wilayah tempat mengajar, status kepegawaian (PNS atau honorer), lama pengalaman kerja, dan
tingkat beban kerja masing-masing guru.
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk memastikan bahwa
data memenuhi asumsi distribusi normal. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai signifikansi
untuk variabel kesejahteraan hidup lebih 16 besar dari 0,05. Dengan demikian, data dapat
dikatakan berdistribusi normal dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam uji korelasi
Pearson. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara persepsi
gaji dan kesejahteraan hidup adalah (r=-0,202, Sig.=0.05, p value=0,160). Korelasi negatif ini
menunjukkan adanya kecenderungan hubungan yang berlawanan arah, namun hubungan tersebut
berada pada tingkat yang sangat lemah. Lebih lanjut, nilai signifikansi yang melebihi 0,05
menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara persepsi guru terhadap gaji dengan tingkat kesejahteraan hidup
yang mereka rasakan. Visualisasi data dalam bentuk scatterplot juga menunjukkan bahwa
persebaran titik-titik data tidak membentuk pola linear yang jelas. Ini menguatkan temuan bahwa
tidak ada kecenderungan arah hubungan yang konsisten antara kedua variabel. Guru dengan
persepsi gaji tinggi belum tentu merasakan kesejahteraan hidup yang tinggi, begitu pula
sebaliknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi kesejahteraan hidup guru tidak
sepenuhnya ditentukan oleh persepsi mereka terhadap gaji. Hal ini mencerminkan bahwa faktor-
faktor non-finansial justru memiliki peran yang lebih besar dalam memengaruhi kesejahteraan
guru secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut dapat meliputi kondisi lingkungan kerja,
hubungan interpersonal dengan sesama guru dan pimpinan sekolah, rasa aman dalam bekerja,
serta penghargaan moral dan emosional yang diberikan oleh institusi. Temuan ini sejalan dengan
pendapat Suwandi (2020) yang menyatakan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya berkaitan
dengan aspek material, tetapi juga melibatkan aspek sosial, psikologis, dan emosional. Guru
yang merasa dihargai, memiliki relasi kerja yang sehat, dan merasa memiliki peran penting di
sekolah akan cenderung merasa lebih sejahtera, terlepas dari nominal gaji yang diterima.
Penelitian ini juga konsisten dengan hasil studi Wulandari dan Setiawan (2021) yang
menemukan bahwa pengakuan terhadap kinerja guru, peluang pengembangan diri, dan suasana
kerja yang kondusif memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kepuasan dan kesejahteraan guru.
Guru yang berada dalam lingkungan kerja suportif cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup
yang lebih tinggi, meskipun gaji yang mereka terima tidak termasuk dalam kategori tinggi.
Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bahwa peningkatan
kesejahteraan guru tidak cukup hanya dengan menaikkan gaji semata. Perlu adanya pendekatan
yang lebih menyeluruh, termasuk penguatan dukungan psikososial, pembinaan karier, serta
penciptaan lingkungan kerja yang sehat dan berdaya dukung tinggi. Pemerintah, dinas
pendidikan, dan pihak sekolah memiliki 17 peran sentral dalam membangun sistem pendidikan
yang memperhatikan kesejahteraan guru secara komprehensif, agar mereka dapat menjalankan
perannya secara optimal dalam mendidik generasi bangsa.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian guru negeri dan swasta
masih merasa gaji yang diterima belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meskipun demikian, banyak guru tetap memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup baik,
terutama dalam kepuasan kerja, semangat mengajar, dan kebahagiaan menjalani profesinya.
Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang lemah antara gaji dan
kesejahteraan hidup (r = 0.216). Hal ini menandakan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor finansial, tetapi juga oleh faktor non-finansial seperti lingkungan kerja,
motivasi pribadi, dan nilai sosial profesi guru.