Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
323
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Pengembangan Kompetensi PTK Guru PAI SMP/ MTs
di Kabupaten Sleman
Siti Aminah
Balai Diklat Keagamaan Semarang, Jalan Temugiring, Banyumanik, Semarang, Indonesia
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 8 Juli 2026
Direvisi: 9 Juli 2026
Disetujui: 10 Juli 2026
Tersedia secara daring: 11 Juli 2026
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembangan kompetensi Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP dan MTs di
Kabupaten Sleman, mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan pelatihan,
serta merumuskan strategi penguatan pelatihan berbasis produk akhir.
Latar penelitian berangkat dari belum optimalnya luaran pelatihan PTK,
antara lain produk proposal berkriteria baik yang baru mencapai 33% dan
dampak karier alumni yang baru tampak pada 7,5% peserta. Penelitian
menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, dengan data
kuantitatif dari 35 guru PAI alumni pelatihan PTK dan data kualitatif melalui
wawancara terbuka, kaji dokumen, serta pendalaman terhadap temuan
angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi PTK
berada pada kecenderungan dikuasai dan cukup dikuasai, tetapi belum
mencapai tingkat optimal, terutama pada penyusunan instrumen, kajian
teori, kajian penelitian terdahulu, penentuan tindakan, dan pengelolaan
rujukan. Penelitian juga menemukan kebutuhan integrasi 15 kompetensi
baru, terutama teknologi digital, pembelajaran HOTS, model pembelajaran
inovatif, keterampilan abad 21, evaluasi pembelajaran, dan penguatan
akhlakul karimah. Faktor keberhasilan pelatihan bersifat sistemik,
mencakup kesiapan panitia, kurikulum, sarana teknologi, kompetensi
widyaiswara, partisipasi peserta, dan evaluasi rencana tindak lanjut. Artikel
merekomendasikan pelatihan PTK berbasis produk akhir dengan bimbingan
klinis, review karya, dan monitoring pasca pelatihan secara berkelanjutan.
Kata Kunci:
Guru PAI;
Kompetensi guru;
Pelatihan berbasis produk;
Penelitian Tindakan Kelas;
Widyaiswara;
ABSTRACT
Keywords:
Classroom action research;
Islamic education teachers;
Product-based training;
Teacher competence;
Trainer
This study aims to analyze the development of Classroom Action Research
(CAR) competence among Islamic Religious Education teachers at junior
secondary schools and Islamic junior secondary schools in Sleman Regency,
identify the determinants of training success, and formulate strategies for
strengthening product based CAR training. The study was motivated by the
suboptimal training outputs, including CAR proposals categorized as good that
reached only 33% and career impact that appeared in only 7.5% of alumni. The
study employed a sequential explanatory mixed methods design. Quantitative
data were collected from 35 Islamic Religious Education teachers who had
participated in CAR training, while qualitative data were obtained through
open interviews, document review, and explanatory follow up of the
quantitative findings. The findings show that teachers mastery of CAR
competence falls into the categories of mastered and sufficiently mastered, but
has not reached an optimal level, particularly in developing instruments,
reviewing theories, analyzing previous studies, determining classroom actions,
and managing references. The study also identified the need to integrate 15
new competencies, especially digital technology, higher order thinking skills,
innovative learning models, twenty first century skills, learning assessment,
and noble character values. Training success was found to be systemic,
involving committee readiness, curriculum relevance, technological facilities,
trainer competence, participant engagement, and evaluation of action plan
implementation. The article recommends product based CAR training
supported by clinical mentoring, academic review, and sustainable post
training monitoring.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
324
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
©2026, Siti Aminah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Introduction
Pengembangan kompetensi guru merupakan isu strategis dalam peningkatan mutu
pendidikan, mengingat bahwa guru berada pada titik temu antara kebijakan, kurikulum, proses
pembelajaran, asesmen, dan capaian belajar peserta didik. Dalam perspektif pengembangan
sumber daya manusia, kompetensi tidak hanya dipahami sebagai penguasaan pengetahuan saja,
akantetapi juga sebagai integrasi antara knowledge, skills, dan attitude yang menentukan kualitas
kinerja seseorang dalam menjalankan tugas profesional (Mandal, 2018; Setiadiputra, 2017). Oleh
sebab itu, pelatihan guru semestinya tidak berhenti pada transfer materi, akan tetapi harus
diarahkan pada pembentukan kemampuan praktis bagi guru sehingga dapat digunakan untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas secara nyata.
Pengembangan kompetensi bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki kekhasan,
karena tugas guru PAI tidak hanya sekedar menyampaikan materi keagamaan, akan tetapi juga
membentuk sikap, akhlak, dan pengalaman keberagamaan peserta didik. Regulasi pendidikan
agama menempatkan guru pendidikan agama sebagai pendidik profesional yang bertugas
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memberi teladan, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik (Kementerian Agama, 2010). Dengan demikian, peningkatan
kompetensi guru PAI perlu diletakkan dalam kerangka peningkatan mutu pembelajaran sekaligus
penguatan karakter dan akhlakul karimah.
Salah satu kompetensi penting guna mendukung profesionalitas guru adalah kemampuan
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK memberi ruang kepada guru untuk menjadi
reflective practitioner yang mampu mendiagnosis masalah pembelajaran, merancang tindakan
perbaikan, melaksanakan tindakan, mengamati dampaknya, dan melakukan refleksi secara siklikal
(Kemmis & McTaggart, 1988; Whitehead & McNiff, 2017). Dalam konteks sekolah dan
madrasah, PTK menjadi instrumen ilmiah yang dekat dengan tugas guru karena dilakukan di kelas
sendiri, bertolak dari problem nyata, dan diarahkan untuk memperbaiki kualitas proses
pembelajaran serta hasil belajar.
Meskipun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam
menyusun karya ilmiah dan melaksanakan PTK masih menghadapi hambatan. Guru sering
mengalami kesulitan dalam merumuskan masalah, menyusun kajian teori, menentukan tindakan,
mengembangkan instrumen, menganalisis data, dan menyusun laporan penelitian secara sistematis
(Fitria et al., 2019; Mahfud, 2019; Rahmatullah & Inanna, 2019). Persoalan ini bukan hanya
bersifat individual, akan tetapi juga berkaitan dengan desain pelatihan, dukungan organisasi,
sarana teknologi, alokasi waktu, kualitas fasilitator, dan tindak lanjut setelah pelatihan (Hariyanto
et al., 2011; Slameto et al., 2017).
Masalah empiris yang melatarbelakangi penelitian ini adalah belum optimalnya pelatihan
PTK bagi guru PAI SMP dan MTs di Kabupaten Sleman. Data awal menunjukkan bahwa produk
akhir pelatihan berupa proposal PTK yang mencapai kriteria baik baru mencapai 33%, sedangkan
dampak pada karier alumni yang tampak melalui usulan dan penilaian angka kredit baru mencapai
3 dari 40 peserta atau 7,5%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan telah memberi
kontribusi, tetapi belum cukup kuat untuk menjamin peserta menghasilkan produk penelitian yang
utuh dan berdampak pada praktik profesional.
Kebaruan artikel ini terletak pada pemetaan sistematis antara penguasaan kompetensi PTK,
kebutuhan kompetensi baru, faktor penentu dan penghambat pelatihan, serta strategi pelatihan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
325
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
berbasis produk akhir. Kajian ini tidak sekadar menilai apakah guru memahami PTK, tetapi juga
membaca PTK sebagai sistem pelatihan yang melibatkan raw input, proses, output, outcome,
environmental input, dan instrumental input. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan
kompetensi guru dipahami sebagai proses sistemik yang membutuhkan keterpaduan antara
peserta, kurikulum, widyaiswara, sarana, manajemen kelas, evaluasi, dan monitoring pasca
pelatihan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis penguasaan
kompetensi PTK guru PAI SMP dan MTs di Kabupaten Sleman, mengidentifikasi faktor-faktor
yang menentukan keberhasilan dan hambatan pelatihan, serta merumuskan strategi penguatan
pelatihan PTK berbasis produk akhir. Kontribusi artikel ini adalah menyediakan dasar akademik
bagi lembaga pelatihan dalam merancang pelatihan PTK yang lebih komprehensif, aplikatif,
berbasis produk, dan berkelanjutan, sehingga pelatihan tidak hanya menghasilkan pemahaman
secara konseptual semata, akan tetapi juga praktik penelitian yang berdampak pada perbaikan pada
kualitas pembelajaran.
2. Method
Penelitian ini menggunakan desain mixed methods sequential explanatory. Tahap pertama
dilakukan melalui pendekatan kuantitatif untuk memetakan kecenderungan penguasaan
kompetensi PTK, persepsi terhadap kebutuhan kompetensi baru, faktor penentu keberhasilan,
faktor penghambat, dan ketepatan strategi pelatihan. Tahap kedua dilakukan melalui pendekatan
kualitatif untuk memperdalam, menjelaskan, dan memberi makna terhadap temuan kuantitatif,
sehingga hasil penelitian tidak hanya menampilkan angka, akan tetapi juga menjelaskan konteks
dan alasan di balik kecenderungan responden (Creswell & Plano Clark, 2018; Sugiyono, 2020).
Subjek penelitian adalah 35 guru PAI SMP dan MTs di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta, yang merupakan alumni pelatihan PTK yang diselenggarakan oleh Balai Diklat
Keagamaan Semarang. Pemilihan responden menggunakan purposive sampling karena penelitian
secara khusus memerlukan informasi dari guru yang telah mengikuti pelatihan PTK dan memiliki
pengalaman langsung terhadap proses, materi, fasilitasi, serta tindak lanjut pelatihan (Ali, 2011;
Syaodih, 2015).
Data dikumpulkan melalui angket tertutup berbasis skala Likert, wawancara terbuka, dan
kaji dokumen. Angket digunakan untuk mengukur derajat penguasaan 15 kompetensi PTK, derajat
perlunya 15 kompetensi baru PTK, faktor penentu keberhasilan, faktor penghambat, dan ketepatan
strategi. Wawancara terbuka dan kaji dokumen digunakan untuk memperdalam temuan angka,
terutama terkait alasan guru menilai suatu kompetensi belum optimal, faktor tertentu dipersepsi
sebagai penentu atau penghambat, serta strategi tertentu dipandang tepat untuk memperkuat
pelatihan.
Analisis data dilakukan melalui pengolahan skor rata-rata, kategorisasi kecenderungan,
reduksi data kualitatif, integrasi data, dan interpretasi naratif. Data kuantitatif disajikan secara
ringkas dalam tabel agar temuan utama mudah dibaca, sedangkan data kualitatif digunakan sebagai
explanatory evidence untuk menjelaskan makna temuan. Pendekatan ini sesuai dengan karakter
penelitian yang berusaha menjaga realitas temuan, tidak melakukan generalisasi berlebihan, dan
menempatkan hasil penelitian sebagai dasar perbaikan desain pelatihan PTK.
3. Hasil dan Pembahasan
Penguasaan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas Guru PAI
Temuan pertama menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi PTK guru PAI belum
mencapai derajat maksimal. Dari 15 kompetensi yang dipetakan, delapan kompetensi berada pada
kecenderungan dikuasai, sedangkan tujuh kompetensi berada pada kecenderungan cukup dikuasai.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pelatihan telah memberi dampak terhadap
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
326
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
pemahaman peserta, tetapi dampak tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kemampuan
teknis yang kuat untuk menghasilkan proposal, instrumen, analisis, dan laporan PTK secara
mandiri.
Table 1. Kecenderungan Penguasaan Kompetensi PTK Guru PAI
Kecenderungan
Kompetensi PTK
Dikuasai
Mengidentifikasi problem pembelajaran; merumuskan judul PTK;
menentukan tujuan penelitian; merumuskan manfaat penelitian; menentukan
metode penelitian dalam PTK; mengolah data dan melakukan analisis hasil
penelitian; mendeskripsikan hasil analisis penelitian; menyusun simpulan
dan saran.
Cukup dikuasai
Menentukan latar belakang PTK; menentukan rumusan masalah PTK;
menentukan jenis tindakan; mengkaji teori dan konsep PTK yang relevan;
mengkaji penelitian terdahulu; menyusun instrumen PTK; menyusun
rujukan berbasis Mendeley atau EndNote.
Kecenderungan pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa kompetensi yang relatif lebih mudah
dikuasai adalah kompetensi yang dekat dengan pengalaman praktis guru, seperti mengidentifikasi
masalah pembelajaran, merumuskan judul, menentukan tujuan, dan menyusun simpulan.
Sebaliknya, kompetensi yang masih cukup dikuasai cenderung berkaitan dengan kerja ilmiah yang
membutuhkan ketelitian akademik, seperti pengembangan kajian teori, telaah penelitian terdahulu,
penyusunan instrumen, dan pengelolaan rujukan. Dengan demikian, problem utama bukan terletak
pada ketiadaan minat guru terhadap PTK, melainkan pada belum kuatnya academic scaffolding
yang membantu guru mengubah masalah pembelajaran menjadi rancangan penelitian yang valid
dan sistematis.
Temuan ini sejalan dengan pandangan bahwa kompetensi merupakan integrasi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap (Mandal, 2018). Guru mungkin sudah mengetahui makna umum PTK,
tetapi belum tentu memiliki keterampilan teknis untuk menyusun instrumen yang sahih,
menghubungkan tindakan dengan teori, membaca penelitian terdahulu, atau menulis rujukan
secara akademik. Dalam logika PTK, kelemahan pada aspek tersebut sangat menentukan kualitas
penelitian karena tindakan kelas tidak dapat berdiri hanya atas intuisi guru; tindakan harus bertolak
dari diagnosis masalah, dasar teori, data awal, instrumen, siklus tindakan, dan refleksi yang dapat
dipertanggungjawabkan (Hopkins, 2014; Kemmis & McTaggart, 1988).
Hasil pendalaman kualitatif menjelaskan bahwa peserta yang merasa lebih menguasai
kompetensi tertentu umumnya telah memperoleh contoh konkret dari widyaiswara, mengerjakan
lembar kerja, atau sudah pernah melakukan PTK sebelumnya. Sebaliknya, peserta yang belum
kuat pada aspek tertentu umumnya baru pertama kali mengikuti pelatihan PTK, belum memiliki
pengalaman menyusun penelitian, atau masih membutuhkan ruang konsultasi setelah pelatihan
berakhir. Hal ini menegaskan bahwa pelatihan PTK harus bergerak dari model information-based
training menuju performance-based training yang memberi kesempatan praktik, review,
perbaikan, dan pendampingan berulang.
Kebutuhan Kompetensi Baru dalam Kurikulum Pelatihan PTK
Temuan kedua menunjukkan adanya kebutuhan kuat untuk memperbarui kurikulum
pelatihan PTK. Penelitian menemukan 15 kompetensi baru yang dipersepsi perlu atau sangat perlu
dikuasai guru PAI dalam melaksanakan PTK pada masa kini dan masa depan. Kebutuhan tersebut
tidak terlepas dari perubahan ekosistem pendidikan yang menuntut guru menguasai teknologi
digital, pembelajaran HOTS, model pembelajaran inovatif, literasi, kecakapan abad 21,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
327
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
komunikasi efektif, kerja sama, pendidikan karakter, bahasa internasional, dan dinamika
perubahan lokal, nasional, serta global.
Table 2. Kebutuhan Kompetensi Baru dalam Kurikulum Pelatihan PTK
Kecenderungan
Kompetensi baru yang perlu diintegrasikan
Sangat perlu
Teknologi digital; pemecahan masalah pembelajaran; model/metode
inovatif, kreatif, dan atraktif; evaluasi proses dan hasil belajar; pembelajaran
HOTS; komunikasi efektif; human relation skills; cooperation skills; literasi;
kecakapan abad 21; pendidikan karakter; bahasa internasional; dinamika
perubahan; penguatan akhlakul karimah.
Perlu
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Kompetensi baru dengan skor tertinggi adalah penguatan dan penerapan akhlakul karimah
dalam proses pembelajaran, yaitu 4,8. Temuan ini memberi kekhasan pada konteks guru PAI
karena PTK tidak cukup dimaknai sebagai upaya menaikkan skor kognitif peserta didik, tetapi
juga sebagai instrumen reflektif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agama yang berdampak
pada sikap, karakter, dan pengamalan nilai. Dengan demikian, kurikulum pelatihan PTK bagi guru
PAI perlu memberi ruang pada topik penelitian yang berhubungan dengan pembiasaan ibadah,
karakter religius, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, toleransi, dan akhlakul karimah.
Kebutuhan terhadap teknologi digital, HOTS, literasi, dan kecakapan abad 21 menunjukkan
bahwa guru PAI tidak dapat lagi memandang PTK sebagai kegiatan administratif untuk kenaikan
pangkat semata. PTK perlu dijadikan wahana inovasi pembelajaran yang responsif terhadap
perubahan zaman. Dalam kerangka revolusi industri 4.0 dan transformasi digital, guru perlu
menguasai cara menggunakan teknologi untuk mencari rujukan, menyusun instrumen,
mengumpulkan data, mengolah hasil, dan merancang tindakan pembelajaran yang lebih bermakna
(Fitriyah, 2019; Schwab, 2016).
Temuan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa kurikulum pelatihan PTK lama perlu direvisi
secara substantif. Jika kurikulum hanya memuat struktur proposal dan laporan, peserta cenderung
memahami PTK sebagai format tulisan. Sebaliknya, jika kurikulum memasukkan diagnosis
pembelajaran, desain tindakan, literasi teknologi, asesmen formatif, data belajar, model inovatif,
dan karakter, maka peserta akan memandang PTK sebagai strategi perbaikan pembelajaran.
Perubahan orientasi ini penting agar pelatihan PTK tidak menjadi formalitas, tetapi menjadi
instrumen peningkatan mutu pembelajaran PAI.
Faktor Penentu dan Penghambat Keberhasilan Pelatihan
Temuan ketiga memperlihatkan bahwa keberhasilan pelatihan PTK ditentukan oleh interaksi
antarunsur dalam sistem pelatihan. Faktor yang dipersepsi sangat menentukan meliputi penyediaan
sarana prasarana, tempat pelatihan, teknologi pendukung, mata ajar, silabus, bahan ajar, bahan
tayang, lembar kerja, skenario pembelajaran, evaluasi atau review implementasi rencana tindak
lanjut, kualifikasi akademik widyaiswara, penguasaan materi, kemampuan andragogi, kompetensi
PTK, sikap disiplin peserta, partisipasi aktif, dan kesungguhan belajar. Faktor lain seperti
pendataan peserta, akomodasi, RBPMD-RP, pretest-posttest, komunikasi widyaiswara, dan
motivasi berprestasi juga dinilai menentukan.
Table 3. Faktor Penentu Keberhasilan Pelatihan PTK
Aspek sistem
pelatihan
Kesiapan
penyelenggara
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
328
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Kurikulum dan
perangkat ajar
Kompetensi
widyaiswara
Keterlibatan peserta
Tabel 3 menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan PTK tidak dapat disandarkan pada satu
faktor tunggal. Pelatihan yang baik membutuhkan desain yang sistemik: peserta yang siap,
kurikulum yang relevan, widyaiswara yang kompeten, media yang memadai, lembar kerja yang
operasional, dan evaluasi yang memastikan rencana tindak lanjut benar-benar berjalan. Temuan
ini sejalan dengan kajian transfer pelatihan yang menekankan pentingnya desain pelatihan,
dukungan organisasi, dukungan supervisor, dan self efficacy sebagai penentu keberhasilan transfer
pelatihan ke tempat kerja (Hariyanto et al., 2011).
Pada sisi lain, faktor penghambat juga muncul pada aspek yang sama, yaitu ketidaksiapan
panitia, minimnya sarana, minimnya teknologi, kurikulum yang tidak relevan, bahan ajar yang
tidak sesuai kebutuhan, lembar kerja yang tidak operasional, ketiadaan skenario pembelajaran,
tidak terlaksananya evaluasi RTL, kompetensi widyaiswara yang belum memadai, pengelolaan
kelas yang kurang baik, rendahnya disiplin, partisipasi belajar, kesungguhan, dan motivasi peserta.
Seluruh faktor tersebut dipersepsi berada pada kecenderungan bermasalah sehingga harus
diperlakukan sebagai area risiko dalam desain pelatihan.
Temuan mengenai evaluasi implementasi RTL menjadi sangat penting. Tanpa evaluasi RTL,
pelatihan PTK berisiko berhenti pada output kelas, seperti kehadiran, penugasan, atau pretest-
posttest, tetapi tidak menjamin outcome berupa produk PTK yang dapat digunakan guru di sekolah
atau madrasah. Dalam konteks pengembangan keprofesian berkelanjutan, pelatihan seharusnya
menghasilkan perubahan perilaku kerja, bukan hanya sertifikat keikutsertaan. Oleh sebab itu,
evaluasi pasca pelatihan perlu menjadi bagian integral dari siklus pelatihan, bukan kegiatan
tambahan yang bersifat opsional.
Peran widyaiswara juga menjadi faktor kunci karena pelatihan PTK memerlukan fasilitator
yang tidak hanya menguasai konsep penelitian, tetapi juga mampu membimbing peserta menyusun
produk secara bertahap. Widyaiswara perlu berperan sebagai trainer, coach, academic reviewer,
dan clinical mentor. Peran ini penting karena peserta pelatihan berasal dari latar pengalaman
penelitian yang berbeda; sebagian sudah pernah menulis PTK, tetapi sebagian lain baru pertama
kali mengenal praktik PTK secara sistematis.
Strategi Penguatan Pelatihan Berbasis Produk Akhir
Temuan keempat menunjukkan bahwa strategi yang ditawarkan untuk mengatasi
permasalahan pelatihan dipersepsi tepat dan sangat tepat. Strategi tersebut mencakup penjelasan
rinci proses pelatihan kepada peserta, pemantauan peserta pada setiap tahapan, layanan bantuan
terhadap kesulitan peserta, perancangan kurikulum yang relevan, pengendalian proses
pembelajaran, penugasan widyaiswara kompeten, pengelolaan kelas profesional, penerapan
andragogi, tindak lanjut berupa konsultasi dan bimbingan, serta review implementasi RTL agar
produk akhir peserta menjadi lebih maksimal.
Table 4. Strategi Penguatan Pelatihan PTK Berbasis Produk Akhir
Tahap
strategi
Arah penguatan
Pra-pelatihan
Analisis kebutuhan, pendataan peserta stabil, orientasi proses pelatihan,
kesiapan sarana, dan penyediaan perangkat ajar.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
329
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Saat pelatihan
Pembelajaran berbasis lembar kerja, praktik bertahap, bimbingan widyaiswara,
kerja kolaboratif, review produk, dan evaluasi formatif.
Pasca
pelatihan
Konsultasi, bimbingan klinis, monitoring RTL, review proposal atau laporan,
dan dukungan implementasi di sekolah/madrasah.
Produk akhir
Proposal PTK, instrumen, rancangan tindakan, data awal, rencana analisis,
laporan PTK, atau artikel ilmiah berbasis hasil PTK.
Strategi pada Tabel 4 menunjukkan perlunya perubahan paradigma dari pelatihan berbasis
kehadiran menuju pelatihan berbasis capaian produk. Dalam paradigma lama, pelatihan sering
diukur melalui pemenuhan jam pelatihan, kelengkapan administrasi, nilai pretest-posttest, dan
kepuasan peserta. Dalam paradigma berbasis produk, keberhasilan pelatihan diukur dari
kemampuan peserta menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk memperbaiki
pembelajaran, seperti proposal PTK, instrumen, laporan, atau artikel ilmiah.
Pelatihan berbasis produk akhir lebih sesuai dengan karakter PTK karena PTK merupakan
penelitian praktis yang menuntut keterampilan nyata. Guru tidak cukup hanya memahami definisi
siklus PTK, tetapi harus mampu memilih masalah yang layak diteliti, menyusun indikator
keberhasilan, menentukan tindakan, mengembangkan instrumen, membaca data, dan menulis
refleksi. Oleh sebab itu, setiap mata pelatihan perlu menghasilkan bagian dari produk akhir,
misalnya identifikasi masalah, rumusan judul, latar belakang, kajian teori, instrumen, skenario
tindakan, teknik analisis, dan rencana pelaporan.
Secara konseptual, model pelatihan berbasis produk akhir sejalan dengan pengembangan
sumber daya manusia strategik karena pelatihan diarahkan untuk menghasilkan perubahan
kompetensi yang relevan dengan tugas jabatan dan kebutuhan organisasi (Sunarsi, 2018;
Taufiqurokhman, 2016). Bagi guru, produk PTK bukan sekadar bukti administrasi karier, tetapi
bukti autentik bahwa guru melakukan refleksi, perbaikan, dan inovasi pembelajaran. Bagi lembaga
pelatihan, produk PTK menjadi indikator bahwa pelatihan berhasil mendorong transfer hasil
belajar ke tempat kerja.
Dalam konteks guru PAI, produk akhir PTK sebaiknya diarahkan pada perbaikan
pembelajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. PTK dapat digunakan
untuk meningkatkan pemahaman konsep keagamaan, keterlibatan belajar, pembiasaan ibadah,
akhlakul karimah, literasi keagamaan, dan karakter sosial peserta didik. Dengan arah ini, PTK
menjadi lebih relevan dengan mandat guru PAI sebagai pendidik yang membentuk pengetahuan,
sikap, kepribadian, dan keterampilan keagamaan peserta didik (Is, 2017; Taruna, 2011).
Implikasi utama dari temuan ini adalah perlunya bimbingan klinis pasca pelatihan. Peserta
yang belum kuat menyusun instrumen, kajian teori, kajian penelitian terdahulu, dan daftar rujukan
tidak cukup dibantu melalui ceramah. Mereka membutuhkan umpan balik yang spesifik terhadap
naskah yang sedang disusun. Oleh karena itu, widyaiswara perlu menyediakan mekanisme review
bertahap, misalnya melalui klinik proposal, forum diskusi daring, konsultasi rujukan, review
instrumen, dan pemantauan implementasi tindakan di sekolah atau madrasah.
Selain itu, dukungan kepala sekolah dan madrasah perlu diperkuat karena implementasi PTK
membutuhkan waktu, kolaborator, izin pelaksanaan, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kepala
sekolah atau madrasah dapat mendukung guru melalui penjadwalan yang realistis, fasilitasi
observer, penyediaan akses referensi, ruang diseminasi hasil PTK, dan pengakuan terhadap produk
guru sebagai bagian dari pengembangan keprofesian. Tanpa dukungan tersebut, guru berisiko
kembali pada rutinitas mengajar tanpa sempat mengembangkan produk penelitian.
Dengan demikian, temuan penelitian ini menguatkan bahwa pelatihan PTK yang efektif
harus dirancang sebagai ekosistem pembelajaran profesional. Ekosistem tersebut menghubungkan
desain kurikulum, kompetensi widyaiswara, perangkat ajar, partisipasi peserta, teknologi,
evaluasi, dan tindak lanjut. Apabila seluruh unsur ini bergerak secara terpadu, maka pelatihan PTK
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
330
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
tidak hanya menghasilkan pemahaman konseptual, tetapi juga produk penelitian yang dapat
memperbaiki pembelajaran PAI secara nyata.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi PTK guru PAI SMP dan MTs
di Kabupaten Sleman telah menghasilkan capaian positif, tetapi belum mencapai tingkat optimal.
Delapan kompetensi berada pada kecenderungan dikuasai, sedangkan tujuh kompetensi masih
cukup dikuasai, terutama pada penyusunan instrumen, kajian teori, kajian penelitian terdahulu,
penentuan tindakan, dan pengelolaan rujukan. Temuan ini memperlihatkan bahwa pelatihan perlu
diperkuat pada aspek praktik ilmiah dan penulisan akademik. Penelitian juga menemukan perlunya
integrasi 15 kompetensi baru dalam kurikulum pelatihan PTK, terutama teknologi digital,
pemecahan masalah pembelajaran, model pembelajaran inovatif, evaluasi pembelajaran, HOTS,
4C, literasi, komunikasi, kerja sama, pendidikan karakter, dan penguatan akhlakul karimah. Faktor
keberhasilan pelatihan bersifat sistemik, mencakup kesiapan penyelenggara, relevansi kurikulum,
kualitas perangkat ajar, kompetensi widyaiswara, sarana teknologi, partisipasi peserta, dan
evaluasi implementasi RTL. Implikasi penelitian ini adalah perlunya desain pelatihan PTK
berbasis produk akhir yang dilengkapi bimbingan klinis, review karya, monitoring pasca pelatihan,
dan dukungan kepala sekolah atau madrasah. Pelatihan yang direkomendasikan bukan hanya
pelatihan yang menyampaikan materi PTK, tetapi pelatihan yang memastikan peserta
menghasilkan proposal, instrumen, rancangan tindakan, laporan, atau artikel ilmiah yang dapat
digunakan untuk memperbaiki pembelajaran PAI secara nyata dan berkelanjutan.
5. Ucapan Terimakasih
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Balai Diklat Keagamaan Semarang,
Kementerian Agama Kabupaten Sleman, kepala SMP/ MTs, guru PAI responden, pembimbing,
dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Apresiasi juga disampaikan
kepada pihak-pihak yang memberikan masukan akademik sehingga naskah ini dapat disusun
kembali dalam format artikel ilmiah.
6. Daftar Pustaka
Ade Rustiana. (2010). Efektivitas pelatihan bagi peningkatan kinerja karyawan. Jurnal Dinamika
Manajemen, 1, 137-143.
Ali, M. (2011). Memahami riset prilaku dan sosial. CV Pustaka Cendekia Utama.
Aminah, S. (2016). Inovasi dalam pembelajaran pendidikan Islam: Efektivitas penggunaan Fun
Card sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan motivasi belajar, keaktifan diri, dan
hasil belajar peserta didik. MIMBAR PENDIDIKAN.
https://doi.org/10.17509/mimbardik.v1i2.3932
Aminah, S. (2020). Penelitian tindakan kelas bagi guru, dan Best Practice Bimbingan PTK bagi
Pengawas Sekolah/Madrasah, Sidoarjo: Nizamia Learning Centre
Basri, H., & Rusdiana. (2015). Manajemen pendidikan dan pelatihan. Pustaka Setia.
Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2018). Mendesain dan melaksanakan mixed methods
research (A. L. Lazuardi, Trans.; 2nd ed.). Pustaka Pelajar.
Delphie, B. (2014). Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Jurnal Pendidikan
Akuntansi Indonesia.
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. (2019). Pedoman kegiatan pengembangan
keprofesian berkelanjutan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
331
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Dwi, A. H., Sudiyanto, & Oktaria, D. (2017). Kompetensi guru: Harapan dan kenyataan. Jurnal
Tata Arta UNS, 3(1), 40-55.
https://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/tataarta/article/view/11494
Feng, L., & Sass, T. R. (2017). Teacher quality and teacher mobility. Education Finance and
Policy. https://doi.org/10.1162/EDFP_a_00214
Fitria, H., Kristiawan, M., & Rahmat, N. (2019). Upaya meningkatkan kompetensi guru melalui
pelatihan penelitian tindakan kelas. Abdimas Unwahas, 4(1), 14-25.
https://doi.org/10.31942/abd.v4i1.2690
Fitriyah, R. N. (2019). Pengembangan kompetensi guru di era revolusi industri 4.0 melalui
pendidikan dan pelatihan. Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu dan Call for Papers.
Gaffar, M. F. (2016). The future teachers. UPI Press.
Gaffar, M. F. (2021). Manajemen pendidikan Indonesia. UPI Press.
Hariyanto, E., et al. (2011). Desain pelatihan, dukungan organisasional, dukungan supervisor dan
self-efficacy sebagai faktor penentu keefektifan transfer pelatihan. Jurnal Siasat Bisnis, 15(2),
213-227.
Hasibuan, M. S. P. (2007). Manajemen sumber daya manusia (Edisi revisi). PT Bumi Aksara.
Hopkins, D. (2014). A teacher's guide to classroom research (5th ed.). Open University Press.
Hunaepi, Prayogi, S., Samsuri, T., Firdaus, L., Fitriani, H., & Asy'ari, M. (2016). Pelatihan
penelitian tindakan kelas (PTK) dan teknik penulisan karya ilmiah bagi guru di MTs. NW
Mertaknao. Lumbung Inovasi, 1(1), 38-40.
Is, S. S. (2017). Peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam membiasakan siswa shalat
berjamaah. TARBAWI: Jurnal Pendidikan Agama Islam.
https://doi.org/10.26618/jtw.v2i01.1018
Kasiyan, K., Zuhdi, B. M., Hendri, Z., Handoko, A., & Sitompul, M. (2019). Pelatihan penulisan
karya ilmiah untuk peningkatan profesionalisme guru. JPPM (Jurnal Pengabdian dan
Pemberdayaan Masyarakat). https://doi.org/10.30595/jppm.v3i1.3128
Kemmis, S., & McTaggart, R. (1988). The action research planner. Deakin University Press.
Kementerian Agama. (2010). Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah.
Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan
Kementerian Agama Nomor 67 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan
Pelatihan pada Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. (2021).
Kunlasomboon, N., Wongwanich, S., & Suwanmonkha, S. (2015). Research and development of
classroom action research process to enhance school learning. Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 171, 1315-1324.
Mahfud, M. (2019). Kesulitan guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas. Jurnal Pendidikan
dan Pembelajaran.
Maiza, Z., & Nurhafizah, N. (2019). Pengembangan keprofesian berkelanjutan dalam
meningkatkan profesionalisme guru pendidikan anak usia dini. Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini. https://doi.org/10.31004/obsesi.v3i2.196
Mandal, S. (2018). The competencies of the modern teacher. International Journal of Research in
Engineering, Science and Management, 1(10), 351-360.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
332
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Marengke, M. (2019). Konsep pengembangan kompetensi guru. Foramadiahi: Jurnal Kajian
Pendidikan dan Keislaman, 11(2), 287-299.
Muhammad Darari Bariqi. (2018). Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Jurnal
Studi Manajemen dan Bisnis, 5, 64-69.
Muslimin. (2020). Program penilaian kinerja guru dan uji kompetensi guru dalam meningkatkan
prestasi kerja guru. IJEMAR - Indonesian Journal of Education Management &
Administration Review, 4, 197-204.
Najri, P. (2020). MGMP dalam meningkatkan keprofesionalan guru mata pelajaran. Aktualita:
Jurnal Penelitian Sosial dan Keagamaan, 10, 130-144.
Nurdiyanti Idris, A. Y., & Muhammad, A. (2020). Strategi pengembangan kompetensi guru SDN
22 Kabupaten Maros. Bosowa Journal of Education, 1, 9-15.
Nurul, F. A., & Singgih, U. P. (2019). Peningkatan kualitas pendidikan: Program Pendidikan
Profesi Guru Prajabatan dalam pemenuhan kebutuhan guru profesional di Indonesia. Aspirasi:
Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 10, 1-17.
Oktiasari, R., Asyari, H., & Zamroni, M. A. (2021). Strategy of teacher competency development
program in Madrasah Tsanawiyah. Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 6(2),
442-456.
Rahmatullah, & Inanna. (2019). Pelatihan penulisan penelitian tindakan kelas bagi guru. Jurnal
Dedikasi Masyarakat, 3(1), 19-25.
Sadili Samsudin. (2013). Manajemen sumber daya manusia (2nd ed.). Pustaka Setia.
Schwab, K. (2016). The fourth industrial revolution. World Economic Forum.
Skinner, H. (2016). Action research. In Formative research in social marketing: Innovative
methods to gain consumer insights. https://doi.org/10.1007/978-981-10-1829-9_2
Slameto, et al. (2017). Peningkatan kinerja guru melalui pelatihan beserta faktor penentunya.
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 27.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan kombinasi (Mixed methods) (2nd
ed.). Alfabeta.
Suhandani, D., & Julia. (2014). Identifikasi kompetensi guru sebagai cerminan profesionalisme
tenaga pendidik di Kabupaten Sumedang. Mimbar Sekolah Dasar, 1(2), 128-141.
Sukanti. (2014). Meningkatkan kompetensi guru melalui pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 6(1). https://doi.org/10.21831/jpai.v6i1.1786
Sunarsi, D. (2018). Pengembangan sumber daya manusia strategik dan karakteristik sistem
pendukungnya: Sebuah tinjauan. Jurnal Ilmiah MEA, 2(3), 178-194.
Suratman, & Eriyanti, E. (2020). Peningkatan SDM. Prosiding Seminar Nasional, 788-794.
Susan, E. (2019). Manajemen sumber daya manusia. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 9, 952-
962.
Syaodih, N. S. (2015). Metode penelitian pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.
Taruna, M. M. (2011). Kompetensi guru Pendidikan Agama Islam. Analisa, 18(2).
https://doi.org/10.18784/analisa.v18i2.132
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 323-333
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
333
Siti Aminah (Pengembangan Kompetensi PTK Guru….)
Taufiqurokhman. (2016). Manajemen strategik. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Prof.
Dr. Moestopo Beragama.
Whitehead, J., & McNiff, J. (2017). Action research: Living theory. SAGE.
https://doi.org/10.4135/9781849208536
Yunus, E. (2016). Manajemen strategis. CV Andi Offset.
Zhao, P., Zhou, J., & Li, Q. (2017). Teacher education. In Handbook of education in China.
https://doi.org/10.4337/9781783470662.00017