1. Pendahuluan
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi sosial
dengan orang lain. Komunikasi merupakan suatu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh
seseorang (Munawaroh and Lubis 2015, h.77). Oleh sebab itu kita membutuhkan komunikasi di
dalam kehidupan sehari-hari. Melalui komunikasi, seseorang dapat saling bertukar informasi,
membangun pemahaman, serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Komunikasi
berfungsi sebagai sarana pertukaran informasi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial.
Saputra (2020, h.14) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi untuk
memengaruhi perilaku dan pemahaman penerima pesan. James A.F. Stones (Nisa 2016, h.51)
mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses seseorang untuk memindahkan pesan agar
mendapatkan arti atau penyampaian dari sebuah pesan.
Komunikasi yang baik sangatlah diperlukan, terutama komunikasi interpersonal. Sebab,
dengan adanya komunikasi interpersonal ini seseorang bisa saling berbagi pendapat maupun
informasi tentang apapun. Menurut Joseph A Devito (2016) komunikasi interpersonal terjadi
antara individu yang memiliki hubungan tertentu, seperti anak dengan orang tua, guru dan siswa,
maupun antar sesama teman. Keterampilan komunikasi interpersonal berkaitan dengan
komunikasi antar individu, biasanya secara tatap muka dalam kontek hubungan pribadi
(Hardjana 2003). Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar individu dengan
individu lainnya yang mengalami tahap berhubungan mulai dari tingkatan paling akrab sampai
ke perpisahan dan itu berulang terus menerus (Anggraini dkk. 2022, h.388). menurut Arsita,
Fitriana, and Widiharto (2023:102) komunikasi interpersonal merupakan proses
penyampaiandan penerimaan informasi antar seseorang dengan orang lainnya yang saling
membutuhkan dengan tujuan adanya hubungan timbal balik. Melalui komunikasi interpersonal,
seseorang dapat menyelesaikan masalah maupun membina hubungan dengan orang lain.
Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan interpersonal yang tinggi, contohnya
pada peserta didik di sekolah. Supratiknya (1995) mengungkapkan, keterampilan komunikasi
bukanlah hal yang dibawa sejak lahir dan tidak juga muncul tiba-tiba saat diperlukan, maka dari
itu keterampilan komunikasi harus selalu dilatih. Jika peserta didik memiliki kemampuan
komunikasi yang rendah, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk berperilaku yang baik
ataupun menyalurkan empatinya kepada orang lain. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Hurlock
(2005, h.56) bahwa seseorang yang merasa tidak mampu berkomunikasi dengan baik akan
cenderung memiliki perilaku yang negatif dibandingkan dengan seseorang yang mampu
berkomunikasi dengan baik. Menurut Zuhara (2015, h.82) sebagai akibat dari kurangnya
kemampuan komunikasi interpersonal ini, peserta didik seringkali menarik diri dari kehidupan
sosial dan mereka bertindak agresif, kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, suka
memaksakan kehendak, egois, dan merasa ingin menang sendiri sehingga mereka mudah untuk
terlibat dalam perselisihan. Keterampilan komunikasi interpersonal berfungsi sebagai cara agar
seseorang dapat menunjukkan pada lingkungannya bahwa dia yakin dengan dirinya sendiri
(Nastiti 2011, h.58).
Menurut Suryana and Permana (2025, h.23) komunikasi yang efektif berperan penting
dalam membentuk hubungan yang sehat di lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya usaha
untuk menangani permasalahan rendahnya komunikasi interpersonal ini salah satunya
menggunakan layanan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama. Wahyuni, Yuline, and
Halida (2023, h.356) mengemukakan bahwa konseling kelompok itu bersifat menyembuhkan