Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
60
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Micro Teaching Online selama Wabah COVID-19:
Studi pada mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris
Universitas Islam Negeri Semarang
M. Firdaus Annur
a,1
, Putroe Ilmia
b,2
, Siti Tarwiyah
c,3
a
Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Yogyakarta, DI Yogyakarta
b
Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
b
Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Walisongo Semarang Indonesia
1
mfirdaus.2021@student.uny.ac.id;
2
3
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 19 Agustus 2025
Direvisi: 27 Oktober 2025
Disetujui: 10 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari 2026
Penelitian ini membahas proses micro-teaching secara daring melalui e-
learning selama pandemi COVID-19 serta mengidentifikasi kendala yang
dihadapi mahasiswa. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif,
data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis
melalui tahap pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini melibatkan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang
mengikuti mata kuliah micro-teaching di UIN Walisongo Semarang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh tahap utama dalam micro-
teaching, yaitu penyusunan rencana pembelajaran, pelatihan delapan
keterampilan dasar mengajar (bertanya, penguatan, variasi pembelajaran,
penjelasan, pembukaan & penutupan pelajaran, membimbing diskusi
kelompok kecil, manajemen kelas, serta mengajar kelompok kecil/individu),
perencanaan dan penerapan keterampilan tersebut, penilaian kompetensi,
penyusunan modul pembelajaran, serta pembuatan video tutorial untuk
pembelajaran daring. Namun, mahasiswa menghadapi beberapa kendala,
seperti koneksi internet yang tidak stabil, keterbatasan kuota data, umpan
balik dosen yang kurang jelas, kesulitan teknis dalam perekaman video,
serta manajemen waktu yang kurang efektif. Kendala-kendala ini
menunjukkan perlunya strategi yang lebih baik untuk meningkatkan
efektivitas micro-teaching daring.
Kata Kunci:
Online Micro-teaching
Micro-teaching Strategies
Study From Home
Covid-19 Outbreak
ABSTRACT
Keywords:
Online Micro-teaching
Micro-teaching Strategies
Study From Home
Covid-19 Outbreak
This study explores the online micro-teaching process through e-learning
during the COVID-19 pandemic and identifies challenges faced by students.
Using a descriptive qualitative approach, data were collected through
observation and interviews, then analyzed through data collection, reduction,
presentation, and conclusion drawing. The study involved English Education
students taking a micro-teaching course at UIN Walisongo Semarang. Findings
reveal seven key stages in micro-teaching: lesson plan preparation, training in
eight fundamental teaching skills (questioning, reinforcement, variation,
explanation, lesson opening & closing, small group discussion guidance,
classroom management, and small-group/individual teaching), planning and
applying these skills, competency assessment, learning module development,
and creating tutorial videos for online teaching. However, students
encountered several obstacles, including unstable internet access, limited data
quotas, unclear lecturer feedback, technical difficulties in video recording, and
poor time management. These challenges highlight the need for effective
strategies to improve the efficiency of online micro-teaching.
©2026, M. Firdaus Annur, Putroe Ilmia, Siti Tarwiyah
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
61
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
1. Pendahuluan
Dunia pendidikan adalah sarana untuk menciptakan generasi unggul yang akan berguna di
masa depan. Untuk melahirkan generasi yang berkualitas, siswa membutuhkan guru
profesional yang mendidik mereka. Di Indonesia, Micro-Teaching adalah proses yang harus
dilalui calon guru untuk mencapai tingkat profesional dalam pendidikan. Koc & Ilya (2016)
percaya bahwa calon guru memerlukan pemahaman yang mendalam tentang pembelajaran
yang efektif. Micro-Teaching merupakan teknik dalam pendidikan guru yang memberikan
teori dengan berpindah dari situasi nyata (Aslihan Saban & Coklar, 2013). Micro-Teaching
adalah salah satu teknik yang dapat digunakan untuk berbagai jenis pengembangan
profesional. Secara khusus, teknik ini telah menjadi metode yang sukses dan menarik dalam
mentransfer teori ke praktik bagi calon guru dalam program pendidikan guru (Karçkay &
Sanli, 2009). Dalam Micro-Teaching, terdapat metode pelatihan yang dirancang untuk
meningkatkan keterampilan mengajar calon guru dan mengembangkan pengalaman
profesional guru, khususnya keterampilan dalam mengajar.
Dalam pandangan lain, Griffiths (2016) mendefinisikan Micro-Teaching sebagai "sistem
latihan yang terkontrol yang memungkinkan untuk memusatkan perhatian pada perilaku
mengajar tertentu dan berlatih mengajar dalam kondisi yang terkontrol. Berdasarkan pendapat-
pendapat tersebut, Micro-Teaching sangat diperlukan bagi calon guru untuk mencapai tahap
yang lebih baik, baik dari segi teknik mengajar, kemampuan mengajar, maupun nilai-nilai
psikologis seperti pengendalian diri, karakter, dan perilaku mengajar secara profesional.
Penelitian, penjelasan, penemuan, dan paparan terkait proses serta tantangan Micro-Teaching
yang dilakukan secara langsung baik offline maupun online telah banyak dilakukan oleh
peneliti lain. Namun, situasi COVID-19 menjadi tantangan baru yang memberikan dampak
psikologis bagi calon guru di Indonesia, khususnya di Universitas Islam Negeri (UIN)
Walisongo Semarang. Zhou et al. (2020) menyatakan bahwa COVID-19 adalah penyakit
infeksi zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia.
Selain proses Micro-Teaching yang harus dilakukan secara daring, COVID-19 juga
memberikan tekanan pada calon guru yang harus menjalani proses Micro-Teaching di kampus
mereka.
Temuan terkait Micro-Teaching daring telah diteliti oleh Sari et al. (2020) mengenai
konsep praktik Micro-Teaching berbasis E-learning selama pandemi COVID-19. Dari hasil
penelitian mereka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mereka hanya mendeskripsikan
tahapan aktivitas yang dilakukan oleh calon guru, tetapi tidak mengkaji tantangan yang
dihadapi oleh calon guru dalam melaksanakan proses Micro-Teaching secara daring.
Berkaitan dengan latar belakang situasi COVID-19, banyak institusi kampus, guru, dan
mahasiswa yang harus melaksanakan praktik micro teaching. Penelitian terkait proses dan
tantangan yang dihadapi oleh guru dan mahasiswa perlu diselesaikan. Oleh karena itu, tujuan
artikel ini adalah untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai proses Micro-Teaching daring
serta tantangan yang dihadapi oleh calon guru dalam proses micro teaching daring selama
penyebaran wabah COVID-19.
2. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui proses Micro-Teaching secara daring selama pandemi COVID-19 di
Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dan untuk mendeskripsikan masalah-masalah yang
dihadapi oleh mahasiswa selama proses Micro-Teaching daring. Populasi dalam penelitian ini
adalah mahasiswa dalam satu kelas di jurusan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang,
dengan jumlah peserta penelitian antara 30-34 mahasiswa. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan wawancara dan dokumentasi. Untuk wawancara, peneliti akan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
62
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
melibatkan beberapa mahasiswa dengan menggunakan kuesioner berbasis laporan diri (self-
report) untuk memperoleh data. Sementara itu, untuk dokumentasi, peneliti akan
menggunakan arsip serta buku yang berisi pendapat, teori, atau peraturan hukum yang relevan
dengan masalah penelitian, seperti data surat, buku utama, dan catatan biografi (Hakim, 2009).
Teknik penelitian ini akan dianalisis dalam beberapa tahapan. Pertama, peneliti
mentranskripsikan rekaman yang diperoleh dari wawancara. Kedua, peneliti
mentranskripsikan dokumen perkuliahan di kelas Micro-Teaching untuk mengetahui proses
micro teaching secara daring selama pandemi COVID-19 di Universitas Islam Negeri
Walisongo. Dalam menganalisis transkripsi kualitatif, peneliti menggunakan konsep dari
Miles et al. (2014) dengan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan/verifikasi. Setelah menganalisis data, peneliti akan mengorganisir
semua informasi terkait proses pembelajaran micro teaching selama COVID-19 dan mencoba
menemukan permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa.
3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Untuk menjawab pertanyaan penelitian, peneliti menjelaskan proses pembelajaran Micro-
Teaching melalui e-learning selama pandemi COVID-19 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,
Universitas Islam Negeri Walisongo, serta mendeskripsikan permasalahan yang dihadapi
mahasiswa dalam proses pembelajaran micro-teaching secara daring selama pandemi COVID-19
di jurusan tersebut. Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui kajian literatur yang diperoleh
dari analisis dokumen, terdapat beberapa tahapan yang dilakukan oleh dosen dan calon guru
sesuai dengan pertemuan yang telah dilaksanakan dalam kelas Micro-Teaching daring. Dalam
penelitian ini, peneliti menemukan adanya hubungan antara dosen dan calon guru dalam proses
Micro-Teaching di UIN Walisongo. Hubungan ini merupakan bentuk bimbingan yang dilakukan
oleh dosen kepada mahasiswa atau calon guru untuk memenuhi mata kuliah Micro-Teaching
yang wajib diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Mata kuliah ini penting karena
setelah menyelesaikannya, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan siswa di sekolah.
Proses bimbingan ini dilakukan melalui tahapan tertentu yang telah menjadi standar dalam kelas
Micro-Teaching.
Proses Micro-Teaching di UIN Walisongo bertujuan agar calon guru Bahasa Inggris mampu
mengidentifikasi kebutuhan belajarnya, memahami dan menerapkan delapan keterampilan dasar
mengajar melalui praktik Micro-Teaching berbasis video, serta membangun kompetensi
perencanaan. Selain itu, mereka juga harus dapat mengidentifikasi kesesuaian metode
pengajaran untuk membangun kompetensi implementasi, menilai kesesuaian asesmen guna
meningkatkan kompetensi evaluasi, mengembangkan tutorial pengajaran untuk kelas
daring/virtual, serta menulis refleksi diri atas pengalaman belajar mereka.
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam desain pembelajaran semester yang
dirancang oleh dosen Micro-Teaching di UIN Walisongo selama pandemi COVID-19, calon
guru harus memenuhi daftar target pembelajaran atau yang disebut dengan delapan keterampilan
dalam micro-teaching. Calon guru diharapkan dapat menguasai keterampilan berikut:
a. Kompetensi perencanaan
b. Metode pengajaran
c. Kompetensi implementasi
d. Asesmen kompetensi
e. Evaluasi kompetensi
f. Pengembangan materi
g. Persiapan pengajaran untuk kelas daring
h. Refleksi terhadap pengalaman belajar
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
63
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Setelah dokumen dianalisis, proses Micro-Teaching di UIN Walisongo Semarang mencakup
beberapa tahapan yang disesuaikan dengan delapan keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh
calon guru. Dalam implementasinya, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat tujuh proses inti
yang tercantum dalam dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah micro-
teaching.
Proses pembelajaran Micro-Teaching melalui E-Learning selama pandemi COVID-19
Proses micro-teaching selama pandemi COVID-19 di UIN Walisongo mencakup beberapa
tahapan sebagai berikut:
1) Proses Penyusunan Rencana Pembelajaran. Dalam kompetensi perencanaan, dosen
mengarahkan calon guru untuk menyusun desain pembelajaran yang digunakan dalam
praktik micro-teaching sesuai dengan materi yang telah ditentukan. Pada tahap ini,
mahasiswa diharapkan mampu menyusun desain pembelajaran dengan baik dan benar.
Setelah semua desain pembelajaran selesai dibuat oleh calon guru, rencana pembelajaran
tersebut diperiksa di kelas untuk memastikan kesesuaian dan kelengkapannya. Penelitian
oleh Almarzooq et al. (2020) menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dalam
pembelajaran daring agar dapat mencapai hasil yang optimal.
2) Proses Pelatihan Keterampilan Mengajar bagi Calon Guru. Tahap ini melibatkan
penerapan delapan keterampilan dasar dalam mengajar, yaitu bertanya, memberikan
penguatan, variasi, menjelaskan, membuka & menutup pelajaran, membimbing diskusi
kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil atau individu. Dosen
memberikan video contoh kepada calon guru, yang kemudian mereka analisis untuk
mengidentifikasi sejauh mana delapan keterampilan dasar telah diterapkan. Menurut
penelitian oleh Arsal (2019), micro-teaching membantu calon guru dalam
mengembangkan keterampilan mengajar yang lebih efektif melalui observasi dan refleksi
terhadap praktik mengajar mereka sendiri.
3) Proses Perencanaan Penerapan Delapan Keterampilan Dasar dalam Mengajar.
Calon guru diminta untuk menyusun rencana pembelajaran lengkap dengan
menggunakan pendekatan ilmiah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis
inkuiri, dan pembelajaran berbasis masalah untuk tingkat SMP dan SMA. Rencana
pembelajaran ini kemudian diperiksa oleh dosen dan calon guru lainnya dengan
menggunakan indikator kompetensi perencanaan, lalu didiskusikan di kelas. Penelitian
oleh Darling-Hammond et al. (2020) menunjukkan bahwa perencanaan yang berbasis
pada pendekatan inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan
efektivitas pembelajaran bagi siswa.
4) Proses Penerapan Delapan Keterampilan Dasar dalam Mengajar. Setelah
merancang dan memeriksa rencana pembelajaran, calon guru membuat video praktik
mengajar berdurasi 15 menit yang menunjukkan penerapan delapan keterampilan dasar.
Video ini dikumpulkan dan diperiksa oleh dosen untuk menilai kesesuaian penerapan
keterampilan mengajar yang telah dipraktikkan. Dosen juga memberikan tugas tambahan
berupa identifikasi metode pengajaran dan tahapan pembelajaran berdasarkan indikator
kompetensi implementasi. Menurut penelitian oleh Tondeur et al. (2017), penggunaan
teknologi dalam Micro-Teaching, seperti rekaman video, dapat meningkatkan refleksi
diri calon guru terhadap praktik mengajar mereka.
5) Proses Penilaian dan Evaluasi Kompetensi. Setelah seluruh praktik mengajar selesai,
dosen membahas bagaimana cara calon guru menilai siswa. Penilaian ini dilakukan
berdasarkan indikator kompetensi penilaian dan evaluasi. Dosen kemudian mengajak
calon guru untuk berdiskusi mengenai temuan permasalahan dalam proses penilaian
mereka. Menurut Goe et al. (2018), evaluasi kompetensi dalam Micro-Teaching harus
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
64
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
dilakukan secara formatif dan sumatif untuk memastikan calon guru memahami serta
dapat menerapkan strategi asesmen yang sesuai.
6) Proses Penulisan dan Penyusunan Modul Pembelajaran. Pada tahap ini, calon guru
mempelajari cara menyusun modul pembelajaran secara sistematis. Modul ini harus
memenuhi beberapa kriteria, seperti dapat digunakan untuk belajar mandiri,
mempertimbangkan perbedaan individu, memiliki tujuan pembelajaran yang spesifik,
disusun secara sistematis, memaksimalkan penggunaan media komunikasi, berfokus pada
partisipasi aktif pengguna, serta dilakukan evaluasi melalui pemeriksaan sejawat. Modul
yang telah disusun kemudian diperiksa oleh dosen untuk memastikan kesesuaiannya
dengan kompetensi dasar yang berlaku di sekolah. Menurut penelitian oleh Kintu et al.
(2017), desain modul pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan kebutuhan siswa
dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran secara signifikan.
7) Proses Pembuatan Video Tutorial untuk Kelas Daring/Virtual. Dalam tahap
pembelajaran berbasis proyek ini, calon guru diharapkan mampu membuat video tutorial
untuk kelas daring. Sebelum memulai, dosen memberikan contoh video tutorial sebagai
panduan. Setiap calon guru kemudian membuat video praktik mengajar yang
dikumpulkan untuk dinilai oleh dosen. Penelitian oleh Kay et al. (2019) menegaskan
bahwa pembuatan video tutorial oleh calon guru dapat meningkatkan keterampilan
mengajar mereka, sekaligus memperkaya pengalaman belajar siswa dalam pembelajaran
daring.
Ketujuh tahapan ini merupakan bagian penting dalam proses micro-teaching di UIN
Walisongo Semarang selama pandemi COVID-19, yang seluruhnya dilakukan secara virtual.
Dalam penelitian ini, berdasarkan analisis dokumen, ditemukan adanya pembagian tugas bagi
calon guru yang terdiri dari tugas mandiri dan tugas terstruktur.
Masalah dan hambatan yang dihadapi Mahasiswa selama proses Micro-Teaching secara
Online pada masa pandemi COVID-19
Untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua, peneliti telah menyiapkan beberapa hasil
wawancara mengenai kendala yang dihadapi mahasiswa selama proses micro-teaching daring di
UIN Walisongo Semarang. Selain kendala, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi
pelaksanaan micro-teaching daring. Partisipan wawancara adalah mahasiswa jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris yang sedang mengikuti mata kuliah Micro-Teaching. Wawancara ini dilakukan
melalui aplikasi WhatsApp dengan metode percakapan pribadi agar peneliti dapat
mendokumentasikan jawaban responden secara lengkap, serta untuk mempermudah mahasiswa
dalam menjawab pertanyaan yang telah disiapkan oleh peneliti.
Wawancara ini mencakup beberapa pertanyaan, di mana peneliti telah menyusun enam
pertanyaan utama, dan setiap pertanyaan memiliki sub-poin. Dari wawancara ini, peneliti
memperoleh data untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pertanyaan pertama bertujuan untuk
mengetahui identitas mahasiswa yang mengikuti wawancara. Pertanyaan kedua bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami konsep Micro-Teaching itu sendiri. Kemudian,
pertanyaan ketiga dan keempat menanyakan tentang kendala yang dihadapi mahasiswa selama
proses micro-teaching daring. Pertanyaan kelima lebih mendetail guna mengetahui faktor
penyebab kendala dalam proses Micro-Teaching daring di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
UIN Walisongo Semarang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kendala disebut dengan hambatan yang
membatasi, menghalangi, atau mencegah tercapainya target. Pius Abdillah dan Danu Prasetya
dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia juga mendefinisikan kendala sebagai sesuatu yang
menghambat atau membatasi pencapaian suatu tujuan. Dari beberapa definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kendala adalah kondisi yang membatasi, menghalangi, atau mencegah
tercapainya tujuan tertentu. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti menemukan beberapa
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
65
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
kendala utama yang dihadapi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dalam mengikuti
mata kuliah Micro-Teaching secara daring. Berikut adalah beberapa kendala yang telah
dirangkum:
1) Kesulitan Mendapatkan Sinyal. Menurut Machajewski (2019), jaringan komputer
adalah sekumpulan komputer yang terhubung satu sama lain dengan tujuan utama
berbagi sumber daya, salah satunya adalah akses internet. Kendala pertama yang
ditemukan dalam proses Micro-Teaching daring di UIN Walisongo Semarang adalah
masalah sinyal. Karena perkuliahan dilakukan dari rumah, banyak mahasiswa yang
tinggal di daerah pedesaan mengalami kesulitan mendapatkan sinyal yang baik. Dari
hasil wawancara, kendala ini terdeteksi pada hampir semua responden. Proses
pembelajaran dari rumah juga menjadi tantangan bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari
pusat kota, sehingga sulit mendapatkan akses sinyal yang stabil. Tidak hanya di daerah
pedesaan, mahasiswa di perkotaan juga terkadang mengalami gangguan sinyal, yang
berdampak besar pada proses pembelajaran micro-teaching daring selama pandemi
COVID-19.
2) Keterbatasan Kuota Internet. Dalam pembelajaran daring, kuota internet menjadi
kebutuhan utama. Penggunaan kuota internet selama pandemi COVID-19 untuk
keperluan perkuliahan sangat besar. Mahasiswa tidak hanya mengikuti satu mata kuliah,
tetapi seluruh mata kuliah dalam satu semester harus dilakukan secara daring. Hal ini
mengakibatkan kebutuhan kuota internet yang tinggi. Dalam penelitian ini, hampir semua
responden mengeluhkan keterbatasan kuota internet karena dalam proses micro-teaching
daring, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris menggunakan banyak aplikasi
untuk mendukung kelancaran pembelajaran. Studi oleh Al-Khateeb (2021) juga
mengungkapkan bahwa keterbatasan kuota internet menjadi kendala utama dalam
pembelajaran daring, terutama di negara berkembang.
3) Instruksi dari Dosen Kurang Jelas. Dalam proses Micro-Teaching daring, masih
banyak mahasiswa yang mengalami kebingungan terhadap instruksi yang diberikan oleh
dosen. Hal ini sering kali menyebabkan miskomunikasi, sehingga kelas daring menjadi
kurang kondusif. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Hodges et al. (2020) yang
menyatakan bahwa salah satu tantangan utama dalam pembelajaran daring adalah
efektivitas komunikasi antara dosen dan mahasiswa.
4) Kendala dalam Proses Perekaman Video. Dalam pembuatan video praktik mengajar,
mahasiswa menghadapi beberapa kendala serius, di antaranya:
Gangguan suara kendaraan karena lokasi rumah terlalu dekat dengan jalan
raya, yang mengganggu proses perekaman video praktik mengajar sehingga
hasilnya kurang optimal.
Kesulitan dalam merekrut siswa sebagai peserta dalam video praktik mengajar.
Menurut penelitian oleh Bower (2019), salah satu kendala utama dalam pembuatan video
pembelajaran adalah faktor lingkungan yang dapat mengganggu kualitas rekaman.
5) Manajemen Waktu yang Kurang Efektif. Dari hasil wawancara, beberapa responden
menyatakan bahwa pengelolaan waktu dalam pembelajaran Micro-Teaching daring
masih kurang efisien. Banyaknya diskusi dalam proses pembelajaran sering kali
membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris. Studi oleh Bao (2020) juga menunjukkan bahwa salah satu
kendala utama dalam pembelajaran daring adalah kurangnya efektivitas dalam
manajemen waktu, terutama ketika interaksi dilakukan melalui platform digital.
Berdasarkan beberapa kendala di atas, dapat disimpulkan bahwa proses Micro-Teaching
daring di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang menghadapi banyak
tantangan yang dapat menghambat efektivitas pembelajaran. Kendala utama yang ditemukan
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
66
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
meliputi kesulitan mendapatkan sinyal, keterbatasan kuota internet, instruksi dosen yang kurang
jelas, hambatan dalam perekaman video, serta manajemen waktu yang kurang efektif.
Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses Micro-Teaching secara daring
serta mengetahui kendala apa saja yang dihadapi oleh mahasiswa selama proses Micro-Teaching
daring di UIN Walisongo Semarang. Berdasarkan teori yang menjelaskan bahwa proses micro-
teaching harus melalui beberapa tahap yang disebut sebagai komponen sistem pembelajaran,
komponen ini membahas proses pembelajaran secara lengkap untuk memenuhi persyaratan
dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam proses Micro-Teaching, tempat yang
digunakan sangat khusus, sehingga Supiyanto menjelaskan bahwa Micro-Teaching dirancang
dengan skala kecil untuk mengembangkan keterampilan mengajar sehingga dapat meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional seorang guru (Supiyanto, Y. d. 2017).
Setelah melakukan penelitian dan penyelarasan, peneliti menemukan tujuh proses micro-
teaching serta lima kendala yang dihadapi mahasiswa selama proses micro-teaching di UIN
Walisongo Semarang. Proses Micro-Teaching di UIN Walisongo berjalan sesuai dengan
komponen dan tahapan yang ada, terutama selama masa pandemi COVID-19 seperti saat ini.
Dalam temuan peneliti, proses micro-teaching selama pandemi COVID-19 mengalami
peningkatan dibandingkan dengan kondisi normal. Berdasarkan teori Halimah, terdapat hanya
tiga tahap dalam proses micro-teaching (Halimah, L. 2017 hlm. 90);
Tabel 1 proses micro-teaching
Micro Teaching
Cognitive stage
Implementation stage
Reverse stage (assessment and
evaluation)
Dari hasil penelitian, peneliti menemukan beberapa kesesuaian dengan teori yang diadopsi,
namun juga terdapat beberapa yang tidak sesuai dengan teori yang ada.
a. Cognitive stage
Dari temuan penelitian, tahap micro-teaching di UIN Walisongo Semarang dimulai dengan
pembuatan desain pembelajaran. Dalam proses pertama ini, peneliti sejalan dengan teori
Halimah, di mana dalam presentasinya ia menjelaskan bahwa bimbingan dan persiapan desain
pembelajaran dimulai sejak pertemuan awal dalam mata kuliah Micro-Teaching. Intinya, pada
awal pertemuan semester, dosen akan berfokus pada tahap kognitif, yaitu tahap yang
menitikberatkan pada bimbingan awal dari dosen kepada calon guru. Dari 7 proses micro-
teaching di UIN Walisongo Semarang, 3 di antaranya termasuk dalam tahap kognitif.
Tabel 2 proses micro-teaching
Cognitive
stage
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
67
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Peneliti menemukan bahwa ada 3 tahap micro-teaching yang sesuai untuk dimasukkan
dalam tahap kognitif, dimulai dari proses pembuatan desain pembelajaran, kemudian diikuti
dengan proses bimbingan untuk melatih keterampilan mengajar, dan dilanjutkan dengan proses
desain penerapan 8 keterampilan dasar dalam mengajar. Pada tahap kognitif yang dipopulerkan
oleh Halimah (2017) dalam proses ini, calon guru akan diberikan gambaran tentang cara
mengajar mereka. Halimah juga menekankan bahwa penayangan klip video kepada calon guru
dapat mempermudah mereka dalam memahami bagaimana proses pengajaran yang benar.
Peneliti ini menemukan hal serupa dalam salah satu proses Micro-Teaching di UIN Walisongo
pada tahap kedua, di mana calon guru dibimbing oleh dosen dengan menampilkan video
tentang pengajaran atau lebih spesifik lagi, video mengenai 8 keterampilan dasar yang harus
dimiliki seorang guru, yang kemudian video tersebut didiskusikan bersama hingga calon guru
memahami 8 keterampilan dasar tersebut dan mengetahui perbedaan masing-masing
keterampilan dasar tersebut.
b. Implementation stages
Berdasarkan teori Halimah, aktivitas kedua dalam proses Micro-Teaching adalah tahap
implementasi. Setelah semua persiapan dilakukan oleh calon guru. Di sinilah calon guru akan
mempraktikkan keterampilan mereka dalam mengajar. Dari teori yang diadopsi oleh peneliti,
peneliti menemukan kecocokan atau kesamaan pada proses keempat yang ditemukan oleh
peneliti dalam proses Micro-Teaching di Walisongo Semarang selama pandemi Covid-19,
yaitu proses implementasi.
Table 3 proses Micro-Teaching
From theory
From the findings
Implementation stages
Proses penerapan 8
keterampilan dasar dalam
mengajar.
Dari tabel di atas, calon guru diharapkan dapat melaksanakan praktik mengajar dengan
baik dalam proses ini, dan juga dari temuan, dalam proses ini, calon guru dapat
mengidentifikasi tahapan pembelajaran berdasarkan indikator kompetensi pelaksanaan. Pada
tahap ini, proses ini dikategorikan sebagai proses yang panjang. Di mana siswa dibimbing
secara intensif agar dapat mengajar sesuai yang diharapkan. Dari hasil proses ini, siswa
diharapkan menguasai metode pengajaran yang tepat dan benar.
c. Reverse stage (assessment and evaluation)
Dalam hasil penelitian tentang proses mikro-pengajaran di UIN Walisongo, peneliti juga
menemukan tahapan yang sama dalam proses Micro-Teaching. Tahap akhir dalam teori
Halimah dengan temuan ini dapat disimpulkan bahwa tahap ketiga atau dalam teori Halimah
disebut sebagai tahap invers adalah aktivitas di mana rekan sejawat dan pembimbing akan
memberikan penilaian saat pelaksanaan Micro-Teaching sehingga mereka dapat mengetahui
kekuatan dan kelemahan calon guru selama praktik mengajar. Hasil dari penilaian tersebut
dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan praktik selanjutnya dan untuk
memperbaiki kinerja sebagai calon guru profesional.
Table 4 pelaksanaan Micro-Teaching
From theory
From the findings
Reverse stage
Proses menilai dan
mengevaluasi kompetensi
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
68
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Tiga tahapan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan ini sangat sesuai dengan teori
Halimah, yang dimulai dengan tahap kognitif, kemudian dipraktikkan pada tahap
implementasi, dan dievaluasi atau dinilai bersama pada tahap invers. Dalam proses Mikro-
Teaching di UIN Walisongo Semarang, peneliti menemukan suatu proses yang tidak
ditemukan dalam teori yang diadopsi oleh peneliti. Dalam proses Micro-Teaching di UIN
Walisongo, peneliti menemukan bahwa ada proses lanjutan dari 5 proses yang telah dilakukan
di atas, yaitu: Proses penulisan dan penyusunan modul pembelajaran serta proses
pembuatan video tutorial untuk kelas online/ virtual.
Selama pandemi COVID-19, banyak kegiatan yang harus diubah dari proses pembelajaran
langsung menjadi pembelajaran dari rumah, dan proses ini tidak terkecuali di kampus-kampus
di Indonesia. UIN Walisongo mengambil langkah pertama agar calon guru tidak terbengkalai
selama wabah COVID-19. Dua proses di atas adalah kebutuhan penting bagi calon guru dalam
proses pelaksanaan mikro-pengajaran online. Calon guru diharapkan lebih mandiri dan lebih
kreatif dengan perkembangan teknologi yang pesat. Dalam kedua proses ini, pelaksanaan
mikro-pengajaran di UIN Walisongo selama pandemi merupakan langkah maju, karena UIN
Walisongo mencoba menyesuaikan dengan salah satu misi kampus, yaitu Meujudkan
manajemen kelembagaan profesional berstandar internasional.
Dalam mengambil data wawancara dengan calon guru, peneliti menemukan hambatan
yang dihadapi oleh calon guru selama proses Micro-Teaching, di mana masalah-masalah
tersebut berupa kesulitan dalam mendapatkan sinyal, kurangnya kuota internet, komentar dari
dosen yang tidak jelas, kendala dalam proses perekaman video, serta waktu yang tidak
terkontrol dengan baik. Peneliti menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi oleh mahasiswa
selama pandemi sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran Micro-Teaching online, hal ini
dapat dilihat dari hasil wawancara yang mengungkapkan beberapa masalah pokok dalam
proses Micro-Teaching di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Islam Negeri
Walisongo Semarang. Dari hasil penelitian mengenai rumusan masalah kedua, peneliti
menemukan beberapa hambatan. Setelah dijelaskan oleh calon guru mengenai proses Micro-
Teaching selama wabah COVID-19 melalui wawancara online, peneliti menyimpulkan bahwa
hambatan yang dihadapi oleh calon guru merupakan masalah teknis. Oleh karena itu, peneliti
telah membahasnya secara singkat dan mudah dipahami.
Masalah pertama adalah kesulitan dalam mendapatkan sinyal. Hambatan ini disebabkan
oleh jarak rumah calon guru dari kota atau tempat yang mudah mendapatkan sinyal yang baik.
Sehingga proses Micro-Teaching online terganggu oleh sinyal yang buruk. Masalah seperti ini
dapat membuat proses Micro-Teaching online antara dosen dan calon guru menjadi tidak
nyaman. Ketika memberikan arahan atau bimbingan, dosen terpaksa mengulanginya beberapa
kali agar calon guru memahami apa yang sedang dipelajari. Masalah kedua juga berkaitan
dengan internet, yaitu kurangnya kuota internet dalam proses pembelajaran. Dalam proses
Micro-Teaching, banyak aplikasi yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran
selama pandemi COVID-19. Aplikasi tersebut berupa WhatsApp, Zoom Video Conference,
Google Meet, Walisongo e-Learning, dan YouTube yang memfasilitasi kelas Micro-Teaching
online dalam lingkungan yang mirip dengan lingkungan kelas tradisional. Guru dan siswa
dapat terintegrasi dalam pengaturan kelas online. Zoom dan Google Meet dapat
mengintegrasikan guru dan semua siswa secara tatap muka dalam pertemuan kelas Micro-
Teaching online. Lingkungan kelas online ini memenuhi kebutuhan persyaratan ruang kelas
Micro-Teaching untuk peserta didik muda (Farzaneh Kalantari & Mahmood Hashemian,
2016).
Adapun masalah selanjutnya berupa bimbingan yang kurang jelas selama proses mikro-
pengajaran, masalah ini tidak lepas dari 2 masalah di atas. Ketiga masalah tersebut saling
terkait, mengganggu proses Micro-Teaching online selama wabah COVID-19. Kemudian, dari
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
69
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
5 temuan masalah selama proses mikro-pengajaran, hampir seluruhnya berkaitan dengan
masalah teknis pembelajaran. Di sini, peneliti menyimpulkan bahwa semua masalah yang
dihadapi oleh calon guru tidak terkait dengan isi materi dalam proses mikro-pengajaran itu
sendiri, melainkan masalah yang berasal dari sisi pendukung dalam menjelaskan proses mikro-
pengajaran selama wabah COVID-19.
Ada banyak hal yang dirasakan oleh calon guru ketika praktik dimulai, mulai dari
perencanaan yang dilakukan, apakah itu terkait dengan pembuatan rencana pelajaran, berapa
kali mereka berlatih menggunakan berbagai materi, mempersiapkan materi, cara menggunakan
berbagai metode, strategi, mengelola kelas, hingga kurangnya rasa percaya diri dalam
menggunakan media saat praktik. Namun, calon guru di fakultas ini diharuskan menjadi guru
profesional, sehingga mereka harus mampu menangani kesulitan yang dihadapi sebagai
persiapan untuk mengajar di kelas nyata. Meskipun selama pandemi banyak kesulitan yang
dihadapi mahasiswa, kesulitan yang dirasakan yang menjadi hambatan dalam proses Micro-
Teaching akan semakin berkurang dengan latihan berulang dan pelatihan yang serius, serta
bantuan khusus dari dosen yang akan menjadi solusi yang baik bagi calon guru.
Dari hasil pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara, proses Micro-Teaching
online di UIN Walisongo telah berjalan dengan baik meskipun harus terkendala oleh 5
hambatan. Micro-Teaching perlu dilakukan oleh mahasiswa fakultas pendidikan. Karena
persiapan untuk terjun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan siswa tidaklah mudah.
Menurut Ozonur (2016), proses Micro-Teaching dapat dilakukan melalui tahapan yang
meliputi perencanaan, praktik Micro-Teaching, diskusi umpan balik, praktik Micro-Teaching
kembali, dan diskusi umpan balik. Dengan menguasai segala hal dalam proses Micro-
Teaching, hal ini mempermudah calon guru dalam proses pengajaran.
Dalam kondisi wabah COVID-19, penerapan praktik Micro-Teaching tetap berjalan
dengan lancar, dengan memanfaatkan teknologi, yaitu melalui e-learning. Berdasarkan proses
Micro-Teaching online hingga saat ini, usaha praktik Micro-Teaching dengan berbagai teknik
dan metode telah ditingkatkan. Teknik dan metode ini memberikan kesempatan bagi
mahasiswa calon guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Dalam kondisi
wabah COVID-19 ini, praktik Micro-Teaching tetap dapat dilakukan meskipun terbatas oleh
beberapa faktor. Dari pembahasan di atas, tujuh proses Micro-Teaching yang diterapkan di
UIN Walisongo Semarang berjalan dengan baik meskipun proses tersebut berlangsung selama
pandemi COVID-19. Dalam proses ini, juga terdapat beberapa hambatan. Meskipun peneliti
meyakini bahwa dengan fasilitas yang lengkap, yaitu berupa perangkat pembelajaran yang
memadai, kuota internet yang besar, dan sinyal yang mudah didapat, akan sangat mendukung
proses mikro-pengajaran untuk berjalan lancar.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang konsep praktik Micro-Teaching berbasis e-learning
selama wabah COVID-19, dari temuan penelitian ini, proses Micro-Teaching online berjalan
dengan baik. Adapun temuan berdasarkan teori dari Halimah (2020), terdapat 5 proses Micro-
Teaching di UIN Walisongo Semarang yang sesuai dengan teori ini. Dua tahapan tambahan yang
ditemukan oleh peneliti di UIN Walisongo adalah penyesuaian desain pembelajaran selama
wabah COVID-19. Dari hasil penelitian, terdapat 7 proses utama dalam Micro-Teaching di UIN
Walisongo Semarang dan terdapat 5 hambatan yang dihadapi oleh calon guru selama proses
Micro-Teaching online.
Tujuh proses Micro-Teaching tersebut adalah:
1) Proses pembuatan rencana pelajaran
2) Proses pelatihan keterampilan calon guru dalam mengajar, termasuk mempelajari
penerapan 8 keterampilan dasar dalam mengajar. Bertanya, Memperkuat, Variasi,
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
70
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Menjelaskan, Membuka & Menutup, Membimbing Diskusi Kelompok Kecil,
Mengorganisasi/Mengelola Kelas, Mengajar Kelompok Kecil atau Individu (Ozonur,
2016).
3) Proses perencanaan penerapan 8 keterampilan dasar dalam mengajar.
4) Proses penerapan 8 keterampilan dasar dalam mengajar
5) Proses penilaian dan evaluasi kompetensi
6) Proses penulisan dan penyusunan modul pembelajaran
7) Proses pembuatan tutorial video untuk kelas online/virtual (Kalantari & Hashemian,
2016).
Dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa proses Micro-Teaching di UIN
Walisongo telah berjalan sesuai dengan teori para ahli, bahkan didukung oleh proses tambahan
dari kampus. Masalah yang ada dalam proses Micro-Teaching selama wabah COVID-19 adalah
masalah teknis yang terkait dengan proses pembelajaran online yang dilakukan menggunakan
internet dan teknologi. Hambatan yang dikenal oleh calon guru terjadi selama proses perkuliahan
online. Jika proses Micro-Teaching kembali normal atau dilakukan secara tatap muka, maka
masalah atau tantangan yang muncul berdasarkan hasil penelitian ini tidak akan ada (Halimah,
2020).
Setelah menganalisis hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa Micro-Teaching online
akan dimaksimalkan jika faktor pendukung untuk proses pembelajaran dipenuhi, dalam
penelitian ini ada 4 faktor sebagai solusi dalam proses Micro-Teaching online di Universitas
Islam Negeri Walisongo Semarang, yaitu; Faktor sinyal yang memadai, faktor perangkat
penunjang berupa handphone dan laptop, kuota internet yang memadai, dan bimbingan informal
di luar waktu kuliah yang dilakukan secara pribadi (Kalantari & Hashemian, 2016). Dari dua
hasil objek penelitian, proses Micro-Teaching selama pandemi COVID-19 di UIN Walisongo
Semarang berjalan dengan baik. Hambatan yang dihadapi oleh mahasiswa juga dapat diatasi
dengan beberapa hal yang telah dibahas di atas. Pengenalan proses Micro-Teaching online di
UIN Walisongo Semarang sangat baik, mahasiswa yang melaksanakan tugasnya sebagai calon
guru juga telah menyiapkan materi ajar yang sesuai dengan komponen dalam teori penelitian ini.
5. Ucapan Terima Kasih
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung penelitian ini,
terutama kepada Dr. Siti Tarwiyah, yang telah bersedia membimbing kami dalam
menyelesaikan penelitian ini. ucapan terimakasih juga kami ucapkan kepada semua pihak yang
telah terlibat atau berpartisipasi dalam mewujudkan inovasi pendidikan yang lebih maju dan
berkelanjutan.
6. Daftar Pustaka
Al-Khateeb, A. M. (2021). Challenges in online learning during the COVID-19 pandemic: A
survey among university students in the Middle East. Education and Information
Technologies, 26(5), 4501-4519.
Almarzooq, Z. I., Lopes, M., & Kochar, A. (2020). Learning in the time of COVID-19: Content,
delivery, and assessment during the pandemic. Journal of the American College of
Cardiology, 76(9), 1243-1246.
Arsal, Z. (2019). Microteaching and pre-service teachers’ sense of self-efficacy in teaching.
Higher Education Research & Development, 38(2), 321-333.
Bao, W. (2020). COVID-19 and online teaching in higher education: A case study of Peking
University. Human Behavior and Emerging Technologies, 2(2), 113-115.
Academy of Education Journal
Vol. 17, No. 1, Januari 2026, Page: 60-71
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
71
M. Firdaus Annur et.al (Micro Teaching Online selama....)
Bower, M. (2019). Technology-mediated learning theory. British Journal of Educational
Technology, 50(3), 1035-1048.
Darling-Hammond, L., Flook, L., Cook-Harvey, C., Barron, B., & Osher, D. (2020).
Implications for educational practice of the science of learning and development. Applied
Developmental Science, 24(2), 97-140.
Farzaneh Kalantari & Mahmood Hashemian. (2016). “A Story-Telling Approach to Teaching
English to Young EFL Iranian Learners”. Canadian Center of Science and Education,
English Language Teaching, 9, 221.
Goe, L., Bell, C., & Little, O. (2018). Approaches to evaluating teacher effectiveness: A research
synthesis. Educational Testing Service (ETS).
Halimah, A. (2020). Pengajaran mikro dalam pembelajaran daring selama pandemi COVID-19:
Tinjauan teori dan implementasi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 17(3), 45-58.
Halimah, L. (2017). Keterampilan mengajar sebagai inspirasi untuk menjadi guru excellent di
abad ke-21. PT Rafika Aditama.
Hodges, C., Moore, S., Lockee, B., Trust, T., & Bond, A. (2020). The difference between
emergency remote teaching and online learning. Educause Review, 27(1), 1-12.
Kalantari, F., & Hashemian, M. (2016). Micro-teaching and online learning in the context of
education. Educational Research Review, 14(2), 44-50.
Kay, R. H., LeSage, A., & Knaack, L. (2019). Exploring student and faculty perceptions of
video-enhanced learning resources in higher education. The Internet and Higher
Education, 42, 33-41.
Kintu, M. J., Zhu, C., & Kagambe, E. (2017). Blended learning effectiveness: The relationship
between student characteristics, design features and outcomes. International Journal of
Educational Technology in Higher Education, 14(1), 7.
Machajewski, S. (2019). Internet networking and infrastructure: Impact on learning and
connectivity. Journal of Computing in Higher Education, 31(4), 763-776.
Ozonur, M. (2016). Micro-teaching: Theory and practice. Journal of Educational Practice,
12(4), 15-22.
Supiyanto, Y. d. (2017). Pengembangan Model Pembelajaran Microteaching Berbasis
Experiential Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar. Prosiding Ekonomi
dan Bisnis.
Tondeur, J., van Braak, J., Siddiq, F., & Scherer, R. (2017). Enhancing pre-service teachers’
technology integration competence: Implications from instructional design. Computers &
Education, 117, 100-114.