Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
205
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan Hidup
Guru Sekolah Negeri Dan Swasta
Aulia Febriyanti
a,1
, Melisa Safitri
b,2
, Dewi Purnama Sari
c,3
a,bc
Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten and 15417, Indonesia
1
2
melisasftr99@gmail.com;
3
dosen01569@unpam.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 25 Februari 2026
Direvisi: 18 Mei 2026
Disetujui: 24 Juni 2026
Tersedia Daring: 1 Juli 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara gaji guru dengan
tingkat kesejahteraan hidup guru di sekolah negeri dan swasta.
Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui
penyebaran kuesioner kepada 50 responden guru dari berbagai latar
belakang pendidikan dan instansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaji
memiliki pengaruh terhadap persepsi kesejahteraan hidup guru, khususnya
dalam aspek pemenuhan kebutuhan dasar, stabilitas emosional, dan
motivasi kerja. Namun demikian, ditemukan pula bahwa kesejahteraan tidak
hanya ditentukan oleh gaji, melainkan juga oleh faktor lain seperti
lingkungan kerja, beban tugas, dan kesempatan pengembangan diri. Temuan
ini memberikan kontribusi penting bagi pengambil kebijakan pendidikan
dalam merancang sistem penghargaan yang lebih berkeadilan dan
berorientasi pada peningkatan kualitas hidup tenaga pendidik.
Kata Kunci:
Gaji Guru
Kesejahteraan Hidup
Pendidikan
Sekolah Negeri dan Swasta
Tenaga Pendidik
ABSTRACT
Keywords:
Education
Educator
Public and Private Schools
Teacher salary
Well-being of Life
This study aims to examine the relationship between teacher salaries and the
level of teacher well-being in public and private schools. Using a descriptive
qualitative approach, data were collected through questionnaires distributed
to 50 teacher respondents from various educational backgrounds and
institutions. The results indicate that salary influences teachers' perceptions of
well-being, particularly in terms of meeting basic needs, emotional stability,
and work motivation. However, it was also found that well-being is not solely
determined by salary, but also by other factors such as the work environment,
workload, and opportunities for self-development. These findings provide an
important contribution to education policymakers in designing a more
equitable reward system oriented towards improving the quality of life of
educators.
©2026, Aulia Febriyanti, Melisa Safitri, Dewi Purnama Sari
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Profesi guru memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana
tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai tenaga profesional di bidang
pendidikan, guru bertanggung jawab dalam mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, serta mengevaluasi peserta didik di seluruh jenjang pendidikan. Oleh karena itu,
kualitas dan kesejahteraan guru menjadi aspek penting dalam pembangunan pendidikan nasional
(Oktafiana, Fathiyani, & Musdalifah, 2023).
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru di Indonesia masih
menjadi persoalan yang kompleks, terutama terkait ketimpangan gaji antara guru yang berstatus
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru non-PNS, baik di sekolah negeri maupun swasta. Sebagai
contoh, guru PNS di daerah seperti DKI Jakarta bisa memperoleh penghasilan hingga
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
206
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Rp15.000.000,00 per bulan. Di sisi lain, guru honorer di banyak daerah, terutama di sekolah
swasta, hanya menerima gaji sekitar Rp500.000,00 per bulan. Angka ini jauh di bawah Upah
Minimum Regional (UMR) dan tidak sebanding dengan beban kerja serta tanggung jawab yang
mereka emban (Apriliyani & Meilani, 2021).
Ketimpangan ini berdampak langsung pada kesejahteraan hidup guru, khususnya yang
bekerja di sekolah swasta atau berstatus non-PNS. Banyak dari mereka harus mencari pekerjaan
tambahan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang mengindikasikan bahwa profesi guru
belum sepenuhnya mampu menjamin kehidupan yang layak (Dhobith, 2024). Kondisi ini
berpotensi memengaruhi motivasi dan kualitas pengajaran di sekolah.
Beberapa penelitian sebelumnya sudah menyoroti isu kesejahteraan guru. Oktafiana,
Fathiyani, dan Musdalifah (2023) menekankan pentingnya kesejahteraan sebagai faktor yang
memengaruhi mutu pendidikan, namun kajiannya masih bersifat umum tanpa membedakan
status kepegawaian dan jenis sekolah. Dhobith (2024) mengulas aspek kebijakan terkait gaji
guru honorer, tetapi belum membandingkan kondisi nyata di lapangan antara guru di sekolah
negeri dan swasta. Sementara itu, Apriliyani dan Meilani (2021) meneliti sistem kompensasi di
satu SMK swasta dengan pendekatan kuantitatif, namun hanya terbatas pada satu lokasi dan
belum menggambarkan hubungan antara gaji dan kesejahteraan guru secara menyeluruh.
Dari berbagai penelitian tersebut, tampak adanya kekosongan kajian yang membahas secara
komparatif hubungan antara gaji dan kesejahteraan hidup guru di sekolah negeri dan swasta.
Padahal, perbedaan konteks institusi Pendidikan sangat mungkin memengaruhi perlakuan
terhadap guru, terutama dalam hal penggajian dan dukungan kesejahteraan. Dengan pendekatan
kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam bagaimana
persepsi dan pengalaman guru dalam menghadapi ketimpangan gaji, serta bagaimana hal
tersebut memengaruhi kesejahteraan hidup mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi guru di sekolah negeri dan swasta, dan menjadi
bahan refleksi dalam merumuskan kebijakan yang lebih adil bagi seluruh tenaga pendidik di
Indonesia.
2. Metode
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor
dalam Moleong (2000), penelitian kualitatif adalah prosedur yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini
bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai hubungan antara tingkat gaji dan
kesejahteraan hidup guru di sekolah negeri dan swasta. Dengan pendekatan deskriptif, penelitian
ini berusaha menggambarkan realitas sosial berdasarkan informasi empiris tanpa manipulasi
terhadap variabel yang diteliti.
Tempat dan waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan studi pustaka (library research) yang dilengkapi
dengan wawancara terbatas terhadap guru-guru di wilayah Jabodetabek. Studi pustaka dilakukan
dengan menelaah berbagai literatur ilmiah seperti buku, jurnal, artikel, dan dokumen pendidikan
yang relevan. Penelitian dilaksanakan selama periode Maret hingga Mei 2025, mencakup
tahapan pengumpulan data, analisis, dan penyusunan laporan akhir.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas:
1) Data Primer: Diperoleh dari studi pustaka berupa buku ilmiah, jurnal nasional dan
internasional, serta dokumen resmi terkait gaji dan kesejahteraan guru.
2) Data Sekunder: Diperoleh dari hasil wawancara semi-terstruktur dengan guru dari sekolah
negeri dan swasta di Jabodetabek sebagai pelengkap dan penguat data utama.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
207
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Fokus Penelitian
Fokus utama penelitian ini mencakup:
1) Tingkat gaji guru di sekolah negeri dan swasta.
2) Kesejahteraan hidup guru yang dipengaruhi oleh tingkat gaji, baik dari aspek ekonomi,
sosial, maupun psikologis.
3) Perbandingan kondisi kesejahteraan guru berdasarkan jenis lembaga tempat mengajar.
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Arikunto (2002), teknik pengumpulan data adalah metode yang digunakan untuk
memperoleh data secara sistematis. Dalam penelitian ini digunakan dua teknik:
1) Studi Pustaka: Penelusuran berbagai sumber ilmiah baik dalam bentuk cetak maupun digital
untuk mendapatkan data yang relevan dan kredibel.
2) Wawancara Semi-Terstruktur: Digunakan untuk menggali informasi langsung dari guru
mengenai pengalaman dan persepsi mereka terhadap gaji dan kesejahteraan. Panduan
wawancara disusun agar proses berjalan terarah namun fleksibel.
Uji Keabsahan Data
Untuk menjamin validitas data, digunakan teknik berikut:
1) Perpanjangan Pengamatan: Peneliti memperluas penelusuran referensi dan mengulang
wawancara jika diperlukan guna memastikan konsistensi data.
2) Ketekunan Pengamatan: Peneliti membaca dan membandingkan berbagai sumber literatur
dengan teliti guna memperoleh pemahaman yang utuh.
3) Triangulasi: Data dari studi pustaka dan hasil wawancara dibandingkan untuk menguji
kesesuaian informasi serta memperkuat keabsahan hasil.
Teknik Analisis Data
Mengacu pada Miles dan Huberman (1994), analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahapan:
1) Reduksi Data: Proses pemilahan data yang relevan, menyederhanakan informasi, dan
mengorganisasikannya dalam tema-tema tertentu.
2) Penyajian Data: Penyusunan data dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis agar
mudah dipahami dan dianalisis.
3) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi: Penyusunan interpretasi akhir dari data yang telah
dianalisis, dilanjutkan dengan pengecekan ulang terhadap sumber untuk memastikan
keakuratan makna.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis agar memperoleh hasil yang valid dan
relevan. Langkah pertama yang dilakukan adalah observasi awal untuk memahami latar belakang
perbedaan kesejahteraan antara guru negeri dan guru swasta di wilayah Jabodetabek. Observasi ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus merumuskan permasalahan yang akan diteliti.
Setelah melakukan observasi, peneliti menyusun instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner yang
telah divalidasi oleh ahli. Angket ini disusun berdasarkan indikator variabel X (Gaji Guru) dan variabel Y
(Kesejahteraan Guru), yang masing-masing terdiri dari 10 butir pernyataan, sehingga total terdapat 20
butir pernyataan yang disesuaikan dengan fokus penelitian. Setelah proses penyusunan dan validasi
instrumen selesai, angket tersebut disebarkan kepada 50 responden yang terdiri dari guru sekolah negeri
dan swasta di wilayah Jabodetabek.
Teknik penyebaran dilakukan secara daring untuk menjangkau responden secara lebih efisien.
Sebanyak 50 responden telah memberikan tanggapan terhadap angket yang berisi 20 pernyataan, mulai
dari P1 hingga P20, yang mengukur persepsi mereka terkait gaji dan kesejahteraan hidup. Data yang
terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui nilai rata-rata, standar
deviasi, serta gambaran umum persepsi responden terhadap kedua variabel. Selanjutnya, dilakukan uji
normalitas untuk memastikan distribusi data, serta uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan
antara persepsi gaji guru dan kesejahteraan guru. Hasil analisis ini kemudian diinterpretasikan dan
dibandingkan dengan teori serta penelitian terdahulu yang relevan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
208
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Tabel 1. Hasil olah data Deskriptif
Descriptive Statistics
Mean
Gaji guru (X)
24.560
Kesejahteraan guru (Y)
30.640
Tabel 2. Uji Normalitas
Shapiro-Wilk Test For Bivariate Normality
Shapiro-Wilk
p
Gaji Guru (X)
-
Kesejahteraan Guru (Y)
0.975
0.392
Tabel 3. Uji Korelasi Pearson
Pearson’s Correlations
Pearson’s r
p
Gaji Guru (X)
-
Kesejahteraan Guru (Y)
-0.202
0.160
Gambar 1. Grafik Scatterplot
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi gaji guru dengan
kesejahteraan hidup guru di sekolah negeri dan swasta. Responden dalam penelitian ini
berjumlah 50 orang guru dari berbagai latar belakang sekolah dan jenjang pendidikan. Setiap
responden mengisi angket yang mengukur dua variabel utama, yaitu persepsi terhadap gaji dan
persepsi terhadap kesejahteraan hidup. Dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa rata-rata
skor untuk persepsi gaji guru adalah (M=24,560, SD=5,614). Ini menunjukkan bahwa persepsi
responden terhadap gaji yang mereka terima berada pada kategori sedang. Sedangkan skor rata-
rata untuk kesejahteraan hidup guru (M=30,640, SD=5,57). Nilai ini juga menunjukkan bahwa
kesejahteraan yang dirasakan para guru berada pada kategori sedang. Meskipun demikian,
standar deviasi yang cukup besar di kedua variabel mengindikasikan adanya variasi persepsi
yang signifikan antarresponden. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perbedaan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
209
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
wilayah tempat mengajar, status kepegawaian (PNS atau honorer), lama pengalaman kerja, dan
tingkat beban kerja masing-masing guru.
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk memastikan bahwa
data memenuhi asumsi distribusi normal. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai signifikansi
untuk variabel kesejahteraan hidup lebih 16 besar dari 0,05. Dengan demikian, data dapat
dikatakan berdistribusi normal dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam uji korelasi
Pearson. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara persepsi
gaji dan kesejahteraan hidup adalah (r=-0,202, Sig.=0.05, p value=0,160). Korelasi negatif ini
menunjukkan adanya kecenderungan hubungan yang berlawanan arah, namun hubungan tersebut
berada pada tingkat yang sangat lemah. Lebih lanjut, nilai signifikansi yang melebihi 0,05
menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara persepsi guru terhadap gaji dengan tingkat kesejahteraan hidup
yang mereka rasakan. Visualisasi data dalam bentuk scatterplot juga menunjukkan bahwa
persebaran titik-titik data tidak membentuk pola linear yang jelas. Ini menguatkan temuan bahwa
tidak ada kecenderungan arah hubungan yang konsisten antara kedua variabel. Guru dengan
persepsi gaji tinggi belum tentu merasakan kesejahteraan hidup yang tinggi, begitu pula
sebaliknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi kesejahteraan hidup guru tidak
sepenuhnya ditentukan oleh persepsi mereka terhadap gaji. Hal ini mencerminkan bahwa faktor-
faktor non-finansial justru memiliki peran yang lebih besar dalam memengaruhi kesejahteraan
guru secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut dapat meliputi kondisi lingkungan kerja,
hubungan interpersonal dengan sesama guru dan pimpinan sekolah, rasa aman dalam bekerja,
serta penghargaan moral dan emosional yang diberikan oleh institusi. Temuan ini sejalan dengan
pendapat Suwandi (2020) yang menyatakan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya berkaitan
dengan aspek material, tetapi juga melibatkan aspek sosial, psikologis, dan emosional. Guru
yang merasa dihargai, memiliki relasi kerja yang sehat, dan merasa memiliki peran penting di
sekolah akan cenderung merasa lebih sejahtera, terlepas dari nominal gaji yang diterima.
Penelitian ini juga konsisten dengan hasil studi Wulandari dan Setiawan (2021) yang
menemukan bahwa pengakuan terhadap kinerja guru, peluang pengembangan diri, dan suasana
kerja yang kondusif memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kepuasan dan kesejahteraan guru.
Guru yang berada dalam lingkungan kerja suportif cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup
yang lebih tinggi, meskipun gaji yang mereka terima tidak termasuk dalam kategori tinggi.
Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bahwa peningkatan
kesejahteraan guru tidak cukup hanya dengan menaikkan gaji semata. Perlu adanya pendekatan
yang lebih menyeluruh, termasuk penguatan dukungan psikososial, pembinaan karier, serta
penciptaan lingkungan kerja yang sehat dan berdaya dukung tinggi. Pemerintah, dinas
pendidikan, dan pihak sekolah memiliki 17 peran sentral dalam membangun sistem pendidikan
yang memperhatikan kesejahteraan guru secara komprehensif, agar mereka dapat menjalankan
perannya secara optimal dalam mendidik generasi bangsa.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian guru negeri dan swasta
masih merasa gaji yang diterima belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meskipun demikian, banyak guru tetap memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup baik,
terutama dalam kepuasan kerja, semangat mengajar, dan kebahagiaan menjalani profesinya.
Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang lemah antara gaji dan
kesejahteraan hidup (r = 0.216). Hal ini menandakan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor finansial, tetapi juga oleh faktor non-finansial seperti lingkungan kerja,
motivasi pribadi, dan nilai sosial profesi guru.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
210
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Namun demikian, dari sisi kesejahteraan hidup, sebagian besar guru tetap menunjukkan
indikator positif, terutama dalam hal kepuasan kerja, semangat mengajar, dan rasa bahagia
menjalani profesinya. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan guru tidak sepenuhnya
ditentukan oleh besaran gaji, tetapi juga oleh faktor non-finansial seperti lingkungan kerja,
motivasi internal, dan nilai-nilai sosial yang melekat pada profesi guru.
Hasil uji korelasi deskriptif melalui Pearson correlation menunjukkan adanya hubungan
negatif yang lemah antara variabel gaji dan kesejahteraan hidup (r = 0.216). Ini mengindikasikan
bahwa meskipun gaji penting, tidak semua aspek kesejahteraan guru berbanding lurus
dengannya. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa kesejahteraan guru adalah konstruksi
multidimensional yang tidak hanya bisa diukur dari aspek finansial saja.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penelitian ini
6. Daftar Pustaka
Agustiningsih, R. (2021). Pengaruh Gaji terhadap Kesejahteraan Guru di Sekolah Dasar Negeri
dan Swasta di Jakarta. Jurnal Pendidikan dan Kesejahteraan, 12(1), 4555.
Apriliyani, S., & Meilani, R. I. (2021). Studi kasus sistem kompensasi guru honorer di
Indonesia. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 6(2), 177-190.
https://doi.org/10.17509/jpm.v4i2.1800
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bari, A., & Hidayat, R. (2022). Teori hirarki kebutuhan Maslow terhadap keputusan pembelian
merek gadget. Jurnal Motivasi: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 7(1), 9-14. Universitas
Muhammadiyah Palembang.https://jurnal.um palembang.ac.id/motivasi
Budiman, A. (2022). Kesenjangan Kesejahteraan Guru: Sebuah Potret Realita. Kompasiana.
Diakses dari https://www.kompasiana.com
Dhobith, A. (2024). Analisis kebijakan gaji guru honorer terhadap kesejahteraan hidup guru
honorer di Indonesia. Jurnal paramurabi,7(1), 44-62. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
Haryanto, D. (2023). Analisis Kepuasan Kerja dan Tingkat Pendapatan Guru Honorer di Sekolah
Swasta. Jurnal Pendidikan Indonesia, 19(2), 88101.
Kemendikbudristek. (2021). Kebijakan Pendidikan dan Kesejahteraan Guru Indonesia. Jakarta:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Maulana, H. (2020). Studi Perbandingan Kesejahteraan Guru Negeri dan Swasta di Wilayah
Urban. Jurnal Administrasi Pendidikan, 8(1), 1323.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods
Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Nurhadi, D. (2022). Tantangan Guru Swasta dalam Menjalani Profesi di Tengah Keterbatasan
Finansial. Jurnal Pendidikan dan Masyarakat, 7(1), 7784. 21
Oktafiani, R., Fathiyani, & Musdalifah. (2023). Analisis Kebijakan Kesejah guru terhadap
peningkatan kualitas pendidikan. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, 7(1), 1-15.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 2, Juli 2026, Page: 205-211
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
211
Aulia Febriyanti et.al (Hubungan Gaji Guru Dengan Kesejahteraan....)
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. (2014). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Suryana, D.
(2020). Korelasi Antara Gaji dan Kesejahteraan Kerja Guru. Jurnal Psikologi Pendidikan,
15(3), 154165.
Watif, M., Ramadhani, A., Jumiati, J., Tahir, L. S. A., & Hikmah, N. (2024). Ketimpangan sosial
dan kemiskinan pada masyarakat perkotaan. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan
https://doi.org/10.58588/peshum.v3i4.31 Humaniora, 3(4), 536-547.
Yuniarti, I. (2021). Kualitas Hidup Guru Berdasarkan Persepsi Terhadap Upah dan Penghargaan.
Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 5(4), 567574.