Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
116
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam
Pembelajaran PPKn terhadap Peningkatan
Kemampuan Berpikir Kritis
Edi Kusnadi
a,1
, Deni Supriyadi
b,2
, Natasya Rahmani Aimulloh
c,3
, Zamzam Saepul Alam
d,4,
Aldin Daemawan
e,5
a,b,c,d,e
Universitas Islam Nusantara, Jl. Soekarno Hatta No. 530, Bandung 40286, Jawa Barat Indonesia
1*
2
3
natasyarahmani05@gmail.com;
4
zamzamsae[email protected]om;
5
darmawanaldin23@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 September 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 19 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari
2026
Perkembangan media sosial yang sangat pesat memberikan peluang
sekaligus tantangan bagi peserta didik dalam memilah informasi. Dalam
pembelajaran PPKn, diperlukan strategi inovatif agar siswa mampu
memahami isu-isu kewarganegaraan secara kritis. Proyek literasi media
sosial hadir sebagai pendekatan yang mendorong siswa menganalisis konten
digital secara reflektif dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan proyek,
siswa dilatih mengidentifikasi fakta, opini, hoaks, serta dampak sosial dari
informasi yang beredar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh proyek literasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) terhadap peningkatan kemampuan
berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kuasi
eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Subjek
penelitian terdiri dari dua kelas di SMA PGRI 2 Kota Bandung, yaitu kelas
eksperimen (XI IPS) dan kelas kontrol (XI MIPA). Instrumen yang digunakan
berupa tes yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan (pretest dan
posttest). Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan yang siginifikan
antara nilai pretest dan posttest kelas eksperimen dan kontrol. Proyek
literasi media sosial juga mampu menciptakan pembelajaran yang aktif dan
menarik. Hasil perhitungan uji N-Gain scroe untuk kelas eksperimen yang
menggunakan proyek literasi media sosial menunjukan nilai rata rata
sebesar 60, 22%, termasuk dalam kategori cukup efektif, mendekati batas
atas menuju kategori efektif. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan proyek
literasi media sosial dalam pembelajaran PPKn memberikan pengaruh
positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Dengan demikian, pendekatan ini dapat menjadi alternatif inovatif dalam
pengembangan kompetensi abad 21 khususnya dalam pembelajaran PPKn.
Kata Kunci:
Kemampuan berpikir kritis
Proyek literasi media social
Pembelajaran PPKn
ABSTRACT
Keywords:
Critical thinking skills
Social media literacy project
Civics Learning
The rapid development of social media provides both opportunities and
challenges for students in filtering information. In PPKn learning, innovative
strategies are needed to help students understand civic issues critically. The
social media literacy project serves as an approach that encourages students
to analyze digital content reflectively and responsibly. Through project-based
activities, students are trained to identify facts, opinions, hoaxes, and the social
impacts of circulating information. This study aims to determine the influence
of social media literacy projects in Pancasila and Citizenship Education (PPKn)
learning on improving students’ critical thinking skills. This research employs
a quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design. The
research subjects consisted of two classes at SMA PGRI 2 Bandung, namely the
experimental class (XI Social Science) and the control class (XI Science). The
instruments used were tests administered before and after treatment (pretest
and posttest). The results showed a significant difference between the pretest
and posttest scores of both the experimental and control classes. The social
media literacy project was also able to create active and engaging learning.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
117
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
The N-Gain score calculation for the experimental class using the social media
literacy project showed an average value of 60.22%, categorized as fairly
effective and approaching the upper limit toward the effective category. This
indicates that the implementation of the social media literacy project in PPKn
learning has a positive effect on improving students’ critical thinking skills.
Thus, this approach can serve as an innovative alternative in developing 21st-
century competencies, particularly in PPKn learning.
©2026, Edi Kusnadi, Deni Supriyadi, Natasya Rahmani Aimulloh,
Zamzam Saepul Alam, Aldin Daemawan
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan mata pelajaran strategis
dalam membentuk karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik. Secara ideal, pembelajaran
PPKn diharapkan tidak hanya mengajarkan materi normatif, tetapi juga melatih peserta didik
untuk berpikir kritis, analitis, dan solutif terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan, terutama di era digital, dimana arus informasi
yang tidak terkontrol dapat memengaruhi pola pikir generasi muda.. Hal ini sejalan dengan
tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yang Dimana pada poin tujuan Pendidikan
menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan harus mengembangkan peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik
masih belum optimal. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan
Pendidikan (Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan, 2022) hanya 45% peserta didik SMA di
Indonesia yang mampu menganalisis informasi secara kritis. Hal ini juga diketahui berdasarkan
hasil programne for international student assessment (PISA) yang di rilis oleh Organization for
Economic Co-operation and Development (Organization for Economic Co-operation and
Development, 2018) menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik Indonesia dalam membaca,
meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487. Kemudian untuk skor
rata-rata matematika mencapai 379 dengan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains,
skor rata-rata peserta didik Indonesia mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489.
Berdasarkan pada data tersebuit maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berfikir kritis
peserta didik di Indonesia masih terbilang kurang, maka dari itu diperlukan sebuah alternatif
bahan ajar dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Disisi lain, revolusi industri 5.0 semakin tidak terbendung yang dimana pada era ini segala
sesuatu informasi baik nasional maupun internasional dapat diketahui secara mudah dan
transparan melalui teknologi yang canggih. (Fatimah et al., 2023) menyatakan bahwa Era
Industri 5.0, yang ditandai oleh adopsi teknologi canggih yang dapat membawa perubahan besar
dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran
telah menjadi perhatian utama di berbagai tingkatan pendidikan, termasuk di Sekolah Menengah
Atas (SMA). Salah satu bagian yang paling fundamental di revolusi industri 5.0 ini adalah media
sosial. (Fauzia et al., 2023) menjelaskan bahwa media sosial adalah medium di internet yang
memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama,
berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual.
Karakteristik umum Media sosial adalah media yang digunakan oleh pengguna untuk berbagi
teks, gambar, audio, dan informasi dengan orang lain. Media sosial juga dapat diartikan sebagai
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
118
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
proses komunikasi antara orang-orang yang menciptakan, berbagi, bertukar dan mengubah ide
atau gagasan dalam bentuk jaringan virtual.
Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna
internet di Indonesia mencapai 221,56 juta orang pada 2024. Angka ini meningkat dibandingkan
periode sebelumnya sebanyak 215,63 juta orang pada periode 2022-2023(Indonesia Baik, 2024).
Jumlah tersebut meningkat 2,67% dibandingkan pada periode sebelumnya yang sebanyak
210,03 juta pengguna. Jumlah tersebut meningkat 2,67% dibandingkan pada periode
sebelumnya yang sebanyak 210,03 juta pengguna. Jumlah pengguna internet tersebut setara
dengan 78,19% dari total populasi Indonesia yang sebanyak 275,77 juta jiwa. Bila dibandingkan
dengan survei periode sebelumnya, tingkat penetrasi internet Indonesia pada tahun ini
mengalami peningkatan sebesar 1,17 persen dibandingkan pada 2021-2022 yang sebesar
77,02%. Di bawah ini merupakan gambar penggunaa internet di Indonesia pada tahun 2024.
Gambar 1. 1 infografik survey 2024 tentang penetrasi internet di Indonesia (Sumber : indonesiabaik.id)
Data di atas menyatakan bahwa penggunaan media sosial setiap tahun semakin meningkat.
Namun berdasarkan data yang diberikan Puslitjakdikbud, banyak dari mereka hanya menjadi
konsumen pasif tanpa kemampuan untuk menyaring dan menganalisis informasi secara kritis.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengintegrasikan media sosial ke dalam
pembelajaran PPKn sebagai alternatif bahan ajar yang inovatif. Proyek literasi media sosial
merupakan salah satu bentuk pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based
learning) yang memungkinkan peserta didik untuk terlibat langsung dalam menganalisis,
menciptakan, dan menyebarluaskan konten yang edukatif, kritis, serta relevan dengan nilai-nilai
Pancasila dan kewarganegaraan.
Melalui proyek ini, peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerapkannya
secara nyata dalam konteks digital yang mereka hadapi setiap hari. Penggunaan proyek literasi
media sosial dalam pembelajaran PPKn diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis peserta didik, terutama dalam memahami persoalan-persoalan kebangsaan yang muncul
di media sosial. Selain itu, proyek ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menjadi subjek aktif dalam pembelajaran, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya
etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial.
Penelitian tentang berpikir kritis telah banyak dilakukan. (Kusumawati et al., 2022) dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
119
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan pendekatan teori
konstruktivisme. Implementasi teori konstruktivisme dinilai efektif dalam pembelajaran karena
teori konstruktivisme dapat memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk
membangun sendiri ilmu pengetahuannya. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
juga dinilai efektif dan efesien dalam mengembangkan kognitif anak untuk membangun
kognitifnya serta peserta didik akan lebih dapat memahami apa yang di pelajari. Model ini
menyebabkan peningkatan rasa ingin tahu dan motivasi sehingga model Problem Based
Learning (PBL) menjadi media bagi peserta didik untuk dapat mengembangkan cara berpikir
kritis. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh (Puspita & Dewi, 2021) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa nilai signifikansi data dengan 𝑡𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 41,12 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 1,66827. Maka
dapat disimpulkan bahwa H1 diterima atau terdapat pengaruh Pendekatan Investigasi Matematis
terhadap keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika. Hasil penelitian
membuktikan bahwa Pendekatan Investigasi Matematis memiliki pengaruh terhadap
keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika. Kemudian penelitian
selanjutnya (Yulianti et al., 2022) yang menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran
RADEC dapat meningkatkan kemampuan berpikir ktitis siswa pada pembelajaran tematik tema
8 sub tema 2. Keterbatasan penelitian ini yakni hanya menerapkan model RADEC pada 1 tema
dan hanya mengukur peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Sebaiknya untuk penelitian
selanjutnya, model RADEC berorientasi ESD dapat diterapkan untuk tema lain dalam
pembelajaran tematik dan mengukur peningkatan kemampuan berpikir lainnya seperti
kemampuan berpikir kreatif dan memecahkan permasalahan. Lalu penelitian serupa juga
dilakukan oleh (Riyanto et al., 2024) yang menyatakan bahwa Penerapan problem based
learning dapatmembantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan oleh mahasiswa sebagai upaya mempersiapkan
diri untuk menghadapi tantangan dan permasalahan yang akan ditemui sekarang maupun
nantinya.
Penelitian terdahulu umumnya berfokus kepada berfokus pada penerapan model
pembelajaran dalam bidang matematika atau tematik, sementara pemanfaatan media digital dan
literasi media sosial sebagai strategi pembelajaran kontekstual masih jarang dikaji, khususnya
dalam pembelajaran PPKn. Padahal, media sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari
kehidupan peserta didik saat ini, dan jika dimanfaatkan dengan tepat, media sosial dapat menjadi
sarana pembelajaran yang efektif, terutama dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis
terhadap isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya
mengisi celah tersebut. Penelitian ini dilakukan pada peserta didik SMA karena masa remaja
merupakan periode krusial dalam pembentukan pola pikir kritis dan karakter kewarganegaraan.
Selain itu, SMA menjadi jenjang pendidikan di mana peserta didik aktif menggunakan media
sosial sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan mengintegrasikan proyek literasi
media sosial ke dalam pembelajaran PPKn, diharapkan pendekatan ini tidak hanya relevan,
tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap pengembangan kemampuan berpikir
kritis peserta didik.
Melalui penelitian ini, penulis ingin menganalisis pengaruh proyek literasi media sosial
sebagai alternatif bahan ajar PPKn terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta
didik. Penelitian ini penting sebagai langkah inovatif untuk menjawab tantangan pendidikan di
era digital. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi praktis dan teoretis
dalam pengembangan model pembelajaran PPKn yang lebih kontekstual, relevan, dan efektif
dalam membentuk generasi muda yang cerdas dan kritis.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
120
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
2. Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuasi ekspeimen
untuk menguji pengaruh literasi media sosial terhadap kemampuan berpikir kritis peserta
didik.(Sugiyono, 2019) menyebutkan bahwa pendekatan luantitatif adalah metode penelitian
yang berlandaskan filsafat positivisme. Penelitian ini digunakan untuk menguji teori atau
hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya, dengan data yang bersifat numerik dan dianalisis
menggunakan statistik. Data yang dikumpulkan berupa tes akademik peserta didik, diperoleh dari
sumber primer yaitu dari 65 peserta didik di kelas XI MIPA dan XI IPS di sebuah sekolah
menengah atas. Teknik pengumpulan data di kumpulkan melalui pre test dan postest terhadap
seluruh peserta didik, serta wawancara kepada guru terkait. Teknik analisis data yang digunakan
pada penelitian ini yaitu uji independent sample t-test untuk membandingkan perbedaan rata-rata
skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan bantuan perangkat lunak SPSS
untuk memastikan validitas hasil.
3. Hasil dan Pembahasan
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes tertutup yang diberikan kepada
65 peserta didik dalam 2 kelas yakni kelas XI MIPA (kelas kontrol) dan XI IPS (kelas
eksperimen) pada saat penelitian. Tes yang diberikan berupa soal essay untuk memperoleh hasil
dalam penelitian berupa kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dalam penelitian ini terdapat
variabel yaitu variabel proyek literasi digital sebagai variabel bebas atau bebas dan variabel
kemampuan berpikir kritis peserta didik sebagai variabel terikat.
Setelah dilakukan uji coba berupa soal uraian kepada 30 orang peserta didik di luar sampel,
instrumen soal uraian untuk penelitian pengaruh proyek literasi media sosial dalam
pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan terhadap keterampilan berpikir
peserta didik berjumlah 5 soal yang semuanya terisi lengkap, dengan hasil akhir 5 soal valid dan
0 soal tidak valid atau tidak lulus. Langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian aktual
dengan menyebarkan soal tersebut kepada 65 orang peserta didik kelas XI MIPA dan XI IPS
SMAS PGRI 2 Kota Bandung.
Kondisi awal kemampuan berpikir kritis peserta didik
Untuk mengetahui kondisi awal kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum di beri
perlakuan berupa penerapan proyek literasi media sosial dalam pembelajaran PPKn, peneliti
melakukan pengukuran awal terlebih dahulu melalui pretest yang di sebar pada tanggal 7 Mei
2025 si kela XI IPS (kelas eksperimen) dan tanggal 5 Mei 2025 di kelas XI MIPA (kelas
kontrol). Tes ini diperoleh guna memperoleh gambaran objektif mengenai sejauh mana peserta
didik telah memiliki kemampuan dalam menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, serta
merespons permasalahan yang berkaitan dengan materi mewaspadai ancaman terhadap
kedudukan negara kesatuan Republik Indonesia.
Kemudian dalam upaya memberikan gambaran data lebih jelas, maka data penelitian hasil
pretest di pisahkan kedalam 2 kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut
klasifikasi dan gambar dari penilaian hasil pre test kelas eksperimen dan kelas kontrol:
Tabel 1 Klasifikasi Pemerolehan Hasil Pretest
Rentang Nilai
Kategori
90-100
Baik Sekali
80-89
Baik
70-79
Cukup
0-69
Kurang
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
121
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
Data yang diperoleh dari pretest kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui
distribusi frekuensi skor dan kategori kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dari hasil analisis
menunjukan bahwa pada kelas eksperimen yang berjumlah 32 peserta didik, skor pretest paling
rendah yaitu 45 dan skor paling tinggi yaitu 80, dengan skor rata-rata (mean) 63,13 dan
simpangan baku (standard deviasi) sebesar 10, 980. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan
berpikir kritis peserta didik di kelas eksperimen (XI IPS) masih bervariasi dan cendrung berada
pada kategori baik, cukup, dan kurang. Sementara itu, di kelas kontrol (XI MIPA) yang
berjumlah 33 peserta didik, di peroleh skor paling rendah yaitu 60 dan skor paling tinggi yaitu
85, dengan rata-rata skor (mean) 74,39 dan simpangan baku (standard deviasi) 5,963. Nilai rata-
rata yang lebih tinggi dan nilai simpangan baku yang lebih rendah menunjukan bahwa
kemampuan awal berpikir kritis peserta didik di kelas kontrol cendrung lebih baik di banding
dengan kelas eksperimen. Hal ini dapat terlihat dari sebagian peserta didik belum mampu
memberikan analisis medalam terkait materi mewaspadai ancaman terhadap kedudukan negara
kesatuan republik Indonesia, belum terbiasa menyampaikan argumen dengan alasan logis, serta
belum optimal dalam mengevaluasi dan memberikan solusi atas persoalan sosial secara rasional.
Selain itu, dalam aspek klarifikasi informasi dan membuat kesimpulan, peserta didik cenderung
masih mengandalkan pengetahuan yang bersifat hafalan tanpa mempertimbangkan berbagai
sudut pandang. Kondisi ini mencerminkan bahwa kedua kelas belum sepenuhnya memiliki
keterampilan berpikir kritis yang diperlukan dalam memahami dan menyikapi dinamika
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara reflektif dan argumentatif. Oleh
karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu mendorong peserta didik berpikir
aktif dan kritis dalam setiap proses pembelajaran.
Proyek literasi media sosial yang di laksanakan
Berdasarkan hasil wawancara semi terstruktur yang telah dilaksanakan kepada guru mata
pelajaran PPKn pada tanggal 2 Juni 2025 yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan
pembelajaran PPKn di SMA PGRI 2 Kota Bandung, proyek literasi media sosial dirancang
secara sistematis dimulai dari tahap perencanaan pembelajaran. Guru menyusun perangkat ajar
seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang disesuaikan dengan kurikulum 2013
yang masih digunakan di kelas XI. Dalam tahap ini, guru juga menyesuaikan media sosial yang
akan digunakan dalam proyek, dengan mempertimbangkan platform yang relevan dan akrab
bagi peserta didik, seperti Instagram dan TikTok. Pihak yang terlibat dalam penyusunan dan
pelaksanaan proyek ini meliputi guru sebagai fasilitator dan peserta didik sebagai pelaksana.
Dalam hal ini, guru terlebih dahulu memahami karakteristik peserta didik untuk menentukan
bentuk kegiatan yang tepat. Proyek dilaksanakan secara berkelompok, dengan alasan bahwa
kerja kelompok memfasilitasi kolaborasi dan diskusi yang lebih efektif, sejalan dengan
kebutuhan keterampilan abad 21. Setiap kelompok menggunakan gawai masing-masing untuk
menelusuri informasi dari media sosial terkait ancaman terhadap integrasi nasional di bidang
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (ipoleksosbudhankam),
serta strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman tersebut. Adapun sintaks
pembelajaran dengan menggunakan proyek literasi media sosial adalah sebagai berikut:
1) Orientasi proyek: Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan memperkenalkan
kegiatan proyek literasi media sosial.
2) Penentuan topik: Peserta didik memilih isu aktual di bidang
IPOLEKSOSBUDHANKAM yang akan dikaji melalui media sosial.
3) Peengumpulan informasi: Peserta didik mengakses dan mengumpulkan informasi dari
media sosial seperti Instagram, TikTok, atau YouTube sesuai topik yang dipilih.
4) Analisis & Diskusi: Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menganalisis
permasalahan dan merumuskan strategi pemecahan yang relevan.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
122
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
5) Presentasi proyek: Peserta didik menyusun hasil analisis dan menyampaikannya dalam
bentuk presentasi di depan kelas.
6) Refleksi dan evaluasi: Guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap proses dan
hasil proyek. Evaluasi dilakukan menggunakan rubrik penilaian.
Selama kegiatan berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya
mengawasi jalannya diskusi, tetapi juga memastikan bahwa peserta didik tetap fokus dan tidak
menyimpang dari isu utama yang sedang dibahas. Selain diskusi kelompok kecil, guru juga
memfasilitasi diskusi kelas besar untuk membahas hasil analisis secara kolektif. Secara
pedagogis, proyek ini terintegrasi dengan baik dalam kompetensi dasar dan inti mata pelajaran
PPKn. Dalam materi yang membahas ancaman terhadap integrasi nasional, peserta didik
dituntut untuk mampu mengkaji kasus nyata, menganalisis jenis ancaman, serta menyusun
strategi pemecahan masalah berdasarkan temuan mereka di media sosial. Dengan demikian,
pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan berbasis isu terkini, sehingga peserta didik tidak
hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas
sosial di masyarakat.
Untuk menilai keterlibatan peserta didik dalam proyek ini, guru menggunakan rubrik
penilaian yang disesuaikan, khususnya dalam aspek sikap dan keaktifan saat berdiskusi.
Penilaian dilakukan secara adil berdasarkan partisipasi masing-masing anggota kelompok,
dengan memberikan apresiasi khusus kepada peserta didik yang aktif. Guru juga menekankan
bahwa proyek ini memberi dampak positif terhadap pola pikir peserta didik, khususnya dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik menjadi lebih terbuka dan reflektif
terhadap berbagai isu sosial yang terjadi di sekitar mereka, dan mereka tidak lagi memandang
mata pelajaran PPKn sekadar sebagai pelajaran teori, melainkan sebagai sarana untuk
memahami dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara secara aktual.
Dalam kaitannya dengan aspek berpikir kritis, guru menjelaskan bahwa kegiatan proyek
literasi media sosial telah melibatkan kemampuan berpikir mulai dari mengingat, memahami,
menganalisis, hingga mengevaluasi informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, khususnya
media sosial. Meskipun kemampuan menerapkan (aplikasi) mungkin belum sepenuhnya tergali
selama proses pembelajaran berlangsung, guru meyakini bahwa proses ini akan lebih
berkembang seiring dengan pemahaman yang matang setelah pembelajaran selesai. Proyek ini
mendorong peserta didik untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga
mengolah dan mengkritisi informasi tersebut berdasarkan isu aktual di masyarakat, terutama
dalam konteks kewarganegaraan.
Namun demikian, guru juga mengungkapkan adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan
proyek. Kendala utama yang dirasakan adalah keterbatasan waktu pembelajaran di kelas. Jadwal
yang terbatas sering kali membuat proses diskusi dan eksplorasi materi terasa terburu-buru,
sehingga tidak semua kelompok dapat menyampaikan hasil analisisnya secara mendalam. Selain
itu, jumlah peserta didik yang cukup banyak dalam satu kelas lebih dari 30 peserta didik menjadi
tantangan tersendiri dalam hal pengelolaan kelas dan pengawasan aktivitas kelompok. Kondisi
ini menuntut guru untuk memiliki energi ekstra dan strategi pengelolaan waktu yang lebih
efektif agar proses pembelajaran tetap berjalan optimal.
Mengesampingkan hambatan yang di dapat, guru menilai bahwa pembelajaran melalui
proyek literasi media sosial merupakan pendekatan yang menarik dan relevan, karena
pembelajaran menggunakan proyek literasi media sosial memberikan peserta didik pengalaman
belajar yang lebih kontekstual bagi peserta didik. Guru juga menyampaikan bahwa apabila
proyek ini diterapkan kembali pada tahun ajaran berikutnya, maka implementasinya dapat lebih
dimaksimalkan dengan penyesuaian terhadap materi yang sedang diajarkan serta perencanaan
waktu yang lebih proporsional. Dengan demikian, pembelajaran yang menekankan pada literasi
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
123
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
media sosial tidak hanya berdampak pada penguasaan materi, tetapi juga pada penguatan
karakter berpikir kritis dan tanggung jawab sosial peserta didik.
Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam Pembelajaran PPKn terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik
Dalam upaya mengetahui pengaruh proyek literasi media sosial dalam pembelajaran PPKN
terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik, peneliti melakukan pengukurann melalui
postest (penilaian akhir) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2025 di kelas eksperimen (XI
IPS) dan pada tanggal 2 Juni 2025 di kelas kontrol (XI MIPA). Hasil postest akan dianalisis
secara deskriptif untuk memberikan gambaran perbandingan antara dua kelas tersebut setelah
penerapan perlakuan. Kelas eksperimen merupakan kelas yang memperoleh pembelajaran
berbasis proyek literasi media sosial, dan kelas kontrol memperoleh pembelajaran konvensional.
Data yang diperoleh kemudian disajikan kedalam bentuk diagram dan tabel statistik deskriptif
untuk melihat perbedaan rata-rata, skor yang di peroleh peserta didik, serta penyeebaran
kemampuan berpikir kritis dikedua kelas. Penyajian ini menjadi dasar awal dalam menilai
adanya perubahan atau pengaruh signifikan dari perlakuan yang diberikan.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap data posttest, dapat diketahui bahwa ada
perbedaan yang cukup mencolok antara kemampuan berpikir kritis peserta didik di kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen, yang diberikan perlakuan berupa proyek
literasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,
memperoleh rata-rata nilai posttest sebesar 86,09 dengan simpangan baku 7,376, nilai minimum
sebesar 70 dan maksimum 95. Sementara itu, kelas kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan
serupa memperoleh rata-rata nilai sebesar 76,36 dengan simpangan baku sebesar 15,37, nilai
minimum 45 dan maksimum 95.
Nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa peserta didik
yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek literasi media sosial menunjukkan peningkatan
kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik di kelas kontrol.
Selain itu, nilai simpangan baku yang lebih rendah pada kelas eksperimen mengindikasikan
bahwa pencapaian peserta didik lebih merata, atau dengan kata lain, perbedaan antarindividu
dalam kelompok tersebut lebih kecil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan
proyek literasi media sosial tidak hanya berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan
berpikir kritis secara keseluruhan, tetapi juga mampu menciptakan kualitas pembelajaran yang
lebih merata di antara peserta didik.
Pembahasan
Penggunaan Proyek Literasi Media Sosial dalam Pembelajaran PPKn di Kelas Eksperimen
Literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan
menghasilkan komunikasi dalam berbagai format media (Livingstone, 2015). (Heiss & Nanz,
2023) mendefinisikan literasi media sosial sebagai keterampilan untuk memahami dan
mengevaluasi konten yang terdapat di platform media sosial, serta kemampuan untuk
menghasilkan konten yang bermanfaat dengan memahami etika dan dampak sosial dari konten
tersebut. Mereka berpendapat bahwa literasi ini sangat penting bagi pengguna untuk berpartisipasi
secara etis di dunia digital. Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu pendekatan
pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif para peserta didik dalam menyelesaikan tugas
tugas yang bersifat kompleks dan kontekstual. Menurut Rizkasari et al menyatakan bahwa model
ini merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas
nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari-hari
untuk dipecahkan secara berkelompok (Rizkasari et al., 2022). Dalam penelitian ini penggunaan
pendekatan berbasis proyek dengan menggunakan proyek literasi media sosial pada kelas
eksperimen (XI IPS), dimana peserta didik pada kelas ini diminta untuk menganalisis konten
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
124
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
media sosial yang berkaitan dengan isu tentang IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kegiatan ini
mendorong para peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam mencari informasi serta
menyampaikan pemikirannya kedalam bentuk penyampaian yang kreatif dan bertanggung jawab.
Melalui proyek ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman kognitif saja, tetapi
juga dapat mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi, komunikasi, dan evaluasi informasi
secara kritis. Hal ini sesuai dengan teori Thomas dan Ph yang menyatakan bahwa PjBL mampu
meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik serta mendorong pengembangan
keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif (Thomas & Ph, 2000). Pembelajaran berbasis projek
telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, merangsang kemampuan berpikir
kritis menjadi lebih baik. Sehingga peserta didik dapat mencerna materi pembelajaran yang di
sampaikan menjadi lebih baik. hal ini senada dengan (Rosmana et al., 2022) di mana penerapan
PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas serta keterlibatan peserta didik selama proses
pembelajaran, terutama di masa pembelajaran daring.
Pada pertemuan pertama peserta didik diberikan pretest, setelah itu guru mengkondisikan
kembali kelas untuk siap melaksanakan kegiatan pembelajaran dan guru merangsang peserta didik
untuk menjawab pertanyaan mengenai contoh-contoh yang dapat mengancam integrasi
IPOLEKSOSBUDHANKAM di indonesia, setelah itu guru membentuk peserta didik menjadi 5
kelompok dan memberikan gambaran umum terkait proyek yang akan di buat oleh ke 5 kelopok
tersebut. Setiap kelompok diberikan bidang yang berbeda kemudian peserta didik mencari contoh,
penyebab, dan strategi untuk meminimalisir ancaman terhadap IPOLEKSOSBUDHANKAM.
Selama peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran guru tetap mengontrol aktivitas yang
dilakukan peserta didik berjalan lancar atau tidak. Guru akan membantu dan membimbing peserta
didik yang kesulitan.
Pada pertemuan kedua guru mengingatkan kembali tentang materi yang telah diberitahukan
pada pertemuan sebelumnya, kemudia setiap kelompok menjelaskan dan mempresentasikan setiap
temuan yang mereka dapatkan di masing-masing bidang, setelah kegiatan presentasi selanjutnya
guru mengadakan diskusi antar peserta didik, setelah itu guru memberikan apresiasi kepada setiap
kelompok dan menyimpulkan materi tentang mewaspadai ancaman terhadap kedudukan NKRI.
Pada pertemuan ke tiga, guru memberikan post test untuk mengetahui hasil belajar dan
kemampuan berpikir kritis dengan menggunakan proyek literasi media sosial melalui lembar kerja
peserta didik yang telah di siapkan oleh guru.
Berdasarkan hasil dari pretest dan postest pada kelas eksperimen yang kemudian di uji-t
berpasangan (paired sample t-test), nilai rata-rata pretest adalah 63,13, sedangkan nilai rata-rata
posttest meningkat menjadi 86,09. Selisih rata-rata antara pretest dan posttest adalah -22,969
dengan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari
0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan
posttest. Artinya, penggunaan proyek literasi media sosial dalam pembelajaran berpengaruh
positif dan signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik di kelas
eksperimen.
Dengan penggunaan proyek literasi media sosial proses penyampaian pembelajaran yang
semula abstrak dapat disajikan dengan lebih konkret dan berkaitan langsung dengan kehidupan
peserta didik, dimana terdapat berbagai macam ilustrasi visual. Hal tersebut menjadikan peserta
didik lebih mudah untuk mencerna materi pelajaran sehingga pemahaman peserta didik terhadap
materi pelajaran yang diajarkan dapat diperoleh secara lebih jelas dan lebih menyeluruh.
Berbeda dengan kelas eksperimen, kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional
berupa ceramah, diskusi tanya jawab, dan penugasan tertulis. Meskipun metode ini dapat
menyampaikan materi dengan jelas dan terstrktur, namun pembelajaran ini kurang melibatkan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
125
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
peserta didik secara aktif dalam berpikir kritis. Aktivitas peserta didik cendrung pasif, mengikuti
penjelasan guru, dan menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan.
Pada pertemuan pertama guru membuka pelajaran kemudian memberikan apersepsi tentang
pembelajaran yang akan disampaikan. Selanjutnya, peserta didik diberikan soal pretest untuk
mengetahui kemampuan awal peserta didik. Pada pertemuan kedua guru mengingatkan kembali
dan me riview soal pretest yang telah dikerjakan peserta didik. Selanjutnya guru menjelaskan
materi tentanng mewaspadai ancaman terhadap kedudukan NKRI. Ketika pembelajaran guru
melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pembelajaran seperti
IPOLEKSOSBUDHANKAM dan dikaitkan dengan pengalamman peserta didik. Guru
memberikan kesempatan untuk bertanya kepada peserta didik bila belum paham tentang materi
yang disampaikan. Kemudian peseta didik dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang
telah disampaikan. Pada pertmuan ke tiga peserta didik di persilahkan untuk mengerjakan posttest
untuk mengetahui hasil belajar dan kemampuaan berpikir kritis peserta didik setelah proses
pembelajaran.
Berdasarkan hasil pretest dan postest yang kemudian di uji-t berpasangan (paired sample t-
test) pada kelas kontrol, diperoleh nilai rata-rata pada pretest sebesar 74,39 dan pada posttest
76,36, dan diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,467. Karena nilai signifikansi lebih
besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
nilai pretest dan posttest pada kelas kontrol. Artinya, pembelajaran konvensional yang diterapkan
pada kelas kontrol tidak memberikan peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan berpikir
kritis peserta didik.
Hal ini mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik karena
pembelajaran konvensional kurang memberikan ruang untuk eksplorasi, analisis, dan sintensis
informasi yang mendalam.
Proyek literasi media sosial yang dilaksanakan di SMA 2 PGRI KOTA BANDUNG
Literasi digital terutama dalam penggunaan media sosial, tidak hanya berkaitan dengan
keterampilan teknis, tetapi juga mencakup aspek etika, kehati-hatian, dan kesadaran hukum
(Windarto, 2023). Selain itu (Rahmatia et al., 2025) mengatakan bahwa literasi media
sosial/digital sebagai kemampuan individu dalam menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) guna menemukan, menelaah, mengolah, memproduksi, serta menyampaikan
informasi, baik melalui kemampuan berpikir kritis maupun keterampilan teknis. Salah satu
tantangan utama yang dihadapi pelajar dalam literasi media sosial adalah kurangnya kemampuan
untuk memverifikasi informasi yang mereka temui. (Mardiana et al., 2021) menyatakan bahwa
sebagian besar peserta didik sudah mengenal internet, namun belum paham mengenai kejahatan
yang dapat terjadi di ruang digital.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang
menekankan keterlibatan aktif para peserta didik dalam menyelesaikan tugas tugas yang bersifat
kompleks dan kontekstual. (Azzahra et al., 2023) menyebutkan bahwa PJBL salah satu model
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Selain itu, (Aziz &
Nurachadijat, 2023) menyatakan bahwa project based learning adalah model pembelajaran
yang didasarkan pada proyek, di mana peserta didik dihadapkan dengan masalah yang ada
di dunia nyata yang dianggap bermakna, kemudian bertindak secara kolaboratif untuk
menciptakan solusi dari masalah tersebut. Kemudian, (Gaffar et al., 2023) menyebutkan
bahwa adalah model pembelajaran yang bersifat kontekstual dengan menggunakan proyek
sebagai media, sehingga diharapkan dapat merubah cara belajar peserta didik secara mandiri
dengan meningkatkan minat belajar peserta didik.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
126
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
Dalam implementasinya pembelajaran berbasis proyek memiliki tahapan atau Langkah-
langkah yang sistematis yang dirancang untuk mengarahkan peserta didik dalam menyelesaikan
suatu permasalahan. Setiap langkah berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
kreativitas, serta tanggung jawab terhadap proses dan hasil pembelajaran. Menurut Wahyu dalam
(Widiastutik et al., 2023) menyatakan bahwa fase pembelajaran dalam metode project based
learning meliputi 1) Mulai dengan pertanyaan dasar atau pertanyaan pemantik. 2) Rancang
rencana proyek, rencanakan bersama guru dan siswa, sehingga siswa merasa memiliki” proyek
tersebut 3) Mengatur jadwal aktivitas saat penyelesaian proyek. 4) Pantau siswa dan kemajuan
proyek, dan pantau aktivitas siswa saat mereka menyelesaikan proyek 5) Penilaian hasil,
memberikan penilaian untuk membantu guru merumuskan strategi pembelajaran untuk tahap
selanjutnya. 6) Evaluasi pengalaman. Sedangkan, menurut (Rahayu et al., 2025) menyebutkan
langkah-langkah PJBL adalah sebagai berikut (1) penentuan pertanyaan mendasar (start with the
essential question), (2) mendesain perencanaan proyek (design a plan for the project), (3)
menyusun jadwal (create a schedule), (4) memonitor siswa dan kemajuan proyek (monitor the
students and the progress of the project), (5) menguji hasil (assess the outcome) dan (6)
mengevaluasi pengalaman (evaluate the experience).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol
dan kelas eksperimen. Rata-rata nilai kelas kontrol pada post test sebesar memperoleh rata-rata
nilai posttest sebesar 76,36 dengan simpangan baku sebesar 15,37, nilai minimum 45 dan
maksimum 95. Sedangkan pada kelaseskperimen mendapatkan skor nilai rata-rata 86,09 dengan
simpangan baku 7,376, nilai minimum sebesar 70 dan maksimum 95. Nilai rata-rata yang lebih
tinggi pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran
berbasis proyek literasi media sosial menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang
lebih baik dibandingkan dengan peserta didik di kelas kontrol. Selain itu, nilai simpangan baku
yang lebih rendah pada kelas eksperimen mengindikasikan bahwa pencapaian peserta didik lebih
merata, atau dengan kata lain, perbedaan antarindividu dalam kelompok tersebut lebih kecil.
Selain itu nilai N-Gain scroe yang diperoleh dari postest kedua kelas menunjukan bahwa rata-
rata peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas kontrol hanya sebesar 5,48%, yang
termasuk dalam kategori rendah. Nilai minimum bahkan mencapai -150,00%, menunjukkan
bahwa beberapa peserta didik mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis setelah perlakuan,
sedangkan nilai maksimum sebesar 83,33%. Meskipun ada beberapa peserta didik yang
mengalami peningkatan tinggi, secara umum data kelas kontrol menunjukkan variasi yang sangat
besar (simpangan baku 60,87) dengan median 25,00%, yang artinya sebagian besar peserta
memperoleh peningkatan yang sangat kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran pada
kelas kontrol kurang efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Sebaliknya, pada kelas eksperimen, rata-rata N-Gain Score mencapai 60,22%, yang termasuk
dalam kategori cukup efektif, mendekati batas atas menuju kategori efektif. Nilai median sebesar
66,67% menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta didik memperoleh peningkatan
kemampuan berpikir kritis yang cukup baik. Nilai minimum tercatat sebesar 16,67% dan
maksimum mencapai 90,00%, yang berarti tidak ada penurunan kemampuan berpikir kritis di
kelas ini. Variasi antar peserta didik dalam hal peningkatan kemampuan berpikir kritis pun lebih
terkendali (simpangan baku 22,53) dibandingkan kelas kontrol.
Perbedaan ini diperkuat oleh hasil uji independent sample t-test yang menunjukan bahwa nilai
rata-rata posttest kelas kontrol adalah 76,36 dengan standar deviasi 15,375, sedangkan nilai rata-
rata posttest kelas eksperimen yang mengikuti pembelajaran dengan metode proyek literasi media
sosial adalah 86,09 dengan standar deviasi 7,376. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai signifikansi
(Sig. 2-tailed) sebesar 0,006 pada asumsi varians yang sama, yang berarti lebih kecil dari 0,05.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
127
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen. Selisih rata-rata nilai posttest antara kedua kelas
sebesar -9,730 menunjukkan bahwa peserta didik di kelas eksperimen memperoleh kemampuan
berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan peserta didik di kelas kontrol.
Hasil penelitian ini selaras dengan temuan beberapa penelitian terdahulu yang berpendapat
bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek mampu meningkatkan kemampuan berpikir
kritis peserta didik secara signifikan. Penelitian oleh (Hikmah, 2020) menunjukkan bahwa PjBL
dapat meningkatkan hasil belajar karena peserta didik lebih terdorong untuk memahami materi
secara mandiri dan kontekstual. Penelitian oleh (Rosmana et al., 2022) juga menguatkan hal
tersebut, di mana penerapan PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas serta keterlibatan
peserta didik selama proses pembelajaran, terutama di masa pembelajaran daring. Penelitian yang
dilakukan oleh (Dewi, 2024) Dewi menyebutkan bahwa literasi media sosial dapat meningkatkan
kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Hal yang serupa di ungkapkan
oleh (Thomas & Ph, 2000) dalam laporannya menyebutkan bahwa PjBL mampu meningkatkan
pemahaman konseptual peserta didik serta mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis
dan kolaboratif.
Dalam konteks pembelajaran PPKn, penggunaan proyek literasi media sosial memungkinkan
peserta didik untuk terlibat aktif dalam mengevaluasi isu-isu kewarganegaraan aktual secara
mandiri dan kolaboratif, sekaligus melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian,
hasil penelitian ini memperkuat dan memperluas bukti empiris bahwa strategi pembelajaran
berbasis proyek, khususnya yang terintegrasi dengan media sosial, efektif dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kritis peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.
Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam Pembelajaran PPKn Terhadap Peningkatan
Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu mata Pelajaran inti
dalam kurikulum Pendidikan nasional Indonesia yang berfungsi dalam membangun karakter
bangsa. pendidikan kewarganegaraan mempersiapkan peserta didik agar mampu berpikir kritis,
bertindak demokratis, dan mengamalkan nilai-nilai karakter bangsa dalam kehidupan sehari-hari
(Pertiwi et al., 2021). Kemudian (Putri, 2024) menjelaskan bahwa PPKn berkontribusi dalam
membentuk karakter moral peserta didik, seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan cinta
tanah air. Selain itu, (Safitri et al., 2021) menyatakan bahwa Pendidikan kewarganegaraan
termasuk salah satu mata pelajaran yang memiliki peran yang cukup penting di dunia pendidikan
terlebih pada sekolah dasar, dalam pembelajarannya pendidikan kewarganegaraan terdapat
beberapa nilai-nilai yang budi pekerti yang dapat membentuk karakter dan juga kepribadian.
Dalam konteks Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) media sosial tidak hanya
menjadi sarana komunikasi dan hiburan saja, tap juga berperan dalam membentuk kemampuan
berpikir kritis peserta didik. Pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran PPKn dapat menjadi
wahana untuk mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik terhadap berbagai isu sosial,
politik, dan budaya yang berkembang di masyarakat digital saat ini. (Wati et al., 2024) menyatakan
bahwa pendidikan demokrasi dalam PPKn bertujuan untuk membentuk warga negara yang
memiliki kecerdasan, keterampilan, dan karakter demokratis.
Untuk mengetahui hubungan antara hasil dari pretest dan posttest kelas eksperimen peserta
didik dalam mata pelajaran PPKn menggunakan uji kolerasi pearson. Hasil uji korelasi Pearson
antara nilai pretest dan posttest pada kelas eksperimen menunjukkan nilai koefisien korelasi
sebesar r = 0,544 dengan tingkat signifikansi p = 0,001. Nilai ini menunjukkan adanya hubungan
positif yang sedang antara kemampuan awal dan hasil akhir peserta didik setelah mengikuti
pembelajaran berbasis proyek literasi media sosial. Berdasarkan interpretasi nilai korelasi Pearson,
nilai r antara 0,40 0,599 termasuk dalam kategori korelasi sedang, yang berarti terdapat tendensi
bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan awal lebih tinggi juga memperoleh hasil posttest
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
128
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
yang lebih tinggi. Selain itu, karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,01 (p < 0,01), maka
hubungan ini sangat signifikan secara statistik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran melalui proyek literasi media sosial tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir
kritis peserta didik secara umum, tetapi juga menunjukkan bahwa peningkatan tersebut memiliki
hubungan yang cukup kuat dengan kemampuan awal yang dimiliki peserta didik.
Sedangkan pada kelas kontrol di dapatkan hasil uji korelasi Pearson dengan nilai koefisien
korelasi sebesar r = 0,484 dengan tingkat signifikansi p = 0,004. Nilai ini menunjukkan adanya
hubungan positif yang sedang antara skor pretest dan posttest peserta didik. Menurut pedoman
interpretasi korelasi, nilai koefisien antara 0,40-0,599 dikategorikan sebagai korelasi sedang, yang
berarti bahwa peserta didik dengan kemampuan awal yang lebih tinggi cenderung memperoleh
hasil posttest yang lebih tinggi pula. Selain itu, nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,01 (p <
0,01) mengindikasikan bahwa hubungan ini sangat signifikan secara statistik. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran konvensional yang diterapkan pada kelas kontrol,
hasil belajar peserta didik cukup bergantung pada kemampuan awal mereka, dan peningkatan hasil
cenderung mengikuti pola kecenderungan awal tersebut.
Jika dibandingkan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, hasil uji korelasi Pearson pada
kedua kelas menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan secara statistik antara
nilai pretest dan posttest peserta didik. Pada kelas eksperimen, koefisien korelasi sebesar r = 0,544
dengan signifikansi p = 0,001, sedangkan pada kelas kontrol diperoleh r = 0,484 dengan p = 0,004.
Kedua nilai korelasi ini termasuk dalam kategori korelasi sedang (0,400,599), yang menunjukkan
bahwa peserta didik dengan kemampuan awal lebih tinggi cenderung memperoleh hasil posttest
yang juga tinggi, baik dalam pembelajaran proyek maupun konvensional.
Namun demikian, perbedaan yang lebih mencolok terletak pada tingkat efektivitas
pembelajaran. Pada kelas eksperimen, peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik tidak
hanya berkorelasi sedang dengan kemampuan awal, tetapi juga disertai dengan rata-rata nilai
posttest yang lebih tinggi dan simpangan baku yang lebih kecil, yang menunjukkan bahwa
pencapaian peserta didik lebih merata. Sementara itu, pada kelas kontrol, meskipun korelasi juga
signifikan, peningkatan hasil belajar lebih bergantung pada kemampuan awal, dan variasi hasil
antar peserta didik cenderung lebih besar. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yerhadap guru
PPKn yang menyevutkan bahwa kegiatan proyek literasi media sosial telah melibatkan
kemampuan berpikir mulai dari mengingat, memahami, menganalisis, hingga mengevaluasi
informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, khususnya media sosial. Meskipun kemampuan
menerapkan (aplikasi) mungkin belum sepenuhnya tergali selama proses pembelajaran
berlangsung, guru meyakini bahwa proses ini akan lebih berkembang seiring dengan pemahaman
yang matang setelah pembelajaran selesai.
Temuan ini mengindikasikan bahwa proyek literasi media sosial dalam pembelajaran PPKn
berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik secara lebih adil dan
menyeluruh. Hal ini sesuai dengan (Fahrezi, Y., Arifin, M. B., & Oktavianti, 2020) menunjukkan
bahwa penerapan PjBL dalam konteks literasi media sosial dapat mengembangkan keterampilan
digital peserta didik. Peserta didik tidak hanya belajar tentang Pancasila atau kewarganegaraan,
tetapi juga keterampilan penting di dunia digital seperti menganalisis informasi dan mengelola
identitas digital mereka.
Kemudian (Dewi, 2024), yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberikan
pengalaman nyata kepada peserta didik untuk berlatih berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif
dalam menghadapi persoalan aktual di masyarakat Metode ini tidak hanya mendorong peserta
didik dengan kemampuan awal tinggi untuk tetap unggul, tetapi juga memfasilitasi peserta didik
dengan kemampuan awal rendah untuk berkembang melalui kegiatan kolaboratif, kontekstual, dan
interaktif yang melibatkan keterampilan berpikir kritis, literasi digital, dan komunikasi. Dengan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
129
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
demikian, proyek literasi media sosial tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara individual,
tetapi juga memberikan pengaruh positif dalam meratakan kualitas peningkatan berpikir kritis di
antara peserta didik yang memiliki latar belakang akademik yang beragam.
4. Kesimpulan
Berlandaskan pada hasil dan pembahasan penelitian tentang pengaruh proyek literasi media
sosial dalam pembelajaran PPKn terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik,
maka penulis memaparkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kemampuan awal berpikir kritis peserta didik, sebagaimana terlihat dari hasil pretest,
menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik berada pada kategori cukup hingga kurang,
Dengan nilai rata-rata 74,39 pada kelas kontrol, dan 63,13 pada kelas eksperimen
2. Proyek literasi media sosial yang diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) di kelas XI SMA PGRI 2 Kota Bandung dirancang secara
kolaboratif antara guru dan peserta didik. Kegiatan ini mencakup tahap orientasi, penentuan
isu IPOLEKSOSBUDHANKAM, pengumpulan informasi dari media sosial, analisis
kelompok, hingga presentasi hasil proyek. Seluruh proses diarahkan untuk menumbuhkan
partisipasi aktif, keterampilan berpikir kritis, serta literasi digital peserta didik.
3. Hasil post-test menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran berbasis
proyek literasi media sosial mengalami peningkatan keterampilan berpikir kritis yang
signifikan dibandingkan dengan peserta didik pada kelas kontrol. Rata-rata posttest kelas
eksperimen lebih tinggi (86,09) dibandingkan dengan kelas kontrol (76,36). Analisis N-Gain
menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen
berada pada kategori cukup efektif (60,22%), sedangkan kelas kontrol berada pada kategori
rendah (5,48%). Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek
memberikan pengaruh yang signifikan lebih besar terhadap peningkatan hasil belajar dan
keterampilan berpikir kritis. Hasil uji-t sampel independen menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan antara hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan nilai
signifikansi sebesar 0,006 (p<0,05).
5. Daftar Pustaka
Aziz, S. A., & Nurachadijat, K. (2023). Project Based Learning dalam Meningkatkan
Keterampilan Belajar Siswa. 3, 6774.
Azzahra, U., Arsih, F., & Alberida, H. (2023). BIOCHEPHY : Journal of Science Education
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT-BASED LEARNING ( PjBL )
TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK PADA
PEMBELAJARAN BIOLOGI : LITERATURE REVIEW. 03(1), 4960.
Dewi, A. A. (2024). Pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap perilaku dan pengambilan
keputusan generasi Z di era digital. 1(1), 4352.
Fahrezi, Y., Arifin, M. B., & Oktavianti, T. (2020). Implementasi Project Based Learning dalam
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Kolaborasi Siswa. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 4(3), 19531960.
Fatimah, S., Lailia, shinta april, Seftiana, afil fres, Ayu, S., & Rista, V. N. (2023).
MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI DIGITAL DALAM. 2(1), 1019.
Fauzia, S., Nur, A., Lestari, P., & Nur, M. (2023). Dampak Penggunaan Media Sosial Terhadap
Prestasi Belajar Peserta Didik. 5(1), 2127.
Gaffar, R. J., Juaini, M., & Rokhmat, J. (2023). Peningkatan Minat Belajar Peserta Didik
Melalui Penerapan Model Project Based Learning ( PjBL ). 5(3).
Heiss, R., & Nanz, A. (2023). Computers in Human Behavior Social media information literacy :
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 116-130
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
130
Edi Kusnadi et.al (Pengaruh Proyek Literasi Media Sosial dalam….)
Conceptualization and associations with information overload , news avoidance and
conspiracy mentality. 148(July). https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107908
Hikmah, M. (2020). Penerapan model Project Based Learning untuk meningkatkan partisipasi
dan hasil belajar pemrograman dasar siswa. Jurnal Teknodik, 24(1), 2738.
Indonesia Baik. (2024). 221 juta penduduk Indonesia makin melek internet.
Kusumawati, I. T., Soebagyo, J., & Nuriadin, I. (2022). Studi Kepustakaan Kemampuan Berpikir
Kritis Dengan Penerapan Model PBL Pada Pendekatan Teori Konstruktivisme. 5(1), 13
18.
Livingstone, S. (2015). Developing social media literacy : how children learn to interpret risky
opportunities on social network sites. https://doi.org/10.1515/commun-2014-0113
Mardiana, S., Putri, L. D., & Surahman, S. (2021). Literasi Digital dalam Upaya Mendukung
Pembelajaran Online pada Siswa Sekolah Dasar di Kota Cilegon. 4754.
Organization for Economic Co-operation and Development. (2018). Program for International
Student Assessment (PISA) 2018 Results.
Pertiwi, A. D., Nurfatimah, S. A., Dewi, D. A., & Furi, Y. (2021). Jurnal basicedu. 5(5), 4328
4333.
Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan. (2022). Survei Nasional Kemampuan Berpikir Kritis
Peserta Didik.
Puspita, V., & Dewi, I. P. (2021). Efektifitas E-LKPD berbasis Pendekatan Investigasi terhadap
Kemampuan Berfikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. 05(01), 8696.
Putri, A. Y. (2024). Pentingnya Pelajaran Pancasila Dan Kewarganegaraan Dalam Membentuk
Karakter Dan Moral Siswa Di Sekolah. 3(2), 242251.
Rahayu, D. A., Ulum, B., & Putra, A. A. P. E. (2025). Literasi Digital Dalam Pembelajaran PKn
berbasis Saintifik untuk Penguatan Civic Dispotition Mahasiswa JURNAL MEDIA
INFORMATIKA [ JUMIN ]. 6(3), 16421649.
Rahmatia, A., Awang, H. S., Yoanita, A., Afrona, B., & Lelantakaeb, E. (2025). PERAN MEDIA
SOSIAL DALAM MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL : KAJIAN LITERATUR DAN
STUDI KASUS. 8, 6170.
Riyanto, M., Asbari, M., & Latif, D. (2024). Efektivitas Problem Based Learning terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa. 03(01), 15.
Rizkasari, E., Rahman, I. H., Aji, P. T., Slamet, U., Surakarta, R., & Purwokerto, U. M. (2022).
Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning untuk Meningkatkan Hasil
Belajar dan Kreativitas Peserta Didik. 6(20), 1451414520.
Rosmana, P. S., Iskandar, S., Mipta, R. A., & Janah, M. (2022). Pengaruh Pembelajaran Project
Based Learning pada Sekolah Dasar di Masa Pandemi. 6, 36783684.
Safitri, A. O., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Jurnal basicedu. 5(6), 53285335.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif.
Thomas, J. W., & Ph, D. (2000). A REVIEW OF RESEARCH ON PROJECT-BASED
LEARNING.
Wati, H. B., Listyarini, I., & Artharina, F. P. (2024). Efektivitas Model Pembelajaran Teams
Games Tournament terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
4(April), 105112.
Widiastutik, D., Fajriyah, K., & Purnamasari, V. (2023). Penerapan Model PjBL untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Tlogosari Kulon 01. 7, 40904096.
Windarto. (2023). Literasi digital dalam etika bermedia sosial yang berbudi luhur bagi warga
Krendang, Tambora, Jakarta Barat. Sebatik, 27(1), 201207.
Yulianti, Y., Lestari, H., & Rahmawati, I. (2022). Jurnal Cakrawala Pendas PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN RADEC TERHADAP. 8(1), 4756.