terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas VIII SMP pada materi Teorema Pythagoras,
karena mendorong keterlibatan siswa dalam proses berpikir ilmiah. Selanjutnya, hasil
penelitian ini juga konsisten dengan temuan Ikhlas (2018) yang menyimpulkan bahwa model
pembelajaran berbasis masalah memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar
Matematika, serta memperhatikan perbedaan gaya kognitif siswa. Kedua penelitian tersebut
menegaskan bahwa pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah, aktivitas
berpikir tingkat tinggi, dan keterlibatan aktif peserta didik mampu meningkatkan pemahaman
konseptual dan capaian belajar Matematika secara signifikan. Keselarasan temuan ini
memperkuat argumentasi bahwa pendekatan pembelajaran inovatif—baik melalui pendekatan
saintifik, pembelajaran berbasis masalah, maupun integrasi teknologi—memiliki peran penting
dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar Matematika
dipengaruhi secara signifikan oleh penerapan model dan pendekatan pembelajaran yang
menekankan keterlibatan aktif peserta didik serta pengembangan kemampuan berpikir tingkat
tinggi. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ikhlas (2020) yang menyatakan bahwa penerapan
pendekatan saintifik berpengaruh positif terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas VIII
SMP, karena mendorong siswa untuk membangun pemahaman konsep melalui proses
mengamati, menanya, menalar, dan mengomunikasikan. Selanjutnya, hasil penelitian ini juga
konsisten dengan temuan Ikhlas (2018) yang menyimpulkan bahwa model pembelajaran
berbasis masalah berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar Matematika, dengan
mempertimbangkan perbedaan gaya kognitif siswa.
Selain itu, penelitian Ikhlas (2017/2018) yang dipublikasikan dalam Jurnal Curricula juga
menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan
hasil belajar Matematika siswa kelas VIII SMP secara signifikan, karena model tersebut
melatih siswa untuk berpikir kritis, menganalisis permasalahan kontekstual, dan menemukan
solusi secara mandiri. Keselarasan hasil-hasil penelitian tersebut memperkuat temuan
penelitian ini bahwa pembelajaran Matematika yang berorientasi pada pemecahan masalah,
proses berpikir ilmiah, dan keterlibatan aktif siswa baik melalui pendekatan saintifik,
pembelajaran berbasis masalah, maupun dukungan inovasi pembelajaran berkontribusi nyata
terhadap peningkatan kualitas dan hasil belajar Matematika.
Sementara itu, dalam pembelajaran IPA, AI mendukung pembelajaran berbasis inkuiri
melalui simulasi virtual, laboratorium digital, dan pemodelan fenomena ilmiah yang
kompleks. Makransky dan Petersen (2019) menegaskan bahwa penggunaan teknologi cerdas
dalam pembelajaran sains meningkatkan pemahaman konseptual dan keterlibatan peserta
didik. Dengan demikian, hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa AI berkontribusi terhadap
peningkatan kualitas pembelajaran Matematika dan IPA secara kognitif maupun afektif.
Kompetensi Peserta Didik dalam Pembelajaran Berbasis AI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan AI dalam pembelajaran mendorong
pengembangan kompetensi abad ke-21, terutama berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi
digital, dan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi. AI tidak hanya membantu peserta
didik memperoleh pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan menganalisis data, membuat
keputusan berbasis informasi, dan merefleksikan proses belajar.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran yang adaptif dan
berorientasi pada pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil
belajar peserta didik. Hasil ini sejalan dengan penelitian Riska et al. (2025) yang menyatakan
bahwa integrasi teknologi kecerdasan buatan dalam pembelajaran adaptif di Sekolah Dasar
secara signifikan meningkatkan keterampilan abad ke-21, termasuk berpikir kritis, kreativitas,
kolaborasi, dan literasi digital. Keselarasan temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan
teknologi berbasis AI tidak hanya relevan pada jenjang pendidikan dasar, tetapi juga memiliki