Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
212
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan Tema
Pahlawan dalam Pengembangan Karakter Siswa
Sekolah Dasar di Indonesia
Waskito Aji
a,1
, Yogi Ageng Sri Legowo
b,2
a,b
Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman, Jl. Tentara Pelajar No.13, Kec. Ungaran Barat, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah, 50511
1
waskitoaji50@gmail.com;
2
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 17 Maret 2023
Direvisi: 8 Juli 2023
Disetujui: 29 Oktober 2023
Tersedia Daring: 1 Januari 2024
Pendidikan karakter merupakan agenda strategis dalam pendidikan dasar di
Indonesia, namun implementasinya masih cenderung normatif dan belum
optimal terutama dalam memanfaatkan budaya lokal sebagai sumber belajar
kontekstual. Pendekatan etnopedagogi menawarkan alternatif dengan
mengintegrasikan nilai budaya dan kearifan lokal dalam pembelajaran untuk
mengembangkan karakter siswa. Di sisi lain, storytelling telah banyak
digunakan sebagai strategi pedagogis, tetapi umumnya berfokus pada
pengembangan literasi. Kajian yang mengombinasikan storytelling berbasis
tokoh pahlawan dalam kerangka etnopedagogi untuk pendidikan karakter
masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi storytelling
bertema pahlawan sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan
karakter siswa sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah Systematic
Literature Review (SLR) dengan tahapan PRISMA. Hasil analisis terhadap 20
artikel menunjukkan bahwa storytelling berbasis tokoh pahlawan berpotensi
menanamkan nilai karakter seperti keberanian, tanggung jawab,
kepemimpinan, religiusitas, dan nasionalisme. Temuan ini menunjukkan
bahwa storytelling dapat menjadi strategi efektif dalam pendidikan karakter
berbasis budaya.
etnopedagogi
pendidikan karakter
sekolah dasar
storytelling
tokoh pahlawan
ABSTRACT
Keywords:
character education
elementary school
ethnopedagogy
heroes
storytelling
Character education is a strategic agenda in primary education in Indonesia;
however, its implementation remains largely normative and has not been
optimal, particularly in utilizing local culture as a contextual learning
resource. The ethnopedagogical approach offers an alternative by integrating
cultural values and local wisdom into the learning process to foster students’
character development. On the other hand, storytelling has been widely used as
a pedagogical strategy, but it generally focuses on literacy development.
Studies that combine hero-based storytelling within an ethnopedagogical
framework for character education are still limited.This study aims to examine
the potential of hero-themed storytelling as an ethnopedagogical approach in
developing the character of elementary school students. The method employed
is a Systematic Literature Review (SLR) using the PRISMA stages. The analysis
of 20 articles indicates that storytelling based on heroic figures has the
potential to instill character values such as courage, responsibility, leadership,
religiosity, and nationalism. These findings suggest that storytelling can serve
as an effective strategy for culture-based character education.
©2024, Waskito Aji, Yogi Ageng Sri Legowo
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
213
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
1. Pendahuluan
Pendidikan karakter dalam wacana pendidikan kontemporer semakin dipandang sebagai
komponen fundamental dalam pengembangan sistem pendidikan di berbagai negara,
termasuk Indonesia. Pendidikan tidak lagi dimaknai sekadar sebagai proses transmisi
pengetahuan yang berorientasi pada penguatan kemampuan kognitif, tetapi juga sebagai
proses pedagogis yang bertujuan menumbuhkan nilai moral, membangun sikap sosial yang
konstruktif, serta memperkuat identitas budaya peserta didik. Dalam konteks pendidikan
nasional Indonesia, penguatan pendidikan karakter menjadi strategi penting dalam
menyiapkan generasi yang memiliki integritas pribadi, tanggung jawab sosial, dan kesadaran
kebangsaan yang kuat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan
karakter berkontribusi terhadap perkembangan perilaku moral peserta didik, seperti
kejujuran, empati, tanggung jawab, serta kemampuan menghargai orang lain dalam
kehidupan sosial (Berkowitz & Bier, 2014; Lickona, 2018; Kristjánsson, 2020).
Meskipun demikian, implementasi pendidikan karakter di sekolah masih menghadapi
sejumlah tantangan. Salah satu persoalan yang sering ditemukan adalah pendekatan
pembelajaran yang masih bersifat normatif dan kurang terkait dengan pengalaman nyata
peserta didik. Nilai-nilai karakter kerap disampaikan melalui ceramah atau instruksi formal
sehingga siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam proses pemaknaan nilai tersebut.
Akibatnya, pembelajaran karakter sering kali belum mampu memberikan dampak signifikan
terhadap perubahan sikap dan perilaku siswa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya
pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, dan dekat dengan realitas
sosial budaya siswa (Nucci & Narvaez, 2014).
Penguatan implementasi pendidikan karakter dapat dilakukan melalui penerapan
pendekatan etnopedagogi yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam proses
pembelajaran. Etnopedagogi merupakan pendekatan pedagogis yang mengintegrasikan nilai-
nilai budaya lokal dan kearifan masyarakat ke dalam proses pembelajaran sebagai sumber
belajar yang kontekstual. Pendekatan ini menempatkan budaya sebagai landasan pedagogis
sehingga proses pembelajaran tidak terlepas dari konteks sosial budaya tempat peserta didik
hidup. Alwasilah, dan Karyono menjelaskan bahwa etnopedagogi merupakan praktik
pendidikan yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-
temurun dalam masyarakat serta memiliki potensi besar dalam membentuk karakter dan
identitas sosial generasi muda (Alwasilah et al., 2009).
Dalam perkembangan kajian pendidikan, etnopedagogi semakin banyak digunakan
sebagai pendekatan untuk mengintegrasikan budaya lokal ke dalam proses pembelajaran.
Temuan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai budaya dalam
praktik pembelajaran memiliki peran signifikan dalam menumbuhkan kesadaran budaya
sekaligus mendukung proses pembentukan karakter peserta didik. (Parmin et al., 2017).
Beberapa kajian juga menegaskan bahwa penggunaan pendekatan berbasis kearifan lokal
dalam pembelajaran tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membantu
mereka menginternalisasi nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. (Rachmadtullah
et al., 2020; Mulyasa, 2021). Selain itu, pendekatan berbasis budaya juga terbukti mampu
memperkuat identitas budaya peserta didik sekaligus meningkatkan sikap toleransi dalam
masyarakat multikultural.
Selain memanfaatkan nilai budaya lokal, pendidikan karakter juga dapat dikembangkan
melalui strategi pedagogis yang berbasis narasi atau cerita. Salah satu strategi yang banyak
digunakan adalah storytelling. Storytelling dipandang sebagai pendekatan pedagogis yang
menggunakan narasi sebagai medium untuk mengomunikasikan nilai-nilai moral, sosial, dan
budaya kepada peserta didik. Melalui proses ini, siswa memperoleh pemahaman yang lebih
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
214
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
konkret terhadap nilai moral karena mereka dapat melakukan identifikasi diri dengan tokoh
dalam cerita serta menginterpretasikan konflik nilai yang dialami tokoh tersebut (Isbell et al.,
2004; Nair & Yunus, 2021).
Dalam konteks pendidikan dasar, storytelling memiliki relevansi yang tinggi karena
sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak. Pada jenjang sekolah dasar,
pemahaman konsep lebih mudah dicapai melalui penggunaan cerita, imajinasi, dan
pengalaman konkret, dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat abstrak. Oleh karena
itu, penggunaan storytelling dalam pembelajaran dapat membantu siswa memahami nilai
moral yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan bermakna. Selain itu, storytelling
juga berkontribusi dalam pengembangan kemampuan bahasa, empati, serta imajinasi siswa
dalam memahami pengalaman sosial orang lain (Haven & Ducey, 2007; Hibbin, 2016).
Dalam konteks budaya Indonesia, storytelling dapat dikembangkan melalui kisah tokoh-
tokoh pahlawan nasional yang sarat dengan nilai karakter. Kisah perjuangan para pahlawan
mengandung nilai-nilai keteladanan seperti keberanian, kepemimpinan, tanggung jawab,
pengorbanan, serta semangat nasionalisme. Tokoh-tokoh seperti Jenderal Sudirman, RA
Kartini, Ki Hajar Dewantara, Pangeran Diponegoro, dan KH Hasyim Asy’ari merupakan
figur sejarah yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan bangsa serta dapat dijadikan
sumber inspirasi dalam pendidikan karakter.
Pemanfaatan tokoh pahlawan dalam pembelajaran memiliki sejumlah keunggulan
pedagogis. Pertama, cerita kepahlawanan menyediakan contoh konkret mengenai nilai moral
yang dapat diteladani oleh siswa. Kedua, cerita tersebut membantu siswa mengenali sejarah
bangsa dan memperkuat rasa cinta tanah air. Ketiga, storytelling berbasis tokoh pahlawan
dapat memperkuat identitas nasional serta memperkenalkan nilai-nilai budaya bangsa bagi
generasi muda. Dengan demikian, storytelling bertema pahlawan potensial menjadi media
pendidikan karakter yang kontekstual dalam pembelajaran di sekolah dasar (Hidayati et al.,
2020; Saripudin et al., 2021).
Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji hubungan antara etnopedagogi,
storytelling, dan pendidikan karakter. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati et al. (2020)
mengungkapkan bahwa pendidikan karakter yang mengintegrasikan kearifan lokal dapat
diimplementasikan secara sistematis dalam pembelajaran, serta memiliki dampak positif
terhadap peningkatan kesadaran budaya peserta didik. Penelitian Saripudin et al. (2021)
menunjukkan bahwa digital storytelling berbasis nilai efektif dalam menumbuhkan karakter
siswa melalui narasi yang mengandung pesan moral. Temuan penelitian lain menunjukkan
bahwa storytelling sebagai pendekatan pembelajaran berkontribusi dalam meningkatkan
keterlibatan siswa serta memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai
karakter (Gayatri et al., 2023).
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa
integrasi nilai budaya dalam pembelajaran memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
pengembangan karakter siswa. Penelitian Tohri et al. (2022) menunjukkan bahwa pendidikan
karakter berbasis kearifan lokal pada sekolah dasar dapat memperkuat identitas budaya
sekaligus meningkatkan kesadaran moral siswa. Penelitian Trilaksana et al. (2023) juga
menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya lokal dapat dijadikan sebagai sumber pendidikan
karakter yang relevan dalam pembelajaran.
Penelitian menunjukkan bahwa penerapan culturally responsive teaching berkontribusi
signifikan dalam memperkuat hubungan antara guru dan siswa serta mendukung
pembentukan identitas budaya peserta didik dalam proses pembelajaran. Temuan tersebut
menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal memiliki potensi besar dalam
memperkuat pendidikan karakter yang berakar pada budaya bangsa.
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
215
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Meskipun demikian, kajian mengenai integrasi storytelling bertema pahlawan dalam
perspektif etnopedagogi masih relatif terbatas dalam literatur pendidikan, khususnya pada
jenjang sekolah dasar. Sebagian besar penelitian storytelling lebih banyak berfokus pada
pengembangan kemampuan literasi atau keterampilan komunikasi siswa. Sementara itu,
penelitian etnopedagogi umumnya menyoroti praktik budaya lokal seperti permainan
tradisional, seni daerah, atau tradisi masyarakat. Penggunaan narasi tokoh pahlawan sebagai
sumber pembelajaran etnopedagogi dalam pendidikan karakter masih jarang dibahas secara
komprehensif.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang perlu dikaji lebih
lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji potensi storytelling bertema
pahlawan sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan karakter siswa sekolah
dasar. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan tiga konsep utama, yaitu
etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter dalam satu kerangka kajian yang
sistematis dengan memanfaatkan narasi tokoh pahlawan sebagai media pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi
storytelling bertema pahlawan sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan
karakter siswa sekolah dasar di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Systematic
Literature Review (SLR) untuk mengkaji berbagai penelitian yang relevan mengenai
etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter.
Gambar 1. Model Konseptual Integrasi Etnopedagogi dan Storytelling dalam
Pendidikan Karakter
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan, baik dalam ranah teoretis
maupun praktis, terhadap pengembangan pendidikan karakter berbasis budaya. Secara
teoretis, penelitian ini memperkaya khazanah keilmuan mengenai integrasi etnopedagogi dan
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
216
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
storytelling dalam pembelajaran di tingkat pendidikan dasar. Secara praktis, hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam
mengimplementasikan storytelling bertema pahlawan sebagai strategi pembelajaran yang
kontekstual, relevan, dan bermakna dalam upaya penguatan karakter siswa sekolah dasar di
Indonesia.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk
menganalisis berbagai penelitian yang berkaitan dengan etnopedagogi, storytelling, serta
pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar. Systematic Literature Review merupakan
metode penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis
secara sistematis temuan penelitian yang relevan dengan topik tertentu sehingga dapat
menghasilkan pemahaman yang komprehensif terhadap suatu fenomena penelitian (Snyder,
2019). Metode ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan karena mampu
memberikan gambaran yang sistematis mengenai perkembangan kajian ilmiah dalam suatu
bidang tertentu (Xiao & Watson, 2019).
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian literatur
sistematis. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji secara kritis berbagai publikasi
ilmiah yang membahas hubungan antara etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan
karakter dalam konteks pendidikan dasar. Pendekatan kualitatif dalam systematic review
memungkinkan peneliti untuk melakukan interpretasi terhadap temuan-temuan penelitian
sebelumnya serta mengidentifikasi pola, tema, dan kecenderungan dalam literatur yang
dianalisis (Snyder, 2019).
Data dalam penelitian ini berupa artikel ilmiah, buku, dan laporan penelitian yang
relevan dengan topik penelitian. Sumber data diperoleh melalui beberapa basis data ilmiah
yang bereputasi, yaitu Scopus, Google Scholar, dan portal jurnal nasional terindeks
SINTA. Proses penelusuran literatur dilakukan dengan menggunakan beberapa kata kunci
utama, antara lain ethnopedagogy, storytelling in education, character education, local
wisdom, dan elementary school.
Kriteria inklusi literatur dalam penelitian ini meliputi:
1. artikel ilmiah yang terbit pada rentang tahun 20192023,
2. publikasi yang membahas etnopedagogi, storytelling, atau pendidikan karakter,
3. penelitian yang relevan dengan konteks pendidikan dasar atau pembelajaran nilai,
dan
4. artikel yang tersedia dalam bentuk teks lengkap (full text).
Sementara itu, literatur yang tidak relevan dengan topik penelitian, tidak memenuhi
rentang tahun yang ditentukan, atau tidak memiliki akses teks lengkap dikeluarkan dari
proses analisis.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumentasi
terhadap literatur ilmiah yang telah dipublikasikan. Proses penelusuran literatur mengikuti
tahapan systematic review yang meliputi identification, screening, eligibility, dan inclusion
sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for
Systematic Reviews and Meta-Analyses) (Page et al., 2021).
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
217
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Gambar 2. Skema PRISMA
Pada tahap identification, peneliti mengumpulkan seluruh artikel yang relevan melalui
pencarian pada basis data ilmiah menggunakan kata kunci yang telah ditentukan.
Selanjutnya, pada tahap screening, artikel diseleksi berdasarkan judul dan abstrak untuk
memastikan relevansi dengan topik penelitian. Pada tahap eligibility, artikel yang lolos
seleksi awal dianalisis secara lebih mendalam berdasarkan isi teks lengkapnya. Tahap
terakhir adalah inclusion, yaitu penentuan artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis
dalam penelitian ini.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan analisis tematik (thematic
analysis) terhadap literatur yang telah terpilih. Analisis tematik digunakan untuk
mengidentifikasi pola, konsep, dan tema utama yang muncul dalam berbagai penelitian
mengenai etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter (Braun & Clarke, 2021).
Tahapan analisis data meliputi:
1. reduksi data, yaitu menyeleksi dan mengelompokkan literatur yang relevan dengan
fokus penelitian;
2. kategorisasi tema, yaitu mengidentifikasi konsep utama yang muncul dalam
penelitian seperti etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter;
3. sintesis literatur, yaitu membandingkan dan mengintegrasikan temuan penelitian
sebelumnya untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif; dan
4. interpretasi hasil, yaitu menjelaskan potensi storytelling bertema pahlawan sebagai
pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan karakter siswa sekolah dasar.
Melalui tahapan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang
sistematis mengenai hubungan antara etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter
serta mengidentifikasi potensi pemanfaatan narasi tokoh pahlawan sebagai strategi
pembelajaran karakter di sekolah dasar.
3. Hasil dan Pembahasan
Dalam penelitian ini digunakan metode Systematic Literature Review (SLR) guna
mengidentifikasi, menelaah, dan mensintesis berbagai penelitian yang relevan dengan
Identification
Records identified
through databases
Record after duplicates
removed
Records identified
through other sources
Screening
Records Screened
Full- text articles
assessed for eligibility
Full-text articles excluded
Not relevant
Methodological issues
Duplicate study
Eligibility
Included
Records screened
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
218
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
etnopedagogi, storytelling, serta pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar. Tahapan
seleksi literatur dilaksanakan dengan mengacu pada prosedur PRISMA, yang terdiri atas
proses identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan penetapan artikel yang memenuhi
kriteria inklusi. Berdasarkan proses penelusuran literatur melalui beberapa basis data ilmiah
seperti Scopus, Google Scholar, dan portal jurnal nasional terindeks SINTA, diperoleh
sejumlah artikel yang relevan dengan topik penelitian. Setelah dilakukan proses seleksi
sesuai dengan kriteria inklusi yang telah dirumuskan, sebanyak 20 artikel yang memenuhi
persyaratan dipilih untuk dianalisis secara lebih mendalam pada tahap berikutnya.
Tabel 1. Sintesis Penelitian Terdahulu tentang Etnopedagogi, Storytelling, dan
Pendidikan
Penulis
(Tahun)
Fokus
Penelitian
Metode
Temuan Utama
Relevansi
dengan
Penelitian
Hidayati et
al. (2020)
Pendidikan
karakter
berbasis
kearifan lokal
Kualitatif
Kearifan lokal dapat
memperkuat kesadaran
budaya dan karakter siswa
Mendukung
pendekatan
etnopedagogi
dalam
pendidikan
karakter
Saripudin
et al.
(2021)
Digital
storytelling
berbasis nilai
Eksperimen
Storytelling digital efektif
menanamkan nilai moral
dan meningkatkan
keterlibatan siswa
Menguatkan
penggunaan
storytelling
sebagai media
pembelajaran
karakter
Tohri et al.
(2022)
Pendidikan
karakter
berbasis
kearifan lokal
pada sekolah
dasar
Kualitatif
Integrasi budaya lokal
dapat meningkatkan
kesadaran moral siswa
Mendukung
integrasi
budaya dalam
pendidikan
dasar
Trilaksana
et al.
(2023)
Kearifan lokal
sebagai
sumber nilai
karakter
Kualitatif
Tradisi budaya
mengandung nilai moral
untuk pembentukan
karakter
Menguatkan
landasan
budaya dalam
pendidikan
karakter
Gayatri et
al. (2023)
Metode
storytelling
dalam
pendidikan
karakter anak
Kualitatif
Storytelling membantu
anak menginternalisasi
nilai moral
Mendukung
storytelling
sebagai
strategi
pedagogis
Nair &
Yunus
(2021)
Digital
storytelling
dalam
pembelajaran
Systematic
review
Storytelling meningkatkan
keterlibatan dan
keterampilan komunikasi
siswa
Mendukung
efektivitas
pembelajaran
berbasis
narasi
Rachmadtu
llah et al.
(2020)
Integrasi
kearifan lokal
dalam
pembelajaran
Mixed
methods
Pembelajaran berbasis
budaya meningkatkan
identitas dan keterampilan
berpikir siswa
Mendukung
pendekatan
etnopedagogi
dalam
pembelajaran
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
219
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Ulusoy
(2020)
Storytelling
digital dalam
pembelajaran
sastra
Eksperimen
Pembelajaran berbasis
cerita meningkatkan
pemahaman siswa
Mendukung
storytelling
dalam
pembelajaran
Wu &
Chen
(2020)
Digital
storytelling
dalam
pendidikan
Systematic
review
Storytelling meningkatkan
keterlibatan, pemahaman,
dan keterampilan
komunikasi siswa
Menguatkan
storytelling
sebagai
strategi
pembelajaran
karakter
Robin
(2016)
Digital
storytelling
dalam
pembelajaran
Konseptual
Storytelling mendukung
pembelajaran bermakna
dan keterlibatan siswa
Mendukung
storytelling
sebagai strategi
pedagogis
Ladson-
Billings
(1995)
Culturally
relevant
pedagogy
dalam
pendidikan
Konseptual
Pembelajaran berbasis
budaya menempatkan
pengalaman dan identitas
siswa sebagai bagian
penting dalam proses
belajar
Menjadi
landasan teoretis
etnopedagogi
Padang et
al. (2023)
Penguatan
karakter
melalui
pembelajaran
berbasis
budaya
Kualitatif
Pembelajaran berbasis
budaya memperkuat ranah
afektif siswa
Mendukung
penguatan
karakter
berbasis
budaya
Yang &
Wu (2012)
Digital
storytelling
dan hasil
belajar
Eksperimen
Storytelling meningkatkan
hasil belajar dan motivasi
siswa
Menguatkan
efektivitas
storytelling
dalam
pembelajaran
Parmin et
al. (2017)
Integrasi
budaya dalam
pembelajaran
sains
Eksperimen
Integrasi budaya
meningkatkan
keterampilan berpikir
kritis
Mendukung
pembelajaran
berbasis
budaya
Snyder
(2019)
Metodologi
literature
review
Konseptual
Systematic Literature
Review membantu sintesis
penelitian secara
sistematis
Mendukung
metode
penelitian
SLR
Xiao &
Watson
(2019)
Metodologi
systematic
review
Konseptual
SLR memberikan
kerangka analisis literatur
yang sistematis
Mendukung
metode
penelitian
Braun &
Clarke
(2021)
Analisis
tematik dalam
penelitian
kualitatif
Metodologis
Analisis tematik
membantu
mengidentifikasi pola
dalam data
Mendukung
teknik analisis
data penelitian
Page et al.
(2021)
Pedoman
PRISMA
untuk
systematic
review
Metodologis
PRISMA menyediakan
prosedur seleksi literatur
yang sistematis
Mendukung
proses seleksi
artikel
Berkowitz
& Bier
(2014)
Penelitian
pendidikan
karakter
Konseptual
Pendidikan karakter
berperan dalam
pembentukan moral siswa
Menjadi
landasan teori
pendidikan
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
220
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
karakter
Lickona
(2018)
Teori
pendidikan
karakter
Konseptual
Pendidikan moral penting
dalam pembentukan
karakter siswa
Landasan
teoretis
penelitian
Berdasarkan sintesis penelitian pada Tabel 1, dapat diidentifikasi tiga kecenderungan
utama dalam penelitian sebelumnya. Pertama, berbagai penelitian menekankan pentingnya
kearifan lokal sebagai sumber nilai dalam pendidikan karakter, yang menjadi dasar
pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran. Kedua, sejumlah penelitian menunjukkan
bahwa storytelling merupakan strategi pedagogis yang efektif dalam menyampaikan nilai
moral kepada siswa karena memungkinkan internalisasi nilai melalui pengalaman naratif.
Ketiga, pembelajaran berbasis cerita yang mengandung nilai budaya dan sejarah memiliki
potensi untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap identitas budaya dan nilai
kebangsaan. Meskipun demikian, penelitian yang secara khusus mengkaji storytelling dengan
tema tokoh pahlawan sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pendidikan karakter siswa
sekolah dasar di Indonesia masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya
mengisi kesenjangan tersebut dengan mensintesis berbagai penelitian yang relevan untuk
menganalisis potensi storytelling bertema pahlawan sebagai strategi pembelajaran karakter
berbasis budaya.
Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa terdapat tiga tema utama yang muncul secara
konsisten dalam penelitian sebelumnya, yaitu: (1) etnopedagogi sebagai pendekatan
pendidikan karakter, (2) storytelling sebagai strategi pedagogis dalam pembelajaran nilai,
dan (3) potensi narasi tokoh budaya atau sejarah sebagai sumber pembelajaran karakter.
3.1 Etnopedagogi sebagai Pendekatan Pendidikan Karakter
Hasil sintesis berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendekatan etnopedagogi
memiliki kontribusi yang signifikan dalam pengembangan pendidikan karakter.
Etnopedagogi memandang budaya lokal sebagai sumber nilai dan pengetahuan yang relevan
dengan kehidupan sosial peserta didik. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai dasar
pembelajaran, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan aspek kognitif,
tetapi juga memungkinkan siswa memahami nilai moral yang hidup dalam praktik kehidupan
masyarakat. Dalam perspektif ini, budaya tidak hanya dipahami sebagai objek kajian, tetapi
juga sebagai sumber pedagogis yang dapat digunakan untuk membangun kesadaran moral
dan identitas sosial peserta didik (Alwasilah et al., 2009).
Sejumlah penelitian empiris menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam
pembelajaran memiliki dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa. Hidayati et al.
(2020) menemukan bahwa pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan
kesadaran budaya serta memperkuat identitas sosial peserta didik. Temuan tersebut
menunjukkan bahwa pembelajaran yang berakar pada budaya memberikan konteks yang
lebih bermakna bagi siswa dalam memahami nilai moral. Temuan serupa juga dikemukakan
oleh Tohri et al. (2022) yang menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya dalam pembelajaran
sekolah dasar dapat memperkuat pembentukan karakter sekaligus meningkatkan pemahaman
siswa terhadap nilai sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat.
Namun demikian, jika ditinjau secara lebih kritis, sebagian besar penelitian mengenai
etnopedagogi masih menempatkan budaya lokal sebagai sumber nilai yang bersifat deskriptif
dalam pembelajaran. Penelitian-penelitian tersebut umumnya berfokus pada integrasi unsur
budaya seperti tradisi masyarakat, permainan tradisional, atau praktik sosial dalam kegiatan
pembelajaran. Meskipun pendekatan tersebut terbukti mampu meningkatkan kesadaran
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
221
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
budaya siswa, kajian mengenai bagaimana nilai-nilai budaya tersebut dapat dikonstruksi
melalui strategi pedagogis yang lebih sistematis masih relatif terbatas. Dengan kata lain,
sebagian besar penelitian masih berfokus pada konten budaya, sementara aspek strategi
pedagogis yang digunakan untuk mentransformasikan nilai budaya tersebut dalam
pembelajaran belum banyak dibahas secara mendalam.
Penelitian Trilaksana et al. (2023) menegaskan bahwa nilai-nilai budaya lokal memiliki
potensi besar sebagai sumber pendidikan karakter karena mengandung prinsip moral yang
diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut mencakup semangat
gotong royong, tanggung jawab sosial, solidaritas, serta sikap saling menghormati
antarindividu. Temuan ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya memiliki fungsi
sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat digunakan dalam
pembentukan karakter generasi muda. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa
integrasi budaya lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan keterlibatan siswa
sekaligus memperkuat identitas budaya mereka (Rachmadtullah et al., 2020).
Dalam konteks pendidikan Indonesia yang multikultural, integrasi nilai budaya dalam
pembelajaran juga memiliki relevansi yang strategis dalam memperkuat identitas nasional
peserta didik. Praktik pembelajaran berbasis budaya tidak hanya meningkatkan partisipasi
siswa dalam pembelajaran, tetapi juga berperan dalam membangun identitas sosial dan
budaya mereka secara lebih bermakna (Byrd, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa
etnopedagogi tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran,
tetapi juga memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya dan kesadaran
kebangsaan siswa.
Meskipun demikian, sintesis terhadap berbagai penelitian sebelumnya juga
menunjukkan adanya kesenjangan dalam literatur. Sebagian besar penelitian mengenai
etnopedagogi masih berfokus pada pemanfaatan praktik budaya lokal seperti permainan
tradisional, seni daerah, atau tradisi masyarakat sebagai sumber pembelajaran. Sementara itu,
kajian yang mengintegrasikan budaya dalam bentuk narasi historis atau kisah kepahlawanan
sebagai media pembelajaran masih relatif terbatas. Padahal, narasi kepahlawanan merupakan
bagian penting dari warisan budaya yang mengandung nilai-nilai moral dan kebangsaan yang
kuat.
Dalam perspektif pedagogis, narasi kepahlawanan memiliki potensi besar sebagai media
pendidikan karakter karena mampu menghadirkan nilai moral dalam bentuk pengalaman
naratif yang konkret dan mudah dipahami oleh siswa. Melalui cerita kepahlawanan, siswa
tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah bangsa, tetapi juga dapat memahami
nilai-nilai moral seperti keberanian, tanggung jawab, kepemimpinan, serta semangat
nasionalisme yang tercermin dalam perjuangan tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian,
storytelling bertema pahlawan dapat dipandang sebagai bentuk integrasi antara pendekatan
etnopedagogi dan strategi pedagogis berbasis narasi.
Berdasarkan analisis sintesis literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian
sebelumnya telah menunjukkan potensi etnopedagogi dalam pengembangan pendidikan
karakter. Namun demikian, kajian mengenai bagaimana nilai-nilai budaya tersebut dapat
diinternalisasikan melalui strategi pedagogis storytelling yang berbasis narasi kepahlawanan
masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut
dengan mengkaji potensi storytelling bertema pahlawan sebagai pendekatan etnopedagogi
dalam pengembangan karakter siswa sekolah dasar. Dengan mengintegrasikan perspektif
etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter dalam satu kerangka analisis, penelitian
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
222
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan strategi
pembelajaran karakter yang lebih kontekstual dan berbasis budaya.
3.2 Storytelling sebagai Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Nilai
Selain pendekatan etnopedagogi, hasil sintesis literatur juga menunjukkan bahwa
storytelling merupakan salah satu strategi pedagogis yang efektif dalam pembelajaran
karakter. Storytelling memungkinkan nilai-nilai moral disampaikan melalui narasi yang
kontekstual, sehingga siswa dapat memahami makna nilai tersebut secara lebih konkret.
Melalui cerita, guru dapat menghadirkan situasi moral dalam bentuk pengalaman naratif
yang menarik sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat secara
emosional dan kognitif dalam proses pemaknaan nilai.
Beberapa penelitian empiris menunjukkan bahwa storytelling memiliki kontribusi yang
signifikan dalam pengembangan pemahaman moral siswa. Penelitian Saripudin et al. (2021)
menunjukkan bahwa penggunaan digital storytelling berbasis nilai mampu meningkatkan
pemahaman siswa terhadap nilai-nilai karakter melalui penyajian cerita yang mengandung
pesan moral. Narasi yang disampaikan melalui kombinasi unsur visual dan verbal
memungkinkan siswa memahami konsep moral secara lebih konkret dibandingkan dengan
penjelasan yang bersifat abstrak atau teoritis. Dengan demikian, storytelling tidak hanya
berfungsi sebagai media penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana untuk
memfasilitasi proses internalisasi nilai.
Temuan serupa juga dikemukakan oleh Gayatri et al. (2023) yang menunjukkan bahwa
storytelling dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekaligus
membantu mereka memahami nilai-nilai karakter melalui pengalaman naratif tokoh dalam
cerita. Dalam proses ini, siswa cenderung mengidentifikasi diri dengan tokoh yang terdapat
dalam narasi sehingga mereka dapat memahami konflik moral yang dihadapi tokoh tersebut.
Proses identifikasi tersebut memungkinkan siswa merefleksikan nilai-nilai moral yang
muncul dalam cerita dan mengaitkannya dengan pengalaman kehidupan mereka sendiri.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nair dan Yunus (2021) menunjukkan bahwa
storytelling juga berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan komunikasi siswa serta
membantu mereka memahami berbagai konsep sosial dan budaya yang terkandung dalam
narasi cerita. Temuan ini menunjukkan bahwa storytelling tidak hanya berfungsi sebagai
media penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana pedagogis yang mampu
mengembangkan pemahaman moral, sosial, dan budaya siswa secara lebih komprehensif.
Dengan kata lain, storytelling dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan
pengetahuan kognitif dengan pengalaman sosial dan emosional peserta didik.
Jika ditinjau secara lebih kritis, sebagian besar penelitian mengenai storytelling dalam
pendidikan masih berfokus pada pengembangan literasi, keterampilan komunikasi, atau
keterampilan berbahasa siswa. Sementara itu, kajian mengenai potensi storytelling sebagai
strategi pedagogis dalam pendidikan karakter berbasis budaya masih relatif terbatas. Padahal,
storytelling memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan nilai moral, pengalaman sosial,
serta konteks budaya dalam proses pembelajaran secara simultan.
Dalam perspektif pendidikan dasar, storytelling memiliki keunggulan karena sesuai
dengan karakteristik perkembangan kognitif anak. Siswa pada jenjang sekolah dasar
cenderung memahami konsep melalui pengalaman konkret, imajinasi, dan narasi yang
bermakna. Oleh karena itu, penggunaan storytelling dalam pembelajaran dapat membantu
siswa memahami nilai-nilai karakter yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret dan mudah
dipahami. Dengan menghadirkan pengalaman moral melalui cerita, siswa tidak hanya
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
223
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
memahami nilai secara konseptual, tetapi juga dapat merefleksikan makna nilai tersebut
dalam konteks kehidupan sehari-hari.
3.3 Potensi Narasi Tokoh Pahlawan dalam Pendidikan Karakter
Hasil sintesis berbagai penelitian menunjukkan bahwa storytelling berbasis narasi tokoh
pahlawan memiliki potensi signifikan dalam pengembangan pendidikan karakter. Berbeda
dengan penyampaian nilai moral yang bersifat abstrak, narasi kepahlawanan memungkinkan
siswa memahami nilai-nilai karakter melalui pengalaman cerita yang konkret dan
kontekstual. Cerita mengenai perjuangan tokoh pahlawan tidak hanya menyampaikan
informasi historis, tetapi juga menghadirkan contoh nyata mengenai nilai keberanian,
tanggung jawab, kepemimpinan, pengorbanan, serta semangat nasionalisme yang dapat
dijadikan teladan bagi generasi muda (Lickona, 2018; Kristjánsson, 2020).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan storytelling dalam pembelajaran
dapat membantu siswa memahami nilai moral melalui proses identifikasi dengan tokoh
dalam cerita. Saripudin et al. (2021) menemukan bahwa digital storytelling berbasis nilai
mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai karakter melalui narasi yang
mengandung pesan moral. Melalui penyajian cerita yang memadukan unsur visual dan
verbal, siswa dapat memahami konsep moral secara lebih konkret dibandingkan dengan
pendekatan pembelajaran yang bersifat teoritis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa
storytelling tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga sebagai
sarana pedagogis untuk memfasilitasi proses internalisasi nilai.
Temuan serupa juga dilaporkan oleh Gayatri et al. (2023) yang menunjukkan bahwa
storytelling dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sekaligus membantu
mereka memahami nilai-nilai karakter melalui pengalaman naratif tokoh dalam cerita.
Dalam proses ini, siswa tidak hanya mendengarkan cerita secara pasif, tetapi juga
melakukan proses refleksi terhadap konflik nilai yang dialami tokoh dalam narasi. Hal ini
memungkinkan siswa untuk mengaitkan nilai moral yang terdapat dalam cerita dengan
pengalaman kehidupan mereka sendiri.
Selain itu, penelitian Nair dan Yunus (2021) menunjukkan bahwa storytelling juga
berkontribusi dalam pengembangan kemampuan komunikasi serta pemahaman sosial siswa.
Cerita yang mengandung unsur budaya dan pengalaman sosial memungkinkan siswa
memahami berbagai konsep moral dan sosial secara lebih komprehensif. Dalam konteks
pembelajaran, storytelling dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aspek
kognitif, emosional, dan sosial dalam proses pendidikan.
Jika dianalisis lebih lanjut, sebagian besar penelitian mengenai storytelling dalam
pendidikan masih berfokus pada pengembangan literasi, keterampilan komunikasi, atau
keterampilan bahasa siswa. Misalnya, penelitian Rachmadtullah et al. (2020) menunjukkan
bahwa storytelling berbasis budaya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa
sekaligus memperkuat identitas budaya mereka. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa
penggunaan cerita dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar dan
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Tohri et al., 2022; Trilaksana et al., 2023).
Meskipun demikian, hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa kajian mengenai
storytelling yang secara khusus memanfaatkan narasi tokoh pahlawan dalam perspektif
etnopedagogi masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian yang mengkaji etnopedagogi
lebih banyak menyoroti pemanfaatan praktik budaya lokal seperti permainan tradisional,
seni daerah, atau tradisi masyarakat sebagai sumber pembelajaran. Sementara itu, penelitian
mengenai storytelling lebih sering menekankan pada aspek literasi dan komunikasi siswa.
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
224
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Dengan demikian, integrasi antara storytelling, narasi kepahlawanan, dan pendekatan
etnopedagogi dalam konteks pendidikan karakter masih jarang dikaji secara sistematis.
Kesenjangan penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang luas
untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan storytelling
bertema pahlawan dengan perspektif etnopedagogi dalam pendidikan karakter. Narasi
kepahlawanan merupakan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai-nilai moral
dan kebangsaan yang kuat. Oleh karena itu, pemanfaatan cerita tokoh pahlawan dalam
pembelajaran tidak hanya dapat membantu siswa memahami sejarah bangsa, tetapi juga
memperkuat identitas budaya serta kesadaran kebangsaan mereka.
Berdasarkan analisis sintesis literatur tersebut, penelitian ini berupaya mengisi
kesenjangan penelitian dengan mengkaji potensi storytelling bertema pahlawan sebagai
pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan karakter siswa sekolah dasar. Dengan
mengintegrasikan perspektif etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter dalam satu
kerangka analisis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dalam
pengembangan strategi pembelajaran karakter yang lebih kontekstual, berbasis budaya, dan
relevan dengan konteks pendidikan di Indonesia.
3.4 Sintesis Temuan Penelitian
Berdasarkan sintesis terhadap berbagai penelitian yang dianalisis dalam Systematic
Literature Review ini, dapat diidentifikasi adanya hubungan konseptual yang kuat antara
etnopedagogi, storytelling, dan pendidikan karakter. Etnopedagogi menyediakan kerangka
konseptual yang menempatkan budaya lokal sebagai sumber nilai dan pengetahuan dalam
proses pembelajaran. Dalam perspektif ini, budaya tidak hanya dipahami sebagai objek
kajian, tetapi juga sebagai sumber pedagogis yang dapat digunakan untuk membangun
pemahaman moral dan identitas sosial peserta didik (Alwasilah et al., 2009). Sementara itu,
storytelling berfungsi sebagai strategi pedagogis yang memungkinkan nilai-nilai tersebut
disampaikan melalui pengalaman naratif yang kontekstual dan bermakna (Nair & Yunus,
2021; Gayatri et al., 2023).
Hasil analisis literatur juga menunjukkan bahwa storytelling memiliki peran penting
dalam membantu siswa memahami nilai-nilai karakter melalui pengalaman naratif tokoh
dalam cerita. Melalui narasi, siswa dapat mengidentifikasi diri dengan tokoh yang terdapat
dalam cerita serta memahami konflik moral yang dihadapi tokoh tersebut. Proses identifikasi
ini memungkinkan siswa merefleksikan nilai moral yang terkandung dalam cerita dan
mengaitkannya dengan pengalaman kehidupan mereka sendiri (Saripudin et al., 2021).
Dengan demikian, storytelling tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi,
tetapi juga sebagai sarana pedagogis yang mampu memfasilitasi proses internalisasi nilai
dalam pembelajaran.
Dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia, narasi tokoh pahlawan memiliki potensi
yang signifikan sebagai sumber pembelajaran karakter. Kisah perjuangan para tokoh
pahlawan tidak hanya mengandung nilai historis, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai
moral yang relevan dengan pembentukan karakter siswa, seperti keberanian, tanggung jawab,
kepemimpinan, pengorbanan, serta semangat nasionalisme. Narasi kepahlawanan
memungkinkan nilai-nilai tersebut disampaikan melalui pengalaman cerita yang konkret
sehingga siswa dapat memahami makna nilai tersebut secara lebih mendalam dibandingkan
dengan penyampaian nilai yang bersifat abstrak (Kristjánsson, 2020).
Namun demikian, sintesis literatur menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian
sebelumnya masih membahas etnopedagogi dan storytelling sebagai dua pendekatan yang
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
225
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
berdiri sendiri. Penelitian mengenai etnopedagogi umumnya menyoroti pemanfaatan praktik
budaya lokal seperti permainan tradisional, seni daerah, atau tradisi masyarakat sebagai
sumber pembelajaran (Rachmadtullah et al., 2020). Di sisi lain, penelitian mengenai
storytelling lebih banyak berfokus pada pengembangan literasi dan keterampilan komunikasi
siswa (Nair & Yunus, 2021; Gayatri et al., 2023). Oleh karena itu, integrasi storytelling
bertema pahlawan dalam perspektif etnopedagogi sebagai strategi pedagogis dalam
pendidikan karakter masih relatif jarang dikaji secara sistematis.
Kesenjangan penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang luas
untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan narasi
kepahlawanan, storytelling, dan etnopedagogi dalam pengembangan pendidikan karakter.
Dalam konteks ini, storytelling bertema pahlawan dapat dipandang sebagai bentuk integrasi
antara pendekatan budaya dan strategi pedagogis yang memungkinkan nilai moral
disampaikan secara lebih kontekstual. Dengan demikian, penelitian ini memberikan
kontribusi konseptual dengan mengusulkan kerangka integratif yang menghubungkan
etnopedagogi dan storytelling sebagai strategi pembelajaran karakter berbasis budaya.
4 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi storytelling bertema pahlawan
sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pengembangan karakter siswa sekolah dasar di
Indonesia. Berdasarkan hasil Systematic Literature Review terhadap berbagai penelitian yang
relevan, dapat disimpulkan bahwa storytelling berbasis narasi tokoh pahlawan memiliki
potensi yang signifikan sebagai strategi pedagogis dalam pendidikan karakter yang
kontekstual dan berbasis budaya. Melalui narasi kepahlawanan, nilai-nilai moral seperti
keberanian, tanggung jawab, kepemimpinan, dan semangat nasionalisme dapat disampaikan
kepada siswa secara lebih konkret melalui pengalaman naratif yang berkaitan dengan sejarah
dan budaya bangsa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi storytelling dalam
kerangka etnopedagogi memungkinkan proses pembelajaran karakter berlangsung secara
lebih bermakna karena nilai-nilai moral dihubungkan dengan konteks budaya dan identitas
nasional siswa. Dengan memanfaatkan kisah perjuangan tokoh-tokoh pahlawan sebagai
media pembelajaran, guru tidak hanya dapat memperkenalkan sejarah bangsa, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai karakter yang relevan dengan kehidupan sosial peserta didik.
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa storytelling bertema pahlawan dapat
dikembangkan sebagai strategi pembelajaran karakter berbasis budaya dalam pendidikan
dasar. Pendekatan ini berpotensi memperkuat hubungan antara pembelajaran sejarah, budaya,
dan pendidikan karakter sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan relevan
dengan pengalaman siswa. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan
pengembangan model pembelajaran yang mengintegrasikan storytelling berbasis narasi
tokoh pahlawan dalam kerangka etnopedagogi sebagai bagian dari penguatan pendidikan
karakter di sekolah dasar. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain
pembelajaran yang lebih operasional serta menguji efektivitas pendekatan tersebut melalui
penelitian empiris di lingkungan sekolah.
5 Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan
dukungan dalam penyusunan artikel ini. Apresiasi disampaikan kepada institusi tempat
penulis bernaung atas dukungan akademik yang diberikan selama proses penelitian. Penulis
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
226
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
juga mengucapkan terima kasih kepada para pengelola jurnal dan reviewer yang telah
memberikan masukan dan saran konstruktif sehingga artikel ini dapat disempurnakan. Selain
itu, penulis menyampaikan penghargaan kepada para peneliti sebelumnya yang karya-
karyanya menjadi rujukan penting dalam kajian mengenai etnopedagogi, storytelling, dan
pendidikan karakter.
6 Daftar Pustaka
Alwasilah, A. C., Suryadi, K., & Karyono, T. (2009). Etnopedagogi: Landasan praktik
pendidikan dan pendidikan guru. Kiblat Buku Utama.
Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2014). Research-based character education. The Annals of
the American Academy of Political and Social Science, 591(1), 7285.
https://doi.org/10.1177/0002716203260082
Byrd, C. M. (2016). Does culturally relevant teaching work? An examination from student
perspectives. SAGE Open, 6(1). https://doi.org/10.1177/2158244015623595
Braun, V., & Clarke, V. (2021). Thematic analysis: A practical guide. SAGE Publications.
Gayatri, S., Ariastuti, I., Rahayu, R., & Yuhandri. (2023). Instilling children’s characters
through storytelling methods in preschool education. Sawerigading, 29(2), 205221.
https://doi.org/10.26499/sawer.v29i2.1268
Haven, K., & Ducey, M. (2007). Crash course in storytelling. Libraries Unlimited.
Hibbin, R. (2016). The power of storytelling in the classroom. Journal of Education and
Training Studies, 4(5), 2730. https://doi.org/10.11114/jets.v4i5.1414
Hidayati, N. A., Waluyo, H. J., Winarni, R., & Suyitno. (2020). Exploring the
implementation of local wisdom-based character education among Indonesian higher
education students. International Journal of Instruction, 13(2), 179198.
https://doi.org/10.29333/iji.2020.13213a
Isbell, R., Sobol, J., Lindauer, L., & Lowrance, A. (2004). The effects of storytelling and
story reading on the oral language complexity and story comprehension of young
children. Early Childhood Education Journal, 32(3), 157163.
https://doi.org/10.1007/s10643-004-0003-7
Kristjánsson, K. (2020). Character education in schools: A critical review. Journal of Moral
Education, 49(2), 139150. https://doi.org/10.1080/03057240.2020.1722068
Ladson-Billings, G. (1995). Toward a theory of culturally relevant pedagogy. American
Educational Research Journal, 32(3), 465491.
https://doi.org/10.3102/00028312032003465
Lickona, T. (2018). Educating for character: How our schools can teach respect and
responsibility. Bantam Books.
Mulyasa, E. (2021). Pendidikan karakter di sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nair, V., & Yunus, M. M. (2021). A systematic review of digital storytelling in improving
speaking skills. Sustainability, 13(11), Article 6251.
https://doi.org/10.3390/su13116251
Nucci, L., & Narvaez, D. (2014). Handbook of moral and character education (2nd ed.).
Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203114896
Academy of Education Journal
Vol. 15, No. 1, Januari 2024, Page: 212-227
ISSN: 1907-2341 (Print), ISSN: 2685-4031 (Online)
227
Yogi Ageng Sri Legowo et.al (Etnopedagogi: Potensi Story Telling dengan.)
Padang, A. R., Sari, S. P., Nst, I. S., & Nasution, D. K. (2023). Strengthening the affective
space in the implementation of Pancasila student profiles at the Muhammadiyah
Kepong Malaysia guidance school. Academy of Education Journal, 14(2), 780792.
https://doi.org/10.47200/aoej.v14i2.1908
Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., Boutron, I., Hoffmann, T. C., Mulrow, C. D.,
… Moher, D. (2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting
systematic reviews. BMJ, 372, n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71
Parmin, Sajidan, Ashadi, & Sutikno. (2017). Ethnoscience integrated science learning model
to improve students’ critical thinking skills. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 6(2),
252258. https://doi.org/10.15294/jpii.v6i2.10680
Rachmadtullah, R., Aliyyah, R. R., Samsudin, A., Syaodih, E., Nurtanto, M., & Tambunan,
A. R. S. (2020). The integration of local wisdom in learning to improve students’
critical thinking skills. International Journal of Instruction, 13(3), 509524.
https://doi.org/10.29333/iji.2020.13335a
Robin, B. R. (2016). The power of digital storytelling to support teaching and learning.
Digital Education Review, 30, 1729.
Saripudin, D., Komalasari, K., & Anggraini, D. N. (2021). Value-based digital storytelling
learning media to foster student character. International Journal of Instruction, 14(2),
369384. https://doi.org/10.29333/iji.2021.14221a
Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and
guidelines. Journal of Business Research, 104, 333339.
https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2019.07.039
Tohri, A., Rasyad, A., Sururuddin, M., & Istiqlal, L. M. (2022). The urgency of Sasak local
wisdom-based character education for elementary school in East Lombok, Indonesia.
International Journal of Evaluation and Research in Education, 11(1), 333344.
https://doi.org/10.11591/ijere.v11i1.21869
Trilaksana, A., Artono, A., & Sudarmiani, S. (2023). Local wisdom as a source of values and
character education: Identification of the Javanese community in Surabaya.
International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 10(1), 421
430.
Ulusoy, M. (2020). Pre-service teachers as creators and students as viewers of children’s
literature-related digital stories: A formative experiment. International Journal of
Progressive Education, 16(6), 85100. https://doi.org/10.29329/ijpe.2020.280.23
Wu, J., & Chen, D. T. V. (2020). A systematic review of educational digital storytelling.
Educational Technology Research and Development, 68, 25472573.
https://doi.org/10.1016/j.compedu.2019.103786
Xiao, Y., & Watson, M. (2019). Guidance on conducting a Systematic Literature Review.
Journal of Planning Education and Research, 39(1), 93112.
https://doi.org/10.1177/0739456X17723971
Yang, Y. T. C., & Wu, W. C. I. (2012). Digital storytelling for enhancing student academic
achievement. Computers & Education, 59(2), 339352.
https://doi.org/10.1016/j.compedu.2011.12.012
Yang, Y. T. C., & Wu, W. C. I. (2012). Digital storytelling for enhancing student academic
achievement, critical thinking, and learning motivation: A year-long experimental
study. Computers & Education, 59(2), 339352.
https://doi.org/10.1016/j.compedu.2011.12.012