Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
193
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa
dalam Mendukung Menulis Karya Ilmiah di
Politeknik Negeri Lampung
Upy Raudotul Jannah
a,1*
, Maisuri Hardani
b,2
, Gilang Zulfikar
c,3
a,b,c
Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung, 35144, Indonesia
1
upyraudotul@polinela.ac.id,
2
maisurihardani@polinela.ac.id,
3
gilangzulfikar@polinela.ac.id,
*
Upy Raudotul Jannah
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 18 Januari 2026
Direvisi: 27 Februari 2026
Disetujui: 19 Maret 2026
Tersedia Daring: 30 April 2026
Memiliki keterampilan literasi digital dapat menunjang penulisan karya tulis
ilmiah menjadi lebih bermutu. Berbagai hal teknis yang terkadang sering
disepelekan seperti terbuangnya waktu untuk merapihkan letak paragraf,
kesulitan mencari sumber referensi, kesulitan mengolah data menggunakan
basic software. Kesulitan Menyusun daftar Pustaka secara otomatis dan lain
sebaginya. Hal ini yang justru menjadi boomerang bagi perkembangan
teknologi. Bukanya memudahkan proses penulisan karya ilmiah melainkan
mempersulit prosesnya. Untuk itu penulis menganalisis sejauh mana tingkat
keterampilan mahasiswa dalam meguasai kecakapan digital guna menunjang
penulisan karya Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kemampuan
literasi digital mahasiswa yang ditinjau dari delapan aspek, Keahlian
fungsional, kreatifitas, kolaborasi, komunikasi, kemampuan memilih
informasi, pemikiran kritis, pemahaman sosial kultur, dan keamanan data.
metode yang digunakan penelitian deskriptif kuantitatif. hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi beberapa hambatan,
terutama dalam kreativitas, memilah informasi, berpikir kritis, dan keamanan
data. Hal ini yang menyebabkan karya ilmiah yang diproduksi menjadi
kurang baik. Dengan adanya literasi digital pada mahawiswa akan timbul
dampak posiitif untuk mempermudah proses penulisan karya ilmiah. Perlu
dilakukan pembiasaan dan pelatihan literasi digital mahasiswa mampu
dengan optimal menggunakan literasi digital untuk meningkatkan kualitas
karya ilmiah yang dihasilkan.
Kata Kunci:
Literasi digital,
mahasiswa,
Keterampilan menulis,
Karya Ilmiah.
ABSTRACT
Keywords:
Digital literacy,
Students,
Writing skills,
Scientific work
Having digital literacy skills can support the writing of scientific papers to be
more qualified. Various technical matters are sometimes often
underestimated such as wasted time tidying up the position of paragraphs,
difficulty finding reference sources, difficulty processing data using basic
software. Difficulty compiling bibliographies automatically and so on. This is
what actually backfires on technological developments. Instead of facilitating
the process of writing scientific papers, it complicates the process. Therefore,
the author analyzes the extent of students' skills in mastering digital skills to
support writing papers. The purpose of this study is to analyze students'
digital literacy skills reviewed from eight aspects, functional skills, creativity,
collaboration, communication, the ability to select information, critical
thinking, socio-cultural understanding, and data security. The method used is
quantitative descriptive research. The results of this study indicate that
students still face several obstacles, especially in creativity, sorting
information, critical thinking, and data security. This causes the scientific
papers produced to be less than good. With digital literacy in students, there
will be a positive impact to facilitate the process of writing scientific papers.
Digital literacy training and familiarization are needed to ensure students
are able to optimally utilize digital literacy to improve the quality of their
scientific work.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
194
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
©2026, Upy Raudotul Jannah, Maisuri Hardani, Gilang Zulfikar
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kemampuan menulis merupakan kompetensi fundamental yang esensial bagi mahasiswa,
terutama dalam menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas tinggi. Keterampilan ini tidak
hanya mencerminkan penguasaan materi akademik tetapi juga menjadi indikator literasi
akademik dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Pratama et al., 2021). Di era digital yang
berkembang pesat, kemampuan ini semakin relevan karena didukung oleh teknologi dan literasi
digital untuk penulisan karya ilmiah yang cepat, tepat, dan efisien (Tarigan et al., 2025).
Efisiensi dalam penulisan karya ilmiah menjadi kebutuhan mendesak mengingat tuntutan
akademik yang semakin tinggi dan kompleksitas penelitian di berbagai bidang (Supriyono et al.,
2025). Oleh karena itu, penguasaan literasi digital menjadi krusial dalam mendukung
kemampuan mahasiswa menyusun karya ilmiah secara sistematis dan terstruktur, sejalan dengan
kebutuhan akan penguasaan teknologi serta pemikiran kreatif dan inovatif (Silitonga et al.,
2023).
Kemampuan literasi digital memungkinkan mahasiswa untuk menavigasi, mengevaluasi,
dan mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber daring secara efektif, sebuah prasyarat
vital dalam penelitian modern (Maryatun, 2020). Kemampuan ini juga mencakup kapabilitas
untuk memanfaatkan teknologi informasi guna mengelola dan mengorganisir sumber daya
penelitian, sehingga mempercepat proses penulisan (Susanti, 2023). Selain itu, integrasi literasi
digital dalam proses penulisan karya ilmiah membantu mahasiswa dalam mengidentifikasi dan
memverifikasi informasi yang kredibel, serta mengimplementasikan etika penulisan guna
menghindari plagiarisme (Kurnia & Pristiwati, 2022; Nurhayati et al., 2025). Dengan demikian,
penguasaan literasi digital tidak hanya memfasilitasi akses informasi, tetapi juga meningkatkan
kualitas argumentasi dan validitas metodologi dalam karya ilmiah (Khoiroh et al., 2024).
Peningkatan kualitas ini tidak terlepas dari peran teknologi digital yang memfasilitasi
mahasiswa dalam pencarian referensi, analisis data, serta penyusunan teks yang lebih sistematis
(Haerani et al., 2025). Namun sebelum itu mahasiswa harus memiliki k kemampuan dasar yang
harus dikuasai sebelum mengasah kemampuan literasi digital lebih tinggi lagi yaitu:11 1).
Mengakses informasi dan membuat file, 2). Keterampilan dalam manajemen informasi, 3).
Kolaborasi efektif, komunikatif dalam pembuatan konten digital Tugba dkk, 2022). Dengan
mengasah kemampuan dasar yang disebutkan tersebut maka kemampuan literasi digital perlahan
akan dapat dikuasai oleh masing-masing setiap individu.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, Mahasiswa belum memiliki kemampuan yang
baik dalam mengolah serta memilah informasi yang di dapatkan. Pada penelitian ini akan
dianalisis setiap indikator dari kemampuan literasi digital mahasiswa serta akan dikaji
kemampuan literasi digital mahasiswa melalui perspektif lama studi, jenis kelamin dan status
pekerjaan. Hal tersebut menjadi keunikan dan pembeda penelitian ini dengan penelitian
terdahulu mengenai literasi digital. Analisis tersebut dirasa perlu dilakukan guna mengambil
keputusan untuk perbaikan proses pembelajaran mandiri yang sangat erat kaitannya dengan
literasi digital. Seperti yang diungkapkan oleh Catra & Biru (2020) bahwa untuk melakukan
pembelajaran secara mandiri yang optimal dibutuhkan keterampilan menggunakan teknologi
yang baik atau kemampuan literasi digital yang mumpuni. Litersi digital juga merupakan
kemampuan yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Putri,
Muhammadiyah, & Hamka, (2021) meneliti hubungan literasi digital dengan kesiapan kerja
generasi Z mendapatkan hasil bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara literasi
digital dengan kesiapan kerja.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
195
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kemampuan literasi digital mahasiswa yang
ditinjau dari Keahlian fungsional, kreatifitas, kolaborasi, komunikasi, kemampuan memilih
informasi, pemikiran kritis, pemahaman sosial kultur, dan keamanan data. Kesuama aspek
tersebut ditujukan agar mempermudah dan meningkatkan mutu karya ilmiah yang diproduksi
mahasiswa Politeknik Negeri Lampung.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif karena peneliti ingin memperoleh gambaran mengenai kemampuan literasi
digital mahasiswa dalam menunjang proses menulis karya ilmiah. Responden pada penelitian ini
adalah mahasiswa Politeknik Negeri Lampung dari berbagai Tingkat dan Jurusan. Yang terdiri
dari 100 orang responden. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket dengan
skala likert 1-5 yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk melihat kemampuan literasi
digital mahasiswa mengenai kemampuan berliterasi digital dengan menggunakan delapan
indicator yaitu: menggunakan teknologi, kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan etika
dalam teknologi dalam menunjang proses penulisan karya ilmiah. Teknik analisis data
menggunakan model Miles & Huberman agar data yang dihasilkan bisa lebih jelas dan
terperinci.
3. Hasil dan Pembahasan
Kemampuan untuk memahami, menganalisis,menilai, mengatur, dan mengevaluasi
informasi dengan bantuan teknologi digital disebut sebagai literasi digital (Paul Gilster (1997).
Literasi digital juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan
informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang dapat diakses melalui piranti
komputer (Syafrial, 2023). Ini berarti memahami berbagai teknologi dan bagaimana
menggunakannya, serta memahami bagaimana hal itu berdampak pada orang dan masyarakat.
Literasi digital terdiri dari delapan komponen: (1) Keahlian fungsional dan di luarnya. Ini
adalah komponen literasi digital yang berkaitan dengan keahlian menggunakan teknologi
informasi; (2) Kreatifitas. Ini adalah komponen literasi digital yang terkait dengan cara berpikir
kreatif menggunakan teknologi informasi untuk Strategi Peningkatan Kualitas Literasi Digital
Pada Masyarakat membangun pengetahuan; (3) Kolaborasi. Ini adalah komponen literasi digital
yang terkait dengan membangun pengetahuan melalui proses diskusi dan saling memberikan
masukan di ruang digital; (4) Komunikasi adalah komponen literasi digital yang mencakup
kemampuan mendengar, memahami, dan menyampaikan ide; (5) Kemampuan untuk
menemukan dan memilih informasi; (6) Pemikiran kritis dan evaluasi; (7) Pemahaman sosial dan
kultur; dan (8) Keamanan elektronik (Hague & Payton, 2011).
Memiliki keterampilan literasi digital dapat menunjang penulisan karya tulis ilmiah menjadi
lebih bermutu. Berbagai hal teknis yang terkadang sering disepelekan seperti terbuangnya waktu
untuk merapihkan letak paragraf, kesulitan mencari sumber referensi, kesulitan mengolah data
menggunakan basic software. Kesulitan Menyusun daftar Pustaka secara otomatis dan lain
sebaginya. Hal ini yang justru menjadi boomerang bagi perkembangan teknologi. Bukanya
memudahkan proses penulisan karya ilmiah melainkan mempersulit prosesnya. Untuk itu
penulis menganalisis sejauh mana tingkat keterampilan mahasiswa dalam meguasai kecakapan
digital guna menunjang penulisan karya ilmiah berdasarkan 8 komponen tersebut yang akan
dipaparkan sebagai berikut:
1. Keahlian fungsional dan di luarnya.
Bagian ini menjelaskana mengenai seberapa cakap mahasiswa Politeknik Negeri Lampung
dalam memahami dunia digital baik alat ataupun sistem yang berjalan didalamnya serta
menjelaskan sejauhmana mereka menggunakan teknologi ini untuk menunjang penulisan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
196
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
karya ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian dari 100 mahasiswa yang menjadi subjek. 100%
menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran mereka selalu menggunakan teknologi
digital khususnya dalam proses penulisan karya tulis ilmiah, seperti makalah, laporan
praktikum, tugas akhir. Teknologi yang digunakan seperti laptop, tablet, PC dan
Smartphone. Kemudian, semua subjek menggunakan aplikasi dasar pembuatan laporan
seperti Ms word untuk pengetikan, Excel untuk pengolahan data, Powerpoint untuk
mempresentasikan karya ilmiah, begitu juga dengan pencarian referensi ilmiah keseluruhan
responden melakukan penelusuran melalui internet. Namun beberapa responden menjawab
tidak semua karya ilmiah dibuat menggunakan teknologi. Karena beberapa karya ilmiah
seperti halnya laporan praktikum harus dibuat secara manual.
2. Kreatifitas.
Aspek kreatifitas meliputi kemampuan untuk dapat mengekspolarsi, mengkreasikan produk
dan luaran dalam berbagai format, serta merajut berbagai konten yang ada kemudian
menjadikanya hal baru. Jadi pada tahap ini responden tidak hanya bisa menemukan berbagai
sumber referensi melainkan mereka juga dapat mengubahnya menjadi beberapa hal yang
baru. 60% responden menjawab tidak terlalu mahir dalam mengkreasikan berbagai referensi
yang ada menjadi beberapa konten baru. 20% responde menjawab mahir mengkreasikan
berbagai referensi yang ada menjadi beberapa konten baru, sedangkan 20% sisanya
menjawab ragu-ragu dalam proses ini. Kreatifitas ini tidak datang dengan sendirinya salah
satu faktornya adalah jam terbang atau seberapa sering mereka menggunakan program
tersebut, kemudian faktor lainya adalah kecakapan pengguna seberapa mahir dapat
menggunakan aplikasi tertentu.
3. Kolaborasi.
Kolaborasi merupakan aspek penting dalam proses pembuatan karya ilmiah , pada dasarnya
tidak ada satu peneliti yang bisa menyelesaikan risetnya sendirian. Mereka harus
berkolaborasi dengan berbagai pihak agar kegiatan penelitian tersebut bisa berjalan sesuai
dengan rencana. Pada aspek ini diperlukan komunikasi yang efektif dan media yang tepat
sebagi ruang kolaborasi yang efektif. Berdasarjan hasil penelitian 75% Responden
menjawab mereka lebih nyaman menggunakan media digital sebagai ruang kolaboratif yang
efektif. Sedangkan 25 % sisanya lebih menyukai bertemu secara langsung guna menghindari
kesalahpahaman digital akibat kendala jaringan atau kendala perangkat. Selain itu , seluruh
responden menjawab lebih memilih berkolaborasi dalam membuat karya ilmiah agar bisa
mendapat wawasan yang lebih luas dan mempermudah dalam penyelesaian permasalahan
dalam pembuatan karya ilmiah.
4. Komunikasi
Komponen ini mencakup kemampuan mendengar, memahami, dan menyampaikan ide.
Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 80% responden menjawab lebih memilih melakukan
proses komunikasi dalam pembuatan karya ilmiah dengan berkomunikasi secara langsung,
hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan informasi dan konflik lainnya. Sedangkan
20 % responden lainnya memilih berkomunikasi melalui media digital agar lebih feksibel
dan meminimalisir ongkos perjalanan. Faktor penghambat komunikasi adalah jarak, waktu
serta kendala jaringan. Tiga hal ini yang menjadi pertimbangan responden dalam menjawab
pertanyaan.
5. Kemampuan untuk menemukan dan memilih informasi.
Berdasarkan hasil penelitian, pada bagian ini 65% responden menjawab terkadang tidak lagi
memilah informasi yang telah didapat dari platform digital. 15 % menjawab terkadang
mereka memilah informasi yang didapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa kepekaan
terhadap kebenaran dan ketepatan informasi yang didapatkan masih kurang. Namun
keseluruhan peserta sudah menggunakan platform digital untuk mengakses informasi yang
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
197
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
akan dijadikan referensi dalam karya ilmiah yang akan dibuat. Tindakan ini menyiratkan
bahwa kemampuan menemukan informasi dengan tepat sudah diterapkan.
6. Pemikiran kritis dan evaluasi.
Kemampuan lanjutan dari menemukan dan memilah informasi adalah mampu memiliki
pemikiran yang kritis dan mengevaluasi setiap informasi yang didapatkan. 87% responden
menjawab setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan maka sertamerta informasi
tersebut langsung digunakan. Tanpa melalui proses pengecekan terlebih dahulu, kemudian
13% sisanya terkadang melakukan proses pengecekan terlebih dahulu. Selain itu, sebanyak
78% responden menjawab kesulitan dalam proses pengecekan informasi. Terkadang mereka
tidak dapat membedakan mana informasi yang kredibel dan tidak, mana yang merupakan
fakta atau hoax, sedangkan sisanya dapat dengan mudah membedakan hal tersebut.
7. Pemahaman sosial dan kultur.
Aspek ini menitik beratkan pada budaya penulisan karya ilmiah yang baik berdasarkan etika
keilmuan yang berlaku.salah satu komponennya adalah etika pengutipan. Sebanyak 23%
responden menjawab tidak begitu memperhatikan etika pengutipan, sedangkan 73 %
responden memperhatikan etika pengutipan karena takut akan hukuman yang diterima.
8. Keamanan elektronik
Aspek terakhir merupakan aspek yang sering terlupakan, beberapa responden yang terdiri
dari mahasiswa berbagai Angkatan notabene masih menyepelekan hal tersebut. 51%
responden menjawab mereka masih menggunakan secara bersama akun atau gawai pribadi
tanpa keamanan tambahan. Sedangkan sisanya tidak berbagi informasi tentang akun ataupun
gawai pribadi yang mereka gunakan. Kemudian sebanyak 74% responden tidak membackup
file-file penting baik yang berbentuk digital atau fisik. Hal ini menunjukkkan bahwa aspek
keamanan elektronik masih belum menjadi prioritas responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi beberapa hambatan,
terutama dalam kreativitas, memilah informasi, berpikir kritis, dan keamanan data. Hal ini yang
menyebabkan karya ilmiah yang diproduksi menjadi kurang baik. Kemampuan menguasai
literasi digital bagi mahasiswa menjadi hal yang krusial. Literasi digital adalah suatu
kemampuan dalam memahami dan mengevaluasi informasi yang berasal dari media digital.
Dengan adanya meningkatnya kemampuan literasi digital pada mahasiswa akan timbul dampak
positif untuk mempermudah proses penulisan karya ilmiah. Perlu dilakukan pembiasaan dan
pelatihan literasi digital mahasiswa mampu dengan optimal menggunakan literasi digital untuk
meningkatkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan. Namun hal ini membutuhkan kesadaran,
usaha, dan waktu yang intens.
4. Daftar Pustaka
Anne, B. (2010). Doing Action Research in English Language Teaching: A guide
for Practitioner. New York: Routledge.
Daniel, W.W. (1980). Statistika nonparametrik terapan. (Terjemahan Tri Kuntjoro).
Jakarta: Gramedia.
Haerani, R., et al. (2025). Peningkatan Minat Belajar Siswa Melalui Media Pembelajaran Tari
Berbasis AI Di SMP Negeri 3 Kota Cimahi. Jurnal Ringkang Kajian seni tari dan
Pendidikan seni tari, Vol 5, No 3
Hague, C & Payton, S. (2010). Digital Literacy Across the Curriculum. Bristol: Futurelab.
Harmer, J. (2007). How to teach Writing. Cambridge: Cambridge University Press.
Hyland, K. (2003). Second language Writing. Cambridge: Cambridge University
Press.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 193-198
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
198
Upy Raudotul Jannah et.al (Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa dalam....)
Khoiroh, F., et al. (2024). Analysis of Digitalization Readiness in the Administrative
Information Service System for Early Childhood Education in Rokan Hilir Regency.
Jurnal Ilmiah Global Education, 6 (3). 18-28
Kurnia, M. D., & Pristiwati, R. (2022). Kompetensi Literasi Digital Mahasiswa Dalam Menulis
Artikel Opini. PEMBELAJAR: Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, Dan Pembelajaran,
6(1). 34-43
Maryatun, M. (2020). Efektivitas kegiatan literasi digital dalam meningkatkan kemampuan
penulisan karya ilmiah bagi mahasiswa: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi
.15(2).20-31
Nurhayati, S., et al. (2025). Pendidikan Masyarakat Menghadapi Digitalisasi :Jakarta. El
Markazi.
Paidi. (2008). Urgensi pengembangan kemam-puan pemecahan masalah dan
metakog-nitif siswa SMA melalui pembelajaran biologi. Prosiding, Seminar
dan Musyawarah Nasional MIPA yang diselenggarakan oleh FMIPA UNY,
tanggal 30 Mei 2008. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Pritchard, P.E. (1992). Studies on the bread-improving mechanism of fungal alpha-
amylase. Journal of Biological Education, 26 (1), 14-17.
Pratama, W. A., Hartini, S., & Misbah. (2019). Analisis Literasi Digital Siswa Melalui
Penerapan E-Learning Berbasis Schoology. Jurnal Inovasi Dan Pembelajaran Fisika,
06(1) . 112-123
Silitonga, M., et al. (2023). Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Melalui Model
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) di SMP Negeri 22 Kota Jambi.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi. 9(3). 12-22
Slamet Suyanto. (2009). Keberhasilan sekolah dalam ujian nasional ditinjau dari
organisasi belajar. Disertasi, tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Jakarta.
Sofian Effendi. (1982). Unsur-unsur penelitian ilmiah. Dalam Masri Singarimbun
(Ed.). Metode penelitian survei. Jakarta: LP3ES.
Supriyono, B., et al. (2025). Sosialisasi digital marketing untuk peningkatan kinerja pemasaran
produk bumdesa sehati serambut di kotawaringin timur: Indonesian Journal of
Community Empowerment .2 (4). 9-19.
SusantiR., Tariq, K., & Carmelo, D. (2023). Strategic Management of Madrasah Heads in
Improving The Quality of Language Learning Arabic in Islamic Educational Institutions.
International Journal of Educational Narratives, 1(1), 33-42
Tarigan, A., et al. (2025). Berbicara Sebagai suatu keterampilan berbahasa: Bandung,
Angkasa.
Tugba, H., et al. (2022). A Study On Digital Leadership Scale (DLS) Development:
Kahramanmaraş Sütçü İmam Üniversitesi Sosyal Bilimler Dergisi.
White, H. (2007). Problem-based learning in introductory science across
disciplines.