Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
18
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam Konseling
Kelompok untuk Meningkatkan Komunikasi
Interpersonal Peserta Didik
Evita Mullya
a,1
, Muhammad Asrori
b,2
, Halida
c,3
a
Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat 78124, Indonesia
b
Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat 78124, Indonesia
c
Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat 78124, Indonesia
1
evitamullya@gmail.com;
2
muhammad.asrori@fkip.untan.ac.id;
3
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 19 Agustus 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 10 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik sosiodrama
dalam konseling kelompok untuk meningkatkan komunikasi interpersonal
peserta didik SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif pre-experimental dengan one group
pretest-posttest design. Sebanyak 8 orang peserta didik yang memiliki
kemampuan komunikasi interpersonal dengan kategori sangat rendah
dijadikan sampel dalam penelitian ini. Instrumen pada penelitian ini
menggunakan angket komunikasi interpersonal. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata skor angket peserta didik sebelum diberikan layanan
berada pada kategori sangat rendah dengan nilai rata-rata persentase
sebesar 64% dan setelah diberikan layanan menjadi 78% yang masuk pada
kategori sangat tinggi. Dari hasil uji hipotesis menggunakan paired sample t-
test yang dibantu dengan program SPSS for windows ver.27, didapatkan nilai
sig.(2-tailed) sebesar 0,000<0,05. Maka h
0
ditolak dan h
a
diterima, yang
artinya terjadi peningkatan kemampuan komunikasi interpersonal pada
peserta didik antara sebelum dan sesudah diberikan layanan. Maka dapat
disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama
efektif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal peserta didik di SMP
Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya.
Kata Kunci:
Teknik Sosiodrama
Konseling Kelompok
Komunikasi Interpersonal
ABSTRACT
Keywords:
Sociodrama Techniques
Group Counseling
Interpersonal
Communication
This study aims to determine the effectiveness of sociodrama techniques in
group counseling to improve interpersonal communication among students at
Kemala Bhayangkari 1 Junior High School in Kubu Raya. This study uses a
quantitative pre-experimental method with a one-group pretest-posttest
design. A total of eight students with very low interpersonal communication
skills were sampled in this study. The instrument used in this study was an
interpersonal communication questionnaire. The results showed that the
average questionnaire score of students before receiving the service was in the
very low category with an average percentage of 64%, and after receiving the
service, it became 78%, which was in the very high category. From the
hypothesis testing results using a paired sample t-test assisted by the SPSS for
Windows ver.27 program, a sig. (2-tailed) value of 0.000<0.05 was obtained.
Therefore, h0 was rejected and ha was accepted, which means that there was
an increase in interpersonal communication skills among students before and
after the service was provided. It can be concluded that group counseling
services using the sociodrama technique are effective in improving the
interpersonal communication of students at SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu
Raya.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
19
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
©2026, Evita Mullya, Muhammad Asrori, Halida
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi sosial
dengan orang lain. Komunikasi merupakan suatu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh
seseorang (Munawaroh and Lubis 2015, h.77). Oleh sebab itu kita membutuhkan komunikasi di
dalam kehidupan sehari-hari. Melalui komunikasi, seseorang dapat saling bertukar informasi,
membangun pemahaman, serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Komunikasi
berfungsi sebagai sarana pertukaran informasi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial.
Saputra (2020, h.14) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi untuk
memengaruhi perilaku dan pemahaman penerima pesan. James A.F. Stones (Nisa 2016, h.51)
mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses seseorang untuk memindahkan pesan agar
mendapatkan arti atau penyampaian dari sebuah pesan.
Komunikasi yang baik sangatlah diperlukan, terutama komunikasi interpersonal. Sebab,
dengan adanya komunikasi interpersonal ini seseorang bisa saling berbagi pendapat maupun
informasi tentang apapun. Menurut Joseph A Devito (2016) komunikasi interpersonal terjadi
antara individu yang memiliki hubungan tertentu, seperti anak dengan orang tua, guru dan siswa,
maupun antar sesama teman. Keterampilan komunikasi interpersonal berkaitan dengan
komunikasi antar individu, biasanya secara tatap muka dalam kontek hubungan pribadi
(Hardjana 2003). Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar individu dengan
individu lainnya yang mengalami tahap berhubungan mulai dari tingkatan paling akrab sampai
ke perpisahan dan itu berulang terus menerus (Anggraini dkk. 2022, h.388). menurut Arsita,
Fitriana, and Widiharto (2023:102) komunikasi interpersonal merupakan proses
penyampaiandan penerimaan informasi antar seseorang dengan orang lainnya yang saling
membutuhkan dengan tujuan adanya hubungan timbal balik. Melalui komunikasi interpersonal,
seseorang dapat menyelesaikan masalah maupun membina hubungan dengan orang lain.
Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan interpersonal yang tinggi, contohnya
pada peserta didik di sekolah. Supratiknya (1995) mengungkapkan, keterampilan komunikasi
bukanlah hal yang dibawa sejak lahir dan tidak juga muncul tiba-tiba saat diperlukan, maka dari
itu keterampilan komunikasi harus selalu dilatih. Jika peserta didik memiliki kemampuan
komunikasi yang rendah, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk berperilaku yang baik
ataupun menyalurkan empatinya kepada orang lain. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Hurlock
(2005, h.56) bahwa seseorang yang merasa tidak mampu berkomunikasi dengan baik akan
cenderung memiliki perilaku yang negatif dibandingkan dengan seseorang yang mampu
berkomunikasi dengan baik. Menurut Zuhara (2015, h.82) sebagai akibat dari kurangnya
kemampuan komunikasi interpersonal ini, peserta didik seringkali menarik diri dari kehidupan
sosial dan mereka bertindak agresif, kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, suka
memaksakan kehendak, egois, dan merasa ingin menang sendiri sehingga mereka mudah untuk
terlibat dalam perselisihan. Keterampilan komunikasi interpersonal berfungsi sebagai cara agar
seseorang dapat menunjukkan pada lingkungannya bahwa dia yakin dengan dirinya sendiri
(Nastiti 2011, h.58).
Menurut Suryana and Permana (2025, h.23) komunikasi yang efektif berperan penting
dalam membentuk hubungan yang sehat di lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya usaha
untuk menangani permasalahan rendahnya komunikasi interpersonal ini salah satunya
menggunakan layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama. Wahyuni, Yuline, and
Halida (2023, h.356) mengemukakan bahwa konseling kelompok itu bersifat menyembuhkan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
20
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
untuk peserta didik yang memiliki suatu permasalahan. Layanan ini bertujuan membantu peserta
didik agar mampu berkomunikasi interpersonal dengan baik. Istilah kata sosiodrama berasal dari
kata “sosio” yang berarti sosial, dan “drama” yang berkaitan dengan permainan peran (Khodhori
dkk. 2025). Sosiodrama merupakan dramatisasi dari permasalahan yang datang dari pergaulan
dengan orang-orang lain (Munawaroh and Lubis 2015, h.78). Maka dari itu digunakan
sosiodrama untuk memerankan suatu adegan permasalahan mengenai pergaulan sosial yang
harus diselesaikan (Winkel and Hastuti 2006). Tujuan dari sosiodrama adalah untuk siswa lebih
berani dalam menyampaikan pendapatnya secara langsung dan dapat belajar bagaimana
membagi tanggungjawab dan mengatasi masalah, serta berhubungan dengan orang lain
(Syalafiah and Irmayanti 2020, h.86).
Layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama menjadi salah satu alternatif yang
tepat untuk mengatasi masalah kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik yang rendah.
Teknik pada layanan ini berfokus pada permainan peran, dimana peserta didik diminta untuk
memainkan peran yang berkaitan dengan isu-isu sosial untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal yang rendah sehingga mereka dapat saling berdiskusi dan menyampaikan
pendapatnya terhadap masalah yang sedang dialami, yaitu masalah kemampuan komunikasi
interpersonal yag rendah. Menurut Winda Gunarti dkk (Halida 2011, h.29) bermain peran dalam
proses belajar ditujukan untuk memecahkan permasalahan diri maupun sosial seseorang melalui
rangkaian tindak permainan peran. Beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan
keefektifan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama untuk mengatasi berbagai masalah,
khususnya yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi interpersonal. Seperti penelitian
yang dilakukan oleh Deta, Zain, and Diswantika (2022) yang membahas tentang efektivitas
layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal peserta didik kelas VIII SMPN 3 Terusan Nunyai Lampung Tengah. Penelitian
oleh Zuhara (2015) mengenai efektivitas teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal, penelitian-penelitian tersebut yang membuktikan keefektifan konseling kelompok
dengan teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi interpersonal memperkuat
keyakinan peneliti untuk menggunakan layanan ini agar dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi interpersonal peserta didik.
Hal ini diperkuat dengan fakta di lapangan yang menyatakan dari 106 peserta didik, terdapat
17 peserta didik (16%) pada kategori kemaampuan komunikasi interpersonal yang sangat rendah
dan 31 peserta didik (29%) pada kategori rendah. Dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kemampuan Komunikasi Interpersonal Peserta Didik
Kategori
Interval Kelas
Skor Rata-rata
%
Sangat Tinggi
> 100
103
17%
Tinggi
94 100
97
39%
Rendah
88 94
91
28%
Sangat Rendah
< 88
84
16%
Jumlah
375
100%
Kebanyakan peserta didik yang memiliki kemampuan komunikasi interpersonal rendah ini
kurang bisa berbaur dengan teman-temannya, kurang mau membuka diri, dan kurang ada sikap
suportif terhadap satu sama lainnya. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian, bahwa peserta
didik yang memiliki kemampuan komunikasi yang rendah cenderung sulit beradaptasi, sulit
menyampaikan pendapat, dan suka menghindari orang lain (Suryaningsih 2014, h.719).
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
21
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik antara sebelum dan sesudah diberikan
layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal peserta didik SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Dijelaskan oleh Sugiyono (2019, h.111)
bahwa metode eksperimen merupakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk
melihat pengaruh antara perlakuan yang diberikan dengan hasil yang didapatkan dengan kondisi
yang dapat dikendalikan. Bentuk penelitian menggunakan pre-experimental design. Rancangan
yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Populasi pada penelitian ini
merupakan peserta didik kelas VIII SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya sebanyak 106
peserta didik. Menurut Syarqawi (2017, h.40), jumlah peserta dalam konseling kelompok terdiri
dari 8-10 orang. Maka, sampel yang diambil sebanyak 8 peserta didik dengan kategori
kemampuan komunikasi interpersonal sangat rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan
angket komunikasi interpersonal yang sudah diuji dengan uji validitas dan uji reliabilisanya
terlebih dahulu. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif persentase
yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik antara
sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok. Teknik analisis data yang digunakan
adalah uji parametrik paired sample T-Test untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok
dengan teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi interpersonal peserta didik SMP
Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan angket komunikasi interpersonal terlebih dahulu
yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya kepada populasi penelitian sebanyak 106 peserta
didik di kelas VIII SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya. Hasil pretest menunjukkan ada 17
peserta didik (16%) pada kategori sangat rendah, 31 peserta didik (29%) kategori rendah, 41
peserta didik (39%) kategori tinggi, 17 peserta didik (16%) kategori sangat tinggi. Hal ini dapat
dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Tingkat Komunikasi Interpersonal
Layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama diberikan kepada subjek penelitian
berjumlah 8 orang yang diambil berdasarkan hasil pretest dengan tingkat komunikasi
interpersonal terendah. Setelah diberikan layanan konseling kelompok dengan teknik
17%
39%
28%
16%
Persentase
Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
22
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
sosiodrama, peserta didik diberikan posttest dan didapatkan hasil posttest dengan rata-rata skor
100,4 dengan persentase 78%. Nilai ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan awal
konseling (pretest) yang menunjukkan rata-rata skor 81,8 dengan persentase 64%. Hasil pretest
dan posttest ini dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pretest dan Posttest Kemampuan Komunikasi Interpersonal Peserta Didik
No
Responden
Pretest
Kategori
Posttest
Kategori
Selisih
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
1
RK
77
60%
Sangat
Rendah
96
75%
Tinggi
18
2
DK
80
62%
Sangat
Rendah
102
80%
Sangat
Tinggi
18
3
EF
81
63%
Sangat
Rendah
110
86%
Sangat
Tinggi
29
4
MR
82
64%
Sangat
Rendah
97
76%
Tinggi
13
5
YA
83
65%
Sangat
Rendah
97
76%
Tinggi
12
6
EV
83
65%
Sangat
Rendah
98
77%
Tinggi
12
7
BE
84
66%
Sangat
Rendah
100
78%
Sangat
Tinggi
12
8
EG
84
66%
Sangat
Rendah
103
80%
Sangat
Tinggi
19
Rata-Rata
81,8
64%
Sangat
Rendah
100.4
78%
Sangat
Tinggi
16.6
Hasil pretest dan posttest memiliki selisih rata-rata skor 16,6 atau 13% yang membuktikan
adanya peningkatan komunikasi interpersonal peserta didik dari sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan. Adanya peningkatan dan efektifnya konseling kelompok dengan teknik sosiodrama
ini dibuktikan dengan uji parametrik paired sample t-test yang sebelumnya sudah diuji
normalitas, bisa dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Uji Normalitas
Untuk mengetahui suatu data berdistribusi normal atau tidak, dapat dilihat dari pengambilan
keputusan jika sig>0,05, maka data berdistribusi normal. Namun jika sig<0,05 maka data tidak
berdistribusi normal. Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi sebelum
diberikan layanan adalah 0,203 yang berarti lebih besar dari 0,05 (0,203>0,05). Lalu, pada saat
sesudah diberikan layanan adalah sebesar 0,122, juga melebihi 0,04 (0,122>0,05). Maka dapat
disimpulkan bahwa data komunikasi interpersonal peserta didik sebelum dan sesudah diberikan
layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama memiliki distribusi normal.
Shapiro-Wilk
Statistic
df
Sig.
Pretest
0.883
8
0.203
Posttest
0.861
8
0.122
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
23
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
Tabel 4. Uji T-Test
Paired Samples T-Test
Paired Differences
t
df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Std.
Deviation
Std. Error
Mean
95% Confidence Interval
of the Difference
Lower
Upper
Pair
1
Pretest -
Posttest
-16.63
5.854
2.070
-21.52
-11.73
-8.033
7
0.000
Dari tabel 4 diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Adapun untuk kriteria
pengambilan keputusan adalah T hitung dibandingkan dengan T tabel dengan taraf signifikansi
5% atau 0,05. Apabila nilai signifikansi>0,05 maka H
0
diterima dan H
a
ditolak. Sedangkan.
Apabila signifikansi<0,05 maka H
0
ditolak dan H
a
diterima. Berdasarkan hasil yang didapatkan,
diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti H
0
ditolak
dan H
a
diterima. Maka dapat dikatakan bahwa konseling kelompok dengan teknik sosiodrama
Efektif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal peserta didik SMP Kemala Bhayangkari
1 Kubu Raya.
Sebelum diberikan perlakuan, peserta didik belum sepenuhnya menguasai aspek-aspek
komunikasi interpersonal dengan baik. Menurut Devito (Nastiti 2011) mengatakan bahwa ada
lima aspek dalam komunikasi interpersonal, yaitu aspek keterbukaan, empati, sikap positif,
sikap suportif, dan kesamaan. Sesudah diberikan perlakuan, peserta didik sudah dapat
meningkatkan setiap aspek komunikasi interpersonal peserta didik. Hal ini dapat dilihat pada
tabel 5.
Tabel 5. Perbedaan Skor Rata-Rata Aspek Komunikasi Interpersonal antara Sebelum
dan Sesudah Diberikan Perlakuan
No
Aspek -Aspek
% Pretest
kategori
% Posttest
kategori
Selisih
1
Keterbukaan
60%
rendah
74%
tinggi
14%
2
Sikap Positif
68%
tinggi
83%
sangat tinggi
15%
3
Empati
66%
tinggi
79%
tinggi
13%
4
Sikap Suportif
63%
rendah
78%
tinggi
15%
5
Kesamaan
62%
rendah
78%
tinggi
16%
Rata-rata
64%
tinggi
78%
tinggi
15%
Pelaksanaan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama dilakukan sebanyak 6 kali
pertemuan. Pada pertemuan pertama dilakukan untuk membangun hubungan antar sesama
anggota kelompok. Pada pertemuan ini peserta didik diajak untuk membicarakan topik
mengenai pemahaman tentang konseling kelompok, teknik sosiodrama, dan masalah yang
diambil yaitu mengenai kemampuan komunikasi iterpersonal peserta didik. Hal ini dimaksudkan
untuk membangun hubungan baik dengan seluruh anggota kelompok agar peserta didik dapat
mengikuti seluruh kegiatan dengan baik.
Pada pertemuan kedua, dilakukan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama
membahas mengenai aspek keterbukaan. Perubahan peserta didik ditandai dengan kemampuan
mereka untuk memulai hubungan baru dengan orang lain, dan peserta didik sudah mampu
menunjukkan perasaan senag bertemu dengan orang lain dan saling berbagi cerita. Sejalan
dengan pendapat Rahmi (2021, h.8) bahwa faktor kedekatan dapat mempererat hubungan antar
individu. Pendapat lain menurut Suranto (2011, h.83) juga mengatakan bahwa keterbukaan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
24
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
seseorang ditunjukkan dari bagaimana seseorang bersedia untuk memberikan informasi tentang
dirinya ke orang lain, bersedia mendengar pendapat orang lain, dan merasakan apa yang
dirasakan oleh orang lain.
Pada pertemuan ketiga membahas tentang empati, perubahan pada peserta didik ditandai
dengan mereka bisa menempatkan diri mereka terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain.
Menurut pendapat Devito (Rahmi 2021, h.9) dengan berempati, seseorang akan memahami
pandangan orang lain dan tidak akan menilai sikap mereka sebagai yang benar atau salah. Lalu
menurut Kusasi (2014, h.39) empati bukan hanya bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain
tetapi juga menunjukkan aksi nyata terhadap yang dirasakannya.
Pada pertemuan keempat membahas tentang aspek perilaku positif, perubahan pada peserta
didik juga ditandai dengan mereka mau mendengarkan pendapat temannya tanpa mengejek atau
memotong pembicaraan orang lain. Menurut Rahmat (Erayani dkk. 2022) jika seseorang merasa
rendah diri, dia akan sulit untuk menbicarakannya kepada orang lain yang dihormati dan merasa
gugup di depan umum karena takut disalahkan oleh orang lain. Sikap positif tidak hanya
disalurkan melalui tingkah laku positif saja, tetapi juga melalui tutur kata yang baik dan positif
(Febrianti 2021, h.430).
Pertemuan kelima membahas tentang aspek sikap suportif, perubahan peserta didik ditandai
dengan cara mereka mau untuk memberikan semangat maupun motivasi terhadap teman-
temannya. Chairunisa dan Azwar (2025, h.248) mengemukakan bahwa sikap mendukung dapat
mendorong interaksi interpersonal yang sehat agar seseorang dapat berkomitmen untuk saling
mendukung antar satu sama lain. Menurut Ngalimun (2018, h.11) sikap suportif merupakan
sikap yang menjadikan seseorang menjadi lebih luwes untuk berkomunikasi interpersonal
dimana seseorang tidak hanya mau mendengarkan pendapatnya saja tetapi juga pendapat orang
lain.
Pertemuan terakhir membahas tentang aspek kesamaan, perubahan peserta didik dilihat dari
bagaimana mereka sudah merasakan kesamaan yang ada dengan temannya. Fariz, Hamidah, dan
Manalullaili (2024, h.6) berpendapat bahwa kesamaan menekankan pada pentingnya sikap
saling menghargai satu sama lain dan dapat memperlakukan orang lain dengan setara dalam
berkomunikasi interpersonal. Kesamaan merupakan kemauan seseorang untuk menerima
perbedaan yang terjadi dan mencari kesamaan agar komunikasi mereka dapat berjalan dengan
baik (Kautsara and Rahmadina 2024, h.226).
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konseling
kelompok dengan teknik sosiodrama Efektif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal
peserta didik SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya. Hal ini dapat dilihat pada saat sebelum
diberikan perlakuan, kemampuan komunikasi interpersonal berada pada kategori sangat rendah
dengan rata-rata skor 81,8 dengan persentase 64%. Sedangkan, pada saat sudah diberikan
layanan, kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik mengalami peningkatan dengan
skor hasil rata-rata sebesar 100,3 dengan persentase 78% dan masuk pada kategori sangat tinggi.
Hasil dari pengujian hipotesis dengan rumus paired sample t-test, didapatkan hasil nilai t
sebesar 8,033 dan sig (2-tailed) sebesar 0,000. Dapat dikatakan bahwa 0,000<0,05 yang artinya
terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik
antara sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama. Ini
berarti konseling kelompok dengan teknik sosiodrama Efektif untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal peserta didik SMP Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
25
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
5. Daftar Pustaka
A Devito, Joseph. 2016. The Interpersonal Communication Book. New York: Pearson.
Anggraini, Citra, Denny Hermawan Ritonga, Lina Kristina, Muhammad Syam, and Winda
Kustiawan. 2022. “Komunikasi Interpersonal.” Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE) Vol.
1, No. 3.
Arsita, Jesika Nindi, Siti Fitriana, and Chr. Argo Widiharto. 2023. “Pengaruh Bimbingan
Kelompok Dengan Teknik Sosiodrama Terhadap Komunikasi Interpersonal.” Vol. 1, No.
1.
Chairunisa, Audina, and Azwar. 2025. “Pengalaman Komunikasi Interpersonal Cosplayer (Studi
Fenomenologi Atas Komunitas CCW Di DKI Jakarta).” Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora
Vol. 8, No. 1.
Deta, Fira Armalia, Siti Suratini Zain, and Noviana Diswantika. 2022. “Efektivitas Layanan
Konseling Kelompok Dengan Teknik Sosiodrama Untuk Meningkatkan Komunikasi
Interpersonal Peserta Didik Di Kelas VIII SMPN 3 Terusan Nunyai Lampung Tengah.”
JurnalIlmiah Mahasiswa Ilmu PendidikanBimbingan Konseling STKIP-PGRI Bandar
Lampung.
Erayani, F. N., N. Sridana, A. Arjudin, and B. Baidowi. 2022. “Hubungan Kepercayaan Diri Dan
Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Hasil Belajar Matematika.” Jurnal Ilmiah
Profesi Pendidikan.
Fariz, M. Rasyid Al, Hamidah, and Manalullaili. 2024. “Strategi Komunikasi Interpersonal
Ketua Dan Anggota Dalam Menanamkan Nilai Kerukunan Pada Paguyuban Sambirejo
Rukun (PSR) Di Desa Sambirejo, Kecamatan Selupu Rejang.” Jurnal Bisnis Dan
Komunikasi Digital Vol. 1, No. 2.
Febrianti, Eka. 2021. “Peran Komunikasi Antarpribadi Guru Dan Siswa Dalam Membentuk
Karakter Di SD.”
Halida. 2011. “Metode Bermain Peran Dalam Mengoptimalkan Kemampuan Berbicara Anak
Usia Dini (4-5 Tahun).” Jurnal Cakrawala Kependidikan Vol. 9, No. 1.
Hardjana, A. M. 2003. Komunikasi Intrapersonal Dan Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.
Hurlock, E. B. 2005. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Kautsara, Nur Ramadhini, and Rahmadina. 2024. “Analisis Komunikasi Interpersonal Pada
Aplikasi Bumble Dalam Menjalani Pertemanan.” Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi,
Desain, Seni Budaya Vol. 1, No. 4.
Khodhori, Jery Ahmad, Habibila Salwa Jenny, Afiyah Nasywa Apezahli, Sofia Maharani, and
Ratna Sari Dewi. 2025. “Efektivitas Teknik Sosiodrama Dalam Layanan Konseling
Kelompok Dengan Berbagai Topik Tentang Hubungan Sosial Dan Antar Manusia.” Jurnal
Ilmiah Kajian Multidisipliner Vol. 9, No. 4.
Kusasi, Muhammad. 2014. “Hubungan Empati Dan Komunikasi Interpersonal Dengan Kualitas
Hidup.” Jurnal Psikostudia Universitas Mulawarman Vol. 3, No. 1.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 18-26
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
26
Evita Mullya et.al (Keefektifan Teknik Sosiodrama dalam….)
Munawaroh, Sya’adatul, and M. Rajab Lubis. 2015. “Meningkatkan Keterampilan Komunikasi
Interpersonal Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama Kelas VIII
MTSN 2 Medan.” Jurnal Diversita Vol. 1, No. 2.
Nastiti, Anindita Woro. 2011. “Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan
Kepercayaan Diri Remaja Pada Siswa SMPN 5 Malang.”
Ngalimun. 2018. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nisa, Hoirun. 2016. “Komunikasi Yang Efektif Dalam Pendidikan Karakter.” Jurnal Universum
Vol. 10, No. 1.
Rahmi, Siti. 2021. Komunikasi Interpersonal Dan Hubungannya Dalam Konseling. Banda Aceh:
Syiah Kuala University Press.
Saputra, Sepriadi. 2020. “Efektivitas Komunikasi Interpersonal Dalam Kegiatan Pembelajaran
Melalui Media Whatsapp Group.” Profesional: Jurnal Komunikasi Dan Administrasi
Publik 7(1):1121. doi:10.37676/professional.v7i1.1087.
Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Supratiknya. 1995. Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Kanisius.
Suranto. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Suryana, Mohammed Aden, and Leo Agus Permana. 2025. “The Role of Interpersonal
Communication in Enhancing Student’s Academic Success and Social Skill at Vocational
College, Universitas Diponegoro.” Journal Commedies Vol. 2, No.1.
Suryaningsih, Illa. 2014. “Penerapan Teknik Jigsaw Dalam Layanan Informasi Untuk
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas IX TEI 3 SMKN 1
Driyorejo, Gresik.” 718–27.
Syalafiah, Marinda, and Rima Irmayanti. 2020. “Teknik Sosiodrama Dalam Bimbingan
Kelompok Untuk Mengembangkan Komunikasi Interpersonal Siswa SMA.” FOKUS Vol.
3, No. 3.
Syarqawi, Ahmad. 2017. “Tipe Anggota Dalam Mengikuti Proses Konseling Kelompok Pada
Satuan Pendidikan.” Al-Taujih: Bingkai Bimbingan Dan Konseling Islami.
Wahyuni, Synta, Yuline, and Halida. 2023. “Efektivitas Konseling Kelompok Menggunakan
Teknik WDEP Dalam Meningkatkan Self-Control Siswa Di MTs Negeri 2 Pontianak.”
Jurnal Pendidikan Sosial Vol.10, No.3.
Winkel, W. S., and MM Sri Hastuti. 2006. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan.
Yogyakarta: PT Media Abadi.
Zuhara, Evi. 2015. “Efektivitas Teknik Sosiodrama Untuk Meningkatkan Komunikasi
Interpersonal Siswa.” Jurnal Ilmiah Edukasi Vol 1, Nomor 1:8089.