Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
27
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
Tantangan Generasi Muda dalam Memperingati
Ideologi Pancasila di Era Globalisasi
Edhi Santoso
a,1
, Suyahman
b,2
a,b
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
1
muhammadwisanggeni@gmail.com;
2
Suyahman.suyah[email protected]
*
muhammadwisanggeni@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 19 Agustus 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 10 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 januari 2026
Globalisasi membawa dampak signifikan terhadap berbagai aspek
kehidupan, termasuk ideologi. Bagi Indonesia, ideologi Pancasila
menghadapi berbagai tantangan, terutama di kalangan generasi muda yang
merupakan tulang punggung masa depan bangsa. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis bentuk-bentuk tantangan yang dihadapi generasi
muda dalam mempertahankan ideologi Pancasila di era globalisasi, serta
mengidentifikasi strategi yang efektif untuk memperkuat pemahaman dan
praktik Pancasila. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur
dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh dari berbagai
sumber pustaka relevan seperti jurnal ilmiah, buku, dan laporan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi derasnya
arus informasi yang tidak tersaring, pengaruh budaya asing yang
bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, lemahnya literasi digital, serta
kurangnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak, termasuk
keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, untuk
membekali generasi muda dengan pemahaman yang komprehensif tentang
Pancasila, menumbuhkan kesadaran kritis, serta mendorong partisipasi
aktif dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila.
Kata Kunci:
Generasi Muda
Pancasila
Ideologi
Globalisasi
ABSTRACT
Keywords:
Young Generation
Pancasila
Ideology
Globalization
Globalization brings significant impacts to various aspects of life, including
ideology. For Indonesia, the Pancasila ideology faces various challenges,
particularly among the youth generation who are the backbone of the nation's
future. This research aims to analyze the forms of challenges faced by the
youth in upholding the Pancasila ideology in the era of globalization, and to
identify effective strategies to strengthen the understanding and practice of
Pancasila. The research method employed is a literature review with a
descriptive-analytical approach. Data were obtained from various relevant
literature sources such as scientific journals, books, and research reports. The
research findings indicate that the main challenges include the overwhelming
flow of unfiltered information, the influence of foreign cultures conflicting with
Pancasila values, weak digital literacy, and a lack of internalization of
Pancasila values in daily life. Therefore, collective efforts are needed from
various parties, including families, educational institutions, government, and
society, to equip the youth with a comprehensive understanding of Pancasila,
foster critical awareness, and encourage active participation in realizing
Pancasila values.
©2026, Edhi Santoso, Suyahman
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
28
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
1. Pendahuluan
Globalisasi telah membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial, budaya,
politik, dan ekonomi di Indonesia. Proses integrasi dunia ini mendorong perkembangan
teknologi informasi, komunikasi, dan pergeseran nilai-nilai budaya yang begitu cepat. Dalam
konteks Indonesia, globalisasi juga membawa tantangan besar dalam mempertahankan nilai-
nilai ideologi nasional, terutama Pancasila, sebagai dasar negara. Generasi muda sebagai
kelompok yang tumbuh dan berkembang dalam era ini sering kali terpapar oleh berbagai
pengaruh dari luar yang dapat memengaruhi pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai
Pancasila.
Di sisi lain, Pancasila sebagai ideologi negara mengandung nilai-nilai yang sangat relevan
dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, toleransi antarumat beragama, dan keadilan
sosial. Namun, penerimaan terhadap nilai-nilai ini di kalangan generasi muda semakin
menurun seiring dengan semakin dominannya budaya asing dan meningkatnya
ketidakpahaman terhadap Pancasila. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian
tentang tantangan yang dihadapi oleh generasi muda dalam mempertahankan Pancasila di era
globalisasi.
Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam konteks melihat tantangan ideologis yang
dihadapi generasi muda di era globalisasi melalui perspektif yang lebih mendalam. Sebagian
besar penelitian sebelumnya lebih menyoroti aspek pengaruh budaya asing secara umum,
sementara penelitian ini secara spesifik menganalisis pengaruh globalisasi terhadap
pemahaman dan pengamalan Pancasila oleh generasi muda. Penelitian ini juga menggunakan
pendekatan yang menggabungkan teori-teori sosial, budaya, dan pendidikan untuk menggali
tantangan-tantangan tersebut dari berbagai aspek kehidupan generasi muda. Selain itu,
penelitian ini akan mengidentifikasi solusi dan langkah-langkah konkret yang dapat diambil
untuk menguatkan kembali pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, banyak studi yang mengungkapkan bahwa
globalisasi mempengaruhi nilai-nilai sosial dan budaya lokal. Misalnya, penelitian oleh
Harjanto (2017) menunjukkan bahwa globalisasi memberikan dampak positif dan negatif
terhadap generasi muda, termasuk dalam hal pembentukan karakter dan identitas bangsa.
Sementara itu, penelitian oleh Suyanto (2018) menyoroti bagaimana Pancasila mulai
dilupakan oleh banyak generasi muda akibat pengaruh budaya asing dan kurangnya
pendidikan ideologi negara yang memadai di sekolah-sekolah. Beberapa peneliti lainnya,
seperti Nasution (2020), menunjukkan bahwa penguatan pendidikan Pancasila di sekolah dan
melalui media sosial adalah langkah penting untuk mempertahankan ideologi ini. Literatur-
literatur ini memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi oleh generasi muda dan
pentingnya pendidikan ideologi nasional yang lebih efektif.
Meskipun sudah banyak penelitian yang membahas pengaruh globalisasi terhadap budaya
dan identitas nasional, masih ada kesenjangan dalam penelitian tentang bagaimana generasi
muda secara spesifik berinteraksi dengan ideologi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Banyak studi yang menyentuh aspek pengaruh globalisasi terhadap aspek lain dari
kehidupan generasi muda, namun sedikit yang secara mendalam mengkaji bagaimana
pengaruh ini berdampak langsung pada pemahaman dan pengamalan Pancasila. Oleh karena
itu, penelitian ini akan mengisi kesenjangan tersebut dengan melihat lebih dalam tantangan
yang dihadapi generasi muda dalam mempertahankan Pancasila di tengah derasnya arus
globalisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk
tantangan yang dihadapi generasi muda dalam mempertahankan ideologi Pancasila di era
globalisasi. 2. Merumuskan strategi yang efektif untuk memperkuat pemahaman dan
internalisasi nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
29
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang jelas dalam:: 1) Memberikan
pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan dan masalah yang dihadapi oleh generasi
muda dalam mempertahankan ideologi Pancasila di tengah arus globalisasi. 2) Menyediakan
rekomendasi praktis untuk penguatan pendidikan ideologi Pancasila yang dapat diterapkan di
tingkat sekolah, keluarga, dan masyarakat, dan 3) Menjadi acuan bagi pembuat kebijakan
untuk merancang program-program yang lebih efektif dalam mengajarkan dan
memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
Selain itu, perkembangan media digital dan media sosial sebagai produk globalisasi turut
memainkan peran penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda. Akses
informasi yang begitu luas dan tanpa batas memungkinkan masuknya berbagai ideologi, gaya
hidup, dan nilai-nilai asing yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Konten-
konten global yang bersifat individualistis, konsumtif, dan liberal sering kali lebih dominan
dan menarik perhatian generasi muda dibandingkan nilai-nilai kebangsaan yang bersifat
kolektif dan berakar pada budaya nasional. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pergeseran
orientasi nilai, di mana generasi muda cenderung lebih mengidentifikasi diri dengan budaya
global daripada identitas nasionalnya.
Di samping faktor eksternal tersebut, tantangan dalam mempertahankan Pancasila juga
dipengaruhi oleh faktor internal, seperti lemahnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam
lingkungan pendidikan dan keluarga. Pembelajaran Pancasila di sekolah sering kali masih
bersifat teoritis dan kurang kontekstual, sehingga belum mampu menyentuh aspek sikap dan
perilaku nyata generasi muda. Kurangnya keteladanan dari lingkungan sekitar serta minimnya
ruang dialog kritis mengenai relevansi Pancasila dalam kehidupan modern semakin
memperparah kondisi ini. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih inovatif dan
kontekstual dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila agar dapat diterima dan diamalkan secara
nyata oleh generasi muda di era globalisasi.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi literatur (library research) dengan
pendekatan deskriptif-analitis. Studi literatur dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis secara mendalam berbagai informasi dan teori yang telah ada mengenai
tantangan Pancasila di era globalisasi, khususnya yang berkaitan dengan generasi muda, serta
merumuskan strategi berdasarkan sintesis dari temuan-temuan pustaka. Pendekatan deskriptif-
analitis digunakan untuk menggambarkan fenomena yang ada (tantangan yang dihadapi) dan
kemudian menganalisis keterkaitannya dengan konsep Pancasila serta merumuskan implikasi
strategis. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari
berbagai literatur ilmiah.
3. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Bagian ini memaparkan temuan-temuan dari penelitian studi literatur secara objektif dan
terperinci, yang akan menjadi dasar bagi pembahasan di bab selanjutnya. Hasil penelitian
dikelompokkan berdasarkan dua rumusan masalah utama.
A. Identifikasi Bentuk-bentuk Tantangan Generasi Muda dalam Mempertahankan Ideologi
Pancasila
Dari hasil kompilasi dan analisis berbagai literatur, diidentifikasi lima kategori utama
tantangan yang dihadapi generasi muda dalam mempertahankan ideologi Pancasila di era
globalisasi.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
30
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
a) Arus Informasi dan Budaya Asing yang Masif
Di era globalisasi saat ini, kita hidup di tengah arus informasi dan budaya asing yang
masif. Fenomena ini merujuk pada gelombang besar dan berkelanjutan dari informasi,
nilai-nilai, gaya hidup, produk, dan tradisi dari berbagai negara yang masuk dan
menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Penyebab
utamanya adalah kemajuan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi, terutama
internet, media sosial, dan media hiburan global. Kecepatan dan kemudahan akses ini
membuat batasan geografis dan waktu seakan menghilang, memungkinkan siapa saja,
khususnya generasi muda, untuk terpapar budaya asing setiap saat.Literartur
menunjukkan bahwa aksesibilitas internet dan media sosial yang tinggi telah membuka
pintu bagi masuknya berbagai ideologi transnasional.
Penelitian oleh Surbakti (2018) menyoroti bahwa paham liberalisme, individualisme
ekstrem, dan radikalisme keagamaan dengan mudah menyebar melalui platform digital,
menawarkan narasi yang terkadang lebih menarik bagi generasi muda dibandingkan
narasi kebangsaan. Selain itu, penetrasi budaya pop global (misalnya K-pop, tren gaya
hidup Barat) juga dilaporkan oleh Susilo (2019) mengikis apresiasi terhadap budaya
lokal yang sejatinya menjadi medium internalisasi nilai Pancasila. Disinformasi dan
hoaks terkait sejarah serta nilai-nilai Pancasila, seperti yang diungkap oleh Kominfo
(2020) dalam laporannya, turut memperkeruh pemahaman generasi muda.
b) Lemahnya Literasi Digital dan Daya Kritis
Lemahnya literasi digital dan daya kritis adalah kondisi di mana seseorang tidak
hanya kurang cakap dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga tidak mampu
berpikir secara mendalam, analitis, dan evaluatif terhadap informasi yang ditemui di
dunia maya. Keduanya saling terkait dan menjadi tantangan besar di era informasi saat
ini. Literasi digital bukan sekadar bisa mengoperasikan gawai atau media sosial. dia
adalah kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan
informasi secara bijak melalui teknologi digital. Sementara itu, daya kritis adalah
kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif, mempertanyakan asumsi,
mengidentifikasi bias, dan membentuk penilaian yang beralasan.Meskipun generasi
muda disebut sebagai "digital native", beberapa studi (misalnya Wijaya & Utami, 2021)
menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital mereka seringkali terbatas pada
penggunaan teknis, bukan pada kemampuan menyaring dan mengevaluasi informasi
secara kritis. Hal ini membuat mereka rentan terhadap propaganda ideologi yang
bertentangan dengan Pancasila, serta mudah terprovokasi oleh konten-konten
provokatif dan memecah belah yang tersebar di media sosial.
c) Kurangnya Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Kurangnya internalisasi nilai-nilai Pancasila adalah kondisi di mana prinsip-prinsip
luhur yang terkandung dalam Pancasila belum sepenuhnya meresap, mendarah daging,
dan menjadi pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Akibatnya,
Pancasila sering kali hanya menjadi sebuah konsep hafalan atau slogan formal, tanpa
diwujudkan dalam tindakan nyata. Wujud Kurangnya Internalisasi dalam Kehidupan
Masyarakat Gejala dari kurangnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat diamati
dalam berbagai aspek kehidupan, yang mencerminkan pelemahan pada setiap silanya.
Faktor Penyebab Kurangnya Internalisasib Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab.
Beberapa faktor utama yang memengaruhinya antara lain Metode Pembelajaran
yang Kurang Efektif: Pendidikan Pancasila sering kali bersifat dogmatis dan hanya
berfokus pada aspek kognitif (hafalan), tanpa menyentuh aspek afektif (penghayatan)
dan psikomotorik (pengamalan). Arus Globalisasi yang Tidak Terfilter Masuknya
budaya asing secara masif melalui media digital membawa nilai-nilai individualisme,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
31
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
materialisme, dan konsumerisme yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur
Pancasila. Lemahnya Keteladanan Krisis teladan dari para elite politik dan tokoh
masyarakat yang perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila (misalnya,
korupsi dan intoleransi) menyebabkan lunturnya kepercayaan dan motivasi masyarakat
untuk mengamalkannya. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi Ketidakadilan dan kesulitan
ekonomi dapat memicu frustrasi sosial, sehingga masyarakat menjadi lebih apatis dan
pragmatis, mengabaikan nilai-nilai luhur demi bertahan hidup.
Lemahnya Penegakan Hukum Penegakan hukum yang tidak adil dan tebang pilih
terhadap pelanggaran yang bertentangan dengan nilai Pancasila membuat masyarakat
kehilangan rasa hormat pada aturan. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan
antara pengetahuan (knowing), perasaan cinta terhadap nilai-nilai tersebut (feeling), dan
kemauan untuk melaksanakannya dalam tindakan (acting).Beberapa penelitian
(misalnya Wibowo, 2017) mengemukakan bahwa pendidikan Pancasila di sekolah
seringkali masih bersifat formalistik, cenderung berorientasi pada hafalan, dan kurang
menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan realitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya,
Pancasila hanya menjadi mata pelajaran, bukan pedoman hidup. Kesenjangan antara
nilai ideal Pancasila dan praktik perilaku elit serta masyarakat, seperti yang diungkap
dalam survei opini publik (Puskapol UI, 2022), turut menimbulkan apatisme atau
skeptisisme di kalangan generasi muda terhadap relevansi Pancasila.
d) Tantangan dari Paham Radikalisme dan Ekstremisme
Paham radikalisme dan ekstremisme merupakan salah satu ancaman paling serius
bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tantangan utamanya
adalah kemampuannya untuk merusak tatanan sosial, mengancam ideologi negara, dan
mengikis fondasi persatuan bangsa yang telah dibangun di atas keragaman. Radikalisme
adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan
politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Sementara
ekstremisme adalah keyakinan yang sangat kuat dan fanatik terhadap suatu pandangan,
yang seringkali melampaui batas kewajaran dan menolak untuk menghormati
pandangan yang berbeda. Keduanya seringkali berjalan beriringan dan menjadi dasar
dari aksi terorisme.Internet telah menjadi sarana efektif bagi kelompok radikal untuk
merekrut dan menyebarkan ideologi mereka, terutama menyasar generasi muda yang
sedang mencari identitas atau mengalami disorientasi (BNPT, 2021). Narasi kebencian
dan intoleransi yang terus-menerus terpapar dapat menumbuhkan sikap anti-
kemajemukan, yang secara fundamental berlawanan dengan prinsip Bhinneka Tunggal
Ika yang terkandung dalam Pancasila.
Wujud Tantangan yang Dihadapi Tantangan dari kedua paham ini bersifat
multidimensional dan menyasar berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara
Ancaman terhadap Ideologi Pancasila Tantangan paling fundamental adalah upaya
untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang dianggap lebih "benar"
menurut kelompok mereka. Sasaran Mereka secara sistematis menyebarkan narasi
bahwa Pancasila tidak sesuai dengan ajaran agama tertentu atau merupakan produk
sekuler yang harus ditolak. Dampak yang terjadi delegitimasi terhadap dasar negara
yang selama ini menjadi payung bagi seluruh suku, agama, dan ras di Indonesia. Ini
mengancam eksistensi Indonesia sebagai negara yang majemuk.
Beberapa faktor menjadi pemicu suburnya paham radikalisme dan ekstremisme
Kesenjangan Ekonomi dan Ketidakadilan Sosial: Perasaan terpinggirkan dan tidak adil
dapat membuat seseorang frustrasi dan mencari "solusi" instan yang ditawarkan oleh
kelompok radikal. Pemahaman Agama yang Sempit dan Tekstual: Menafsirkan ajaran
agama secara harfiah tanpa memahami konteksnya dapat melahirkan sikap eksklusif
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
32
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
dan intoleran. Lemahnya Literasi Digital dan Daya Kritis: Ketidakmampuan memfilter
informasi di dunia maya membuat banyak orang mudah terpapar dan terpengaruh
propaganda radikal. Kurangnya Wawasan Kebangsaan: Lemahnya pemahaman
terhadap sejarah perjuangan bangsa dan nilai-nilai Pancasila membuat seseorang tidak
memiliki benteng ideologis yang kuat. Menghadapi tantangan ini memerlukan
pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintah, tokoh agama, lembaga
pendidikan, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat
wawasan kebangsaan, mempromosikan moderasi beragama, dan meningkatkan literasi
digital.
B. Identifikasi Strategi Efektif untuk Memperkuat Pancasila pada Generasi Muda dari
analisis literatur, diidentifikasi beberapa strategi kunci yang dianggap efektif dalam
memperkuat pemahaman dan internalisasi Pancasila pada generasi muda.
1. Reaktualisasi Pendidikan Pancasila
Reaktualisasi Pendidikan Pancasila adalah upaya untuk menghidupkan kembali dan
menyesuaikan cara pendidikan Pancasila diajarkan agar relevan, menginspirasi, dan
efektif bagi generasi sekarang. Ini bukan tentang mengubah nilai-nilai Pancasila itu
sendiri, melainkan tentang mengubah metode penyampaiannya dari yang bersifat
doktrinal dan teoretis menjadi lebih praktis, dialogis, dan membumi. Kondisi saat ini
menuntut adanya pembaharuan dalam pendidikan Pancasila karena beberapa alasan
krusial:
a) Generasi Digital: Generasi muda saat ini adalah digital natives. Mereka menyerap
informasi secara instan dari berbagai sumber, terutama media sosial. Metode
pengajaran satu arah (ceramah) sudah tidak lagi efektif.
b) Tantangan Ideologi Transnasional: Arus globalisasi membawa serta paham-
paham seperti radikalisme, ekstremisme, dan liberalisme ekstrem yang dapat
mengikis nilai-nilai Pancasila jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang kuat.
c) Kesenjangan Antara Teori dan Praktik: Banyak yang hafal sila-sila Pancasila,
namun perilaku sehari-hari seringkali tidak mencerminkannya (misalnya,
intoleransi, perundungan, korupsi).
d) Kejenuhan dan Stigma Masa Lalu: Pendidikan Pancasila seringkali masih
terbayang-bayangi oleh metode indoktrinasi era Orde Baru, sehingga terasa kaku
dan membosankan. Strategi Kunci dalam Reaktualisasi Untuk mencapai tujuan
tersebut, reaktualisasi harus fokus pada beberapa strategi perubahan yang
fundamental. Dari Teori ke Aksi Nyata (Praktik) Fokus utama adalah mengubah
Pancasila dari sekadar pengetahuan menjadi tindakan nyata. Pembelajaran
Berbasis Proyek Sosial: Siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi turun langsung
ke masyarakat. Contoh: membuat proyek penggalangan dana untuk membantu
warga kurang mampu (Sila ke-2 dan ke-5), atau mengorganisir acara kebudayaan
yang melibatkan berbagai suku di sekolah (Sila ke-3).Studi Kasus Kontemporer:
Mengajak siswa menganalisis isu-isu viral di media sosial (seperti kasus
perundungan atau konflik SARA) menggunakan pisau analisis nilai-nilai
Pancasila. Ini membuat Pancasila terasa relevan dengan dunia mereka.
Dari Monolog ke Dialog Kritis Ruang kelas harus menjadi arena untuk
berpikir kritis, bukan hanya mendengar dan mencatat. Debat dan Diskusi:
Mengadakan sesi debat tentang topik-topik dilematis, misalnya antara kebebasan
berpendapat dan tanggung jawab sosial, untuk melatih siswa berpikir kritis sesuai
koridor Sila ke-4. Menciptakan Ruang Aman: Guru berperan sebagai fasilitator
yang menciptakan lingkungan kelas yang aman bagi siswa untuk bertanya,
mengemukakan pendapat yang berbeda, dan bahkan mengkritik tanpa rasa takut.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
33
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
Dari Konvensional ke Digital Kreatif Pendidikan Pancasila harus masuk ke
ekosistem digital tempat generasi muda beraktivitas. Pemanfaatan Media Sosial:
Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat konten kreatif (video TikTok,
infografis Instagram, podcast) yang menyebarkan pesan-pesan Pancasila dengan
cara yang menarik dan mudah dipahami. Gamifikasi: Menggunakan platform
permainan edukatif untuk mengajarkan sejarah dan nilai-nilai Pancasila. Misi
dalam permainan dapat dirancang untuk menyelesaikan masalah dengan
menerapkan nilai-nilai luhur.
Dari Guru sebagai Sumber Tunggal ke Keteladanan Bersama Internalisasi
nilai memerlukan contoh nyata dari lingkungan sekitar. Keteladanan Pendidik:
Guru harus menjadi contoh utama dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila, seperti
bersikap adil, toleran, dan gemar bermusyawarah. Melibatkan Tokoh Masyarakat:
Mengundang tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai latar belakang (pengusaha
sosial, aktivis lingkungan, seniman) untuk berbagi pengalaman tentang
bagaimana mereka menerapkan Pancasila dalam profesi mereka. Dengan
reaktualisasi, Pendidikan Pancasila diharapkan dapat bertransformasi menjadi
pelajaran yang dinamis, partisipatif, dan berdampak, sehingga mampu melahirkan
generasi Pancasilais yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Tujuannya adalah agar Pancasila tidak lagi dianggap sebagai pelajaran
hafalan yang usang, melainkan menjadi kompas hidup yang benar-benar
dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh generasi muda dalam menghadapi
tantangan zaman.Banyak literatur (misalnya Dwiningrum, 2020; Yudiatna, 2019)
menyarankan perubahan metode pembelajaran Pancasila menjadi lebih
kontekstual, partisipatif (diskusi, studi kasus, proyek sosial), dan integratif (terkait
dengan mata pelajaran lain). Pemanfaatan teknologi digital untuk
mengembangkan konten edukasi Pancasila yang menarik (video, gim edukasi,
podcast) juga sangat direkomendasikan.
2. Penguatan Literasi Digital dan Daya Kritis
Edukasi literasi digital yang berfokus pada kemampuan verifikasi informasi,
deteksi hoaks, dan berpikir kritis adalah strategi yang konsisten direkomendasikan
(Safitri & Permana, 2021). Pembekalan etika bermedia sosial dan mendorong diskusi
konstruktif juga dianggap penting untuk mengembangkan daya kritis generasi muda.
3. Peran Keluarga sebagai Fondasi Utama
oleh Lestari (2016) menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila sejak
dini melalui teladan orang tua dan komunikasi efektif dalam keluarga adalah fondasi
tak tergantikan. Keluarga harus menjadi benteng pertama dalam membentengi anak
dari pengaruh negatif globalisasi.
4. Partisipasi Aktif Generasi Muda dalam Kegiatan Berbasis Pancasila
Mendorong keterlibatan generasi muda dalam organisasi kepemudaan,
komunitas, dan gerakan sosial yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila (misalnya
kegiatan bakti sosial, dialog antaragama, pelestarian budaya) dianggap efektif untuk
memperkuat pengalaman praksis Pancasila (Wirawan, 2018).
5. Peran Pemerintah, Masyarakat, dan Teladan Pemimpin
Literartur juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah yang konsisten,
kolaborasi multistakeholder, dan terutama keteladanan dari para pemimpin bangsa
dalam mengamalkan Pancasila (Hamdi, 2017). Lingkungan masyarakat yang
kondusif, menjunjung tinggi toleransi dan gotong royong, juga menjadi faktor
pendukung utama (Wibisono, 2020). Pembahasan ini menganalisis, menafsirkan, dan
menghubungkan temuan-temuan hasil penelitian dengan teori-teori yang ada serta
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
34
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
penelitian terdahulu, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai
tantangan dan strategi penguatan Pancasila pada generasi muda di era globalisasi.
2. Pembahasan
A. Analisis Tantangan Generasi Muda dalam Mempertahankan Ideologi Pancasila
Temuan penelitian menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda
dalam mempertahankan ideologi Pancasila di era globalisasi sangat kompleks,
melampaui sekadar masalah pemahaman. Arus informasi dan budaya asing yang masif,
seperti yang diidentifikasi dalam hasil, secara langsung mendukung pandangan Freeden
(2003) mengenai bagaimana ideologi dapat bersaing dalam ruang publik. Globalisasi,
sebagaimana dijelaskan oleh Held & McGrew (2007), memang menghapuskan batas-
batas, memungkinkan ideologi transnasional seperti liberalisme ekstrem atau
radikalisme agama merasuk tanpa filter yang memadai. Kesenjangan literasi digital dan
daya kritis generasi muda menjadi celah utama bagi masuknya pengaruh negatif ini.
Generasi muda mungkin "melek" secara teknis, tetapi seringkali kurang "melek"
secara informasi, sebagaimana diindikasikan oleh Wijaya & Utami (2021). Ini bukan
hanya masalah kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan kognitif untuk menganalisis,
mengevaluasi, dan mengkontekstualisasikan informasi yang diterima dengan nilai-nilai
Pancasila. Tanpa daya kritis yang kuat, mereka rentan menjadi objek doktrinasi atau
terjerumus pada polarisasi sosial akibat disinformasi dan hoaks. Hal ini sesuai dengan
kekhawatiran Said (2011) tentang dampak globalisasi terhadap erosi nilai.
Kurangnya internalisasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta
formalisme pendidikan Pancasila, memperparah kondisi. Jika Pancasila hanya diajarkan
sebagai teori tanpa relevansi praktis, seperti yang disoroti Wibowo (2017), maka ia
akan kehilangan daya ikatnya. Generasi muda membutuhkan bukti konkret bahwa
Pancasila relevan dan diamalkan oleh lingkungannya, termasuk oleh para pemimpin.
Kesenjangan antara retorika Pancasila dan realitas praktik politik atau sosial dapat
menumbuhkan apatisme, yang berpotensi melahirkan generasi yang abai terhadap
ideologi bangsanya. Ancaman radikalisme dan degradasi moral juga merupakan
konsekuensi logis dari melemahnya fondasi ideologi dan etika personal, diperparah oleh
kemudahan akses terhadap konten-konten destruktif di era digital.
B. Analisis Strategi Penguatan Pancasila pada Generasi Muda
Strategi yang diidentifikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa upaya
penguatan Pancasila tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus komprehensif
dan melibatkan berbagai pihak. Reaktualisasi pendidikan Pancasila adalah kunci.
Pendekatan yang lebih kontekstual, partisipatif, dan memanfaatkan teknologi, seperti
yang disarankan Dwiningrum (2020) dan Yudiatna (2019), akan membuat Pancasila
lebih menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda. Ini akan mengubah Pancasila
dari sekadar "hafalan" menjadi "amalan" dan "pedoman hidup". Penguatan literasi
digital dan daya kritis merupakan benteng pertahanan esensial. Dengan membekali
generasi muda kemampuan untuk menyaring informasi dan berpikir kritis, mereka akan
lebih resilient terhadap paparan ideologi transnasional yang bertentangan dengan
Pancasila (Safitri & Permana, 2021). Ini bukan hanya tentang mencegah, tetapi juga
memberdayakan mereka untuk menjadi agen penyebar nilai-nilai positif Pancasila di
ruang digital.
Peran keluarga sebagai fondasi pertama internalisasi nilai Pancasila sangat krusial,
sesuai dengan pandangan Lestari (2016). Keluarga yang meneladankan dan
mendiskusikan nilai-nilai Pancasila akan membentuk karakter anak yang kuat. Di
samping itu, partisipasi aktif generasi muda dalam kegiatan berbasis Pancasila di
komunitas atau organisasi kepemudaan memberikan pengalaman langsung dalam
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
35
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
mengamalkan nilai-nilai tersebut, seperti gotong royong, toleransi, dan musyawarah. Ini
sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan pentingnya pengalaman
langsung. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat, serta keteladanan dari para
pemimpin, memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan strategi ini. Kebijakan
yang mendukung, kolaborasi antarpihak, dan perilaku pemimpin yang mencerminkan
nilai Pancasila akan membangun kepercayaan generasi muda terhadap relevansi dan
keunggulan ideologi bangsanya (Hamdi, 2017; Wibisono, 2020). Tanpa teladan dan
lingkungan yang kondusif, upaya pendidikan dan literasi akan menjadi kurang efektif.
Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa mempertahankan ideologi
Pancasila di era globalisasi adalah tugas bersama yang membutuhkan pendekatan
adaptif, holistik, dan berkelanjutan. Generasi muda bukanlah objek pasif, melainkan
subjek aktif yang perlu diberdayakan untuk menjadi pembawa obor Pancasila di masa
depan.
Berdasarkan keseluruhan pembahasan, dapat dipahami bahwa tantangan dalam
mempertahankan ideologi Pancasila di kalangan generasi muda tidak dapat dipandang
sebagai persoalan tunggal atau parsial. Globalisasi, perkembangan teknologi digital,
lemahnya internalisasi nilai, serta menguatnya paham radikalisme dan degradasi moral
saling berkelindan dan memperkuat satu sama lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa
pelemahan Pancasila bukan semata-mata akibat pengaruh eksternal, tetapi juga
mencerminkan belum optimalnya sistem sosial, pendidikan, dan keteladanan dalam
menanamkan nilai-nilai Pancasila secara kontekstual dan berkelanjutan. Pembahasan ini
juga menegaskan bahwa penguatan Pancasila pada generasi muda harus dilakukan
melalui pendekatan yang holistik dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pendidikan Pancasila tidak cukup hanya bersifat normatif dan kognitif, melainkan harus
menyentuh aspek afektif dan praksis melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sosial.
Sinergi antara lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat, dan negara menjadi kunci
utama agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami sebagai konsep ideal, tetapi
benar-benar menjadi pedoman sikap dan perilaku generasi muda dalam menghadapi
dinamika global. Dengan penguatan literasi digital, daya kritis, serta keteladanan sosial
yang konsisten, generasi muda memiliki potensi besar untuk mereaktualisasikan
Pancasila sesuai dengan konteks zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa. Oleh karena
itu, upaya memperkuat Pancasila harus dipandang sebagai investasi ideologis jangka
panjang demi menjaga persatuan, keadilan, dan keberlanjutan bangsa Indonesia di
tengah arus globalisasi yang terus berkembang.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa generasi muda dihadapkan pada berbagai tantangan
serius dalam mempertahankan ideologi Pancasila di era globalisasi. Tantangan-tantangan
tersebut meliputi:
a. Arus informasi dan budaya asing yang masif, yang membawa masuk ideologi
transnasional dan mengikis budaya lokal;
b. Lemahnya literasi digital dan daya kritis, membuat generasi muda rentan terhadap
disinformasi dan propaganda;
c. Kurangnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan
pendekatan pendidikan yang formalistik;
d. Ancaman dari paham radikalisme dan ekstremisme yang memanfaatkan platform
digital;
e. Degradasi moral dan etika akibat paparan konten negatif dan gaya hidup hedonis.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
36
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
Untuk menghadapi tantangan-tantangan ini, diperlukan strategi yang komprehensif dan
berkelanjutan, yaitu:
a. Reaktualisasi pendidikan Pancasila yang lebih kontekstual, partisipatif, dan
memanfaatkan teknologi digital;
b. Penguatan literasi digital dan daya kritis generasi muda agar mampu menyaring
informasi;
c. Optimalisasi peran keluarga sebagai fondasi utama penanaman nilai Pancasila sejak
dini;
d. Peningkatan partisipasi aktif generasi muda dalam kegiatan berbasis Pancasila; serta
e. Dukungan kebijakan pemerintah, kolaborasi multistakeholder, dan keteladanan dari
para pemimpin bangsa dan masyarakat. Implementasi strategi ini diharapkan dapat
membentengi generasi muda, memperkuat pemahaman, dan mendorong internalisasi
Pancasila sebagai pandangan hidup di tengah derasnya arus globalisasi.
5. Daftar Pustaka
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). (2021). Tren Perkembangan
Radikalisme dan Terorisme di Indonesia. Jakarta: BNPT.
Dwiningrum, S. I. (2020). Reaktualisasi Pendidikan Pancasila di Era Digital: Perspektif
Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 112.
Freeden, M. (2003). Ideologies and Political Theory: A Conceptual Approach. Oxford
University Press.
Hamdi, A. (2017). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Pemerintahan: Studi Kasus di
Indonesia. Jurnal Ilmu Pemerintahan, 3(2), 115128.
Held, D., & McGrew, A. (2007). Globalization/Anti-Globalization: Beyond the Great Divide.
Polity Press.
Kaelan. (2002). Pendidikan Pancasila: Sebuah Pendekatan Filosofis. Paradigma.
Kartono, K. (2002). Psikologi Remaja. PT RajaGrafindo Persada.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). (2020). Laporan Indeks Literasi
Digital Nasional. Jakarta: Kominfo.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2023). Laporan Tahunan Kasus Kekerasan
pada Anak. Jakarta: KPAI.
Lestari, R. (2016). Peran Keluarga dalam Penanaman Nilai-Nilai Pancasila pada Anak Usia
Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 5(2), 121130.
Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI). (2022). Survei Nasional Persepsi
Publik tentang Demokrasi dan Pancasila. Jakarta: Puskapol UI.
Safitri, I., & Permana, A. (2021). Penguatan Literasi Digital untuk Membentuk Generasi
Muda Berkarakter Pancasila. Jurnal Civic Hukum, 6(1), 5468.
Said, A. (2011). Globalisasi dan Tantangan Ideologi Nasional. Jurnal Sosial Politik, 15(1), 1
12.
Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development. McGraw-Hill Education.
Surbakti, M. (2018). Pengaruh Media Sosial Terhadap Pemahaman Ideologi Pancasila di
Kalangan Mahasiswa. Jurnal Kewarganegaraan, 2(1), 3548.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 27-37
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
37
Edhi Santoso et.al (Tantangan Generasi Muda dalam...)
Susilo, B. (2019). Pengaruh Budaya Pop Global Terhadap Identitas Nasional Generasi
Milenial. Jurnal Kajian Komunikasi, 7(2), 150165.
Ubaedillah, A. (2015). Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education): Pancasila,
Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Kencana.
Wibisono, S. (2020). Peran Komunitas Lokal dalam Memperkuat Nilai-Nilai Pancasila di
Masyarakat. Jurnal Komunitas, 12(2), 170185.
Wibowo, A. (2017). Problematika Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi dan
Relevansinya dengan Karakter Mahasiswa. Jurnal Civics, 14(1), 110.
Wijaya, A., & Utami, R. P. (2021). Analisis Literasi Digital Generasi Z di Era Pandemi
COVID-19. Jurnal Komunikasi Massa, 4(1), 2235.
Wirawan, A. (2018). Aktivisme Pemuda dalam Pengamalan Pancasila di Era Digital. Jurnal
Kajian Pemuda, 6(2), 101115.
Yudiatna, D. (2019). Inovasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Berbasis Kearifan Lokal
untuk Generasi Milenial. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 2(2),
101110.