Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
168
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana
Kasumedangan Sebagai Atraksi Wisata Budaya
Ratu Nurul Fahmi Aulia
a,1
, Irena Novarlia
b,2
, Rifqi Asy’ari
c,3
a,b,c
Prodi Industri Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
1
ratunurulfahmia_17@upi.edu;
2
3
rifqiasyari@upi.edu
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 30 September 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 28 Desember 2025
Tersedia Daring: 25 Februari
2026
Tari Jayengrana merupakan salah satu bentuk tari klasik yang
merepresentasikan kekayaan nilai budaya lokal masyarakat Sunda,
khususnya di wilayah Sumedang. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi,
tari tradisional menghadapi tantangan dalam pelestarian serta regenerasi
pelaku seni, sehingga diperlukan upaya penguatan peran seni tradisi dalam
konteks budaya dan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
eksistensi Tari Jayengrana sebagai warisan budaya lokal serta menganalisis
potensinya sebagai atraksi wisata budaya yang memiliki nilai edukatif.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode
etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan terhadap proses
latihan dan pertunjukan, wawancara mendalam dengan pelaku seni, serta
dokumentasi aktivitas tari. Analisis data dilakukan dengan mengkategorikan
temuan berdasarkan nilai budaya, fungsi sosial, dan peran tari dalam
pengembangan wisata budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari
Jayengrana tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni, tetapi juga
sebagai sarana transfer nilai moral, historis, dan identitas budaya kepada
generasi muda. Selain itu, tari ini memiliki potensi yang signifikan untuk
dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya yang mampu menarik minat
masyarakat dan wisatawan. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah,
lembaga kebudayaan, dan sektor pariwisata diperlukan melalui promosi,
pelatihan, serta integrasi tari tradisional dalam paket wisata dan pendidikan
formal.
Kata Kunci:
Jayengrana,
tari klasik,
nilai budaya,
etnografi,
wisata budaya
ABSTRACT
Keywords:
Jayengrana,
classical dance,
cultural values,
ethnography,
cultural tourism
Jayengrana dance is a form of classical dance that represents the rich local
cultural values of the Sundanese people, especially in the Sumedang region. In
the midst of modernization and globalization, traditional dance faces
challenges in the preservation and regeneration of art actors, so efforts are
needed to strengthen the role of traditional arts in the context of culture and
tourism. This study aims to examine the existence of the Jayengrana Dance as a
local cultural heritage and analyze its potential as a cultural tourism
attraction that has educational value. The research uses a descriptive
qualitative approach with ethnographic methods. Data was collected through
field observations of the rehearsal and performance process, in-depth
interviews with the performers, and documentation of dance activities. Data
analysis was carried out by categorizing findings based on cultural values,
social functions, and the role of dance in the development of cultural tourism.
The results of the study show that the Jayengrana Dance not only functions as
a medium of artistic expression, but also as a means of transferring moral,
historical, and cultural values to the younger generation. In addition, this
dance has significant potential to be developed as a cultural tourism attraction
that is able to attract the interest of the public and tourists. Continued support
from governments, cultural institutions, and the tourism sector is needed
through the promotion, training, and integration of traditional dance in
formal tourism and education packages.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
169
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
©2026, Ratu Nurul Fahmi Aulia, Irena Novarlia, Rifqi Asy’ari
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pariwisata budaya merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan pariwisata
Indonesia karena berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, pelestarian warisan
budaya, serta penguatan identitas lokal (World Tourism Organization, 2021; Richards, 2020).
Dalam konteks tersebut, seni pertunjukan tradisional menempati posisi penting sebagai bagian
dari atraksi wisata budaya yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memiliki fungsi
edukatif dan representatif terhadap nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya (Su & Wall,
2021). Seni tari tradisional mengandung sistem nilai yang kompleks, meliputi nilai etika,
estetika, sosial, dan spiritual, yang diwujudkan melalui unsur gerak, iringan musik, tata rias,
tata busana, serta struktur pertunjukan. Dalam tradisi budaya Jawa, tari klasik memiliki
kedudukan khusus sebagai medium ekspresi nilai kehalusan (alus), kesopanan, keseimbangan,
dan pengendalian diri (Widyastuti Ningrum & Wahyudi, 2020). Nilai-nilai tersebut terefleksi
dalam karakteristik gerak tari klasik yang lembut, terkontrol, serta menuntut penghayatan
mendalam dari penarinya.
Dalam kajian budaya, representasi dipahami sebagai proses pembentukan makna melalui
bahasa, simbol, dan praktik budaya yang memungkinkan suatu nilai dikomunikasikan kepada
masyarakat (Hall, 1997). Konsep tersebut dijabarkan secara komprehensif dalam karya
fundamental Representation: Cultural Representations and Signifying Practices, yang
menegaskan bahwa praktik budaya, termasuk seni pertunjukan, berfungsi sebagai medium
produksi makna dan identitas sosial. Dalam perspektif konstruksionis yang dikemukakan
(Hall, 1997), makna tidak dipandang sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada objek
budaya, melainkan diproduksi melalui sistem representasi dan praktik sosial dalam konteks
historis serta kultural tertentu. Seni pertunjukan tradisional, termasuk tari klasik, dengan
demikian dapat dipandang sebagai sarana representasi budaya yang menyampaikan sistem
nilai masyarakat pendukungnya. Salah satu bentuk tari klasik yang berkembang dalam tradisi
tersebut adalah Tari Klasik Jayengrana Kasumedangan. Tari ini tumbuh dan diwariskan dalam
konteks budaya lokal Sumedang melalui sanggar tari sebagai lembaga pendidikan nonformal.
Sanggar Tari Padepokan Sekar Pusaka, sebagai salah satu pusat pembinaan seni tari di
Sumedang, berperan dalam proses pewarisan nilai budaya sekaligus sebagai ruang produksi
dan penyajian Tari Jayengrana Kasumedangan dalam berbagai konteks pertunjukan. Di sisi
lain, tari ini juga mulai diposisikan sebagai bagian dari atraksi wisata budaya yang ditampilkan
kepada khalayak yang lebih luas (Richards, 2020).
Namun demikian, dalam praktik penyajian seni tari sebagai atraksi wisata, sering kali
terjadi penekanan pada aspek estetika dan teknis pertunjukan. Akibatnya, dimensi nilai budaya
dan makna simbolik yang terkandung dalam tari cenderung kurang memperoleh perhatian
yang memadai (Su & Wall, 2021; Timothy, 2020). Sejumlah kajian mutakhir mengulas seni
pertunjukan sebagai media identitas budaya, sarana pewarisan nilai, serta daya tarik utama
dalam pengembangan wisata budaya berkelanjutan (Nguyen & Cheung, 2022). Dengan
demikian, seni tari dipahami tidak hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai
representasi sistem nilai masyarakat. Meskipun demikian, kajian yang secara spesifik
menelaah representasi nilai-nilai budaya Jawa dalam Tari Klasik Jayengrana Kasumedangan,
khususnya dalam konteks penyajiannya sebagai atraksi wisata budaya, masih relatif terbatas.
Temuan ini mengindikasikan adanya ruang kajian yang belum banyak dieksplorasi, terutama
terkait bagaimana nilai-nilai budaya tersebut direpresentasikan, dimaknai, dan
dikomunikasikan kepada wisatawan. Merujuk pada temuan tersebut, penelitian ini dipandang
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
170
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
relevan untuk mengkaji secara mendalam representasi nilai budaya Tari Klasik Jayengrana
Kasumedangan sebagai atraksi wisata budaya.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode etnografi yang
bertujuan untuk memahami secara mendalam representasi nilai budaya yang terkandung
dalam Tari Klasik Jayengrana Kasumedangan dalam konteks pelestarian dan pariwisata
budaya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif untuk
mendeskripsikan fenomena budaya sebagaimana adanya melalui pengamatan langsung
terhadap praktik tari, makna simbolik, serta peran sosialnya sebagai atraksi wisata budaya.
Data penelitian berupa data kualitatif yang bersumber dari data primer dan sekunder, di
mana data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara terhadap pelatih tari, penari,
dan pengelola sanggar, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi, arsip sanggar,
serta literatur ilmiah yang relevan. Penelitian ini dilaksanakan di Sanggar Tari Padepokan
Sekar Pusaka, Kabupaten Sumedang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi
partisipatif terhadap proses latihan dan pementasan, wawancara mendalam dengan
narasumber, serta dokumentasi visual dan studi artefak tari yang meliputi gerak, kostum, dan
musik pengiring. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan model analisis
interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan
pendekatan tematik untuk mengidentifikasi kategori nilai budaya meliputi aspek spiritual,
etika, dan estetika serta interpretasi makna simbolik dalam elemen tari, sedangkan
keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan member check..
3. Hasil dan Pembahasan
Nilai Spiritualitas dan Kehormatan
Tari Jayengrana Kasumedangan merupakan bagian dari genre Tari Wayang gaya
Sumedang yang bersumber dari cerita Serat Menak dengan tokoh utama Amir Hamzah sebagai
figur ksatria unggul, yang dalam kajian seni pertunjukan kontemporer dipahami sebagai
representasi nilai kepahlawanan, kehormatan, dan kepemimpinan moral dalam tradisi
Nusantara. Secara konseptual, Jayengrana dimaknai sebagai kemenangan dalam peperangan
yang merepresentasikan kehormatan, keberanian, serta keluhuran moral seorang pemimpin,
yang diekspresikan melalui struktur koreografi simbolik dalam tari tradisional Indonesia. Nilai
tersebut tidak hanya disampaikan melalui narasi cerita, tetapi juga diwujudkan dalam struktur
koreografi yang dinamis dan terkontrol sebagai medium komunikasi budaya. Pencipta tari, R.
Ono Lesmana Kartadikoesoemah, menginterpretasikan karakter ksatria tersebut melalui gerak-
gerak lincah yang terinspirasi dari fenomena alam sebagai simbol kekuatan, keluwesan, dan
keteguhan moral, sejalan dengan konsep ekspresi simbolik dalam koreografi tradisional.
Gerakan sembah dalam struktur tari mengandung makna religius yang merepresentasikan nilai
spiritualitas Islam, khususnya simbol ketundukan manusia kepada Sang Pencipta, sebagaimana
ditemukan dalam studi integrasi nilai religius dalam seni pertunjukan daerah. Dengan
demikian, unsur gerak tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, melainkan juga sebagai
medium penyampaian nilai moral dan spiritual dalam sistem simbol budaya. Iringan gamelan
yang didominasi kendang memberikan aksentuasi heroik sekaligus sakral yang memperkuat
atmosfer kehormatan dalam pertunjukan, sebagaimana peran musikalitas dalam membangun
makna simbolik tari tradisional. Temuan ini mengindikasikan bahwa Tari Jayengrana memuat
dimensi simbolik yang mempertautkan estetika seni dengan nilai-nilai keagamaan dalam
konteks budaya lokal.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
171
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
Nilai Etika Sosial dan Disiplin Komunal
Pelestarian Tari Jayengrana secara berkelanjutan dilaksanakan melalui Sanggar Tari
Padepokan Sekar Pusaka sebagai pusat pendidikan seni tradisional, yang dalam kajian budaya
mutakhir dipandang sebagai institusi transmisi nilai sosial dan identitas kolektif. Sanggar ini
berperan strategis dalam mempertahankan eksistensi tari klasik di tengah arus globalisasi yang
berpotensi menggeser kebudayaan lokal. Proses latihan tidak semata diarahkan pada
penguasaan teknik tari, melainkan juga pada pembentukan karakter sosial penari melalui
disiplin kolektif dan interaksi sosial yang intensif. Disiplin latihan yang konsisten
merefleksikan nilai tanggung jawab kolektif, sementara interaksi antara pelatih dan peserta
didik menumbuhkan sikap saling menghormati serta solidaritas komunitas sebagai ciri
pendidikan seni berbasis budaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa sanggar berfungsi
sebagai ruang edukatif yang mentransmisikan nilai sosial lintas generasi. Di sisi lain,
dukungan masyarakat serta keterlibatan pemerintah daerah dalam berbagai kegiatan
pertunjukan memperkuat keberlanjutan sanggar sebagai institusi budaya, sebagaimana
ditegaskan dalam kajian kolaborasi komunitas dalam pelestarian warisan budaya takbenda.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak berdiri secara individual,
melainkan terintegrasi dalam sistem sosial yang menopang eksistensi seniman dan warisan
budaya.
Estetika Lokal sebagai Daya Tarik Wisata
Estetika Tari Jayengrana tercermin melalui koreografi yang dinamis, tata rias dan busana
yang sederhana namun sarat makna simbolik, serta iringan musik yang ritmis sebagai elemen
pembentuk pengalaman visual dan emosional penonton. Motif bunga teratai pada busana
melambangkan kesucian dan pengingat spiritual, sementara dominasi warna emas
merepresentasikan nilai keagungan tokoh ksatria sebagai simbol kosmologi budaya lokal.
Dengan kata lain, unsur visual dan musikal tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga
mengandung pesan filosofis yang memperkuat identitas budaya lokal. Keunikan estetika
tersebut menjadikan Tari Jayengrana menarik bagi publik luas serta berpotensi sebagai atraksi
wisata budaya di wilayah Sumedang, sejalan dengan pengembangan pariwisata berbasis seni
tradisional di Indonesia. Pengakuan atas keunikan koreografi, komposisi musik pengiring,
serta karakteristik busana seperti baju kutung hitam, simbar dada, dan celana sontog turut
mempertegas posisi Tari Jayengrana Kasumedangan sebagai warisan budaya yang memiliki
kekhasan estetika dan identitas lokal yang kuat. Keistimewaan tersebut memperoleh legitimasi
formal melalui penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional,
yang merupakan bentuk apresiasi sekaligus komitmen perlindungan terhadap keberlanjutan
tradisi. Penetapan ini menjadi bagian dari strategi pelestarian yang diinisiasi oleh Pemerintah
Kabupaten Sumedang melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga dalam
rangka menjaga kontinuitas kesenian tradisional di tengah dinamika sosial-budaya
kontemporer. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan status kelembagaan dan
dukungan kebijakan publik berperan signifikan dalam mempertahankan eksistensi tari klasik
sebagai identitas budaya daerah sekaligus sebagai potensi daya tarik wisata berbasis kearifan
lokal.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
172
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
Gambar 1. Pertunjukan Tari Klasik Jayengrana Kasumedangan (2022)
Di sisi lain, penyebaran Tari Jayengrana melalui sanggar, institusi pendidikan seni, serta
pertunjukan lintas daerah memperluas jangkauan apresiasi masyarakat, mencerminkan
adaptasi seni tradisional dalam ruang modern tanpa kehilangan nilai kulturalnya.
Pembahasan
Merujuk pada temuan tersebut, Tari Jayengrana Kasumedangan merepresentasikan nilai
kehormatan, spiritualitas, serta etika sosial masyarakat Sunda melalui sistem simbol gerak dan
pola pendidikan sanggar, sejalan dengan kajian mutakhir yang menempatkan seni pertunjukan
sebagai medium transmisi nilai budaya dan identitas kolektif dalam masyarakat kontemporer
(UNESCO, 2022; Smith, 2021). Temuan ini mengindikasikan bahwa seni tari berfungsi tidak
hanya sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya lintas
generasi. Di sisi lain, perkembangan Tari Jayengrana sebagai atraksi publik memperlihatkan
kontribusinya dalam penguatan identitas daerah serta pariwisata budaya berbasis kearifan
lokal, sebagaimana ditegaskan dalam studi pariwisata budaya berkelanjutan yang mengaitkan
warisan budaya takbenda dengan pembangunan komunitas dan ekonomi kreatif (UNWTO,
2023). Keterlibatan komunitas dan institusi sosial memperkuat keberlanjutan seni tradisional
dalam ruang modern tanpa kehilangan makna filosofisnya. Fenomena ini sejalan dengan
pelestarian tari tradisional di wilayah lain, seperti di Surakarta, yang memiliki Tari Gambyong,
di mana seni tari berkembang dari lingkungan keraton menjadi bagian dari pertunjukan budaya
publik. Namun demikian, Tari Jayengrana memiliki kekhasan melalui integrasi nilai religius
serta sistem pelatihan berbasis komunitas yang menegaskan karakter lokalnya, sebagaimana
dibahas dalam studi terbaru mengenai keberlanjutan seni pertunjukan tradisional di Asia
Tenggara (Harnish, 2022). Dengan demikian, Tari Jayengrana dapat dipahami sebagai tradisi
budaya yang hidup dan adaptif, sekaligus berperan strategis dalam pelestarian budaya dan
pengembangan wisata budaya berkelanjutan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
173
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif etnografis yang dilakukan di lingkungan sanggar
tari tradisional di Sumedang, dapat disimpulkan bahwa Tari Jayengrana Kasumedangan
merepresentasikan nilai-nilai budaya lokal yang kaya makna, khususnya dalam aspek
spiritualitas, kehormatan, etika sosial, serta estetika tradisional. Figur Jayengrana sebagai
simbol kepemimpinan ksatria tidak hanya tercermin dalam narasi tari, tetapi juga
termanifestasi melalui struktur gerak, iringan gamelan, dan tata busana yang sarat simbolisme
budaya. Disisi lain, praktik latihan kolektif di sanggar berfungsi sebagai ruang transmisi nilai
sosial seperti disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap tradisi. Temuan ini
mengindikasikan bahwa tari klasik tidak semata berperan sebagai seni pertunjukan, melainkan
sebagai media edukasi kultural yang hidup dalam komunitas. Dalam konteks pariwisata
budaya, estetika lokal yang ditampilkan melalui kostum, musik, serta narasi sejarah lokal
terbukti menjadi daya tarik eksotik bagi wisatawan. Dengan demikian, Tari Jayengrana
Kasumedangan memiliki potensi signifikan sebagai atraksi wisata budaya yang efektif dalam
mentransfer nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga
penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr.
Indra Safari, M.Pd. sebagai Direktur Universitas Pendidikan Indonesia atas kesempatan dan
fasilitas yang diberikan selama pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan
kepada Dr. Irena Novarlia, M.Pd., M.M. sebagai Ketua Program Studi atas dukungan
akademik yang diberikan. Penulis turut mengucapkan terima kasih kepada Dr. Irena Novarlia,
M.Pd., M.M. selaku Dosen Pembimbing 1 dan Rifqi Asy'ari, S.Par., M.Par. sebagai Dosen
Pembimbing 2 atas bimbingan dan arahan selama proses penelitian. Apresiasi juga diberikan
kepada ibu R. Wida Nur Lesmana Sanggar Tari Padepokan Sekar Pusaka selaku lokasi
penelitian atas izin dan bantuan selama pengumpulan data. Terima kasih disampaikan kepada
orang tua dan keluarga penulis atas dukungan yang diberikan, serta kepada teman-teman yang
telah memberikan motivasi selama penyusunan penelitian ini.
6. Daftar Pustaka
Nguyen, T. H. H., & Cheung, C. (2022). Cultural performance and sustainable cultural
tourism development: The role of traditional arts in destination identity. Sustainability,
14(9), 5342. https://doi.org/10.3390/su14095342
Richards, G. (2020). Designing creative places: The role of creative tourism. Annals of
Tourism Research, 85, 102922. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.102922
Su, M. M., & Wall, G. (2021). Community participation and sustainable cultural tourism
development. Journal of Sustainable Tourism, 29(4), 545563.
https://doi.org/10.1080/09669582.2020.1804410
Timothy, D. J. (2020). Cultural heritage and tourism: An introduction (2nd ed.). Channel
View Publications.
Widyastuti Ningrum, A., & Wahyudi, A. (2020). Nilai budaya dalam tari klasik Jawa sebagai
representasi karakter masyarakat. Jurnal Seni dan Budaya, 12(2), 115126.
World Tourism Organization. (2021). Cultural tourism and sustainable development.
UNWTO. https://doi.org/10.18111/9789284422473
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 168-174
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
174
Ratu Nurul Fahmi Aulia et.al (Representasi Nilai Budaya Tari Klasik Jayengrana....)
Harnish, D. (2022). Safeguarding intangible cultural heritage in Southeast Asia:
Performance, politics, and practice. Asian Theatre Journal, 39(2), 305324.
Smith, L. (2021). Emotional heritage: Visitor engagement and the politics of recognition.
International Journal of Heritage Studies, 27(5), 451467.
UNESCO. (2022). Global report on intangible cultural heritage safeguarding. Paris:
UNESCO Publishing.
UNWTO. (2023). Tourism and intangible cultural heritage: Promoting sustainable
development. Madrid: World Tourism Organization.
.