Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
271
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila Dalam Meningkatkan Karakter Peserta
Didik Di SMA Negeri 10 Depok
Rara Aprilia Hadi Astuti
a,1
, Heri Kurnia
b,2
ab
Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Pamulang
*
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Mei 2026
Direvisi: 2 Juni 2026
Disetujui: 18 Juni 2026
Tersedia Daring: 1 Juli 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Implementasi Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Meningkatkan Karakter Peserta
Didik di SMA Negeri 10 Depok. P5 merupakan salah satu program yang di
hadirkan dalam kurikulum merdeka untuk membentuk peserta didik
memiliki kompetensi, nilai, serta karakter, sesuai dengan profil pelajar
Pancasila, yakni beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa,
kebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan implementasi projek penguatan
profil pelajar Pancasila dalam meningkatkan karakter peserta didik di SMA
Negeri 10 Depok dan mengetahui apa saja tantangan dan hambatan yang di
hadapi guru dalam membentuk karakter peserta didik. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Teknik pengumpulan
data melalui observasi, wawancara serta dokumentasi yang di laksanakan
dari bulan juli-September. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
implementasi P5 di SMA Negeri 10 Depok melalui berbagai projek tematik
yang relevan dengan kehidupan nyata peserta didik, seperti projek
kewirausahan, kepedulian lingkungan, serta penguatan nilai kebangsaan.
Melalui kegiatan tersebut, terlihat adanya peningkatan karakter peserta
didik, khususnya dalam aspek tanggung jawab, kerja sama, disiplin, serta
kepedulian sosial. Namun, dalam pelaksaannya masih terdapat beberapa
tantangan, seperti keterbatan waktu, perbedaan, motivasi antar peserta
didik, serta karakter peserta didik yang berbeda-beda.
Kata Kunci:
Implementasi
Pancasila
Karakter
Peserta Didik
ABSTRACT
Keywords:
Implementation
Pancasila
Character
Students
This study aims to describe the Implementation of the Pancasila Student
Profile Strengthening Project in Improving Student Character at SMA Negeri
10 Depok. P5 is one of the programs presented in the independent curriculum
to shape students to have competencies, values, and characters, in accordance
with the Pancasila student profile, namely faith and devotion to God Almighty,
global diversity, mutual cooperation, independence, critical reasoning, and
creativity. The purpose of this study describes the implementation of the
Pancasila student profile strengthening project in improving student character
at SMA Negeri 10 Depok and to find out what challenges and obstacles
teachers face in shaping student character. This study uses a descriptive
qualitative approach with data collection techniques through observation,
interviews and documentation carried out from July to September. The results
of this study indicate that the implementation of P5 at SMA Negeri 10 Depok
through various thematic projects that are relevant to the real lives of
students, such as entrepreneurship projects, environmental awareness, and
strengthening national values. Through these activities, students' character
development has been demonstrated, particularly in areas of responsibility,
cooperation, discipline, and social awareness. However, several challenges
remain in implementation, such as time constraints, differences in motivation
among students, and varying student personalities.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
272
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
©2026, Rara Aprilia Hadi Astuti, Heri Kurnia
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kurikulum Merdeka disusun dengan menjadikan pendidikan karakter sebagai fondasi
utama dalam proses pembelajaran. Pendidikan karakter diarahkan untuk mengembangkan
keseimbangan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik, sejalan dengan
tujuan Kurikulum Merdeka dalam membentuk pribadi pelajar yang mampu menginternalisasi
dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menempssatkan
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pijakan pembentukan karakter bangsa, pemerintah
berupaya menyiapkan generasi muda yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi dinamika
perubahan zaman. Upaya tersebut tercermin dalam lahirnya konsep Profil Pelajar Pancasila
yang ditanamkan secara berkelanjutan sejak pendidikan dasar hingga menengah sebagai wujud
ideal pelajar Indonesia yang berkarakter. Profil Pelajar Pancasila menggambarkan sosok
pelajar yang diharapkan dapat berkembang secara optimal melalui dukungan seluruh elemen
pendidikan dengan berlandaskan enam dimensi utama yang saling terhubung dan saling
memperkuat.
Dimensi tersebut mencakup keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
tercermin dalam akhlak mulia, kemampuan menghargai keberagaman global, semangat gotong
royong, sikap mandiri, kemampuan bernalar kritis, serta kreativitas. Keenam dimensi ini perlu
dikembangkan secara simultan agar terbentuk profil pelajar yang utuh. Dalam implementasi
Kurikulum Merdeka, penguatan karakter menjadi fokus strategis yang diwujudkan melalui
berbagai pendekatan pembelajaran, salah satunya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila (P5) sebagai pembelajaran lintas disiplin yang mendorong peserta didik untuk
mengamati realitas di sekitarnya dan merumuskan solusi melalui pembelajaran berbasis
proyek. Melalui P5, peserta didik tidak hanya diarahkan untuk memahami konsep secara
teoritis, tetapi juga dilatih menjadi individu yang aktif, reflektif, dan bertanggung jawab
terhadap lingkungan sosialnya.
Proyek ini membantu peserta didik mengembangkan kemampuan merencanakan
pembelajaran, memecahkan masalah dalam berbagai konteks, serta menumbuhkan kepedulian
terhadap isu-isu nyata di sekitarnya. Pelaksanaan P5 diawali dengan tahap perencanaan yang
fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan, meliputi pengaturan waktu,
pemilihan dimensi sesuai tema proyek, serta pembentukan tim fasilitator yang bertugas
merancang dan mendampingi proses penguatan Profil Pelajar Pancasila. Peserta didik
Indonesia diharapkan mampu menjaga nilai-nilai budaya luhur, kearifan lokal, dan identitas
bangsa, sekaligus memiliki sikap terbuka dalam menghadapi keberagaman budaya global.
Implementasi P5 dilakukan melalui penguatan budaya sekolah serta kegiatan intrakurikuler
dan ekstrakurikuler yang berorientasi pada pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-
hari. Dalam Kurikulum Merdeka, P5 menjadi sarana utama penguatan karakter melalui enam
dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa, gotong royong, berkebhinekaan
global, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Penguatan nilai-nilai Pancasila dalam ekosistem Merdeka Belajar memerlukan dukungan
konten pembelajaran yang berkualitas dan relevan. Oleh karena itu, P5 ditetapkan sebagai
program unggulan yang menghubungkan proses pendidikan dengan realitas kehidupan peserta
didik. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan
pentingnya pengalaman belajar langsung agar peserta didik tidak hanya memperoleh
pengetahuan, tetapi juga menghayatinya secara nyata. Melalui P5, peserta didik diberi ruang
untuk belajar dari lingkungan sekitar, mengamati permasalahan, serta merancang solusi secara
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
273
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
kontekstual. P5 mendorong peserta didik untuk berkontribusi aktif dalam lingkungan sosialnya
dan membentuk karakter sebagai pembelajar sepanjang hayat yang kompeten dan
berintegritas. Implementasi P5 telah mulai diterapkan di sekolah-sekolah yang mengadopsi
Kurikulum Merdeka, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai kajian yang menggambarkan
proses perencanaan hingga pelaksanaan asesmen projek. Melalui kegiatan ini, peserta didik
mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dengan mengangkat tema-tema aktual
seperti perubahan iklim, kesehatan mental, budaya, kewirausahaan, teknologi, serta kehidupan
demokratis, sehingga mendorong lahirnya aksi nyata sesuai dengan kebutuhan dan tahap
perkembangan peserta didik. Salah satu dimensi penting dalam Profil Pelajar Pancasila adalah
kemandirian dan kemampuan bernalar kritis.
Peserta didik diharapkan mampu mengelola proses belajarnya secara mandiri,
bertanggung jawab, serta mengambil keputusan secara bijaksana. Karakter ini sangat relevan
bagi peserta didik tingkat SMA yang berada pada fase transisi menuju kedewasaan. Namun,
dalam praktiknya masih ditemukan peserta didik yang kurang memiliki inisiatif, bergantung
pada arahan guru, serta menunjukkan kepedulian yang rendah terhadap lingkungan sekitarnya,
sehingga menunjukkan perlunya penguatan karakter secara lebih optimal. Melalui pelaksanaan
P5, sekolah memiliki ruang yang strategis untuk menumbuhkan kemandirian dan karakter
peserta didik secara bermakna. Peserta didik dilibatkan secara aktif dalam seluruh tahapan
proyek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga refleksi hasil dan proses pembelajaran.
Meskipun demikian, implementasi P5 juga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya
perbedaan tingkat kesiapan pendidik dalam memahami dan menerapkan konsep P5. Oleh
sebab itu, diperlukan kajian mendalam untuk memastikan pelaksanaan P5 dapat berjalan
secara efektif. Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini difokuskan pada kajian
implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam upaya meningkatkan karakter
peserta didik.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk
menggambarkan secara nyata dan mendalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila sesuai dengan panduan pelaksanaan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan pada tahun 2020. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis
persentase, kemudian dideskripsikan dan disimpulkan berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan pada masing-masing komponen. Ditinjau dari metode yang digunakan, penelitian
ini termasuk dalam penelitian deskriptif karena berfokus pada pemaparan kondisi dan proses
yang terjadi di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi untuk menggambarkan penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
dalam upaya meningkatkan karakter peserta didik di SMA Negeri 10 Depok selama periode
pelaksanaan sekitar satu hingga tiga bulan.
3. Hasil dan Pembahasan
Pembahasan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis hasil penelitian yang telah
diperoleh, dengan mengaitkannya pada temuan dari penelitian terdahulu dan teori ahli yang di
pakai. Setiap poin pembahasan disusun berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumusakan
sebelumnya, guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap implementasi
projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam meningkatkan karakter peserta didik di SMA
Negeri 10 Depok.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
274
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
A. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berdasarkan Hasil
Wawancara Wakasek Kurikulum
Hasil wawancara dengan Bapak Ibnu Fadhilah Prayoga, S.Pd., selaku Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kurikulum, menunjukkan bahwa implementasi Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila (P5) di SMA Negeri 10 Depok telah berlangsung sejak tahun 2022 dan
terus berlanjut hingga tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta didik dari kelas
10 sampai kelas 12 wajib menyelesaikan tujuh tema P5 sesuai ketentuan Kurikulum
Merdeka. Setiap tahun, sekolah menargetkan penyelesaian tiga tema sehingga seluruh
siklus P5 dapat dipenuhi secara bertahap per angkatan. Tema yang telah dilaksanakan
meliputi rekayasa dan berteknologi, gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, Bhinneka
Tunggal Ika, bangunlah jiwa dan raganya, membangun NKRI, dan kewirausahaan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa secara struktural dan administratif, sekolah telah
menjalankan P5 sesuai regulasi (Kemendikbudristek, 2022) yang mewajibkan
pengembangan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis
proyek. Pemaparan Bapak Ibnu juga menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjalankan
P5 sebagai formalitas, tetapi sudah memasukkan P5 ke dalam perencanaan kurikulum
tahunan sehingga pelaksanaannya berkelanjutan dan terarah.
Secara teoritis, implementasi yang berkesinambungan seperti ini sejalan dengan
konsep pembelajaran berbasis proyek menurut (Thomas, 2000), yang menekankan bahwa
proyek yang baik harus memiliki kesinambungan, relevansi, dan keterhubungan dengan
tujuan pembelajaran. Argumentasi ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya
mengadopsi teori secara utuh, tetapi menerapkan prinsipprinsip yang dianggap paling
relevan, yaitu keberlanjutan program, relevansi tema dengan kehidupan siswa, dan
integrasi lintas kelas. Dengan demikian, pemilihan tujuh tema bukan hanya mengikuti
regulasi, tetapi juga menjadi strategi pedagogis dalam membentuk karakter secara efektif.
Selain implementasi tema, hasil wawancara menunjukkan bahwa sekolah memanfaatkan
sarana prasarana yang sudah ada seperti lapangan, halaman belakang, dan ruang kelas
sebagai area untuk praktik proyek maupun pameran karya siswa. Hal ini menunjukkan
adanya pendekatan efisiensi sumber daya, yaitu memaksimalkan fasilitas tanpa harus
menambah infrastruktur baru.
Strategi ini relevan dengan pendapat (Sutopo , 2011) yang menyatakan bahwa
kualitas pembelajaran berbasis proyek tidak ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi
oleh kreativitas guru dan sekolah dalam mengelola lingkungan belajar. Dengan kata lain,
sekolah mengambil bagian tertentu dari teori manajemen sarana pendidikan, yaitu prinsip
memaksimalkan sumber daya (resource optimization), bukan prinsip penyediaan fasilitas
baru. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, temuan ini memiliki kesamaan
dengan studi (Ulandari & Rapita, 2023) yang menemukan bahwa sekolah-sekolah yang
berhasil mengimplementasikan P5 justru adalah sekolah yang mampu memanfaatkan
sumber daya lokal tanpa bergantung pada fasilitas modern. Penelitian tersebut juga
memperlihatkan bahwa fleksibilitas dan kemampuan adaptasi sekolah lebih berpengaruh
terhadap keberhasilan P5 dibandingkan kuantitas fasilitas yang dimiliki.
Dari sisi analisis, kedua temuan hasil wawancara tersebut memperlihatkan bahwa
implementasi P5 di SMA Negeri 10 Depok berjalan melalui dua pendekatan: pertama,
pendekatan kurikuler yang memastikan seluruh tema P5 dilaksanakan; kedua, pendekatan
manajerial yang memperkuat pelaksanaan melalui pemanfaatan sarana prasarana. Hal ini
menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya memenuhi aspek administratif kurikulum, tetapi
juga memastikan pelaksanaan tetap kontekstual, kreatif, dan sesuai dengan kondisi
lapangan. Pendekatan ini memberi dasar bahwa sekolah memiliki kesiapan struktural
sekaligus fleksibilitas operasional, yang keduanya merupakan indikator keberhasilan P5
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
275
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
menurut (Kemendikbudristek, 2022) dan diperkuat oleh penelitian (Rachmawati, 2022).
Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa implementasi P5 di sekolah
sudah selaras dengan teori, regulasi, dan penelitian terdahulu. Pemilihan tema yang
lengkap dan strategi pemanfaatan sarana prasarana yang efisien menunjukkan bahwa
sekolah mampu mengadaptasi teori secara selektif dan kontekstual. Hal tersebut
menegaskan bahwa implementasi P5 berjalan bukan hanya sebagai pemenuhan tuntutan
kurikulum, tetapi sebagai proses pendidikan yang berorientasi karakter.
B. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berdasarkan Hasil
Wawancara dengan Guru Penggerak
Hasil wawancara dengan Bapak Ibnu Fadhilah Prayoga, S.Pd. selaku guru penggerak
sekaligus Wakasek Kurikulum, menunjukkan bahwa implementasi Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMA Negeri 10 Depok telah berjalan secara sistematis
sejak tahun 2022. Ia menjelaskan bahwa sekolah menetapkan kewajiban bagi seluruh
peserta didik kelas 1012 untuk menyelesaikan tujuh tema P5 sepanjang masa studi,
dengan realisasi tiga tema setiap tahun. Tema-tema seperti rekayasa dan berteknologi,
gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, Bhinneka Tunggal Ika, bangunlah jiwa dan
raganya, membangun NKRI, dan kewirausahaan telah dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjalankan program sebagai
kewajiban administratif, tetapi telah mengintegrasikan P5 sebagai bagian dari budaya
pembelajaran.
Secara teoretis, temuan tersebut sejalan dengan konsep P5 dalam Kurikulum Merdeka
yang menempatkan proyek pembelajaran sebagai wahana pengembangan enam dimensi
Profil Pelajar Pancasila: beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, gotong royong,
mandiri, kreatif, dan bernalar kritis (Kemendikbudristek, 2022). Pemilihan tujuh tema
yang beragam mencerminkan upaya sekolah untuk memastikan setiap dimensi tersebut
mendapat ruang pengembangan melalui pengalaman belajar yang autentik. Teori
pembelajaran berbasis proyek juga menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan
proyek kontekstual mampu meningkatkan keterampilan kolaborasi, kreativitas, dan
pemecahan masalah (Bell, 2010; Walker & Leary, 2009). Dengan demikian, keputusan
sekolah untuk menjalankan ragam tema P5 secara konsisten dapat dipandang sebagai
bentuk penerapan teori pembelajaran modern yang menekankan aktivitas bermakna dan
keterlibatan langsung.
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan P5, sekolah
memanfaatkan sarana-prasarana yang sudah tersedia seperti lapangan, halaman belakang,
dan ruang kelas sebagai lokasi kegiatan maupun pameran. Strategi pemanfaatan fasilitas
ini mencerminkan prinsip efisiensi sumber daya dalam manajemen sekolah. Temuan ini
didukung oleh penelitian terbaru yang menyatakan bahwa implementasi P5 tidak
bergantung pada kelengkapan fasilitas baru, tetapi pada kemampuan sekolah
memaksimalkan sumber daya lokal dan lingkungan sekitar (Ulandari & Rapita, 2023;
Pratiwi & Mulyadi, 2021). Dengan demikian, penggunaan fasilitas internal sekolah bukan
hanya bentuk adaptasi, tetapi menjadi strategi pendidikan kontekstual yang
memungkinkan peserta didik belajar dari lingkungan terdekat.
Dalam konteks penguatan karakter, menjalankan tujuh tema P5 secara bertahap
selama tiga tahun juga sejalan dengan prinsip perkembangan moral remaja yang
menekankan pentingnya pengalaman berulang dan konsisten agar nilai-nilai moral dapat
terinternalisasi (Lickona, 2013). P5 memberikan ruang bagi peserta didik untuk
mengalami, merefleksikan, dan mempraktikkan nilai-nilai karakter dalam situasi nyata.
Argumentasi ini menunjukkan bahwa pemilihan teori Lickona relevan karena memberikan
“kerangka interpretasi” untuk membaca temuan lapangan tentang perubahan perilaku
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
276
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
siswa selama keterlibatan mereka dalam proyek. Penelitian 10 tahun terakhir juga
memperkuat relevansi implementasi P5. Studi (Okavia & Harmanto, 2023) menemukan
bahwa tema P5 seperti kewirausahaan mampu mengembangkan kreativitas, kemampuan
melihat peluang, dan pemecahan masalah. Temuan (Anggraini & Anisa, 2023) di
Bengkalis menunjukkan bahwa P5 berpengaruh pada kemandirian dan kemampuan
bekerja sama siswa. Sementara itu, penelitian (Juniawan, 2020) menyatakan bahwa
pembelajaran berbasis proyek efektif meningkatkan literasi kolaboratif dan kepedulian
sosial peserta didik. Konsistensi hasil penelitian ini dengan temuan di SMA Negeri 10
Depok menunjukkan bahwa P5 memiliki landasan empiris yang kuat untuk dijadikan
pendekatan pembelajaran karakter.
Secara analitis, data wawancara guru penggerak dan kesesuaian dengan teori serta
penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pelaksanaan P5 di SMA Negeri 10 Depok telah
memenuhi tiga aspek penting keberhasilan pembelajaran berbasis proyek. Pertama,
sekolah menyediakan pengalaman belajar autentik melalui implementasi berbagai tema
proyek yang relevan dengan kehiduan siswa. Kedua, pemanfaatan sarana prasarana yang
ada menunjukkan fleksibilitas institusi dalam mendukung pelaksanaan kurikulum baru.
Ketiga, konsistensi pelaksanaan sejak 2022 mencerminkan komitmen sekolah terhadap
internalisasi nilai dan pembentukan karakter jangka panjang. Dengan demikian, hasil
penelitian ini memperkuat posisi P5 sebagai intervensi yang efektif dalam membangun
karakter pelajar, sekaligus membuka ruang kritik bahwa pemanfaatan fasilitas tanpa
penambahan sarana baru tetap membutuhkan dukungan inovasi dari guru agar kegiatan
proyek tidak monoton.
C. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berdasarkan Hasil
Wawancara dengan Guru Kelas
Hasil wawancara dengan guru kelas, Ibu Nabila Nurul Isnaini, S.Pd., menunjukkan
bahwa pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMA Negeri 10
Depok menghadapi beberapa kendala yang terutama berkaitan dengan kesiapan dan
karakteristik peserta didik dalam mengikuti pembelajaran berbasis proyek. Ibu Nabila
mengungkapkan bahwa “anak-anak cenderung suka praktik kan yah, jadi waktu itu ada
kegiatan membuat laporan karya tulis, anak-anak tidak antusias dalam mengerjakannya,
jadi saya sendiri yang harus selalu mengingatkan agar cepat terselesaikan tugas laporan
itu”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun siswa antusias dalam kegiatan praktik,
mereka mengalami kesulitan dalam aspek literasi, terutama penyusunan laporan, yang
merupakan bagian penting dari siklus pembelajaran berbasis proyek. Temuan ini selaras
dengan konsep literasi abad 21 yang dijelaskan oleh (Sanders, 2018), bahwa kemampuan
membaca, menulis, dan memahami informasi adalah fondasi penting dalam pembelajaran
berbasis proyek, karena proyek tidak hanya menekankan praktik tetapi juga proses
dokumentasi dan refleksi. Ketergantungan siswa pada arahan guru memperlihatkan bahwa
kemampuan belajar mandiri mereka belum sepenuhnya terbentuk.
Hal ini diperkuat oleh teori (Slavin, 2015) mengenai perbedaan karakteristik belajar
siswa yang menyatakan bahwa peserta didik memiliki tingkat perkembangan kognitif dan
motivasi yang berbeda-beda sehingga guru perlu menerapkan strategi diferensiasi
pembelajaran. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa karakter yang paling terlihat
berkembang setelah implementasi P5 adalah kreativitas dan inovatif. Menurut penuturan
ibu Nabila, “setiap kita memberikan satu contoh, dia bisa memberikan banyak contoh; dia
memikirkan apa yang harus dilakukan”. Hal ini menggambarkan bahwa meskipun siswa
mengalami hambatan dalam aspek literasi, kemampuan kreativitas justru muncul sangat
kuat dalam kegiatan proyek. Temuan ini sesuai dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
277
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
khususnya “kreatif” dan “mandiri”, yang menurut (Kemendikbudristek, 2022)
dikembangkan melalui kegiatan eksploratif dan pemecahan masalah pada konteks nyata.
Penelitian terdahulu juga menunjukkan pola yang serupa. Studi oleh (Okavia &
Harmanto, 2023) menemukan bahwa P5 mampu meningkatkan kreativitas siswa melalui
aktivitas identifikasi masalah, penyusunan ide, dan pencarian alternatif solusi. Sementara
penelitian (Anggraini & Anisa, 2023) menegaskan bahwa lingkungan pembelajaran
berbasis proyek memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir inovatif dan menemukan
strategi baru dalam menyelesaikan tugas. Namun studi (Andriani & Kusuma, 2023)
memperingatkan bahwa kemampuan inovatif siswa tidak selalu berbanding lurus dengan
kemampuan literasi mereka, sehingga guru perlu memberikan scaffolding agar
perkembangan karakter berjalan seimbang.
Analisis terhadap hasil wawancara dan teori yang relevan menunjukkan bahwa
tantangan utama guru bukan hanya mengenai motivasi siswa, tetapi juga ketimpangan
antara keterampilan praktik dan keterampilan literasi. Dengan kata lain, P5 telah berhasil
menumbuhkan kreativitas siswa, namun belum sepenuhnya mampu mendorong
perkembangan kemampuan akademik non-teknis seperti literasi menulis. Dalam konteks
ini, peran guru sebagai fasilitator sangat penting. Asiati & (Hasanah, 2022) menjelaskan
bahwa guru dalam P5 bukan hanya pemberi arahan, tetapi pembimbing yang harus
mampu menyeimbangkan kegiatan praktik dan pembentukan kompetensi literasi melalui
asesmen autentik dan pendampingan berkelanjutan. Secara keseluruhan, pembahasan ini
memperlihatkan bahwa implementasi P5 di SMA Negeri 10 Depok memberikan dampak
positif terutama pada aspek kreativitas dan inovasi siswa, tetapi masih menghadapi
tantangan dalam hal motivasi akademik dan kemampuan penyusunan laporan. Temuan ini
memperkuat pentingnya integrasi pendekatan diferensiasi, penguatan literasi, dan strategi
scaffolding untuk memastikan bahwa perkembangan karakter peserta didik dapat berjalan
menyeluruh dan tidak hanya bertumpu pada aspek kreativitas saja.
D. Implementasi dan Dampak Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah ini
menunjukkan perkembangan yang signifikan sejak dimulai pada tahun 2022. Pelaksanaan
P5 dilakukan secara bertahap, dengan maksimal tiga tema yang diselesaikan setiap
tahunnya, dan hingga saat ini telah mencakup tujuh tema, antara lain berekayasa dan
berteknologi, kearifan lokal, bangunlah jiwa dan raganya, kewirausahaan, serta gaya
hidup berkelanjutan. Pelaksanaan P5 berbasis projek ini tidak hanya menekankan pada
capaian akademik, tetapi juga pada pengembangan kebiasaan baik yang mendukung
karakter peserta didik, seperti sholat dhuha bersama, literasi, dan kesepakatan kelas. Hal
ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan pembiasaan perilaku
positif dalam kehidupan sehari-hari, karena kebiasaan baik yang konsisten dapat
membentuk internalisasi nilai pada diri peserta didik.
Meskipun pada awal pelaksanaan P5 implementasinya belum optimal karena
keterkaitan antara projek dengan mata pelajaran masih kurang, seiring berjalannya waktu,
proses pelaksanaan menjadi lebih sistematis. Guru-guru yang mendampingi secara aktif
dan memberi contoh langsung terbukti mendorong antusiasme peserta didik. Temuan ini
konsisten dengan pandangan (Wahyuni, dkk, 2021) yang menyatakan bahwa keterlibatan
guru sebagai fasilitator aktif sangat berpengaruh terhadap motivasi dan partisipasi peserta
didik dalam kegiatan berbasis projek. Kedekatan guru dengan siswa juga menjadi faktor
penting, karena hubungan yang positif memungkinkan guru menanamkan nilai-nilai P5
secara lebih efektif dan memfasilitasi komunikasi dua arah yang mendukung pemahaman
peserta didik.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
278
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
Selain itu, pemilihan tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik,
seperti lingkungan dan budaya lokal, berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan
siswa. Relevansi tema dengan pengalaman nyata peserta didik memungkinkan mereka
melihat manfaat langsung dari projek yang dijalankan, sehingga motivasi intrinsik mereka
meningkat. Hal ini didukung oleh pandangan (Dewi, 2020) yang menyebutkan bahwa
pembelajaran yang kontekstual dan bermakna dapat meningkatkan keterlibatan peserta
didik serta memudahkan internalisasi nilai. Lebih jauh, pemberian ruang bagi peserta
didik untuk mengekspresikan ide, menentukan peran, dan mengelola proses projek secara
mandiri mendorong pengembangan kemandirian, kreativitas, dan rasa tanggung jawab.
Dengan kata lain, P5 bukan hanya berfungsi sebagai kegiatan tambahan, tetapi juga
sebagai sarana pengembangan soft skill yang esensial bagi profil pelajar abad 21.
Hasil implementasi menunjukkan perkembangan karakter yang signifikan pada
peserta didik. Karakter seperti kemandirian, ketertiban, keaktifan, kreativitas, dan inovasi
terlihat menonjol. Contohnya, pada tema gaya hidup berkelanjutan, siswa mampu
mengelola sampah menjadi barang berguna, yang menunjukkan kemampuan berpikir
kritis dan kreatif. Kemampuan ini bukan hanya sekadar hasil pembelajaran teoritis, tetapi
merupakan indikator bahwa projek memberikan pengalaman nyata yang membentuk
keterampilan berpikir tingkat tinggi. Temuan ini mendukung teori konstruktivisme yang
menyatakan bahwa peserta didik belajar paling efektif melalui pengalaman langsung dan
refleksi atas aktivitas yang mereka lakukan.
Dengan demikian, implementasi P5 di sekolah ini tidak hanya berhasil
menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, tetapi juga menumbuhkan keterampilan abad 21
yang meliputi berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mandiri. Keberhasilan ini menunjukkan
bahwa pembelajaran berbasis projek yang dikaitkan dengan kehidupan nyata, didukung
guru yang aktif, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk berinovasi, dapat
menjadi strategi efektif dalam pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Oleh
karena itu, P5 tidak sekadar menjadi kegiatan tambahan, tetapi menjadi kerangka
pembelajaran yang komprehensif untuk membentuk profil pelajar Pancasila secara
menyeluruh.
4. Kesimpulan
Implementasi projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam meningkatkan karakter
peserta didik di SMA Negeri 10 Depok, dapat disimpulkan bahwa program P5 yang sudah
berjalan cukup baik dan memberikan dampak positif bagi peserta didik. P5 tidak hanya
menjadi bagian kegiatan tambahan, tetepi benar-benar memberi ruang bagi siswa untuk
belajar dengan cara yang lebih bermakna. Melalui berbagai tema projek, siswa diajak untuk
berkerjasama, berfikir kritis dan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Hal ini di lihat dari
mereka mulai terbiasa diskusi, melesaikan masalah secara Bersama, sehingga berani
menampilkan karya mereka didepan orang lain. Nilai-nilai seperti gotong royong, mandiri,
dan kreatif yang terkandung dalam Pancasila mulai tercermin dalam sikap sehari-hari peserta
didik. Namun, dalam prosesnya tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Perbedaan karakter
antar siswa sering kali menimbulkan dinamika dalam kelompok, ada yang sangat dominan
sementara sebagaian lainnya pasif. Kurang nya motivasi juga muncul pada sebagian kegiatan
tambahan, sehinggga partisipasinya kurang maksimal. Disisi lain juga awal muncul program
baru P5 guru sulit membagikan waktu dan pada akhirnya muncul kebijakan baru pelaksaan P5
semester bisa 2-3 kali. Meskipun demikian, semua tantangan dan hambatan tersebut tidak
mengurangi esensi dari pelaksanaan P5 itu sendiri. Justru melalui kesulitan inilah guru guru
dan siswa belajar untuk menemukan Solusi Bersama, melatih kesabaran, serta membiasakan
diri menghadapi perbedaan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
279
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
5. Daftar Pustaka
Anggraini, D., & Anisa, N. (2023). “Implementasi Program P5 pada Kurikulum Merdeka
Belajar dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik di SMAN 2 Bengkalis”. Jurnal Al-
kifayah: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2(1), 163-174.
https://itscienceindexing.com/jurnal/index.php/educendikia/article/view/1895.
Anton, A., & Trisoni, R. (2022). “Kontribusi Keterampilan 4C Terhadap Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka”. Edu Cendikia: Jurnaal Ilmiah
Kependidikan, 2(3), 528-535. https://doi.org/10.47709/educendikia.v2i03.1895.
Asiati, S., & Hasanah, U. (2022). “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di
Sekolah Penggerak”. Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan, 19(2), 61-72.
https://doi.org/10.54124/jlmp.v19i2.78.
Hamzah, M. R. (2022). “Projek Profil Pelajar Pancasila Sebagai Peningkatan Pendidikan
Karakter pada Peserta Didik”. Jurnal Jendela Pendidikan, 2(4), 553-559.
https://doi.org/10.57008/jjp.v2i04.309.
Ismail, M. J. (2021). “Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan dan Menjaga Kebersihan di
Sekolah”. Guru Tua: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 4(1), 59-68.
10.31970/gurutua.v4i1.67.
Jamaludin, at.al. (2022). "Penerapan Nilai Profil Pelajar Pancasila Melalui Kegiatan Kampus
Mengajar di Sekolah Dasar". Jurnal Cakrawala Pendas, 8(3), 795-
808.https://doi.org/10.31949/jcp.v8i3.2553.
Lubaba, M. N., & Alfiansyah, I. (2022). “Analisis Penerapan Profil Pelajar Pancasila dalam
Pembentukan Karakter Peserta Didik di Sekolah Dasar”. Edusaintek: Jurnal Pendidikan,
Sains dan Teknologi, 9(3), 687706. https://doi.org/10.47668/edusaintek.v9i3.576.
Mulyani, S., Nurmeta, I. K., & Maula, L. H. (2023). “Analisis Implementasi Profil Pelajar
Pancasila di Sekolah Dasar”. Jurnal Educatio Fkip Unma, 9(4), 16381645.
https://doi.org/10.31949/educatio.v9i4.5515
Ningsih, E. P., Fajriyani, N. A., Wahyuny, R., & Malahati, F. (2023). “Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka Perspektif Progresivisme”. Khazanah
Pendidikan, 17(1), 163-170. http://etheses.uingusdur.ac.id/id/eprint/13719.
Oktavia, S., & Harmanto, D. (2023). “Penguatan Karakter Kreatif Melalui Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila pada Tema Kewirausahaan di Kelas XI SMA Negeri 1
Krian”. Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, 2(3), 1-17.
https://doi.org/10.572349/civilia.v2i3.701.
Rachmawati, N., Marini, A., Nafiah, M., & Nurasiah, I. (2022). “Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila dalam Impelementasi Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak
Jenjang Sekolah Dasar”. Jurnal Basicedu, 6(3), 3613-3625.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2714.
Rahayuningsih, F. (2022). “Internalisasi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam
Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila”. Social : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 1(3),
177187. https://doi.org/10.51878/social.v1i3.925
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 271-280
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
280
Rara Aprilia Hadi Astuti et.al (Implementasi Projek Penguatan Profil...)
Safitri, A., Wulandari, D., & Herlambang, Y. T. (2022). “Proyek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila: Sebuah Orientasi Baru Pendidikan dalam Meningkatkan Karakter Siswa
Indonesia”. Jurnal Basicedu, 6(4), 7076-7086.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3274.
Salsabila, A., & Nawawi, E. (2023). “Perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan
Abad Ke-21 di SMA Negeri 1 Palembang”. Jurnal Pengabdian West Science, 2(1), 98
108. https://doi.org/10.58812/jpws.v2i01.164
Ulandari, S., & Rapita, D. D. (2023). “Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Sebagai Upaya Menguatkan Karakter Peserta Didik”. Jurnal Moral Kemasyarakatan,
8(2), 116-132. https://doi.org/10.21067/jmk.v8i2.8309.
Widodo, A. (2023). “Efektivitas Model Project-Based Learning dalam P5 untuk Meningkatkan
Karakter Kolaborasi Peserta Didik”. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 5(2), 7889.
https://doi.org/10.31851/neraca.v7i2.14313.
Perundang-undangan:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022).
Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan
Pembelajaran. Jakarta: Kemendikbudristek.