AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
215
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI STRATEGI
PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA DI ERA GLOBALISASI
Riswati Ashifa
1
, Dinie Anggraeni Dewi
2
1,2
Pendidikan Pancasila, Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus Cibiru
Jl. Pendidikan No. 15, Cibiru Wetan, Cileunyi, Bandung, Jawa Barat 4062
1
Email: riswatiashifa30@upi.edu
2
Email: dinieanggraenidewi@upi.edu
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai nilai-nilai
pancasila sebagai strategi pembangunan karakter bangsa di era globalisasi, apakah sudah
terlaksana dengan baik atau belum. Metode penelitian yang saya pakai dalam penelitian ini
menggunakan metode kualitatif non interaktif. Hasil dari penelitian ini bahwa
pembangunan karakter sudah dilakukan dengan segala cara, tetapi sampai sekarang belum
bisa terlaksana dengan optimal. Hal tersebut bisa terlihat dari besarnya kesenjangan
ekonomi, politik dan sosial, supremasi hukum yang tidak adil, korupsi, kolusi dan
nepotisme yang merebah pada semua sektor. Melihat situasi dan kondisi karakter bangsa
yang memprihatinkan tersebut, pemerintah kita mengambil inisiatif untuk mengedepankan
pembangunan karakter bangsa Indonesia. Hal tersebut bisa terlihat dari misi pembangunan
nasional itu sendiri yang terdiri dari delapan misi dan pendidikan karakterlah misi pertama
dalam merealisasikan visi dari pembangunan nasional.
Kata kunci: Pancasila, pembangunan, karakter bangsa
ABSTRACT
The purpose of this study is to provide an overview of the values of Pancasila as a national
character development strategy in the era of globalization, whether they have been
implemented properly or not. The research method that I use in this research uses non-
interactive qualitative methods. The results of this study indicate that character building
has been carried out by all means, but until now it has not been implemented optimally.
This can be seen from the large economic, political and social disparities, unjust rule of
law, corruption, collusion and nepotism that spread to all sectors. Seeing the dire situation
and condition of the nation's character, our government took the initiative to prioritize the
character building of the Indonesian nation. This can be seen from the national
development mission itself which consists of eight missions and character education is the
first mission in realizing the vision of national development.
Keywords: Pancasila, formation, character of the nation
PENDAHULUAN
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, ideologi negara dan pandangan hidup
bangsa. Pancasila sebagai ideologi negara bukan bersifat tertutup dan kaku, melainkan
sebagai ideologi negara bersifat terbuka, reformatif dan dinamis. Tujuannya agar ideologi
Pancasila bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebagai warga negara
yang baik, kita harus mengacu kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
216
Republik Indonesia. Hal ini tentu yang mendasari bahwa betapa pentingnya Pancasila
sebagai pedoman ataupun landasan kita dalam berprilaku yang baik di Indonesia
(Damanhuri 2019). Nilai-nilai yang dalam Pancasila akan memberikan pelajaran
bagaimana cara bertindak dan berfikir yang sesuai dengan ideologi negara kita.
Zaman semakin modern maka perkembangan teknologipun semakin canggih. Tetapi
dampak dari zaman yang semakin modern ini banyak pengaruh negatif yang datang kepada
negara kita. Salah satu dampak negatifnya yaitu lunturnya nilai-nilai luhur yang melekat
pada suatu negara dan negara kita sendirilah yang mempunyai permasalahan ini. Salah satu
pengaruh globalisasi adalah pengaruh budaya dari luar yang sangat tidak sesuai dengan
nilai-nilai yang ada dalam Pancasila (Suneki, S. 2012). Contohnya adalah gaya hidup yang
kebarat-baratan, menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma di Indonesia, anak
muda lebih tertarik kepada tarian modern daripada tarian tradisional, perilaku yang
bertolak belakang dengan nilai Pancasila. Itu semua bisa membawa dampak negatif
terhadap karakter bangsa Indonesia dan dengan banyanknya pengaruh negatif globalisasi,
masyarakat Indonesia menjadi kurang memahami betapa pentingnya nilai-nilai Pancasila
tersebut.
Pengaruh negatif globalisasi menjadi ancaman yang sangat besar yang tidak bisa
dianggap remeh. Pengaruh negatif dari luar dengan mudahnya masuk ke negara kita secara
tidak sadar akan berdampak kepada karakter masyarakat Indonesia yang tidak sesuai
dengan karakter bangsa Indonesia. Dan inilah yang terjadi negara kita saat ini.
Dampak dari permasalahan tersebut adalah masyarakat Indonesia dikhawatirkan lupa
kepada jati diri sebagai bangsanya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
Pancasila, karena pancasila sendiri bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik
atau Good Citizen dimana itu merupakan pengaplikasian dari karakter bangsa Indonesia
sendiri. Hal itu sesuai dengan Ketetapan MPR no/V/MPR/2000 mengenai Kesatuan,
Pemantapan dan Kondisi Warga Negara Indonesia saat ini dimana Nilai-Nilai budaya dan
agama bangsa dalam berbangsa dan bernegara tidak dijadikan sumber etika oleh
masyarakat Indonesia sebagian besar. Hal inilah yang akhirnya memunculkan krisis moral
dan akhlak yang merupakan pelanggaran hukum, kesenjangan sosial, ekonomi, budaya
yang sangat besar, ketidakadilan, pelanggaran HAM dan kurangnya kepercayaan,
penghayatan dan pengalaman mengenai pentingnya nilai-nilai dalam setiap sila dalam
Pancasila untuk nanti diamalkan dalam segala bidang dan lapisan kehidupan berbangsa
secara konsisten.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
217
Dari uraian diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa nilai-nilai yang ada dalam
pancasila sangatlah penting sebagai perwujudan dari karakter bangsa Indonesia sebagai
cerminan warga negara yang baik atau Good Citizen. Dan semua harus diterapkan kepada
setiap warga negara di Indonesia sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. Karena jika
nilai-nilai Pancasila tidak diterapkan dan dilaksanakan dari sekarang maka dampak
negatifnya pun semakin bertambah terhadap negara kita sendiri. Maka diperlukan strategi
dalam menumbuhkan nilai-nilai Pancasila kembali yang sudah luntur.
KAJIAN PUSTAKA
Pancasila sebagai dasar negara yang berisi cita-cita dan nilai-nilai yang di gali di
dalam negara Indonesia sendiri, arti digali diatas adalah diambil dari kekayaan, budaya dan
moral masyarakat Indonesia. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pancasila dikenal
sebagai ideologi yang dinamis artinya bisa mengikuti perkembangan zaman. Itu adalah
sistem pemikiran yang terbuka dan hasil konsesus dari masyarakat Indonesia. Oleh
karenanya pancasila juga yang merupakan dasar negara yang harus sudah terwujud dalam
aspek kehidupan berbangsa. Pancasila juga berfungsi sebagai ideologi negara. Sebagai
ideologi negara, pancasila adalah cultural bond artinya ikatan budaya yang berkembang
secara alamiah di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat diartikan sebagai
sesuatu yang mendarah daging di dalam kehidupan sehari-hari jadi bukan karena paksaan.
(Asatawa, I., & Ari, P. 2017).
Hasanah, N. (2021) berpendapat bahwa Pancasila sebagai ideologi negara hakikatnya
tak hanya merupakan hasil pemikiran atau perenungan sekelompok orang atau seseorang
saja. Tetapi, pancasila digali melalui nilai-nilai luhur pada masyarakat Indonesia sebelum
Indonesia menjadi negara. Jadi dengan kata lain bahan-bahan materi pancasila tak lain dan
tak mungkin diangkat dari pandangan hidup bangsa Indonesia itu sendiri. Jadi dapat
disimpulkan bahwa bangsa ini merupakan asal bahan pembuatan Pancasila.
Akibat pengaruh globalisasi yang melanda kepada bangsa Indonesia, tentunya
berdampak pada adanya perubahan dalam memahami pengamalan Pancasila. Gerakan
reformasi yang bergulir awal tahun 1977 telah dipandang sebagai tolak ukur untuk
mengevaluasi ulang perjalanan orde baru yang katanya dalam beberapa hal telah
melanggar nilai-nilai dalam Pancasila. Seperti tudingan terjadi korupsi, kolusi dan
nepotisme pada masa pemerintahan Bapak Soeharto pada waktu itu yang menjadikan dasar
bahwa apa yang telah dilakukan oleh Presiden kedua Indonesia ini telah melanggar
Pancasila. Dengan adanya globalisasi berarti bangsa Indonesia sudah memasuki periode
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
218
baru di dalam sejarah manusia. Teknologi baru, komunikasi dan media elektronika benar-
benar telah menerobos batas-batas wilayah negara Indonesia, sehingga peristiwa dan
kejadian bumi kapanpun dan dimanapun tidak dapat disembunyikan lagi (Suaila, A., &
Krisnan, J. 2019).
Civic education merupakan suatu proses dasar pengajaran di sekolah yang dibangun
untuk mempersiapkan siswa-siswi untuk berperan aktif dalam komunitas mereka. Civic
education merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan mempersiapkan warga muda
akan hak-hak, peran, dan tanggung jawabnya sebagai negara melalui kegiatan sekolah.
Jadi, civic education merupakan proses pembentukan karakter masyarakat yang dilakukan
di sekolah (Winarno 2020).
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengajarkan kebiasaan berprilaku dan
cara berfikir yang membantu individu dalam kehidupannya. Pendidikan karakter
mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter. Pancasila sebagai ideologi negara
dapat membentuk karakter bangsa menjadi lebih baik. Nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila bukan hanya untuk dihafal tetapi untuk di praktekan di dalam kehidupan sehari-
hari (Fauzi, F.Y., Arianto, I., & Solihatin, E. 2013).
METODE PENELITIAN
Penelitian yang saya lakukan ini menggunakan penelitian kualitatif non interaktif.
Penelitian kualitatif non interaktif adalah penelitian yang dilakukan dengan menganalisis
dokumen. Dalam penelitian ini, saya sebagai peneliti mengidentifikasi, menghimpun,
menganalisis data yang kemudian akan memberikan interpretasi terhadap kebijakan,
konsep, peristiwa secara tidak langsung maupun secara langsung sehingga dapat diamati.
Di dalam penelitian ini, sumber datanya berupa dokumen-dokumen. konsep, kebijakan,
peristiwa yang secara langsung maupun tidak langsung dapat diamati.
PEMBAHASAN
Berdasarkan kajian analisis yang telah saya lakukan, bahwa pembangunan karakter
sudah dilakukan dengan segala cara, tetapi sampai sekarang belum bisa terlaksana dengan
optimal. Hal tersebut bisa terlihat dari kesenjangan ekonomi yang masih besar,
kesenjangan sosial dan politikpun masih sama besar, supremasi hukum yang tidak adil,
pornografi, pergaulan bebas yang merebak pada remaja, kerusuhan, kekerasan, korupsi,
kolusi dan nepotisme yang merebah pada semua sektor di kehidupan bermasyarakat. Kita
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
219
bisa melihat sendiri, bahwa sekarang banyak sekali dijumpai perbuatan anarkis, perkataan
yang tidak baik dan tidak santun.
Warga negara Indonesia yang dikenal berprilaku sopan dan santun, Jika
menyelesaikan masalah dilakukan musyawarah, memiliki kearifan lokal yang sangat
beragam, gotong royong serta berprilaku toleransi, sekarang berubah berprilaku tidak jujur
dan menjadi saling mengalahkan satu sama lain. Semuanya terjadi karena masih labilnya
jati diri dan karakter seseorang yang ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa yang
bermuara kepada kehilangan ketertarikannya untuk mengenal lingkungan dan belum
dihayati nilai dalam Pancasila sebagai ideologi negara, berkurangnya kesadaran kepada
nilai-nilai budaya sendiri, disintegrasi yang mengancan bangsa, dan pengaruh negatif
globalisasi karena perkembangan zaman.
Pengaruh dari budaya luar yang termasuk salah satu dari banyaknya pengaruh
globalisasi yang sangat tidak sesuai dengan ideologi negara kita (Suneki, S. 2012).
Contohnya adalah gaya hidup anak muda zaman sekarang yang lebih cenderung meniru
budaya barat, menggunakan pakaian kurang sopan dan tidak sesuai dengan norma di
negara kita, anak muda lebih tertarik kepada tarian modern daripada tarian tradisional,
perilaku remaja yang tak sesuai dengan ideologi negara kita. Itu semua bisa membawa
dampak negatif terhadap karakter bangsa Indonesia dan dengan banyanknya pengaruh
negatif globalisasi, masyarakat Indonesia menjadi kurang memahami betapa pentingnya
nilai-nilai Pancasila tersebut. Pengaruh globalisasi yang negatif kepada ideologi negara
adalah ancaman besar dan kita tidak boleh menganggap remeh. Dengan mudahnya masuk
pengaruh negatif dari luar ke negara kita, secara tidak sadar akan berdampak kepada
karakter masyarakat yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.
Rencana Pembangunan Karakter Bangsa di Era Globalisasi
Melihat situasi dan kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan tersebut,
pemerintah kita mengambil inisiatif untuk mengedepankan pembangunan karakter bangsa
Indonesia yang semestinya menjadi fokus utama pembangunan karakter masyarakat
Indonesia dalam pembangunan karakter. Maksudnya, di setiap upaya pembangunan
nasional harus memikirkan dampak dan keterkaitannya kepada perkembangan karakter.
Hal tersebut bisa terlihat dari misi pembangunan nasional itu sendiri yang terdiri dari
delapan misi dan pendidikan karakterlah misi pertama dalam merealisasikan visi dari
pembangunan nasional. Hal ini termuat pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional tahun 2005-2025 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007)
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
220
yang berisikan mengenai terciptanya karakter warga negara yang kompetitif, tangguh,
bermoral dan berakhlak mulia berdasarkan ideologi negara karena pancasila sebagai
pembentukan warna negara good citizen yang mana itu merupakan pengaplikasian dari
karakter bangsa itu sendiri, dan bisa ditandai dengan perilaku dan watak warga Indonesia
yang bertakwa dan beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, beragam, bertoleran, berbudi
luhur, jiwa patriotisme, bekerja sama, tumbuh dan berkembang secara dinamis dan
memusatkan pada Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Karakter adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan bernegara. Memudarnya
karakter berarti memudarnya generasi penerus bangsa. Maka dari itu, bisa dikatakan bahwa
karakter berfungsi agar bangsa Indonesia tidak terombang-ambing dengan arah dan
kekuatan karakter. Karakter haruslah dibangun dan di bentuk agar menjadi bangsa yang
bermartabat, karena karakter tidak datang dengan sendirinya. Selanjutnya, pembangunan
karakter bangsa terbagi menjadi 3 tataran besar, yakni menumbuhkan dan memperkuat jadi
diri bangsa Indonesia, menjaga kesatuan NKRI, memperkuat dan menumbuhkan jati diri
bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), membentuk
masyarakat yang mempunyai akhlak mulia dan bermartabat. Dalam upaya Dalam rangka
meingkatkan pertumbuhan karakter agar tercapai, maka dibutuhkan upaya yang nyata dan
jelas. Upaya-upaya itu diantaranya penyusunan rangka pembentukan dan pembangunan
nasional, penyusunan rancangan aski nasinal yang diselenggarakan secara nasional,
maklumat pembangunan karakter oleh kepala negara sebagai tonggak awal
diselenggarakannya reaktualisasi pembangunan karakter dan pengamalan pembangunan
karakter secara real pada kehidupan bernegara.
Manfaat Pembangunan Karakter Bangsa di Era Globalisasi
Manfaat dari pembangunan karakter bangsa antara lain:
1. Sebagai pembentuk dan pengembang kemampuan masyarakat Indonesia agar
berfikiran, berhati dan bersikap terpuji sesuai dengan ideologi negara.
2. Sebagai penguat dan perbaikan pembangunan karakter bangsa, yang artinya
memperkuat serta memperbaiki tugas dari masyarakat, keluarga, pemerintah dan
pendidikan agar selalu bertanggung jawab dan berperan di dalam mengembangkan
potensi warga negaranya dan membangun masyarakat agar menjadi bangsa yang
mandiri, sejahtera dan maju.
3. Sebagai penyaring dalam membangun karakter bangsa, artinya bisa memilah budaya
dari negaranya dan Fungsi Penyaring Pembangunan Karakter bangsa yaitu memilah
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
221
budaya dari bangsa sendiri dan menyaring budaya dari negara lain agar tidak masuk ke
negara kita yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di negara kita.
Manfaat-manfaat tersebut dilaksanakan dengan dilakukan melalui justifikasi
Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara, justifikasi nilai dan norma konstitusional
UUD Negara Republik Indoensia tahun 1945, konsolidasi komitmen kebangsaan NKRI,
justifikasi nilai dalam keragaman sesuai dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika, dan
justifikasi kelebihan serta daya saing bangsa demi keberlanjutan kehidupan dalam
kemasyarakatan, berbangsa, dan bernegara dalam konteks yang mendunia.
Sasaran dan Ruang Lingkup Pembangunan Karakter Bangsa di Era Globalisasi
Dalam Lingkup Keluarga
Keluarga adalah media pembiasaan dan pembelajaran karakter yang dilaksanakan
oleh orang tua dan orang yang lebih tua umurnya dalam keluarga kepada anak dengan
harapan dapat mewujudkan keluarga yang berakhlak mulia yang tergambar dari perilaku
sehari-hari. Keluarga merupakan lingkungan utama dalam membentuk watak serta karakter
manusia. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang mana seseorang melakukan
sosialisasi dan komunikasi dengan manusia lain selain keluarganya. Keluarga sangat
berperan dalam mengatur jalannya perkembangan karakter anak (Sama’un B, 2005: 98).
Keluarga adalah lingkungan pertama dimana orang tua bertugas sebagai peran utama dan
menjadi contoh bagi anak-anaknya.
Dewi kunti melakukan pendidikan pembangunan karakter yaitu mengacu pada soft
skill, artinya pendidikan yang mengutamakan akhlakul karimah, moral dan perilaku yang
baik bukan semata-mata mementingkan prestasi unggul dan aspek kognitif. Bangsa kita
bisa menjadi bangsa yang disegani oleh negara lain di masa depan melalui perilaku santun
dan cerdas jika keluarga mengajarkan pendidikan karakter.
Istadi, Irawati. (2007) menjelaskan jika keteladanan dari orangtua sangatlah berperan
di dalam pembangunan karakter bangsa, dikarenakan anak akan meniru apa saja yang
dilakukan orangtuanya sedari kecil. bahwa keteladanan dari orang tua sangatlah penting
dalam pembangunan karakter anak, karena mereka selalu meniru apa yang orang tuanya
lakukan sedari kecil. Hubungan orangtua dan anaknya adalah peniruan yang paling awal.
Melalui peniruan itulah anak akan terarah untuk menjadi bagian dari lingkungan
sekitarnya. Kehidupan manusia tak akan berkembang tanpa peniruan, tanpa peniruan
kehidupan manusiawi tidak akan ada karena peniruan merupakan dasar dalam kehidupan
bersama. Anak dapat mengikatkan diri kepada orang-orang yang besar peranan, pengaruh
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
222
dan arti untuk anak itu sendiri melalui peniruan. Anak akan memusatkan peniruannya pada
orang-orang yang sangar berjasa bagi dirinya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa
peniruan itu sangat penting.
Dalam masalah keteladanan, banyak orang tua yang menganggap sepele, sehingga
banyak yang mengabaikannya. Padahal, peranan keteladanan inilah yang berperan pada
segala aspek, mulai dari hal sepele sampai hal yang besar. Anak yang tak pernah melihat
orang tuanya sholat jangan heran jika anaknyapun nanti susah jika diperintahkan untuk
sholat, Anak yang tak pernah melihat orangtuanya mengaji jangan heran jika nanti
anaknyapun susah diajak untuk mengaji. Akan lebih mudah jika orangtua mencontohkan
langsung di depan anak-anaknya. Setelah sholat maghrib usahakan untuk membaca Al-
Qur’an disamping anak, maka mereka akan menirunya. Jadi teladan merupakan proses
yang utama dalam mendidik anak. Orangtua harus membuat dirinya terlebih dahulu baik
jika ingin anaknya baik pula. Orang tua wajib membangun karakter anaknya menjadi
cerdas jika menginginkan mereka menjadi orang yang cerdas.
Selain melalui keluarga, proses pembangunan karakter juga bisa dilakukan melalui
pendidikan, pengasuhan dan pembiasaan. Proses pembangunan karakter lain juga dapat
dilakukan dalam bentuk pendidikan, pembiasaan dan pengasuhan. Pembangunan karakter
bisa dilakukan kepada calon-calon orang tua melalui penyertaan keterampilan serta
pengetahuan dalam pembimbingan dan pengasuhan anak dalam lingkungan keluarga.
Dalam Lingkup Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu jembatan dalam pengembangan dan pembinaan
karakter. Pengembangan dan pembinaan karakter tersebut dilakukan dengan pendekatan
integral pada semua mata pelajaran sekolah, pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler,
pengembangan budaya dan pembiasaan berprilaku pada kehidupan di lingkungan sekolah.
Pembangunan karakter ini dilaksanakan dari pendidikan anak usia dini sampai dengan
perguruan tinggi.
Disini saya akan menjelaskan civic education untuk membangun karakter bangsa.
Civic education atau Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu proses pengajaran dasar
yang dilakukan di sekolah yang di sekolah yang disusun untuk mempersiapkan siswa-siswi
untuk berperan aktif dalam komunitas mereka. Jadi, civic education merupakan
pembentukan karakter warga negara yang dilakukan melalui sekolah. Mata pelajaran PKn
adalah satu dari banyaknya mata pelajaran yang berfungsi untuk membangun generasi
muda agar menjadi warga negara yang memiliki karakter. Kaitan PKn dengan
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
223
pembangunan karakter mempunyai aspek yang tak akan bisa dipisahkan dari aspek
moralitas warga negara Indonesia dan pembangunan karakter.
Nilai-nilai karakter dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi:
1. Religius
Nilai religius yaitu sikap patuh kepada ajaran agama yang dianutnya. Hal tersebut
sejalan dengan bunyi sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, namun tidak boleh
meremehkan atau menganggap rendah agama lain. Dengan membangun karakter melalui
nilai religius maka diharapkan agar bisa menjadi landasan moral, etika dan nilai ketika
berbuat.
2. Jujur
Jujur merupakan sikap yang pada dasarnya adalah upaya untuk menjadikan manusia
yang dapat dipercaya baik perkataan, perbuatan dan tingkah laku. Dengan kita bersikap
jujur, maka tidak akan terjadi salah paham, membenci yang disebabkan pihak lain merasa
di bohongi.
3. Tanggung Jawab
Dengan kita berprilaku tanggungjawab dalam setiap apa yang dilaksanakan, hal tersebut
menunjukan bahwa kita berhak mendapatkan apresiasi dari perbuatannya.
4. Toleransi
Toleransi merupakan perilaku menghargai setiap perbedaan yang ada. Dengan kita
berperilaku toleran, maka memudahkan dalam berteman tanpa takut adanya pemecahan.
5. Disiplin
Disiplin yaitu menaati setiap aturan yang berlaku. Hal tersebut menunjukan bahwa
orang tersebut sangat menghargai dan menjunjung tinggi setiap aturan yang sudah
disepakati.
6. Kerja Keras
Dengan kita bekerja keras pada semua tindakan, tegas dan optimis maka kita
membuktikan bahwa kita adalah orang yang berkarakter dan layak untuk dibawa bekerja
sama.
7. Demokratis
Demokratis adalah orang yang memiliki cara berfikir, bertindak dan bersikap tidak
membeda-bedakan, artinya menilai sama diantara hak dan kewajiban dia dengan orang
lain, menyadari hal apa yang harus lebih didahulukan.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
224
8. Cinta Tanah Air dan Semangat Kebangsaan
Hal tersebut diperlukan karena tanpa ada semangat, kesadaran dan cinta kepada tanah
air oleh warga negaranya, maka sampai kapan pun dalam membangun karakter bangsa tak
akan pernah tercapai, karena karakter bangsa akan tercipta dari warga negara itu sendiri.
9. Peduli Terhadap Lingkungan dan Sosial
Jika kita berperilaku peduli terhadap lingkungan dan sosial, maka kita akan menjadi
orang yang lebih dicintai, dilindungi dan disegani oleh masyarakat di sekitar.
Kunci keberhasilan pembangunan karakter salah satunya yaitu keteladanan oleh para
pendidik itu sendiri. Keteladanan tak hanya sebagai contoh untuk siswa siswi, tetapi
sebagai penguat moral bagi siswa siswi dalam berperilaku dan bersikap. Oleh karenanya,
implementasi keteladanan pada lingkungan pendidikan menjadikan syarat dalam
pembangunan karakter.
Dalam Lingkup Pemerintahan
Pemerintahan adalah sarana untuk membangun karakter bangsa dengan keteladanan
penyelenggaraan negara, politik, dan elite pemerintah. Komponen pemerintah sebagai
unsur penting dalam proses pembangunan karakter, karena aparat pemerintah berfungsi
untuk menyelenggarakan pemerintah merupakan pelaksana dan pengambil kebijakan yang
ikut dalam menentukan keberhasilan pembangunan karakter pada tataran formal,
nonformal dan informal. Pemerintah juga lah yang memaklumatkan kebijakan-kebijakan
pada setiap pelaksanaan pembangunan.
Dalam Lingkup Masyarakat
Pembentukan karakter dalam kehidupan bermasyarakat dapat dilakukan dengan
keteladanan pemimpin dan tokoh masyarakat yang bergabung kepada ormas sehingga
nilai-nilai karakter bangsa bisa di internalisasikan dan membentuk budaya dan perilaku
pada kehidupan sehari-hari dan termasuk juga busaya anti korupsi.
SIMPULAN
Dari penelitian yang saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter
sudah dilakukan dengan segala cara, tetapi sampai sekarang belum bisa terlaksana dengan
optimal. Hal tersebut bisa terlihat dari kesenjangan ekonomi yang masih besar,
kesenjangan sosial dan politikpun masih sama besar, supremasi hukum yang tidak adil,
pornografi, pergaulan bebas yang merebak pada remaja, kerusuhan, kekerasan, korupsi,
kolusi dan nepotisme yang merebah pada semua sektor di kehidupan bermasyarakat.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
225
Melihat situasi dan kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan tersebut, pemerintah kita
mengambil inisiatif untuk mengedepankan pembangunan karakter bangsa Indonesia yang
semestinya menjadi fokus utama pembangunan karakter masyarakat Indonesia dalam
pembangunan karakter. Hal tersebut bisa terlihat dari misi pembangunan nasional itu
sendiri yang terdiri dari delapan misi dan pendidikan karakterlah misi pertama dalam
merealisasikan visi dari pembangunan nasional yang berisikan mengenai terciptanya
karakter warga negara yang kompetitif, tangguh, bermoral dan berakhlak mulia
berdasarkan ideologi negara karena pancasila sebagai pembentukan warna negara good
citizen yang mana itu merupakan pengaplikasian dari karakter bangsa itu sendiri. Selain
lingkup pemerintah, lingkup keluarga, lingkup pendidikan dan lngkup masyarakatpun
sangat benting untuk membangun karakter bangsa yang sesuai dengan ideologi negara.
SARAN
Pertama, penulis berharap agar nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila tak hanya
dikaji secara teoretis saja, tetapi harus ada bukti nyata yang dilakukan dalam kehidupan
guna membangun karakter bangsa. Kedua, dalam pengimplementasian Pancasila harus
didasari dengan kegiatan pada masing-masing individu dan dalam pembangunan karakter
bangsa, pemerintah Indonesia haruslah membuat kebijakan untuk mengedepankan
pembangunan karakter dengan menumbuhkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila oleh
warga negara dan kemudian memngimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Asatawa, I., & Ari, P. (2017). Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang
Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.
Asikin, I. (2018). Pengembangan Model Pendidikan Karakter Di Lingkungan Keluarga.
Ta’dib: Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 434-444.
Borba, Michele (2008). Membangun kecerdasan moral. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Budimansyah, Dasim. 2010. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun
Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.
Damanhuri, D., Bahrudin, F. A., Legiani, W. H., & Rahman, I. N. (2016). Implementasi
Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Untirta Civic
Education Journal, 1(2).
Eri Hendro Kusuma. Implementasi pendidikan karakter pada kegiatan ekstrakurikuler di
sman 02 kota batu. Universitas Negeri Malang. Tanggal 1 desember 2013.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 2, Juli 2021
226
Fauzi, F. Y., Arianto, I., & Solihatin, E. (2013). Peran guru Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan dalam upaya pembentukan karakter peserta didik. Jurnal PPKn
UNJ Online, 1(2), 1-15.
Hasanah, N. (2021). Sumber sosiologis pancasila sebagai ideologi negara.
Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa MelaluiPendidikan
Karakter, PPS Universitas Terbuka, Jakarta, 2010.
Istadi, Irawati. 2007. Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi: Pustaka Inti.
Kaelan. (2010). Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.
Kemendiknas RI, Disain Induk Pendidikan Karakter, Jakarta, 2010.
Kementrian Pendidikan Nasional (2011). Hibah penyusunan buku model pendidikan
karakter di perguruan tinggi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Marinasari Fithry Hasibuan, S.Ag., M.Pd. (2013). Efektivitas pengelolaan kelas dalam
membentuk karakter bangsa pada peserta didik. Widyaiswara Balai Diklat
Keagamaan Medan.
Moleong, L. J. (2004). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nugroho Triatmojo, Pendidikan Kewarganegaraan, Karakter Bangsa.
Samsuri. Mengapa (Perlu) Pendidikan Karakter? Kaji Ulang Pengalaman di FISE
Universitas Negeri Yogyakarta (Bahan Sosialisasi Mata Kuliah Pendidikan Karakter
di FISE UNY di Wonosobo, 14 Januari 2011).
Sri Wahyuni Tanzil, M.Pd. Pembangunan kemandirian warga negara melalui pendidikan
kewarganegaraan pada lingkungan pondok pesantren (Studi Kasus Pada Lingkungan
Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya).
Suaila, A., & Krisnan, J. (2019). Menggali kembali peran Pancasila sebagai ideologi
bangsa dan dasar negara dalam pembangunan hukum nasional di era global. Law and
Justice, 4(1), 46-55.
Suneki, S. (2012). Dampak globalisasi terhadap eksistensi budaya daerah. CIVIS,
2(1/Januari).
Udin Saripudin Winataputra, Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana
Pendidikan.
Demokrasi, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (Disertasi),
Bandung,200.
Usmi Karyani. Pendidikan karakter di sekolah: Apakah menjadikan anak-anak lebih baik?
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tanggal 21 April 2012.
Winarno. (2020). Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Panduan Kuliah di
Perguruan Tinggi. Surakarta: Bumi Aksara.
Yulita Muspitasari (2012). Implementasi pendidikan karakterpada sekolah berasrama
(boarding school) di madrasah aliyah negeri 1 surakarta.