1. Pendahuluan
Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah umum yang berperan penting dalam
pengembangan kemampuan akademik mahasiswa di perguruan tinggi (Lubis dkk., 2025).
Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menguasai keterampilan berbahasa yang
meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu (Putri, 2024). Keempat
keterampilan tersebut diarahkan untuk mendukung kemampuan komunikasi akademik,
khususnya dalam menyusun karya ilmiah.
Di antara keempat keterampilan tersebut, menulis merupakan keterampilan produktif
(productive skill) yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan sistematis. Dalam konteks
akademik, mahasiswa dituntut mampu menyusun paragraf yang efektif, yaitu paragraf yang
memiliki kohesi dan koherensi yang baik (Muhammad dkk., 2025; Setyawan dkk., 2024).
Menurut John Swales, tulisan akademik yang baik harus memiliki keterpaduan ide dan struktur
yang jelas agar mudah dipahami oleh pembaca (Hyland & Jiang, 2026). Oleh karena itu,
kemampuan menulis paragraf akademik menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki
mahasiswa, terutama sebagai bekal dalam menyusun laporan dan tugas akhir.
Namun, dalam praktiknya, pembelajaran menulis masih menghadapi berbagai kendala.
Mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide, menyusun kalimat yang
padu, serta menghubungkan antar gagasan dalam paragraf. Permasalahan ini semakin kompleks
pada mahasiswa nonbahasa (Hiskia Sitorus dkk., 2024), seperti mahasiswa di Politeknik Negeri
Lampung (Polinela) yang mayoritas berasal dari program studi berbasis pertanian. Mahasiswa
pada program studi ini umumnya tidak memiliki latar belakang kebahasaan yang kuat, sehingga
kemampuan menulis akademik mereka, khususnya dalam aspek kohesi dan koherensi, masih
perlu ditingkatkan. Padahal, keterampilan tersebut sangat penting sebagai bekal dalam penulisan
tugas akhir.
Selain itu, pembelajaran menulis sering kali masih berorientasi pada hasil akhir (product
oriented), sehingga mahasiswa kurang terlibat dalam proses evaluasi dan revisi tulisan.
Akibatnya, mahasiswa tidak sepenuhnya menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan
cenderung mengulang kesalahan yang sama. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran
yang tidak hanya menekankan hasil, tetapi juga proses menulis.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah peer review, yaitu kegiatan saling
memberikan umpan balik antar mahasiswa terhadap tulisan yang dihasilkan. Menurut David R.
M. Hyland, peer review merupakan bagian penting dalam proses menulis karena membantu
penulis memahami kualitas tulisannya melalui evaluasi dan revisi (Ahmed, 2021). Selain itu,
metode ini juga mendorong keterlibatan aktif mahasiswa serta mengembangkan kemampuan
berpikir kritis dan reflektif (Listiani, 2016).
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan metode peer review dapat
meningkatkan kualitas tulisan, keaktifan, dan kerja sama mahasiswa dalam pembelajaran
menulis (Hartiningsari, 2015; Kurniawati & Darajat, 2024; Listiani, 2016). Namun, sebagian
besar penelitian tersebut dilakukan pada konteks pembelajaran bahasa Inggris atau pada
mahasiswa dengan latar belakang kebahasaan. Selain itu, fokus penelitian umumnya masih pada
peningkatan hasil tulisan, belum banyak mengkaji secara mendalam bagaimana persepsi
mahasiswa terhadap penerapan metode ini, khususnya pada konteks pembelajaran Bahasa
Indonesia di perguruan tinggi vokasi.
Dengan demikian, terdapat celah penelitian terkait kajian eksploratif mengenai persepsi
mahasiswa nonbahasa terhadap metode peer review, terutama dalam kaitannya dengan
penulisan paragraf akademik yang kohesif dan koheren. Persepsi mahasiswa menjadi penting