Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
82
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Optimalisasi Pendidikan Pancasila di Politeknik
Negeri Lampung: Upaya Penguatan Nilai-nilai
Pancasila dalam Pembentukan Karakter Mahasiswa
Gilang Zulfikar
a,1
, Upy Raudotul Jannah
b,2
, Maisuri Hardani
c,3
, Reza Wahyuni
d,4
a,b,c,d
Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
1
gilangzulfikar@polinela.ac.id,
2
upyraudot[email protected].id,
3
maisurihardani@polinela.ac.id,
4
rezawahyuni19@polinela.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 4 September 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 10 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari 2026
Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi penerapan nilai-nilai
Pancasila dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila serta kontribusinya
terhadap pembentukan karakter mahasiswa di Politeknik Negeri Lampung.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi,
wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
nilai-nilai Pancasila telah terintegrasi dalam kurikulum, proses
pembelajaran, dan budaya kampus. Dosen menerapkan pendekatan
kontekstual, reflektif, dan partisipatif yang menumbuhkan kesadaran moral,
tanggung jawab, dan toleransi mahasiswa. Dukungan kelembagaan melalui
kebijakan dan program karakter turut memperkuat internalisasi nilai-nilai
Pancasila. Pendidikan Pancasila berperan strategis dalam membentuk
mahasiswa yang berintegritas, nasionalis, dan berjiwa sosial.
Kata Kunci:
Pendidikan Pancasila,
karakter mahasiswa,
nilai moral,
internalisasi nilai.
ABSTRACT
Keywords:
Pancasila Education,
student character,
moral values,
value internalization.
This study aims to analyze the optimization of Pancasila value implementation
in the Pancasila Education course and its contribution to character building
among students at Politeknik Negeri Lampung. A qualitative descriptive
method was employed through observation, interviews, and documentation
studies. The findings reveal that Pancasila values are integrated into the
curriculum, learning process, and campus culture. Lecturers apply contextual,
reflective, and participatory approaches that foster students’ moral awareness,
responsibility, and tolerance. Institutional support through policies and
character programs strengthens the internalization of Pancasila values.
Pancasila Education plays a strategic role in shaping students with integrity,
nationalism, and social awareness.
©2026, Gilang Zulfikar, Upy Raudotul Jannahb, Maisuri Hardani, Reza Wahyuni
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan
kepribadian individu yang berkualitas. Tahap ini menjadi momentum strategis untuk
menanamkan nilai-nilai moral dan etika sebagai fondasi utama dalam pengembangan karakter
mahasiswa yang unggul. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan dalam bidang tertentu, tetapi juga menjadi arena pembentukan
karakter yang akan mengubah mahasiswa menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas
dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, Abdi (2016) menegaskan bahwa perguruan tinggi
memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda
dengan menginternalisasi nilai-nilai luhur bangsa kepada mahasiswa. Selain itu, pendidikan
tinggi juga berperan dalam memberikan pendidikan mengenai nilai-nilai keagamaan, budi
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
83
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
pekerti, kepribadian, etika, dan nilai-nilai ideologis kebangsaan. Melalui proses pendidikan
yang holistik ini, perguruan tinggi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya
unggul secara akademik, tetapi juga memiliki moralitas dan integritas tinggi.
Sebagai negara yang menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara, Indonesia
mengakui pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan,
terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia dirancang sebagai sarana utama
untuk menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi muda. Hal
ini tidak hanya terbatas pada penyampaian materi ajar, tetapi juga bertujuan untuk membentuk
karakter, sikap, dan perilaku yang mencerminkan semangat Pancasila. Implementasi nilai-nilai
Pancasila dalam pendidikan mencakup berbagai dimensi, seperti penyusunan kurikulum yang
mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, penerapan metode pembelajaran yang menumbuhkan
semangat gotong royong, demokrasi, dan toleransi, hingga penciptaan lingkungan belajar yang
inklusif serta menghargai keberagaman (Arafat, 2021). Dengan pendekatan ini, pendidikan
diharapkan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi
juga berkarakter kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pendidikan berbasis Pancasila, sebagaimana dijelaskan oleh Lestari (2021), merupakan
upaya strategis Indonesia untuk mencetak generasi yang memiliki keseimbangan antara
kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Generasi yang diharapkan bukan hanya
cemerlang dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi, rasa
empati terhadap sesama, serta dedikasi untuk berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat
yang adil dan bermartabat. Pendidikan ini tidak sekadar berfokus pada pengembangan
individu, tetapi juga pada pembentukan karakter warga negara yang mencintai tanah air,
menghormati keberagaman, dan aktif dalam menjaga persatuan serta keutuhan bangsa. Lebih
jauh lagi, pendidikan berbasis nilai-nilai Pancasila dirancang untuk melahirkan generasi
penerus yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas bangsa. Mereka
diharapkan menjadi agen perubahan yang berperan dalam pembangunan sosial yang inklusif,
menjaga harmoni antar kelompok, dan mendorong terciptanya masyarakat yang berorientasi
pada kebersamaan. Dengan nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan persatuan yang
ditanamkan sejak dini, pendidikan ini menjadi pilar penting dalam menciptakan bangsa yang
kuat, berintegritas, dan mampu bersaing di kancah internasional.
Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sebagai landasan
kehidupan berbangsa semakin memudar. Penelitian Oktari (2021) mengungkapkan bahwa
lunturnya nilai-nilai Pancasila, terutama pada generasi milenial, dipengaruhi oleh perubahan
dalam penerapannya yang semakin tergerus oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Individualisme yang semakin menonjol mengurangi interaksi sosial dan rasa kebersamaan,
yang berdampak negatif pada mentalitas dalam menghadapi tantangan hidup. Situasi ini
menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana utama untuk menanamkan dan
memperkuat nilai-nilai Pancasila. Pendidikan tidak hanya berfungsi membangun karakter,
tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Dengan demikian, pendidikan menjadi kunci untuk mengatasi krisis nilai ini dan memastikan
generasi penerus mampu menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan jati diri dan
identitas sebagai bangsa Indonesia.
Meskipun nilai-nilai Pancasila telah menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan
tinggi, tantangan dalam penerapannya tetap signifikan. Kesulitan dalam menyampaikan nilai-
nilai tersebut secara efektif kepada mahasiswa sering kali muncul akibat kendala dalam proses
pengajaran dan pembelajaran. Menurut Sayoto & Daryono (2019), faktor eksternal seperti
pengaruh lingkungan sosial, perkembangan teknologi, dan derasnya arus informasi turut
memengaruhi pemahaman serta penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
mahasiswa.Oleh karena itu, diperlukan strategi yang inovatif dan berkelanjutan untuk
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
84
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
meningkatkan metode pengajaran, termasuk pendekatan yang lebih interaktif dan relevan
dengan dinamika kehidupan modern. Pembinaan karakter yang terarah dan pemahaman
mendalam tentang nilai-nilai Pancasila harus diintegrasikan secara menyeluruh dalam
pendidikan. Dengan upaya ini, mahasiswa tidak hanya memahami Pancasila sebagai teori,
tetapi juga menjadikannya pedoman nyata dalam sikap, perilaku, dan kontribusi mereka
sebagai generasi penerus bangsa di tengah tantangan era global.
Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi, menurut Aryani (2022), berperan strategis
sebagai sarana utama untuk menanamkan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila pada
mahasiswa. Mata kuliah ini tidak hanya memberikan pemahaman mendasar tentang prinsip-
prinsip kenegaraan, tetapi juga bertujuan membentuk karakter, sikap, dan perilaku yang
sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.Lebih dari sekadar pembelajaran teori, Pendidikan
Pancasila mendorong mahasiswa untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai tersebut
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi sosial maupun kontribusi terhadap
masyarakat dan negara. Dengan pendekatan ini, mahasiswa diharapkan menjadi agen
perubahan yang berdaya, mampu mewujudkan cita-cita luhur bangsa, serta menjaga dan
memperkokoh jati diri Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
Oleh karena itu, penelitian tentang penerapan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan
Pancasila di institusi pendidikan vokasi, khususnya di Politeknik Negeri Lampung, menjadi
sangat relevan dan strategis. Politeknik sebagai institusi pendidikan vokasi memiliki peran
penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara teknis dan profesional, tetapi
juga memiliki karakter kuat yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menjadi semakin
penting di era modern, di mana tantangan global dan arus informasi menuntut lulusan yang
tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas, rasa kebangsaan, dan kepedulian sosial
yang tinggi.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dipahami sejauh mana nilai-nilai Pancasila telah
diterapkan dan dipahami oleh mahasiswa di Politeknik Negeri Lampung. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan
implementasi nilai-nilai tersebut, baik dari aspek internal seperti metode pengajaran dan
kurikulum, maupun aspek eksternal seperti lingkungan sosial dan budaya.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan panduan praktis untuk
mengembangkan strategi pendidikan yang lebih efektif dan relevan dalam konteks pendidikan
vokasi. Dengan pendekatan yang terarah, Politeknik Negeri Lampung dapat memperkuat
perannya dalam membentuk lulusan yang tidak hanya siap menghadapi tantangan dunia kerja,
tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan profesional dan sosial mereka. Upaya ini tidak hanya mendukung
pembangunan karakter individu, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan bangsa yang
lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan.
2. Metode
Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung selama lima bulan, mulai dari
Maret hingga Juli 2025, dengan fokus pada optimalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila dalam
mata kuliah Pendidikan Pancasila serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter
mahasiswa. Lokasi penelitian ini dipilih karena Politeknik Negeri Lampung merupakan lembaga
pendidikan vokasi yang tidak hanya menekankan kompetensi teknis, tetapi juga berkomitmen
membentuk lulusan yang berkarakter Pancasilais. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui
observasi dan wawancara dengan mahasiswa dari sepuluh program studi yang telah atau sedang
mengikuti mata kuliah Pendidikan Pancasila, sedangkan data sekunder mencakup Rancangan
Pembelajaran Semester (RPS), buku ajar, dan dokumen akademik terkait.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
85
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Teknik pengumpulan data meliputi observasi untuk melihat langsung penerapan nilai-nilai
Pancasila, wawancara mendalam untuk menggali pandangan dan pengalaman mahasiswa, serta
dokumentasi untuk memperkuat hasil temuan. Analisis data dilakukan menggunakan model
Miles dan Huberman (Sugiyono, 2019) yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Pendekatan ini dipilih agar analisis dapat
dilakukan secara sistematis dan mendalam, sehingga hasil penelitian mampu memberikan
gambaran komprehensif mengenai efektivitas penerapan nilai-nilai Pancasila dalam membentuk
karakter mahasiswa di Politeknik Negeri Lampung.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan upaya optimalisasi penerapan
nilai-nilai Pancasila dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila serta peran dan kontribusi mata
kuliah tersebut dalam penguatan nilai-nilai Pancasila untuk membentuk karakter mahasiswa di
Politeknik Negeri Lampung. Responden penelitian meliputi dosen pengampu mata kuliah
Pendidikan Pancasila, mahasiswa aktif dari berbagai jurusan, serta pihak institusi yang berperan
dalam pengembangan kurikulum dan kegiatan kemahasiswaan.
1. Upaya optimalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila dalam mata kuliah Pendidikan
Pancasila di Politeknik Negeri Lampung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya optimalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila
dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila di Politeknik Negeri Lampung telah berlangsung
secara efektif dan terintegrasi dalam proses pembelajaran. Dosen secara konsisten
mengaitkan teori dengan realitas sosial mahasiswa melalui pendekatan kontekstual, reflektif,
dan interaktif. Misalnya, dalam pembahasan tentang nilai demokrasi dan musyawarah,
mahasiswa diajak melakukan simulasi penyelesaian masalah bersama sehingga nilai saling
menghargai, tanggung jawab, dan gotong royong dapat terbentuk secara nyata. Pembelajaran
tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga diarahkan pada pembiasaan perilaku
yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Pendekatan reflektif dan partisipatif juga menjadi strategi penting dalam proses
pembelajaran. Melalui penugasan Jurnal Nilai Pancasila Harian, mahasiswa dilatih untuk
merenungkan pengalaman pribadi dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan
sehari-hari. Kegiatan diskusi tematik dan debat kebangsaan yang membahas isu-isu aktual,
seperti intoleransi, disinformasi digital, dan degradasi moral, mendorong mahasiswa berpikir
kritis serta menghargai perbedaan pendapat. Hasil observasi menunjukkan peningkatan
keaktifan, empati, dan kedewasaan berpikir mahasiswa, yang menandakan bahwa
internalisasi nilai-nilai Pancasila berjalan efektif.
Selain itu, dukungan kelembagaan memiliki peran besar dalam memperkuat
implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan kampus. Visi dan misi Politeknik Negeri
Lampung secara jelas menegaskan komitmen terhadap pembentukan sumber daya manusia
profesional dan berkarakter Pancasilais. Kebijakan seperti kode etik mahasiswa, tata tertib
akademik, dan program pembinaan karakter unggul menjadi instrumen nyata dalam
menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan gotong royong. Kegiatan
akademik maupun nonakademik, seperti pengabdian masyarakat dan pelatihan kebangsaan,
turut memperkuat semangat persatuan dan toleransi di kalangan mahasiswa.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan penerapan nilai-nilai Pancasila
di Politeknik Negeri Lampung tidak hanya ditentukan oleh strategi pembelajaran yang
inovatif, tetapi juga oleh dukungan kelembagaan yang konsisten. Kolaborasi antara dosen,
mahasiswa, dan institusi berhasil menciptakan lingkungan akademik yang kondusif bagi
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
86
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
tumbuhnya karakter Pancasilais mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual,
tetapi juga memiliki integritas, nasionalisme, dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
2. Bagaimana peran dan kontribusi dari mata kuliah Pendidikan Pancasila dalam
penguatan nilai-nilai Pancasila untuk membentuk karakter mahasiswa di
Politeknik Negeri Lampung?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah Pendidikan Pancasila di Politeknik
Negeri Lampung memiliki peran yang sangat strategis dalam pembentukan jati diri,
moralitas, dan karakter mahasiswa. Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada
pemahaman teoritis tentang nilai-nilai dasar Pancasila, tetapi juga diarahkan pada
penghayatan dan penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Dosen secara
konsisten mengaitkan materi ajar dengan konteks kehidupan mahasiswa melalui kegiatan
reflektif, seperti penulisan Jurnal Nilai Pancasila Harian, yang mendorong mahasiswa
menilai perilaku dan sikap mereka berdasarkan prinsip moral Pancasila. Pendekatan ini
terbukti meningkatkan kesadaran etis, tanggung jawab, dan kejujuran mahasiswa dalam
aktivitas akademik maupun sosial.
Selain itu, mata kuliah Pendidikan Pancasila juga berkontribusi besar dalam
menumbuhkan sikap nasionalisme dan toleransi. Melalui pembahasan tema-tema aktual
seperti keberagaman budaya, disintegrasi bangsa, dan globalisasi, mahasiswa diajak berpikir
kritis sekaligus menghargai perbedaan. Kegiatan seperti diskusi tematik, debat kebangsaan,
dan proyek kolaboratif antarmahasiswa dari berbagai daerah mendorong tumbuhnya
semangat gotong royong, musyawarah, dan persatuan. Dukungan kelembagaan melalui
kegiatan seperti PKKMB, peringatan Hari Lahir Pancasila, serta program pembinaan
karakter semakin memperkuat pembentukan rasa cinta tanah air dan tanggung jawab
kebangsaan mahasiswa.
Dari sisi pedagogis, keteladanan dosen menjadi instrumen penting dalam pembentukan
karakter mahasiswa. Sikap sopan, disiplin, jujur, dan terbuka yang ditunjukkan oleh dosen
menjadi contoh konkret penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik. Dosen
tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menampilkan nilai-nilai Pancasila melalui
tindakan nyata, baik dalam interaksi di kelas maupun melalui inovasi pembelajaran digital
yang menanamkan etika dan tanggung jawab sosial. Keteladanan ini menginspirasi
mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran moral, menjaga etika, dan berperilaku Pancasilais
tanpa paksaan.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa mata kuliah Pendidikan
Pancasila berperan penting dalam melahirkan lulusan yang berkarakter kuat dan berintegritas
tinggi. Mahasiswa menunjukkan peningkatan kedisiplinan, empati, kejujuran, dan
kemampuan berpikir kritis yang berlandaskan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan.
Proses pembelajaran yang reflektif dan didukung oleh keteladanan dosen serta kebijakan
kelembagaan yang konsisten telah menjadikan Pancasila tidak hanya sebagai materi ajar,
tetapi sebagai panduan moral dan identitas diri mahasiswa. Dengan demikian, Politeknik
Negeri Lampung berhasil menciptakan lingkungan akademik yang menumbuhkan generasi
muda profesional yang berkarakter Pancasilais dan berkomitmen terhadap kemajuan bangsa.
Pembahasan
1. Optimalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila dalam mata kuliah Pendidikan
Pancasila di Politeknik Negeri Lampung?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya optimalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila
dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila di Politeknik Negeri Lampung telah berjalan secara
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
87
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
terencana, sistematis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Para dosen berperan tidak
hanya sebagai penyampai materi ajar, tetapi juga sebagai agen ideologis dan fasilitator nilai,
yang berupaya menghubungkan setiap konsep Pancasila dengan fenomena sosial, politik,
ekonomi, dan budaya yang aktual. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa memahami
bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi normatif, melainkan pedoman hidup yang relevan
dengan dinamika masyarakat modern.
Proses pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan kontekstual, reflektif,
dan interaktif. Dalam pendekatan kontekstual, dosen mengangkat isu-isu aktual seperti
intoleransi, polarisasi politik, korupsi, serta tantangan moral di era digital untuk dianalisis
dari perspektif nilai-nilai Pancasila. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk memahami
pentingnya penerapan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan
sosial dalam kehidupan nyata. Sebagaimana dikemukakan oleh Hadiwijono (2016),
pendidikan Pancasila di perguruan tinggi memiliki fungsi strategis dalam membentuk
manusia yang berkarakter dan bermoral kebangsaan, bukan sekadar memahami ideologi
negara secara konseptual.
Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa dosen di Politeknik Negeri Lampung
menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan diskusi tematik. Mahasiswa terlibat dalam
proyek sosial seperti kegiatan pengabdian masyarakat, kampanye etika digital, dan forum
kebangsaan yang menginternalisasikan nilai-nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan gotong
royong. Temuan ini selaras dengan pandangan Lestari (2021) yang menegaskan bahwa
pembelajaran Pancasila di perguruan tinggi mampu meningkatkan kesadaran ideologis dan
tanggung jawab sosial mahasiswa melalui praktik reflektif dan kolaboratif.
Pendekatan reflektif yang diterapkan dalam pembelajaran juga terbukti efektif dalam
membentuk kesadaran nilai (value awareness). Melalui kegiatan seperti learning journal atau
Jurnal Nilai Pancasila Harian, mahasiswa diajak menulis pengalaman pribadi yang
mencerminkan penerapan nilai-nilai Pancasila. Cara ini memungkinkan mahasiswa untuk
meninjau kembali tindakan dan keputusan moral yang mereka ambil, sebagaimana dijelaskan
oleh Ibda (2020) dalam konsep value-based learning yang menekankan pentingnya refleksi
pengalaman sebagai sarana internalisasi nilai.
Sementara itu, pendekatan partisipatif diwujudkan melalui dialog interaktif dan proyek
kolaboratif antarjurusan. Mahasiswa diberi ruang untuk berdiskusi, berpendapat, dan
menyelesaikan perbedaan secara musyawarah. Hasil observasi menunjukkan bahwa suasana
pembelajaran di kelas bersifat demokratis dan inklusif, di mana dosen berperan sebagai
fasilitator nilai (value facilitator). Hal ini sejalan dengan pandangan Eleanora dan Sari (2019)
yang menegaskan bahwa dosen di perguruan tinggi harus berfungsi sebagai pembimbing
moral dan fasilitator karakter, bukan hanya pengajar teori.
Pendekatan reflektif-partisipatif tersebut terbukti mampu memperkuat dimensi afektif
dan psikomotorik mahasiswa. Mereka tidak hanya memahami Pancasila secara kognitif,
tetapi juga menunjukkan perubahan sikap yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang
adil dan beradab, keadilan sosial, serta gotong royong. Penelitian Ardhani et al. (2022) dan
Aryani et al. (2022) mendukung temuan ini, bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila melalui
pengalaman langsung dapat memperkuat tanggung jawab sosial, kepemimpinan, dan
semangat kebersamaan di kalangan mahasiswa.
Dari sisi kelembagaan, Politeknik Negeri Lampung menunjukkan komitmen
kelembagaan yang kuat terhadap penguatan nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan hasil telaah
dokumen, visi dan misi lembaga secara eksplisit menegaskan tujuan untuk mencetak sumber
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
88
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
daya manusia yang profesional dan berkarakter Pancasilais. Kurikulum yang digunakan telah
memasukkan Pendidikan Pancasila sebagai mata kuliah wajib nasional yang berfungsi
strategis dalam memperkuat pemahaman ideologis dan moral mahasiswa. Sebagaimana
ditegaskan oleh Arafat (2021), perguruan tinggi berperan vital sebagai pusat penguatan
ideologi kebangsaan, sedangkan Ibda (2020) menambahkan bahwa pembelajaran yang
efektif harus mampu mentransformasikan nilai, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.
Selain itu, dukungan kelembagaan juga terlihat dari kebijakan kampus seperti kode etik
mahasiswa, tata tertib akademik, serta program pengembangan karakter mahasiswa unggul.
Kebijakan ini menjadi instrumen normatif yang memperkuat disiplin, tanggung jawab, dan
integritas mahasiswa. Temuan ini memperkuat pendapat Lestari dan Kurnia (2022) yang
menyatakan bahwa efektivitas pendidikan Pancasila sangat bergantung pada struktur
kelembagaan yang menanamkan nilai moral dan karakter dalam setiap kegiatan akademik
maupun manajerial.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Pancasila tidak hanya
terjadi di ruang kelas, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya kampus. Kegiatan seperti
pengabdian masyarakat, pelatihan etika profesi, dan program sosial mahasiswa
mencerminkan penerapan nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan secara nyata.
Pendekatan ini sesuai dengan pandangan Nur Faidah dan Anggraeni Dewi (2021) yang
menekankan bahwa pendidikan nilai akan lebih efektif bila dihubungkan dengan aktivitas
sosial yang menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial mahasiswa.
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya optimalisasi penerapan
nilai-nilai Pancasila di Politeknik Negeri Lampung telah berjalan efektif melalui sinergi
antara strategi pembelajaran reflektif-partisipatif, keteladanan dosen, dan dukungan
kelembagaan. Temuan ini menguatkan hasil penelitian Sulianti, Efendi, & Sa’diyah (2020)
serta Zulfikar & Permady (2021) yang menegaskan bahwa pengajaran Pancasila berbasis
pengalaman dan nilai mampu menciptakan generasi muda yang berintegritas, berkarakter
kebangsaan, dan berjiwa gotong royong tinggi.
Secara keseluruhan, integrasi nilai-nilai Pancasila di Politeknik Negeri Lampung tidak
hanya meningkatkan pemahaman ideologis mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter
moral, sosial, dan spiritual yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan lulusan yang
cerdas, beretika, serta siap berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa.
2. Peran dan kontribusi dari mata kuliah Pendidikan Pancasila dalam penguatan
nilai-nilai Pancasila untuk membentuk karakter mahasiswa di Politeknik Negeri
Lampung?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah Pendidikan Pancasila memiliki peran
strategis sebagai wahana pembentukan jati diri dan moralitas mahasiswa di Politeknik Negeri
Lampung. Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan teoritis
mengenai ideologi bangsa, tetapi juga menekankan pada aspek internalisasi nilai dan refleksi
diri yang bertujuan membentuk kesadaran moral mahasiswa. Salah satu wujud konkret dari
strategi tersebut adalah penerapan metode “Jurnal Nilai Pancasila Harian”, di mana
mahasiswa diminta menuliskan pengalaman pribadi dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus, keluarga, maupun masyarakat. Melalui
kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila secara kognitif,
tetapi juga merenungkan makna moral dari setiap tindakan dan keputusan yang mereka
ambil. Proses refleksi ini menumbuhkan kesadaran diri terhadap pentingnya kejujuran,
kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial. Dengan demikian, pembelajaran
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
89
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Pendidikan Pancasila tidak berhenti pada dimensi pengetahuan, melainkan menjadi sarana
pembentukan jati diri moral yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan dosen pengampu, pendekatan reflektif yang
diterapkan terbukti mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap mata kuliah ini.
Jika sebelumnya Pendidikan Pancasila dianggap bersifat teoritis dan hafalan, kini mahasiswa
memahami relevansinya dengan kehidupan nyata. Melalui refleksi dan diskusi nilai,
mahasiswa mulai mengidentifikasi perilaku yang selaras atau bertentangan dengan nilai-nilai
Pancasila, sehingga terjadi proses internalisasi nilai yang bersifat personal dan berkelanjutan.
Hasil observasi lapangan menunjukkan adanya perubahan perilaku nyata pada mahasiswa,
seperti meningkatnya kejujuran dalam mengerjakan tugas, kedisiplinan dalam kehadiran,
tanggung jawab dalam kerja kelompok, serta kepedulian sosial yang tampak dalam
keterlibatan mereka pada kegiatan bakti sosial dan pengabdian masyarakat.
Temuan ini sejalan dengan pandangan Abdi (2016) yang menegaskan bahwa perguruan
tinggi memiliki tanggung jawab moral dalam membangun karakter generasi muda melalui
pendidikan yang berorientasi pada nilai. Pendidikan tinggi, khususnya Pendidikan Pancasila,
harus mampu menginternalisasikan nilai moral ke dalam kesadaran mahasiswa agar
terbentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan beretika sosial. Selaras dengan
itu, Hadiwijono (2016) menekankan bahwa esensi Pendidikan Pancasila tidak hanya terletak
pada aspek normatif atau penguasaan teori, tetapi pada proses pembiasaan moral yang
menjadikan mahasiswa memahami nilai sebagai bagian dari kepribadian mereka. Selain itu,
temuan ini juga memperkuat hasil penelitian Lestari (2021) yang menyatakan bahwa
Pendidikan Pancasila berpengaruh signifikan terhadap sikap ideologis mahasiswa, dan bahwa
pembelajaran yang diarahkan pada transformasi sikap serta perilaku lebih efektif dalam
menanamkan nilai kebangsaan dibandingkan metode ceramah konvensional. Dengan
demikian, pendekatan reflektif dan pengalaman nyata dapat dikategorikan sebagai
pendekatan humanistik dan transformatif yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif
dalam pembentukan moralitas.
Selain berperan dalam pembentukan karakter moral, mata kuliah ini juga berkontribusi
besar dalam membangun sikap nasionalisme dan toleransi mahasiswa. Melalui pembelajaran
yang kontekstual dan partisipatif, mahasiswa tidak hanya memahami konsep kebangsaan
secara teoritis, tetapi juga menghidupi nilai persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial
dalam praktik sehari-hari. Dosen secara aktif menghadirkan tema-tema kebangsaan melalui
studi kasus, debat, dan diskusi tematik yang menyoroti isu-isu seperti intoleransi, disintegrasi
sosial, polarisasi politik, dan dampak globalisasi terhadap identitas nasional. Mahasiswa
kemudian diajak menilai fenomena tersebut dengan menggunakan perspektif nilai-nilai
Pancasila, khususnya sila kedua dan ketiga, sehingga mereka dapat mengaitkan prinsip
kemanusiaan dan persatuan dengan realitas sosial kontemporer.
Hasil observasi memperlihatkan bahwa ruang kelas menjadi arena dialog demokratis, di
mana mahasiswa merasa aman untuk menyampaikan pendapat dan menghargai perbedaan
pandangan. Proses ini mencerminkan penerapan prinsip musyawarah dan penghargaan
terhadap keberagaman sesuai dengan semangat Pancasila. Mahasiswa juga terlibat dalam
proyek lintas jurusan seperti kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat, yang menjadi media
penerapan konkret nilai gotong royong dan solidaritas. Penemuan ini sejalan dengan hasil
penelitian Arafat (2021) yang menegaskan bahwa pembelajaran Pancasila yang kontekstual
dan interaktif mampu menumbuhkan rasa nasionalisme mahasiswa karena mendorong
mereka memahami persoalan kebangsaan melalui lensa nilai dan moral. Aryani dkk. (2022)
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
90
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
juga menambahkan bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila akan lebih efektif apabila
dikaitkan langsung dengan praktik sosial serta kolaborasi yang menumbuhkan tanggung
jawab dan semangat persatuan.
Kegiatan kolaboratif di lingkungan kampus turut memperkuat temuan tersebut.
Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan,
kegiatan sosial, dan lomba inovasi kebangsaan yang mendorong kerja sama lintas budaya.
Hal ini sesuai dengan penelitian Permady & Zulfikar (2021) yang menyimpulkan bahwa
kerja sama lintas budaya di kampus merupakan sarana efektif dalam menumbuhkan karakter
kepemimpinan berbasis nilai Pancasila. Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa
mengalami perubahan paradigma terhadap makna nasionalisme. Mereka tidak lagi melihat
nasionalisme secara simbolik, tetapi sebagai sikap hidup yang mencerminkan penghargaan
terhadap keberagaman, empati sosial, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Keteladanan dosen juga menjadi faktor penting dalam proses internalisasi nilai-nilai
Pancasila. Dosen berperan sebagai figur moral yang menampilkan sikap adil, terbuka, dan
konsisten dalam setiap interaksi akademik. Pandangan ini diperkuat oleh Nurpratiwi (2021)
yang menyatakan bahwa keteladanan pendidik merupakan instrumen paling efektif dalam
pendidikan moral karena nilai etis tidak cukup diajarkan secara verbal, melainkan harus
diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam hal ini, dosen berperan sebagai living example
yang menunjukkan integritas, kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Hal ini selaras
dengan konsep value-based learning menurut Ibda (2020), yang menekankan bahwa pendidik
berperan sebagai value mediator dan moral exemplar, membantu mahasiswa mengalami nilai
secara langsung dalam konteks kehidupan nyata.
Melalui hasil wawancara, mahasiswa menyatakan bahwa keteladanan dosen berdampak
positif terhadap perilaku mereka di luar kelas. Mahasiswa menjadi lebih disiplin, menghargai
waktu, serta berhati-hati dalam berinteraksi sosial karena terinspirasi oleh sikap dosen yang
berintegritas. Proses ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berlangsung
secara kognitif, tetapi juga melalui interaksi sosial yang membangun kesadaran moral.
Dengan demikian, keteladanan dosen merupakan komponen kunci keberhasilan
implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan kampus.
Selanjutnya, berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, mata kuliah
Pendidikan Pancasila terbukti berkontribusi terhadap pembentukan profil lulusan Politeknik
Negeri Lampung yang unggul secara akademik, berkarakter kuat, dan berintegritas tinggi.
Melalui metode reflektif, diskusi etika profesi, serta analisis studi kasus sosial, mahasiswa
dilatih memahami dilema moral dalam kehidupan nyata dan menimbang keputusan
berdasarkan pertimbangan etis serta tanggung jawab sosial. Penemuan ini memperkuat
pandangan Sulianti, Efendi, & Sa’diyah (2020) yang menegaskan bahwa penerapan nilai-
nilai Pancasila di lembaga pendidikan berpengaruh besar dalam membentuk individu yang
berkapasitas intelektual dan bermoral kokoh.
Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Eleanora & Sari (2019) yang menegaskan
bahwa relevansi Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi terletak pada kemampuannya
menumbuhkan kesadaran ideologis, tanggung jawab sosial, dan etika profesional sebagai
dasar perilaku mahasiswa di dunia kerja. Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Nur
Faidah & Anggraeni Dewi (2021) yang menjelaskan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila
merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter bangsa di era Revolusi Industri 4.0,
di mana tantangan globalisasi menuntut individu yang adaptif secara teknologi sekaligus
kokoh secara moral.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
91
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Pendidikan Pancasila di Politeknik Negeri Lampung juga menjadi wadah pembentukan
soft skills moral yang relevan dengan dunia kerja modern. Nilai-nilai seperti integritas,
empati, tanggung jawab sosial, kejujuran, dan keadilan sosial menjadi bekal penting bagi
mahasiswa untuk bersikap etis dan profesional. Berdasarkan wawancara dengan dosen dan
alumni, lulusan yang menginternalisasi nilai-nilai Pancasila cenderung lebih dipercaya oleh
dunia industri dan masyarakat karena menunjukkan sikap disiplin, jujur, serta mampu bekerja
sama dalam keberagaman.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mata kuliah Pendidikan Pancasila
memberikan kontribusi komprehensif terhadap pembentukan lulusan yang cerdas secara
intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral. Mahasiswa tidak hanya
memahami Pancasila sebagai ideologi negara dalam tataran konseptual, tetapi juga
menjadikannya sebagai pedoman hidup dan etika profesional dalam setiap keputusan dan
tindakan. Lulusan Politeknik Negeri Lampung diharapkan menjadi insan berbudaya dan
bermoral yang mampu menjadi agen perubahan positif di tengah masyarakat serta
mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa mata kuliah Pendidikan Pancasila memiliki peran
strategis dalam membentuk karakter, moralitas, dan kesadaran ideologis mahasiswa di
Politeknik Negeri Lampung. Melalui pendekatan reflektif, partisipatif, dan kontekstual, nilai-
nilai Pancasila diintegrasikan dalam pembelajaran berbasis pengalaman, diskusi, serta jurnal
reflektif yang menumbuhkan tanggung jawab sosial, empati, dan nasionalisme. Keberhasilan
internalisasi nilai diperkuat oleh dukungan kelembagaan dan keteladanan dosen sebagai
model moral, sehingga Pendidikan Pancasila menjadi sarana efektif dalam mencetak lulusan
yang berintegritas, berjiwa kebangsaan, dan mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan nyata.
5. Daftar Pustaka
Abdi, A. (2016). Peran Perguruan Tinggi Dalam Membangun Karakter Generasi Muda. Jurnal
Pendidikan Geosfer, 1(2), 3543.
Arafat, Y. (2021). Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Pancasila Pada Sekolah Tinggi
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (Stkip) Bima. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran
Indonesia (Jppi), 1(2), 111122. Https://Doi.Org/10.53299/Jppi.V1i2.47
Ardhani, M. Della, Utaminingsih, I., Ardana, I., & Fitriono, R. A. (2022). Implementasi Nilai-
Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Jurnal Gema Keadilan, 9(2).
Aryani, E. D., Fadjrin, N., Azzahro’, T. A., & Fitriono, R. A. (2022). Implementasi Nilai-Nilai
Pancasila Dalam Pendidikan Karakter. Jurnal Gema Keadilan, 9(3), 113.
D, D. A., Oktari, D., & Anggraeni Dewi, D. (2021). Pemicu Lunturnya Nilai Pancasila Pada
Generasi Milenial. Jurnal Pekan, 6(1), 93103.
Eleanora, F. N., & Sari, A. (2019). Relevansi Pendidkan Pancasila Dan Potret Mahasiswa Di
Perguruan Tinggi. Jurnal Civic Hukum, 4(2), 122129.
Http://Ejournal.Umm.Ac.Id/Index.Php/Jurnalcivichukum
Hadiwijono, A. (2016). Pendidikan Pancasila, Eksistensinya Bagi Mahasiswa. Jurnal
Cakrawala Hukum, 7(1), 8297.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
92
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Ibda, H. (2020). Penguatan Pendidikan Pancasila Di Perguruan Tinggi Dalam Membangun
Generasi Taat Konstitusi. Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam Dan Sosial, 7(2), 19
42. Https://Doi.Org/10.21580/Wa.V7i2.6528
Lestari, S. A. (2021). Pengaruh Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Dan Pendidikan
Kewarganegaraan Terhadap Sikap Ideologi Pancasila Mahasiswa The Effect Of
Pancasila Education And Citizens Education On The Ideological Attitude Of Pancasila
Students. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 6(2), 445454.
Http://Journal2.Um.Ac.Id/Index.Php/Jppk
Lestari, S. O., & Kurnia, H. (2022). Peran Pendidikan Pancasila Dalam Pembentukan Karakter.
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 5(1),
25. Https://Doi.Org/10.12928/Citizenship.V5i2.23179
Nur Faidah, Y., & Anggraeni Dewi, D. (2021). Pengamalan Pancasila Sebagai Pembentukan
Nation Character Di Era Revolusi Industri 4.0. Journal Of Social Science And Education,
2(2), 221231.
Nur Insani, G., & Anggraeni Dewi, D. (2022). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai
Pembentukan Karakter Pada Generasi Milenial. Jurnal Kewarganegaraan, 6(1).
Nurpratiwi, H. (2021). Membangun Karakter Mahasiswa Indonesia Melalui Pendidikan Moral.
Jipsindo, 8(1), 2943. Https://Doi.Org/10.21831/Jipsindo.V8i1.38954
Permady, G. C., & Zulfikar, G. (2021). Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Social
Movement Pada Organisasi Kemahasiswaan. Sosietas, 11(1), 3542.
Https://Doi.Org/10.17509/Sosietas.V11i1.36091
Permady, G., Zulfikar, G., Siswanto, S., & Nanggala, A. (2023). Citizenship Education
Courses Are Used As A Means Of Implementing Multicultural Education At The
Politeknik Pelayaran Sorong. Journal Of Research In Instructional, 3(2), 207218.
Https://Doi.Org/10.30862/Jri.V3i2.262
Permady, G., Zulfikar, G., Sulistiono, A., Ferdinan Nugroho Laim, B., Pelayaran Sorong, P., &
Pamulang, U. (2021). Pembentukan Karakter Kepemimpinan Pancasila Di Politeknik
Pelayaran Sorong (Suatu Telaah Pada Mata Kuliah Pendidikan Pancasila). In Junal
Patria Bahari | (Vol. 1, Issue 2). Https://Doi.Org/Https://Doi.Org/10.54017/Jpb.V1i2.41
Sayoto, & Daryono. (2019). Analisis Dampak Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Pancasila
Terhadap Perilaku Mahasiswa (Studi Kasus Di Kampus Universitas Semarang). Forum
Ilmu Sosial, 46(1), 83103. Https://Doi.Org/10.15294/Fis.V46i1.21169
Sianturi, Y. R. U. (2021). Penerapan Nilai Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari Hari Dan
Sebagai Pendidikan Karakter. Jurnal Kewarganegaraan, 5(1), 222231.
Suci Dinarti, N., & Anggraeni Dewi, D. (2022). Pentingnya Peran Pendidikan Pancasila Di
Kalangan Mahasiswa Untuk Mencegah Paham Radikalisme. Jurnal Kewarganegaraan,
6(1).
Sugiyono. (2019). Metodelogi Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif (4th Ed.). 2.
Sulianti, A., Efendi, Y., & Sa’diyah, H. (2020). Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dalam
Lembaga Pendidikan. Jurnal Pancasila Dan Kewarganegaraan, 5(1), 5465.
Https://Doi.Org/10.24269/Jpk.V5.N1.2020.Pp54-65
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 82-93
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
93
Gilang Zulfikar et.al (Optimalisasi Pendidikan Pancasila di....)
Zulfikar, G., Cahya Permady, G., & Sudirman, A. (2023). Strengthening National Character In
Islamic Elementary School. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam Dan
Multikulturalisme, 5(1), 884899. Https://Doi.Org/10.37680/Scaffolding.V5i1.2414
Zulfikar, G., & Permady, G. C. (2021). Citra Wawasan Kebangsaan Generasi Muda: Suatu
Kajian Terhadap Sikap Anti Radikalisme. Jurnal Educatio Fkip Unma, 7(2), 419424.
Https://Doi.Org/10.31949/Educatio.V7i2.1063