Page 1 of 10

UPAYA SANTRI DALAM PEMELIHARAAN

HAFAL AL- QUR’AN DI MANU KOTA GEDE YOGYAKARTA

Ahlan Abdullah Solo

Alumni FAI UCY

Taufik Nugroho

FAI UCY

Difla Nadjih

FAI UCY

Abstrak: penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan

metode muraja‟ah dalam hafalan Al-Qur‟an di Madrasah Aliyah Nurul

Ummah Kotagede Yogyakarta (MANU) agar bisa diidentifikasi faktor

pendukung dan penghambat yang dialami oleh para santri termasuk

bagaimana mereka mengatasi factor penghambatnya. Siswa santri MANU

selalu melakukan muraja„ah hafalan Qur‟an dengan target tiap hari adalah

satu halaman tanpa menghitung berapa ayat yang dihafalkan. Metode itu

bermanfaat untuk menjaga hafalan Al-Qur‟an dan tidak mengganggu

kegiatan belajar mengajar di pesantren.

Kata kunci: muroja„ah, hafalan, santri

Abstact: The research aimed to find out the implementation of the

Muraja'ah method in memorizing Al-Qur'an in Kotagede Yogyakarta's

Aliyah Nurul Ummah Madrasah (MANU) in order to identify the

supporting and inhibiting factors experienced by the santri including how

they overcome the inhibiting factors. MANU santri students always do the

Koran memorization with a target every day is one page without counting

how many verses are memorized. The method is useful for maintaining

memorization of the Qur'an and does not interfere with teaching and

learning activities in boarding schools.

Keywords: muroja„ah, memorizing, student

A. Pendahuluan

Dalam proses hafal al-Quran, Muroja‟ah adalah proses yang amat

penting. Muraja‟ah adalah mengulang bacaan ayat atau surat yang telah

dihafalkan dengan baik.1 Penerapannya secara kontinyu akan menguatkan

hafalan, menghafal secara kontinyu itu lebih penting dan itulah hakikat

dari menghafal. Hadis yang menguatkan hal itu sebagai berikut; “Jika

1 Bahirul Amalia Herry, Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur’an (Kelompok

Penerbit Pro-U Media), Ha. 154

Page 2 of 10

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho & Difla Nadjih

132 Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018

seorang penghafal Al-Qur‟an shalat lalu ia membacanya pada malam dan

siang hari, niscaya ia akan senantiasa mengingatnya. Namun, jika ia tidak

melakukannya hal itu, niscaya ia akan melupakannya”2

Untuk itulah perlu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui

pelaksanaan metode muraja‟ah dalam menghafal Al-Qur‟an untuk

mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya

dan bagaimana mereka mengatasi factor penghambatnya. Semua itu

dilakukan di Madrasah Aliyah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta

(MANU).

Instrument pengumpulan Penelitian ini menggunakan angket

selain observasi dan wawancara mendalam. Metode angket dalam

penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan

metode muraja‟ah dalam menghafal Al-Qur‟an, faktor penukung dan

penghambat dalam pelaksaan metode muraja‟ah serta solusi untuk

mengatasi faktor penghambat pelaksanaan metode muraja‟ah dalam

menghafal Al-Qur‟an. Dengan metode wawancara, peneliti akan

melakukan wawancara dengan Kepala Madrasah Aliyah, ustadz/guru dan

siswa-siswi dalam kegiatan menghafal Al-Qur‟an dengan metode

muraja‟ah di MANU.

B. Faktor Pendukung dan Penghambat Hafal Al-Qur’an

1. Faktor Pendukung Pelaksanaan Metode Muraja‟ah dalam Menghafal

Al-Qur‟an

a. Sudah lancar membaca Al-Qur‟an

Dalam menghafal hafalan Al-Qur‟an santri-siwi tentunya harus

sudah lancar dalam membaca Al-Qur‟an. Jikalau belum lancar membaca

Al-Qur‟an maka sungguh sangat sulit ketika menghafal Al-Qur‟an, bisa

juga secara logika dapat kita katakana bahwa membaca Al-Qur‟an saja

tidak bisa apalagi menghafalkannya, sunnguh sangat ironis jikalau santri

yang mau menghafal Al-Qur‟an belum bisa membaca Al-Qur‟an dan

adapun sebagian dari kita menggunakan tulisan bahasa Indonesia.

2 Majdi Ubaid Al-Hafizh, 9 Langkah Mudah Menghafal Al-Qur’an, ( PT Aqwaf Media

Profetika, Solo 2015).hal...142

Page 3 of 10

Upaya Santri Dalam Pemeliharaan Hafal Al- Qur’an

Di MANU Kota Gede Yogyakarta

Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018 133

Berdasarkan angket yang penulis bagikan santri pada umumnya sebagian

besarsiwa-siswi sudah mampu membaca Al-Qur‟an.

b. Memiliki Sifat Sabar

Sabar merupakan kunci kesuksesan untuk meraih cita-cita,

termasuk cita-cita dan keinginan untuk menghafal Al-Qur‟an. Kesulitan

akan dihadapi jika tidak mempunyai sifat sabar dalam menghafal Al- Qur‟an. Oleh karena itu, seorang hafidz tidak boleh mengeluh dan patah

semangat ketika mengalami kesulitan dalam proses bermuraja‟ah hafal Al- Qur‟an. Dibawah ini adalah hasil angket tentang kesabaran seorang ketika

bermuraja‟ah hafalan Al-Qur‟an.

c. Motivasi dari orang-orang tendekat seperti Ustadz/guru

Orang yang menghafal Al-Qur‟an, pasti sangat membutuhkan

motivasi dari orang-orang terdekat, Ustadz/Ustadzah tentunya. Dengan

adanya motivasi, ia akan lebih bersemangat dalam menghafalkan Al- Qur‟an. Tentunya, hasil yang diperoleh akan berbeda jika motivasi yang

didapatkan kurang. Berdasrkan angket yang dibagi, dibawah ini adalah

hasil angket tentang motivasi Ustadz/Ustadzah, sebagai berikut :

d. Muraja‟ah Hafalan Al-Qur‟an dalam Shalat Sunnah

Diantara penghafal Al-Qur‟an ada memproses hafalannya secara

spesifik, yakni tidak ada kesibukan lain kecuali menghafal Al-Qur‟an saja.

Ada pula yang menghafal disamping juga melakukan kegiatan-kegiatan

lain. Seorang penghafal harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu

yang dianggap sesuai dan tepat baginya untuk menghafal Al-Qur‟an. Para

psikolog mengatakan, bahwa manajemen waktu yang baik akan

berpengaruh besar terhadap pelekatan materi pada ingatan, utamanya

dalam hal ini bagi mereka yang mempunyai kesibukan lain. Dalam

memenej waktu yang. Dibawah ini adalah hasil angket tentang meluang

kan waktu untuk muraja‟ah hafalan Al-Qur‟an dalam shalat sunnah.

2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Metode Muraja‟ah dalam Menghafal

Al-Qur‟an di MANU Kotagede Yogyakarta

a. Tidak mendapatkan motivasi dari orang-orang terdekat(orang tua atau

keluarga)

Page 4 of 10

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho & Difla Nadjih

134 Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018

Orang yang menghafal Al-Qur‟an, pasti sangat membutuhkan

motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga dan sanak

kerabat tentunya. Dengan adanya motivasi, ia akan lebih bersemangat

dalam menghafalkan Al-Qur‟an.

b. Belum Istiqamah

Seorang hafidz akan mengalami kesulitan dalam menjalani proses

menghafal Al-Qur‟an, tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali

orang yang memiliki keistiqamahan yang tinggi dan tekad yang kuat serta

keinginan yang membaja dan layaknya orang yang siap mencapai sebuah

kesuksesan. Dibawah ini adalah hasil angket tentang sikap keistiqamah

dan kesungguh-sungguhan santri dalam muraja‟ah hafalan Al-Qur‟an.

Hafal Al-Qur‟an merupakan anugerah agung yang harus disyukuri.

Supaya anugerah ini tidak dicabut oleh Allah, termasuk salah satu cara

mensyukurinya adalah dengan menjaga hafalan tersebut. Untuk menjaga

hafalan itu dilakukan dengan cara menggunakan metode muraja‟ah, yaitu

sering mengulang yang sudah pernah dihafalkan. Metode mengulang ini

bisa dilaksanakan sendiri, ataupun dengan temannya. Metode ini sangat

membantu, sebab terkadang kalau mengulang sendiri terdapat kesalahan

yang tidak disadari. Akan berbeda jika melibatkan teman, kesalahan- kesalahan yang terjadi akan mudah diketahui dan kemudian diperbaiki

dibawah ini adalah hasil angket tentang keistiqamahan dalam muraja‟ah.

c. Meluangkan waktu setelah shalat fardhu untuk muraja‟ah hafalan Al- Qur‟an

Diantara penghafal Al-Qur‟an ada memproses hafalannya secara

spesifik, yakni tidak ada kesibukan lain kecuali menghafal Al-Qur‟an saja.

Penghafal harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu yang

dianggap sesuai dan tepat baginya untuk menghafal Al-Qur‟an.

Para psikolog mengatakan, bahwa manajemen waktu yang baik

akan berpengaruh besar terhadap pelekatan materi pada ingatan,

utamanya dalam hal ini bagi mereka yang mempunyai kesibukan lain.

Dibawah ini adalah hasil angket tentang meluang kan waktu untuk

muraja‟ah hafalan Al-Qur‟an setelah shalat fardhu.

d. Malas bermuraja‟ah

Page 5 of 10

Upaya Santri Dalam Pemeliharaan Hafal Al- Qur’an

Di MANU Kota Gede Yogyakarta

Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018 135

Rasa malas merupakan hambatan yang paling banyak ditemui para

calon Hufadz di saat meghafal Al-Qur‟an. Sifat ini seakan-akan sulit

dihilangkan dari seorang penghafal Al-Qur‟an. Begitu juga santri

Madrasah Nurul Ummah kebanyakan pada saat akan muraj‟ah, santri ini

merasakan sifat yang malas, sehingga sifat ini sangat menghambat

perjalanan seorang calon tahfidz yang akan menambah ataupun

memuraja‟ah (mengulang) hafalannya. Hal ini sama halnya yang

dirasakan salah satu santri MANU. Ini dalah ungakapan dari Surya Dwi

Saputra “Aku malas banget mas, jika aku mau muraja‟ah hafalan,ku,

apalagi kalau mau memuraja‟ah (mengulang) hafalanku yang sudah

pernah aku hafalkan lupa lagi, rasa malas itu tiba-tiba muncul dihatiku “.

Hal yang sama diungkapkan oleh Khairatul Faizah “Untuk

menghafal ataupun memuraja‟ah (mengulang) hafalan, saya tergantung

dengan suasana hati mbak ida, jika suasana hati sedang tenang saya

semangat untuk menghafal, tapi kalau hati sedang nggak enak, saya males

banget mau menghafal Al-Qur‟an.

e. Ayat-ayat yang sudah dihafalkan lupa lagi

Salah satu faktor penghambat yang dialami oleh seorang penghafal

Al-Qur‟an yaitu lupa lagi ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Sebagaimana

problem ini yang dialami oleh santri Madrasah Nurul Ummah santri yaitu

sebagaimana yang diungkapkan oleh Surya Dwi Saputra kepada peneliti

bahwa: “Iya mas, saya sudah muraja‟ah tapi saya ngulang lagi ternyata

masih banyak ayat yang lupa mas. Mungkin hal itu memang dari

kesalahan saya sendiri lawong menghafal Al-Qur‟an itu bukan hal yang

mudah kog saya tidak muraja‟ah berkali-kali ya begitu lah mas hasilnya”.

Hal senada diungkapkan oleh Laili Khafifah Fauziah kepada peneliti

bahwa: “Saya kadang-kadang malas mas, jenuh dan kadang-kadang marah

pada diri saya sendiri mas, karena ayat-ayat yang sudah hafal kok lupa lagi

padahal saya sering muraja‟ah mas. Hal senada juga disampaikan oleh

Ustadzah sri Wahyu Ningsih, bahwa : ketika setoran hafalan santri-santri

sering lupa dari hafalan Al-Qur‟an yang sudah dihafalkan, tapi kalau saya

tegur dan saya sambung ayat yang tadinya lupa pasti santrinya langsung

Page 6 of 10

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho & Difla Nadjih

136 Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018

ingat dan langsung melanjutkan hafalannya, kebanyakan santri sering

seperti itu.

C. Upaya Santri dalam Pemeliharaan Hafalan Al-Qur’an

1. Motivasi dari orang tua atau keluarga

Orang yang menghafal Al-Qur‟an, pasti sangat membutuhkan

motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga dan sanak

kerabat tentunya. Dengan adanya motivasi, ia akan lebih bersemangat

dalam menghafalkan Al-Qur‟an. hasil yang diperoleh akan berbeda jika

motivasi yang di dapatkan kurang, hal ini bisa diketahui melalui ungkapan

Surya Dwi Saputra tentang upaya selalu temotivasi : “Saya jarang

dimotivasi oleh bapak atau ibu saya, mas, saya senang jadi hafizd qur‟an

mas yang sering memotivasi saya adalah sepupuh saya yang lagi mondok.

Meskipun orang tua saya jarang memotivasi saya, saya tetap semangat

mas Karna saya sering berteman dengan teman-teman yang hafalannya

udah banyak, jadi itulah yang membuat saya jadi semangat”. Sebagaimana

juga yang telah dikatakan oleh Laili Khofiofah Fauziah : “Saya hanya

memotivasi diri saya sendiri mas dengan cara sering melihat teman-teman

saya yang hafalannya sudah banyak, itulah yang membuat saya

termotivasi. Dalam hati saya, teman-teman saya bisa mengapa saya tidak

bisa.”

Saat muraja‟ah hafalan Al-Qur‟an, akan mengalami masalah yang

monoton, gangguan, dan cobaan dari berbagai arah. Terkadang ujian ini

membuat para penghafal bisa berpaling dari hafalannya.oleh karena itu

harus adanya motivasi dari orang tua atau keluarga, Sebagaimana yang

disampaikan Ustadzah Triwahyu Ningsih : Ada 2 faktor yang

mempengaruhui hafalan, yaitu motivasi guru dan orang tua serta doa

sebagai faktor nonteknis. Sedangkan adanya buku prestasi menjadi faktor

pendukung secara teknisnya.

2. Upaya untuk meluangkan waktu setelah shalat fardhu untuk muraja‟ah

hafalan Al-Qur‟an

Diantara penghafal Al-Qur‟an ada memproses hafalannya secara

spesifik, yakni tidak ada kesibukan lain kecuali menghafal Al-Qur‟an saja.

Penghafal harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu yang

Page 7 of 10

Upaya Santri Dalam Pemeliharaan Hafal Al- Qur’an

Di MANU Kota Gede Yogyakarta

Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018 137

dianggap sesuai dan tepat baginya untuk menghafal Al-Qur‟an diantaranya

selepas shalat fardhu 5 waktu. psikolog mengatakan, bahwa manajemen

waktu yang baik akan berpengaruh besar terhadap pelekatan materi pada

ingatan, utamanya dalam hal ini bagi mereka yang mempunyai kesibukan

lain. Sebagaimana yang dukatakan oleh Surya Dwi Saputra sebagai berikut

ini : “Saya jarang sekali mas, meluangkan waktu pada saat setelah sahalat

Fardhu 5 waktu, padahal sangat apik mas, kalau kalu saya luangkan

sebentar untuk menghafal atau muraja‟ah 5-6 ayat. Dan yang saya lakukan

isnya Allah bermuraja‟ah 5-6 ayat setelah shalat, itu juga cuma sebentar

kok mas.” Senada juga yang dikatakan oleh Khairatul Faizah, berikut ini :

“Saya jarang muraja‟ah mas, apalagi setelah shalat fardhu, sebenarnya

bagus si mas, kalau setelah shalat saya hafalkan atau muraja‟ah 3 atau 4

ayat saja, andaikan 3 kali saja sudah lumayan, kalau dikalikan dengan 5

shalat wajib sehari semalam berarti 15 ayat sehari mas.” Sebagaiman juga

yang disampaikan oleh Ustasza triwahyu Ningsih kepada peneliti bahwa : “

santri kadang-kadang kebingungan mengatur waktu untuk untuk

menghafal atau muraja‟ah hafalan Al-Qur‟an. Itu yang membuat santri

tidak konsisten dalam menghafal atau muraja‟ah, tapi sekarang kami

sudah punya jadwal khusus untuk santri yang menghafal Al-Qur‟an.

3. Upaya untuk Istiqamah

Seorang hafidz akan mengalami kesulitan dalam menjalani proses

menghafal Al-Qur‟an, tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali

orang yang memiliki keistiqamahan yang tinggi dan tekad yang kuat serta

keinginan yang membaja dan layaknya orang yang siap mencapai sebuah

kesuksesan. Dibawah ini adalah upaya untuk tetap istiqamah dan

kesungguh-sungguhan yang diungkapkan oleh Laili Khofifah Fauziah :

“Sekarang saya jarang istiqamah mas, sebelumnya saya sangat istiqamah,

saya biasanya menghafalkannya pagi ini sekitar setengah lembar dan

sepulang sekolah muraja‟ah hafalan yang tadi saya hafal tadi pagi

kemudian entar malan muraja‟ah lagi”. Khairatul Faizah juga mengatakan

: “Saya gak pernah istiqamah mas, saya kadang muraja‟ah kadang-kadang

gak mas, agar saya selalu istiqamah adalah harus ada peraturannya hari

Page 8 of 10

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho & Difla Nadjih

138 Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018

ini umpamanya harus hafal 5 atau 6 ayat begitu kan apik mas, jadi saya

bisa konsisten.”

4. Upaya mengatasi rasa malas

Salah satu faktor penghambat yang dialami oleh seorang penghafal

Al-Qur‟an yaitu lupa lagi ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Sebagaimana

problem ini yang dialami, untuk mengatasinya sebagai berikut yang

disampaikan oleh Laili Khofifatul Fauziah kepada peneliti bahwa: “Saya

kalau saat malas muraja‟‟ah ialah saya selalu berpindah tempat atau

ngobrol ma temen-teman sebentar kemudian saya muraja‟ah lagi atau

seumpamanya di tempat yang sepi, agar tidak jenuh, kalau jenuh mas

pasti aku malas mau muraja‟ah”. Hal senada diungkapkan oleh Khairatul

Faizah kepada peneliti bahwa: “Saya pernah merasa malas mas, saat aku

hafal tapi gak masuk-masuk juga mas, jadi jenuh dan kadang-kadang

marah pada diri sendiri karena hafalan yang dihafalkan lupa lagi”.

5. Upaya mengatasi ayat-ayat yang sudah dihafalkan lupa lagi

Salah satu faktor penghambat yang dialami oleh seorang penghafal

Al-Qur‟an yaitu lupa lagi ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Sebagaimana

problem ini yang dialami oleh santri yaitu sebagaimana yang diungkapkan

oleh Surya Dwi Saputra : “Sering lupa dengan ayat Al-Qur‟an yang sudah

dihafal tapi yang saya lakukan adalah saya sering membacanya saat shalat

sunnah seperti shalat sunnah rawatib dan saya sehari kadang-kadang

muraja‟ahnya sekitar satu juz”. Senada juga apa yang disampaikan Laili

Khofifah Fauzia kepada peneliti bahwa : “Saya sering lupa mas, tapi saya

terus muraja‟ah karena saya sudah berusah dengan sekuat dan semampu

saya, Insya Allah, Allah akan memberi yang terbaik untuk saya dan

hasilnya lumayan memuaskan buat saya mas.”

D. Penutup

Siswa santri Madrasah Aliyah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta

selalu melakukan hafalan Qur‟an dengan target tiap hari adalah satu

halaman tanpa menghitung berapa ayat yang dihafalkan. Metode

muraja‟ah dimaksudkan untuk menjaga hafalan Al-Qur‟an yang sudah

dihafalkan oleh para siswa santri tidak hilang. Kegiatan itu tidak

mengganggu kegiatan belajar mengajar di pesantren.

Page 9 of 10

Upaya Santri Dalam Pemeliharaan Hafal Al- Qur’an

Di MANU Kota Gede Yogyakarta

Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018 139

Muraja‟ah dengan Melihat Al-Qur‟an dapat bermanfaat membentuk

keluwesan lidah dalam membaca, sehingga terbentuk suatu kemampuan

spontanitas pengucapan. Selama proses belajar, penguacapa bersuara

secara tidak langsung telah melatih mulut dan pendengarannya dalam

melafalkan serta mendengarkan bacaannya sendiri. Ia pun akan akan

bertambah semangat dan terus berupaya melakukan pembenaran- pembenaran ketika terjadi salah pengucapan. Murajaahnya kepada ustadz

atau ustadzah juga menjadi salah satu adalah cara untuk mengetahui

hasilnya, apakah ia sudah lancar dalam menghafal atau belum.

E. Daftar Pustaka

Abdurrachman Mas‟ud dkk, Dinamika pesantren dan madrasah,

Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.

Herry, Bahirul Amalia Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur’an,

Yogyakarta: Pro-U Media, 2012.

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang :Toha

Putra, 1989

Gus Arifin dan Suhendri Abu Faqih, Al-Qur’an Sang Mahkota Cahaya.

Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2010

Al-Hafizh, Majdi Ubaid. 9 Langkah Mudah Menghafal Al-Qur’an, Solo:

PT Aqwaf Media Profetika, 2015

Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, Al-Qur’an Sumber Hukum Islam

Yang Pertama, Bandung: Pustaka, 1989

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: alfabeta, 2012.

Nuwabuddin, Abd Ar-Rabb. Metode Praktis Hafal Al-Qur’an, Jakarta:

Pustka Firdaus, 1991.

Sutrisno Hadi, Metodelogi Research, Yogyakarta: Andi Offset, 1997

Ash-shiddieqy, TM Hasbi. Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Semarang: PT

Pustaka Rizki Putra, 1997

Page 10 of 10

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho & Difla Nadjih

140 Jurnal Ulumuddin Volume 8, Nomor 2, Desember 2018