Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
219
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930 Kajoetangan
(Klojen) serta pemukiman Etnies Tionghoa (Petcinan)
Ahmad Anton Rizqika Walikrom
a,1
, Khoirurrosyidin
b,2
, Rinikso Kartono
c,3
a,b,c
Program Studi Doktor Sosiologi, Direktorat Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Malang
1
achmadantonrizqikawalikrom@webmail.umm.ac.id;
2
rosyidinkh@webmail.umm.ac.id;
3
*
achmadantonrizqikawalikrom@webmail.umm.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 25 Februari 2026
Direvisi: 18 Mei 2026
Disetujui: 24 Juni 2026
Tersedia Daring: 1 Juli 2026
Dalam membahas “tempat” Schulz (1984), telah menjelaskan bahwa
terdapat tiga konsep yang penting dan saling berkaitan satu sama lainnya,
yaitu karakter, identitas, dan genius loci. Metodelogi : yang digunakan dalam
penulisan penelitian ini adalah metode Historis, hal ini berdasarkan pada
kajian yang akan dibahas adalah kajian sejarah dan data yang dibutuhkan
dalam penulisan penelitian berasal dari masa lampau. Pembahasan : “Genius
loci” merupakan suatu konsep dibalik aspek fisik dan sosial budaya. genius
loci ini hanya bisa dipahami melalui pemahaman mendalam terhadap faktor-
faktor yang telah membentuk lingkungannya. Lebih lanjut Schulz (1984)
mengemukakan 8 Karakter Kawasan dan Arsitektur Kota Malang Jawa
Timur bahwa genius loci adalah semangat tempat (spirit of place) dimana
semangat itu menjadikan tempat itu “hidup” dan tempat itu berkarakter.
Kata Kunci:
Sosial-Ekonomi
Pemukiman Etnis Tionghoa
ABSTRACT
Keywords:
Socio-Economic
Chinese Ethnic Settlements
In discussing “place” Schulz (1984), has explained that there are three
important and interrelated concepts, namely character, identity, and genius
loci. Methodology: used in writing this research is the Historical method, this is
based on the study that will be discussed is a historical study and the data
needed in writing the research comes from the past. Discussion: “Genius loci” is
a concept behind the physical and socio-cultural aspects. This genius loci can
only be understood through a deep understanding of the factors that have
shaped the environment. Furthermore, Schulz (1984) put forward 8
Characters of the Area and Architecture of Malang City, East Java, that genius
loci is the spirit of the place (spirit of place) where the spirit makes the place
“alive” and the place has character.
©2026, Achmad Anton Rizqika Walikrom, Khoirurrosyidin, Rinikso Kartono
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Citra bisa wujud dari persepsi lingkungan psikologi, antropologi, dan sosiologi (Mahbob,
1992). Citra merupakan gambaran kognitif dari setiap komponen relitas yang dikenal melalui
pengalaman secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Dolbani (2000) citra bisa
diartikan sebagai cognitive picture atau idea. Menurutnya istilah ini sulit sekali didefinisikan
secara tepat karena sifatnya yang sangat konseptual, abstrak dan ambiguous. Menurut Lynch
(1960), citra lingkungan memuat tiga komponen penting, yaitu identitas, struktur, dan makna.
Dimana ketiganya sering wujud secara bersamaan. Hasil citra ini akan melibatkan proses
pengumpulan berbagai karakter lingkungan (Moore, 1976). Dalam proses pembentukan citra
ini masalah yang utama yang harus diperhatikan adalah mengetahui karakter suatu tempat
yang dapat dijadikan pembeda dengan tempat-tempat lainnya, hal ini menurut Lynch (1960)
disebut sebagai indentitas tempat (Saffanah, 1930). Kota-kota besar di Jawa diketahui banyak
meninggalkan bukti kejayaan pemerintah kolonial Hindia-Belanda berupa bangunan Indis,
salah satunya Surabaya.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
220
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
Istilah “indis” dipakai untuk menyebut bangunan-bangunan yang mempunyai karakteristik
berupa perpaduan antara bentuk bangunan Eropa dengan bentuk bangunan lokal tradisional
(Soekiman, 2011). Pendapat lain mengatakan “indis” merupakan aliran yang mengembangkan
suatu bentuk arsitektur bercirikan asing (Indis) namun tradisi atau ciri arsitektur tradisional
Indonesia tidak ditinggalkan dan masih mendapatkan tempat yang layak (Anonim, 2004).
Berkaitan dengan keberadaan bangunan-bangunan Kolonial tersebut, sejumlah negara maju
sempat menyesali pembongkarannya. Meskipun misalnya pembongkaran dilakukan dengan
alasan peperangan atau kebutuhan-kebutuhan lain. Oleh karena itu, sejumlah negara maju
berusaha sekuat tenaga untuk melindungi bangunan Kolonial yang ada melalui undang-undang
atau peraturan resmi secara konsisten. Namun, pada kenyataannya, saat ini bangunan Kolonial
milik pribadi yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya masih banyak yang dirubah dan
bahkan dibongkar (Sumalyo, 1993) (Chawari et al., 2023)
2. Metode
Metode kualitatif adalah metode yang mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan
angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Walaupun bahan tersebut terdapat dengan
nyata di dalam masyarakat. Dalam metode kulaitatif dibgai menjadi tiga macam, yaitu sebagai
berikut. Metode study kasus, yaitu suatu metode pengamatan tentang suatu keadaan,
kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga ataupun individu-ibdividu. Alat-alat yang
digunakan dalam study kasus adalah wawancara (interview) pertanyaan-pertanyaan atau
kuisioner (questionaire), daftar pertanyaan, dan teknik keterlibatan si peneliti dalam kehidupan
sehari-hari dari kelompok sosial yang sedang di amati (participant observer technique).
3. Hasil dan Pembahasan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa yang
mencakup kelompok etnis dan ras yang berbeda. Suku bangsa Indonesia biasanya mendiami
daerah-daerah tertentu di Indonesia. Misalnya, suku Dayak di Kalimantan dan suku
Minangkabau di Aceh. Selain suku bangsa, ada juga kelompok etnis. Mereka adalah warga
negara dari negara lain, seperti Arab, Melayu, Cina, dan lain-lain (Fittrya, 2013) (Journal et
al., 2025). kebudayaan daerah yang dimiliki oleh masing-masing suku bangsa yang ada,
memiliki perbedaan dan ciri yang khas. Selain suku bangsa Indonesia Asli, di Indonesia juga
terdapat suku bangsa asing yang anggotanya sebagian sudah menjadi warga negara Indonesia.
Mereka banyak yang berasal dari etnis Tionghoa, Arab, India, Pakistan dan lain sebagainya.
Akan tetapi persoalan yang sering muncul kepermukaan adalah timbulnya suatu gejala yang
kurang serasi dan harmonis kontak sosial antara masyarakat pribumi dengan masyarakat
keturunan
khususnya dengan masyarakat etnis Tionghoa yang merupakan etnis asing mayoritas. Hal
ini sejalan dengan pendapat Nasikun (1984) bahwa suatu masyarakat adalah bersifat majemuk
sejauh masyarakat tersebut secara struktural memiliki sub-sub kebudayaan yang bersifat
diverse. Masyarakat demikian ditandai oleh kurang berkembangnya sistem nilai atau
konsensus yang disepakati oleh seluruh anggota masyarakat (Dengan & Pribumi, n.d.).
Sebelum diresmikan sebagai kotapraja sendiri, Malang sebelumnya berada di wilayah
Karesidenan Pasuruan. Kelahiran kota Malang pada tahun 1914 sendiri dianggap cukup
prematur. Saat itu Malang baru saja berkembang sangat pesat sehingga belum memiliki
kelengkapan seperti layaknya kota lain seperti dewan kota serta wali kota. Tahun 1819
merupakan saat peresmian kota Malang sebagai bagian karesidenan Pasuruan. Pada masa itu,
Malang hanya dikenal sebagai tempat liburan yang ideal bagi masyarakat Eropa karena
hawanya yang sejuk dan terletak di lokasi yang cukup tinggi. Perkembangan yang sangat pesat
pada Malang ini sendiri juga dialami hamper seluruh kota di Jawa.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
221
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
Ingleson (2015: 17) menjelaskan bahwa kota-kota besar dan kecil di Jawa tumbuh pesat
setelah koloni terbuka untuk modal swasta sejak 1870-an. Wilayah urban yang paling
berkembang pada masa itu adalah Surabaya yang merupakan salah satu pelabuhan utama di
Hindia Belanda. Malang sendiri sebagai wilayah yang berada cukup dekat dengan Surabaya
dan memiliki berbagai industry yang menunjang turut tumbuh dengan pesat karena hubungan
dan akses yang sangat mudah dengan Surabaya. Perkembangan pesat ini kemudian mendorong
Malang yang sebelumnya hanya wilayah yang kecil menjadi naik statusnya. Posisi Malang
sebagai kota distribusi menuju Surabaya dan wilayah lain untuk berbagai hasil produksi seperti
gula, teh, dan kopi menjadikan perkembangan perekonomian kota ini meningkat pesat. Pada
saat menjadi bagian dari Karesidenan Pasuruan, Kota Malang merupakan salah satu bagian
dari Kabupaten Malang.
Saat itu, Malang mempunyai delapan kawedanan atau distrik yang terdiri dari Karanglo,
Pakis, Gondanglegi, Penanggungan, Sengoro, Antang (Ngantang), Turen dan kawedanan
Kotta. Sebagai salah satu kawedanan, wilayah dari kota Malang sendiri membawahi 13
kampung. Seluruh kampong ini kemudian menjadi wilayah dari kota Malang yang kita kenal
saat ini, yaitu Kidulpasar, Taloon (Talun), Kahooman (Kauman), Leddok, Padeyan, Klojen,
Lor Alun, Gadang, Tameengoonhan (Temenggungan), Palleyan (Polean), Jodeepan (Jodipan),
Kabalen dan Cooto lawas ( Kota lama). Setelah melihat perkembangan Malang yang dianggap
cukup cepat dan dinilai siap, Malang akhirnya dijadikan sebuah kotapraja sendiri. Pada awal
pendiriannya,jabatan wali kota di Malang masih dirangkap oleh asisten residen Fl. Broekveldt
yang kemudian digantikan oleh JJ. Coert dan akhirnya pada tahun 1919 Malang memiliki Mr.
HI. Bussemarkersebagai wali kota terpilih.
Setelah Malang mendapat status sebagai kotapraja pada tahun 1914, hal pertama yang
dilakukan oleh pemerintah kota adalah melakukan Rencana Perluasan Pembangunan Kota atau
yang biasa disebut sebagai Bouwplan. Rencana pembangunan kota ini sendiri dibagi menjadi
delapan bagian dan bersifat kronologis. Basundoro (2005: 276) menyebut bahwa perencanaan
ini dimaksudkan agar proses pembangunan dan perluasan kota dapat disesuaikan dengan dana
yang ada dan tidak dilakukan sekaligus. Perancangan Malang sebagai kota hunian yang
nyaman sendiri dilakukan oleh perancang kota, Ir. Herman Thomas Karsten. Masyarakat
Eropa di Malang menghendaki agar kota ini dibuat semirip mungkin kota mereka di Eropa
sehingga ditunjuk seorang perancang kota untuk mengembangkan Malang. Karsten membuat
rencana pembangunan kota dalam beberapa tahap yang terencana terutama pada wilayah
pemukiman Eropa dan pusat pemerintahan (Saffanah, 1930).
Sejak jaman Hindia-Belanda, Glodok dikenal sebagai pecinan terbesar di Jakarta yang
kala itu bernama Batavia. Sejak abad ke-16 di Glodok telah didirikan beberapa klenteng
sebagai tempat-tempat keagamaan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa setempat. Pada
tahun 1740, klenteng-klenteng di Glodok mengalami kerusakan dan pembakaran, sehingga
tidak tersisa lagi peninggalan sejarah sebelum tahun 174015. Sampai sekarang telah ada
sekitar 12 klenteng yang berada di Glodok yang dibangun antara rentang abad 16 sampai
dengan abad 20 (Erveline Basri et al., 2020). Kehadiran etnis Tionghoa di Malang
diperkirakan sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Bukti paling awal dapat dilihat dari prasasti
di Kelenteng Eng An Kiong yang didirikan pada tahun 1825, menunjukkan bahwa komunitas
Tionghoa sudah bermukim dan aktif secara sosial di wilayah ini sejak tahun 1820-an.
Pemukiman mereka awalnya berada di sekitar Jalan Laksamana Martadinata dan berkembang
di pusat kota Malang.
Pelayaran mereka dari Tiongkok ke Jawa melalui rute timur dan barat telah berlangsung
jauh sebelum kedatangan bangsa Portugis, dan menunjukkan keterhubungan historis yang kuat
antara Tiongkok dan kepulauan Nusantara. Migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke Jawa,
termasuk Malang, dipicu oleh runtuhnya Dinasti Qing dan Perang Candu yang menyebabkan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
222
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
ketidakstabilan politik dan kemiskinan di Tiongkok. Pada awalnya, para perantau berasal dari
golongan saudagar kaya yang membawa barang mewah seperti sutra dan keramik. Namun,
gelombang migrasi berikutnya didominasi oleh masyarakat kelas bawah yang datang dengan
harapan memperbaiki nasib. Tionghoa membentuk koloni kecil yang tersebar di beberapa
wilayah Malang seperti Kotalama, Kidul Pasar, Claket, Sukorejo, dan Jodipan. Kawasan-
kawasan ini kemudian dikenal sebagai Pecinan. Aktivitas ekonomi mereka berkembang pesat,
khususnya di sektor perdagangan karena Malang memiliki posisi geografis strategis dan iklim
yang sejuk. Kehidupan sosial dan ekonomi komunitas ini cukup mapan, dengan permukiman
yang teratur secara tata ruang dan fungsi. Mereka tinggal di rumah-rumah sederhana, ruko
kecil, bahkan petak-petak rumah seperti sistem istal di Surabaya. Interaksi antara etnis
Tionghoa dan masyarakat pribumi di Malang sejak awal abad ke-20 berjalan cukup harmonis.
Penduduk lokal sudah terbiasa dengan keberadaan kelompok etnis lain seperti Arab dan
Eropa, sehingga akulturasi dapat berlangsung dengan relative lancar. Di tengah keterbatasan
ekonomi, komunitas Tionghoa tetap berperan dalam kegiatan sosial. Salah satu contohnya
adalah berdirinya organisasi Tiong Hwa Ie Sia pada tahun 1920-an yang bergerak di bidang
kesehatan. Organisasi ini mendirikan klinik kecil di daerah kumuh dengan inisiator utama
Nyonya Go Gwat Tjing, yang dikenal sebagai Bu Bidan Kampung. Dalam keseharian,
komunitas Tionghoa tetap menjaga tradisi leluhur seperti perayaan Imlek, Terang Bulan, dan
upacara pernikahan. Namun, tekanan politik pada masa Revolusi dan awal Orde Lama
menyebabkan pelaksanaan tradisi tersebut mengalami penyesuaian. Beberapa upacara
dijalankan secara terbatas atau bahkan dihentikan sementara karena situasi politik yang tidak
stabil dan tekanan dari pemerintah pusat. Meskipun begitu, etnis Tionghoa di Malang tetap
berusaha menjaga identitas budaya mereka di tengah berbagai tantangan yang ada (Malang et
al., 2025).
Agama Khonghucu mengajarkan bahwa terdapat ajaran Tiga Entitas Utama yang
merupakan ontologi dari filsafat dan agama yang bersifat abstrak. Agama Konghucu mengakui
bahwa Tuhan sebagai asal-usul alam semesta dan juga mengendalikan sistem pergerakan alam.
Namun, manusia mempunyai kebebasan (freewill) untuk menentukan pilihan dan juga
mempunyai tanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Agama Khonghucu menekankan sikap
tanggungjawab manusia kepada Tuhan (Tian), tanggungjawab kepada sesama manusia dan
bumi tempat hidupnya. Konsep ini dikenal dengan ungkapan Tian Ren He Yi atau Tuhan dan
Manusia bersatu (Arif, 2012) (Puslitbang et al., 2015). Selain Batavia, Semarang dan Surabaya
yang sudah menjadi paroki pada masa sebelumnya, juga dibuka paroki di Cirebon pada tahun
1878, Magelang pada tahun 1889, Bogor pada tahun 1889 dan Madiun pada tahun 1897.
Paroki-paroki ini diperuntukkan bagi orang-orang Eropa dan Indo-Eropa. Namun seiring
dengan pengembangan misi di berbagai wilayah Hindia-Belanda di akhir abad ke-19 itu, di
Jawa pada tahun 1894 di buka paroki pertama bagi orang-orang nonEropa, yaitu di Ambarawa,
Muntilan dan Yogyakarta.
Terobosan bagi karya misi di tanah Jawa terutama dilakukan oleh Rm. Hoevenaars SJ,
dan kemudian Rm. van Lith SJ. Seperti diketahui, para Yesuit mula-mula membantu karya
para imam diosesan di bawah Mgr. Vrancken pada tahun 1859. Lambat laun mereka
mengambil alih posisi di berbagai tempat, hingga akhirnya pada tahun 1893 kepempinan
diserahkan kepada mereka, dengan Mgr. J. Staal SJ sebagai Vikaris Apostolik baru. Selain
para imam Yesuit itu, juga datang suster-suster dari kongregasi Ursulin, Fransiskanes dari
Huijthuizen, Cinta Kasih dari Tilburg, Societas JMJ, serta Bruder Aloysius di Oudenbosch
(Boelaars, 2005: 81-82). Pertambahan tenaga misi secara meyakinkan pada akhir abad ke-19
dan terlebih pada awal abad ke-20 dimungkinkan karena adanya kebebasan beragama bagi
orang-orang Katolik di Belanda, yang diperoleh kembali pada kurun waktu sebelumnya.
Tarekat-tarekat religius lama dan baru berdiri kembali, merekrut banyak anggota, yang
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
223
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
dipersiapkan untuk tugas di Belanda maupun di daerah misi. Dengan pertambahan ini
dimungkinkan membagi-bagi Vikariat Apostolik Batavia menjadi daerah-daerah misi, yang
segera ditingkatkan statusnya menjadi prefektur-prefektur ataupun vikariat-vikariat apostolik
yang baru.
Tarekat-tarekat dapat menyelenggarakan karya misi setelah mengurus ius commissionis,
yaitu hak atau kepercayaan mengelola suatu wilayah misi, ke Kongregasi Penyebaran Iman
(Propaganda Fide) di Roma. Dengan cara ini, di Jawa, Vikariat Apostolik Batavia dibagi-bagi
menjadi Prefektur Apostolik Malang (1927), Surabaya (1928), Purwokerto (1932), Bandung
(1932), dan Vikariat Apostolik Semarang (1940). Arah perhatian seluruh Gereja di Hindia-
Belanda tidak hanya tertuju kepada orang-orang Katolik Eropa, tetapi terutama pada
pengembangan misi bagi orangorang non-Eropa, baik orang-orang Timur asing maupun
Pribumi (Canisius & Laksito, 1942). Sejak VOC didirikan oleh pemerintah kerajaan Belanda
tahun 1602, dan kemudian VOC memulai melakukan aktivitas perdagangannya di pulau Jawa,
khusus di Batavia, keadaan ini sangat menarik minat para imigran Cina untuk mengadu nasib
di tanah Jawa, terutama di Batavia. Gelombang kedua kedatangan orang Cina yang terjadi
pada tahun 1600- an, ini sebagai bukti kalau etnik Cina meresfon lahirnya VOC yang
kemudian dijadikannya sebagai mitra dagang.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kehadiran VOC ketika itu, semakin memperkuat
motif ekonomi perdagangan etnik Cina perantauan dalam menggeluti perdagangan perantara
dan aktivitas perdagangan lainnya. Pada zaman VOC, etnik Cina menjadi pedagang perantara
antara penduduk pribumi dengan VOC. Para penguasa dan pengusaha VOC sangat
menghargai orang-orang Cina ketimbang orang-orang pribumi. Di mata orangorang Belanda,
bahwa orang Cina memiliki semangat dagang yang ulet, di samping orang Belandapun
terkesan akan kesediaan orang-orang Cina menerimma tamu dan kecenderungan mengadakan
jamuan makan dan ramah dalam pergaulan. Sehingga orang-orang Cina lebih menarik hati
bagi orang Belanda ketimbang orang Jawa yang ketika itu sangat terbelenggu oleh kultur
feodalistik. Memasuki akhir abad XVII, VOC mencapai puncak keemasan baik di sektor
kekuasaan maupun dalam perdagangan.
Namun perubahan kondisi sosio politik yang terjadi dalam masyarakat Jawa sebagai
dampak dari kemajuan kekuasaan VOC, ternyata tidak berpengaruh terhadap kedudukan peran
ekonomi orang-orang Cina. Bahkan justru memasuki abad XVIII peran ekonomi perdagangan
orang-orang Cina semakin mantap. Perlu ditambahkan, semakin kuatnya peran ekonomi
perdagangan orang-orang Cina ini, selain karena pandai menangkap kesempatan juga adanya
fasilitas dan dukungan dari VOC. Yang sangat menarik, orang-orang Cina sebagai etnik
pendatang di tanah Jawa, mereka terkenal pandai beradaptasi dengan situasi kondisi daerah
yang dikunjunginya. Demikian juga mereka relative mampu beradaptasi serta meresfon
dengan tepat dan baik terhadap situasi dagang yang dibangun VOC terutama di pesisir utara
Jawa (2023, 2021).
Etnis Tionghoa di Indonesia merupakan hasil dari keturunan bangsa Cina yang merantau
ke Indonesia kemudian menetap dan memiliki keturunan, baik dengan sesame orang Cina,
maupun dengan melakukan pernikahan campur dengan etnis pribumi. Suryadinata (2002, hlm.
2) menyatakan bahwa penduduk Tionghoa terdiri dari kelompok-kelompok. Kelompok paling
umum ialah kaum peranakan yang kebudayaannya sudah mengindonesia dan kaum totok yang
masih tebal ketionghoaannya. Disebut peranakan adalah : a) Mereka yang dilahirkan dari
seorang ibu dan ayah dari Cina dan lahir di Indonesia, b) Mereka yang lahir dari perkawinan
campuran yaitu laki-laki Tionghoa dan wanita pribumi dan disahkan serta didaftarkan sebagai
anak sahnya, c) Mereka yang dilahirkan dengan perkawinan campuran antara ayah pribumi
dan ibu Tionghoa dan mendapatkan pendidikan di dalam lingkungan Tionghoa. Cina totok
adalah kaum Cina lanjut usia yang kecinaannya masih sangat kental. Secara umum etnik Cina
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
224
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
totok di Indonesia membuat lingkungannya sendiri untuk dapat hidup secara ”eksklusif”
dengan tetap mempertahankan kebudayaan atau tradisi leluhur (Revida, 2006, hlm. 25-26).
Berdasarkan pengamatan sementara penulis, walaupun kaum Cina totok telah hidup di
Indonesia, namun mereka sangat mempertahankan tradisi leluhur. Mereka tetap menggunakan
bahasa Cina dalam berkomunikasi. Selain itu, membatasi pergaulan dengan orang pribumi.
Hal ini dikarenakan banyak perbedaan cara pandang dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.
Golongan Tionghoa peranakan merupakan golongan yang kebudayaannya sudah tercampur
dengan kebudayaan lokal. Sedangkan orang totok masih sangat memegang tradisi dan adat
kehidupan Cina, ini terlibat pada agama dan kepercayaan, gaya hidup, kebudayaan dan
orientasi hidup. Seiring dengan perkembangan zaman, kaum Peranakan semakin banyak, dan
kaum totok semakin berkurang. Kaum peranakan lebih terbuka dalam menerima perubahan,
baik perubahan budaya, agama, maupun bahasa. Dinamika posisi identitas etnis Tionghoa
sebenarnya terkait perlakuan yang diterima dari pihak penguasa (Eriyanti, 2006, hlm. 29).
Setelah Indonesia merdeka, banyak etnis Tionghoa yang menjadi warga negara Indonesia
(Pendidikan & Sosial, 2016). Keunikan masyarakat Cina Benteng terletak pada perpaduan
antara keteguhan dan sekaligus kelenturan. Mereka merupakan masyarakat yang teguh
memegang adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Hal ini terwujud
dalam pelaksanaan upacara sekitar siklus kehidupan (perkawinan ciotao, kehamilan, dan
kematian) dan upacara hari-hari besar agama (tahun baru Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng Peh
Cun, dan lain sebagainya). Seperti halnya rumahrumah warga Tionghoa pada umumnya, di
dalam rumah-rumah mereka masih didapati altar leluhur sebagai ciri utama kebudayaan
Tionghoa. Pada sisi yang lain, masyarakat Cina Benteng merupakan masyarakat yang lentur.
Hal ini ditunjukkan dengan proses amalgamasi, asimilasi, dan akulturasi dengan masyarakat
dan sekaligus kebudayaan setempat. Istilah “China Benteng” berasal dari kata “Benteng”,
sebuah nama yang bermula dari keberadaan sebuah benteng Belanda di kota Tangerang, yakni
yang berada di pinggir sungai Cisedane.
Benteng Belanda tersebut dibangun sebagai pos pengamanan guna mencegah serangan
yang datang dari Kesultanan Banten. Dikaitkan dengan keberadaan Kesultanan Banteng,
benteng tersebut merupakan benteng terdepan bagi pertahanan Belanda di pulau Jawa.
Menurut Widodo Adi, keberadaan masayarakat Cina Benteng terjadi setelah pemberontakan
Cina di Batavia pada tahun 1740 di mana sebagian besar orang-orang Cina lari ke kawasan
Tangerang dan sebagaian lagi ke Bekasi. Kawasan Kedaung, Kampung Melayu dan Teluk
Naga di Tangerang menjadi kantungkantung pecinan baru. Pemberontakan terjadi untuk
merespon keputusanGubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang Cina yang
dicurigai. Mereka akan dikirim ke Srilanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan
milik VOC. Namun, pemberontakan tersebut segera dapat ditumpas dan bahkan
perkampungan-perkampungan Cina di Batavia dihancurkan. Sedikitnya 10.000 orang tewas.
Sejak saat itu orang-orang Cina mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang,
seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor. tragedi
Batavia pada tahun 1740 tersebut, banyak orang Tionghoa di Batavia yang kemudian pindah
bermukim di daerah Tangerang dekat daerah bekas benteng Belanda.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal dari penyebutan “Cina Benteng” bagi
masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah tersebut. Mereka kemudian membaur
dengan masyarakat setempat, bahkan tidak sedikit di antaranya yang memeluk agama Islam,
menolak makan babi, serta menyatu dengan adat istiadat penduduk setempat. Menyangkut
perpindahan agama tersebut memang terdapat beberapa penjelasan, antara lain adalah untuk
menghindari pajak kepala yang khusus dikenakan kepada orang-orang Tionghoa pada saat itu
dan agar diterima secara baik oleh penduduk setempat. Bahkan tidak sedikit di antara mereka
yang melakukan amalgamasi, yakni dengan menikahi wanita setempat, sehingga memberikan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
225
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
kemungkinan yang lebih besar untuk terciptanya asimilasi dan aulturasi. Pada masa kolonial,
masyarakat Cina Benteng memberikan kontribusi yang besar terhadap kelangsungan
kekuasaan kolonal Belanda di Tangerang. Tidak sedikit masyarakat Cina Benteng yang
diangkat menjadi kapitein Tionghoa dan mereka sangat loyal terhadap pemerintah kolonial
Belanda (Arif, 2014).
Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) terkenal dengan jalur damai, artinya, Islam
masuk ke wilayah nusantara secara bertahap dengan jalur perdagangan, budaya, kekeluargaan
(pernikahan) yang memunculkan terwujudnya akulturasi budaya sehingga mewujudkan
kehidupan yang harmonis bagi masyarakat Indonesia. Salah satu jalur masuknya Islam ke
Nusantara menurut sebagian sumber adalah melalui jalur Asia (Tiongkok) pada abad ke 14-15
M, hal ini dibuktikan dengan kehadiran (pelayaran) Panglima Laksamana Cheng Ho pada
masa Dinasti Ming yang saat itu dipegang Kaisar Yung Lo untuk beberapa kalinya membawa
misi diplomasi damai dan perdagangan serta menjalin hubungan baik dengan beberapa
kerajaan di wilayah Asia Tenggara, seperti Vietnam, Philipina dan Nusantara.
(Indonesia) pada masa keberadaan Kerajaan Majapahit pada tahun 1405 M. Studi ini
dimaksudkan untuk memahami model misi diplomasi perdamaian yang dilakukan oleh
Panglima Laksamana Cheng Ho (Zheng He) di wilayah Nusantara (Indonesia) yang secara
fenomenal telah meninggalkan catatan emas (torehan sejarah indah) dalam melakukan strategi
“model diplomasi hubungan internasional” antar kerajaan (negara) di wilayah Asia Tenggara
yang terjadi secara harmonis dan penuh perdamaian dalam rangka berbagi bersama nilai-nilai
agama, budaya dan kehidupan sosial. Model strategi diplomasi laksamana Cheng Ho ini
kedepan diharapkan menjadi role model bagi diplomasi baik yang dilakukan oleh aktor negara
mapun aktor non state dalam melakukan hubungan kerjasama, hubung diplomasi antar negara
yang membawa misi persahabatan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Studi ini berusaha
menjelaskan; pertama, misi diplomasi soft power Laksamana Cheng Ho dalam lawatannya di
Nusantara pada abad ke 14-15 M dalam bingkai diplomasi profetik, kedua; menganalisis
dampak lawataan Laksamana Cheng Ho di Nusantara dalam kaitannya prospek hubungan
diplomatik Indonesia-China di masa kini dan yang akan datang dalam perspektif sarjana
muslim Indonesia (Rohman & Mansyur, 2022).
Nilai-nilai budaya yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia ialah suatu kekuatan yang
luar biasa dan perlu di pergunakan dengan baik. Wujud akulturasi budaya dapat secara
konseptual dilihat sehingga suatu proses hubungan antara dua golongan yang masing-masing
mempunyai kedudukan yang sama. Pada seluruh aspek kehidupan dengan manusia toleransi
sangat dibutuhkan. Interaksi sosial ialah kepentingan utama dari seluruh kehidupan sosial. Dan
oleh karena itu tanpa toleransi sosial yang baik tidak mungkin ada yang namanya kehidupan
bersama. Pada kaitannya dalam metode interaksi masyarakat yang bertentangan kalangan atau
suku bangsa, akulturasi adalah usaha untuk mempertunjukkan identitas kelompok, suku atau
etnik.
Koentjaraningrat (Cynthia, A.S., 2017) sebutan akulturasi memiliki makna proses sosial
yang muncul bila suatu golongan masyarakat dengan memiliki budaya tertentu disandingkan
pada komponen dari sesuatu budaya luar dengan sedemikian rupa, mengakibatkan wujud
kebudayaan luar tersebut semakin lama akan diterima dan dijadikan kedalam kebudayaan
tersebut dengan tidak menimbulkan hilangnya personlitas budaya itu sendiri. Selain itu,
Koentjaraningrat (Puji A, 2014) akulturasi adalah metode sosial yang muncul apabila suatu
golongan masyarakat dengan suatu budaya terbatas dihadapkan dengan komponen dari suatu
budaya luar dengan sedemikian rupa, maka dari itu bentuk kebudayaan luar tersebut semakin
lama akan diterima dan dijadikan kedalam kebudayaan tersebut dengan tidak menimbulkan
hilangnya personlitas budaya. Pengetahuan sosial dimengerti sebenarnya akulturasi ialah
persatuan wujud kebudayaan yang tidak sama lalu diiringi menggunakan penggabungan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
226
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
bentuk-bentuk itu, tetapi perbandingan antara bentuk asing dengan yang asli masih terlihat
(Wibowo, 2012).
4. Kesimpulan
Klojen adalah salah satu daerah administratif di era pasca terjadinya geger pecinan di
tahun 1740 yang menyebabkan banyak orang-orang etnis tionghoa yang masuk ke wilayah
Surabaya, sidokare sampai ke daerah malang untuk bermukim yang di sebut kompleks
petcinan (rumah dan toko) milik orang-orang etnis tionghoa. Etnis di Indonesia di bagi
menjadi tiga yakni belanda (kulit putih), cina, arab dan india (kulit kuning) dan kulit sawo
matang jongos (pembantu laki-laki) baboe (pembantu perempuan) inlander (bumi putra).
Komplek klojen (kajoetangan dari segi sosial, ekonomi dan budaya) sangat berkolaboratif
baik dari etnis arab dan cina serta arsitektur eropa, asia timur raya dan timur tengah serta jawa.
Konservasi, penentuan kawasan dan bangunan cagar budaya serta pembangunan kawasan
kota bersejarah bukan merupakan hambatan terhadap kemajuan zaman, tetapi justru dapat
mewujudkan lingkungan kota yang lebih harmonis antara bangunan yang lama dengan
bangunan yang baru (modern). Kota-kota bersejarah merupakan bukti tentang warisan nenek
moyang, namun bagaimanapun juga kota bersejarah di negara Indonesia masih belum dapat
diterima oleh semua pihak. Keadaan ini mungkin berawal dari tahap apresiasi yang sangat
rendah terhadap kualitas dan kuantitas sejarah dan budaya dibanding dengan aspek lainnya,
seperti ekonomi dan sejenisnya.dan bukan pula tulisan ulang dari pembahasan.
5. Daftar Pustaka
2023, K. et al. (2021). No Title 済無 No Title No Title No Title. 32(3), 167186.
Arif, M. (2014). Model kerukunan Cina Benteng. Sosio Didaktika, 1(1), 5263.
Canisius, P., & Laksito, E. (1942). Sejarah Pastoral Keuskupan Surabaya : 1850-1942. 97
119.
Chawari, M., Pratama, H. R., Priswanto, H., & Tjahjono, B. D. (2023). Bangunan Indis
sebagai Penanda Kota Surabaya , Jawa Timur Indische Building as City Landmarks of
Surabaya , East Java. 199222.
Dengan, T., & Pribumi, M. (n.d.). 4 1) 2). 21(2), 177200.
Erveline Basri, D. M., Masieh, A. N., Shafira, F. B., & Sandora, P. A. (2020). Kajian Elemen
Arsitektur Cina Studi Kasus: Bangunan Klenteng di Kawasan Pecinan Glodok.
Arsitekta : Jurnal Arsitektur Dan Kota Berkelanjutan, 2(02), 19.
https://doi.org/10.47970/arsitekta.v2i02.197
Journal, E., Danial, M. F., Lasono, A. T., Retno, N., Siti, D., & Haliza, N. (2025). Volume 1
Nomor 2 ( 2025 ) Pages 159 168 JHN : Jurnal Hukum Nusantara Pancasila Sebagai
Landasan Moral dalam Mengatasi Diskriminasi Etnis : Studi Kasus Diskriminasi
Terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia. 2, 159168.
Malang, D. I., Septian, M. A., Artono, D., & Hum, M. (2025). Aktivitas Sosial Ekonomi
Etnis Tionghoa Volume … , No . … Tahun 2025.
Pendidikan, J., & Sosial, I. (2016). JPIS , Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 25, No. 1,
Edisi Juni 2016 110. 25(1), 110116.
Puslitbang, P., Beragama, K., & Kemenag, B. (2015). Aktualisasi Ajaran Konfusianisme
dalam Membangun Nasionalisme Etnis Tionghoa. Jurnal SMaRT, 01(02), 165175.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 219-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
227
Achmad Anton Rizqika Walikrom et.al (Aktivitas Sosial-Ekonomi di tahun 1930....)
Rohman, A., & Mansyur, H. M. (2022). ( Studi Analisis Pada Lawatan Cheng Ho Di
Nusantara ). Dauliyah, 7(2), 131.
Saffanah, W. M. (1930). Industrialisasi Dan Berkembangnya Kota Malang Pada Awal Abad
Ke-20 Pendahuluan Sejarah Lahirnya Kotapradja Malang. 167180.
Wibowo, P. (2012). Tionghoa Dalam Keberagaman Indonesia: Sebuah Perspektif Historis
Tentang Posisi dan Identitas. Prosiding The 4th International Conference on Indonesian
Studies: “Unity, Diversity and Future,” 640–657.
https://icssis.files.wordpress.com/2012/05/09102012-52.pdf