1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat dan membawa perubahan yang
sangat signifikan di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pada pola
pengasuhan dan proses pendidikan anak usia dini (Rawanita & Mardhiah, 2024). Salah satu
teknologi yang mengalami pekembangan yang sangat pesat di era modern ini ialah gawai
(gadget), dimana penggunaan gawai ini tidak hanya memberikan kemudahan namun juga
dapat menimbulkan ketergantungan terhadap penggunanya. Jika sbelumnya gawai digunakan
orang dewasa, kini anak usia dini juga banyak yang menggunakan gawai (gadget) tersebut
(Nurliana Cipta Apsari, Lia Siti Nurfauziah, 2023). Pada anak usia dini berada di masa emas (
golden age) yang mana masih sangat penting bagi pertumbuhan, sehingga memerlukan
stimulasi yang sangat optimal (Aulia, 2023). Masa anak usia dini di masa emas ini sangat
penting dalam kehidupan anak karena hampir seluruh potensi yang dimiliki anak berada dalam
fase yang sangat peka (Puspitasari, 2019). Perkembangan anak berlangsung di berbagai aspek
diantaranya nilai agama dan moral, kognitif, fisik motoric, bahasa, sosial emosional serta
kognitif (Iqbal, 2026). Namun realitanya, masih terdapat berbagai permasalahan dalam
perkembangan sosial emosional anak, khususnya di lingkungan Kelompok Bermain, seperti
kesulitan bersosialisasi, perilaku egosentris, serta ketrampilan komunikasi yang belum
berkembang secara optimal.
Salah satu faktok yang mempengruhi kondisi tersebut yakni meningkatnya penggunaan
gawai pada anak usia dini. Berdasarkan penelitian (Radliya et al., 2017), mengemukakan
bahwasannya penggunaan gawai yang berlebihan dapat memberikan dampak negative pada
perkembangan sosial emosional pada anak usia dini, seperti menurunnya kemampuan
berinteraksi dan bersosialisasi, meningkatnya kecenderungan bermain sendiri, serta munculnya
perilaku individualis dan kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Kondisi ini menunjukkan
jika perkembangan teknologi tidak hanya memberikan manfaat namun juga membawa
konsekuensi yang perlu diantisipasi melalui upaya pendidikan dan pola pengasuhan yang
tepat. Menghadapi dampak tersebut, dibutuhkan strategi yang mampu meminimalkan
pengaruh negative di era digital sekaligus mengoptimalkan perkembanga sosial emosional
anak. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui sinergi yang kuat dari peran guru dan orang
tua. Orang tua memiliki peran penting sebagai pendidik pertama yang bertanggung jawab di
dalam membangun kebiasaan yang positif, memberikan stimulasi yang kreatif, serta yang
terpenting terlibat aktif dalam pembelajaran (Anisa, 2023).
Di sisi lain, guru juga berperan dalam memberikan pelajaran, bimbingan dan memantau
perkembangan mereka. Oleh karena itu, kolaborasi antara orang tua dan guru dalam
mengoptimalkan perkembangan sosial-emosional anak sangat penting. Kedua pihak perlu
menjalin komunikasi yang baik dan memiliki tujuan yang selaras agar proses pembelajaran
anak menjadi lebih terarah dan bermakna (Maulidian Muslihatun, 2025). Secara teoritis,
penelitian ini didasarkan pada teori perkembangan sosial emosional menurut Bowlby yang
mengemukakan tentang keterkaitan dan menekankan tentang pentingnya hubungan awal
dengan orang tua atau pengasuh sebagai landasan bagi pekembangan emosi yang sehat
(Herdiyana et al., 2023) .
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Strategi
Pembentukan Sosial Emosional Anak Melalui Sinergi Peran Guru Dan Orang Tua Di Era
Digital”. Dalam penelitian ini, peneliti memilih Lembaga SPS Anggur 02 di Desa Umbulsari,
Kecamatan Umbulsari Kab. Jember sebagai lokasi observasi dimana focus penelitian ini
adalah anak anak kelompok usia 4-5 Tahun. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan
pemahaman yang lebih kompherensif mengenai strategi yang dapat diterapkan oleh orang tua
dan guru dalam menghadapi tantangan diera digital, serta peran efektif mereka dalam