AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 81-87
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
81
10.47200/aossagcj.v6i1.3819 aossagcj@gmail.com
Analisis Persepsi Masyarakat terhadap Urgensi
Konservasi Hutan Mangrove di Gane Barat
Kabupatan Halmahera Selatan
Munarsi Tauhid
a,1
, Ardiyana Muhammad
b,2
, Habbab Syaban
c,3
a,c
Program Studi Tehnik Lingkungan, Fakultas Tehnik, Institut Teknologi Gamalama, Indonesia
b
Program Studi Pendidikan IPS, FIP, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Indonesia
*
Corresponding Author: ardiyanam93@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Maret 2026
Direvisi: 27 April 2026
Disetujui: 28 Mei 2026
Tersedia Daring: 30 Juni 2026
Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki fungsi
ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat penting, namun
keberadaannya di Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan,
menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas pemanfaatan lahan dan
rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi.
Persepsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan upaya konservasi karena memengaruhi sikap dan
partisipasi dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap urgensi
konservasi hutan mangrove di Kecamatan Gane Barat, Kabupaten
Halmahera Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode survei. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat
57.7% pengetahuan Masyarakat sangat baik tentang hutan mangrove,
dan terdapat 61.9% Masyarakat yang sangat setuju jika terdapat
kerusakan di sekitar hutan mangrove yang berada di Gane Barat,
penebangan hutan mangrove dapat merusak keseimbangan lingkungan
di kecamatan Gane Barat Kabupatan Halmahera Selatan, alifungsi lahan
yang dapat mengurangi manfaat mangrove bagi Masyarakat sekitar,
sampah dan limbah dapat mempengaruhi pertumbuhan mangrove, dan
penanganan kerusakan harus segera ditangani. Selaian itu terdapat
41.2% Masyarakat yang sangat setuju dan 30.9% Masyarakat yang setuju
dengan kebijakan konservasi. Berdasarkan dengan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa dari segi pengetahuan Masyarakat di desa Doro,
Koititi, dan Cango sudah sangat baik, namun masih terdapat kerusakan
akibat alifugnsi lahan yang harus segera diatas dan didukung dengan
kebijakan oleh pemerinta untuk mengurangi laju kerusakan di masa yang
akan datang mengingat hitan mangrove mempunyai banyak manfaat
seperti mencegah terjadinya abrasi Pantai, gelombang pasang, dan
terjangan tsunami.
Kata Kunci:
Persepsi
Mayarakat
Konservasi
Hutan
Mangrove
ABSTRACT
Keywords:
Perception
Public
Conservation
Forests
Mangrove
Mangrove forests are coastal ecosystems that serve vital ecological, social,
and economic functions; however, their existence in Gane Barat District,
South Halmahera Regency, faces various threats stemming from land-use
activities and low public awareness regarding the importance of
conservation. Public perception is a key factor in the success of
conservation efforts, as it influences attitudes and participation in
preserving the mangrove ecosystem. This study aims to analyze public
perception regarding the urgency of mangrove forest conservation in Gane
Barat District, South Halmahera Regency. A quantitative approach
utilizing a survey method was employed. The results indicate that 57.7% of
the community possesses excellent knowledge of mangrove forests.
Furthermore, 61.9% of respondents strongly agreed on several points: that
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
82
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
damage to the mangrove forests in Gane Barat disrupts the local
environmental balance; that mangrove logging harms the ecosystem; that
land-use conversion diminishes the benefits mangroves provide to the local
community; that trash and waste affect mangrove growth; and that
damage requires immediate attention. Additionally, 41.2% of the
community strongly agreed, and 30.9% agreed, with conservation policies.
In conclusion, while the community in the villages of Doro, Koititi, and
Cango demonstrates a high level of knowledge, damage caused by land-use
conversion persists and requires immediate remediation supported by
government policy to curb future degradationparticularly given the
significant benefits mangroves offer, such as protection against coastal
abrasion, tidal surges, and tsunamis.
© 2026, Munarsi Tauhid, Ardiyana Muhammad, Habbab Syaban
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Hutan mangrove merupakan ekosistem unik yang berada di zona transisi antara darat dan
laut yang mana secara ekologis hutan mangrove berfungsi sebagai benteng alami pesisir yang
melindungi daratan dari abrasi, intrusi air laut, dan peredam energi tsunami (Alongi, 2008)
(Utomo et al., 2017). Hutan mangrove adalah jenis tumbuhan yang berada di hutan hujan tropis
dan tumbuh di zona pasang surut air laut (Norman C. Duke, 2017). Mangrove adalah tubuhan
yang dapat menjaga ekosistem Pantai (Al et al., 2018). Hutan mangrove juga memiliki
kemampuan sekuestrasi karbon yang jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis daratan, dan
menjadikannya elemen yang penting dalam mitigasi perubahan iklim global (Donato et al., 2011).
Namun, potensi Hutan hutan mangrove yang ada di Indonesia selalu mengalami ancaman serius
akibat alih fungsi lahan yang dilakukan oleh Masyarakat dan pemerintah dalam memanfaatkan
hutan mangrove menjadi tambak, pemukiman, dan infrastruktur industri (Aslan et al., 2021).
Indonesia merupakan negara yang memiliki luas hutan mangrove terbesar di dunia. Ekosistem
hutan mangrove mempunyai peran yang sanggat strategis dalam ketahanan lingkungan maupun
kesejahteraan Masyarakat lokal. Kerusakan mangrove di Indonesia sering kali dipicu oleh
kurangnya pemahaman mengenai nilai strategis ekosistem tersebut bagi keberlanjutan hidup di
masa yang akan datang. Upaya konservasi yang bersifat top-down sering kali terjadi kegagalan
karena mengabaikan peran Masyarakat lokal dalam pelestarian lingkungan.
Konservasi hutan mangrove tidak dapat dipisahkan dari masayarakat lokal yang yang
tinggal dan menggantukan hidupnya pada ekosistem tersebut. Masyarakat memegang peranan
penting dalam menentukan keberhasilan agenda konservasi hutan mangrove (Primavera et al.,
2019). Persepsi bukan sekadar pandangan, melainkan proses kognitif yang memengaruhi sikap
dan tindakan seseorang terhadap lingkungannya (Tewal Bernhard, Adolfina, Pandowo Merinda
Ch, 2017). Jika masyarakat memandang mangrove hanya sebagai sumber kayu bakar atau lahan
tak produktif, maka partisipasi Masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove rendah, dan
sebaliknya, jika masyarakat menyadari urgensi mangrove sebagai penyokong ekonomi atau
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
83
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
habitat bagi anakan ikan dan pelindung fisik dari bencana alam (Sri & Karto, n.d.). Inisiatif
konservasi berbasis masyarakat dapat tercipta secara berkelanjutan. Oleh karena itu, analisis
mendalam mengenai persepsi masyarakat sangat diperlukan untuk memetakan sejauh mana
urgensi konservasi dipahami dan bagaimana strategi komunikasi kebijakan harus disesuaikan
agar selaras dengan kebutuhan Masyarakat di Desa Doro, Koititi, dan Cango Kabupaten
Halmahera Selatan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis persepsi masyarakat di Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan,
terhadap urgensi konservasi hutan mangrove. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi ilmiah dalam pengembangan strategi konservasi berbasis masyarakat (community-
based conservation) yang lebih efektif, serta menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku
kebijakan untuk merumuskan regulasi perlindungan ekosistem hutan mangrove di tingkat lokal
maupun regional atau khususnya yang ada di Kecamatan Gane Barat Kabupaten Halmahera
Selatan, Maluku Utara.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain sequential
explanatory untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap urgensi konservasi mangrove.
Tahap pertama dilakukan secara kuantitatif melalui survei kepada responden yang dipilih
menggunakan rumus Slovin dan teknik simple random sampling di wilayah pesisir (Sugiyono,
2013). Instrumen utama penelitian berupa kuesioner dengan Skala Likert untuk mengukur tiga
dimensi persepsi, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan konatif (kecenderungan
tindakan) masyarakat terhadap ekosistem mangrove.
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
e = tingkat kesalahan yang
ditoleransi (10% atau
0,10)
Jadi jumlah sampel yang harus
diambel sebanyak 97
responden
Tahap kedua dilakukan secara kualitatif untuk memperdalam temuan kuantitatif melalui
wawancara mendalam terhadap informan kunci, seperti tokoh masyarakat dan pengelola
kawasan, guna menggali aspek kearifan lokal serta kendala lapangan. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif persentase dan triangulasi data untuk
menyelaraskan hasil statistik dengan realitas sosial di lapangan. Melalui penggabungan ini,
penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai faktor-faktor yang
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
84
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
memengaruhi dukungan masyarakat terhadap upaya pelestarian hutan mangrove secara
berkelanjutan. Berikut ini digambarkan peta alur penelitian
Gambar 1 Peta Alur Penelitian
3. Hasil dan Pembahasan
Kecamatan Gane Barat merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah
administratif Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, kecamatan
ini terletak di bagian barat Pulau Halmahera yang berbatasan langsung dengan perairan Laut
Maluku, dengan karakteristik wilayah berupa perpaduan antara dataran pesisir, perbukitan, dan
kawasan hutan tropis. Posisi geografisnya yang strategis di kawasan kepulauan menjadikan
wilayah ini memiliki garis pantai yang cukup panjang, sehingga ekosistem pesisir khususnya
hutan mangrove, tumbuh dan berkembang secara alami di sepanjang pantai kecamatan tersebut.
Secara demografis, penduduk Gane Barat didominasi oleh masyarakat lokal yang sebagian besar
bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, dan pembudidaya tambak, dengan tingkat
ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya alam pesisir dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
85
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
Gembar 2 Peta Lokasi Penelitian
Dari sisi ekosistem, Kecamatan Gane Barat memiliki kawasan hutan mangrove yang relatif
masih terjaga dengan baik, namun mulai menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia
seperti penebangan untuk kebutuhan kayu bakar, alih fungsi lahan menjadi tambak, serta
perluasan permukiman di kawasan pesisir Kec Gane Barat. Kondisi ini berdampak langsung pada
penurunan tutupan dan kualitas ekosistem mangrove yang selama ini menjadi penopang
kehidupan masyarakat, baik sebagai habitat biota laut yang menjadi sumber tangkapan nelayan,
pelindung pantai dari abrasi, maupun penyedia bahan baku yang dimanfaatkan secara tradisional
oleh Masyarakat setempat. Secara ekonomi, sebagian besar masyarakat di wilayah ini masih
berada pada kategori menengah ke bawah, dengan pendapatan yang bersumber dari hasil laut,
pertanian subsisten, dan perdagangan skala kecil, sehingga keberadaan ekosistem mangrove
memiliki peran strategis yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat lokal. Berikut ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai persepsi
masyarakat terhadap Urgensi Konservasi Hutan Mangrove di Gane Barat Kabupatan Halmahera
Selatan:
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
86
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
Berdasarkan dengan grafik di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat 57.7% Masyarakat yang
sangat setuju bahwa hutan mangrove mempunyai manfaat untuk melindungi permukiman dari
gelombang laut, menjadi sumberpenghasilan bagi nelayan, mendukung kegiatan perikanan,
pengembangan objek wisata, kerusakan hutan mangrove akan berdampak terhadap kehidupan
mereka terutama Masyarakat terutama Masyarakat yang ada di kecamatan Gane Barat atau Desa
Cango, Koititi, dan Doro. Selebihnya 32% Masyarakat menjawab setuju, 4.1% netral, dan 6.2%
tidak setuju. Sedangkan untuk persepsi Masyarakat terhadap urgensi hutan mangrove sebesar
61.9% yang sangat setuju dan setuju 30.9% dan 7.2% memilih netral. Presentase urgensi
koneservasi hutan mangrove menjunjukan bahwa sangat penting dilakukan kegiatan konservasi,
pelestarian, dan Kerjasama antara pemerintah dan Masyarakat, serta kegiatan konservasi
mangrove harus menjadi program prioritas di wilayah Gane Barat Kabupaten Halmahera Selatan.
Gambar 3. Grafik presepsi terhadap
kerusakan hutan mangrove
Gambar 4. Grafik presepsi terhadap
Urgensi konservasi hutan Mangrove
Gambar 5. Grafik sikap dan
partisipasi hutan mangrove
Gambar 6. Grafik dukungan terhadap
kebijakan konservasi hutan Mangrove
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 81-87
87
Munarsi Tauhid et.al (Analisis Persepsi Masyarakat terhadap....)
Berdasarkan dengan grafik di atas dapat dijekaskan bahawa sikap dan partisipasi
Masyarakat menunjukan bahwa 68% Masyarakat yang sangat setuju jika mereka harus ikut
menjaga hutan mangrove, ikut kegiatan penanaman, mengingatkan orang yang melakukan
kerusakan, keterlibatan Masyarakat dalam program konservasi mangrove, dan dukungan
terhadapat aturan desa terkait dengan perlindungan hutan mangrove. Sedangkan terdapat 41.2%
Masyarakat yang sangat setuju dan 30.9% Masyarakat yang setuju dengan kebijakan konservasi.
Kebijakan konservasi yang dilakukan diantaranya berhubungan dengan program khusus menjaga
hutan mangrove, sosialisasi, sanksi bagi yang merusak, dan program yang melibatkan pemerintah
Masyarakat, sekolah, dan kelompok nelayan dalam menjaga hutan mangrove.
4. Simpulan
Berdasarkan dengan hasil penelitian dan pemebahasan yang dilakukan dapat di simpulkan
bahwa dari segi pengetahuan Masyarakat di desa Doro, Koititi, dan Cango sudah sangat baik,
namun masih terdapat kerusakan akibat alifugnsi lahan yang harus segera diatas dan didukung
dengan kebijakan oleh pemerinta untuk mengurangi laju kerusakan di masa yang akan datang
mengingat hitan mangrove mempunyai banyak manfaat seperti mencegah terjadinya abrasi
Pantai, gelombang pasang, terjangan tsunami dll.
5. References
Al, A., Liwa, I. M., & Hadiprayitno, G. (2018). Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA
Sosialisasi Peran dan Fungsi Mangrove Pada Masyarakat di Kawasan Gili Sulat
Lombok Timur.
Alongi, D. M. (2008). Mangrove forests : Resilience , protection from tsunamis , and
responses to global climate change. https://doi.org/10.1016/j.ecss.2007.08.024
Aslan, A., Rahman, A. F., Robeson, S. M., & Ilman, M. (2021). Land-use dynamics associated
with mangrove deforestation for aquaculture and the subsequent abandonment of
ponds. Science of The Total Environment, 791, 148320.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2021.148320
Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., & Stidham, M. (2011).
Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience,
4(4), 15. https://doi.org/10.1038/ngeo1123
Norman C. Duke. (2017). Mangrove Floristics and Biogeography. (January 1992).
https://doi.org/10.1029/CE041p0063
Primavera, J. H., Friess, D. A., Van Lavieren, H., & Lee, S. Y. (2019). Chapter 1 - The
Mangrove Ecosystem. In C. Sheppard (Ed.), World Seas: An Environmental Evaluation
(Second Edition) (Second Edition, pp. 134). Academic Press.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/B978-0-12-805052-1.00001-2
Sri, I., & Karto, P. (n.d.). Pelestarian Hutan Mangrove dan Peran Serta Masyarakat Pesisir.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Tewal Bernhard, Adolfina, Pandowo Merinda Ch, H. N. T. (2017). Perilaku Organisasi.
Utomo, B., Budiastuti, S., & Muryani, C. (2017). Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di
Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. 15(2), 117123.
https://doi.org/10.14710/jil.15.2.117-123