Page 1 of 14
PENGEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL
BAGI SISWA KELAS AWAL MADRASAH IBTIDAIYYAH
PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Rozib Sulistiyo
Kepala MI al-Islam Tonoboyo, Magelang
Mahasiswa Program Magister Pendidikan Islam
Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
mitonoboyo@gmail.com
abstract: In order to reinforce the importance of emotional development
students in the early MI class were studied in the literature about the use of
story methods in learning Indonesian language. Some attitudes and behaviors
can be developed in strengthening the EQ of early grade MI students. For this
reason, teachers are advised to use the surrounding environment as a learning
media that is contextual during their stories on Indonesian language subjects.
Keywords: emotional intelligence, the initial class of MI, Indonesian language
abstrak: Guna mempertegas arti penting pengembangan emosional siswa
kelas awal MI dikaji dalam literature tentang pemanfaatan metode cerita dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa sikap dan perilaku dapat
dikembangkan dalam penguatan EQ siswa MI kelas awal. Untuk itu guru
disarankan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran
yang bersifat kontekstual selama berkisah pada mata pelajaran bahasa
Indonesia.
Kata kunci: kecerdasan emosional, kelas awal MI, bahasa Indonesia
A. Pendahuluan
Dewasa ini kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) anak
mulai telah memasuki fase pengembangan setelah banyak kajian yang
memperkuat arti pentingnya bagi masa depan. Mubaayid menegaskasn bahwa
EQ telah terbukti secara ilmiah memegang peranan penting dalam mencapai
keberhasilan di segala bidang.1
Pionirnya, Coleman, mengemukakan kecerdasan intelektual (IQ) hanya
menyumbang 20% bagi kesuksesan sedangkan 80% adalah sumbangan faktor
kekuatan-kekuatan lain, di antaranya adalah kecerdasan emosional atau EQ,
yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol
desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati, serta kemampuan
1 Makmun Mubayidh, Kecerdasan Dan Kesehatan Emosional Anak (Depok: Pustaka Al
Kautsar, 2007), h. 202.
Page 2 of 14
Rozib Sulistiyo
46 Jurnal Ulumuddin Volume 7, Nomor 1, Juni 2017
bekerja sama.2 Cooper dalam Mubayid juga menjelaskan bahwa hati adalah
sumber keberanian dan semangat, interigitas serta komitmen. Hati adalah
sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita untuk melakukan
pembelajaran.3
Di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang memegang peranan
amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Hal ini ditandai
dengan kemampuan seseorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri
maupun diri orang lain, memahamiperasaan terdalam orang –orang di
sekelilingnya, mengikuti aturan – aturan yang berlaku, ini semua merupakan
kunci keberhasilan bagi seoarang anak di masa depan .
Ovi Arieska dkk bahkan telah menjelaskan teori EQ dari Daniel Goleman
itu tidak jauh dari perspektif pendidikan Islam, bahkan lebih mendalam. Islam
telah meberikan tuntunan dalam perkembangan emosi dapat dilatih sejak anak
dalam kandungan. Disitu, calon bayi sudah dapat mendengar dan merasakan.
Dan oleh sebab itu, kondisi emosional ibu yang sedang hamil juga menentukan
perkembangan emosi anak untuk masa yang akan datang. Kemudian pada
perkembangan anak usia dini, masa dalam kandungan dikenal dengan masa
prenatal, atau masa dalam kandungan. Nilai agama selanjutnya tepat pada saat
anak lahir sudah dapat dilakukan yaitu dengan mengazankan dan
mengiqamatkan anak yang baru lahir. Masa golden age sudah mulai sejak anak
lahir.4
Oleh karena itu, Bagi siswa kelas awal madrasah ibtidaiyyah (MI),
pengembangan EQ semakin terasa. Dari sisi tahapan perkembangan, Posisinya
di awal-awal pendidikan dasar masih membutuhkan dorongan dan motivasi
untuk bisa berdampak terhadap emosinya. Mereka masih dalam tahap
perkembangan akhir periode di usia dini, kebutuhan semakin terasa. Sujud
dalam Imroatun menegaskan, Sudjud mengkategorikan masa-masa awal anak
memperoleh pendidikan formal itu sebagai masa strategis sekaligus kritis. Masa
ini disebut strategis karena masa ini merupakan masa peka untuk memperoleh
2 Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Umum,
2000), h. 44.
3 Ibid.
4 Ovi Arieska, Fatrica Syafri, Zubaedi,” Pengembangan Kecerdasan Emosional
(Emotional Quotient) Daniel Goleman Pada Anak Usia Dini Dalam Tinjauan Pendidikan Islam,”
Al Fitrah, Journal Of Early Childhood Islamic Education, Vol.1 No.2 Januari 2018, h. 103-116
Page 3 of 14
Pengembangan Kecerdasan Emosional Bagi
Siswa Kelas Awal MI Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia
Jurnal Ulumuddin Volume 7, Nomor 1, Juni 2017 47
keberhasilan dalam kehidupannya dan dikatakan masa kritis apabila tidak
memperoleh stimulan dan perlakuan yang tepat, maka perkembangan anak
tersendat dan tidak sesuai tahapan perkembangannya.5
Di kesempatan lain, Imroatun juga menegaskan berdasar penjelasan
Mansur.6 Karena keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, periode
anak usia dini terbagai dalam empat bagian, yaitu: (1) masa bayi lahir sampai 12
bulan, (2) masa toddler (batita) usia 1-3 tahun, (3) masa prasekolah usia 3-6
tahun, dan (4) masa kelas awal SD 6-8 tahun.
Dari sisi kelembagaan, MI setingkat dengan sekolah dasar namun berciri
agama Islam. Kekhasan tersebut perlu ditekankan. Para guru kelas perlu
memperhatikan aspek kesabaran dalam emosi anak sesuai tuntunan Quran
seperti dalam al-Ahqaf [46]: 35 yang berbunyi;7
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai
keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu
meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka
melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah- olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.
(Inilah) suatu pelajaran yang cukup,maka tidak dibinasakan
melainkan kaum yang fasik.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas awal MI, maka
seyogyanya tetap konsisten dalam pengembangan EQ anak. Bahasa Indonesia
adalah identitas kebangaan yang tidak dibisa ditinggalkan dan harus dikuasai
oleh warganya termasuk yang muslim. Siswa MI menjadi bagian dari keharusan
itu. Mata pelajarannya menjadi sarana pengembangan EQ Islam yang
menumbuhkan semangat persatuan kebangsaan.
Melalui kajian literature dirumuskan tentang alternative pengembangan
EQ melalui pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode pentingnya berkaitan
dengan cerita dan kisah sehingga bisa menjadi cara yang harus digali lebih
dalam. Dengan demikian tujuan pembelajaran bisa dicapai.
5 Imroatun, “Bermain Sebagai Metode Pembelajaran Utama Anak Raudhatul Athfal” aṣ- ṣibyan, Jurnal Pendidikan Guru Raudlatul Athfal Vol.1, No.1, Tahun 2016, h. 40-48; Setiani
dan Difla Nadjih, “Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Agama Islam”
Jurnal Ulumuddin Volume 6, Nomor 2, Desember 2016, h. 124-135. 6 Imroatun,”Alternatif Media Pengembangan Literasi Baca Tulis Berbahasa Nasional
bagi Siswa Raudlatul Athfal” Al Hikmah Proceedings on Islamic Early Childhood Education,
Volume 1, April 2018, h. 103-112. 7 Mubayidh, Kecerdasan Dan, h. 202