Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
139
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis Faktor
Motivasi Belajar Mahasiswa Manajemen Universitas
Islam Bandung
Aditia Wirayudha
a,1
, M. Arif Rahmadha Darma Putra KM
b,2
, Allya Roosallyn Assyofa
c,3
,
Indah Himawat Pertiwi
d,4
a,b,c,d
Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.24 Lt. 3-4, Kota Bandung 40116, Indonesia
*1
aditia.wirayudha@unisba.ac.id;
2
arif.rahmadha[email protected];
3
allyaroosallyn.mg[email protected];
4
work.indah1pertiwi@gmail.com
*
Aditia Wirayudha
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 September 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 19 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari 2026
Memahami faktor motivasi Gen-Z menjadi sesuatu yang menarik karena memerlukan
penyelarasan pada metode dan tujuannya belajar sesuai dengan karakteristik unik
dari Gen Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur faktor motivasi
mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan berdasarkan teori kebutuhan McClelland
yang meliputi kebutuhan akan prestasi, kekuasaan, dan afiliasi. Penelitian dilakukan
pada mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Islam Bandung dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode Exploratory Factor Analysis (EFA).
Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert yang disebarkan kepada 89
responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Hasil analisis
menunjukkan bahwa terdapat empat faktor utama yang memengaruhi motivasi
belajar mahasiswa, yaitu: (1) Achievement-Oriented with Social Control, yang
mencerminkan dorongan untuk meningkatkan performa, menerima umpan balik,
dan merasakan kepuasan atas pencapaian; (2) Powerful Achievement, yang
menunjukkan keinginan untuk memimpin, bertanggung jawab, dan menghadapi
tantangan; (3) Social-Collaborative, yang mencakup kebutuhan untuk diterima,
berinteraksi sosial, dan berkolaborasi; serta (4) Achievement with Competitive Drive,
yang berorientasi pada ketercapaian target dan kompetisi. Keempat faktor tersebut
menjelaskan 61,812% total varians motivasi belajar mahasiswa. Hasil penelitian ini
yaitu memperkenalkan profil motivasi mahasiswa sebagai "Collaborative Achiever"
yang mengupayakan kesuksesan akademis melalui harmoni sosial dibandingkan
dengan persaingan individu. Temuan ini menawarkan opsi strategis bagi
pelaksanaan pendidikan tinggi termasuk dosen menggunakan metode pengajaran
berbasis permasalahan yang dirancang untuk kelompok-kelompok kecil pada
mahasiswa Gen Z.
Kata Kunci:
Generasi Z
Struktur Motivasi
Teori Motivasi McClelland
Collaborative Achiever
Analisis Faktor Eksploratori
ABSTRACT
Keywords:
Generation Zers
Motivational Structure
McClelland’s Motivation
Theory
Collaborative Achiever
Exploratory Factor Analysis
Figuring out what motivates Gen Z is interesting since it means that learning
techniques and goals must be in line with what makes Gen Z special. This study seeks to
delineate the framework of students' motivational variables in lecture activities,
grounded in McClelland's theory of wants, which encompasses the need for
accomplishment, power, and affiliation. The research was performed on students
enrolled in the Management Study Program at Bandung Islamic University, employing
a quantitative methodology and the Exploratory Factor Analysis (EFA) technique. Data
were gathered via a questionnaire employing a Likert scale, administered to 89
respondents picked through a simple random sample method. The analysis reveals four
primary factors that affect students' learning motivation: (1) Achievement-Oriented
with Social Control, indicating a drive to enhance performance, obtain feedback, and
derive satisfaction from accomplishments; (2) Powerful Achievement, reflecting a desire
to lead, assume responsibility, and confront challenges; (3) Social-Collaborative,
encompassing the need for acceptance, social interaction, and collaboration; and (4)
Achievement with Competitive Drive, focused on reaching objectives and fostering
competition. These four factors account for 61.812% of the overall variance in student
learning motivation. The findings of this study present a student motivation profile
characterized as a "Collaborative Achiever," who seeks academic success through social
cohesion rather than individual rivalry. These findings present strategic alternatives
for the implementation of higher education, including the utilization of problem-based
teaching approaches tailored for small cohorts of Generation Z students.
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
140
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
©2026, Aditia Wirayudha, M. Arif Rahmadha Darma Putra KM,
Allya Roosallyn Assyofa, Indah Himawat Pertiwi
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Proses pembelajaran di perguruan tinggi di era saat ini mengalami pergeseran pengajaran
dari metode konvensional yang berpusat pada dosen menuju proses pembelajaran untuk lebih
berpusat kepada mahasiswa. Pendekatan ini lebih menekankan pada keterlibatan aktif
mahasiswa dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk mendorong mahasiswa untuk
membangun pengetahuan sendiri melalui berbagai metode (Luthfiyyah et al., 2025).
Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa ini diharapkan dapat membuat mahasiswa secara
aktif membangun pengetahuan, sikap, dan perilaku yang sehingga mahasiswa mampu dan
berani untuk mengemukakan pendapatannya (Sukendro & Yuliawan, 2021). Dalam konteks
ini, penting bagi dosen dan pengelola di Perguruan Tinggi untuk memahami apa yang menjadi
tantangan dalam pengerjaan tugas atau proyek ini agar mahasiswa tetap memiliki motivasi.
Setiawan (2019), Yusnita & Muqowim (2020), Lee & Branch (2022) menjelaskan bahwa
pendekatan yang berpusat pada mahasiswa yang efektif dapat meningkatkan motivasi, rasa
percaya diri, pemahaman konsep, dan proses berpikir kritis mahasiswa karena mahasiswa
dapat membangun pemahaman mereka sendiri melalui interaksi dan eksplorasi secara mandiri
sehingga memungkinkan mahasiswa untuk menentukan kebutuhan belajarnya dan
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (Luthfiyyah et al., 2025).
Salah satu hal yang dapat dilakukan dosen di kelas yaitu dengan membuat sebuah tugas
atau proyek yang dikerjakan oleh mahasiswa. Tantangan yang sering dialami oleh mahasiswa
dalam pengerjaan tugas atau proyek secara berkelompok yaitu kesulitan dalam menjaga fokus
dan konsistensi dalam pembelajaran, terutama jika mahasiswa ini memiliki tugas atau proyek
dari mata kuliah lain ditambah jika mahasiswa memiliki tanggung jawab dalam organisasi
kemahasiswaan yang diikutinya. Khansa dan Poerwita, (2021) menjelaskan tantangan pada
beban tugas, tuntutan peran serta tanggung jawabnya dalam organisasi dapat menyebabkan
menurunnya motivasi belajar mahasiswa (Nurhariza et al., 2023). Tantangan pada beban tugas
yang cukup banyak akan membuat mahasiswa tergesa-gesa dalam pengerjaan proyek
kelompoknya dengan tujuan agar proyek ini dapat segera selesai, sehingga kurang
memprioritaskan kualitas hasil dari proyek yang dikerjakannya (Wirayudha et al., 2024).
Mahasiswa sarjana pada era saat ini mayoritas merupakan Gen Z. Gen Z sendiri
merupakan individu yang lahir pada tahun 2001 2020 yang didominasi oleh nilai-nilai
budaya, keberagaman, kreativitas, dan inovasi (Robbins & Judge, 2024). Gen Z ini memiliki
harapan terhadap feedback yang cukup cepat dan tinggi dikarenakan mereka perlu banyak
belajar atas hal yang telah mereka lakukan sebagai akibat dari minimnya pengalaman yang
mereka miliki (Dolot, 2018). Maka dari itu peran dosen untuk memberikan feedback atas tugas
atau proyek yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi penting agar mereka mampu
memunculkan kreativitas dan inovasi.
Tentunya untuk lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan, tantangan, dan harapan
dari mahasiswa dalam melaksanakan tugas atau proyeknya ini, pendekatan teori motivasi
dapat digunakan. Motivasi merupakan sebuah proses yang memperhitungkan intensitas, arah,
dan ketekunan usaha dari individu untuk mencapai tujuannya (Pinder, 2008). Tujuan ini akan
mempengaruhi cara berperilaku mereka tergantung dari hasil yang mereka harapkan. Tujuan
ini dapat berupa keinginan, harapan, sasaran, insentif, dan kebutuhan (Luthans et al., 2021).
Salah satu teori motivasi yang relevan dengan hal ini adalah teori yang dikemukakan oleh
David McClelland. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku individu itu digerakkan oleh tiga
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
141
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
kebutuhan utama yaitu kebutuhan akan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan (Griffin et al., 2020).
Pada konteks mahasiswa, kombinasi dari tiga kebutuhan ini dapat mempengaruhi motivasi
dalam menjalani perkuliahan.
Kebutuhan afiliasi yang kuat akan menunjukkan keinginan untuk disukai, diterima, dan
dihormati (Baptista et al., 2021). Moberg & Lasher, 2011 menjelaskan bahwa kebutuhan
afiliasi yang kuat cenderung menyukai situasi kerja yang kooperatif karena mereka dapat
berinteraksi dengan banyak orang (Baptista et al., 2021). Kebutuhan akan prestasi yang tinggi
cenderung menunjukkan suasana hati yang positif dan lebih tertarik pada tugas yang sedang
dikerjakan karena tugasnya menantang (Robbins & Judge, 2022). Kebutuhan yang ketiga
menurut David McClelland adalah kebutuhan untuk akan kekuasaan. Kebutuhan ini yaitu
merupakan sebuah keinginan untuk mengendalikan lingkungan, orang-orang, sumber daya,
informasi, dan lain sebagainya (Griffin et al., 2020).
Fachriansyah & Wulandari (2022) menjelaskan bahwa perguruan tinggi Islam di
Indonesia memiliki peran strategis untuk membangun talenta yang unggul dari para
mahasiswa yang dibangun atas persaudaraan dan dukungan dari sosial (Abdillah, 2024;
Saputra et al., 2025). Universitas[AD4.1] Islam Bandung merupakan salah satu Perguruan
Tinggi Islam Swasta besar di Kota Bandung, Jawa Barat yang memiliki banyak program studi,
salah satunya adalah Program Studi Manajemen. Sebagai salah Program Studi yang memiliki
jumlah mahasiswa terbanyak di Universitas Islam Bandung, tentunya para dosen perlu
memahami apa yang menjadi kebutuhan dari para mahasiswa ini yang merupakan Gen Z.
Hainline et.al (2010) mengemukakan bahwa sebaiknya para dosen memiliki metode-metode
pengajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, motivasi akademik, serta pengajaran yang
relevan dengan tujuan karier para Gen Z (Grace-Bridges, 2018). Hati dan Winardi (2016);
Kusumaningtyas, et.al (2020) mengemukakan bahwa metode pengajaran yang dilakukan oleh
dosen kepada mahasiswa Gen Z ini sebaiknya menggunakan metode pembelajaran berbasis
masalah yang menggunakan pengoptimalan teknologi (Bafadal & Rosyid, 2024). Tentunya
metode ini perlu dibangun atas nilai-nilai persaudaraan dan dukungan sosial (Saputra et al.,
2025).
Namun[AD5.1] tantangan muncul dari para pihak penyelenggara akademik termasuk para
dosen di Program Studi Manajemen yaitu mengenai dinamika kelompok mahasiswa dalam
mengerjakan sebuah tugas atau proyek berbasis masalah yang dibangun atas nilai
persaudaraan dan dukungan sosial. Wujud dari tantangan ini yaitu mengenai tanggung jawab
dari setiap anggota kelompok dalam mengerjakan tugas atau proyek. Beberapa anggota
kelompok mengalami kesulitan dalam membagi peran dan tanggung jawabnya dalam
kelompok sebagai akibat dari banyaknya aktivitas lain yang dilakukan mahasiswa tersebut
(Wirayudha et al., 2024). Hal ini berpotensi menimbulkan ketimpangan pembagian beban
kerja dan tanggung jawab yang adil pada setiap anggota kelompok. Salah satu bentuk
konsekuensi yang berpotensi dirasakan oleh kelompok atas ketimpangan ini yaitu beberapa
anggota kelompok akan berusaha untuk mengambil peran dan tanggung jawab dari anggota
lainnya untuk menyelesaikan tugas atau proyek kelompok sesuai dengan batas waktunya,
namun disisi lain kualitas hasil dari tugas atau proyek yang dikerjakan bukanlah menjadi
prioritas karena hanya akan berfokus pada target dan kuantitas tugas atau proyek yang
dikerjakan (Wirayudha et al., 2024). Oleh karena itu, perlu untuk lebih memahami lebih dalam
mengenai faktor-faktor yang memotivasi para mahasiswa Gen Z ini dalam mengerjakan
sebuah tugas atau proyek yang diberikan oleh dosen agar metode pengajaran ini dapat
terlaksana dengan lebih efektif.
Pendekatan teori motivasi McClelland ini tentunya sudah banyak digunakan pada konteks
organisasi dan industri, namun kajian lebih mendalam yang mengidentifikasi struktur faktor
motivasi mahasiswa berdasarkan teori McClelland ini masih relatif terbatas. Sebagian besar
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
142
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
penelitian terdahulu lebih banyak berfokus pada deskripsi dari setiap faktor motivasi, pengaruh
motivasi terhadap prestasi akademik, keterlibatan belajar, dan lain sebagiannya (Gafarurrozi et
al., 2024; Maharani et al., 2024; Priyanto & Azis, 2018). Terdapat beberapa penelitian yang
menggunakan analisis faktor namun tidak menggunakan pendekatan faktor motivasi dari
McClelland, tetapi menggunakan pendekatan motivasi dalam konteks akademik secara umum
(Cokley, 2014; Syah, 2019; Zhang et al., 2023). Selain itu terdapat penelitian yang
menggunakan pendekatan teori motivasi McClelland, namun hanya berfokus pada
pembelajaran secara online (Siok et al., 2023). Berdasarkan pemaparan ini, penulis bertujuan
untuk mengidentifikasi struktur faktor motivasi mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan
berdasarkan Teori Kebutuhan McClelland dan mengadaptasi proses motivasi Luthans melalui
pendekatan analisis faktor pada mahasiswa Program Studi Manajemen di Universitas Islam
Bandung.
Motivasi merupakan sebuah proses yang memperhitungkan intensitas, arah, dan
ketekunan usaha dari individu untuk mencapai tujuannya (Pinder, 2008). Tujuan individu-
individu ini akan mempengaruhi cara berperilaku mereka tergantung dari hasil yang mereka
harapkan. Tujuan ini dapat berupa keinginan, harapan, sasaran, insentif, dan kebutuhan yang
dijelaskan pada gambar di bawah ini:
Gambar 1. Proses Motivasi
Sumber: Adaptasi dari (Luthans et al., 2021).
Needs muncul ketika terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan fisiologis atau
psikologis.
Drives atau motif ini terbentuk untuk mengurangi ketidakseimbangan dari needs.
Incentives adalah bentuk akhir dari siklus motivasi yang merupakan hasil yang
didapatkan dari proses pengurangan ketidakseimbangan pada needs dan drives.
Merujuk pada teori motivasi dari McClelland, kebutuhan ini terdiri dari tiga kebutuhan,
yaitu kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan kekuasaan, dan kebutuhan akan afiliasi.
Kebutuhan akan prestasi merupakan kebutuhan untuk unggul atau mencapai serangkaian
standar yang telah ditentukan (Robbins & Judge, 2022). Ciri dari individu dengan kebutuhan
akan prestasi yang tinggi ini yaitu individu yang inovatif, produktif, dan kompetitif yang
dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan, dan budaya (McClelland, 1976). Kebutuhan akan
kekuasaan merupakan kebutuhan untuk mempengaruhi individu lain untuk bertindak sesuai
dengan keinginannya (Robbins & Judge, 2022). Ciri dari individu dengan kebutuhan akan
kekuasaan yang tinggi yaitu senang berada pada otoritas tinggi, terdorong untuk mendapatkan
status, dan cenderung mencari kesempatan untuk memimpin (McClelland, 1976). Kebutuhan
akan afiliasi merupakan kebutuhan untuk membangun hubungan antar personal yang
bersahabat dan dekat (Robbins & Judge, 2022). Ciri dari individu dengan kebutuhan akan
afiliasi yang tinggi yaitu menekankan harmonisasi dalam sebuah hubungan antar individu,
menghindari konflik, lebih menyukai kerja sama dibandingkan kompetisi, dan lebih mencari
persahabatan serta persetujuan sosial (McClelland, 1976).
Para mahasiswa Gen Z ini didorong oleh kebutuhan untuk memahami kegunaan
pengetahuan yang mereka dapatkan dari dunia pendidikan pada karier dan kehidupan mereka
di masa yang akan datang (Gutierrez, 2025). Maka dari itu tugas atau proyek yang dikerjakan
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
143
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
perlu dirancang berdasarkan permasalahan nyata yang akan membuat mahasiswa menggunakan
pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Merujuk [AD7.1]pada konsep
motivasi yang dikemukakan oleh David McClelland dan gambar 1 yang dikemukakan oleh
Fred Luthans et.al., maka konsep motivasi belajar mahasiswa Gen Z ini dapat dijelaskan pada
tabel di bawah ini:
Tabel 1. Konsep Proses Motivasi
Needs
Drives
Incentives
Achievement
Menetapkan tujuan yang
menantang, sulit, tetapi realistis
Berhasil mencapai tujuannya, serta menginginkan
feedback yang spesifik dan langsung
Power
Keinginan untuk memimpin dan
mempengaruhi orang lain
Memimpin sebuah kelompok atau organisasi serta
tantangan untuk melakukan perubahan
Affiliation
Ingin mendapatkan dukungan,
penerimaan, dan persetujuan dari
orang lain
Terlibat pada kegiatan yang memiliki interaksi sosial
yang tinggi dan diterima oleh lingkungannya
Source: Adaptasi dari (Luthans et al., 2021) and David McClelland in (Griffin et al., 2020)
Penelitian ini berfokus pada motivasi mahasiswa dalam perkuliahan, sehingga penjelasan
pada tabel 1 adalah sebagai berikut:
Need for achievement: Mahasiswa yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi
cenderung akan memiliki tujuan dalam perkuliahan yang cukup menantang dan sulit
untuk dicapai tetapi masih realistis. Hasil yang mereka harapkan dari hal ini adalah
kepuasan jika dapat mencapai tujuannya serta mendapatkan feedback yang spesifik dari
dosen, pembimbing, mahasiswa lainnya, atau hasil penilaian yang diperoleh dari tugas
atau proyek yang telah dikerjakan. Sebagai contoh jika mahasiswa terlibat dalam
sebuah proyek lapangan secara berkelompok dan harus mempresentasikan hasilnya,
tetapi persiapannya kurang baik, maka mahasiswa dengan kebutuhan prestasi tinggi
cenderung akan mengatur ulang laporan, materi presentasi proyek, serta mengambil
porsi pekerjaan lebih banyak dari anggota kelompok lainnya agar hasilnya maksimal.
Need for power: Mahasiswa yang memiliki kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi
cenderung akan termotivasi untuk memimpin dan mempengaruhi orang lain pada
sebuah kelompok atau organisasi karena ingin membawa perubahan pada kelompok
atau organisasi itu. Sebagai contoh ketika mahasiswa menjadi ketua himpunan karena
ingin membawa perubahan pada himpunan tersebut dengan rancangan program kerja,
mengkoordinasikan anggota himpunan, serta mengeluarkan gagasan dan arahan yang
dipatuhi oleh anggotanya.
Need for affiliation: Mahasiswa yang memiliki kebutuhan akan afiliasi yang tinggi
cenderung menginginkan dukungan, penerimaan, dan persetujuan dari rekan dan
dosennya. Mahasiswa ini akan sangat terlibat aktif pada sebuah kelompok atau
organisasi karena dia berhadap dengan cara seperti itu dia akan mendapatkan interaksi
sosial dan dukungan yang tinggi dari kelompok atau organisasinya.
Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan oleh penulis, maka pertanyaan
penelitiannya yaitu:
1. Bagaimana struktur faktor motivasi belajar yang terbentuk pada mahasiswa Gen-Z di
Program Studi Manajemen Universitas Islam Bandung?
2. Faktor motivasi manakah yang paling mendominasi dalam memengaruhi perilaku
belajar mereka?
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
144
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
2. Metode
Jenis penelitian yang dilakukan yaitu kuantitatif, penelitian yang didasarkan pada
pengukuran atau kuantifikasi sebuah fenomena yang diteliti (Dubey & Kothari, 2022). Metode
analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Exploratory Factor Analysis (EFA).
Exploratory Factor Analysis (EFA) merupakan metode statistik multivariat yang bertujuan
untuk menyelidiki struktur faktor pada sebuah variabel (Fontaine, 2004; Sürücü et al., 2022).
Populasi dalam penelitian ini merupakan mahasiswa aktif Program Studi Manajemen
Universitas Islam Bandung angkatan 2019 hingga 2023 dengan jumlah 523 mahasiswa.
Bentuk sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu probability sampling dengan teknik
simple random sampling. Untuk menentukan jumlah sampel minimum pada penelitian ini,
penulis melakukan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat Acceptable
Margin of Error (e) sebesar 10%. Didapatkan jumlah sampel minimum dalam penelitian ini
sebesar 84 mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Islam Bandung.
Selanjutnya penulis mengumpulkan data primer dengan menyebarkan kuesioner.
Instrumen dalam kuesioner diukur menggunakan skala Likert yang terdiri dari 5 poin (1 =
sangat tidak setuju; 5 = sangat setuju). Item kuesioner yang disebarkan dalam penelitian ini
mengadopsi dari Steers & Braunstein yang kemudian terdapat penyesuaian narasi kuesioner
agar relevan dengan konteks motivasi pada mahasiswa (Griffin et al., 2020). Item kuesioner ini
terdiri dari 15 pernyataan yang mewakili konsep motivasi dari David McClelland yaitu need
for achievement (5 item pernyataan), need for power (5 item pernyataan), dan need for
affiliation (5 item pernyataan). Item kuesioner dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Item Kuesioner
Item Pernyataan
Kata Kunci
Tema
Saya berusaha keras untuk terus meningkatkan performa belajar saya.
Peningkatan
performa
Achievement
Saya senang tantangan. Dalam kuliah atau organisasi, saya suka mengambil
tugas yang sulit.
Tantangan
Achievement
Ketika belajar atau mengerjakan proyek, saya ingin tahu bagaimana
perkembangan hasil kerja saya.
Feedback
Achievement
Saya cenderung menetapkan target belajar atau kegiatan yang realistis, dan
biasanya tercapai.
Ketercapaian
target
Achievement
Saya merasa puas jika berhasil menyelesaikan tugas kuliah atau kegiatan yang
sulit.
Puas atas
pencapaian
Achievement
Saya suka kompetisi. Saya senang menang dalam lomba, akademik, maupun
kegiatan lain.
Berorientasi
Pada
Kemenangan
Power
Saya suka memimpin. Saya senang menjadi penanggung jawab dalam
kelompok atau proyek.
Penanggung
jawab
Power
Jika saya tidak setuju dengan pendapat orang lain, saya akan menyampaikan
pendapat saya dengan jujur.
Komunikatif
Power
Penting bagi saya agar orang lain bisa menerima dan setuju dengan ide saya.
Mempengaruhi
Power
Salah satu tujuan saya adalah memiliki lebih banyak kendali atas apa yang
terjadi di sekitar saya.
Memegang
Kendali
Power
Saat belajar atau berorganisasi, saya sering ngobrol santai tentang hal di luar
tugas dengan teman-teman.
Interaksi sosial
Affiliation
Penting bagi saya untuk disukai oleh orang-orang di sekitar saya.
Penerimaan
sosial
Affiliation
Banyak teman kuliah atau organisasi saya juga menjadi teman dekat di luar
kegiatan.
Hubungan
sosial
Affiliation
Saya senang menjadi bagian dari organisasi, komunitas, atau kelompok di
kampus.
Keterlibatan
Affiliation
Saya lebih suka belajar atau bekerja sama dalam kelompok dibandingkan
sendirian.
Kolaborasi
Affiliation
Sumber: Adaptasi dari Steers and Braunstein (Griffin et al., 2020)
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
145
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
Pengolahan data dari item kuesioner ini menggunakan bantuan aplikasi IBM SPSS
Statistics 25 yang dimulai dari pengujian normalitas data sebagai syarat untuk melakukan
analisis metode Exploratory Factor Analysis (EFA).
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian normalitas data menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. (2-
tailed) > dari 0.05, oleh karena itu dapat dijelaskan bahwa seluruh data penelitian bersifat
normal dan dapat dilakukan pengujian selanjutnya. Untuk memastikan bahwa setiap indikator
dalam instrumen penelitian benar-benar merepresentasikan konstruk motivasi belajar
mahasiswa, dilakukan analisis Exploratory Factor Analysis (EFA). Analisis ini bertujuan
untuk mengidentifikasi struktur laten dari sekumpulan variabel yang diamati, sehingga dapat
diketahui kelompok indikator yang membentuk faktor-faktor utama dalam konstruksi
motivasi. Melalui EFA, peneliti dapat menentukan jumlah faktor dominan yang muncul serta
hubungan antar indikator dalam masing-masing faktor. Berdasarkan hasil analisis
menggunakan (EFA), diperoleh bahwa dari 15 indikator motivasi belajar mahasiswa yang
diuji, hanya 13 indikator yang memenuhi syarat validitas dan dapat diinterpretasikan lebih
lanjut. Proses rotasi menghasilkan empat komponen utama atau faktor dominan yang
menjelaskan variabilitas motivasi belajar mahasiswa.
Berdasarkan hasil analisis Exploratory Factor Analysis (EFA), proses ekstraksi
menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) hasil analisis menunjukkan data
sebagai berikut:
Tabel 3. Total Variance Explained
Componen
t
Initial Eigenvalues
Extraction Sums of Squared
Loadings
Rotation Sums of Squared
Loadings
Tota
l
% of
Varianc
e
Cumulativ
e %
Tota
l
% of
Varianc
e
Cumulativ
e %
Tota
l
% of
Varianc
e
Cumulativ
e %
1
4.22
0
32.465
32.465
4.22
0
32.465
32.465
2.31
7
17.823
17.823
2
1.46
5
11.266
43.732
1.46
5
11.266
43.732
2.26
1
17.392
35.214
3
1.19
3
9.175
52.906
1.19
3
9.175
52.906
2.05
5
15.811
51.025
4
1.15
8
8.905
61.812
1.15
8
8.905
61.812
1.40
2
10.787
61.812
5
.893
6.872
68.684
6
.713
5.485
74.170
7
.683
5.255
79.425
8
.575
4.426
83.851
9
.523
4.027
87.878
10
.453
3.487
91.365
11
.438
3.370
94.734
12
.356
2.735
97.470
13
.329
2.530
100.000
Extraction Method: Principal Component Analysis.
Sumber: Olah Data Penulis (2025)
Berdasarkan tabel 3 ditemukan bahwa terdapat empat komponen utama dengan nilai
eigenvalues di atas 1 yang secara keseluruhan mampu menjelaskan 61,812% dari total varians.
Sebelum dilakukan rotasi, komponen pertama memiliki kontribusi paling besar, yaitu sebesar
32,465%, sedangkan komponen lainnya memberikan kontribusi yang relatif kecil. Setelah
diterapkan rotasi Varimax, distribusi varians menjadi lebih seimbang, dengan kontribusi
masing-masing faktor sebesar 17,823%, 17,392%, 15,811%, dan 10,787%. Proses rotasi ini
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
146
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
tidak mengubah total varians yang dijelaskan, tetapi memperjelas struktur hubungan antar
faktor sehingga setiap indikator lebih menonjol pada satu komponen tertentu. Berdasarkan
hasil tersebut, keempat komponen dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Achievement-oriented with social control, yang mencakup indikator peningkatan
performa, umpan balik, kepuasan atas pencapaian, memegang kendali dan hubungan
sosial.
2. Powerful Achievement, yang terdiri atas indikator tantangan, penanggung jawab, dan
keterlibatan
3. Social-Collaborative, yang memuat indikator interaksi sosial dan penerimaan sosial
4. Achievement with Competitive Drive, yang berorientasi pada ketercapaian target dan
kompetisi.
Dengan demikian, penerapan rotasi Varimax berperan penting dalam memperjelas
pembentukan faktor yang koheren serta konsisten dengan kerangka teori motivasi
McClelland. Setelah mengetahui nilai total variance yang terdiri dari 4 faktor, langkah
selanjutnya adalah mengetahui komponen dari faktor-faktor tersebut. Berikut merupakan
hasil Rotated Component Matrix:
Tabel 4. Rotated Component Matrix
Component
Factors
Keywords
1
2
3
4
Achieveme
nt
Performance Improvement
.817
.086
.089
.052
Challenges
.138
.822
.123
.115
Feedback
.649
.202
-.155
.437
Target Achievement
.032
.060
.197
.801
Satisfaction with
Achievement
.654
.051
.267
.085
Power
Win-Oriented
.274
.341
.204
.553
Responsible
.045
.851
-.070
.156
Communicative
.513
.496
.256
.146
Influencing
.092
.193
.675
.138
In Control
.024
-.159
.681
.184
Affiliation
Social Interaction
.549
.155
.405
-.330
Social Acceptance
.248
.577
.522
-.177
Social Relationships
.259
.159
.656
.056
Extraction Method: Principal Component Analysis.
Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.
a
a. Rotation converged in 7 iterations.
Sumber: Olah Data Penulis (2025)
Berdasarkan tabel Rotated Component Matrix dapat dilihat komponen komponen
pada masing masing faktor motivasi dari mahasiswa. Hal tersebut dapat diuraikan bahwa:
1. Achievement-Oriented with Social Control
Faktor ini memiliki loading factors yang terdiri dari: Peningkatan performa (0.817),
feedback (0.649), dan puas atas pencapaian (0.654). Merujuk pada teori Motivasi
MclLelland, ketiga loading factors ini merupakan komponen dari faktor Kebutuhan
akan Prestasi. Sedangkan komponen memegang kendali (0.513) merupakan faktor
dari Kebutuhan akan Kekuasaan, dan komponen hubungan sosial (0.549) merupakan
faktor dari Kebutuhan akan Afiliasi. Jika diurutkan berdasarkan nilai loading factors
tertinggi yaitu: (1) Peningkatan performa; (2) Puas atas pencapaian; (3) Feedback; (4)
Hubungan sosial; (5) Memegang kendali. Pola pada faktor Achievement-Oriented
with Social Control menunjukkan bahwa responden termotivasi untuk berprestasi
melalui feedback, relasi, dan kontrol atas hasil kerjanya.
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
147
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
2. Powerful Achievement
Merujuk pada teori Motivasi MclLelland, loading factors tantangan (0.822)
merupakan komponen dari faktor Kebutuhan akan Prestasi. Sedangkan komponen
penanggung jawab (0.851) merupakan faktor dari Kebutuhan akan Kekuasaan, dan
komponen keterlibatan (0.577) merupakan faktor dari Kebutuhan akan Afiliasi. Jika
diurutkan berdasarkan nilai loading factors tertinggi yaitu: (1) Penanggung jawab; (2)
Tantangan; (3) Keterlibatan. Pola pada faktor Powerful Achievement menunjukkan
bahwa responden merupakan individu yang proaktif, menyukai tantangan, dan
berperan aktif dalam memimpin serta mengambil keputusan.
3. Social-Collaborative
Merujuk pada teori Motivasi MclLelland, keseluruhan loading factors merupakan
komponen dari faktor Kebutuhan akan Afiliasi. Berdasarkan urutan nilai loading
factors tertinggi hingga terendah pada kebutuhan akan prestasi yaitu: (1) Penerimaan
sosial dengan nilai 0.681; (2) Interaksi sosial dengan nilai 0.675; (3) Kolaborasi
dengan nilai 0.656. Pola pada faktor Social-Collaborative menunjukkan bahwa
responden merupakan individu yang memiliki dorongan untuk diterima, berhubungan
baik, dan bekerja sama dengan orang lain.
4. Achievement with Competitive Drive
Merujuk pada teori Motivasi MclLelland, loading factors ketercapaian target (0.801)
merupakan komponen dari faktor Kebutuhan akan Prestasi dan komponen orientasi
pada kemenangan (0.553) merupakan faktor dari Kebutuhan akan Kekuasaan.Pola
pada faktor Achievement with Competitive Drive menunjukkan bahwa responden
memiliki dorongan kuat untuk mencapai target dan menang, yang merupakan
kombinasi antara achievement dan power.
Temuan Exploratory Factor Analysis (EFA) mengidentifikasi empat faktor dominan yang
menjelaskan 61,812% total varians motivasi belajar mahasiswa. Keempat faktor ini yaitu
Achievement-Oriented with Social Control, Powerful Achievement, Social-Collaborative, dan
Achievement with Competitive Drive tidak secara langsung mereplikasi tiga kebutuhan
McClelland (need for achievement, need for power, need for affiliation). Pola ini justru
menunjukkan adanya struktur motivasi yang terintegrasi dan kontekstual, di mana kebutuhan-
kebutuhan ini tidak bekerja secara terpisah, tetapi berpadu dalam konteks perkuliahan.
Penjelasan dari keempat faktor ini adalah sebagai berikut:
1. Achievement-Oriented with Social Control
Faktor ini didominasi oleh indikator prestasi (Peningkatan performa, Feedback, Puas
atas pencapaian) namun menariknya, faktor ini memiliki indikator need for power
(Memegang Kendali) dan need for affiliation (Hubungan sosial). Hal ini ditafsirkan
sebagai refleksi dinamika tugas atau proyek kelompok yang kompleks. Responden
termotivasi untuk mencapai hasil tertinggi (achievement), dengan cara mengambil
kendali (power) di dalam kelompok yang disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan
tanggung jawab anggota lainnya. Hal ini sesuai dilakukan oleh responden karena
mereka mengalami kesulitan dalam membagi peran dan tanggung jawabnya dalam
kelompok sebagai akibat dari banyaknya aktivitas lain yang dilakukan mahasiswa
tersebut (Wirayudha et al., 2024a). Namun cara yang dilakukan oleh responden yaitu
dengan menjaga hubungan sosial relasi dengan anggota kelompoknya. Cara ini
dilakukan oleh responden agar dapat menguragi konflik yang terjadi yang mungkin
disebabkan oleh perbedaan tujuan, proses, dan antar personal dalam pengerjaan tugas
atau proyek kelompok (Griffin et al., 2020).
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
148
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
2. Powerful Achievement
Faktor ini menunjukkan perpaduan antara dorongan prestasi (Tantangan) dengan
kebutuhan kekuasaan (Penanggung jawab) dan afiliasi (Keterlibatan). Dominasi
indikator Penanggung Jawab (0.851) menunjukkan bahwa responden melihat tugas
atau proyek sebagai sarana untuk melatih dan unjuk kemampuan mereka pada aspek
kepemimpinan, bukan sekadar bertujuan untuk hasil akademis semata. Mereka
mengambil peran penanggung jawab (power) untuk mengatasi tantangan
(achievement) dalam tugas atau proyek yang dikerjakan. Hal ini menguatkan
argumentasi bahwa kesulitan pada dinamika kelompok yang sering muncul,
memberikan dorongan pada individu untuk menjadi lebih proaktif memimpin agar
dapat menyelesaikan masalah kelompok.
3. Social-Collaborative
Faktor ini merupakan representasi yang paling sesuai dari Kebutuhan Afiliasi. Faktor
ini terdiri dari Penerimaan sosial, Interaksi sosial, dan Kolaborasi. Temuan ini
konsisten dengan literatur yang menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan
afiliasi yang tinggi menyukai situasi kerja sama dan berusaha mendapatkan
persetujuan sosial. Dalam konteks pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa
(student-centered learning), kolaborasi menjadi kebutuhan primer bagi mahasiswa.
4. Achievement with Competitive Drive
Faktor ini menyoroti orientasi yang sangat spesifik yaitu pencapaian target (Prestasi)
yang diiringi oleh dorongan untuk menang (Kekuasaan/Kompetisi). Pola ini secara
jelas berhubungan dengan tingginya keterlibatan responden dalam berbagai kompetisi
yang diikutinya. Bagi kelompok responden ini, motivasi belajar tidak hanya tentang
pemahaman konsep, tetapi tentang keunggulan komparatif dan hasrat untuk berada di
puncak tinggi atau memenangkan persaingan. Kehadiran faktor ini mendukung
perlunya dosen untuk membuat tugas yang menantang dan kompetitif agar dapat
merangsang motivasi mahasiswa untuk berprestasi lebih tinggi lagi.
Berdasarkan pembahasan 4 faktor tersebut, penulis menemukan sesuatu yang menarik
yaitu adanya kesenjangan antara dominasi Faktor 1 (Achievement-Oriented with Social
Control) dengan rendahnya varians Faktor 4 (Achievement with Competitive Drive). Secara
sepintas, hal ini tampak kontradiktif karena responden memiliki dorongan kuat untuk
berprestasi, namun cenderung enggan terlibat dalam kompetisi. Fenomena ini dapat
dijelaskan melalui lensa Achievement Goal Theory (Elliot & Mcgregor, 2001). Mahasiswa
dalam studi ini menunjukkan karakteristik Mastery-Approach yang kuat (Faktor 1), di mana
fokus utama mereka adalah pada pengembangan kompetensi diri, penguasaan materi, dan
standar internal yang tinggi. Sebaliknya, Faktor 4 mengindikasikan lemahnya Performance-
Approach, yaitu rendahnya keinginan untuk mengungguli orang lain secara normatif.
Kompetisi terbuka sebagai sarana pada Faktor 4 mungkin sering kali dianggap berisiko
merusak harmoni sosial atau "Social Control" (Faktor 1) oleh responden. Konsekuensi dari
hal ini yaitu pembentukan profil motivasi yang responden adalah Collaborative Achiever
yang dapat diartikan sebagai individu yang ambisius terhadap kualitas hasil kerja, namun
lebih memilih jalur aman dan kolaboratif daripada jalur kompetitif yang berisiko konflik.
Implikasi negatifnya dari profil ini yaitu, para responden mungkin sangat kompeten secara
teknis, namun kurang memiliki "daya juang" (fighting spirit) saat menghadapi tekanan
kompetisi yang tinggi (hyper-competitive) karena mereka tidak terbiasa dengan dinamika
"menang-kalah" (Faktor 4).
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
149
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
4. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur faktor motivasi belajar mahasiswa
Program Studi Manajemen Universitas Islam Bandung berdasarkan teori kebutuhan David
McClelland. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa motivasi mahasiswa tidak tunggal,
melainkan terstruktur menjadi empat faktor yang terintegrasi yaitu: (1) Achievement-Oriented
with Social Control, (2) Powerful Achievement, (3) Social-Collaborative, dan (4)
Achievement with Competitive Drive. Secara spesifik, Achievement with Social Control
menjadi faktor dominan, sementara Competitive Drive adalah faktor yang terlemah. Penelitian
ini menunjukkan bahwa pada mahasiswa Gen-Z di lingkungan Perguruan Tinggi Islam
khususnya Program Studi Manajemen di Universitas Islam Bandung, orientasi achievement
tidak selalu berbanding lurus dengan kompetisi, melainkan achievemnet ini diraih dengan cara
berkolaborasi (Collaborative Achiever).
Penulis mengusulkan rekomendasi yang diambil dari temuan penelitian sebagai berikut:
1. Para pengelola Pendidikan Tinggi dan Desain Kurikulum. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kecenderungan profil Collaborative
Achiever. Hal ini merupakan hal yang baik bagi para mahasiswa, namun bagi para
pengelola Pendidikan Tinggi, profil ini perlu diimbangi dengan strategi pedagogis
yang spesifik untuk memberikan dukungan kepada para mahasiswa agar dapat
meningkatkan “daya juang” yang lebih tinggi lagi, terutama ketika para mahasiswa ini
sudah lulus dan akan menghadapi persaingan terbuka di masyarakat atau pasar tenaga
kerja
2. Metode dan Bentuk Pembelajaran Kompetisi Antar Kelompok: Karena faktor
Achievement with Competitive Drive ini memiliki nilai yang paling kecil dibandingkan
dengan ketiga faktor lainnya, serta faktor Social-Collaborative ini merupakan faktor
murni dari kebutuhan akan afiliasi, para dosen disarankan merancang metode dan
bentuk pembelajaran yang meningkatkan kompetisi terbuka berbasis tim. Dosen dapat
merangsang dorongan kompetitif mahasiswa dalam lingkungan yang aman secara
psikologis. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk melatih jiwa kompetitifnya tanpa
mengorbankan kebutuhan afiliasi mereka.
3. Rotasi Kepemimpinan dalam sebuah kelompok: Untuk mengakomodasi dorongan
Faktor Powerful Achievement, setiap perkuliahan yang berbasis kelompok mahasiswa
sangat disarankan untuk melakukan rotasi peran kepemimpinan pada setiap kelompok.
Hal ini ditujukan untuk memastikan dan ”memaksamahasiswa untuk menjalankan
kendali dan wewenang dalam pengambilan keputusan kelompok, melatih kekuasaan
untuk memiliki keterampilan manajerial yang nyata sebagai seorang pemimpin.
4. Penilaian yang berorientasi Umpan Balik: Menyadari bahwa motif dominan
mahasiswa adalah Faktor Achievement-Oriented with Social Control, metode penilaian
disarankan menggunakan umpan balik yang mengacu pada kriteria (proses dinamika
kelompok). Dosen harus memberikan umpan balik berkelanjutan dan konstruktif yang
menantang mahasiswa untuk melampaui kinerja mereka sebelumnya. Umpan balik
berkelanjutan dan konstruktif ini harus selaras dengan motivasi intrinsik mereka
daripada perbandingan eksternal antar kelompok.
5. Keterbatasan utama dalam penelitian ini yaitu hanya memotret motivasi belajar
mahasiswa Gen Z pada satu waktu saja dan sampel yang digunakan masih terlalu
sedikit untuk memotret motivasi belajar mahasiswa. Maka, bagi penelitian selanjutnya,
disarankan untuk:
a. Menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) pada ukuran
sampel yang lebih besar yang membandingkan antara Perguruan Tinggi Islam
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
150
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
dan Perguruan Tinggi umum agar dapat lebih memotret bagaimana motivasi
belajar para mahasiswa Gen Z di perguruan tinggi.
b. Mengadopsi desain Explanatory Sequential Mixed-Methods untuk menggali
secara kualitatif alasan psikologis di balik rendahnya dorongan kompetisi
(competitive drive) meskipun orientasi prestasinya tinggi."
5. Ucapan Terimakasih
Terimakasih kami ucapkan kepada Program Studi Manajemen di Universitas Islam
Bandung, yang memberikan bantuan administratif dan fasilitas yang dibutuhkan untuk
penelitian ini. Kami menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa Program Studi Manajemen
di Universitas Islam Bandung yang telah berpartisipasi sebagai responden pada penelitian ini.
6. Daftar Pustaka
Abdillah, F. (2024). Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya
Manusia di Indonesia. Educazione: Jurnal Multidisiplin, 1(1), 1324.
https://doi.org/10.37985/educazione.v1i1.4
Bafadal, R., & Rosyid, F. (2024). Memahami Kebutuhan Belajar Generasi Z melalui Asesmen
Personal Berbasis Artificial Intelegence. Journal of Innovation and Teacher
Professionalism, 3(1), 182188. https://doi.org/10.17977/um084v3i12025p182-188
Baptista, J., Silva, S., Stettiner, C. F., & Novais, R. (2021). Analysis of the Theory of Acquired
Needs from McClelland as a Means of Work Satisfaction. Timor Leste Journal of
Business and Management, 3, 5459. https://doi.org/10.51703/bm.v3i2.48
Cokley, Kevin. (2014). A Confirmatory Factor Analysis of the Academic Motivation Scale
With Black College Students. Measurement and Evaluation in Counseling and
Development, 48(2), 124139. https://doi.org/10.1177/0748175614563316
Dolot, A. (2018). The Characteristics of Generation Z. E-Mentor, 4450.
https://doi.org/10.15219/em74.1351
Dubey, U. K. B., & Kothari, D. P. (2022). Research Methodology: Techniques and Trends (1st
ed.). CRC Press Taylor and Francis. https://doi.org/10.1201/9781315167138
Elliot, A., & Mcgregor, H. (2001). A 2 × 2 Achievement Goal Framework. Journal of
Personality and Social Psychology, 30, 957971. https://doi.org/10.1037/t02396-000
Fontaine, J. R. J. (2004). Equivalence. Encyclopedia of Social Measurement, Three-Volume
Set, 1, V1-803-V1-813. https://doi.org/10.1016/B0-12-369398-5/00116-X
Gafarurrozi, M., Fathurrohman, R., Prihantoro, W. K., & Sugianto, H. (2024). Dynamics of
Motivation in PAI Learning Study of McClelland’s Theory of Motivation and Its
Application in Improving Student Achievement. Journal of Contemporary Islamic
Education, 4, 233242. https://doi.org/10.25217/jcie.v3i1.3787
Grace-Bridges, R. (2018). Book Review: Generation Z Goes to College.
https://www.researchgate.net/publication/332819760_The_Journal_of_College_Orientati
on_and_Transition
Griffin, R. W., Phillips, J. M., & Gully, S. M. (2020). Organizational Behavior: Managing
People and Organizations (13th ed.). Cengage Learning Inc.
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
151
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
Gutierrez, M. (2025, September 3). Beyond the Lecture Hall: Enhancing Motivation in Gen Z
Learners. Www.Mheducation.Com.
https://www.mheducation.com/highered/blog/2025/08/enhancing-motivation-in-gen-z-
learners.html
Luthans, F., Luthans, B. C., & Luthans, K. W. (2021). Organizational Behavior : An Evidence-
Based Approach (14th ed.). Information Age Publishing, Incorporated.
Luthfiyyah, A., Maharani, D. D., Desvita, E., & Aulia, N. R. (2025). Efektivitas Pendekatan
Student-Centered Learning dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa dalam
Proses Pembelajaran. Jurnal Yudistira: Publikasi Riset Ilmu Pendidikan Dan Bahasa,
3(2), 147161.
Maharani, A. C., Attaqiy, M., & Suparmi. (2024). Peran Kebutuhan McClelland dalam
Pembentukan Motivasi Belajar Peserta Didik di Era Digital. Jurnal Pendidikan Dasar Dan
Manajemen Pendidikan, 5(2).
https://doi.org/https://doi.org/10.53565/bahusacca.v5i2.1549
McClelland, D. C. (1976). The Achieving Society. Irvington Publisher.
Nurhariza, F., Nasichah, & Karimah, A. (2023). Persepsi Mahasiswa tentang Stres Akademik
dan Dampaknya pada Motivasi Belajar Mahasiswa Semester 5 Bimbingan Penyuluhan
Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran, Vol. 2
No. 2, 188. https://doi.org/https://doi.org/10.1342/tarbiyah.v2i2.106
Pinder, C. C. (2008). Work Motivation in Organizational Behavior Second Edition (2nd ed.).
Psychology Press.
Priyanto, & Azis, A. (2018). STUDI KAUSALITAS MOTIF SOSIAL
McCLELLAND,BUDAYA KERJA YANG DIMEDIASI KOMPETENSI
FUNGSIONAL DI POLITEKNIK NEGERI MADIUN. Jurnal Manajemen,
Administrasi, Pemasaran, Dan Kesehatan, 2, 9.
https://doi.org/https://doi.org/10.32486/epicheirisi.v2i2.456
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2022). Organizational Behavior (18th ed.). Pearson Education
Limited.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2024). Organizational behavior. Pearson Education, Limited.
Saputra, E., Riza, M., & Apriza, M. (2025). Determination of Student Motivation in the Islamic
Education Master’s Program at IAIN Takengon: A Review from Social, Economic, and
Academic Aspects (Cohort 20232024). Journal of Multicultural Education and Social
Studies (JOMESS), 2(1), 1827.
Siok, T. H., Sim, M. S., & Rahmat, N. H. (2023). Motivation to Learn Online: An Analysis
From Mcclelland’s Theory of Needs. International Journal of Academic Research in
Business and Social Sciences, 13(3). https://doi.org/10.6007/ijarbss/v13-i3/16471
Sukendro, & Yuliawan, E. (2021). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Atletik Menggunakan
Pendekatan Metode Student Centered Learning (SCL) Model Case Method pada
Mahasiswa Porkes FKIP UNJA. Jurnal Cerdas Sifa Pendidikan, 9098.
https://doi.org/https://doi.org/10.22437/csp.v10i2.15902
Sürücü, L., Yikilmaz, İ., & Maslakci, A. (2022). Exploratory Factor Analysis (EFA) in
Quantitative Researches and Practical Considerations.
https://doi.org/10.31219/osf.io/fgd4e
Academy of Education Journal
Vol.17, No. 1, Januari 2026, Page: 139-152
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
152
Aditia Wirayudha et.al (Gen Z sebagai Collaborative Achiever: Analisis....)
Syah, M. C. (2019). Uji Validitas Konstruk Pada Instrumen Motivasi Akademik Dengan
Metode Confirmatory Factor Analysis (CFA). Jurnal Pengukuran Psikologi Dan
Pendidikan Indonesia (JP3I), 7(2), 7885. https://doi.org/10.15408/jp3i.v7i2.12099
Wirayudha, A., Firdaus, F. S., Maajid, R. A., Nurfarida, F., & Santosa, M. I. (2024a). Kesulitan
Mahasiswa Dalam Membagi Tugas Kelompok Sebagai Efek Terhadap Perilaku Social
Loafing. Academy of Education Journal, 15(1), 148157.
https://doi.org/10.47200/aoej.v15i1.2145
Wirayudha, A., Firdaus, F. S., Maajid, R. A., Nurfarida, F., & Santosa, M. I. (2024b). Social
Loafing Behavior of Students in the Group Learning Process in Faculty of Economics
and Business Universitas Islam Bandung. KnE Social Sciences, 9(22).
https://doi.org/10.18502/kss.v9i22.16669
Zhang, F., Bae, C. L., Broda, M. D., & Koenka, A. C. (2023). Factor Structure of Student
Science-Learning Motivation: Evidence from TIMSS U.S. Data. Sustainability, 15(17).
https://doi.org/10.3390/su151713230