Page 1 of 14

IMPLEMENTASI SOROGAN DALAM

PEMBELAJARAN AL-QUR’AN PADA

MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH

Muhammad Musodiqin

Pengasuh Madrasah Diniyah Takmiliyah Faidlul Barokat

Difla Nadjih

FAI UCY

Taufik Nugroho

FAI UCY

Abstract: Sorogan method is the main learning strategy in Islamic

boarding schools, including when teaching the Koran. The implementation

was not very different from the Madrasah Diniyah (Primary School

established by the ministry of religious affairs in 1964 to study only Islamic

religious sciences), especially in the Diniyah Takmiliyah Faidlul Barokat

Madrasah (MDTFB). The results of the study indicate that there have been

efforts made by caregivers to overcome the inhibiting factors of the

Koran's learning and to consider its supporting factors. Suggestions

intended for each student, parent guardian and caregiver teacher can then

be given.

Keywords: Learning, al-Quran, sorogan method, madrasah diniyah

takmiliyyah

Abstrak: Metode sorogan adalah strategi pembelajaran pokok dalam

pembelajaran di pesatren termasuk saat pengajaran al-Quran.

Pelaksanaannya ternyata tidak berbeda jauh di Madrasah Diniyah,

terutama di MDTFB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ada

upaya-upaya yang dilakukan guru pengasuh untuk mengatasi factor

penghambat pembelajaran al-Quran dan mempertimbangkan faktor

pendukungnya. Saran-saran yang ditujukan untuk masing-masing siswa

santri, wali orang tua dan guru pengasuh kemudian bisa diberikan.

Kata Kunci: Pembelajaran, al-Quran, metode sorogan, madrasah diniyah

takmiliyah

A. Pendahuluan

Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) merupakan lembaga

pendidikan non formal keagamaan yang dibawah binaan kementrian

agama RI. Kehadirannya merupakan bentuk dari kontribusi masyarakat

yang secara mandiri berpartisipasi aktif dalam menjalankan kegiatan PAI

Page 2 of 14

M. Musodiqin, Difla Nadjih, T. Nugroho

60 Jurnal Ulumuddin Volume 7, Nomor 1, Juni 2017

demi terwujudnya generasi beriman, berilmu dan berakhlaqul karimah1

dan didalamnya mengajarkan Ilmu-ilmu agama yang diselenggarakan

sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat.2

Pada hakekat tujuan didirikan Madrasah Diniyah adalah untuk

memberikan ilmu-ilmu agama yang cukup kepada para santri. Eksistensi

Madrasah Diniyah semakin dibutuhkan tatkala jebolan pesantren yang

menyelenggarakan pendidikan formal (sistem kurikulum nasional)

ternyata kurang mumpuni dalam penguasaan agama.3

Kehadiran Madrasah Diniyah Takmiliyah Faidlul Barokat di Dusun

Kaliwinong Lor Desa Srikayangan Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon

Progo D.I Yogyakarta, ini disambut oleh masyarkat dengan positif dan

antusiasme yang tinggi terbukti banyak wali santri yang menitipkan putra

putrinya untuk ngaji/ belajar ilmu agama di madrasah diniyah, terutama

dalam penguasaan kemahiran membaca Al-Qur’an.

Peran guru untuk membimbing para santri supaya dalam

penguasaan pembelajaran Al-Qur’an dan mencetak santri yang fasih

dalam membaca Al-Qur’an ini sangat diperlukan.4 kemudian metode atau

cara-cara untuk mengantarkan santri supaya dapat membaca Al-Qur’an

dengan benar dan fasih itupun sangat diperlukan pula, maka sistem yang

digunakan di MDTFB adalah menggunakan salah satu dari metode

tradisional yaitu metode sorogan.

Sorogan artinya belajar secara individu dimana seorang santri

berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal antara

keduanya.

5 Dalam pembelajaran pesantren, Metode itu termasuk

pembelajaran kitab secara individual, dimana setiap santri menghadap

1 Keputusan Dirjen Pendidikan Islam no. 3201 Th. 2013, Pedoman Standar

Pelayanan Madrasah Diniyah Takmiliyah. hal. 1. 2 Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta : PT.Grafindo Persada,

1999), hal. 39.

3 Amin Haedari dan Ishom El-Saha, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan

Madrasah Diniyah, (Jakarta : Diva Pustaka. 2004), hal. 91; Taufik Nugroho, “Analisis

Manajemen Pendidikan Terhadap Kualitas Madrasah Indonesia,” Jurnal Ulumuddin

Volume 6, Nomor 2, Desember 2016, h. 80-87

4 Bimbingan Cara Mengajar Thoriqoh Baca Tulis Dan Menghafal Al-Qur’an

Yanbu’a (Kudus : Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, 2004), hal. 2.

5 Armai Arief, Pengantar ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta :

Ciputat Press, 2002). hal. 110-200.

Page 3 of 14

Implementasi Sorogan Dalam Pembelajaran Al-Qur’an

Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah

Jurnal Ulumuddin Volume 7, Nomor 1, Juni 2017 61

secara bergiliran kepada kyai atau pembantunya untuk membaca,

menjelaskan, dan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya.6

B. Metode penelitian

Subyek penelitian kini adalah pelaksana pembelajaran al-Quran di

MDTFB, yaitu 1 guru dan 2 pengurus. Data dikumpulkan dengan alat

observasi, dokumentasi dan interview. analisis data dilakukan secara

diskriptif kualitatif, yaitu penggambaran dengan data-data atau kalimat.7

Maksudnya adalah setelah data hasil observasi, interview, dokumentasi

penulis kumpulkan lalu disusun berdasarkan urutan pembahasan yang

telah direncanakan. Selanjutnya penulis melakukan interpretasi

secukupnya dalam usaha memahami kenyataan yang ada untuk menarik

kesimpulan.

C. Pelaksanaan Pembelajaran Sorogan

Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an di MDTFB menggunakan

metode sorogan. Prosesnya sudah berjalan kurang lebih selama 2 tahun.

Metode ini diambil karena dengan pertimbangan bahwa metode ini

dianggap paling berhasil dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Sebagai rujukannya seperti apa yang telah dilaksanakan di pondok

pesantren Tahfidzul Qur’an Roudlotul Jannah di Kudus Jawa Tengah

membuktikan hal tersebut. Salah satu gurunya, ibu Purwanti, pernah

mendalami ilmu tersebut di pesantren tersebut. Pengalaman berharga

beliau diupayakan untuk ditrasfer di MDTFB.

Metode sorogan, sebagaimana dikatakan oleh ibu Purwanti, adalah

model pembelajaran Al-Qur’an dengan cara setoran. Yang dimaksud

dengan setoran adalah para santri melaporkan kemampuannya baik

membaca teks atau hafalan kepada guru tentang kemajuan hafalannya.

Guru mencermati hasil belajar santri satu persatu, yang dicermati adalah

tajwidnya dan kelancaran membacanya. Perlu ditambahkan bahwa

metode sorogan telah memberikan hasil yang baik dalam pembelajaran Al-

6 Abdullah Aly. Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Yogyakarta :

Pustaka Pelajar, 2011), hal. 165.

7 Sutrisno Hadi, Metodologi Research II ( Yogyakarta : Andi Offset, 1992 ), h. 136.