencoba dan membuktikan
keyakinannya, proses ini merupakan bentuk olah rasa.
Menurut peneliti pendapat di atas dan kenyataannya yang terjadi di MAN 1
Yogyakarta terkait pelaksanaan pengembangan budaya religius sudah sesuai
dengan yang di nyatakan oleh ahli, guru menjadi motor penggerak dan teladan
budaya religius bagi peserta didik sedangkan perserta didik melaksanakan program
tersebut dengan baik.
3. Hasil Penilaian dan Tindak Lanjut Pengembangan Budaya Religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta dan MAN 1 Yogyakarta
A. SMA Negeri 5 Yogyakarta
Dari hasil wawanvara yang didapatkan, dari sebuah proses pelaksanaan
program pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta yang
notabenya memiliki latar belakang agama peserta didik yang heterogen serta
ditunjang dengan fasilitas sekolah untuk pelaksanaan pengembangan budaya
religius maka peneliti mengambil kesimpulan hasil dan tindak lanjut dari
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
56
penanaman budaya religius memang tidak bisa dilihat secara langsung namun
perubahan sikap dan pengetahuan bisa dirasakan.
Mulyasa berpendapat bahwa implementasi merupakan suatu cara, penerapan
gagasan, rancangan, aturan maupun pembaruan dalam tindakan nyata sehingga
berdampak pada perkembangan pemahaman, keahlian, maupun sikap.
Terkait hasil dan tindak lanjut pengembangan budaya religius di SMA Negeri
5 Yogyakarta peneliti menyimpulkan proses yang terjadi penerapan ide dan konsep
yang diterapkan di SMA 5 Yogyakarta sudah apik serta terjadinya perubahan
perilaku dan peningkatan pemahaman pengentahun perserta didik. Artinya teori
yang diungkapkan oleh ahli mampu diterapkan dengan baik oleh SMA Negeri 5
Yogykarta.
B. MAN 1 Yogyakarta
Dari hasil wawamcara terkait hasil dan tindak lanjut pengembangan budaya
religius di MAN 1 Yogykartaka memiliki siswa berbagai macam latar belakang,
dengan adanya program budaya yang terprogram tentunya ada perubahan sikap dan
perilaku perserta didik, sedangkan untuk tindaknya lanjutnya itu sendirinya
program yang telah dilaksanakan harus konsisten.
Mulyasa berpendapat bahwa implementasi merupakan suatu cara, penerapan
gagasan, rancangan, aturan maupun pembaruan dalam tindakan nyata sehingga
berdampak pada perkembangan pemahaman, keahlian, maupun sikap.
Menurut penyataan ahli, peneliti melihat kesamaan teori dengan kenyataan
yang terjadi pada MAN 1 Yogyakarta, penerapan ide serta konsep dan kebijakan
MAN 1 Yogyakarta terkait pengembangan budaya religus menunjukkan hasil baik
dan meningkatkan pengetahuan serta perilaku peserta didik.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Budaya Religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta dan MAN 1 Yogyakarta
A. SMA Negeri 5 Yogyakarta
Dari hasil wawancara, maka dalam hal ini faktor yang mempengaruhi
pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta yang memiliki latar
belakang agama siswa yang heterogen dalam pelaksanaan pembiasaan budaya
religius berjalan dengan baik, dan tentunya ada beberapa yang menjadi catatan
dalam prosesnya yakni pengembangan budaya religius merupakan penanaman
nilai-nilai sehingga ingin melihat outputnya secara instan, kemudian konsisten
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
57
menjadi sebuah catatan penting dalam pengembangan budaya religius dan erat
kaitannya kekompakkan guru dalam memberikan teladan kepada siswa.
Perlu dipahami bahwa pengembangan budaya religius tidak lepas dari kinerja
guru. Guru sebagai pendidik menurut Al-Ghazali adalah orang besar yang
aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Pendidik dalam Islam adalah
spiritual father atau bapak rohani bagi murid. Gurulah yang memberi santapan jiwa
dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya.
Menurut peneliti, pendapat yang dikemukakan oleh ahli dan kenyataannya
yang terjadi di SMA Negeri 5 Yogyakarta guru menjadi pioner dalam
pengembangan budaya religius di sekolah guru memberikan teladan dalam bentuk
sikap dan perilaku serta memberikan pemahaman secara konsep.
B. MAN 1 Yogyakarta
Menurut penyataan wawancara di atas, maka faktor pengembangan budaya
religius di MAN 1 Yogyakarta dapat disimpulkan. Pertama, branding yang begitu
kuat menjadikan sebagai madrasah yang memiliki keunggulan keagamaan menjadi
faktor pendukung dalam pengembangan budaya religius di sekolah, terlihat dari
mata pelajaran keagamaan yang lebih banyak serta program keagamaan yang
mendukung, kemudian faktor alumni serta kepercayaan orang tua, kemudian faktor
penghambat dalam pengembangan budaya religius yakni semangat dan kemauan
yang belum konsisten serta tidak sinkronnya antara guru, orang tua dan peserta
didik.
Perlu dipahami bahwa pengembangan budaya religius tidak lepas dari kinerja
guru. Guru sebagai pendidik menurut Al-Ghazali adalah orang besar yang
aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Pendidik dalam Islam adalah
spiritual father atau bapak rohani bagi murid. Gurulah yang memberi santapan jiwa
dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya.
Peneliti menyimpulkan terkait pendapat ahli dan kenyataan yang terjadi di
MAN 1 Yogyakarta, guru yang menjadi penggerak dalam mengembangan budaya
religius di MAN 1 Yogyakarta dan dengan sekolah yang mempunyai branding
keagamaan membuat pengembangan budaya religius berjalan dengan baik. guru
memberikan teladan serta konsep religus dengan baik.
5. Perbandingan Manajemen Perencanaan, Pelaksanaan, Hasil Penilaian dan Tindak
Lanjut, serta Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Budaya Religius di SMA
Negeri 5 Yogyakarta dan MAN 1 Yogyakarta
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
58
Pada penjelasan di atas tersebut, maka dapat dijelaskan terkait perbandingan
manajemen perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak lanjut, serta faktor yang
mempengaruhi pengembangan budaya religius dikedua sekolah tersebut. sebagaimana
perbandingannya sebagai berikut.
Perencanaan pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan
MAN 1 Yogyakarta peneliti menyimpulkan kedua sekolah terdapat cara yang berbeda
dalam merencanakan program. SMA Negeri 5 Yogykarta menambahkan waka afeksi
pada struktur organisasinya. Kemudian yang merencanakan program pengembangan
budaya religius baik untuk siswa ataupun guru di koordinator oleh tim afeksi.
Sedangkan MAN 1 Yogykarta tim kurikulum menjadi penggerak dalam perencanaan
pengembangan budaya religius dan dalam merencanakan program religius dengan
mengadakan evaluasi yang rutin hingga mengundang ahli dan diuji publik.
Pelaksanaan pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dengan
cara guru berusaha semaksimal mungkin memberikan teladan yang baik serta didukung
dengan program yang dilaksanakan secara terstruktur, baik itu dalam kondisi offline
sebelum pandemi, ataupun online saat pandemi. Secara keseluruhan pengembangan
budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dilaksanakan dengan baik. Sedangkan
proses pelaksanaan budaya religius di MAN 1 Yogykarta telah terlaksana dengan baik
ditunjukkan melalui guru memberikan teladan untuk perserta didik dan didukung
tersusunnya program pengembangan budaya religius secara terstruktur serta sistematis.
Di tengah kondisi pandemi ini juga pelaksanaan budaya religius sudah baik.
Hasil dan tindak lanjut pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta yang memiliki latar belakang agama peseerta didik yang heterogen
penanaman budaya religius memang tidak bisa dilihat secara langsung namun
perubahan sikap dan pengetahuan bisa dirasakan serta tindak lanjut pengembangan
budaya religius harus berjalan dengan konsisten. Sedangkan di MAN 1 Yogykartaka
yang basisnya sekolah keagamaan dan latar belakang agama siswa yang homogen
adanya program budaya yang terprogram tentunya ada perubahan sikap dan perilaku
perserta didik, sedangkan untuk tindak lanjutnya itu sendirinya program yang telah
dilaksanakan harus konsisten.
Faktor yang mepengaruhi pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta yang memiliki latar belakang agama siswa yang heterogen pelaksanaan
pembiasaan budaya religius berjalan dengan baik, dan tentunya ada beberapa yang
menjadi faktor yang mempengaruhi dalam prosesnya pengembangan budaya religius
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
59
merupakan penanaman nilai-nilai sehingga ingin melihat outputnya secara instan,
kemudian konsisten menjadi sebuah catatan penting dalam pengembangan budaya
religius dan erat kaitannya kekompakkan guru dalam memberikan teladan kepada
siswa. Sedangkan di MAN 1 Yogyakarta, maka faktor pengembangan budaya religius
di MAN 1 Yogyakarta. Pertama, branding yang begitu kuat menjadikan sebagai
madrasah yang memiliki keunggulan keagamaan menjadi faktor pendukung dalam
pengembangan budaya religius di sekolah, terlihat dari mata pelajaran keagamaan yang
lebih banyak serta program keagamaan yang mendukung, kemudian faktor alumni serta
kepercayaan orang tua, kemudian faktor penghambat dalam pengembangan budaya
religius yakni semangat dan kemauan yang belum konsisten serta tidak sinkronnya
antara guru, orang tua dan peserta didik.
Dari pembahasan tersebut maka dapat dilihat dalam bentuk tabel perbandingan
manajemen pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN 1
Yogyakarta, adalaha sebagai berikut:
No
Perbandingan
SMA Negeri 5 Yogyakarta
MAN 1 Yogyakarta
1
Perencanaan
Membentuk tim waka
efeksi
2
Pelaksanaan
Guru sebagai teladan, dan
pelaksaanya terlaksana
dengan terstruktur dan
sistematis
3
Hasil dan
Tindak
Lanjut
Memiliki latar belakang
agama peserta didik yang
heterogen hasil dari
pengembangan budaya
religius adanya perubahan
sikap dan pengetahuan.
Dan tindak lanjutnya harus
dilaksanakan secara
konsisten
4
Faktor-faktor
Memiliki latar belakang
agama peserta didik yang
heteorogen, kemudian
ingin melihat hasilnya
secara instan, dan
konsestensi kekompakkan
guru dalam menjadi
teladan
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
60
Di tinjau dari sudut pandang manajemen pendidikan islam, menururt Muhaimin
dkk mengartikan manajemen pendidikan Islam adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya pendidikan Islam untuk
mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efesien.
Sementara itu Mujamil Qomar menjelaskan sebagai suatu proses pengelolaan
lembaga pendidikan Islam secara islami dengan cara menyiasati sumbersumber belajar
dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan
efesien.
Ramayulis yakni proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat
Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak.
Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif,
efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia
maupun di akhirat.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, kemudian dikaitkan dengan pengembagan
budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN 1 Yogyakarta proses
manajemen pengembangan budaya religius yakni ada beberapa tahapan di mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak lanjut serta faktor-faktor yang
mempengarhui sudah tepat dalam mengaplikasikan teori tersebut, serta sumber daya
manusia diberdayakan dengan maksimal kemudian untuk sarana dan prasarana untuk
mencapai pengembangan budaya religius yang maksimal dikelola secara islami dan
produktif.
SIMPULAN
Perencanaan pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN
1 Yogyakarta peneliti menyimpulkan kedua sekolah terdapat cara yang berbeda dalam
merencanakan program. SMA Negeri 5 Yogykarta menambahkan waka afeksi pada
struktur organisasinya. Kemudian yang merencanakan program pengembangan budaya
religius baik untuk siswa ataupun guru di koordinator oleh tim afeksi. Sedangkan MAN 1
Yogykarta salah satu sekolah unggulan berbasis agama dalam merencanakan program
religius dengan mengadakan evaluasi yang rutin hingga mengundang ahli dan diuji publik.
Pelaksanaan pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta dan MAN
1 Yogyakarta dapat disimpulkan telah terlaksana dengan baik baik dalam kondisi di tengah
pandemi covid-19 serta dalam pelaksanaannya tersusun dan sistemasis.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
61
Hasil dan tindak lanjut pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta
dengan latar belakang agama yang heterogen penanaman budaya religius memang tidak
bisa dilihat secara langsung namun perubahan sikap dan pengetahuan bisa dirasakan serta
tindaknya pengembangan budaya religius harus berjalan dengan konsisten. Sedangkan di
MAN 1 Yogykartaka yang basicnya sekolah keagamaan dan latar belakang agama siswa
yang homogen adanya program budaya yang terprogram tentunya ada perubahan sikap dan
perilaku perserta didik, sedangkan untuk tindaknya lanjutnya itu sendirinya program yang
telah dilaksanakan harus konsisten.
Faktor yang mepengaruhi pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5
Yogyakarta yang memiliki latar belakang agama siswa yang heterogen pelaksanaan
pembiasaan budaya religius berjalan dengan baik, dan tentunya ada beberapa yang menjadi
faktor yang mempengaruhi dalam prosesnya pengembangan budaya religius merupakan
penanaman nilai-nilai sehingga ingin melihat outputnya secara instan, kemudian konsisten
menjadi sebuah catatan penting dalam pengembangan budaya religius dan erat kaitannya
kekompakkan guru dalam memberikan teladan kepada siswa. Sedangkan di MAN 1
Yogyakarta, maka faktor pengembangan budaya religius di MAN 1 Yogyakarta. Pertama,
branding yang begitu kuat menjadikan sebagai madrasah yang memiliki keunggulan
keagamaan menjadi faktor pendukung dalam pengembangan budaya religius di sekolah,
terlihat dari mata pelajaran keagamaan yang lebih banyak serta program keagamaan yang
mendukung, kemudian faktor alumni serta kepercayaan orang tua, kemudian faktor.
Perbandingan manajemen perencanaan, pelaksanaan, hasil dan tindak lanjut, serta
faktor yang mempengaruhi pengembangan budaya religius, dari segi perencanaan kedua
sekolah memiliki perencanaan yang berbeda, kemudian segi pelaksanaanya memiliki
kesamaan, hasil dan tindak lanjut memiliki kesamaan, serta faktor yang mempengaruhi
memiliki perbedaan.
SARAN
Mengacu pada hasil penelitian dan kesimpulan, ada beberapa saran yang ingin
peneliti sampaikan terkait pengembangan budaya religius di SMA Negeri 5 Yogyakarta
dan MAN 1 Yogyakarta, sebagai berikut:
1. Melakukan berbagai inovasi terkait pengembangan budaya religius supaya sikap
religius tertanam pada perserta didik.
2. Perlu peningkatan terkait pelaksanaan pengembangan budaya religius di tengah
pandemi covid-19.
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 13 No 1 Tahun 2022
62
3. Kedepannya supaya dilaksanakan penelitian lebih lanjut yang dapat mengungkap
lebih dalam terkait pengembangan budaya religius di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Assegaf, A. R. 2011. Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru Pendidikan Hadhari
Berbasis Integratif-Interkonektif. Jakarta: Rajawali Pers.
Fathurrohman, M. 2015. Budaya Religius dalam Peningkatan Mutu Pendidikan; Tinjauan
Teoritik dan Praktik Kontekstualisasi Pendidikan Agama di Sekolah. Yogyakarta:
Kalimedia.
Kurnia, H., & Wahono, J. (2021). PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL
TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN
KEWARGANEGARAAN SISWA SMA NEGERI 5 YOGYAKARTA. Academy of
Education Journal, 12(1), 82-97. https://doi.org/10.47200/aoej.v12i1.431
Muhaimin dan Abdul, M. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofi dan
Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.
Muhaimin, dkk. 2010. Manajemen Pendidikan, Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana
Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: Prenada Media Group.
Mulyasa. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkatsatua Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nuryati, N., & Ari Bowo, A. (2015). Pengembangan Model Pembelajaran PPKn Quantum
Teaching Berbasis Lingkungan melalui Cooperative Learning di SMA Negeri kota
Yogyakarta. Academy of Education Journal, 6(2).
https://doi.org/10.47200/aoej.v6i2.128
Qomar, M. 2007. Manajemen Pendidikan Islam Strategi baru Pengelolaan Lembaga
Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Robbins, S. P and Mary. C. 2006. Manajemen. Jakarta: Indeks Kelompok Gramedia.
Siagian, S. P. 2012. Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Supriyati, P. (2019). Meningkatkan Kemampuan Berbicara Monolog Teks Recount dengan
Metode Demonstrasi Media Picture Series. Academy of Education Journal, 10(02),
122-130. https://doi.org/10.47200/aoej.v10i02.275