AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
22
TIGA PARADIGMA EVALUASI PENDIDIKAN:
SEBUAH PETA PERKEMBANGAN
Agung Prihantoro
1
Pendidikan Agama Islam, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta
Jl. Perintis Kemerdekaan, Gambiran, Umbulharjo, Kota Yogyakarta 55161
1
ABSTRAK
Dalam khazanah evaluasi pendidikan level kelas, terdapat celah penelitian, yakni peta
perkembangan tiga paradigma evaluasi pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mengisi cela
tersebut dengan mendeskripsikan perkembangan tiga paradigma evaluasi pendidikan, yaitu
assessment of learning, assessment for learning dan assessment as learning. Metodologi
penelitiannya adalah metodologi penelitian pustaka. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
perkembangan paradigma evaluasi pendidikan dibagi jadi dua, yakni perkembangan awal dan
perkembangan lanjut. Perkembangan awalnya berupa harapan sebagian kalangan untuk
mengorientasikan evaluasi pendidikan pada aktivitas belajar, bukan pada evaluasi semata.
Perkembangan awal ini memunculkan paradigma assessment as learning yang kemudian
memperlihatkan perbedaan tiga paradigma evaluasi pendidikan. Perkembangan lanjutnya berupa
penerapan assessment as learning bersama assessment of learning dan assessment for learning
pada berbagai mata pelajaran atau mata kuliah di berbagai negara. Penerapan ini menghasilkan
bukti-bukti empiris ilmiah yang menunjukkan kelebihan dan kelemahan, terutama, AaL, serta
pengembangannya ke depan.
Kata Kunci: paradigma evaluasi pendidikan; assessment of learning; assessment for learning;
assessment as learning
ABSTRACT
In the field of classroom educational assessment or evaluation, there is a research gap in the
development of three educational assessment paradigms: assessment of learning, assessment for
learning, and assessment as learning. The paper aims to fill the gap by describing the development.
The research methodology employed was literature review. The results indicated that two phases of
the development are early and advanced ones. In the early phase, some educational stakeholders
hoped to orient educational assessment toward learning, not only assessing. The early phase
originated the assessment as learning which showed differences among the three paradigms. In the
advanced phase, the assessment as learning together with the assessment of learning and the
assessment for learning were applied in various classes in schools and higher education in many
countries. The application generated scientifically empirical shreds of evidence of strengths and
weaknesses and future progress of particularly the assessment as learning.
Keyword: educational assessment paradigm; assessment of learning; assessment for learning;
assessment as learning
PENDAHULUAN
Sudah banyak penelitian tentang tiga paradigma evaluasi atau asesmen pendidikan,
tetapi belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji peta perkembangan terbaru tiga
paradigma itu. Paradigma ini melihat evaluasi atau asesmen pendidikan dalam
hubungannya dengan aktivitas belajar (learning), dan evaluasi atau asesmen pendidikan di
sini dibatasi dalam konteks evaluasi atau asesmen kelas (classroom assessment). Peta
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
23
perkembangannya berarti awal mula tiga paradigma evaluasi atau asesmen pendidikan dan
pertumbuhan selanjutnya.
Dalam tulisannya tentang implikasi-implikasi tiga paradigma asesmen pendidikan
(assessment of learning [AoL], assessment for learning [AfL], assessment as learning
[AaL]) pada penelitian, Chong (2017) menyinggung peta perkembangan ketiga paradigma
itu, tetapi dia berfokus pada implikasi-implikasinya. Serafini (2001) juga memaparkan tiga
paradigma asesmen pendidikan, tetapi tidak secara khusus memetakan perkembangannya.
Tiga paradigma asesmen pendidikan yang dipaparkan Serafini agak berbeda dengan yang
ditulis Chong. Serafini menyebut assessment as measurement, assessment as procedure,
dan assessment as inquiry. Chong dan Serafini menyebutnya dengan istilah paradigma
(paradigm) dan memakai kata assessment, bukan evaluation.
Stiggins (2002) menunjukkan krisis asesmen pendidikan dengan menjelaskan
dampak-dampak negatif dari AoL dan menawarkan AaL sebagai solusinya. Senada dengan
Stiggins, Earl (2003) membahas AoL, AfL dan AaL dalam bukunya yang berfokus pada
AaL dan ia memperbarui bukunya dengan menerbitkan edisi kedua (2013). Kemudian,
Earl dan Katz (2006) membahas AfL, AaL dan AoL dan rancangan penerapannya secara
cukup banyak, tetapi tidak meng-update perkembangan-perkembangan terbaru dari tiga
paradigma tersebut. Earl dan Katz menyebutnya tidak dengan istilah paradigma, melainkan
dengan istilah kategori (category) dan kerangka pikir (framework).
Berikutnya, Falchikov (2005) memperlihatkan kelemahan-kelemahan asesmen
tradisional dan menjelaskan empat paradigma asesmen: assessment as measurement,
assessment as procedure, assessment as enquiry dan assessment as quality control. Istilah-
istilah yang dipakai Falchikov ini serupa dengan yang dipakai oleh Serafini (2001). Dalam
konteks tulisan ini, Falchikov belum memutakhirkan bukunya dengan perkembangan-
perkembangan terbaru dalam evaluasi pendidikan.
Selanjutnya, MacMath, Wallace dan Chi (2009) meneliti penerapan AaL, AoL dan
AfL oleh guru di sekolah di Amerika Serikat dan menerangkan serba-sedikit
perkembangan tiga asesmen tersebut. Lalu, Volante (2010) memaparkan pergeseran dari
AoL ke AfL dan AaL dan implikasi-implikasi perubahan praktik belajar dan mengajar di
dua sekolah dasar dan menengah di Ontario, Kanada. Sebagian besar guru masih
menekankan AoL dibandingkan AfL dan AaL. Penerapan AaL masih menghadapi
hambatan-hambatan.
Sementara itu, Mutch (2012) mendedahkan perkembangan kebijakan asesmen
pendidikan di Selandia Baru dalam kaitannya dengan tiga paradigma asesmen. Mutch
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
24
mengistilahkannya tiga tipe (type). Sebelumnya, Hume dan Coll (2009) telah meneliti tren
penerapan AaL di Selandia Baru yang mengikuti tren internasional. Mutch, Hume dan Coll
memaparkan masalah-masalah dan tarik-menarik kebijakan asesmen dalam sistem
pendidikan di Selandia Baru. Perubahan kebijakan evaluasi pendidikan juga terjadi di
negara dekat Selandia Baru, yakni Australia, dan Cumming, Kleij dan Adie (2019)
menjelaskan perubahan kebijakan AfL AaL dan AoL di Negera Kanguru itu.
Di Indonesia, Saefurrohman (2015) meneliti penerapan AaL, AoL dan AfL oleh guru
bahasa Inggris di sekolah menengah pertama. Dalam kajian teorinya, sebagaimana
penelitian-penelitian serupa, Saefurrohman mengutip tulisan-tulisan tentang tiga asesmen
tersebut, tetapi tidak menggambarkan peta perkembangan tiga asesmen tersebut.
Lalu, Lam (2015) menulis ikhtisar tiga paradigma asesmen hanya secara ringkas,
tetapi memberi perbedaan yang cukup jelas di antara ketiganya. Dalam tulisannya tentang
asesmen portofolio pada kuliah menulis, Lam menamakan AaL, AfL dan AoL sebagai
pendekatan (approach). Tiga pendekatan tersebut dibedakan dalam hal definisi, paradigma,
fokus, portofolio sebagai pembelajaran menulis, portofolio sebagai alat belajar, portofolio
sebagai alat asesmen, sumber umpan balik (feedback), manfaat, dan penerapannya.
Terakhir, Cookson (2017) mengkaji secara kritis enam istilah dalam tiga pasangan:
formative dan summative, assessment dan evaluation, dan formative assessment dan
assessment for learning. Di sini, Cookson mengulik secara jeli gagasan-gagasan asesmen
dan istilah-istilah yang dipakai untuk menjelaskan gagasan-gagasan itu. Namun, dia
mengatakan bahwa dirinya dalam tulisan tersebut sengaja tidak meneliti evolusi gagasan
dan istilah asesmen dan evaluasi pendidikan. Kemudian, Cookson merekomendasikan
istilah evaluation for learning dan formative assessment. Namun, dia tidak menyebut
istilah-istilah evaluation of learning (EoL) dan evaluation as learning (EaL), serta
singkatan EfL (evaluation for learning).
Para peneliti atau penulis tersebut meriset dan menulis tiga paradigma asesmen atau
evaluasi pendidikan: AoL, AfL, AaL atau EoL, EfL, EaL, tetapi tidak secara khusus
memetakan perkembangan ketiganya dari waktu ke waktu. Jadi, terdapat celah riset
(research gap) (C.G.A., 1970) tentang peta perkembangan tiga paradigma evaluasi
pendidikan. Artikel ini mengisi celah riset ini dengan memetakan perkembangan tiga
paradigma evaluasi pendidikan dari perspektif AaL/EaL, karena kemunculan AaL/EaL
menjadikan perbedaan-perbedaan di antara ketiga paradigma itu lebih jelas. Bagaimanakah
peta perkembangan tiga paradigma evaluasi pendidikan menurut perspektif AaL/EaL?
Itulah pertanyaan penelitian (research question) yang dijawab dalam artikel ini.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
25
METODE PENELITIAN
Untuk menjawab pertanyaan penelitian di atas, artikel ini menggunakan metodologi
penelitian pustaka (literature review). Xiao dan Watson (2017) mengistilahkan penelitian
pustaka sebagai metodologi penelitian dengan kata-kata stand-alone review. Metodologi
penelitian pustaka adalah metodologi penelitian yang berupaya memahami literatur-
literatur yang ada dengan cara menjumlahkan (aggregation), atau menafsirkan
(interpretation), atau menjelaskan (explanation), atau memadukan (integration) literatur-
literatur yang sudah ada (Rousseau, Manning dan Denyer dalam Xiao dan Watson, 2017).
Artikel ini menerapkan metodologi penelitian pustaka narrative review yang
merupakan salah satu dari lima sub-jenis metodologi penelitian pustaka. Xiao dan Watson
mengelompokkan metodologi penelitian pustaka ke dalam empat jenis, yakni describe
(deskriptif, mendeskripsikan), test (tes, pengujian, menguji), extend (pengembangan,
mengembangkan) dan critique (kritik, mengkritik) (Xiao dan Watson, 2017). Metodologi
penelitian pustaka deskriptif dikelompokkan lagi jadi lima sub-jenis, yaitu narrative
review, textual narrative synthesis, metasummary, meta-narrative dan scoping review.
Metodologi penelitian pustaka narrative review, sebagaimana kata Xiao dan Watson,
menarasikan atau menceritakan literatur-literatur yang diteliti. Xiao dan Watson
menambahkan bahwa narrative review tidak terlalu menilai kualitas literatur, tetapi artikel
ini tetap mengutamakan kualitas literatur yang diteliti.
Penelitian pustaka narrative review menerapkan, sebagaimana kata Xiao dan
Watson, delapan langkah, yaitu (1) merumuskan pertanyaan penelitian, (2) membuat dan
memvalidasi protokol atau desain penelitian pustaka, (3) mencari literatur-literatur yang
diteliti, (4) menyeleksi literatur-literatur yang telah diperoleh, (5) menilai kualitas literatur,
(6) mengekstraksi data, (7) menganalisis dan menyintesiskan data, dan (8) menulis laporan
temuan penelitian. Langkah 15 termasuk dalam metode pengumpulan data sedangkan
langkah 68 merupakan metode analisis data.
Pertanyaan penelitian artikel ini telah dirumuskan pada akhir bagian pendahuluan di
atas. Desain penelitian pustaka narrative review untuk menjawab tersebut adalah mencari
literatur-literatur ilmiah dengan kata kunci assessment as learning di internet, karena
penelitian ini menggunakan perspektif AaL untuk memetakan perkembangan tiga
paradigma evaluasi pendidikan. Literatur ilmiah yang dimaksud itu berupa artikel di jurnal
ilmiah, makalah seminar dan buku yang mencantumkan judul tulisan, nama penulis, tahun
terbit, dan jurnal penerbitnya, nama seminarnya atau penerbit bukunya. Literatur-literatur
yang sudah diperoleh diseleksi berdasarkan kualitas uraiannya tentang perkembangan
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
26
AoL/EoL, AfL/EfL dan AaL/EaL. Seleksi ini memilih literatur-literatur yang bersifat
ilmiah dan memuat uraian perkembangan yang berkualitas tentang AoL/EoL, AfL/EfL dan
AaL/EaL, dan terpilih 42 literatur untuk diteliti. Selanjutnya, data-datanya diekstraksi
dengan pengodean (coding), dianalisis dan disintesiskan, serta dibuat laporan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peta perkembangan tiga paradigma evaluasi pendidikan dibagi jadi dua tahap. Tahap
pertama adalah fase perkembangan awal, dan tahap kedua adalah fase perkembangan
lanjut. Perkembangan awal menunjukkan gelombang yang kuat dari sebagian kalangan
untuk mengorientasikan aktivitas asesmen atau evaluasi pendidikan pada aktivitas belajar,
bukan pada asesmen atau evaluasi semata. Perkembangan awal ini memunculkan ide AaL.
Kemudian, pada tahap kedua atau fase perkembangan lanjut, ide AaL bersama AoL dan
AfL diterapkan pada berbagai mata pelajaran atau mata kuliah di berbagai negara.
Penerapan ini menghasilkan bukti-bukti empiris yang menunjukkan kelebihan dan
kelemahan, terutama, AaL, serta pengembangannya ke depan.
Perkembangan Awal
Perkembangan awal tiga paradigma evaluasi pendidikan ditandai dengan
kemunculan ide AaL. AaL ini membedakan dengan jelas antara AoL, AfL dan AaL itu
sendiri. Perbedaan ini menunjukkan pergeseran paradigma evaluasi belajar atau evaluasi
pendidikan dan juga menunjukkan kebutuhan akan AfL dan AaL atau asesmen formatif.
Namun, ini tidak berarti bahwa AoL tidak berguna dan harus dihilangkan, tetapi lebih
tepatnya, perlu penerapan ketiganya dalam keseimbangan baru.
Istilah AaL kali pertama dikenalkan oleh Ruth Dann dalam bukunya, Promoting
Assessment as Learning: Improving the Learning Process (2002). Ide AaL muncul ketika
di Inggris, negara tempat Dann bermukim, diundangkan Education Reform Act 1988 yang
menguatkan praktik evaluasi daripada aktivitas belajar. Evaluasi belajar atau evaluasi
pendidikan menjadi tekanan (pressure) bagi siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang
bagus. Kemudian, Dann menggagas evaluasi sebagai aktivitas belajar, bukan sebagai
aktivitas evaluasi semata-mata. Namun, Dann tidak menyebut istilah-istilah AoL/EoL dan
AfL/EfL.
Setahun berikutnya, Lorna Earl (2003) membedakan dengan terang antara AoL, AfL
dan AaL. AoL bertujuan untuk menilai hasil belajar dan melaporkan penilaian hasil belajar
kepada siswa dan orang tua siswa. Penilaian itu umumnya membandingkan hasil belajar
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
27
antarsiswa. Penilaiannya dilakukan lazimnya di akhir pelajaran, semester atau program,
dan penilaiannya berbentuk tes yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang telah
diajarkan. Hasil penilaiannya berupa simbol huru atau angka. Asumsi yang mendasari AoL
adalah mengukur hasil belajar (to measure or to learn). Selama ini, AoL mendominasi
sistem pendidikan di seluruh dunia.
Asal usul AoL yang berbentuk tes umumnya dinisbahkan pada pejabat Cina tahun
500 SM yang menyeleksi calon-calon pejabat pemerintah (Rust dan Golombok, 2009).
Mereka dites terlebih dahulu sebelumnya untuk menentukan siapa yang pantas menjadi
pejabat-pejabat pemerintah Cina. Ini dianggap sebagai awal sejarah asesmen, evaluasi atau
tes.
AfL, masih menurut Earl, bertujuan tidak untuk membandingkan hasil belajar para
siswa, tetapi untuk menemukan kelebihan dan kelemahan setiap siswa dan memberi umpan
balik (feedback) kepada siswa tentang aktivitas-aktivitas belajar mereka selanjutnya. Data
tentang kelebihan dan kelemahan setiap siswa digunakan untuk memodifikasi aktivitas-
aktivitas belajar dan mengajar berikutnya. Evaluasinya berbentuk pemberian tugas-tugas
yang dapat memberikan data tersebut dan dilakukan lebih dari sekali tidak di akhir akhir
pelajaran, semester atau program. Guru masih menempati posisi sentral dalam AfL.
Asumsi yang mendasarinya ialah bahwa evaluasi dapat meningkatkan aktivitas belajar.
AaL menguatkan dan meluaskan peran asesmen formatif untuk meningkatkan
aktivitas belajar. Cara menguatkan dan meluaskannya adalah dengan menekankan peran
siswa, bukan hanya sebagai kontributor dalam proses asesmen dan belajar, melainkan juga
sebagai konektor kritis (critical connector) antara proses asesmen dan proses belajar.
Siswa berperan ganda sebagai pelajar atau pemelajar (orang yang belajar) dan sebagai
asesor atau evaluator yang aktif dan kritis. Sebagai asesor atau evaluator, siswa menilai
kemajuan belajarnya: apa sudah sudah dicapai, apa yang belum dicapai, apa kelebihan dan
kelemahan dirinya dalam belajar, apa yang akan dilakukan dalam aktivitas belajar
berikutnya. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa swa-evaluasi atau swa-asesmen
(self-assessment) merupakan inti dari aktivitas belajar dan evaluasi.
Selanjutnya, Lorna Earl bersama Steven Katz (2006) menulis buku yang
menguraikan secara lengkap AfL, AaL dan AoL beserta perencanaan penerapan praktisnya
dan contoh-contohnya. Bukunya berjudul Rethinking Classroom Assessment with Purpose
in Mind: Assessment for Learning, Assessment as Learning, Assessment of Learning. Buku
setebal 112 halaman ini boleh disebut sebagai buku yang paling komprehensif dalam
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
28
menjelaskan tiga paradigma evaluasi pendidikan, latar belakangnya dan detail-detail
penerapannya di kelas-kelas.
Kemunculan AaL tidak menafikan AfL dan AoL, melainkan membutuhkan
keseimbangan baru dalam menerapkan tiga paradigma itu. Dalam pandangan lama
(tradisional), AoL menempati proporsi paling besar, sedangkan AaL menempati proporsi
paling kecil. Namun, dalam pandangan baru, AaL mendapatkan proporsi yang paling besar
sementara AoL justru memperoleh proporsi yang paling kecil. Jadi, AoL, AfL dan AaL
tetap dilaksanakan semua dalam proporsi yang berbeda. Keseimbangan lama dan baru ini
divisualisasikan dalam bentuk piramida di buku Earl (2003) dan buku Earl dan Katz (2006)
seperti tampak pada Gambar 1.
Gambar 1. Keseimbangan Baru dan Keseimbangan Lama antara AoL, AfL dan AoL
(Earl, 2003, & Earl & Katz, 2006).
Rita Berry (2008) menulis buku Assessment for Learning yang membabarkan
perkembangan-perkembangan evaluasi pendidikan, termasuk AoL dan AaL, terutama di
Hong Kong. Cina dan Hong Kong merupakan dua negara yang secara progresif mengikuti
isu-isu tiga paradigma evaluasi pendidikan tersebut. Dalam buku ini, Berry mengutip Earl,
Black dan Wiliam.
Sejenak mundur ke belakang, setahun sebelum Dann melontarkan ide AaL, Frank
Serafini (2001) mengemukakan ide yang senada dengan AoL, AfL dan AaL. Sebagaimana
telah disebutkan di muka, Serafini assessment as measurement, assessment as procedure,
dan assessment as inquiry. Ide-ide ini memiliki latar belakang serupa bahwa pendidikan
dan evaluasi sepantasnya mengarah pada aktivitas belajar. Pendidikan dan pemelajaran
tidak berorientasi pada evaluasi.
Latar belakang tersebut bahkan menjauh lagi ke belakang ke pengaruh besar dari
Michael Scriven menurut Cookson (2017) dan dari Paul Black dan Dylan Wiliam menurut
Chong (2017). Scriven menulis makalah penting bertajuk The Methodology of
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
29
Evaluation (1967) yang dipublikasikan oleh Social Science Education Consortium. Dalam
tulisan setebal 58 halaman itu, Scriven membedakan antara summative assessment dan
formative assessment. Summative assessment kelak diasosiasikan dengan AoL sedangkan
formative assessment dengan AfL dan AaL.
Black dan Wiliam juga memberi pengaruh besar pada kelahiran AfL dan AaL. Black
dan Wiliam menulis banyak karya, tetapi karya yang dinilai sangat berpengaruh pada ide
baru evaluasi pendidikan berjudul Assessment and Classroom Learning (1998). Artikel
setelah 67 halaman yang dimuat di jurnal ilmiah prestisius Assessment in Education
Volume 5 Number 1 ini merupakan penelitian pustaka terhadap lebih dari 250 tulisan.
Dalam artikel itu, Black dan Wiliam membayankan bagaimana umpan balik yang
dirancangan dengan bagus dari guru kepada siswa berdampak signifikan pada hasil belajar
siswa.
Dua puluh tahun setelah publikasi Black dan Wiliam itu, jurnal Assessment in
Education Volume 25 Issue 6 2018 menerbitkan edisi khusus tentang hal ihwal tulisan
Black dan Wiliam tersebut. Di edisi ini, Black dan Wiliam juga menulis artikel dengan
judul Classroom Assessment and Pedagogy. Tulisan Black dan Wiliam tak hanya dipuji,
tetapi juga dikritik. Hattie (1998) mengkritik tulisan lama Black dan Wiliam bahwa mereka
berdua masih berorientasi pada guru ketimbang pada siswa.
Gambar 2. Langkah Strategis dalam Asesmen (Black & Wiliam, 2018)
Dalam tulisan barunya ini, Black dan Wiliam mengajukan 5 langkah strategis dalam
asesmen (Gambar 2). Pertama, guru (dosen) menjelaskan tujuan belajar dan kriteria
keberhasilan belajar. Kedua, guru (dosen) mengadakan diskusi-diskusi kelas yang efektif
dengan para siswa (mahasiswa) dan aktivitas-aktivitas belajar lain yang dapat
menunjukkan bahwa para siswa (mahasiswa) memahami pelajaran atau kuliahnya. Ketiga,
guru (dosen) memberikan umpan balik yang mendorong para siswa (mahasiswa) belajar
lebih lanjut. Keempat, guru (dosen) mengaktifkan para siswa (mahasiswa) agar mereka
saling mengajari, saling menjadi sumber pengajaran. Kelima, guru (dosen) mengaktifkan
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
30
para siswa (mahasiswa) agar mereka menjadi pemilik aktivitas belajar mereka sendiri, agar
mereka bertanggung atas hal ihwal belajar mereka sendiri. Lima strategi ini memperjelas
guru (dosen) dan siswa (mahasiswa) dalam menerapkan AaL.
Perkembangan Lanjut
Perkembangan selanjutnya adalah penerapan AoL, AfL dan AaL dalam
keseimbangan baru dengan proporsi AaL yang paling besar dan pemerkayaan ide-ide AaL.
Penerapannya langsung dilakukan oleh guru atau dosen dalam bentuk aktivitas-aktivitas di
dalam dan di luar kelas-kelas mereka dan juga dilakukan oleh pemerintah-pemerintah
dalam bentuk pembuatan kebijakan-kebijakan evaluasi pendidikan. Penerapan ini tentu
memperkaya, terutama, ide-ide AaL yang relatif baru dan membutuhkan pematangan dan
penyempurnaan.
2007. Di Inggris, Harry Torrance (2007) meneliti pergeseran praktik evaluasi
pendidikan di program-program persiapan pendidikan vokasi, pelatihan kerja dan
pendidikan orang dewasa. Pergeseran itu berlangsung pada dataran empiris dari AoL
melewati AfL menuju AaL.
2009. Setelah meneliti penerapan AaL, AoL dan AfL oleh guru-guru di sekolah di
Amerika Serikat, MacMath, Wallace dan Chi (2009) menulis bahwa AaL meningkatkan
kemampuan siswa untuk mentransfer pengetahuan ke dalam tindakan guna menghasilkan
karya nyata. Namun, penerapan AaL di sini masih berorientasi pada produk, bukan pada
proses belajar, padahal AaL jelas berorientasi pada peningkatan proses belajar.
Di Selandia Baru, Hume dan Coll (2009) dan Mutch (2012) memperkaya khazanah
AaL. Praktik AaL dalam konteks pendidikan Selandia Baru menghasilkan kurikulum yang
berbasis pada pengalaman siswa (student-experienced curriculum) yang berbeda dengan
kurikulum Science in the New Zealand Curriculum (SiNZC). Perbedaan ini mendorong
Hume dan Coll untuk memberi saran agar para pengambil kebijakan konsisten dalam
merumuskan dan menerapkan kebijakan evaluasi pendidikan.
2010. Selanjutnya, penelitian Volante (2010) di dua sekolah dasar dan menengah di
Ontario, Kanada menunjukkan bahwa kebanyakan guru masih mengutamakan AoL
dibandingkan AfL dan AaL. Sebab, para pemimpin sekolah memiliki pemahaman yang
masih rendah tentang AfL dan AaL, sehingga kebijakannya belum berorientasi pada AfL
dan AaL. Akibatnya, guru-gurunya belum berorientasi pada AfL dan AaL dalam
melakukan evaluasi. Pada waktu itu, disusun pula panduan AfL dan AaL untuk sekolah-
sekolah kelas 112 di Ontario, Growing Success: Assessment, Evaluation and Reporting
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
31
in Ontario Schools (2010). Hasil penelitian Volante serupa dengan hasil penelitian
Saefurrohman (2015) di Indonesia yang memperlihatkan bahwa guru-guru bahasa Inggris
di sekolah menengah pertama masih mengutamakan AoL daripada AfL dan AaL.
Pemahaman yang rendah tentang AfL dan AaL mengindikasikan bahwa sosialisasi
AfL dan AaL perlu dimaksimalkan. Terutama, AaL sebagai gagasan yang relatif baru
barangkali belum dikenal oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan
dan, memang sebagaimana dikatakan Earl (2003) di atas bahwa AoL masih sangat
mendominasi evaluasi pendidikan. Maka, perlu dilakukan sosialisasi AaL, pelatihan dan
semacamnya di seluruh dunia agar semua pemangku kepentingan pendidikan lebih
memahami, teristimewa AaL, dan kemudian menerapkan AaL dengan proporsi yang paling
besar.
2011. Gibbons dan Kankkonen (2011) membuat instrumen-instrumen AaL dalam
bidang pendidikan olahraga. Menarik untuk mencermati swa-refleksi dan asesmen sejawat
yang dilakukan siswa dalam bidang olahraga.
2012. Sementara itu, Mutch (2012) mengatakan bahwa kebijakan pendidikan di
Selandia Baru memberi ruang pada tiga hal yang berkaitan dengan asesmen, yakni
peningkatan, akuntabilitas dan keberlanjutan. Istilah-istilahnya adalah assessment and
improvement (berkaitan dengan AfL), assessment and accountability (berkaitan dengan
AoL), dan assessment and sustainability (berkaitan dengan AaL). Mutch memandang AfL
bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar, sedangkan AoL untuk
mempertanggungjawabkan hasil belajar, dan AaL untuk menjaga kelangsungan belajar.
Lebih lanjut, Mutch menjelaskan bahwa terdapat enam prinsip dalam kebijakan
evaluasi pendidikan di Selandia Baru yang memfasilitasi penerapan tiga paradigma
evaluasi pendidikan. Pertama, siswa berada di pusat aktivitas belajar-mengajar. Kedua,
kurikulum mendukung evaluasi. Ketiga, mengembangkan kemampuan asesmen
(assessment capability) sangat krusial untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.
Keempat, sistem asesmen bersifat akuntabel. Kelima, bukti-bukti dari beragam sumber
menghasilkan respons yang lebih akurat. Keenam, asesmen yang efektif bergantung pada
interaksi dan relasi yang berkualitas. Lima prinsip ini, seturut Mutch, memungkinkan AaL,
AfL dan AoL diterapkan secara bersama-sama di Selandia Baru.
Hickey, Taasoobshirazi dan Cross (2012) meneliti penerapan AaL dalam program-
program pendidikan astronomi, biologi dan ekologi. Ini membuktikan bahwa AaL bisa
diterapkan dalam berbagai bidang ilmu.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
32
Clark (2012) menekankan self-regulated learning (SRL) sebagai bagian dari AfL dan
AaL. Dalam SRL, siswa mengatur dan mengelola aktivitas belajarnya sendiri. AaL identik
dengan SRL, dan SRL membutuhkan kemampuan metakognisi yang tinggi.
Fletcher dan Shaw (2012) meneliti bagaimana siswa-siswa kelas 2, 4 dan 6
memperlihatkan keterlibatan mereka dalam asesmen sebagai proses belajar, AaL. Dengan
AaL semacam itu, perilaku, emosi dan kognisi para siswa tersebut benar-benar terlibat
dalam aktivitas belajar.
2013. Berry (2013) menggagas konsep roda AaL (AaL wheel) untuk
memasyarakatkan AaL di kalangan pemangku kepentingan pendidikan. Pertama, istilah-
istilah dalam AaL diubah jadi lebih populer dan mudah dipahami untuk mengubah
pemahaman dan persepsi masyarakat tentang AaL. Kedua, persepsi dan harapan
masyarakat terhadap asesmen berubah. Ketiga, praktik-praktik asesmen pun berubah
menuju AaL. Tiga bagian lingkaran AaL ini menggelinding terus menuju peningkatan
aktivitas belajar dan mengajar.
2014. Lee dan Mak (2014) mengembangkan langkah-langkah AaL dalam pendidikan
bahasa.
Dann (2014) mencatat tiga hal penting dalam penerapan AaL, yakni memahami
umpan balik, memahami gap belajar (learning gap), dan mengeksplorasi kosa kata dalam
asesmen. Di sini, guru perlu mengurangi fokusnya pada umpan balik yang spesifik dan
bersifat mengatur, tetapi memaksimalkan fokusnya pada bagaimana siswa menafsirkan dan
memahami umpan balik yang siswa buat sendiri dan bagaimana para siswa mengerti kosa
kata-kosa kata dalam asesmen.
Wyatt-Smith, Klenowski dan Colbert (2014) mengedit buku tentang desain asesmen
pendidikan untuk mendukung aktivitas belajar yang berkualitas. AoL, AfL dan AaL
merupakan bagian penting dalam membuat desain asesmen pendidikan semacam itu.
2015. Hay, Tinning dan Engstrom (2015) menyebut AaL dengan istilah assessment
as pedagogy dan melaporkan hasil penelitian mereka dalam pendidikan olahraga bahwa
AaL membuahkan hasil belajar yang lebih baik. Syaratnya, AaL diposisikan sebagai
bagian penting dari kurikulum dan perencanaan pendidikan.
Pada 2015, Ricky Lam mempublikasikan hasil penelitian pustakanya tentang AaL
dalam kelas menulis (writing) dan menunjukkan tabel karakteristik AaL, AfL dan AoL.
Tabel ini serupa dengan tabel yang dibuat oleh Sin Wang Chong (2017), tetapi terdapat
beberapa perbedaan antara kedua ahli tersebut.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
33
Sudiyanto, Kartowagiran dan Muhyadi (2015) mengembangkan model AaL pada
pelajaran akuntansi di sekolah menengah kejuruan (SMK). Model ini memiliki enam
komponen, yaitu tujuan, tugas terstruktur, swa-asesmen, asesmen sejawat, pengamatan
terhadap aktivitas siswa, dan umpan balik. Model AaL berhasil meningkatkan kompetensi
akuntansi siswa.
2016. Laveault dan Allal (2016) juga sedikit mengupas AaL dan lebih banyak
membahas AfL, serta menyoroti regulasi dan peran guru dalam melakukan asesmen untuk
mendukung aktivitas belajar siswa. Selama guru tidak mengikuti regulasi-regulasinya yang
memfasilitasi AfL, AfL tidak akan terlaksana dengan baik. Jika AfL tidak terlaksana
dengan baik, proses belajar pun tidak akan meningkat secara signifikan dan, pada
gilirannya, hasil belajarnya juga tidak meningkat.
Almqvist, Vinge, Vakeva dan Zanden (2016) mengikuti Torrance (2007) dan
menunjukkan pergeseran evaluasi pendidikan ke arah AaL dalam pelajaran musik di
Norwegia dan Swedia.
DeLuca dkk. (2016) membuat instrumen literasi asesmen dengan mengacu pada
AoL, AfL dan AaL dalam menyusun item tujuan asesmen.
Fletcher (2016) meriset manfaat praktik AaL bagi siswa-siswa di Australia. Siswa-
siswa yang diidentifikasi bermotivasi dan berprestasi rendah berhasil meningkatkan
motivasi dan prestasi mereka dengan melakukan AaL.
Cheng dan Fox (2017) mengelaborasi penerapan asesmen, termasuk AoL, AfL dan
AaL, dalam pembelajaran bahasa.
2018. Wanner dan Palmer (2018) menulis bahwa swa-asesmen dan asesmen sejawat
perlu dirancang dan diterapkan dengan saksama agar menjadi alat esesmen formatif yang
efektif. Kemampuan mahasiswa untuk memberikan umpan balik kepada temannya dan
bimbingan dosen secara terus-menerus sangat dibutuhkan. Swa-asesmen dan asesmen
sejawat tidak mudah untuk dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, tetapi penting dan
diperlukan untuk pendidikan tinggi abad ke-21.
Li (2018) meneliti penerapan AaL, khususnya swa-asesmen, pada kuliah
penerjemahan. Hasil penelitian mengungkap bahwa akurasi swa-asesmen mahasiswa
berkorelasi positif dengan asesmen yang dilakukan dosennya, bahwa akurasi swa-asesmen
makin lama makin meningkat, bahwa swa-asesmen meningkatkan sikap positif mahasiswa
terhadap aktivitas belajar.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
34
2017. Sadeghi dan Rahmati (2017) memberikan bukti empiris bahwa penerapan
AaL, AfL dan AoL secara terpadu telah meningkatkan pembelajaran dan asesmen dalam
level teoretis dan praktis.
2019. Di Australia, Cumming, Kleij dan Adie (2019) menyatakan bahwa perubahan
kebijakan evaluasi pendidikan tentang AfL dan asesmen untuk pertanggungjawaban
(assessment for accountability) belum berhasil memperbaiki aktivitas mengajar dan
aktivitas belajar. Maka, harus ada satu kesatuan antara pembuatan kebijakan, praktik
mengajar, dan bukti penelitian. Cumming, Kleij dan Adie sedikit mengulas AaL.
2020. Sein, Rashid, Meka, Amiel dan Pluta (2020) dalam penelitian mereka
membuat panduan berbasis bukti empiris untuk mengimplementasikan AfL dan AaL dalam
sistem asesmen pengetahuan pra-klinis. Panduan ini membantu para mahasiswa belajar,
menyintesiskan, menguasai dan mengingat materi kuliah dalam jangka panjang, sehingga
mereka dapat menerapkan pengetahuan medis mereka ketika berpraktik sebagai paramedis.
Implementasi AfL dan AaL ini membutuhkan perubahan budaya asesmen pada seluruh
civitas akademika.
AaL, juga AfL dan AoL serta proporsinya kiranya akan terus berkembang di masa
mendatang. Lazimnya perkembangan ilmu, akan muncul ide-ide baru tentang tiga
paradigma evaluasi pendidikan. Bahkan, barangkali akan muncul pula paradigma evaluasi
atau asesmen pendidikan yang baru untuk mengatasi masalah-masalah pendidikan dan
memperbaiki kualitas pendidikan.
SIMPULAN
Paradigma evaluasi atau asesmen pendidikan di sini bertalian dengan aktivitas
belajar. AoL/EoL atau evaluasi sumatif bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar,
sementara AfL/EfL untuk memperbaiki aktivitas belajar mengajar, dan AaL/EaL untuk
mengembangkan SRL siswa. Ketiganya saling melengkapi dengan proporsi keseimbangan
yang berubah seiring dengan perkembangan zaman. Dalam keseimbangan tradisional,
proporsi AoL/EoL paling besar, sedangkan dalam keseimbangan baru, proporsi AaL/EfL
paling besar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mengajar dan
pendidikan secara keseluruhan.
Perkembangan tiga paradigma selama hampir dua dasawarna itu dibagi jadi dua:
awal dan lanjut. Perkembangan awalnya merupakan fase pembentukan ide AaL yang
secara bersamaan menunjukkan kejelasan perbedaan-perbedaan antara AoL/EoL, AfL/EfL
dan AaL/EaL. Pada fase awal ini, para ahli mengeksplorasi tiga paradigma itu secara
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
35
teoretis. Eksplorasi empiris berlangsung pada fase perkembangan lanjut yang memperkaya
ide-ide, terutama, AaL. Bukti-bukti ilmiah empiris menunjukkan kelebihan dan kelemahan
AfL dan AaL menuju fase perkembangan berikutnya di masa depan.
Penelitian pustaka ini tidak mencakup seluruh publikasi tentang tiga paradigma
evaluasi pendidikan level kelas itu. Penelitian ini membatasi diri hanya dengan
menggunakan perspektif AaL/EaL untuk memetakan perkembangan tiga paradigma
tersebut. Konsekuensinya, pustaka yang diteliti hanyalah literatur-literatur yang membahas
AaL/EaL beserta AoL/EoL dan AfL/EfL.
SARAN
Penelitian-penelitian berikutnya perlu menggunakan perspektif AoL/EoL dan
AfL/EfL untuk memetakan perkembangan tiga paradigma evaluasi pendidikan. Perlu juga
diteliti penerapan AaL/EaL dengan swa-asesmen, SRL dan metakognisi siswa atau
mahasiswa dalam seluruh mata pelajaran atau mata kuliah secara cermat untuk
mematangkan konsep dan model AaL/EaL mengingat paradigma ketiga ini masih relatif
baru.
DAFTAR PUSTAKA
---------. 2010. Growing Success: Assessment, Evaluation and Reporting in Ontario
Schools. http://www.edu.gov.on.ca/eng/policyfunding/GrowSuccess.pdf
Almqvist, C. F., Vinge, J., Vakeva, L., dan Zanden, O. 2016. Assessment as Learning in
Music Education: the Risk of Criteria Compliance Replacing Learning in the
Scandinavian Countries. Research Studies in Music Education Volume 39 Issue 1,
halaman 116.
Berry, R. 2013. The Assessment as Learning (AaL) Framework for Teaching and
Learning: The AaL Wheel. Assessment & Learning Issue 2, halaman 5170.
Berry. R. 2008. Assessment for Learning. Aberdeen: Hong Kong University Press.
Black, P. dan Wiliam, D. 1998. Assessment and Classroom Learning. Assessment in
Education Volume 5 Number 1, halaman 774.
Black, P. dan Wiliam, D. 2018. Classroom Assessment and Pedagogy. Assessment in
Education Volume 25 Issue 6, halaman 125.
C.G.A., 1970. The Research Gap. The Journal of Higher Education Volume 41 Issue 3,
halaman 228232.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
36
Cheng, L. dan Fox, J. 2017. Assessment in the Language Classroom: Teachers Supporting
Student Learning. London: Palgrave.
Chong, S. W. 2017. Three Paradigms of Classroom Assessment: Implications for Written
Feedback Research. Language Assessment Quarterly Volume 15 Issue 4, halaman
118.
Clark, I. 2012. Formative Assessment: Assessment is for Self-Regulated Learning.
Education Psychology Review 24, halaman 205249.
Cookson, . 2017. Assessment Terms Half a Century in the Making and Unmaking: from
Conceptual Ingenuity to Definitional Anarchy. Assessment & Evaluation in
Higher Education Volume 43 Issue 6, halaman 1-13.
Cookson, C. J. 2017. Assessment Terms Half a Century in the Making and Unmaking:
from Conceptual Ingenuity to Definitional Anarchy. Assessment & Evaluation in
Higher Education Volume 43 Issue 6, halaman 113.
Cumming, J. J., Kleij, F. M. V. D., dan Adie, L. 2019. Contesting educational assessment
policies in Australia. Journal of Education Policy Volume 34 Issue 6, halaman
122.
Dann, R. 2002. Promoting Assessment as Learning: Improving the Learning Process.
London: RoutledgeFalmer.
Dann, R. 2014. Assessment as Learning: Blurring the Boundaries of Assessment and
Learning for Theory, Policy and Practice. Assessment in Education: Principles,
Policy & Practice Volume 21 Issue 2, halaman 149166.
DeLuca, C., Valiquette, A., Coombs, A., LaPointe-McEwan, D., dan Luhanga, U. 2016.
“Teachers’ Approaches to Classroom Assessment: a Large-Scale Survey.
Assessment in Education: Principles, Policy & Practice Volume 25 Issue 4,
halaman 121.
Earl, L. 2003. Assessment as Learning: Using Classroom Assessment to Maximise Student
Learning. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
Earl, L. 2013. Assessment as Learning: Using Classroom Assessment to Maximise Student
Learning. Second Edition. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
Earl, L. dan Katz, S. 2006. Rethinking Classroom Assessment with Purpose in Mind:
Assessment for Learning, Assessment as Learning, Assessment of Learning.
Manitoba: Minister of Education, Citizenship and Youth.
Falchikov, N. 2005. Improving Assessment through Student Involvement: Practical
Solutions for Aiding Learning in Higher and Further Education. Oxon:
RoutledgeFalmer.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
37
Fletcher, A. dan Shaw, G. 2012. How does Student-Directed Assessment Affect
Learning? Using Assessment as a Learning Process. International Journal of
Multiple Research Approaches Volume 6 Issue 3, halaman 245263.
Fletcher, A. K. 2016. Exceeding Expectations: Scaffolding Agentic Engagement through
Assessment as Learning. Educational Research Volume 58 Issue 4, halaman
400419.
Gibbons, S. L. dan Kankkonen, B. 2011. Assessment as learning in physical education:
making assessment meaningful for secondary school students. Physical & Health
Education Journal. Winter.
Hattie, J. dan Jaeger, R.1998. Assessment and Classroom Learning: a Deductive
Approach. Assessment in Education Volume 5 Number 1, halaman 111122.
Hay, P., Tinning, R., dan Engstrom, C. 2015. Assessment as Pedagogy: a Consideration
of Pedagogical Work and the Preparation of Kinesiology Professionals. Physical
Education and Sport Pedagogy Volume 20 Issue 1, halaman 3144.
Hickey, D. T., Taasoobshirazi, G., dan Cross, D. 2012. Assessment as Learning:
Enhancing Discourse, Understanding, and Achievement in Innovative Science
Curricula. Journal of Research in Science Teaching Volume 49 Number 10,
halaman 12401270.
Hume, A. dan Coll, R. K. 2009. Assessment of Learning, for Learning, and as Learning:
New Zealand Case Studies. Assessment in Education: Principles, Policy &
Practice Volume 16 Number 3, halaman 269290.
Lam, R. 2015. Assessment as Learning: Examining a Cycle of Teaching, Learning, and
Assessment of Writing in the Portfolio-Based Classroom. Studies in Higher
Education Volume 41 Issue 11, halaman 118.
Laveault, D. dan Allal, L. (Eds.). 2016. Assessment for Learning: Meeting the Challenge of
Implementation. Cham: Springer.
Lee, I. dan Mak, P. 2014. Assessment as Learning in the Language Classroom.
Assessment & Learning Issue 3, halaman 6678.
Li, X. 2018. Self-Assessment as Assessment as Learning’ in Translator and Interpreter
Education: Validity and Washback. The Interpreter and Translator Trainer
Volume 12 Issue 1, halaman 120.
MacMath, S., Wallace, J. dan Chi, X. 2009. CurriculumIntegration: Opportunities to
Maximize Assessment as, of, and for Learning. McGill Journal of Education
Volume 44 Number 3, halaman 451465.
Mutch, C. 2012. Assessment for, of and as Learning: Developing a Sustainable
Assessment Culture in New Zealand Schools. Policy Futures in Education
Volume 10 Number 4, halaman 374385.
AoEJ: Academy of Education Journal
Volume 12 Nomor 1, Januari 2021
38
Rust, J. dan Golombok, S. 2009. Modern Psychometrics: the Science of Psychological
Assessment Third Edition. East Sussex: Routledge.
Sadeghi, K. dan Rahmati, T. 2017. Integrating Assessment as, for, and of Learning in a
Large-Scale Exam Preparation Course. Assessing Writing 34, halaman 5061.
Saefurrohman. 2015. Classroom Assessment Preference of Indonesian Junior High
School Teachers in English as Foreign Language Classes. Journal of Education
and Practice Volume 6 Number 36, halaman 104110.
Scriven, M. 1967. The Methodology of Evaluation dalam R.W. Tyler, R.W. Gagne dan
M. Scriven (Eds.), American Educational Research Association Monograph Series
on Curriculum Evaluation, Vol .1: Perspectives of Curriculum Evaluation. Rand
McNally, halaman 3983.
Sein, A. S., Rashid, H., Meka, J., Amiel, J., dan Pluta, W. 2020. Twelve Tips for
Embedding Assessment for and as Learning Practices in a Programmatic
Assessment System. Medical Teacher Volume 42 Issue 11, halaman 17.
Serafini, F. 2001. Three Paradigms of Assessment: Measurement, Procedure, and Inquiry.
The Reading Teacher. Volume 54 Number 4, halaman 384393.
Stiggins, R. J. 2002. Assessment Crisis: The Absence Of Assessment FOR Learning. Phi
Delta Kappan June 2002, halaman 758765.
Sudiyanto, Kartowagiran, B., dan Muhyadi. 2015. Pengembangan Model Assessment as
Learning Pembelajaran Akuntansi di SMK. Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan Volume 19 Nomor 2, halaman 189201.
Torrance, H. 2007. Assessment as Learning? How the Use of Explicit Learning
Objectives, Assessment Criteria and Feedback in Post-Secondary Education and
Training Can Come to Dominate Learning. Assessment in Education Volume 14
Number 3, halaman 281294.
Volante, L. 2010. Assessment of, for, and as Learning within Schools: Implications for
Transforming Classroom Practice. Action in Teacher Education Volume 31
Number 4, halaman 6675.
Wanner, T. dan Palmer, E. 2018. Formative Self-and Peer Assessment for Improved
Student Learning: the Crucial Factors of Design, Teacher Participation and
Feedback. Assessment & Evaluation in Higher Education Volume 43 Issue 7,
halaman 10321047.
Wyatt-Smith, C., Klenowski, V. dan Colbert, P. 2014. Designing Assessment for Quality
Learning Volume 1. Heidelberg: Springer.
Xiao, Y. dan Watson, M. 2017. Guidance on Conducting a Systematic Literature
Review. Journal of Planning Education and Research Volume 40 Issue 1,
halaman 120.