pekerti, kepribadian, etika, dan nilai-nilai ideologis kebangsaan. Melalui proses pendidikan
yang holistik ini, perguruan tinggi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya
unggul secara akademik, tetapi juga memiliki moralitas dan integritas tinggi.
Sebagai negara yang menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara, Indonesia
mengakui pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan,
terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia dirancang sebagai sarana utama
untuk menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi muda. Hal
ini tidak hanya terbatas pada penyampaian materi ajar, tetapi juga bertujuan untuk membentuk
karakter, sikap, dan perilaku yang mencerminkan semangat Pancasila. Implementasi nilai-nilai
Pancasila dalam pendidikan mencakup berbagai dimensi, seperti penyusunan kurikulum yang
mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, penerapan metode pembelajaran yang menumbuhkan
semangat gotong royong, demokrasi, dan toleransi, hingga penciptaan lingkungan belajar yang
inklusif serta menghargai keberagaman (Arafat, 2021). Dengan pendekatan ini, pendidikan
diharapkan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi
juga berkarakter kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pendidikan berbasis Pancasila, sebagaimana dijelaskan oleh Lestari (2021), merupakan
upaya strategis Indonesia untuk mencetak generasi yang memiliki keseimbangan antara
kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Generasi yang diharapkan bukan hanya
cemerlang dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi, rasa
empati terhadap sesama, serta dedikasi untuk berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat
yang adil dan bermartabat. Pendidikan ini tidak sekadar berfokus pada pengembangan
individu, tetapi juga pada pembentukan karakter warga negara yang mencintai tanah air,
menghormati keberagaman, dan aktif dalam menjaga persatuan serta keutuhan bangsa. Lebih
jauh lagi, pendidikan berbasis nilai-nilai Pancasila dirancang untuk melahirkan generasi
penerus yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas bangsa. Mereka
diharapkan menjadi agen perubahan yang berperan dalam pembangunan sosial yang inklusif,
menjaga harmoni antar kelompok, dan mendorong terciptanya masyarakat yang berorientasi
pada kebersamaan. Dengan nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan persatuan yang
ditanamkan sejak dini, pendidikan ini menjadi pilar penting dalam menciptakan bangsa yang
kuat, berintegritas, dan mampu bersaing di kancah internasional.
Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sebagai landasan
kehidupan berbangsa semakin memudar. Penelitian Oktari (2021) mengungkapkan bahwa
lunturnya nilai-nilai Pancasila, terutama pada generasi milenial, dipengaruhi oleh perubahan
dalam penerapannya yang semakin tergerus oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Individualisme yang semakin menonjol mengurangi interaksi sosial dan rasa kebersamaan,
yang berdampak negatif pada mentalitas dalam menghadapi tantangan hidup. Situasi ini
menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana utama untuk menanamkan dan
memperkuat nilai-nilai Pancasila. Pendidikan tidak hanya berfungsi membangun karakter,
tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Dengan demikian, pendidikan menjadi kunci untuk mengatasi krisis nilai ini dan memastikan
generasi penerus mampu menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan jati diri dan
identitas sebagai bangsa Indonesia.
Meskipun nilai-nilai Pancasila telah menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan
tinggi, tantangan dalam penerapannya tetap signifikan. Kesulitan dalam menyampaikan nilai-
nilai tersebut secara efektif kepada mahasiswa sering kali muncul akibat kendala dalam proses
pengajaran dan pembelajaran. Menurut Sayoto & Daryono (2019), faktor eksternal seperti
pengaruh lingkungan sosial, perkembangan teknologi, dan derasnya arus informasi turut
memengaruhi pemahaman serta penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
mahasiswa.Oleh karena itu, diperlukan strategi yang inovatif dan berkelanjutan untuk