A. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berdasarkan Hasil
Wawancara Wakasek Kurikulum
Hasil wawancara dengan Bapak Ibnu Fadhilah Prayoga, S.Pd., selaku Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kurikulum, menunjukkan bahwa implementasi Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila (P5) di SMA Negeri 10 Depok telah berlangsung sejak tahun 2022 dan
terus berlanjut hingga tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta didik dari kelas
10 sampai kelas 12 wajib menyelesaikan tujuh tema P5 sesuai ketentuan Kurikulum
Merdeka. Setiap tahun, sekolah menargetkan penyelesaian tiga tema sehingga seluruh
siklus P5 dapat dipenuhi secara bertahap per angkatan. Tema yang telah dilaksanakan
meliputi rekayasa dan berteknologi, gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, Bhinneka
Tunggal Ika, bangunlah jiwa dan raganya, membangun NKRI, dan kewirausahaan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa secara struktural dan administratif, sekolah telah
menjalankan P5 sesuai regulasi (Kemendikbudristek, 2022) yang mewajibkan
pengembangan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis
proyek. Pemaparan Bapak Ibnu juga menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjalankan
P5 sebagai formalitas, tetapi sudah memasukkan P5 ke dalam perencanaan kurikulum
tahunan sehingga pelaksanaannya berkelanjutan dan terarah.
Secara teoritis, implementasi yang berkesinambungan seperti ini sejalan dengan
konsep pembelajaran berbasis proyek menurut (Thomas, 2000), yang menekankan bahwa
proyek yang baik harus memiliki kesinambungan, relevansi, dan keterhubungan dengan
tujuan pembelajaran. Argumentasi ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya
mengadopsi teori secara utuh, tetapi menerapkan prinsip–prinsip yang dianggap paling
relevan, yaitu keberlanjutan program, relevansi tema dengan kehidupan siswa, dan
integrasi lintas kelas. Dengan demikian, pemilihan tujuh tema bukan hanya mengikuti
regulasi, tetapi juga menjadi strategi pedagogis dalam membentuk karakter secara efektif.
Selain implementasi tema, hasil wawancara menunjukkan bahwa sekolah memanfaatkan
sarana prasarana yang sudah ada seperti lapangan, halaman belakang, dan ruang kelas
sebagai area untuk praktik proyek maupun pameran karya siswa. Hal ini menunjukkan
adanya pendekatan efisiensi sumber daya, yaitu memaksimalkan fasilitas tanpa harus
menambah infrastruktur baru.
Strategi ini relevan dengan pendapat (Sutopo , 2011) yang menyatakan bahwa
kualitas pembelajaran berbasis proyek tidak ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi
oleh kreativitas guru dan sekolah dalam mengelola lingkungan belajar. Dengan kata lain,
sekolah mengambil bagian tertentu dari teori manajemen sarana pendidikan, yaitu prinsip
memaksimalkan sumber daya (resource optimization), bukan prinsip penyediaan fasilitas
baru. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, temuan ini memiliki kesamaan
dengan studi (Ulandari & Rapita, 2023) yang menemukan bahwa sekolah-sekolah yang
berhasil mengimplementasikan P5 justru adalah sekolah yang mampu memanfaatkan
sumber daya lokal tanpa bergantung pada fasilitas modern. Penelitian tersebut juga
memperlihatkan bahwa fleksibilitas dan kemampuan adaptasi sekolah lebih berpengaruh
terhadap keberhasilan P5 dibandingkan kuantitas fasilitas yang dimiliki.
Dari sisi analisis, kedua temuan hasil wawancara tersebut memperlihatkan bahwa
implementasi P5 di SMA Negeri 10 Depok berjalan melalui dua pendekatan: pertama,
pendekatan kurikuler yang memastikan seluruh tema P5 dilaksanakan; kedua, pendekatan
manajerial yang memperkuat pelaksanaan melalui pemanfaatan sarana prasarana. Hal ini
menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya memenuhi aspek administratif kurikulum, tetapi
juga memastikan pelaksanaan tetap kontekstual, kreatif, dan sesuai dengan kondisi
lapangan. Pendekatan ini memberi dasar bahwa sekolah memiliki kesiapan struktural
sekaligus fleksibilitas operasional, yang keduanya merupakan indikator keberhasilan P5