Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
434
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila
Dikalangan Mahasiswa di Indonesia
Heri Kurnia
a,1
, Hendri
b,2
, Saepudin Karta Sasmita
c,3
, Julia Dwi Ratnasari
d,4
, Fathur Ilham Hariyanto
e,5
a,b,c,d,e
Universitas Pamulang, Jl. Puspitek, Desa Buaran, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten
*
Corresponding Author:
dosen03087@unpam.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 30 Mei 2026
Direvisi: 29 Juni 2026
Disetujui: 18 Juli 2026
Tersedia Daring: 31 Juli 2026
Penelitian ini menganalisis pengaruh globalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila di
kalangan mahasiswa Indonesia. Globalisasi menghadirkan keterhubungan yang
semakin intens melalui teknologi informasi, mobilitas pengetahuan, media
sosial, budaya populer, serta pertukaran ekonomi dan pendidikan. Kondisi
tersebut memiliki konsekuensi ganda: memperluas wawasan dan kompetensi
global, tetapi sekaligus dapat memengaruhi identitas, solidaritas sosial, pola
konsumsi, dan cara mahasiswa memaknai nilai kebangsaan. Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei asosiatif. Responden
berjumlah 2.312 mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) dari Universitas Pamulang, Universitas Negeri Jakarta,
dan STKIP Arrahmaniyah Depok. Instrumen terdiri atas 15 butir variabel
globalisasi dan 15 butir variabel nilai-nilai Pancasila. Seluruh butir dinyatakan
valid dengan Corrected Item-Total Correlation 0,5420,821. Reliabilitas juga
sangat tinggi, dengan Cronbach’s Alpha 0,931 untuk globalisasi dan 0,947 untuk
nilai-nilai Pancasila. Analisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Pearson,
regresi linear sederhana, koefisien determinasi, uji t, dan uji F. Hasil
menunjukkan bahwa globalisasi berhubungan positif dan signifikan dengan
nilai-nilai Pancasila, dengan persamaan Y = 34,782 + 0,620X, r = 0,671, dan =
0,450. Artinya, variasi globalisasi dalam model menjelaskan 45,0% variasi nilai-
nilai Pancasila, sedangkan 55,0% dipengaruhi faktor lain. Uji t sebesar 43,47 dan
uji F sebesar 1.889,72, keduanya dengan p < 0,05, mendukung penerimaan
hipotesis alternatif. Temuan ini menegaskan bahwa globalisasi tidak otomatis
mengikis Pancasila; pengaruhnya dapat menjadi positif ketika mahasiswa
memiliki kemampuan seleksi informasi, berpikir kritis, literasi digital, dan
internalisasi nilai kebangsaan.
Kata Kunci:
Globalisasi
Nilai-Nilai Pancasila
Literasi Digital
Mahasiswa
ABSTRACT
Keywords:
Globalization
Pancasila Values
Digital Literacy
University Student
This study examines the influence of globalization on Pancasila values among
university students in Indonesia. Globalization has intensified interconnectedness
through information technology, knowledge mobility, social media, popular
culture, and economic and educational exchanges. These processes generate dual
consequences: they broaden students’ global knowledge and competencies, but
may also reshape identity, social solidarity, consumption patterns, and
interpretations of national values. The study employed a quantitative associative
survey design. The respondents were 2,312 students of Pancasila and Civic
Education (PPKn) from Pamulang University, Universitas Negeri Jakarta, and
STKIP Arrahmaniyah Depok. The instrument consisted of 15 items for
globalization and 15 items for Pancasila values. All items were valid, with
Corrected Item-Total Correlation values ranging from 0.542 to 0.821. Reliability
was very high, with Cronbach’s Alpha of 0.931 for globalization and 0.947 for
Pancasila values. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson
correlation, simple linear regression, coefficient of determination, t-test, and F-test.
The findings indicate a positive and significant relationship between globalization
and Pancasila values, expressed by Y = 34.782 + 0.620X, r = 0.671, and = 0.450.
Thus, globalization explains 45.0% of the variance in Pancasila values within the
model, while 55.0% is attributable to other factors. The t value of 43.47 and F value
of 1,889.72, both with p < .05, support the alternative hypothesis. The findings
suggest that globalization does not inevitably erode
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
435
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Pancasila; its influence can become constructive when students possess
information-filtering skills, critical thinking, digital literacy, and strong
internalization of national values.
©2026, Heri Kurnia, Hendri, Saepudin Karta Sasmita, Julia Dwi Ratnasari,
Fathur Ilham Hariyanto
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Globalisasi merupakan salah satu karakter utama perubahan sosial pada abad ke-21.
Perkembangan teknologi komunikasi, internet, transportasi, ekonomi digital, pendidikan lintas
negara, dan media sosial membuat pertukaran informasi serta gagasan berlangsung jauh lebih
cepat daripada sebelumnya. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa merupakan
kelompok yang sangat dekat dengan perubahan tersebut karena kegiatan akademik,
komunikasi sosial, pencarian informasi, hiburan, dan pembentukan jejaring profesional
semakin banyak berlangsung melalui ruang digital. Globalisasi karena itu tidak dapat dipahami
hanya sebagai masuknya budaya asing, tetapi sebagai proses perubahan struktur kesempatan,
pola interaksi, dan cara individu membentuk identitas serta orientasi sosial. Dalam konteks
Indonesia, perubahan global menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Akses terhadap
pengetahuan internasional dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas perspektif,
memperkuat kemampuan bahasa, dan mendorong kolaborasi lintas budaya. Pada saat yang
sama, arus informasi yang sangat terbuka memungkinkan nilai, gaya hidup, ideologi, dan
praktik sosial dari berbagai konteks masuk tanpa selalu melalui proses seleksi yang memadai.
Kajian Adha dan Susanto (2020) menegaskan bahwa nilai Pancasila memiliki fungsi penting
sebagai pengikat kepribadian masyarakat Indonesia dalam menghadapi perubahan kehidupan
pada era global. Temuan lain menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat beriringan
dengan meningkatnya individualisme dan berkurangnya interaksi sosial apabila tidak
diimbangi pendidikan nilai yang memadai (Anggraini et al., 2020; Lestari & Achdiani, 2024).
Mahasiswa memiliki posisi strategis karena bukan hanya penerima dampak globalisasi,
tetapi juga aktor yang memproduksi dan menyebarkan gagasan melalui organisasi, komunitas,
media sosial, dan aktivitas akademik. Mahasiswa PPKn secara khusus memiliki tanggung
jawab akademik dan sosial untuk memahami Pancasila, kewarganegaraan, demokrasi,
persatuan, serta etika kehidupan publik. Penelitian tentang peran mahasiswa pada era
globalisasi menunjukkan bahwa aktualisasi Pancasila perlu ditempatkan sebagai praktik,
bukan sekadar pengetahuan deklaratif (Anggreini et al., 2023). Dengan demikian, pengaruh
globalisasi terhadap Pancasila perlu diuji secara empiris agar pembahasan tidak terjebak pada
asumsi bahwa globalisasi selalu merusak nilai kebangsaan. Pancasila dalam penelitian ini
diposisikan sebagai sistem nilai yang menjadi pedoman moral dan sosial dalam kehidupan
berbangsa. Lima silaKetuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesiamemiliki
dimensi kognitif, afektif, dan perilaku. Implementasinya tampak dalam toleransi,
penghormatan terhadap martabat manusia, gotong royong, musyawarah, tanggung jawab
sosial, dan orientasi pada keadilan. Oleh sebab itu, penelitian mengenai globalisasi dan
Pancasila perlu mengukur bukan hanya pengetahuan mahasiswa, tetapi juga kecenderungan
penerapan nilai dalam kehidupan akademik dan sosial.
Literatur mutakhir menunjukkan bahwa relasi globalisasi, digitalisasi, dan nilai
kebangsaan bersifat kompleks. Savitri dan Dewi (2021) menunjukkan adanya persoalan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
436
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan pada era globalisasi, sedangkan Regiani dan
Dewi (2021) menyoroti gejala memudarnya nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Pada
sisi lain, penelitian tentang generasi muda dan budaya lokal menemukan bahwa globalisasi
dapat mengubah preferensi terhadap kesenian tradisional dan cara generasi muda memandang
warisan budaya (Siburian et al., 2021). Perubahan tersebut relevan bagi Pancasila karena
persatuan, gotong royong, penghormatan terhadap kebudayaan, dan kepedulian sosial tidak
berdiri terpisah dari praktik budaya. Ruang digital memperluas persoalan. Media sosial
memungkinkan mahasiswa terhubung dengan berbagai perspektif, tetapi juga mempercepat
penyebaran disinformasi, polarisasi, ujaran kebencian, dan identitas politik. Isdaryanto et al.
(2025) menempatkan Pancasila sebagai kerangka etis untuk memperkuat digital citizenship,
sementara Muhajir et al. (2025) menunjukkan pentingnya integrasi literasi digital dan
pendidikan Pancasila agar generasi Z memiliki kecakapan politik digital yang bertanggung
jawab. Dengan demikian, globalisasi dan digitalisasi tidak hanya mengubah apa yang
diketahui mahasiswa, tetapi juga bagaimana mereka memilih informasi, berkomunikasi,
berdebat, dan membangun solidaritas.
Permasalahan penelitian ini berangkat dari adanya kesenjangan antara dua kemungkinan.
Pertama, globalisasi dapat menjadi saluran penguatan nilai Pancasila apabila mahasiswa
menggunakannya untuk memperluas wawasan kemanusiaan, memperkuat kolaborasi,
meningkatkan akses pengetahuan, dan mempraktikkan demokrasi yang sehat. Kedua,
globalisasi dapat menghasilkan pergeseran nilai apabila keterbukaan informasi diterima secara
pasif sehingga individualisme, konsumerisme, intoleransi, atau budaya instan lebih dominan.
Penelitian ini tidak mengasumsikan sejak awal bahwa globalisasi berdampak negatif.
Sebaliknya, arah dan besarnya pengaruh diuji melalui data kuantitatif. Kesenjangan penelitian
juga terletak pada terbatasnya studi yang menguji hubungan kedua konstruk secara langsung
dengan jumlah responden yang besar pada mahasiswa PPKn dari lebih dari satu perguruan
tinggi. Banyak penelitian sebelumnya bersifat studi literatur atau deskriptif, sementara
penelitian ini menggunakan analisis regresi dan korelasi untuk memperkirakan besarnya
hubungan globalisasi dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, penelitian diarahkan untuk
menjawab pertanyaan: (1) bagaimana tingkat globalisasi yang dirasakan mahasiswa; (2)
bagaimana tingkat implementasi nilai-nilai Pancasila; dan (3) apakah globalisasi berpengaruh
secara positif dan signifikan terhadap nilai-nilai Pancasila?. Tujuan penelitian adalah
menganalisis pengaruh globalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila di kalangan mahasiswa PPKn.
Secara khusus, penelitian mendeskripsikan kondisi kedua variabel, menguji kualitas
instrumen, mengukur keeratan hubungan, menghitung kontribusi globalisasi terhadap nilai
Pancasila, serta menguji signifikansi model. Hasilnya diharapkan menjadi dasar penguatan
pendidikan Pancasila yang adaptif terhadap perkembangan global dan digital.
Globalisasi dipahami sebagai proses intensifikasi hubungan sosial lintas ruang sehingga
peristiwa di satu tempat dapat memengaruhi kehidupan di tempat lain. Dalam praktik
pendidikan tinggi, proses tersebut tampak pada internasionalisasi kurikulum, pertukaran
mahasiswa, penggunaan sumber belajar global, komunikasi lintas negara, serta penetrasi
budaya digital. Globalisasi karenanya tidak bersifat satu arah. Mahasiswa bukan sekadar
konsumen budaya global, tetapi dapat memilih, mengadaptasi, menggabungkan, bahkan
memproduksi bentuk budaya baru. Perspektif ini penting agar globalisasi tidak direduksi
menjadi ancaman budaya semata. Dalam konteks Indonesia, globalisasi juga dapat
menciptakan tekanan terhadap identitas lokal. Lestari dan Achdiani (2024) menunjukkan
bahwa globalisasi berkaitan dengan kecenderungan individualisme dalam masyarakat modern.
Siregar et al. (2024) menekankan bahwa arus informasi dan budaya asing dapat memengaruhi
identitas budaya lokal, meskipun pada saat yang sama globalisasi dapat membuka peluang
pengayaan budaya. Safitri (2025) menemukan bahwa mahasiswa tetap menunjukkan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
437
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
kesadaran nasional yang relatif kuat, tetapi menghadapi tantangan dari media digital dan
lemahnya penguatan karakter. Artinya, keberadaan pengaruh global tidak otomatis
menghasilkan hilangnya identitas nasional.
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pandangan hidup yang memberikan orientasi
etis bagi kehidupan bersama. Dalam kerangka pendidikan, Pancasila dapat berfungsi sebagai
sumber nilai yang membantu mahasiswa menilai informasi dan tindakan berdasarkan martabat
manusia, persatuan, musyawarah, serta keadilan. Adha dan Susanto (2020) menempatkan
Pancasila sebagai kekuatan pembentuk kepribadian bangsa, sedangkan Amalia dan Najicha
(2023) menekankan pentingnya implementasi nilai Pancasila dalam pembangunan karakter.
Nilai Pancasila dalam penelitian ini dipahami sebagai konstruk yang dapat diamati melalui
kecenderungan sikap dan perilaku. Sila pertama tercermin pada toleransi dan penghormatan
terhadap kehidupan beragama. Sila kedua tercermin pada penghormatan terhadap
kemanusiaan. Sila ketiga tercermin pada persatuan, gotong royong, dan kepedulian terhadap
identitas nasional. Sila keempat tercermin pada musyawarah, penghargaan terhadap perbedaan
pendapat, dan tanggung jawab demokratis. Sila kelima tercermin pada kepedulian terhadap
keadilan, kesetaraan kesempatan, dan tanggung jawab sosial.
Kajian mutakhir menunjukkan bahwa Pancasila semakin perlu dihubungkan dengan
kecakapan digital. Aisyah dan Najicha (2023) menempatkan Pancasila sebagai dasar etika
penggunaan teknologi. Rafif et al. (2025) juga menunjukkan pentingnya nilai Pancasila untuk
penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, sedangkan Putri et al. (2025) menekankan
bahwa Pancasila dapat menjadi paradigma etika komunikasi pada media sosial. Dalam
perspektif ini, literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi
kemampuan memahami konteks, memeriksa informasi, mempertimbangkan dampak sosial,
dan berkomunikasi secara beradab. Penelitian Habibah et al. (2024) memperlihatkan bahwa
pendidikan Pancasila tetap penting untuk membangun nasionalisme generasi muda pada era
digital. Saputri et al. (2022) menunjukkan bahwa pembelajaran daring dapat digunakan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap nilai Pancasila. Muhajir et al. (2025)
memperkuat argumen bahwa pendidikan Pancasila perlu menggunakan materi dan
pengalaman digital yang nyata agar lebih dekat dengan kehidupan generasi Z. Dengan
demikian, penguatan Pancasila tidak harus dilakukan dengan menutup diri dari pengaruh
global, melainkan melalui kemampuan mahasiswa mengolah pengaruh tersebut secara kritis.
State of the art penelitian dapat dirangkum dalam tiga kecenderungan. Pertama, studi
konseptual dan literatur banyak menyoroti potensi erosi nilai, individualisme, konsumerisme,
dan melemahnya identitas budaya. Kedua, studi pendidikan menekankan pentingnya
revitalisasi pembelajaran Pancasila dan penguatan karakter. Ketiga, studi digital citizenship
menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang penguatan maupun pelemahan nilai
tergantung kualitas literasi dan etika pengguna. Penelitian ini mengisi ruang di antara ketiga
kecenderungan tersebut dengan menguji hubungan globalisasi dan nilai Pancasila secara
kuantitatif pada 2.312 mahasiswa PPKn. Secara konseptual, penelitian mengasumsikan bahwa
semakin tinggi keterlibatan mahasiswa dalam arus globalisasi, semakin besar pula peluang
terjadinya perubahan pada nilai Pancasila. Arah perubahan tidak ditetapkan negatif karena
globalisasi mengandung unsur peluang dan tantangan. Hipotesis alternatif dirumuskan: Ha,
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara globalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila
di kalangan mahasiswa Indonesia. H0, tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
antara globalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila. Model penelitian: Globalisasi (X) Nilai-
Nilai Pancasila (Y). Hubungan tersebut diasumsikan dipengaruhi oleh konteks pendidikan,
literasi digital, pengalaman akademik, lingkungan sosial, dan kemampuan berpikir kritis.
Variabel-variabel tersebut tidak dimasukkan sebagai prediktor dalam regresi sederhana,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
438
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
sehingga kontribusi harus ditafsirkan sebagai kontribusi model X terhadap Y, bukan
sebagai penjelasan menyeluruh atas pembentukan nilai Pancasila.
2. Metode
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei asosiatif.
Pendekatan kuantitatif dipilih karena tujuan utama penelitian adalah mengukur hubungan dan
pengaruh antara variabel globalisasi (X) dan nilai-nilai Pancasila (Y) berdasarkan data
numerik. Analisis dilakukan melalui statistik deskriptif dan inferensial. Desain asosiatif
digunakan untuk menguji apakah perubahan pada variabel X berkaitan secara statistik dengan
perubahan pada variabel Y. Data penelitian berasal dari kuesioner yang diberikan kepada
mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Instrumen variabel X
terdiri atas 15 butir, sedangkan variabel Y terdiri atas 15 butir. Butir pernyataan dikembangkan
untuk menangkap pengalaman mahasiswa terhadap globalisasi, termasuk keterpaparan
informasi, teknologi, budaya, dan interaksi global, serta penghayatan dan implementasi nilai
Pancasila dalam kehidupan akademik dan sosial.
Penelitian dilaksanakan pada tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Pamulang di
Provinsi Banten, Universitas Negeri Jakarta di DKI Jakarta, dan STKIP Arrahmaniyah Depok
di Jawa Barat. Pemilihan tiga lokasi dimaksudkan untuk memperoleh variasi konteks
perguruan tinggi negeri dan swasta serta memperluas keragaman responden. Naskah sumber
menyebutkan rangkaian kegiatan penelitian meliputi persiapan instrumen, penetapan lokasi,
pengurusan izin, uji validitas, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan laporan, dan
publikasi.
Populasi substantif penelitian adalah mahasiswa PPKn di Indonesia, sedangkan responden
aktual berasal dari tiga perguruan tinggi yang menjadi lokasi penelitian. Teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling dengan pertimbangan bahwa responden merupakan
mahasiswa PPKn yang relevan dengan fokus penelitian. Jumlah responden aktual yang
dianalisis adalah 2.312 mahasiswa.
Tabel 1 Populasi Penelitian
Perguruan Tinggi
Responden
Persentase
Universitas Pamulang
1.147
49,61%
Universitas Negeri Jakarta
515
22,28%
STKIP Arrahmaniyah Depok
650
28,11%
Total
2.312
100%
Catatan metodologis: naskah sumber menyebut rumus Slovin sekaligus menetapkan 2.312
responden. Karena N yang ditampilkan juga 2.312, artikel ini menggunakan 2.312 sebagai
jumlah responden aktual yang berhasil dihimpun, bukan sebagai hasil perhitungan Slovin.
Dengan teknik purposive sampling, generalisasi hasil paling tepat diarahkan pada mahasiswa
PPKn dengan karakteristik yang sebanding, bukan seluruh mahasiswa Indonesia secara
probabilistik.
Tabel 2 Karakteristik Responden
Karakteristik
n
%
Jenis kelamin
972
42,04%
1.340
57,96%
Semester
394
17,04%
Semester
622
26,90%
Semester
701
30,32%
Semester
595
25,74%
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
439
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Komposisi responden menunjukkan dominasi mahasiswa perempuan sebesar 57,96%,
sedangkan laki-laki sebesar 42,04%. Distribusi semester mencakup semester 2, 4, 6, dan 8.
Responden semester 6 merupakan kelompok terbesar (30,32%), diikuti semester 8 (25,74%),
semester 4 (26,90%), dan semester 2 (17,04%). Keragaman tersebut memungkinkan penelitian
menangkap persepsi mahasiswa pada tahap pengalaman akademik yang berbeda.
Instrumen, Validitas, dan Reliabilitas
Instrumen menggunakan skala pernyataan yang kemudian dijumlahkan menjadi skor
variabel. Uji validitas dilakukan dengan Corrected Item-Total Correlation. Dengan jumlah
responden 2.312, naskah sumber menggunakan r tabel 0,041 pada α = 0,05. Seluruh butir
memiliki nilai korelasi 0,5420,821 sehingga dinyatakan valid. Reliabilitas diuji menggunakan
Cronbach’s Alpha. Variabel globalisasi memperoleh α = 0,931, sedangkan variabel nilai-nilai
Pancasila memperoleh α = 0,947. Kedua nilai jauh melampaui kriteria umum 0,70 dan
menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik.
Teknik Analisis Data
Analisis dilakukan secara bertahap. Pertama, statistik deskriptif digunakan untuk melihat
minimum, maksimum, mean, median, modus, dan standar deviasi. Kedua, data dikategorikan
untuk menggambarkan kecenderungan tingkat variabel. Ketiga, korelasi Pearson digunakan
untuk mengukur keeratan hubungan X dan Y. Keempat, regresi linear sederhana digunakan
untuk memperoleh persamaan pengaruh. Kelima, koefisien determinasi digunakan untuk
menghitung proporsi variasi Y yang dijelaskan oleh X. Keenam, uji t digunakan untuk menguji
signifikansi koefisien regresi, sedangkan uji F digunakan untuk menilai kelayakan model
regresi pada taraf signifikansi 0,05.
Interpretasi hasil diarahkan pada makna substantif, bukan hanya signifikansi statistik.
Karena jumlah responden sangat besar, nilai p yang kecil dapat muncul bahkan pada hubungan
yang secara praktis tidak terlalu kuat. Oleh karena itu, penelitian menggunakan r = 0,671 dan
R² = 0,450 sebagai informasi utama mengenai kekuatan dan kontribusi hubungan.
Gambar 1, Diagram Alur Penelitian
Alur penelitian dimulai dari identifikasi masalah dan perumusan hipotesis, kemudian
dilanjutkan dengan kajian teori serta penyusunan indikator variabel. Instrumen diuji untuk
memastikan validitas dan reliabilitas sebelum pengumpulan data. Tahap berikutnya adalah
penentuan lokasi dan responden, penyebaran kuesioner, pengolahan data menggunakan SPSS
27, pengujian korelasi dan regresi, serta interpretasi hasil. Alur tersebut menempatkan kualitas
instrumen dan ketepatan analisis sebagai tahapan penting sebelum penarikan kesimpulan.
Etika dan Keterbatasan Desain
Penelitian survei terhadap mahasiswa perlu memperhatikan kerahasiaan identitas
responden, penggunaan data untuk tujuan akademik, dan kesediaan responden memberikan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
440
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
jawaban. Artikel ini menggunakan data agregat sebagaimana terdapat pada naskah sumber
sehingga tidak menampilkan identitas individual. Keterbatasan desain terletak pada
penggunaan purposive sampling dan cakupan tiga perguruan tinggi. Oleh karena itu, hasil tidak
boleh ditafsirkan sebagai estimasi probabilistik seluruh mahasiswa Indonesia. Selain itu,
regresi sederhana hanya memasukkan satu prediktor sehingga faktor lain yang berpotensi
membentuk nilai Pancasila tidak diuji secara simultan. Keterbatasan lain adalah bahwa data
bersifat potong lintang. Hubungan positif yang ditemukan tidak dengan sendirinya
membuktikan hubungan sebab-akibat dalam pengertian eksperimental. Interpretasi 'pengaruh'
dalam artikel mengikuti kerangka analisis regresi yang digunakan dalam naskah sumber, tetapi
kesimpulan kausal perlu dipahami secara hati-hati. Studi lanjutan dapat menggunakan
longitudinal, multivariat, atau mixed methods untuk memperkuat penjelasan mekanisme.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian melibatkan 2.312 mahasiswa PPKn. Universitas Pamulang menyumbang 1.147
responden (49,61%), Universitas Negeri Jakarta 515 responden (22,28%), dan STKIP
Arrahmaniyah Depok 650 responden (28,11%). Komposisi tersebut memberikan variasi
konteks institusi, meskipun proporsinya tidak seimbang. Dominasi responden dari Universitas
Pamulang perlu diperhitungkan ketika menafsirkan hasil agregat karena karakteristik
mahasiswa pada institusi tersebut memiliki bobot terbesar dalam model.
Dari sisi jenis kelamin, terdapat 972 laki-laki dan 1.340 perempuan. Perbedaan tersebut
menunjukkan partisipasi perempuan lebih tinggi. Distribusi semester juga relatif tersebar.
Semester 2 berjumlah 394, semester 4 sebanyak 622, semester 6 sebanyak 701, dan semester 8
sebanyak 595 responden. Dengan demikian, data tidak hanya menggambarkan mahasiswa pada
tahap awal, tetapi juga mahasiswa yang telah memperoleh pengalaman akademik lebih
panjang.
Tabel 3 Statistik Deskriptif Variabel Globalisasi
Statistik
Nilai
N
2.312
Minimum
44
Maksimum
98
Mean
79,83
Median
80
Modus
81
Standar deviasi
8,46
Variabel globalisasi memiliki skor minimum 44 dan maksimum 98. Mean 79,83, median
80, dan modus 81 menunjukkan pemusatan data yang berdekatan. Standar deviasi 8,46
menunjukkan penyebaran skor yang relatif moderat. Berdasarkan kategorisasi, 612 responden
(26,47%) berada pada kategori sangat tinggi, 1.074 (46,45%) kategori tinggi, 472 (20,42%)
kategori sedang, dan 154 (6,66%) kategori rendah. Dengan demikian, 72,92% responden
berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa
yang menjadi responden mengalami paparan atau keterlibatan terhadap proses globalisasi pada
tingkat tinggi. Globalisasi dalam konteks penelitian tidak semata-mata berarti menerima
budaya asing, tetapi juga berkaitan dengan akses informasi, teknologi, komunikasi, dan
keterhubungan dengan lingkungan global. Kondisi tersebut menjadi konteks penting untuk
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
441
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
memahami mengapa hubungan dengan nilai Pancasila dapat bergerak ke arah positif maupun
negatif.
Tabel 4 Statistik Deskriptif Nilai-Nilai Pancasila
Statistik
Nilai
N
2.312
Minimum
48
Maksimum
100
Mean
84,27
Median
84
Modus
85
Standar deviasi
7,12
Variabel nilai-nilai Pancasila memiliki skor minimum 48 dan maksimum 100, dengan
mean 84,27, median 84, modus 85, dan standar deviasi 7,12. Kedekatan mean, median, dan
modus menunjukkan distribusi yang relatif seimbang. Kategorisasi memperlihatkan 798
responden (34,52%) berada pada kategori sangat baik, 1.143 (49,44%) kategori baik, 311
(13,45%) kategori cukup, dan 60 (2,59%) kategori kurang. Dengan demikian, 83,96%
responden berada pada kategori baik dan sangat baik.
Hasil tersebut penting karena menunjukkan bahwa tingginya paparan globalisasi tidak
beriringan dengan rendahnya nilai Pancasila pada kelompok responden. Sebaliknya, kedua
variabel sama-sama memiliki skor relatif tinggi. Hal ini membuka kemungkinan bahwa
mahasiswa memiliki kemampuan adaptasi: mereka dapat menerima unsur global yang
dianggap bermanfaat sambil mempertahankan nilai kebangsaan. Interpretasi tersebut konsisten
dengan pandangan globalisasi adaptif, yaitu proses seleksi dan negosiasi antara pengaruh luar
dan identitas lokal.
Tabel 5 Uji Validitas dan Reliabilitas
Pengujian
Variabel Globalisasi
Variabel Pancasila
Corrected Item-Total
Correlation
0,5420,821
0,5420,821
Cronbach’s Alpha
0,931
0,947
Keputusan
Valid & sangat reliabel
Valid & sangat reliabel
Seluruh item memenuhi kriteria validitas yang digunakan dalam naskah sumber. Nilai
Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal sangat tinggi.
Dengan kualitas instrumen tersebut, analisis inferensial dapat dilakukan dengan dasar
pengukuran yang memadai. Namun, reliabilitas tinggi tidak menggantikan kebutuhan untuk
memastikan validitas konstruk melalui pengembangan indikator yang lebih komprehensif pada
penelitian berikutnya.
Regresi Linear Sederhana
Analisis regresi menghasilkan persamaan Y = 34,782 + 0,620X. Konstanta 34,782
menunjukkan nilai prediksi Y ketika X dianggap nol. Koefisien 0,620 menunjukkan bahwa
setiap kenaikan satu satuan skor globalisasi berkaitan dengan kenaikan 0,620 satuan skor nilai-
nilai Pancasila dalam model. Arah koefisien yang positif merupakan temuan penting karena
bertentangan dengan asumsi sederhana bahwa globalisasi selalu menurunkan nilai kebangsaan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
442
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Tabel 6 Regresi Linear Sederhana
Komponen
Nilai
Konstanta (a)
34,782
Koefisien globalisasi (b)
0,620
Persamaan
Y = 34,782 + 0,620X
Pearson r
0,671
0,450
Adjusted R²
0,449
Koefisien Korelasi dan Determinasi
Koefisien korelasi Pearson sebesar 0,671 menunjukkan hubungan positif yang kuat
antara globalisasi dan nilai-nilai Pancasila. Hubungan positif berarti skor globalisasi yang lebih
tinggi cenderung diikuti skor nilai Pancasila yang lebih tinggi. Koefisien determinasi
sebesar 0,450 menunjukkan bahwa 45,0% variasi skor nilai-nilai Pancasila dalam model dapat
dijelaskan oleh variabel globalisasi. Sebanyak 55,0% sisanya berkaitan dengan faktor lain yang
tidak dimasukkan ke dalam model.
Besarnya R² memperlihatkan bahwa globalisasi merupakan faktor yang penting, tetapi
bukan satu-satunya penjelas pembentukan nilai Pancasila. Faktor lain yang mungkin relevan
meliputi pendidikan keluarga, kualitas pembelajaran Pancasila, iklim akademik, organisasi
mahasiswa, lingkungan pertemanan, literasi digital, pengalaman sosial, keteladanan dosen,
aktivitas pengabdian, serta kondisi sosial-politik. Karena faktor tersebut tidak diukur dalam
model, penelitian tidak dapat menentukan bobot masing-masing.
Tabel 7 Uji Hipotesis
Uji
Nilai hitung
Nilai
pembanding
Sig.
Keputusan
t
43,47
1,960
0,000
Ha diterima
F
1.889,72
3,84
0,000
Model signifikan
Nilai t hitung 43,47 lebih besar daripada t tabel 1,960 dan signifikansi 0,000 lebih kecil dari
0,05. Uji F juga menunjukkan model signifikan. Dengan demikian, hipotesis alternatif
diterima: terdapat pengaruh positif dan signifikan antara globalisasi dan nilai-nilai Pancasila
pada responden penelitian.
Pembahasan
Globalisasi sebagai Paparan yang Tidak Selalu Negatif
Temuan utama penelitian adalah arah hubungan yang positif. Hasil ini perlu dibaca
secara substantif. Globalisasi menyediakan akses terhadap pengetahuan, teknologi,
komunikasi, dan pengalaman lintas budaya. Mahasiswa yang memiliki keterlibatan tinggi
dalam lingkungan global dapat memperoleh lebih banyak kesempatan untuk membandingkan
nilai, memahami keberagaman, dan mengenali persoalan kemanusiaan yang melampaui batas
negara. Pengalaman tersebut berpotensi memperkuat sila kedua dan ketiga ketika disertai
kemampuan menempatkan identitas nasional dalam perspektif yang terbuka. Temuan ini
sejalan dengan penelitian Habibah et al. (2024) yang menegaskan relevansi pendidikan
Pancasila dalam membangun nasionalisme generasi muda di tengah digitalisasi. Muhajir et al.
(2025) juga menunjukkan bahwa pendidikan Pancasila yang terhubung dengan pengalaman
digital dapat memperkuat literasi politik dan tanggung jawab kewarganegaraan. Dengan kata
lain, tantangannya bukan menghindari globalisasi, tetapi memastikan mahasiswa memiliki
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
443
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
kapasitas untuk mengolahnya. Globalisasi juga dapat memperluas pemahaman tentang
kemanusiaan. Mahasiswa dapat terpapar isu perubahan iklim, ketimpangan, perdamaian,
kesetaraan, dan hak asasi manusia.
Apabila isu tersebut diterjemahkan melalui perspektif Pancasila, paparan global dapat
menjadi sumber pembelajaran nilai. Pada titik ini, Pancasila berfungsi bukan sebagai tembok
yang memisahkan mahasiswa dari dunia, melainkan sebagai kerangka evaluasi yang membantu
mahasiswa menentukan nilai apa yang relevan, apa yang perlu dikritisi, dan apa yang dapat
diadaptasi. Temuan positif tidak berarti bahwa dampak negatif globalisasi tidak ada. Literatur
menunjukkan bahwa individualisme, konsumerisme, dan perubahan preferensi budaya tetap
merupakan risiko. Lestari dan Achdiani (2024) menyoroti kecenderungan individualisme,
sementara Siregar et al. (2024) menunjukkan tekanan terhadap identitas budaya lokal.
Perbedaan antara temuan literatur tersebut dengan hasil kuantitatif penelitian ini dapat
dijelaskan oleh konteks responden yang merupakan mahasiswa PPKn, yaitu kelompok yang
secara akademik lebih dekat dengan pembelajaran Pancasila dan kewarganegaraan.
Nilai Pancasila Tetap Relatif Kuat di Kalangan Responden
Rata-rata nilai Pancasila sebesar 84,27 dan proporsi 83,96% pada kategori baik dan
sangat baik menunjukkan bahwa nilai Pancasila masih menjadi referensi yang kuat bagi
mahasiswa responden. Temuan ini memperlihatkan bahwa paparan budaya global tidak
otomatis menghapus identitas nasional. Sanusi et al. (2026) menemukan bahwa mahasiswa
memahami identitas nasional melalui nilai Pancasila, keberagaman, dan gotong royong,
meskipun mereka menghadapi tantangan berupa hegemoni budaya asing, individualisme, dan
krisis identitas digital. Pada sila pertama, globalisasi dapat memperluas interaksi antaragama
dan antarbudaya. Kondisi tersebut memberi peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan
toleransi, tetapi juga dapat menghadirkan konflik apabila ruang digital dipenuhi konten
provokatif. Pada sila kedua, akses terhadap isu kemanusiaan global dapat memperluas empati.
Pada sila ketiga, jejaring global dapat menjadi ruang kolaborasi, tetapi budaya konsumsi dan
popularitas global dapat menekan apresiasi terhadap budaya lokal. Sila keempat sangat relevan
dalam konteks media sosial.
Mahasiswa memperoleh ruang partisipasi politik yang lebih besar, tetapi kebebasan
berekspresi dapat berubah menjadi polarisasi apabila tidak diimbangi etika dialog. Isdaryanto
et al. (2025) menunjukkan bahwa digital media dapat memperluas partisipasi sekaligus
meningkatkan risiko polarisasi, misinformasi, dan fragmentasi ideologis. Karena itu,
musyawarah Pancasila pada era digital perlu diterjemahkan ke dalam kebiasaan memeriksa
fakta, menghormati perbedaan, dan mencari titik temu. Sila kelima juga mendapatkan konteks
baru dari globalisasi. Mahasiswa dapat membandingkan ketimpangan sosial, peluang ekonomi,
dan kebijakan publik antarnegara. Pengetahuan tersebut dapat memperkuat sikap kritis
terhadap keadilan sosial. Namun, penguatan sikap kritis perlu diarahkan pada pemecahan
masalah yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Dengan demikian,
pendidikan Pancasila harus menjembatani pengetahuan global dengan pengalaman lokal.
Mekanisme yang Menjelaskan Hubungan Positif
Ada setidaknya empat mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan positif antara
globalisasi dan nilai Pancasila pada penelitian ini. Pertama adalah mekanisme pembelajaran.
Akses global meningkatkan kesempatan mahasiswa menemukan pengetahuan dan pengalaman
yang dapat memperluas perspektif. Kedua adalah mekanisme komparatif. Mahasiswa dapat
membandingkan praktik sosial-politik di berbagai negara dan kemudian menilai kembali
relevansi Pancasila. Ketiga adalah mekanisme jejaring. Kolaborasi lintas budaya dapat
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
444
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
mengembangkan keterampilan kerja sama dan penghargaan terhadap perbedaan. Keempat
adalah mekanisme reflektif: semakin banyak paparan terhadap perbedaan, semakin besar
peluang mahasiswa menyadari pentingnya identitas dan nilai yang menjadi pijakan bersama.
Namun, mekanisme tersebut tidak berlangsung otomatis. Literasi digital menjadi faktor
penghubung penting. Rafif et al. (2025) dan Putri et al. (2025) menekankan pentingnya etika
digital berbasis Pancasila. Mahasiswa yang mampu mengevaluasi sumber, mengenali bias,
memahami konteks, dan mempertimbangkan konsekuensi sosial lebih mungkin mengubah
paparan global menjadi pengalaman belajar yang konstruktif.
Pendidikan tinggi juga menjadi mediator institusional yang penting. Perguruan tinggi
tidak cukup hanya memberikan mata kuliah Pancasila, tetapi perlu menciptakan budaya
akademik yang memungkinkan mahasiswa mempraktikkan nilai. Organisasi mahasiswa,
kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, diskusi lintas kelompok, proyek kolaboratif,
dan pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi ruang aktualisasi. Temuan Sanusi et al.
(2026) menunjukkan bahwa integrasi pendidikan karakter dengan kegiatan ekstrakurikuler,
organisasi mahasiswa, dan pengabdian masyarakat memberikan hasil yang positif. Dengan
demikian, hubungan positif yang ditemukan lebih tepat dibaca sebagai indikasi bahwa
globalisasi dapat menjadi konteks penguatan Pancasila ketika dimediasi oleh pendidikan,
literasi, dan lingkungan sosial. Globalisasi yang diterima tanpa refleksi dapat membawa risiko,
sedangkan globalisasi yang dikelola secara kritis dapat memperluas sumber pembelajaran nilai.
Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian memperluas studi yang sebelumnya banyak menempatkan globalisasi
sebagai ancaman terhadap nilai Pancasila. Regiani dan Dewi (2021) serta Savitri dan Dewi
(2021) menunjukkan gejala memudarnya implementasi Pancasila dalam kehidupan masyarakat.
Pramudita (2024) juga menyoroti potensi degradasi nasionalisme, individualisme, dan
konsumerisme akibat paparan budaya digital. Temuan penelitian ini tidak menyangkal risiko
tersebut, tetapi menunjukkan bahwa pada kelompok mahasiswa PPKn, globalisasi justru
memiliki hubungan positif dengan skor nilai Pancasila. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan
oleh karakteristik responden. Mahasiswa PPKn menerima pembelajaran yang lebih intensif
mengenai Pancasila, kewarganegaraan, demokrasi, dan identitas nasional. Selain itu,
pengukuran variabel globalisasi dalam penelitian ini menangkap bukan hanya pengaruh budaya
asing, tetapi juga aspek keterhubungan dan pemanfaatan perkembangan global. Jika globalisasi
diukur sebagai keterbukaan terhadap teknologi dan informasi, maka hubungan positif menjadi
lebih mudah dipahami karena mahasiswa yang aktif dalam ruang global juga dapat memiliki
akses lebih besar terhadap materi pendidikan Pancasila.
Penelitian Ikasari et al. (2025) memperlihatkan pola yang sejalan: media sosial sangat
intens digunakan mahasiswa, sementara sikap nasionalisme dan kepedulian sosial masih
tampak pada sebagian besar responden. Namun, implementasi Pancasila secara konsisten
belum optimal. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingginya paparan digital tidak cukup untuk
menjamin aktualisasi nilai. Oleh karena itu, hasil penelitian ini harus dipahami bersama fakta
bahwa 55% variasi nilai Pancasila berada di luar model. Dari sisi penelitian mutakhir,
Isdaryanto et al. (2025), Muhajir et al. (2025), dan Sanusi et al. (2026) sama-sama menekankan
relevansi pendidikan Pancasila, literasi digital, dan penguatan karakter. Studi-studi tersebut
memberi konteks bagi temuan kuantitatif penelitian ini: hubungan positif dapat dipelihara
apabila perguruan tinggi mampu menyediakan ekosistem pembelajaran yang menjadikan
Pancasila relevan dengan persoalan global dan digital.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
445
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Implikasi Praktis
Implikasi pertama adalah perlunya transformasi pembelajaran Pancasila dari pendekatan
hafalan menuju pembelajaran kontekstual. Kasus hoaks, ujaran kebencian, budaya konsumsi,
konflik identitas, perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan etika kecerdasan buatan dapat
digunakan sebagai bahan diskusi untuk menguji relevansi lima sila. Implikasi kedua adalah
penguatan literasi digital kritis. Mahasiswa perlu dilatih memverifikasi informasi, memahami
algoritma, membedakan opini dan fakta, serta menjaga etika komunikasi. Implikasi ketiga
adalah penguatan praktik kewarganegaraan. Nilai Pancasila akan lebih kuat ketika mahasiswa
mengalami kerja sama, musyawarah, pelayanan sosial, dan penyelesaian masalah nyata.
Implikasi keempat adalah pengembangan budaya kampus yang toleran dan inklusif.
Pencegahan intoleransi dan diskriminasi merupakan bentuk langsung aktualisasi sila kedua dan
ketiga.
Implikasi Teoretis dan Agenda Penelitian Lanjutan
Secara teoretis, penelitian ini memperkuat perspektif bahwa globalisasi dan nasionalisme
tidak selalu berada dalam hubungan antagonistik. Keterhubungan global dapat hidup
berdampingan dengan identitas nasional ketika individu memiliki mekanisme seleksi nilai.
Pancasila dapat berfungsi sebagai kerangka interpretasi yang memungkinkan mahasiswa
berinteraksi dengan nilai global tanpa kehilangan orientasi kebangsaan. Temuan r = 0,671
menunjukkan hubungan yang cukup kuat, tetapi R² = 0,450 mengingatkan bahwa pembentukan
nilai merupakan proses multidimensional. Agenda penelitian berikutnya dapat
mengembangkan model multivariat dengan memasukkan literasi digital, intensitas media
sosial, pendidikan keluarga, iklim kampus, pengalaman organisasi, pengalaman pengabdian
masyarakat, dan pemahaman Pancasila.
Model tersebut akan membantu menjelaskan mengapa sebagian mahasiswa mampu
mengubah globalisasi menjadi sumber penguatan nilai sementara mahasiswa lain mungkin
mengalami pergeseran nilai. Penelitian longitudinal juga diperlukan untuk melihat perubahan
nilai dari semester awal sampai akhir. Data potong lintang belum dapat menjawab apakah
pengalaman akademik menyebabkan peningkatan nilai Pancasila atau mahasiswa dengan nilai
tertentu memang lebih memilih program studi dan aktivitas tertentu. Pendekatan mixed
methods juga dapat melengkapi angka statistik dengan narasi pengalaman mahasiswa
mengenai bagaimana mereka menyaring budaya global dalam kehidupan sehari-hari.
Sintesis Pembahasan
Secara keseluruhan, penelitian menemukan tiga pesan utama. Pertama, globalisasi
merupakan realitas yang dirasakan kuat oleh mahasiswa; 72,92% responden berada pada
kategori tinggi dan sangat tinggi. Kedua, nilai Pancasila tetap berada pada tingkat baik; 83,96%
responden termasuk kategori baik dan sangat baik. Ketiga, terdapat hubungan positif yang kuat
dan signifikan antara keduanya, dengan kontribusi model 45%. Ketiga temuan tersebut
menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus memilih antara menjadi warga dunia dan menjadi
warga negara Indonesia. Tantangan pendidikan adalah membangun kemampuan untuk menjadi
keduanya secara bertanggung jawab. Dalam kerangka tersebut, Pancasila tidak diposisikan
sebagai penghalang globalisasi, melainkan sebagai kompas etis. Mahasiswa dapat menerima
pengetahuan global, berkolaborasi lintas negara, menggunakan teknologi, dan mengembangkan
kompetensi internasional, tetapi tetap menilai tindakan berdasarkan kemanusiaan, persatuan,
musyawarah, dan keadilan. Inilah makna globalisasi yang adaptif dan berkarakter. Temuan
juga menegaskan pentingnya Lembaga Pendidikan Tinggi sebagai ruang pembentukan
karakter. Program akademik perlu terhubung dengan kegiatan kemahasiswaan, pengabdian,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
446
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
literasi digital, dan praktik demokrasi. Penguatan Pancasila akan lebih efektif jika mahasiswa
mengalami nilai tersebut dalam keputusan dan interaksi nyata, bukan hanya mempelajarinya
sebagai materi ujian.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa globalisasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap nilai-nilai Pancasila pada mahasiswa PPKn yang menjadi responden. Penelitian
melibatkan 2.312 mahasiswa dari Universitas Pamulang, Universitas Negeri Jakarta, dan
STKIP Arrahmaniyah Depok. Tingkat globalisasi berada pada kategori tinggi, ditunjukkan
oleh mean 79,83 dan 72,92% responden pada kategori tinggi serta sangat tinggi. Sementara
itu, nilai-nilai Pancasila berada pada kategori baik, dengan mean 84,27 dan 83,96% responden
berada pada kategori baik serta sangat baik. Instrumen penelitian memiliki kualitas
pengukuran yang sangat baik. Seluruh butir valid dengan Corrected Item-Total Correlation
0,542–0,821. Cronbach’s Alpha mencapai 0,931 pada variabel globalisasi dan 0,947 pada
variabel nilai-nilai Pancasila. Hasil regresi menghasilkan persamaan Y = 34,782 + 0,620X.
Koefisien korelasi 0,671 menunjukkan hubungan kuat, sedangkan 0,450 menunjukkan
bahwa globalisasi menjelaskan 45,0% variasi nilai-nilai Pancasila dalam model. Uji t
menghasilkan 43,47 dengan signifikansi 0,000, sedangkan uji F menghasilkan 1.889,72
dengan signifikansi 0,000. Kedua pengujian mendukung penerimaan hipotesis alternatif.
Dengan demikian, globalisasi pada konteks penelitian ini tidak dapat dipandang semata-mata
sebagai ancaman.
Globalisasi dapat menjadi sumber penguatan nilai Pancasila apabila mahasiswa memiliki
literasi digital, kemampuan berpikir kritis, pengalaman sosial, dan lingkungan pendidikan
yang mendukung. Meskipun demikian, 55% variasi nilai Pancasila berada di luar model. Oleh
karena itu, penguatan nilai tidak dapat dibebankan kepada kemampuan mahasiswa mengelola
globalisasi saja. Perguruan tinggi perlu memperkuat pembelajaran Pancasila yang kontekstual,
literasi digital, kegiatan kemahasiswaan, pengabdian masyarakat, dan budaya kampus yang
toleran. Penelitian lanjutan perlu menggunakan sampel probabilistik, variabel yang lebih
beragam, dan desain longitudinal atau mixed methods untuk menguji mekanisme hubungan
secara lebih mendalam.
5. Ucapan Terima Kasih
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pamulang atas dukungan dan pendanaan serta
fasilitasi kegiatan Penelitian melalui No Kontrak: 0403/D5/SPKP/LPPM/UNPAM/X/2025,
sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pamulang,
Universitas Negeri Jakarta dan STKIP Arrahmaniyah Depok, serta seluruh responden yang
telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan penelitian.
6. Daftar Pustaka
Adha, M. M., & Susanto, E. (2020). Kekuatan nilai-nilai Pancasila dalam membangun
kepribadian masyarakat Indonesia. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan,
15(1), 121138. https://doi.org/10.37680/adabiya.v15i01.319
Agustinova, D. E., & Miskawi, M. (2025). Pancasila dan revolusi industri 4.0: Menjaga
relevansi nilai-nilai Pancasila di era digital. Jurnal Sangkala, 4(2), 7180.
https://doi.org/10.62734/js.v4i2.596
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
447
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Amalia, F., & Najicha, F. U. (2023). Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam membangun
karakter bangsa. Jurnal Global Citizen: Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan
Kewarganegaraan, 12(1), 16. https://doi.org/10.33061/jgz.v12i1.7416
Anggreini, M., Joshua, W., & Maharjan, K. (2023). The role of students in practicing
Pancasila values in the era of globalization. International Journal of Educational
Narratives, 1(5), 306312. https://doi.org/10.70177/ijen.v1i5.283
Anggraini, D., Fathari, F., Anggara, J. W., & Ardi Al Amin, M. D. (2020). Pengamalan nilai-
nilai Pancasila bagi generasi milenial. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik (JISoP),
2(1), 1118. https://doi.org/10.33474/jisop.v2i1.4945
Ardhani, M. D., Utaminingsih, I., Ardana, I., & Fitriono, R. A. (2022). Implementasi nilai-
nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Gema Keadilan, 9(2), 8192.
https://doi.org/10.14710/gk.2022.16167
Aryani, E. D., Fadjrin, N., Azzahro’, T. A., & Fitriono, R. A. (2022). Implementasi nilai-nilai
Pancasila dalam pendidikan karakter. Gema Keadilan, 9(3), 186198.
https://doi.org/10.14710/gk.2022.16430
Aisyah, F. N., & Najicha, F. U. (2023). Peran Pancasila di era digital dalam mewujudkan
penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan beretika. Indonesian Journal of
Economics, Management and Accounting, 2(1), 5965.
Habibah, S. M., Pratama, I. P. A. W., & Lusi, N. (2024). Implementation of Pancasila
education in raise the soul of nationalism in the millennial generation in the era of
digitalization. Jurnal Civicus, 24(1). https://doi.org/10.17509/civicus.v24i1.63538
Ikasari, A. C., Mulyanti, A. S., & Asri, Y. N. (2025). Media sosial dan internalisasi nilai
Pancasila dalam pembentukan karakter mahasiswa yang berjiwa nasionalis. Jurnal Riset
Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(1), 1118.
https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i1.4339
Isdaryanto, N., Saputro, I. H., & Lestari, E. Y. (2025). The relevance of Pancasila in the
digital age amid shifting political orientations among Indonesian youth. Unnes Political
Science Journal, 9(1). https://doi.org/10.15294/upsj.v9i1.33198
Khansa, N. M. (2022). Pengaruh globalisasi terhadap penggunaan bahasa Indonesia. JIBS:
Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 9(1). https://doi.org/10.21067/jibs.v9i1.6453
Lestari, R. N., & Achdiani, Y. (2024). Pengaruh globalisasi terhadap gaya hidup
individualisme masyarakat modern. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 14(2), 121
132. https://doi.org/10.17509/sosietas.v14i2.70149
Ma’ruf, A. M. M., & Rahmat, H. K. (2024). Nilai-nilai Pancasila di era globalisasi: Masih
relevankah? Civil and Military Cooperation Journal, 1(2).
Muhajir, M., Latief, A., & Tiara, M. (2025). Strengthening digital literacy and political culture
for gen-Z through Pancasila education learning in higher education. Jurnal Civics: Media
Kajian Kewarganegaraan, 22(2), 524534. https://doi.org/10.21831/jc.v22i2.89956
Nurohmah, W., & Dewi, D. A. (2022). Penerapan nilai-nilai Pancasila di era globalisasi.
Jurnal Kewarganegaraan, 6(1).
Pramudita, O. (2024). Dampak globalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme di
era digital. Antropocene: Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora, 4(1), 1924.
https://doi.org/10.56393/antropocene.v4i1.2440
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 434-448
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
448
Heri Kurnia et.al (Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila....)
Putri, B. A. M., Anindya, N. A., Hikmah, C. N. L. Z., Muchtar, P. F., & Sulistianingsih, D.
(2025). Pancasila as a paradigm in shaping communication ethics in the digital age.
Indonesia Media Law Review, 4(2). https://doi.org/10.15294/imrev.v4i2.36573
Rafif, R., Aulia, S., Iksan, I., Fatih, J., & Antoni, H. (2025). Peran Pancasila di era digital
dalam mewujudkan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan beretika.
Indonesian Journal of Economics, Management and Accounting, 2(1), 5965.
Regiani, E., & Dewi, D. A. (2021). Pudarnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
masyarakat di era globalisasi. Jurnal Kewarganegaraan, 5(1), 3038.
https://doi.org/10.31316/jk.v5i1.1402
Resmana, M. T., & Dewi, D. A. (2021). Pentingnya pendidikan Pancasila untuk
merealisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Jurnal Pendidikan
dan Kewirausahaan, 9(2), 473485. https://doi.org/10.47668/pkwu.v9i2.134
Saputri, R. M., Marzuki, M., & Suyato, S. (2022). Improving student understanding of
Pancasila values through online learning. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 15(1).
https://doi.org/10.21831/jpipfip.v15i1.42199
Safitri, M. I. (2025). Penguatan identitas nasional mahasiswa di tengah arus globalisasi dan
digitalisasi. Maliki Interdisciplinary Journal, 3(6), 22982308.
Sanusi, A. R., Abdulkarim, A., Darmawan, C., & Syaifullah, S. (2026). Indonesia’s national
identity: Students, character education, and national challenges. Jurnal Kependidikan:
Penelitian Inovasi Pembelajaran, 10(1), 3847. https://doi.org/10.21831/jk.v10i1.93070
Siburian, B. P., Nurhasanah, L., & Fitriana, J. A. (2021). Pengaruh globalisasi terhadap minat
generasi muda dalam melestarikan kesenian tradisional Indonesia. Jurnal Global Citizen,
10(2), 3139. https://doi.org/10.33061/jgz.v10i2.5616
Siregar, A., Yanti, D. D., Sipayung, D. V., Adani, M. I., Rianti, N. P., & Purnamasari, I.
(2024). Pengaruh globalisasi terhadap identitas budaya lokal. Jurnal Intelek Insan
Cendikia, 1(8), 41424151.
Savitri, A. S., & Dewi, D. A. (2021). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan di
era globalisasi. INVENTA: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5(2), 165176.
https://doi.org/10.36456/inventa.5.2.a3549
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and
mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.
Giddens, A. (2000). Runaway world: How globalization is reshaping our lives. Routledge.
Kaelan. (2016). Pendidikan Pancasila. Paradigma.
Latif, Y. (2018). Negara paripurna: Historisitas, rasionalitas, dan aktualitas Pancasila.
Gramedia Pustaka Utama.
Magnis-Suseno, F. (2017). Etika politik: Prinsip-prinsip moral dasar kenegaraan modern.
Gramedia Pustaka Utama.
Ritzer, G. (2011). Globalization: The essentials. Wiley-Blackwell.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.