5 temuan masalah selama proses mikro-pengajaran, hampir seluruhnya berkaitan dengan
masalah teknis pembelajaran. Di sini, peneliti menyimpulkan bahwa semua masalah yang
dihadapi oleh calon guru tidak terkait dengan isi materi dalam proses mikro-pengajaran itu
sendiri, melainkan masalah yang berasal dari sisi pendukung dalam menjelaskan proses mikro-
pengajaran selama wabah COVID-19.
Ada banyak hal yang dirasakan oleh calon guru ketika praktik dimulai, mulai dari
perencanaan yang dilakukan, apakah itu terkait dengan pembuatan rencana pelajaran, berapa
kali mereka berlatih menggunakan berbagai materi, mempersiapkan materi, cara menggunakan
berbagai metode, strategi, mengelola kelas, hingga kurangnya rasa percaya diri dalam
menggunakan media saat praktik. Namun, calon guru di fakultas ini diharuskan menjadi guru
profesional, sehingga mereka harus mampu menangani kesulitan yang dihadapi sebagai
persiapan untuk mengajar di kelas nyata. Meskipun selama pandemi banyak kesulitan yang
dihadapi mahasiswa, kesulitan yang dirasakan yang menjadi hambatan dalam proses Micro-
Teaching akan semakin berkurang dengan latihan berulang dan pelatihan yang serius, serta
bantuan khusus dari dosen yang akan menjadi solusi yang baik bagi calon guru.
Dari hasil pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara, proses Micro-Teaching
online di UIN Walisongo telah berjalan dengan baik meskipun harus terkendala oleh 5
hambatan. Micro-Teaching perlu dilakukan oleh mahasiswa fakultas pendidikan. Karena
persiapan untuk terjun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan siswa tidaklah mudah.
Menurut Ozonur (2016), proses Micro-Teaching dapat dilakukan melalui tahapan yang
meliputi perencanaan, praktik Micro-Teaching, diskusi umpan balik, praktik Micro-Teaching
kembali, dan diskusi umpan balik. Dengan menguasai segala hal dalam proses Micro-
Teaching, hal ini mempermudah calon guru dalam proses pengajaran.
Dalam kondisi wabah COVID-19, penerapan praktik Micro-Teaching tetap berjalan
dengan lancar, dengan memanfaatkan teknologi, yaitu melalui e-learning. Berdasarkan proses
Micro-Teaching online hingga saat ini, usaha praktik Micro-Teaching dengan berbagai teknik
dan metode telah ditingkatkan. Teknik dan metode ini memberikan kesempatan bagi
mahasiswa calon guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Dalam kondisi
wabah COVID-19 ini, praktik Micro-Teaching tetap dapat dilakukan meskipun terbatas oleh
beberapa faktor. Dari pembahasan di atas, tujuh proses Micro-Teaching yang diterapkan di
UIN Walisongo Semarang berjalan dengan baik meskipun proses tersebut berlangsung selama
pandemi COVID-19. Dalam proses ini, juga terdapat beberapa hambatan. Meskipun peneliti
meyakini bahwa dengan fasilitas yang lengkap, yaitu berupa perangkat pembelajaran yang
memadai, kuota internet yang besar, dan sinyal yang mudah didapat, akan sangat mendukung
proses mikro-pengajaran untuk berjalan lancar.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang konsep praktik Micro-Teaching berbasis e-learning
selama wabah COVID-19, dari temuan penelitian ini, proses Micro-Teaching online berjalan
dengan baik. Adapun temuan berdasarkan teori dari Halimah (2020), terdapat 5 proses Micro-
Teaching di UIN Walisongo Semarang yang sesuai dengan teori ini. Dua tahapan tambahan yang
ditemukan oleh peneliti di UIN Walisongo adalah penyesuaian desain pembelajaran selama
wabah COVID-19. Dari hasil penelitian, terdapat 7 proses utama dalam Micro-Teaching di UIN
Walisongo Semarang dan terdapat 5 hambatan yang dihadapi oleh calon guru selama proses
Micro-Teaching online.
Tujuh proses Micro-Teaching tersebut adalah:
1) Proses pembuatan rencana pelajaran
2) Proses pelatihan keterampilan calon guru dalam mengajar, termasuk mempelajari
penerapan 8 keterampilan dasar dalam mengajar. Bertanya, Memperkuat, Variasi,