Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
425
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi
Simulasi PhET dalam Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis Peserta Didik pada Pembelajaran
Fisika
Rizatul Iza
a,1
,
Fatimah
b,2
, Lissa Zikriana
c,3
a
Mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Almuslim
b,c
Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Almuslim
1
rizatulizaiza@gmail.com,
2
icut.unimus88@gmail.com,
3
lissazikrian[email protected]om
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Mei 2026
Direvisi: 27Juni 2026
Disetujui: 8 Juli 2026
Tersedia Daring: 30 Juli 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran
discovvery learning Terintegrasi PhET dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis peserta didik di kelas XI SMA Negeri 1 Peusangan pada materi
suhu dan kalor. Pendekatan yang digunakan kuantitatif dengan jenis
penelitian eksperimen semu. Sampel dan populasi dalam penelitian ini
adalah peserta didik kelas XI.
1
dan XI.
2
berjumlah 19 peserta didik. Teknik
pengumpulan data menggunakan tes. Teknik analisis data menggunakan
analisis pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji t
sebesar 4,218 > 1,687, hipotesis nihil (H₀) diterima dan hipotesis kerja (H₁)
ditolak dan hipotesis kerja (H₁) diterima dengan demikian kemampuan
berpikir kritis peserta didik kelas IX SMA Negeri 1 Peusangan pada materi
suhu dan kalor sesudah pembelajaran lebih baik dari pada sebelum
pembelajaran melalui menerapkan model pembelajaran Discovery Learning
Terintegrasi PhET. Hal ini berarti bahwa penggunan model pembelajaran
Discovery Learning Terintegrasi PhET dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis pada materi suhu dan kalor di kelas IX SMA Negeri 1
Peusangan.
Kata Kunci:
Discovvery Learning
Terintegrasi PhET
Kemampuan Berpikir Kritis
Suhu dan Kalor
ABSTRACT
Keywords:
Discovery Learning
integrated with PhET,
Critical Thinking Skills,
Temperature and Heat
This study aims to determine the use of the Discovery Learning model
integrated with PhET in improving the critical thinking skills of students in
grade XI at SMA Negeri 1 Peusangan on the topic of temperature and heat. The
approach used is quantitative with a quasi-experimental research design. The
population and samples in this study were students of classes XI.
1
and XI.
2
,
consisting of 19 students in each class. The data collection technique used a
test of critical thinking skills. The data analysis technique was conducted using
hypothesis testing with a t-test. The results showed that the calculated t-value
was 4.218, which is greater than the t-table value of 1.687 (4.218 > 1.687).
Therefore, the null hypothesis (H₀) is rejected and the alternative hypothesis
(H₁) is accepted. Thus, the critical thinking skills of grade XI students at SMA
Negeri 1 Peusangan on the topic of temperature and heat after the
implementation of learning are better than before the implementation of
learning through the Discovery Learning model integrated with PhET. This
indicates that the use of the Discovery Learning model integrated with PhET
can improve students' critical thinking skills on the topic of temperature and
heat.
©2026, Rizatul Iza, Fatimah, Lissa Zikriana
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
426
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan faktor pendukung untuk keberhasilan pembangunan suatu bangsa
dan dapat memperlancar dalam proses pendidikan, maka pendidikan harus menjadi tanggung
jawab masyarakat adalah mendukung program pendidikan serta menjaga fasilitas yang telah di
sediakan atau dibangun oleh pemerintah. Adapun tanggung jawab pemerintah dengan
menyediakan fasilitas yang diperlukan, fasilitas merupakan faktor yang mendukung dalam
proses belajar mengajar, karena dengan adanya fasilitas dapat memperlancar proses belajar
mengajar. Fisika menurut Prasetyo (2016) sebagai cabang ilmu pengetahuan alam atau sains
pada dasarnya memiliki hakikat yang sama dengan sains itu sendiri. Sains dapat dipandang
sebagai sekumpulan pengetahuan, sebagai cara berpikir dan sebagai cara penyelidikan. Sains
sebagai sekumpulan pengetahuan merupakan hasil penemuan dari kegiatan kreatif para
ilmuwan selama berabad-abad, sains sebagai cara berpikir merupakan aktivitas manusia yang
ditandai dengan proses berpikir yang berlangsung di dalam pikiran orangorang yang
berkecimpung dalam bidang itu, sedangkan sains sebagai cara penyelidikan memberikan
ilustrasi tentang pendekatan-pendekatan yang digunakan ilmuwan dalam menyusun
pengetahuan. Makna secara luas, fisika adalah ilmu tentang alam.
Keterampilan berpikir kreatif sangat penting untuk dimiliki tiap individu sehingga
pembelajaran yang berhubungan dengan kreativitas harus diterapkan di sekolah. Hal ini
terjawab didalam Kepmendikbudristek No. 56 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum
didalam Struktur Kurikulum Merdeka lebih tepatnya pada Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila. Pemerintah menetapkan tema utama projek penguatan profil pelajar pancasila yang
berhubungan dengan kreativitas untuk jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat ialah tema
Rekayasa dan Teknologi. Tema tersebut menuntut peserta didik untuk memiliki daya pikir
kritis, kreatif, inovatif untuk dikembangkan. Karena dengan memiliki keterampilan tersebut
dapat mendorong seseorang untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi
dikehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan berpikir kreatif penting untuk
dimiliki. Berpikir pada umumnya diartikan sebagai proses mental. Widana dan Septiari
(2021:217) mengartikan bahwa berpikir kreatif ialah sebuah keterampilan individu yang dapat
menghasilkan gagasan baru dan melahirkan ide yang kompleks dan berbeda dengan orang lain
sehingga mampu memecahkan masalah dengan mencari solusi terbaik melalui sudut pandang
yang berbeda.
Sementara berpikir kreatif yang diartikan oleh Istiningsih, dkk (2019:3) ialah suatu usaha
mengaitkan benda atau gagasan yang tidak saling terkait sebelumnya. Seseorang dapat
dikatakan kreatif apabila dapat melihat dan menghubungkan sesuatu dari sudut pandang yang
baru sehingga orang yang berpikir kreatif mampu mengatasi suatu persoalan didalam
kehidupan dengan cara yang segar, unik dan inovatif. Maka dengan hal itu dapat disimpulkan
bahwa berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental dimana seseorang memiliki suatu
keterampilan berpikir dalam menemukan dan menghubungkan hal baru sehingga menciptakan
suatu gagasan yang baru. Melalui keterampilan berpikir kreatif seseorang dibawa untuk melihat
dan melakukan sesuatu dengan cara dan dari sudut pandang yang baru serta berbeda dari
biasanya.
Berdasarkan temuan observasi dan hasil wawancara pada saat PPL semester ganjil
tanggal 21 November 2023 yang peneliti lakukan di SMA Negeri 1 Peusangan bahwa masih
ditemukan golongan peserta didik yang pasif di dalam kelas, juga ditemukan peserta didik yang
sulit menyelesaikan masalahnya sendiri khususnya berhubungan dengan materi suhu dan kalor.
Selain itu, permasalahan lain yang ditemukan berdasarkan hasil observasi peneliti proses
pembelajaran masih pembelajaran satu arah, biarpun ada beberapa guru sudah menggunakan
model variasi dan media kreatif namun banyak yang susah dalam mengikuti atau memahami
pelajaran yang diberikan. Selama ini pembelajaran lebih menekankan dalam meningkatkan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
427
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
pengetahuan kemampuan peserta didik saja, tidak dilakukan pembelajaran yang melatih peserta
didik untuk berpikir cara menyelesaikan masalah materi sendiri sesuai dengan kehidupan
sehari-hari. Guru hanya mengupayakan kemampuan berpikir kreatif peserta didik meningkat
tanpa memikirkan keterampilan serta pola pikir yang ingin dibangun peserta didik.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis perlu dilakukan seiring dengan pengembangan
cara mengevaluasi atau cara mengukurnya. Berpikir kritis sebagai proses konstruksi ide yang
menekankan pada aspek kelancaran, keluwesan, kebaruan, dan keterincian. Tujuannya tidak
lain untuk mendorong para peserta didik dapat mengembangkan hasil pemikiran mereka tanpa
harus terpaku pada cara yang telah diajarkan oleh guru. Agar kreativitas peserta didik dapat
terwujud dibutuhkan adanya dorongan kemampuannya meningkat hal ini berdampak pada
kemampuan berpikir kritis peserta didik yang meningkat pula menjadi lebih baik. Kemampuan
berpikir kritis fisika pada dasarnya adalah hasil yang dicapai dalam usaha penguasaan materi
dan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu kegiatan yang menuju terbentuknya kepribadian
seutuhnya.
Solusi yang digunakan dalam penyelesaian masalah di atas, peneliti menggunakan
pembelajaran Discovery learning Terintegrasi PhET. Salah satu model pembelajaran yang
dapat memotivasi belajar peserta didik adalah model pembelajaran Discovery learning.
Discovery learning adalah model pembelajaran yang lebih menekankan pada proses peserta
didik mencari dan menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi. Model pembelajaran
Discovery learning memiliki banyak keunggulan, antara lain memberikan informasi yang
sangat personal kepada peserta didik, sehingga materi pembelajaran menembus ingatan peserta
didik, dapat menggugah semangat belajar peserta didik, dapat meningkatkan tingkat
penghargaan pada diri peserta didik, mendorong peserta didik berpikir dan bekerja atas inisiatif
sendiri, dan melatih peserta didik belajar mandiri. Pada saat ini sudah terdapat salah satu
software berupa PhET Simulation yang menggantikan laboratorium nyata dengan laboratorium
visual untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik.
Penelitian Mustika (2024) bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
discovery learning berbantuan media PhET pada materi Energi Alternatif terhadap
keterampilan berpikir kritis siswa kelas X SMA di kota Cirebon tahun pelajaran 2024/2025.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran
discovery learning berbantuan media PhET pada materi Energi Alternatif siswa kelas X SMA.
Penelitian yang dilakukan Novita Riskyka Sari Bukit yang berjudul “Pengembangan E-Modul
Berbasis Discovery learning Pada Materi Hukum Newton Untuk Meningkatkan Motivasi
Belajar Peserta Didik Di SMA Negeri 7 Medan T.P 2021/2022” memperoleh rata-rata 85,4%
dan 88,8% dengan kategori sangat praktis. Hasil uji keefektifan terhadap motivasi belajar
memperoleh n-gain 0,49 dan 0,50 dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa e-
modul yang dikembangkan sangat layak dan sangat praktis sebagai bahan ajar serta efektif
dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, diperlukan adanya upaya dari guru untuk memilih
dan menerapkan model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis
peserta didik dalam pembelajaran fisika, khususnya pada materi suhu dan kalor. Salah satu
alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model Discovery Learning yang
terintegrasi dengan media simulasi PhET. Model ini diharapkan mampu membantu peserta
didik lebih aktif dalam menemukan konsep, memahami materi secara mandiri, serta melatih
kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan eksplorasi dan pemecahan masalah. Oleh karena
itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Efektivitas Model Discovery
Learning Terintegrasi Simulasi PhET dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
428
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment
dan desain pretest-posttest control group design sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu
melihat pengaruh hubungan sebab akibat antar variabel penelitian. Menurut Arikunto
(2017:9), “penelitian eksperimen merupakan suatu cara untuk mencari hubungan sebab
akibat antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan dieliminasi faktor-
faktor lain yang mengganggu.” Desain penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas
eksperimen dan kelas kontrol, yang diberikan pretest dan posttest.Adapun rancangan
penelitiannya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Desain Penelitian
Keterangan:
O
1
= Pretest pada kelas eksperimen
O
2
= Posttest pada kelas eksperimen
O
3
= Pretest pada kelas kontrol
O
4
= Posttest pada kelas kontrol
X
E
= Penerapan Pembelajaran Discovery Learning Terintegrasi PhET dan LKPD
X
K
= Penerapan Pembelajaran Discovery Learning
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI SMA Negeri 1 Peusangan pada semester II
tahun ajaran 2024/2025. Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas XI yang
terdiri atas tiga kelas dengan jumlah 75 peserta didik. Menurut Sugiyono (2017), “populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan.” Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Menurut
Sugiyono (2017), “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut.” Sampel penelitian terdiri atas kelas XI.1 sebagai kelas eksperimen dan
kelas XI.2 sebagai kelas kontrol dengan jumlah masing-masing 19 peserta didik. Pemilihan
sampel didasarkan pada kemampuan awal peserta didik yang relatif sama.
Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes tertulis dalam bentuk pretest dan
posttest sebanyak 10 soal pilihan ganda yang telah divalidasi. Pretest diberikan sebelum
pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, sedangkan posttest
diberikan setelah pembelajaran untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis peserta didik
setelah diberikan perlakuan. Teknik analisis data yang digunakan meliputi statistik deskriptif
dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data melalui
nilai rata-rata dan standar deviasi. Statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis
penelitian menggunakan uji t-test. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2018:112) yang
menyatakan bahwa “penelitian yang sesungguhnya, pengaruh treatment dianalisis dengan uji
beda, pakai statistik t-test. Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara
signifikan.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan pada peserta didik kelas XI semester genap tahun ajaran
2024/2025 di SMA Negeri 1 Peusangan, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kondisi
sekolah tergolong baik dengan lingkungan yang bersih, rapi, dan tertata sehingga mendukung
Subjek
Pretest
Perlakuan
Posttest
Eksperimen
O
1
X
O
2
Kontrol
O
3
O
4
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
429
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
proses pembelajaran. Selain itu, lokasi sekolah juga cukup strategis dan mudah dijangkau oleh
masyarakat sekitar. Adapun jadwal pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.
Penelitian dilakukan pada kelas XI dengan melibatkan dua kelas, yaitu kelas XI
1
dan XI
2
Sebelum perlakuan diberikan, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tes awal (pretest) pada
kedua kelas untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik pada materi suhu dan kalor. Tes
yang diberikan terdiri atas 10 butir soal pilihan ganda yang dikerjakan secara individu oleh 19
peserta didik di setiap kelas. Data hasil pretest untuk kelas XI
1
dan XI
2
SMA Negeri 1
Peusangan materi suhu dan kalor dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Uji beda rata-rata pretest siswa kelas ekperimen dan kontrol
No
Pre Test
Nilai
Minimum
Nilai
Maksimum
Standar
Deviasi
Varian
Rata-
Rata
1
40
85
10.22
94,15
94,15
2
40
80
9,70
104,39
61,05
Berdasarkan tabel, nilai rata-rata pretest kelas eksperimen sebesar 94,15 dan kelas
kontrol sebesar 61,05. Setelah pretest, proses pembelajaran dilaksanakan menggunakan model
Discovery Learning terintegrasi PhET pada kelas eksperimen dan model konvensional pada
kelas kontrol. Penelitian dilakukan pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Peusangan
dengan 10 soal tes yang dikerjakan secara individu oleh 19 peserta didik di setiap kelas. Data
hasil posttest untuk kelas XI
1
dan XI
2
SMA Negeri 1 Peusangan materi suhu dan kalor
menggunakan model Discovvery Learning Terintegrasi PhET untuk kelas eksperimen dan
model konvensional dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji beda rata-rata posttest siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen
No
Post Test
Nilai
Minimum
Nilai
Maksimum
Standar
Deviasi
Varian
Rata-
Rata
1
60
85
6,36
40,50
76,05
2
55
85
8,86
78,51
70,79
Berdasarkan tabel, nilai rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 76,05, sedangkan
kelas kontrol sebesar 70,79. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis
peserta didik yang belajar menggunakan model Discovery Learning terintegrasi PhET lebih
baik dibandingkan model konvensional. Penelitian dilakukan pada peserta didik kelas XI SMA
Negeri 1 Peusangan dengan 10 soal tes yang dikerjakan secara individu oleh 19 peserta didik di
setiap kelas.
Tabel 4. Uji beda rata-rata N-gain siswa kelas ekperimen dan kontrol
No
Nilai
Minimum
Nilai
Maksimum
Standar
Deviasi
Varian
Rata-
Rata
1
0,00
0,63
0,20
0,04
0,29
2
-0,33
0,67
0,22
0,05
0,22
Berdasarkan tabel, nilai rata-rata N-gain kelas eksperimen sebesar 0,29, sedangkan kelas
kontrol sebesar 0,22. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir
kritis peserta didik pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Peningkatan
nilai pretest dan posttest kedua kelas dapat dilihat pada Grafik 1.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
430
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
Gambar 1. Perbandingan peningkatan kemampuan berpikir kritis
kelas kontrol dan kelas ekperimen
Berdasarkan Grafik 1 tersebut menunjukkan bahwa, dari perhitungan nilai gain didapat
nilai gain rata-rata kelas ekperimen 0,29 dan kelas kontrol 0,22. Dari nilai rata-rata n-gain
menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis rata-rata masih tergolong sedang.
Dari pengolahan data untuk uji normalitas kedua hasil tes, maka dapat dibuat dalam tabel hasil
uji normalitas untuk kelompok ekperimen dan kelas kontrol.
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Kelompok ekperimen dan kelas kontrol
Kelompok
Levene Statistic
df1
df2
Sig.
Kontrol
0,571
1
36
0,455
Eksperimen
3,227
1
36
0,081
Berdasarkan hasil uji normalitas, data kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi
normal. Uji homogenitas menggunakan uji F pada taraf signifikan α = 0,05 menunjukkan
bahwa F
hitung
< F
tabel
, sehingga kedua kelas memiliki varians yang homogen. Oleh karena itu,
pengujian hipotesis dilanjutkan menggunakan uji t.
Tabel 6. Hasil Uji Tes Rata-rata
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
F
Sig.
t
df
Sig.
(2-
tailed)
Mean
Differen
ce
Std.
Error
Differe
nce
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Lowe
r
Upper
Kemamp
uan
berpikir
kritis
Equal
variances
assumed
2,359
,133
2,103
36
,043
5,263
2,503
,187
10,339
Equal
variances not
assumed
2,103
32,66
7
,043
5,263
2,503
,169
10,357
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh t
hitung
sebesar 2,103. Sedangkan t
tabel
pada taraf
signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan (db = N
x
+ N
y
- 2) = 38 diperoleh: t
(0, 05)
(db)
=
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
431
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
1,686. Dengan demikian terlihat bahwa t
hitung
> t
tabel
yaitu 1,686> 2.021, hipotesis nihil (H
0
)
diterima dan hipotesis kerja (H
1
) ditolak. Dapat disimpulkan bahwa model Discovery
Learning terintegrasi PhET mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta
didik kelas XI SMA Negeri 1 Peusangan pada materi suhu dan kalor. Namun,
peningkatan tersebut belum optimal karena peserta didik belum terbiasa menggunakan
model pembelajaran tersebut sehingga masih mengalami kendala dalam mengikuti proses
pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru berperan menyiapkan perencanaan, sumber belajar,
dan mendukung proses pembelajaran, sedangkan metode ceramah lebih berpusat pada
penjelasan guru. Peserta didik memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan model
pembelajaran baru karena kesiapan dan kematangan belajar turut memengaruhi kemampuan
berpikir kritis mereka.
Penelitian Mustika (2024) bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
discovery learning berbantuan media PhET pada materi Energi Alternatif terhadap
keterampilan berpikir kritis siswa kelas X SMA di kota Cirebon tahun pelajaran 2024/2025.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran
discovery learning berbantuan media PhET pada materi Energi Alternatif siswa kelas X
SMA.Penelitian yang dilakukan Novita Riskyka Sari Bukit yang berjudul “Pengembangan E-
Modul Berbasis Discovery learning Pada Materi Hukum Newton Untuk Meningkatkan
Motivasi Belajar Peserta Didik Di SMA Negeri 7 Medan T.A 2021/2022” memperoleh rata-
rata 85,4% dan 88,8% dengan kategori sangat praktis. Hasil uji keefektifan terhadap motivasi
belajar memperoleh n-gain 0,49 dan 0,50 dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
e-modul yang dikembangkan sangat layak dan sangat praktis sebagai bahan ajar serta efektif
dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Zikriana, L. 2025) bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan digital siswa di SMP Negeri 3 Peusangan. Hasil analisis data
menunjukkan bahwa keterampilan digital mengalami peningkatan dimana N-gain yaitu 0,70
dengan kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa simulasi PhET dalam pembelajaran IPA
efektif meningkatkan keterampilan digital siswa, khususnya dalam penggunaan perangkat TIK,
pemanfaatan media pembelajaran digital serta kemampuan eksplorasi dan analisis konsep IPA
melalui simulasi interaktif. Dalam penelitian Fatimah (2025) telah dilakukan pengembangan
proses pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning yang bertujuan untuk
melihat ketuntasan belajar siswa kelas X IPA 3 SMA Negeri 2 Peusangan pada materi vector.
Setelah data hasil tes terkumpul, selanjutnya data dianalisis data dan membandingkan dengan
nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebesar 75%. Berdasarkan hasil analisis data
diperoleh nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal diperoleh sebesar 96,4%. Hal ini berarti
terjadi penggunaan model discovery learning berpengaruh terhadap ketuntasan belajar siswa
mengenai materi vektor.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan
model Discovery Learning terintegrasi simulasi PhET efektif dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Peusangan pada materi suhu dan kalor. Hal
ini ditunjukkan oleh hasil uji hipotesis yang memperoleh nilai t
hitung
=2,103t lebih besar
daripada t
tabel
=1,686 pada taraf signifikan 0,05, sehingga hipotesis kerja (H₁) diterima. Selain
itu, hasil rata-rata N-gain kelas eksperimen sebesar 0,29 lebih tinggi dibandingkan kelas
kontrol sebesar 0,22. Dengan demikian, penggunaan model Discovery Learning terintegrasi
PhET mampu membantu peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran, memahami
konsep secara mandiri, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran
fisika.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
432
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
5. Ucapan Terima Kasih
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga artikel ilmiah
ini dapat diselesaikan dengan baik, serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Ibu Fatimah, S.Pd., M.Si. dan Ibu Lissa Zikriana,
S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing, seluruh dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP
Universitas Almuslim, serta orang tua dan teman-teman atas bimbingan, ilmu, doa, dan
dukungan yang telah diberikan selama proses penyusunan artikel ini.
6. Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2017). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bruner, J. S. (1961). The act of discovery. Harvard Educational Review, 31(1), 2132.
Bruner, J. S. (1966). Toward a theory of instruction. Cambridge, MA: Harvard University
Press.
Clark, R. C., & Mayer, R. E. (2016). E-learning and the science of instruction. Wiley.
Dewi, S. P. (2020). Pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar siswa. Jurnal
Ilmiah Pendidikan, 8(1), 3340.
Erwinsyah, A. (2017). Manajemen pembelajaran dalam pendidikan. Jurnal Tarbawi, 14(2),
7589.
Faatimah, dkk. (2020). Analisis Ketuntasan Belajar Siswa Kelas X IPA 3 SMA Negeri 2
Peusangan Melalui Model Discovery Learning Pada Materi Vektor. Jurnal Pendidikan
Almuslim, Vol. VIII No.1.
Hake, R. R. (1998). Interactive-engagement versus traditional methods: A six-thousand-student
survey. American Journal of Physics, 66(1), 6474.
Hamalik, O. (2015). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Istiningsih, dkk. (2019). Pembelajaran inovatif dan kreatif. Yogyakarta: Deepublish.
Kemendikbudristek. (2021). Kurikulum merdeka: Pedoman implementasi. Jakarta:
Kementerian Pendidikan.
LaRose, R. (2010). The problem of media habits. Communication Theory, 20(2), 194222.
Lestari, D. (2021). Media PhET dalam pembelajaran fisika. Jurnal Pendidikan Sains
Indonesia, 9(2), 110118.
Mayer, R. E. (2009). Multimedia learning. Cambridge University Press.
Mustika. (2024). Pengaruh model discovery learning berbantuan PhET terhadap keterampilan
berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Fisika, 12(1), 4553.
Novita Riskyka Sari Bukit. (2022). Pengembangan e-modul berbasis discovery learning pada
materi hukum Newton. Jurnal Pendidikan Fisika, 10(2), 8897.
Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016). Inovasi model pembelajaran. Sidoarjo: Nizamia
Learning Center.
Prasetyo, B. (2016). Dasar-dasar fisika. Jakarta: Erlangga.
Purnomo, B. (2020). Evaluasi pembelajaran fisika. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 16(1),
5563.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 425-433
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
433
Rizatul Iza et.al (Efektivitas Model Discovery Learning Terintegrasi....)
Sari, D. K. (2022). Efektivitas discovery learning terhadap berpikir kritis siswa. Jurnal
Pendidikan Fisika, 11(3), 120128.
Slameto. (2015). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2018). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Trianto. (2014). Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyuni, S. (2021). Penggunaan media simulasi PhET dalam pembelajaran fisika. Jurnal
Inovasi Pendidikan, 7(2), 9098.
Widana, I. W., & Septiari, N. N. (2021). Kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran abad
21. Jurnal Pendidikan Indonesia, 10(2), 215225.
Wieman, C. E. (2004). Physics education research: Why is it needed? American Journal of
Physics, 72(1), 16.
Yuliana, R. (2019). Penerapan discovery learning untuk meningkatkan hasil belajar. Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran, 6(1), 4452.
Zikriana, L (2026).Optimalisasi Simulasi PhET dalam Pembelajaran IPA sebagai Upaya
Peningkatan Keterampilan Digital Siswa di SMP Negeri 3 Peusangan. Jurnal
Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(3).
Zubaidah, S. (2018). Keterampilan abad 21: berpikir kritis. Seminar Nasional Pendidikan
Biologi, 117.
Zulhelmi, dkk. (2020). Pengaruh model discovery learning terhadap kemampuan berpikir
kritis. Jurnal Pendidikan Sains, 8(1), 6068.