totok di Indonesia membuat lingkungannya sendiri untuk dapat hidup secara ”eksklusif”
dengan tetap mempertahankan kebudayaan atau tradisi leluhur (Revida, 2006, hlm. 25-26).
Berdasarkan pengamatan sementara penulis, walaupun kaum Cina totok telah hidup di
Indonesia, namun mereka sangat mempertahankan tradisi leluhur. Mereka tetap menggunakan
bahasa Cina dalam berkomunikasi. Selain itu, membatasi pergaulan dengan orang pribumi.
Hal ini dikarenakan banyak perbedaan cara pandang dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.
Golongan Tionghoa peranakan merupakan golongan yang kebudayaannya sudah tercampur
dengan kebudayaan lokal. Sedangkan orang totok masih sangat memegang tradisi dan adat
kehidupan Cina, ini terlibat pada agama dan kepercayaan, gaya hidup, kebudayaan dan
orientasi hidup. Seiring dengan perkembangan zaman, kaum Peranakan semakin banyak, dan
kaum totok semakin berkurang. Kaum peranakan lebih terbuka dalam menerima perubahan,
baik perubahan budaya, agama, maupun bahasa. Dinamika posisi identitas etnis Tionghoa
sebenarnya terkait perlakuan yang diterima dari pihak penguasa (Eriyanti, 2006, hlm. 29).
Setelah Indonesia merdeka, banyak etnis Tionghoa yang menjadi warga negara Indonesia
(Pendidikan & Sosial, 2016). Keunikan masyarakat Cina Benteng terletak pada perpaduan
antara keteguhan dan sekaligus kelenturan. Mereka merupakan masyarakat yang teguh
memegang adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Hal ini terwujud
dalam pelaksanaan upacara sekitar siklus kehidupan (perkawinan ciotao, kehamilan, dan
kematian) dan upacara hari-hari besar agama (tahun baru Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng Peh
Cun, dan lain sebagainya). Seperti halnya rumahrumah warga Tionghoa pada umumnya, di
dalam rumah-rumah mereka masih didapati altar leluhur sebagai ciri utama kebudayaan
Tionghoa. Pada sisi yang lain, masyarakat Cina Benteng merupakan masyarakat yang lentur.
Hal ini ditunjukkan dengan proses amalgamasi, asimilasi, dan akulturasi dengan masyarakat
dan sekaligus kebudayaan setempat. Istilah “China Benteng” berasal dari kata “Benteng”,
sebuah nama yang bermula dari keberadaan sebuah benteng Belanda di kota Tangerang, yakni
yang berada di pinggir sungai Cisedane.
Benteng Belanda tersebut dibangun sebagai pos pengamanan guna mencegah serangan
yang datang dari Kesultanan Banten. Dikaitkan dengan keberadaan Kesultanan Banteng,
benteng tersebut merupakan benteng terdepan bagi pertahanan Belanda di pulau Jawa.
Menurut Widodo Adi, keberadaan masayarakat Cina Benteng terjadi setelah pemberontakan
Cina di Batavia pada tahun 1740 di mana sebagian besar orang-orang Cina lari ke kawasan
Tangerang dan sebagaian lagi ke Bekasi. Kawasan Kedaung, Kampung Melayu dan Teluk
Naga di Tangerang menjadi kantungkantung pecinan baru. Pemberontakan terjadi untuk
merespon keputusanGubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang Cina yang
dicurigai. Mereka akan dikirim ke Srilanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan
milik VOC. Namun, pemberontakan tersebut segera dapat ditumpas dan bahkan
perkampungan-perkampungan Cina di Batavia dihancurkan. Sedikitnya 10.000 orang tewas.
Sejak saat itu orang-orang Cina mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang,
seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor. tragedi
Batavia pada tahun 1740 tersebut, banyak orang Tionghoa di Batavia yang kemudian pindah
bermukim di daerah Tangerang dekat daerah bekas benteng Belanda.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal dari penyebutan “Cina Benteng” bagi
masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah tersebut. Mereka kemudian membaur
dengan masyarakat setempat, bahkan tidak sedikit di antaranya yang memeluk agama Islam,
menolak makan babi, serta menyatu dengan adat istiadat penduduk setempat. Menyangkut
perpindahan agama tersebut memang terdapat beberapa penjelasan, antara lain adalah untuk
menghindari pajak kepala yang khusus dikenakan kepada orang-orang Tionghoa pada saat itu
dan agar diterima secara baik oleh penduduk setempat. Bahkan tidak sedikit di antara mereka
yang melakukan amalgamasi, yakni dengan menikahi wanita setempat, sehingga memberikan