Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
361
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak Melalui
Sinergi Peran Orang Tua Dan Guru Di Era Digital
Dewi Fatimah
a,1
, Akhmad Iqbal
b,2
a,b
Universitas Islam Achmad Muzakki Syah Jember
1
yudiafthoni@gmail.com;
2
iqbal230395@gmail.com
*
Corresponding Author:
yudiafthoni@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Mei 2026
Direvisi: 7 Juni 2026
Disetujui: 26 Juni 2026
Tersedia Daring: 20 Juli 2026
Perkembangan teknologi digital meningkatkan penggunaan gadget
pada anak usia dini yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial
emosional pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
dampak penggunaan gadged serta strategi pembentukan sosial
emosional melalui sinergi peran guru dan orang tua di era digital.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan
metode studi kasus pada anak usia 4-5 tahun di SPS Anggur 2 Desa
Umbulsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Data
dikumpulkan melalui Observasi, wawancara, dan dokumentasi,
kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan
Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya penggunaan
gadget yang berlebihan menyebabkan anak kurang berinteraksi,
egosentris,, sulit bekerja sama, dan kurang mampu mengendalikan
emosi. Pembiasaan tanggung jawab, kesabaran, disiplin dan kerja
sama yang diterapkan oleh guru serta diperkuan oleh orang tua
melalui komunikasi WhatsApp terbukti dapat meningkatkan
perkembangan sosial emosional anak. Dengan demikian, kolaborasi
guru dan orang tua melalui komunikasi digital menjadi strategi yang
efektif dalam mengoptimalkan perkembangan sosial emosional anak
usia dini di era digital.
Kata Kunci:
Sosial
Emosional Anak
Peran Guru dan Orang Tua
Komunikasi Digital
ABSTRACT
Keywords:
Social
Emotional Development of Children
The Role of Teachers and Parents
Digital Communication
The rapid advancement of digital technology has significantly increased
gadget use among young children, raising concerns about its potential
impact on their social-emotional development. This study aims to
examine the effects of gadget use on early childhood social-emotional
development and to explore strategies for fostering these competencies
through the collaborative roles of teachers and parents in the digital
era. A descriptive qualitative approach with a case study design was
employed, involving children aged 45 years at SPS Anggur 2, Umbulsari
Village, Umbulsari District, Jember Regency, Indonesia. Data were
collected through observations, interviews, and documentation, and
analyzed using the interactive data analysis model developed by Miles,
Huberman, and Saldaña. The findings reveal that excessive gadget use
reduces children's social interaction, promotes egocentric behavior,
hinders their ability to cooperate with peers, and limits their capacity
for emotional regulation. Conversely, the consistent implementation of
responsibility, patience, discipline, and cooperation as daily habits by
teachers, reinforced through active parental involvement via WhatsApp
communication, contributed positively to children's social-emotional
development. These findings suggest that effective collaboration
between teachers and parents, supported by digital communication,
represents a promising strategy for optimizing early childhood social-
emotional development in the digital era.
©2026, Dewi Fatimah, Akhmad Iqbal
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 355-365
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
362
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional...)
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat dan membawa perubahan yang
sangat signifikan di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pada pola
pengasuhan dan proses pendidikan anak usia dini (Rawanita & Mardhiah, 2024). Salah satu
teknologi yang mengalami pekembangan yang sangat pesat di era modern ini ialah gawai
(gadget), dimana penggunaan gawai ini tidak hanya memberikan kemudahan namun juga
dapat menimbulkan ketergantungan terhadap penggunanya. Jika sbelumnya gawai digunakan
orang dewasa, kini anak usia dini juga banyak yang menggunakan gawai (gadget) tersebut
(Nurliana Cipta Apsari, Lia Siti Nurfauziah, 2023). Pada anak usia dini berada di masa emas (
golden age) yang mana masih sangat penting bagi pertumbuhan, sehingga memerlukan
stimulasi yang sangat optimal (Aulia, 2023). Masa anak usia dini di masa emas ini sangat
penting dalam kehidupan anak karena hampir seluruh potensi yang dimiliki anak berada dalam
fase yang sangat peka (Puspitasari, 2019). Perkembangan anak berlangsung di berbagai aspek
diantaranya nilai agama dan moral, kognitif, fisik motoric, bahasa, sosial emosional serta
kognitif (Iqbal, 2026). Namun realitanya, masih terdapat berbagai permasalahan dalam
perkembangan sosial emosional anak, khususnya di lingkungan Kelompok Bermain, seperti
kesulitan bersosialisasi, perilaku egosentris, serta ketrampilan komunikasi yang belum
berkembang secara optimal.
Salah satu faktok yang mempengruhi kondisi tersebut yakni meningkatnya penggunaan
gawai pada anak usia dini. Berdasarkan penelitian (Radliya et al., 2017), mengemukakan
bahwasannya penggunaan gawai yang berlebihan dapat memberikan dampak negative pada
perkembangan sosial emosional pada anak usia dini, seperti menurunnya kemampuan
berinteraksi dan bersosialisasi, meningkatnya kecenderungan bermain sendiri, serta munculnya
perilaku individualis dan kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Kondisi ini menunjukkan
jika perkembangan teknologi tidak hanya memberikan manfaat namun juga membawa
konsekuensi yang perlu diantisipasi melalui upaya pendidikan dan pola pengasuhan yang
tepat. Menghadapi dampak tersebut, dibutuhkan strategi yang mampu meminimalkan
pengaruh negative di era digital sekaligus mengoptimalkan perkembanga sosial emosional
anak. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui sinergi yang kuat dari peran guru dan orang
tua. Orang tua memiliki peran penting sebagai pendidik pertama yang bertanggung jawab di
dalam membangun kebiasaan yang positif, memberikan stimulasi yang kreatif, serta yang
terpenting terlibat aktif dalam pembelajaran (Anisa, 2023).
Di sisi lain, guru juga berperan dalam memberikan pelajaran, bimbingan dan memantau
perkembangan mereka. Oleh karena itu, kolaborasi antara orang tua dan guru dalam
mengoptimalkan perkembangan sosial-emosional anak sangat penting. Kedua pihak perlu
menjalin komunikasi yang baik dan memiliki tujuan yang selaras agar proses pembelajaran
anak menjadi lebih terarah dan bermakna (Maulidian Muslihatun, 2025). Secara teoritis,
penelitian ini didasarkan pada teori perkembangan sosial emosional menurut Bowlby yang
mengemukakan tentang keterkaitan dan menekankan tentang pentingnya hubungan awal
dengan orang tua atau pengasuh sebagai landasan bagi pekembangan emosi yang sehat
(Herdiyana et al., 2023) .
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Strategi
Pembentukan Sosial Emosional Anak Melalui Sinergi Peran Guru Dan Orang Tua Di Era
Digital”. Dalam penelitian ini, peneliti memilih Lembaga SPS Anggur 02 di Desa Umbulsari,
Kecamatan Umbulsari Kab. Jember sebagai lokasi observasi dimana focus penelitian ini
adalah anak anak kelompok usia 4-5 Tahun. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan
pemahaman yang lebih kompherensif mengenai strategi yang dapat diterapkan oleh orang tua
dan guru dalam menghadapi tantangan diera digital, serta peran efektif mereka dalam
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
363
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
mendidik anak agar mampu beradaptasi dan siap menghadapi dinamika dunia yang semak
terintegrasi secara digital.
2. Metode
Menurut Sugiono, penelitian kualitatif yakni metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat postpositivisme. Metode ini digunakan guna mengkaji objek dalam kondisi yang alami
(Mufarochah Siti, 2023). Pelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan
menggunakan studi kasus untuk memahami secara mendalam tentang fenomena
ketergantungan gadget dan pengaruh yang terjadi pada perilaku sosial anak. Pendekatan ini
dipilih karena mampu mengungkap makna subjektif dari pengalaman individu di dalam
kehidupan sehadi-hari. Subjek yang di teliti yakni anak usia 4-5 tahun di Lembaga SPS
Anggur 02 Umbulsari Kec. Umbulsari Kab. Jember yang mana menunjukkan tanda-tanda
kecanduan gadget. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive agar peneliti dapat melakukan
observasi mendalam terhadap pola perilaku, respons emosional, serta dinamika keluarga yang
memengaruhi penggunaan gadget secara berlebihan (Maulidian Muslihatun, 2025).
Penelitian ini mengamati beberapa aspek perkembangan anak seperti emosional dan
regulasi diri, kemampuan kognitif fan belajar, interaksi sosial, serta pola kehidupan sehat.
Dimana observasi awal melalui wawancara dengan orang tua dan guru yang menunjukkan
beberapa anak mengalami tantrum dan mudah marah ketika mainannya diambil oleh
temannya, hal menandakan kesulitan dalam mengedalikan omosi. Pengumpulan data ini
dilakukan melalui observasi langsung terhadap perilaku anak serta wawancara tidak terstruktur
dengan orang tua untuk memahami pengalaman pendampingan dan perubahan perilaku pada
anak. Penelitian ini berlangsung selama dua bulan dengan dukungan instrument berupa catatan
lapangan, pertanyaan wawancara terbuka, serta dokumentasi. Hal ini sesuai dengan yang
dipaparkan oleh Moleong yang mengatakan bahwa pendekatan ini digunakan untuk
menafsirkan fenomena sosial dengan mengutamakan konteks alami dari partisipan (Yulianto
& Musda, 2025).
Analisis data yang dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penajian data,
dan penarikan kesimpulan sesuai model Miles, Hubeman dan Saldana (Ardhiani, 2023). Untuk
menjaga validitas, penelitian menerapkan triangulasi sumber dan waktu serta pencatatan
reflektif secara berkala agar temuan yang dihasilkan tetap akurat dan dapat dipertanggung
jawabkan secara akademik maupun metodologis.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
A. Dampak Penggunaan Gadged terhadap Sosil Emosional Anak Di SPS Anggur 2 Desa
Umbulsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember
Dampak dari penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial emosional anak era
digital di SPS Anggur 02 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari Kab. Jember. Dari hasil
wawancara menunjukkan bahwasannya pada setiap informan memberikan pandangan yang
beragam dan saling berkaitan mengenai penggunaan gadget beserta dampaknya. Dimana orang
tua menyadari akan manfaat dari gadget, akan tetapi juga mengalami kesulitan dalam
mengontrol penggunaannya. Guru mengamati secara langsung dampak negative dari
penggunaan gadget terhadap perilaku sosial anak ketika di kelas, seperti menurunnya interaksi
sosial dan kerja sama. Berikut hasil wawancara dengan informan yang terdiri dari orang tua
dan guru di SPS Anggur 02 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari, sebagai berikut:
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
364
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
Table 1. Pandangan Informan Terhadap Penggunaan Gadged Dan Dampaknya Pada
Sosisal Emosional Anak
Informan
Pandangan Tentang Penggunaan
Gadget
Dampak pada sosial
emosional anak
Orang Tua
Gadget digunakan untuk hiburan
dan membantu anak untuk belajar,
akan tetapi sulit untuk membatasi
penggunaannya.
Anak menjadi mudah marah
(tantrum), dan cenderung
bergantung pada gadget.
Guru
Penggunaan gadget secara
berlebihan akan mempengaruhi
perilaku anak ketika di kelas.
Anak kurang berinteraksi
dengan teman, kurang
focus, sulit bekerja sama,
dan kurang responsive
terhadap lingkungan sosial
di sekitarmya.
Dari hasil wawancara dan observasi, perkembangan sosial emosional anak dapat dilihat
melalui indicator seperti: 1). Anak mampu berinteraksi dan bekerja sama dengan teman sebaya
nya 2). Anak mulai menunjukkan sikap tangguang jawab 3). Anak dapat mengendalikan
emosinya 4). Anak menunjukkan sikap sabar, mandiri, dan disiplin dalam kegiatan sehari-hari
5). Anak mulai responsive terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Dari indicator tersebut
menunjukkan bahwasannya pembentukan sosial emosional anak tidak hanya dipengaruhi oleh
lingkungan sekolah, melainkan juga pengasuhan dan penggunaan media digital di lingkungan
keluarga.
Di sisi lain, era digital saat ini anak menghadapi tantangan sosial emosiona dari
penggunaan gadget secera berlebihan. Yang diantaranya yakni seperti anak kurang
berinteraksi sosial, egois, ketergantungan gadget, dan kurang mampu bekerja sama dengan
teman sebayanya. Dari hasil observasi menunjukkan bahwasannya perkembangan sosial
emosional pada anak mengalami perubahan akibat dipengaruhi oleh penggunaan gadget yang
berlebihan menyebabkan anak cenderung kurang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,
egosentris dan mudah marah.
B. Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak Melalui Sinergi Guru dan Orang Tua di
SPS Anggur 2 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember
Strategi Pembentukan Sosial Emosional anak melalui sinergi antara peran guru dan orang
tua di SPS Anggur 2 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari Kab. Jember, yakni
perkembangan sosial emosional anak mulai menunjukkan perubahan yang positif melalui
dengan pembiasaan tanggung jawab dan kesabaran yang dilakukan guru ketika di sekolah dan
penguatan dari orang tua ketika di rumah melalui media digital berupa video WhatsApp.
Kegiatan yang dilakukan secara berulang dan konsisten anak membantu anak menjadi lebih
mandiri, disiplin, sabar serta mampu mengontrol emosinya dalam kegiatan sehari-hari. Berikut
Tabel hasil Observasi Terhadap Pembiasaan Tanggung Jawab dan Kesabaran Berbasis
Kolaborasi Digita.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
365
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
Tabel 2. Hasil Observai terhadap Pembiasaan Tanggung Jawab dan Kesabaran
Berbasis Kolaborasi Digital
Dampak yang Teramati
Anak mulai memahami
tanggung jawab, menjadi
lebih mandiri, bekerja
sama dan terbiasa
menjaga kerapian,
Terjadi penguatan
perilaku tanggung jawab
secara konsisten di
lingkungan rumah.
Anak belajar sabar, focus,
teliti dan mampu
menyelesaikan kegiatan
secara bertahap.
Anak menunjukkan sikap
mandiri, sabar, dan
kemampuan
mengendalikan emosinya
ketika mengalami
kesulitan.
Berdasarkan hasil observasi, guru secara aktif menanamkan nilai tanggung jawab melalui
kegiatan sederhana, seperti membiasakan anak membereskan balok setelah selesai bermain.
Pada tahap awal, sebagian anak masih memerlukan arahan dan diingatkan oleh guru, namun
dengan seiringnya pembiasaan yang dilakukan secara berulang, anak-anak mulai menunjukkan
kesadaran untuk tanggung jawab atas kegiatan yang telah dilakukan tanpa harus selalu
diperintah. Perilaku ini semakin terlihat melalui adanya timbal balik dari orang tua yang
mengirimkan video tentang aktifitas anak ketika dirumah. Video tersebut memperlihatkan
bahwasannya anak mulai mampu menerapkan kebiasaan membereskan mainan secara mandiri,
sehingga menunjukkan akan adanya kesinambungan antara pembelajaran disekolah dan
lingkungan keluarga dalam membentuk karakter tanggung jawab pada anak.
Selain itu, guru juga mengajak anak bermain menyusun tutup botol bekas sesuai dengan
pola gambar yag telah disediakan sebagai dari bentuk salah satu strategi dalam melatih
kesabaran anak. Dalam kegiatan tersebut, anak dituntut untuk lebih focus, teliti dan menyusun
tutup botol secara perlahan sesuai dengan pola yang ada. Pada tahap awal penelitian, terdapat
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
366
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
beberapa anak yang mudah bosan dan ingin cepat selesai, namun memalui bimbingan guru,
anak-anak mulai mampu mengendalikan diri dan menyelesaikan kegiatan dengan sabar.
Adapun strategi guru dalam pembentukan sosia emosional anak yakni: membiasakan anak
bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, memberikan stimulasi melalui permainan
edukatif dalam membentuk kerja sama dan kesabaran, memberikan penguatan positif kepada
anak, menjalin komunikasi intersif dengan orang tua melalui media digital, serta melakukan
evaluasi perkembangan sosial emosional anak secara berahap. Penguatan dari orang tua juga
terlihat melalui video timbal balik yang berupa aktifitas anak saat melepas kancing bajunya
sendiri tanpa bantuan orang tua. Aktivitas ini memperlihatkan bahwasannya anak mulai
mampu melakukan kegiatan secara mandiri dan menunjukkan kesabaran ketika mengalami
kesulitan. Selain melatih motoric halus pada anak, kegiatan tersebut juga membantu anak
dalam belajar mengotrol emosinya dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak.
Secara keseluruhan, hasil dari observasi ini menunjukkan bahwasannya kolaborasi antara
guru dan orang tua yang difasilitasi oleh media digital memberikan dampak yang positif pada
perkembangan sosial emosional anak, terutama dalam aspek tanggung jawab dan kesabaran.
Pembiasaan yang dilakukan secara bertahap ini dapat membentuk karakter anak lebih mandiri,
disiplin, serta mampu mengontrol emosi dalam situasi apapun dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil dokumentasi dalam penelitian ini diperoleh dari catatan harian, laporan evaluasi guru,
serta dokumentasi berupa foto dan video yang dikumpulkan selama proses penelitian
berlangsung. Dokumentasi tersebut digunakan utuk memperkuat data hasil observasi dan
wawancara mengenai perkembangan sosial emosional anak melalui pembiasaan tanggung
jawab dan kesabaran di SPS Anguur 02 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari.
Table 3. Bukti dokumentasi penerapan Pembiasaan Tanggung Jawab dan Kesabaran Anak
Dokumen
Dampak terhadap
perkembangan anak
Catatan kegiatan harian
Meningkatkan
kedisiplinan.
Bertanggung jawab,
kemandirian dan
konsistensi perilaku anak
dalam kegiatan sehari-
hari.
Laporan evaluasi guru
Terlihat peningkatan
kesabaran, focus,
kemampuan bekerja sama
serta kemampuan anak
dalam menyelesaikan
tugas secara mandiri
Video dari orang tua
Memperkuat pembiasaan
yang positif di rumah
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
367
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
serta menunjukkan
adanya kesinambungan
antara pembelajaran di
sekolah dan di
lingkungan keluarga.
Dokumentasi berupa foto
kegiatan
Menunjukkan antusisme,
aktif, mandiri serta
perkembangan
kemampuan sosial
emosional anak selama
kegiatan berlangsung.
Dokumentasi berupa
komunikasi digital
Memperkuat kolaborasi
antara guru dengan orang
tua dalam memantau
serta mendukung
pekembangan siosial
emosional anak secara
berkelanjutan.
SOP Komunikasi Guru dengan Orang Tua melalui WhasApp meliputi:
1) Guru memberikan informasi mengenai kegiatan pembelajaran dan pembaiasaan anak
secara bertahap
2) Orang tua mengirimkan dokumentasi kegiatan anak dirumah berupa video
3) Guru memberikan evaluasi terhadap perkembangan anak secara sopan
4) Komunikasi dilakukan di jam yang disepakati
5) Dokumentasi komunikasi digunakan untuk bahan evaluasi perkembangan sosial
emosiaonal anak secara berkelanjutan.
Foto dokumentasi pembiasaan tanggung jawab dan kesabaran di SPS Anggur 02 Di Desa
Umbulsari Kecamatan Umbulsari
Gambar 1. Anak-anak menyusun tutup botol sesuai pola gambar yang telah
disediakan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
368
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
Gambar 2. Sreanshoot grup wali murid SPS Anggur 02
Berdasarkan bukti dokumentasi, menunjukkan bahwasannya kegiatan pembiasaan
tanggung jawab dan kesabaran anak pada aspek sosial emosional di SPS Anggur 02 Desa
Umbulsari Kecamatan Umbulsari telah diterapkan secara teratur dan berkelanjutan. Dalam
catatan kegiatan dan laporan evaluasi menunjukkan adanya perkembangan pada anak dalam
aspek tanggung jawab, kesabaran, kemandirian dan kemampuan bekerja sama dengan teman
sebayanya selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dokumentasi kegiatan ini
memperlihatkan bahwasannya guru secara aktif membimbing anak melalui kegiatan
sederhana, seperti membereskan balok setelah bermain dan menyusun tutup botol sesuai
dengan pola gambar yang telah disediakan. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin, sehingga
membantu anak belajar disiplin, focus dan mampu menyelesaikan tugas secara bertahap. Di
awal kegiatan, terdapat beberapa anak yang masih membutuhkan arahan dari guru, namun
setelah dilakukan pembiasaan secara berulang anak mulai mampu melaksanakan kegiatan
secara mandiri tanpa harus selalu diingatkan.
Pada laporan evaluasi guru menunjukkan bahwasannya perkembangan sosial emosional
anak mengalami peningkatan selama penerapan pembiasaan dilaksanakan. Dimana anak mulai
menunjukkan sikap lebih sabar ketika sedang menghadapi kesulitan, lebih focus dalam
menyelesaikan tugas dan mampu berinteraksi serta bekerja sama dengan teman ketika
melaksanakan kegiatan kelompok. Selain itu, anak juga terlihat lebih percaya diri dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Dokumentasi video yang dikirimkan oleh orang tua
melalui aplikasi WhatsApp memperlihatkan bahwa pembiasaan yang dilakukan ketika di
sekolah dapat diterapkan juga ketika di rumah. Anak terlihat mulai terbiasa membereskan
mainan sendiri, melepas kancing baju tanpa bantuan, dan mampu mengontrol emosinya ketika
mengalami kesulitan. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara pembelajaran di
sekolah dan penguatan karakter ketika di lingkungan keluarga.
Dokumentasi foto kegiatan juga menunjukkan terlihat aktif anak dan antusias selama
peroses berlangsung. Anak terlihat senang ketika bermain dan belajar bersama dengan teman
nya. Interaksi sosial yang terjalin selama kegiatan membantu anak belajar bekerja sama,
berbagi, dan menghargai teman sebayanya. Selain itu, kegiatan tersebut juga membantu
meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian anak di lingkungannya sehari-hari. Pola yang
tercatat di dalam bukti dokumentasi ini terjadi dikarenakan adanya sinergi yang baik antra
guru dan orang tua melalui media digital WhatsApp. Guru tidak hanya memberikan
pembiasaan di sekolah, namun juga di lakukan komunikasi dan evaluasi secara berkala
bersama dengan orang tua terkait perkembangan anak ketika dirumah. Pencatatan kegiatan,
laporan evaluasi, dokumentasi foto, dan video membantu memastikan bahwasannya anak
terlibat aktif ddalam kegiatan pembiasaan tanggung jawab dan kesabaran secara konsisten.
Oleh sebab itu, pembiasaan tanggung jawab dan kesabaran yang dilakukan secara
testruktur dan di dukung oleh adanya kerjasama antara guru dan orang tua dapat memberikan
dampak yang positif terhadap perkembangan sosial emosional anak. Anak menjadi lebih
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
369
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
mandiri, disiplin, sabar, mampu bekerja sama dan dapat mengontrol emosinya lebih baik di
dalam kehidupan sehari-hari di era digital.
Pembahasan
A. Dampak Penggunaan Gadged terhadap Sosil Emosional Anak
Perkembangan sosial emosional anak usia dini merupakan aspek terpenting dalam
pembentukan karakter anak sejak dini. Di era digital ini, penggunaan gadget berlebih dapat
berpengaruh terhadap sosial anak, seperti halnya kurang interaksi dengan teman, mudah
tantrum, kurang sabar, dan sulit untuk bekerja sama dengan teman. Berdasarkan hasil
penelitian di SPS Anggur 02 Desa Umbulsari Kecamatan Umbulsari, peneliti mengamati
bahwa pembentukan karakter sosial emosional anak dilakukan melalui pembiasaan yang
diterapkan secara konsisten oleh guru dan orang tua.
Hal ini sejalan dengan jurnal penelitian yang yang terdahulu dimana (Situmorang et al.,
2021) yang berjudul “Edukasi Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Sosial, Emosional
Pada Anak Usia Dini” mengungkapkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan akan
berakibat anak kurang berinteraksi dengan orang tua, teman sebaya, dan juga lingkungan
sekitarnya. Kemudian (Irwani et al., n.d.) dalam jurnal “Perkembangan Sosial Emosional Anak
Usia Dini Dalam Penggunaan Gadget” mengungkapkan bahwa penggunaan gadget secara
berlebihan menyebabkan anak menjadi candu sehingga interaksi dengan orang tua, teman
sebaya dan lingkungan sekitar menjadi berkurang. Lalu (Hardiansyah, 2024) dalam jurnal
“Dampak Interaksi dengan Gadget TErhadap Perkembangan Emosional dan Sosial Anak
Sekolah Dasar: Sebuah Tinjauan Literatur” menegaskan penggunaan gadget berlebih dapat
mengurangi interaksi sosial secara langsung dan menghambang perkembangan sosial
emosional. Dan (Suhana, 2018) dalam jurnal Influence of Gadget Usage on Children’s
Sosial-Emotional Development” menegaskan penggunaan gadget dapat menyebabkan candu
yang dapat mengganggu fungsi prefrontal cortex dimana otak yang berperan menjadi kendali
emosi, tanggung jawab dan pengendali diri terganggu, akibatnya anak menjadi introvert,
mudah stress dan kecemasan.
B. Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak Melalui Sinergi Guru dan Orang Tua
Guru membiasakan anak bertanggung jawab melalui kegiatan sederhana seperti
membereskan mainan setelah bermain dan melatih kesabaran melalui permainan edukatif
menyusun tutup botol sesuai dengan pola gambar yang telah disediakan. Kegiatan ini dapat
membantu anak belajar disiplin, focus, sabar, mandiri, dan mampu bekerja sama dengan teman
sebayanya. Tidak hanya itu, orang tua juga memberikan penguatan ketika di rumah dengan
kebiasaan yang serupa sehingga perkembangan sosial emosional anak menjadi lebih optimal.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa sinergi guru dan orang tua melalui komunikasi digital
yakni menggunakan aplikasi WhatsApp menjadi strategi yang efektif dalam membentuk
karakter sosial emosional anak. Guru dan juga orang tua melakukan komunikasi aktif
mengenai perkembangan anak melalui pengiriman foto dan video kegiatan anak dirumah.
Dengan demikian, media digital tidak hanya digunakan sebagai hiburan, namun juga sebagai
sarana kolaborasi pendidikan anak usia dini.
Hasil peneitian ini sesuai dengan teori Bowlby yang menekankan akan pentingnya
hubungan emosional anak dengan orang tua dan lingkungannya dalam mendukung
pembentukan perkembangan sosial emoisonal anak (Herdiyana et al., 2023). Pada penelitian
ini berkaitan dengan penelitian (Tihnike & Farida, 2023) yang berjudul “Mengembangkan
Kemampuan Emosional Anak Melalui Kegiatab Pembiasaan Sabar Menunggu Giliran”.
Persamaan penelitian tesebut terletak di peggunaan metode pembiasaan sabar dalam
mengembangkan sosial emosional anak. Akan tetapi, penelitian tersebut hanya berfokus pada
aspek kesabaran di lingkungan sekolah saja, sedangkan dalam penelitian ini membahas lebih
luas tentang pembentukan sosial emosional pada anak seperti tanggung jawab, kerja sama,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
370
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
disiplin, dan pengendalian emosi melalui sinergi peran guru dan juga orang tua dengan melalui
komunikasi digital.
Di penelitian ini juga berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Saefullah, 2025)
dengan judul “Penanaman Nilai Tanggung Jawab Anak Usia Dini melalui Pembiasaan
Kegiatan Harian di PAUD” yang persamaannya yakni terletak pada pembentukan karakter
tanggung jawab melalui pembiasaan. Namun pada penelitian sebelumnya masih terbatas pada
kegiatan di sekolah dan belum melibatkan komunikasi digital antara guru dan orang tua secara
berkelanjutan sebagaimana di penelitian ini. Penelitian ini juga relevan dengan jurnal (Sari,
n.d.) “Pemanfaatan WhatsApp Group sebagai Sarana Komunikasi Guru dan Orang Tua
Selama Masa Pandemi Covid 19” yang sama-sama menggunakan WhatsApp sebagai sarana
komunikasi. Namun perbedaannya di penelitian tersebut berfokus pada fungsi WhasApp untuk
penyampaian pembelajaran, sedangkan di penelitian ini memanfaatkan whasApp sebagai
asarana evaluasi dan pembentukan karakter sosial emosional anak.
Penelitian ini juga berkaitan dengan (Amin et al., n.d.) “Kemitraan Orang Tua dan Guru
dalam Pemanfaatan Teknologi Digital bagi Anak Usia Din. Systematic Literature Review
Pendekatan dan Praktek Terbaik”. Yang menjelaskan pentingnya kemitraan guru dan orang tua
dalam menggunakan teknologi digital bagi anak usia dini. Namun penelitian tersebut bersifat
teoritis karna menggunakan metode sitematic literature review sedangkan penelitian ini
menggunakan sinergi langsung antara guru dan orang tua nelalui komunikasi digital berupa
WhatsApp dalam membentuk karakter sosial emosional anak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasannya pembentukan karakter sosial
emosional anak usia dini di era digital membutuhkan kerjasama yang baik antara guru dan
orang tua. Melalui komunikasi digital dengan baik dapat memperkuat pembiasaan karakter
anak sehingga anak menjadi lebih mandiri, disiplin, sabar, bertanggung jawab dan yang paling
utama dapat mengendalikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwasannya penggunaan gadget yang berlebihan
mengakibatkan dampak negative pada perkembangan sosial emosional anak usia dini, seperti
halnya sulit berinteraksi, meningkatnya perilaku egosentris, kesulitan mengendalikan emosi,
serta berkurangnya kemampuan bekerja sama. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi yang
mampu meminimalkan anak dampak tersebut melalui sinergi peran guru dan orang tua. Hasil
penelitian di SPS Anggur 02 Desa Umbulsari menunjukkan bahwasannya pembiasaan
tanggung jawab dan kesabaran yang dilakukan secara konsisten di sekolah dan diperkuat
ketika di rumah melalui komunikasi digital menggunakan WhatsApp mampu meningkatkan
perkembangan sosial emosional anak. Anak menjadi mandiri, disiplin, sabar, bertanggung
jawab, dapat bekerja sama dan lebih baik dalam mengendalikan emosinya. Dengan demikian,
kolaborasi antara guru dan orang tua lewat aplikasi digital sebagai sarana komunikasi dan
evaluasi, merupakan strategi yang evekif dalam pembentukan perkembangan sosial emosional
anak usia dini di era digital.
5. Daftar Pustaka
Amin, S., Pendidikan, M., Anak, G., Dini, U., & Terbuka, U. (n.d.). Kemitraan Orang Tua
Dan Guru Dalam Pemanfaatan Teknologi Digital Bagi Anak Usia Dini : Systematic.
3(4), 20712078.
Anisa, Y. (2023). Sinergi Pendidikan : Membangun Fondasi Kokoh Melalui Kolaborasi Guru
dan Orang Tua dalam Pembelajaran Anak Usia Dini. 1(3), 221231.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 361-371
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
371
Dewi Fatimah et.al (Strategi Pembentukan Sosial Emosional Anak….)
Ardhiani, N. R. (2023). Strategi Pengembangan Perilaku Prososial Anak dalam Menunjang
Aspek Sosial Emosional. 4(1), 540550. https://doi.org/10.37985/murhum.v4i1.263
Aulia, D. (2023). Peran Permainan Tradisional dalam Meningkatkan Sosial Emosional Anak
Usia Dini. 7(4), 45654574. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.4056
Hardiansyah, R. (2024). Dampak Interaksi dengan Gadget Terhadap Perkembangan Emosi
dan Sosial Anak Sekolah Dasar : Sebuah Tinjauan. 4(1), 13–20.
Herdiyana, R., Lestari, R., & Bahrum, M. (2023). Psikologi perkembangan sosial terhadap
emosional pada anak usia dini 1. 1(1), 2330.
Iqbal, A. (2026). Pemanfaatan Interactive Flat Panel ( IFP ) dalam Pengembangan
Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun yang sesuai dengan karakteristik
perkembangan otak anak usia dini . Pembelajaran yang. 4(April).
Irwani, N. R., Hayati, R., & Fajri, Y. (n.d.). Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Dalam Penggunaan Gadget. 5(3).
Maulidian Muslihatun, S. E. S. (2025). Perubahan perilaku sosial anak usia dini sebagai
dampak pembatasan gadget oleh orangtua di lombok timur. 8(1), 114122.
Mufarochah Siti, D. (2023). Integrasi ekstrakurikuler pendidikan anak usia dini berbasis
pendidikan agama islam. 4(1), 1621.
Nurliana Cipta Apsari, Lia Siti Nurfauziah, D. H. S. H. (2023). Dampak penggunaan gawai (.
0042, 1122.
Puspitasari, N. (2019). Usia 4-6 Tahun Di Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember.
Radliya, R., Apriliya, S., & Zakiyyah, T. R. (2017). Pengaruh penggunaan gawai terhadap
perkembangan sosial emosional anak usia dini. 1(1), 112.
Rawanita, M., & Mardhiah, A. (2024). Strategi Orang Tua dalam Mengelola Penggunaan
Gadget Anak Usia Dini di Gampong Tanjung Deah Darussalam. 1(3), 274294.
Saefullah, M. F. (2025). WIWARA : Jurnal Pendidikan Permulaan Penanaman Nilai
Tanggung Jawab Anak Usia Dini melalui Pembiasaan Kegiatan Harian di PAUD. 1(1),
3844.
Sari, D. D. (n.d.). Pemanfaatan Whatsapp Group Sebagai Sarana Komunikasi Guru Dan
Orangtua Siswa Selama Masa Pandemi Covid 19. 7988.
Situmorang, E. L., Agustin, D., Butar-, R. D., Siantajani, Y., S, L. D., Telaumbanua, F., &
Waruwu, R. Y. (2021). Edukasi Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Sosial ,
Emosional Pada Anak Usia Dini. 4(1), 112.
Suhana, M. (2018). Influence of Gadget Usage on Children s Social-Emotional
Development. 169(Icece 2017), 224227.
Tihnike, D., & Farida, H. (2023). Mengembangkan Kemampuan Emosional Anak Melalui
Kegiatan Pembiasaan Sabar Menunggu Giliran. 4(1).
Yulianto, E., & Musda, A. (2025). Peran Orang Tua dalam Mengendalikan Penggunaan
Gawai dan Implikasinya terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia Dini. 114.