AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
59
E-READINESS SEBAGAI MODEL EVALUASI E-LEARNING
DALAM MENCAPAI E-LEARNING MATURITY
Eko Yulian
1
dan Utama Andri Arjita
2
1, 2
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Pusat Statistik
Jl. Jagakarsa no 70, Jakarta Selatan
1
2
ABSTRAK
Dalam implementasi sistem e-learning banyak kendala yang dihadapi oleh suatu organisasi karena
tidak adanya perencanaan yang matang dalam membuat sistem e-learning. Tingkat e-Readiness
Pusdiklat BPS berada pada kondisi 3 yang menggambarkan tingkat kesiapan yang perlu
ditingkatkan. Dengan mengetahui indeks kesiapan e-learning suatu organisasi, diharapkan Hasil
penelitian di Pusdiklat BPS mampu menjadi dasar untuk perbaikan e-learning, hasil penelitian
menunjukkan terdapat kesenjangan tingkat perkembangan pengembangan e-learning sehingga
diperlukan strategi. Strategi tersebut diperoleh melalui kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam
framework eMM dan telah dikonfirmasi langsung oleh para ahli.
Kata Kunci: e-learning; readiness; maturity; eMM
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
ABSTRACT.
In the implementation of an e-learning system, there are many obstacles faced by an organization
because there is no careful planning in making an e-learning system. Therefore, it is necessary to
analyze the level of organizational readiness in implementing e-learning (readiness of e-learning).
The BPS Education and Training Center's e-Readiness level is in condition 3, which describes the
readiness that needs a lot of improvement. By knowing the e-learning readiness index of an
organization, it is hoped that it can be the basis for preparing and improving the e-learning system
so that a system with a good level of maturity is expected. Results Based on research at the BPS
Education and Training Center, there is a gap in the level of development of e-learning
development. The strategy is expected to be obtained through activities contained in the eMM
framework and has been confirmed directly by experts.
Keyword: e-learning; readiness; maturity; eMM
PENDAHULUAN
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam membantu proses pendidikan
di lembaga diklat, saat ini sudah menjadi keharusan, karena penerapan TIK dapat menjadi
salah satu indikator keberhasilan suatu lembaga diklat. E-learning merupakan salah satu
yang dapat diterapkan dalam membantu proses tersebut. Penyediaan infrastruktur teknologi
dan pelatihan SDM sama sekali belum menjamin keberhasilan e-learning, kultur organisasi
dan faktor leadership memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan e-learning.
Pengamatan sepintas menunjukkan bahwa tidak semua persyaratan untuk bisa
memanfaatkan e-learning dalam proses pembelajaran secara optimal telah dipenuhi. Dalam
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
60
mengevaluasi kemampuan dari sistem e-learning, indikator pengukuran yang jelas dapat
digunakan untuk melihat indikator kinerja dari sistem itu. Hal tersebut memungkinkan
suatu lembaga dapat:
Melihat kekuatan dan kelemahan mereka dalam kaitannya dengan integrasi
Information and communication technologies (ICT) dalam suatu lembaga
Mengidentifikasikan tindakan yang akan memfasilitasi dalam hal peningkatan
kompetensi dan kepercayaan diri serta kemampuan dalam penggunaan ICT dari
fasilitator ataupun pelajar.
Untuk mengukur dan melaporkan dampak dari ICT terhadap kegiatan belajar
mengajar [1], tahap dalam pelaksanaan e-learning harus mengikuti siklus yang sudah
diakui, secara konsep dinamakan Five D’s (5Ds) of e-learning [2]. Penerapan e-learning
yang tidak matang, akan memberikan peluang yang cukup besar akan kegagalan penerapan
e-learning tersebut. Kegagalan penerapan e-learning akan menyebabkan kerugian yang
cukup besar, baik kerugian material (financial), waktu dan sumber daya pendukung
lainnya. Oleh sebab itu, maka dalam pengembangan e-learning diperlukan strategi yang
baik dan komprehensif. Model e-learning readiness menjadi instrumen yang sangat efektif
untuk melakukan evaluasi efektifitas strategi organisasi dalam mengembangan e-learning
dan sebagai dasar evaluasi dari efektifitas program e-learning.
Suatu model maturity dapat membantu institusi untuk menilai penerapan e-learning-
nya khususnya tingkat kematangan dan memberikan rekomendasi tentang tingkat prioritas
perbaikan untuk meningkatkan tingkat kematangannya. Pengembangan sistem e-learning
di Pusdiklat BPS harus sejalan dengan visi misi, nilai dan kebijakan serta proses bisnis
yang ada. Namun diketahui bahwa, Pusdiklat BPS sebagai penyelenggara pendidikan dan
pelatihan BPS pada tahun 2013 telah melakukan pengembangan aplikasi e-learning.
Tingkat readiness diperlukan untuk memotret keadaan sekarang dari profil dan
kapasitas TI, dan mengevaluasi kecukupannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Dari hasil evaluasi tersebut akan diketahui tingkat kesiapan dalam penerapan e-learning
dalam proses pembelajaran. Setelah itu akan dapat dimunculkan rekomendasi-rekomendasi
untuk peningkatan dari kesiapan sistem e-learning. Faktor kesiapan dari sistem e-learning
dapat mengungkap area mana saja yang masih lemah dan perlu perbaikan dan area mana
saja yang sudah dianggap bagus dalam mendukung penerapan e-learning dalam proses
pembelajaran.
Tingkat maturity diperlukan untuk mengetahui aspek apa saja yang telah mencapai
tingkat kematangan yang baik serta aspek apa yang masih diperlukan untuk peningkatan
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
61
maturity supaya dalam penerapan sistem e-learning tidak mengalami kegagalan dan
menghabiskan banyak biaya yang sebenarnya tidak diperlukan.
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan yaitu proses pembelajaran dengan
menggunakan e-learning di Pusdiklat BPS belum berjalan secara maksimal dan terdapat
beberapa kendala karena belum adanya panduan, baik dalam hal pengelolaan dan
perencanaan e-learning tersebut. Hal ini juga diakibatkan belum adanya informasi terkait
sampai pada tingkat mana dan seperti apakah kesiapan dari widyaiswara atau fasilitator,
peserta diklat serta pihak pengelola dari e-learning itu sendiri dalam hal ini adalah
Pusdiklat BPS dalam menerapkan e-learning di lembaga diklat
Terkait permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui tingkat kesiapan juga untuk mengungkap faktor atau area mana
masih lemah dan memerlukan perbaikan dan area mana sudah dianggap berhasil
atau kuat dalam mendukung penerapan e-learning dalam proses pembelajaran di
Pusdiklat BPS
2. Membuat rekomendasi pengembangan e-learning sesuai hasil penilaian
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif menggunakan kuesioner
untuk melihat tingkat readiness (kesiapan) dan tingkat maturity (kematangan) dari
penerapan e-learning Pusdiklat BPS. Responden penelitian adalah para pegawai Pusdiklat
BPS dan peserta diklat. Jumlah sampel responden sebanyak 300 orang. Metode wawancara
yang digunakan menggunakan kuesioner secara daring (online).
Analisis model kesiapan dari suatu sistem e-learning, dibentuk dari beberapa
kerangka model dengan mengadopsi model yang telah ada, sehingga didapat suatu model
baru dalam mengukur kesiapan suatu sistem e-learning. Tahapan selanjutnya dalam
penelitian ini adalah menentukan instrumen penelitian melalui kuesioner dan tahap
berikutnya adalah menganalisis hasil pengukuran sehingga dapat dijadikan rekomendasi
dalam membuat suatu draft kebijakan dan roadmap e-learning di Pusdiklat BPS:
Gambar 1. Kerangka Penelitian
Draft Kebijakan
& Roadmap
e-learning
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
62
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Menurut Borotis & Poulymenakou (2004), e-readiness merupakan kesiapan mental
atau fisik suatu organisasi untuk suatu pengalaman atau tindakan e-learning (dalam
Priyanto, 2008). Hampir sama dengan pendapat oleh Dada (2006) yang menyatakan bahwa
e-readiness merupakan tingkat dimana masyarakat siap untuk mendapatkan keuntungan
yang bisa didapatkan melalui teknologi informasi dan komunikasi. Rosenberg (2000)
menyatakan bahwa e-readiness merupakan instrumen yang efektif untuk mengevaluasi
efektivitas e-learning (dalam Priyanto, 2008).
Berdasarkan penelitian sebelumnya, model e-learning readiness dapat
dikelompokkan menjadi beberapa bagian yang saling terkait. Dimensi yang sama
dikelompokkan menjadi satu dimensi dengan memperhatikan keterkaitannya. Framework
dimensi yang dikembangkan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Dimensi readiness
NO.
DIMENSI
FAKTOR PENILAIAN
1
Tata Kelola
Lingkungan (environmental Readiness)
Psikologi (Psychological Readiness)
Sosiologi (Sociological Readiness)
Bisnis
Manajemen
Kebijakan
2
Keuangan
Keuangan (Financial Readiness)
3
SDM
Sumber daya manusia (Human Resource
Readiness)
Keahlian teknologi (Technological Skill
Readiness)
Self Development
4
Teknologi
Peralatan (Equipment Readiness)
Infrastruktur
5
Konten
Konten (Content Readiness)
Setiap dimensi mempunyai faktor penilaian masing-masing yang mempengaruhi
keterkaitannya dengan dimensi yang dimaksud. Data yang digunakan untuk mengukur
kesiapan dari sistem e-learning berupa data kuantatif dan untuk mengukur kematangan dari
sistem e-learning menggunakan data kualitatif.
Selanjutnya adalah membuat desain instrumen penelitian terkait kelima dimensi yang
dimaksud sebelumnya. Hasil dari pengisian instrumen penelitian berupa kuesioner tersebut
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
63
akan diberikan skor untuk mengukur kesiapan sistem. Dalam kuesioner yang dibuat
terdapat 26 butir pertanyaan dari 5 dimensi penilaian kesiapan sistem e-learning, responden
diminta untuk menjawab setiap butir pertanyaan. Setiap jawaban akan diberikan skor
penilaian dengan skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat,
persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena tertentu yang ingin diketahui.
Dari hasil analisis pengukuran yang dilakukan sebelumnya, disusun menjadi sebuah
rencana strategi dan roadmap pengembangan e-learning Pusdiklat BPS. Rencana strategi
dikembangkan berdasarkan aktifitas yang terdapat di e-learning maturity model (EMM).
E-learning Maturity Model (EMM), Maturity Model yang melibatkan proses dan
kinerja yang tinggi terbukti berguna bagi individu dan organisasi untuk menilai sendiri
tingkat kematangan dari beberapa aspek yang telah ditetapkan. E-learning Maturity Model
(EMM) menyediakan sarana dimana lembaga dapat menilai dan membandingkan
kemampuan mereka untuk secara berkelanjutan mengembangkan, menyebarkan dan
mendukung e-learning di institusi. Secara garis besar proses EMM dibagi menjadi 5
kategori proses yaitu learning, development, support, evaluation dan organisation. Setiap
kategori proses terdiri dari sub proses-sub proses yakni L1 sampai L10, D1 sampai D7, S1
sampai S6, E1 sampai E3, O1 sampai O9 yang berbeda-beda untuk tiap proses. Pada setiap
sub proses terdiri dari 5 dimensi kapabilitas proses yaitu delivery, planning, definition,
management dan optimmisation. Roadmap didapat dari lima kategori yang terdapat dalam
eMM yaitu:
1. Learning (pembelajaran)
2. Development (pengembangan)
3. Support (dukungan)
4. Evaluation (evaluasi)
5. Organisation (organisasi)
Untuk tahapan pengembangan di dalam Roadmap digunakan lima dimensi eMM yaitu :
1. Delivery (penyampaian)
2. Planning (perencanaan)
3. Definition (Pendefenisian)
4. Management (Manajemen)
5. Optimation (Optimasi)
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
64
Pembahasan Peneltian
Pengukuran e-Readiness terhadap 5 dimensi ditunjukkan pada table 2 yang
dilakukan menunjukkan bahwa kondisi kesiapan e-learning di Pusdiklat BPS berada di
kondisi kesiapan yang sama yaitu kondisi 3 untuk semua dimensi yang berarti mempunyai
kesiapan tetapi masih memerlukan perbaikan.
Tabel 2. Kondisi e-Readiness Pusdiklat BPS
No.
Dimensi
Skor
Peserta Diklat
1
Tata kelola
Kondisi 3
2
Keuangan
-
3
SDM
Kondisi 3
4
Teknologi
Kondisi 3
5
Konten
Kondisi 3
TOTAL
Kondisi 3
Dari hasil pengukuran untuk maturity/ kematangan terdapat gap dari kondisi yang
diiginkan dengan keadaan sekarang. Keadaan GAP tersebut dapat dikurangi dengan
memanfaatkan aktifitas-aktifitas yang ada di eMM.
Tabel 3. GAP kondisi kematangan e-Learning Pusdiklat BPS
Dari hasil pengukuran tingkat readiness (kesiapan) dan tingkat maturity di atas,
maka akan disusun menjadi sebuah rencana strategi dan roadmap pengembangan e-
learning Pusdiklat BPS. Rencana strategi dikembangkan berdasarkan aktifitas yang
terdapat di eMM seperti pada gambar 2 berikut:
Gambar 2. Model Evaluasi Kesiapan E-Learning dalam Mencapai Maturity untuk
Membangun Roadmap dan Rancangan Kebijakan E-Learning
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
65
Komponen yang ada dalam faktor kesiapan merupakan faktor yang sesuai dengan
faktor yang ada dalam eMM. Setiap faktor kesiapan dan kematangan dari sistem e-learning
mempunyai lima dimensi untuk mencapai roadmap dan kebijakan dari e-learning yang
diharapkan
SIMPULAN
Penelitian ini merupakan kajian awal bagi pengembangan model e-learning
Readiness. Dengan adanya model evaluasi implementasi e-learning dalam suatu organisasi
diharapkan dapat memberikan potret yang memberikan gambaran aspek-aspek mana yang
terlibat dalam implementasi e-learning. Sedangkan untuk melihat tingkat maturity suatu
sistem e-learning dapat digunakan framework eMM yang bisa digunakan dalam
mengetahui aspek mana saja yang telah mencapai tingkat kematangan yang baik dan mana
yang perlu peningkatan kematangan sistem e-learning yang ada. Berdasarkan hasil
penelitian di Pusdiklat BPS, terdapat celah tingkat kematangan dari pengembangan e-
learning. Strategi pencapaian yang diharapkan diperoleh melalui aktifitas yang terdapat di
framework eMM.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ammary, J, Mohammed, Z, & Omran, F (2016). E-Learning Capability Maturity Level
in Kingdom of Bahrain.. Turkish Online Journal of Educational …, ERIC,
https://eric.ed.gov/?id=EJ1096464
Aydin, C. H. (2005). Measuring Readiness for e-Learning: Reflections from an Emerging
Country. Educational, 244 257
Chapnick, S (2000). “Are You Ready for E-Learning?”, ResearchDog?
Clayton, J, Elliott, R., Saravani, S., Greene, N., & Huntington, N. (2008) e-Learning in
Industry: A Summary of Activities (pp80): e-Learning in Industry: Tertiary e-
Learning Research Fund, Wellington
Clayton, J., Elliott, R., & Saravani, S-J. (2009). ICT PD Cluster Programme: Past Practices
and Future Trends. ICT PD Cluster Programme Research Review Project.
Wellington, New Zealand: Ministry of Education Research Division.
Chipembele, M, & Bwalya, KJ (2016). Assessing e-readiness of the Copperbelt University,
Zambia: Case study. The International Journal of Information …, emerald.com,
https://doi.org/10.1108/IJILT-12-2015-0036
Choucri. 2003. Global E-Readiness For What?
http://ebusiness.mit.edu/research/papers/177Choucri GLOBAL eREADINESS.pdf
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
66
Creswell, J. (2003) Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods
approaches, Thousand Oaks, CA: Sage.
Dahwan, AAA, & Raju, V (2021). The role of E-Readiness rank on the implementation of
E-government in Military Institutions in Yemen. Annals of the Romanian Society for
Cell …, annalsofrscb.ro, http://annalsofrscb.ro/index.php/journal/article/view/2548
Dikananda, AR, Pratama, FA, & Rinaldi, AR (2019). E-Learning Satisfaction
Menggunakan Metode Auto Model. Jurnal Informatika, core.ac.uk,
https://core.ac.uk/download/pdf/327124649.pdf
Divayana, DGH (2017). Evaluasi pemanfaatan e-learning menggunakan model CSE-
UCLA. Jurnal Cakrawala Pendidikan, journal.uny.ac.id,
https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/12853
Ðurek, V, & Reðep, NB (2016). Review on e-readiness assessment tools. Central European
Conference on …, higherdecision.foi.hr,
http://higherdecision.foi.hr/sites/default/files/Durek_Begicevic_Review%20on%20e-
readiness%20assessment%20tools.pdf
Dwiantoro, A, & Kusumandari, R (2016). Meningkatkan hasil belajar berbasis e-learning
elgg pada model project based learning. Indonesian Journal of Curriculum …,
learntechlib.org, https://www.learntechlib.org/p/209302/
Espinoza-Guzmán, J, & Zermeño, MGG (2017). Maturity model for e-learning classroom,
bimodal and virtual courses in higher education: A preliminary study. International
Journal of Web …, igi-global.com, https://www.igi-global.com/article/maturity-
model-for-e-learning-classroom-bimodal-and-virtual-courses-in-higher-
education/171637
Hadullo, K, Oboko, R, & Omwenga, E (2017). A model for evaluating e-learning systems
quality in higher education in developing countries. International Journal of …,
learntechlib.org, https://www.learntechlib.org/p/180643/
Herdianto, R (2018). Development of Higher Education E-Learning Using E-Learning
Maturity Model (eMM)., osf.io, https://osf.io/preprints/inarxiv/5t4gm/
IBM, C. (2002). The 4-tier Model: Managine the New e-Learning Curve. United States:
IBM corporation
Ilgaz, H, & Gülbahar, Y (2015). A snapshot of online learners: e-Readiness, e-Satisfaction
and expectations. The International Review of Research in Open and …, irrodl.org,
https://www.irrodl.org/index.php/irrodl/article/view/2117
Judrups, J (2015). Analysis of knowledge management and e-learning integration models.
Procedia Computer Science, Elsevier,
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050914015890
Kaur, K., and Abas, Z (2004), “An assessment of e-learning readiness at the Open
University Malaysia”, International Conference on Computers in Education,
Malbourne
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
67
Laer, H Van, Pynoo, B, DePryck, K, & ... (2017). e-Learning Maturity Model (eMM) as a
methodology to self-assess the quality of blended learning. Conference paper …,
pdfs.semanticscholar.org,
https://pdfs.semanticscholar.org/639d/28ef6201ad91622012e1771f887d42b0cabd.pd
f
M. Conková.(2013). Analysis of perceptions of conventional and E-learning education in
corporate training. Journal of Competitiveness 5(4), Available:
http://search.proquest.com/docview/1474462611?accountid=31562. DOI:
http://dx.doi.org/10.7441/joc.2013.04.05
Mahande, RD (2018). UTAUT Model: Suatu Pendekatan Evaluasi Penerimaan E-Learning
pada Program Pascasarjana., osf.io,
https://osf.io/254j7/files/osfstorage/5b0a21ee8811f300127e6b32/
Marshall, S. and Mitchell, G. 2003. Potential Indicators of e-Learning Process Capability.
Proceedings of EDUCAUSE in Australasia 2003, Adelaide, Australia
Muafi, M, Gusaptono, RH, Effendi, MI, & ... (2021). The information technology (IT)
adoption process and e-readiness to use within Yogyakarta Indonesian small medium
enterprises (SME). International Journal of …, eprints.upnyk.ac.id,
http://eprints.upnyk.ac.id/24115/
Neuhauser, Charlotte.2004. A Maturity Model: Does It Provide A Path For Online Course
Design?. The Journal of Interactive Online Learning Volume 3, Number 1, Summer
2004
Novita, A, & Andriani, A (2019). Prototipe E-learning untuk pendalaman dan evaluasi
materi pembelajaran pada SMPN 1 Samigaluh. JITK (Jurnal Ilmu Pengetahuan …,
ejournal.nusamandiri.ac.id,
http://ejournal.nusamandiri.ac.id/index.php/jitk/article/view/299
Nsamba, A (2019). Maturity levels of student support e-services within an open distance e-
learning university. International Review of Research in Open and …, erudit.org,
https://www.erudit.org/en/journals/irrodl/1900-v1-n1-
irrodl04939/1065468ar/abstract/
P. Henry. E-learning technology, content and services. Education & Training 43(4), pp.
249-255. 2001
Paulk, M. C., Curtis, B., Chrissis, M. B., & Weber, C. V. (1993). Capability Maturity
Model, Version 1.1. IEEE Software, 10 (4), 18-27
Peñafiel, M, Luján-Mora, S, Vásquez, S, & ... (2017). Application of e-learning maturity
model in higher education. EDULEARN17 …, lib.uib.kz,
http://lib.uib.kz/edulearn17/proceedings/papers/1951.pdf
Priyadarshini, A, & Bhaumik, R (2020). E-readiness of senior school learners to online
learning transition amid COVID-19 lockdown. Asian Journal of Distance Education,
asianjde.com, http://asianjde.com/ojs/index.php/AsianJDE/article/view/456
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
68
Rahmah, A, Santoso, HB, & ... (2018). E-learning process maturity level: a conceptual
framework. Journal of Physics …, iopscience.iop.org, https://doi.org/10.1088/1742-
6596/978/1/012028
Rahman, MA, Amarullah, R, & ... (2020). Evaluasi penerapan model pembelajaran e-
learning pada pelatihan dasar calon pegawai negeri sipil. Jurnal Borneo …,
samarinda.lan.go.id,
http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/656
Rahmat, ABD, Seminar, KB, & Suroso, AI (2019). Evaluasi keberhasilan e-learning dalam
perspektif sistem informasi (studi kasus Universitas Terbuka). Jurnal Aplikasi Bisnis
dan …, journal.ipb.ac.id, https://journal.ipb.ac.id/index.php/jabm/article/view/27192
Ramadan, R, Pradnyana, IMA, & ... (2019). Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi
E-Learning (E-Learning Readiness) Di Sma N 2 Singaraja Menggunakan Model
Chapnick. Jurnal Pendidikan …, ejournal.undiksha.ac.id,
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JPTK/article/view/18683
Rautenbach, Linnette. (2007). An Electronic Learning (E-Learning) Readiness Model for
Distance Education in the Workplace. PhD. Thesis, Graduate School of Education,
North-West University
Rohayani, AHH (2015). A literature review: readiness factors to measuring e-learning
readiness in higher education. Procedia Computer Science, Elsevier,
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050915020931
Rosenberg, “Whats Lies Beyond E-learning?”, Based on Beyond E-Learning: Approaches
and Technologies to Enhance Organizational Knowledge, Learning and Published by
Pfeiffer, 2006
Sadik, Alaa. (2007). The Readiness of Faculty Members to Develop and Implement E-
Learning: The Case of an Egyptian University, International Journal on E-Learning,
6 (3), 433-453
Saekow, Apitep & Dolly Samson. (2011). E-learning Readiness of Thailand’s Universities
Comparing to the USA’s Cases. International Journal of eEducation, e-Business, e-
Management and e-Learning
Sahoo, S (2020). E-readiness and perception of student teachers' towards online learning in
the midst of COVID-19 pandemic. Available at SSRN 3666914, papers.ssrn.com,
https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3666914
Santally, MI, Rajabalee, YB, Sungkur, RK, & ... (2020). Enabling continuous
improvement in online teaching and learning through e-learning capability and
maturity assessment. Business Process …, emerald.com,
https://doi.org/10.1108/BPMJ-11-2018-0335
AoEJ: Academy of Education Journal
Vol. 14 No 1 Tahun 2023
69
Sianturi, SR, & Lisum, K (2018). Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Evaluasi E-
Learning Pada Institusi Keperawatan Di Jakarta Dan Depok. Jurnal Pendidikan
Keperawatan Indonesia, researchgate.net,
https://www.researchgate.net/profile/Sondang-
Sianturi/publication/330024665_Meningkatkan_Motivasi_Belajar_Melalui_Evaluasi
_E-
Learning_Pada_Institusi_Keperawatan_Di_Jakarta_Dan_Depok/links/5c74a6ce4585
15831f6fee98/Meningkatkan-Motivasi-Belajar-Melalui-Evaluasi-E-Learning-Pada-
Institusi-Keperawatan-Di-Jakarta-Dan-Depok.pdf
Susanti, E, Harta, R, Diana, BA, & ... (2021). E-Readiness and The Effectiveness of E-
Participation in Indonesia. MIMBAR: Jurnal Sosial …, ejournal.unisba.ac.id,
http://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mimbar/article/view/6931
Swatman, T and So, T (2005), “e-Learning Readiness in the Classroom: a study of Hong
Kong primary and secondary teachers”, proceedings of the Fifth IEEE International
Conference on Advanced Learning Technologies (ICALT’05)
Tan, J, & Ludwig, S (2016). Regional adoption of business-to-business electronic
commerce in China: Role of e-readiness. International Journal of Electronic
Commerce, Taylor &Francis, https://doi.org/10.1080/10864415.2016.1122438
Utomo, AP, Mariana, N, & Rejeki, RSA (2018). Model Evaluasi Integrasi Kesuksesan Dan
Penerimaan Sistem Informasi E-Learning Universitas. ikraith-informatika,
journals.upi-yai.ac.id, http://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-
informatika/article/download/217/116
Vaezi, Seyed Kamal dan Bimar, H. Sattary I. 2009. Comparison Of E-Readiness
Assessment Models. Scientific Research and Essay Vol. 4 (5).
Wagner, N. H. (2008). Who is responsible fo E-Learning Success in Higher Education ? A
Stakeholders' Analysis. Educational Technology & Society, 26 - 36.