Page 1 of 12

Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman

(p)ISSN: 1907-2333 (e)ISSN: 2685-9211

https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/agama_islam/index

Volume 9 Nomor 1, Juni 2019, 49-60

MELAKUKAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Agung Prihantoro*

Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

aprihantoro@ucy.ac.id

Fattah Hidayat

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

fattah68@gmail.com

*Penulis koresponden

Diajukan: 2019-11-21 Diterima: 2019-11-23 Diterbitkan: 2019-11-24

Abstract: The paper explores the classroom action research as one of

research methodologies. This kind of research methodology aims to solve

learning and teaching problems and improve the quality of education.

There are four models of classroom action research, namely Kurt Lewin

model, Stephen Kemmis and Robyn McTaggart model, Margaret Riel

model, and Robert P. Pelton model. To make the models easy to apply, the

authors show an example of classroom action research framework.

Keywords: classroom action research, learning, the quality of education

Abstrak: Makalah ini mengeksplorasi penelitian tindakan kelas sebagai

salah satu metodologi penelitian. Metodologi penelitian semacam ini

bertujuan untuk memecahkan masalah belajar dan mengajar dan

meningkatkan kualitas pendidikan. Ada empat model penelitian tindakan

kelas, yaitu model Kurt Lewin, model Stephen Kemmis dan Robyn

McTaggart, model Margaret Riel, dan model Robert P. Pelton. Untuk

membuat model mudah diterapkan, penulis menunjukkan contoh

kerangka kerja penelitian tindakan kelas.

Kata kunci: penelitian tindakan kelas, pembelajaran, kualitas pendidikan

Semua kemajuan lahir dari penelitian formal atau informal.

Penelitian berangkat dari pertanyaan atau keraguan, dan keraguan

seringkali lebih baik daripada keyakinan yang berlebihan. Sebab, keraguan

mendorong kita untuk melakukan penelitian, dan penelitian mengarah

pada penemuan. Penemuan diperoleh, salah satunya, dengan penelitian

tindakan kelas (PTK, classroom action research).

PTK perlu benar-benar dilakukan, bukan sekadar didiskusikan.

Judul tulisan ini mengisyaratkan perlunya melakukan PTK, bukan hanya

Page 2 of 12

Agung Prihantoro dan Fattah Hidayat

50 Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 9, No. 1, Juni 2019

membicarakannya. Penulis berharap pembahasan PTK pada tulisan ini

adalah bagian dari pelaksanaan PTK. Diskusi ini merupakan proses belajar

untuk mencari dan mendalami pengetahuan tentang PTK.

Selanjutnya, penulis mengutip sebuah filsafat Bugis Makassar yang

berbunyi: “Sebelum berangkat, tiba dahulu. Sebelum mulai, selesai

dahulu.” Dalam konteks diskusi ini, filsafat Bugis tersebut berarti bahwa

sebelum kita berbicara berpanjang-panjang, marilah kita pikirkan dan

bayangkan terlebih dahulu hasil akhir dari PTK. Memikirkan dan

membayangkan hasil akhirnya akan menuntun kita ke arah yang

seharusnya dituju dan memfokuskan langkah-langkah kita.

Tujuan PTK

Apa hasil akhir dari PTK? Untuk mengetahui hasil akhir PTK, kita

lihat tujuan PTK. PTK bertujuan untuk mengubah sivitas akademika dan

situasi tempat penelitian berlangsung ke arah perbaikan.

1 Anne Burns

mengatakan bahwa salah satu tujuan penting PTK adalah:

to identify a ‘problematic’ situation or issue that the participants—

who may include teachers, students, managers, administrators, or

even parents—consider worth looking into more deeply and

systematically. Again, the term problematic does not mean that the

teacher is an incompetent teacher. The point is that, as teachers, we

often see gaps between what is actually happening in our teaching

situation and what we would ideally like to see happening.2

PTK, lanjut Burns, tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi

juga berperan untuk mengatasi masalah tersebut dengan melakukan

perubahan dan perbaikan. Perubahan dan perbaikan ini didasarkan pada

informasi atau—dalam istilah penelitian—data yang dikumpulkan secara

sistematis. (Data merupakan bentuk jamak dari datum dalam bahasa

Latin yang berarti “sesuatu yang diketahui”). Dengan perkataan lain,

perubahan dan perbaikan yang dilakukan dalam pendidikan ini

berlandaskan informasi yang valid, bukan sekadar prasangka, dugaan atau

perasaan. Itulah ide pokok PTK, menurut Burns.

1 Suwarsih Madya, Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Bandung: Alfabeta,

2007), 11. 2 Anne Burns, Doing Action Research in English Language Teaching

(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 2.

Page 3 of 12

Melakukan Penelitian Tindakan Kelas

Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 9, No. 1, Juni 2019 51

Jadi, hasil akhir dari PTK ialah penyelesaian masalah dan

peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran. Apakah PTK merupakan

satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah dan meningkatkan

kualitas pendidikan dan pengajaran? PTK bukanlah satu-satunya cara,

tetapi menjadi cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah

untuk mencapai tujuan atau hasil akhir tersebut. Cara lainnya adalah

penelitian jenis lain (eksperimen, studi kasus dan lain-lain), evaluasi,

inovasi, penambahan dana, peningkatan sumber daya manusia (SDM),

dan lain sebagainya.

Apa sajakah masalah-masalah pendidikan dan pengajaran? Apa

yang dimaksud dengan kualitas pendidikan dan pengajaran? Masalah- masalah tersebut bisa berada pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan

hasil pendidikan dan pengajaran. Hasil pendidikan dan pengajaran berupa

lulusan (perubahan-perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku) dan

karya siswa dan guru. Masalah-masalah ini menyangkut komponen

pendidikan, yakni siswa, guru, materi ajar, metode mengajar, metode

belajar, evaluasi, waktu, tempat, dan alat belajar.

Ihwal kualitas pendidikan dan pengajaran, rujukan yang paling

mudah adalah delapan standar pendidikan yang dibuat oleh pemerintah,

yakni standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar

pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar

pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan.3

Kualitas-kualitas ini bisa dicapai, dan masalah-masalah di atas bisa

diselesaikan, salah satunya dengan PTK.

Agar masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan lebih

komprensif, PTK bisa dilakukan secara kolaboratif oleh guru dan dosen

atau peneliti di perguruan tinggi.4 Sehingga, Guru-guru disarankan untuk

melakukan PTK kolaboratif semacam ini. Masalah-masalah pendidikan itu

3 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan.

4 Yvonne Leemana, Erna van Koevena dan Frank Schaafsmac, “Inter-professional

Collaboration In Action Research”, Educational Action Research, Vol. 26, Issue 1 (2018),

1.

Page 4 of 12

Agung Prihantoro dan Fattah Hidayat

52 Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 9, No. 1, Juni 2019

antara lain hubungan antara pendidik dan muridnya,5 pendidikan

keluarga,6 metode pendidikan dan pengajaran, output dan outcome

pendidikan.

Karakteristik PTK

Buku-buku dan tulisan-tulisan tentang PTK7 lazimnya memuat

karakteristik atau keterbatasan karena penelitian ini berbeda dengan

jenis-jenis atau metodologi-metodologi penelitian lainnya. Karena hal itu

tampak dalam karakteristik PTK, yang barangkali menjadikannya disebut

semi ilmiah.

1. Penelitinya adalah pelaku tindakan dan pengguna langsung hasil PTK.

Dalam penelitian eksperimen, peneliti juga bisa menjadi pelaku

tindakan dan pengguna langsung hasil penelitiannya; tetapi peneliti

dan pelaku tindakan bisa pula dua pihak yang berbeda. Dalam PTK,

peneliti dan pelaku tindakan merupakan orang yang sama dan

jumlahnya bisa lebih dari satu orang.

2. PTK memiliki kemudahan karena (1) berbasis pada masalah yang

dihadapi langsung di kelas oleh guru dan (2) melibatkan pihak-pihak

yang sudah familier, yaitu siswa, guru rekan sejawat, dan/atau

karyawan di lingkungan kerja sendiri.

3. Generalisasinya rendah. Kesimpulan PTK tidak bisa digeneralisasi

karena sampelnya sangat terbatas dan topiknya sangat situasional.

Dengan perkataan lain, hasil PTK belum tentu bisa diterapkan di

tempat lain. Untuk mempertinggi dan memperluas generalisasinya,

Burns menyarankan agar PTK dilakukan secara kolaboratif oleh guru- guru dari sekolah-sekolah yang berbeda.8

4. Masalah dan tindakannya berdasarkan evaluasi-diri dan refleksi diri.

Namun, PTK tetap perlu merujuk pada buku-buku dan tulisan-tulisan

(teori) yang membahas masalah yang diteliti dan tindakan yang

5 Nurul Fatihah dan Difla Nadjih, “Hubungan Pendidik Dan Terdidik Dalam Al- Quran”, Ulumuddin, Volume 7 Nomor 2 (2017), h. 73-92. 6 M. Nur Kholis Al Amin, “Keluarga sebagai Dasar Pendidikan bagi Anak”,

Insania, Jilid 18 (1) (2017), h. 49-62.

7 Misalnya, Valsa Koshy (2005); Suwarsih Madya (2007); Suharsimi Arikunto

(2010); Robert P. Pelton (2010); Karen Goodnough (2011); Endang Mulyatiningsih, tanpa

tahun. 8 Burns, Doing Action, 17.

Page 5 of 12

Melakukan Penelitian Tindakan Kelas

Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 9, No. 1, Juni 2019 53

dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Buku-buku dan tulisan- tulisan tersebut merupakan referensi yang memperkaya wawasan dan

tindakan peneliti, serta mengantisipasi kemungkinan pengulangan

penelitian yang sama.

5. Tindakannya dilakukan dalam beberapa kali siklus atau putaran.

Siklus atau putaran ini merupakan langkah-langkah pelaksanaan PTK

dan berfungsi untuk memvalidasi dan menyempurnakan tindakan

sebagai solusi atas masalah penelitian. Berapa jumlah siklus yang

harus ditempuh dalam PTK? Endang Mulyatiningsih dan Burns

mengatakan bahwa jumlah siklus tidak ditentukan karena indikator

keberhasilan diukur dari kepuasan peneliti terhadap pencapaian hasil

penelitian, yaitu perubahan perilaku subjek yang diteliti.9 Lain hanya,

Suharsimi Arikunto, salah seorang pakar senior dalam bidang

penelitian pendidikan, menyatakan bahwa siklus PTK paling sedikit

dua kali.

10

6. PTK mirip penelitian eksperimen minus kelas kontrol. PTK tidak

memiliki kelas kontrol yang dalam penelitian eksperimen berfungsi

sebagai pembanding dari kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah

kelas yang diberi tindakan baru, sedangkan kelas kontrol tidak diberi

tindakan. Hasil-hasil dari kedua kelas ini dibandingkan untuk

mengetahui pengaruh eksperimen yang dilakukan.

Metodologi

Apa perbedaan antara metode dan metodologi penelitian? Jawaban

yang sering penulis terima ketika mengajukan pertanyaan kepada teman- teman adalah “metode itu cara; metodologi itu ilmu tentang metode”.

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu tentang metode?

Jawaban yang cukup memuaskan ditulis oleh Michael Crotty.11

Menurutnya, metode menyangkut dua hal, yakni metode untuk

9 Endang Mulyatiningsih, “Metode Penelitian Tindakan Kelas”, modul Pelatihan

Pendidikan Profesi Guru Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, tanpa tahun;

Burns, Doing Action Research in English Language Teaching, 145. 10 Suwarsih Madya, Teori dan Praktik Penelitian Tindakan: Action Research

(Bandung: Alfabeta, 2007), 17. 11 Michael Crotty, The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective

in the Research Process (St. Leonards: Allen & Unwin, 1998).