AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 68-80
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
68
10.47200/aossagcj.v6i1.3760 aossagcj@gmail.com
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja
Tenaga PKIP di Provinsi DKI Jakarta
Nadra Dinamara
a,1
, Sarah Handayani
b,2
, Handayani
c,3
a
Institut Sains dan Kependidikan Kie Raha Maluku Utara
b
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
c
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
*
Corresponding Author: naddinamara65@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Maret 2026
Direvisi: 27 April 2026
Disetujui: 28 Mei 2026
Tersedia Daring: 30 Juni 2026
Promosi Kesehatan merupakan suatu langka untuk meningkatkan
pemahaman dan kemampuan Masyarakat dalam pembelajaran dimulai
dari, oleh, untuk dan berama-sama dengan Masyarakat, supaya bisa
menolong dirinya sendiri dan dapat mengembangkan kegiatan yang
bersumber kepada masyarakat dan hasilnya dinikmati oleh
massyarakat itu sendiri, selaras dengan budaya setempat dan didukung
oleh kebijakan yang berarah ke Kesehatan. Tujuan untuk mengetahui
kinerja tenaga promosi kesehatan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022.
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain penelitian potong lintang
(cross sectional) instrument penelitian menggunakan kuesioner dan
wawancara, hasil uji Chi Squre menunjukan tidak ada hubungan yang
signifikan tingkat pendidikan p-value- 0.369 α < 0.05. jabatan dengan
kinerja tenaga promosi Kesehatan p-value 0.933 α >0.05, hasil Uji Chi
Square menunjukan ada hubungan pendapatan p-value 0.015 α <0.05.
Pelatihan p-value 0.032 α <0.05. pengetahuan p-value 0.004 α <0.05.
sikap p-value 0.033 α <0.05, Media/Kie p-value 0.009 α <0.05, dengan
kinerja tenaga promosi Kesehatan, sedangkan Keterampialan
pemberdayaan masyarakat, advokasi dan jejaring kemitraan tidak ada
hubungan yang signifikan dengan kinerja tenaga promosi Kesehatan
nilai α >0.05, hasil uji analisis multivariate variabel pendpatan,
pengetahuan dan keterampilan media/KIE sangat berpengaruh
terhadap kinerja tenaga promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku di
Provinsi DKI Jakarta p-value < 0.25. Hasil penelitian ini bisa dijadikan
sebagai acuan dalam merancang suatu kebijakan dalam Upaya
meningkatkan kinerja tenaga promosi Kesehatan dan ilmu perilaku di
Provinsi DKI Jakarta.
Kata Kunci:
Kinerja,
Tenaga Promosi Kesehatan,
Karakteristik,
Pendidikan, Sikap,
Keterampilan Media/ KIE,
Pemberdayaan masyarakat,
Advokasi,
Jejaring Kemitraan
ABSTRACT
Keywords:
performance,
public health promotion
personnel,
characteristics,
knowledge,
attitudes,
skills Media/ KIE,
Community Empowerment,
Advocacy,
Partnership network
Health Promotion is effort For increase ability public through learning of,
by, for , and together society, so that they can help himself yourself, as
well develop sourced activities _ Power society, accordingly social culture
local and supported by policy health - minded public. The purpose of
study This is for know performance power promotion health in DKI
Jakarta Province in 2022. Research This nature analytic with design
study cut latitude (cross sectional) research instrument use
questionnaires and interviews, Chi Squre test results showing No There is
significant relationship _ level education p-value- 0.369 α < 0.05. position
with performance power Health promotion p-value 0.933 α >0.05, Chi
Square Test results showing There is connection income p-value 0.015 α
<0.05. Training p-value 0.032 α <0.05. knowledge p-value 0.004 α <0.05.
attitude p-value 0.033 α <0.05, Media/Kie p-value 0.009 α <0.05, with
performance power Health promotion, meanwhile Skills empowerment
community, advocacy and networking partnership No There is significant
relationship _ with performance power Health promotion α value >0.05,
variable multivariate analysis test results income, knowledge and
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
69
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
media/KIE skills are very influential to performance power promotion
health and science Behavior in DKI Jakarta Province p-value < 0.25.
Research result This Can made as reference in designing something policy
in an effort to improve performance power promotion of Health and
science behavior in DKI Jakarta Province.
© 2026, Nadra Dinamara, Sarah Handayani, Handayani
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pembangunan Kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dalam hal ini
Kementerian Kesehatan, tetapi Pembangunan Kesehatan butuh kerja sama yang baik antara
swasta, Masyarakat hingga akademisi untuk mewujudkan Pembangunan Masyarakat yang baik
dan tercapai hingga bisa di nikamati oleh khalayak masyrakat, tujuan dari Kesehatan itu sendiri
yaitu untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang kuat dan produktif, baik itu
secara sosial maupun secara ekonomi (Jdih.Kemkes.Go.Id, 2022). Di Indonesia sendiri tenaga
kesehatan belum seluruhnya merata disetiap-tiap pelayanan kesehatan (rumah sakit maupun
puskesmas, ataupun di pelayanan kesehatan lainnya), contohnya di puskesmas tenaga
kesehatan atau pun tenaga promosi kesehatan masih merangkap tugas yang bukan sebagai
kompetensinya, pemerinta perlu menyiapkan hak-hak dan kebutuhan kesehatan pada setiap
orang ataupun kepada d masyarakat dalam rangkah menyelaraskan fasilitas pelayanan
kesehatan pada seluruh Masyarakat Indonesia.
Masalah yang terjadi sekarang adalah peran promosi kesehatan selalu dianggap penting
tetapi minimnya anggaran yang tersedia, buruknya lintas sector dalam menangani masalah
kesehatan di masyarakat, sarana teknologi informasi belum dimanfaatkan dengan baik, semua
program promosi kesehatan dilaksanakan dan dilakukan dengan seadanya atau sesuka hati
petugas yang berada di puskesmas, maupun petugas yang tidak memiliki kompeten di bagian
pelayanan kesehatan lainnya. Jumlah Tenaga atau petugas promosi kesehatan yang ada di
Indonesia sendiri terdapat dalam (Kementerian Kesehatan RI, 2021) tenaga promosi kesehatan
di fasilitas kesehatan lain pria sebanyak 1726 jiwa, Wanita berjumlah 4993 jiwa, sedangkan
jumlah tenaga promosi kesehatan di rumah sakit sebanyak laki-laki 300 orang perempuan 864,
dan jumlah tenaga promosi kesehatan di fasilitas kesehatan lain sebanyak laki-laki 1016 orang
perempuan 3205 orang.
Dari jumlah tenaga promosi kesehatan di DKI Jakarta Tersebut belum mencakup pada
pelayanan promosi kesehatan, karena jumlah tenaga promosi kesehatan masih kurang
dibandingkan dengan puskesmas dengan masyarakat yang dilayani, (Permenkes,2014)
menjelaskan bahwa standar minimal 2 tenaga promkes (promosi kesehtan) atau yang biasa
disebut dengan tenaga kesmas (kesehatan masyarakat) di setiap pusat Kesehatan masyarakat,
jumlah puskesmas yang ada di DKI Jakarta pada tahun 2021 sebanyak 332 puskesmas, dari
data tersebut provinsi DKI Jakarta masih kekurangan petugas promosi kesehatan sebanyak 397
orang dari jumlah 267 orang, dari kasus tersebut seorang petugas promosi kesehatan harus
merangkap dalam jabatan atau tugas yang dilakukan.
Berdasarkan hal diatas pentingnya untuk melakukan penelitian dikarenakan masih
banyaknya kasus promoter keesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan tidak sesuai
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
70
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
kompetensi yang sudah disahkan sendiri oleh pemerintah, dari latar belakang tersebut saya
ingin mengangkat penelitian yang terkait faktor-faktorapa saja yang berhubungan langsung
dengan kinerja tenaga promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku di Provinsi DKI Jakarta tahun
2023
2. Metode
Penelitian ini akan dilakukan di Provinsi DKI Jakarta, Penelitian ini merupakan jenis
penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian
ini adalah semua anggota tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Provinsi DKI Jakarta
2023 Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling yaitu memberikan peluang yang
sama bagi anggota populasi untuk menjadi sampel sebanyak, 40 responden orang yang sesuai
dengan kriteria inklusi sampel penelitian. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan
metode penelitian deskriptif, dimana metode ini bertujuan untuk mengumpulkan, menyajikan,
dan menganalisis data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat.
Menurut sugiyono 2016 dalam (Yasmin, 2017) teknik pengumpulan data adalah suatu
cara yang dilakukan untuk mendapatkan atau memperoleh data serta keterangan-keterangan
lain yang diperlukan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti
dalam penelitian ini yaitu menggunakan data primer berupa kuesioner. Instrument penelitian
yang dibuat oleh peneliti adalah:
1. Kuesioner tentang identitas responden karakteristik individu (jenis kelamin, jabatan,
pelatihan dan pendidikan, pendapatan )
2. Kuesioner tentang pertanyaan-pertanyaan berupa pengetahuan tentang promosi kesehatan,
sikap pada petugas kesehatan dan keterampilan petugas kesehatan serta kinerja petugas
kesehatan menggunakan skala likert yaitu:
Tabel 1. Distribusi Skala likert
Pilihan jawaban
Skor pertanyaan
Positif +
Skor pertanyaan
Negative -
Sangat setuju
5
1
Setuju
4
2
Kurang setuju
3
3
Tidak setuju
2
4
Sangat tidak setuju
1
5
Tabel 2. Skor penilaian keterampilan
Pilihan jawaban
Singkatan
Skor pertanyaan
Tidak memiliki
TM
1
Keterampilan rendah
KR
2
Keterampilan rata-rata
KRR
3
Keterampilan cukup
KC
4
Keterampilan tinggi
KT
5
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 3 Maret 2023 sampai dengan 21 Juni 2023 di
Provinsi DKI Jakarta. Pada proses penelitian, sampel pada penelitian adalah tenaga promosi
kesehatan masyarakat yang memenuhi kriteria inklusi. Dalam penelitian ini menggunakan total
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
71
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
berjumlah 40 tenaga promosi Kesehatan dan ilmu perilaku dengan sumber data primer yang
diperoleh melalui pengisian google form.
Analisis univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran dari masing-masing variabel
yang diteliti. Tujuannya adalah untuk menjelaskan dari setiap variabel yang terdiri dari
karakteristik jenis kelamin, tingkat pendidikan, pendapatan, jabatan, jenis kepegawaian,
pelatihan, pengetahuan, sikap, KIE, Pemberdayaan masyarakat, advokasi, jejaring dan
kemitraan dan kerja. Data ini disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dibawah ini:
Tabel 3. Karakteristik Responden
Karakteristik
n
%
Jenis kelamin
Laki-laki
9
22.5
perempuan
31
77.5
Tingkat Pendidikan
D4-S1-S2 Promosi Kesehatan
6
15.0
S1-S2 Kesehatan Masyarakat
28
70.0
S1-S2 non kesehatan masyarakat
6
15.0
Jabatan
Jafung Penyulu Ahli
20
50.0
Jafung Penyulu Terampil
3
7.5
Penyulu Non-Jafung
17
42.5
Jenis Kepegawaian
ASN
25
62.5
Non-ASN-BOK
6
15.0
Honorer
9
22.5
Pelatihan
Jabfung Terampil
1
2.5
Jabfung Ahli
18
45.0
Jabfung Terampil dan Ahli
1
2.5
Teknis Promkes
20
50.0
Pendapatan
Rp. 4.641.854
26
65.0
Rp. < 4.641.854
14
35.0
Organisasi
Pengurus
Ya
25
62.5
Tidak
15
37.5
Anggota
Ya
38
95.0
Tidak
2
5.0
Total
40
100
Sumber : Data Primer
Tabel 3 menunjukan Sebagian besar tenaha promosi kesehatan masyarakat berjenis
kelamin perempuan 31 orang (77.5%), sebagain besar pendidikan tenaga promosi kesehatan
masyarakat di Provinsi DKI Jakarta pada kelompok SI-S2 Kesehatan Masyarakat, jabatan
tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta pada kelompok jabfung penulu
ahli sebanyak 20 orang (50.0%), jenis kepegawaian tenaga promosi kesehatan masyarakat di
Provinsi DKI Jakarta pada kelompok ASN sebanyak 25 orang (62.5%), sebagian besar
pelatihan yang diikuti oleh tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta pada
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
72
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
kelompok teknis promkes sebanyak 20 orang (62.5%) dan paling sedikit pelatihan yang di ikuti
yaitu jabfung terampil dan jabfung terampil dan ahli masing-masing 1 orang dengan persentase
yang sama yaitu 2.5 %, pendapatan tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI
Jakarta pada kelompok Rp 4.641.854, 26 orang (65%).
Tabel 4. Variabel Terikat dan Variabel Bebas
Variabel
n
%
Variable terikat
Kinerja
Kurang
13
32.5
Baik
27
67.5
Variable bebas
Pengetahuan
Kurang
15
37.5
Baik
25
62.5
Sikap
Kurang
18
45.0
Baik
22
55.0
Keterampilan KIE
Kurang
16
40.0
Baik
24
60.0
Keterampilan Pemberdayaan Masyarakat
Kurang
14
35.0
Baik
26
65.0
Keterampilan Advokasi
Kurang
18
45.0
Baik
22
55.0
Keterampilan jejaring dan kemitraan
Kurang
17
42.5
Baik
23
57.5
Total
40
100
Sumber : Data Primer
Tabel 4 kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta berada
pada kategori baik sebanyak 27 orang (67.5%.), pengetahuan tenaga promosi kesehatan
masyarakat di Provinsi DKI Jakarta pada kategori baik sebanyak 25 orang (62.5%.), sikap
tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta pada kategori baik sebanyak 22
orang (55.0%.). keterampilan KIE tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Provinsi DKI
Jakarta berada pada kategori baik sebanyak 24 orang (60.0%.). keterampilan pemberdayaan
masyarakat tenaga promosi kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta berada pada kategori
baik sebanyak 26 orang (65.0%.). keterampilan advokasi tenaga promosi kesehatan masyarakat
di Provinsi DKI Jakarta berada pada kategori baik sebanyak 22 orang (55.0%.). Keterampilan
jejaring dan kemitraan tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Provinsi DKI Jakarta
berada pada kategori baik sebanyak 23 orang (57.0%.).
Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen tingkat
pendidikan, pendapatan, jabatan, , pelatihan, pengetahuan, sikap, KIE, Pemberdayaan
masyarakat, advokasi, jejaring dan kemitraan dan variabel dependen kinerja tenaga promosi
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
73
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
kesehatan masyarakat. Yang di gunakan adalah chi square hasil bivariat dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 5. Hubungan Variabel Bebas dan Variabel terikat
Variable
Kinerja (n=40)
Total
P
value
OR
(95%C)
Pendidikan
Kurang
Baik
n
%
n
%
N
%
Cukup
1
16.7
5
83.3
6
100
0.369
2.727
(0.285-26.118)
Baik
12
35.3
22
64.7
34
100
Jabatan
Sedang
6
33.3
12
66.7
18
100
0.919
0.933
(0.247-3.524)
Tinggi
7
31.8
15
68.2
22
100
Pelatihan
lengkap
3
15.8
16
84.2
19
100
0.032
2.727
(0.285-26.118)
Tidak lengkap
10
47.6
11
52.4
21
100
Pendapatan
Sedang
(Rp < 4.641.854)
8
57.1
6
42.9
14
100
0.042
0.179
(0.042-0.753)
Tinggi
(Rp 4.641.854)
5
19.2
21
80.8
26
100
Pengetahuan
Kurang
9
60.0
6
40.0
15
100
0.004
7.875
(1.781-34.828)
Baik
4
16.0
21
84.0
25
100
Sikap
Kurang
9
50.0
9
50.0
18
100
0.033
4.500
(1.084-18.689)
Baik
4
18.2
18
81.8
22
100
Media/KIE
Kurang
9
56.2
7
43.8
16
100
0.009
6.429
(1.495-27.647)
Baik
4
16.0
20
83.3
24
100
Pemberdayaan
masyarakat
Kurang
7
50.0
7
50.0
14
100
0.083
3.333
(0.831-13.372)
Baik
6
23.1
20
76.9
26
100
Advokasi
Kurang
7
38.9
11
61.1
18
100
0.435
1.697
(0.447-6.439)
Baik
6
27.3
16
72.7
22
100
Jejaring
kemitraan
Kurang
8
47.1
9
52.9
17
100
0.091
3.200
(0.810-12647)
Baik
5
21.7
18
78.3
23
100
Sumber : Data Primer
Table 5 menunjukan bahwa hubungan tingkat pendidikan dengan kinerja tenaga promosi
kesehatan masyarakat di peroleh p-value 0.369 > α 0.05 sehingga dinyatakan Ho ditolak yang
artinya tidak ada hubungan yang siginifikan antara tingkat pendidikan dengan kinerja tenaga
promosi kesehatan Masyarakat, hubungan jabatan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan
masyrakat di peroleh p-value 0.919 > α 0.05 sehingga dinyatakan Ho di tolak yang artinya
tidak ada hungan jabatan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyraakat, hubungan
pelatihan dengan kinerja diperoleh p-value 0.032 < α 0.05 sehingga dinyatakan Ho diterima
yang artinya ada hubungan yang signifikan antara pelatihan yang diikuti dengan kinerja tenaga
promosi kesehatan masyarakat OR= 0.206, artinya pelatihan yang dikuti oleh tenaga promosi
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
74
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
kesehatan memiliki peluang 0.2 kali mempunyai kinerja baik, hubungan pendapatan dengan
kinerja tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di peroleh p-value 0.015< α 0.05
sehingga dinyatakan Ho di teriama yang artinya ada hubungan pendapatan dengan kinerja
tenaga promosi kesehatan masyarakat OR= 0.179 pendapatan baik memiliki peluang 0.1 kali
faktor protektif kali mempunyai kinerja baik, hubungan antar dua variabel pengetahuan dengan
kinerja tenaga promosi kesehatan di peroleh p-value 0.004 < α 0.05 yang artinya Ho diterima
ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan
masyarakat dengan nilai OR=7.875 ini menunjukan pengetahuan baik memiliki peluang 7.8
kali lebih besar menjadi faktor risiko kinerja yang baik.
Hasil uji chi square menunjukan p-value 0.033 < α 0.05 artinya Ho diterima bahwa ada
hubungan yang signifikan antara variabel sikap dengan kinerja tenaga promosi kesehatan
masyarakat dengan nilai OR= 4.500 ini menunjukan bahwa sikap yang baik memiliki peluang
4.5 kali lebih besar mempunyai kinerja baik, Hasil uji statistic menunjukan nilai p-value 0.009
< α 0.05 hasil tersebut menunjukan bahwa Ho diterima yang artinya ada hubungan yang
signifikan antara KIE dan kinerja tenga promosi kesehatan masyarakat dengan nilai OR=6.429
artinya bahwa KIE yang baik akan berpeluang 6.4 kali lebih besar menghasilkan kinerja yang
baik, Rata-rata hasil yang diperoleh pada penelitian ini pemberdayaan masyarakat tenaga
promosi kesehatan menunjukan skor yang baik dengan persentase pemberdayaan masyarakat
kurang dengan kinerja yang kurang (50.0%) sedangkan keterampilan pemberdayaan masyrakat
baik kinerja baik (76.9%). Hasil uji chi square hasil yang didapat nilai p-value 0.08 > α 0.05
hal ini menunjukan bahwa Ho ditolak artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara
keterampilan pemberdayaan masyarakat dengan kinerja tenaga promosi Kesehatan, Hasil uji
chi square yang di dapat yaitu nilai p-value 0.436 > α 0.05 hal ini menunjukan bahwa Ho
ditolak artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan advokasi dengan
kinerja tenaga promosi kesehatan Masyarakat, kinerja tenaga promos kesehatan dalam kategori
baik dengan variabel keterampilan jejaring dan kemitraan baik dan kinerja baik (78.3%)
sedangkan keterampilan jejaring dan kemitraan kurang kinerja kurang (47.1%). Hasil uji chi
square yang didapat nilai p-value 0.091 > α 0.05 hasil tersebut menunjukan bahwa Ho ditolah
artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan jejaring kemitraan
terhadap kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat.
Analisis multivariat
Analisis multivariate bertujuan untuk menegtahui variabel independen yang paling
berpengaruh terhadap variabel dependen. Uji analisis menggunakan regresi logistic karena
semua karena semua variabel adalah variabel kategorik, tahapan analisis meliputi pemilihat
variabel kandidat multivariate, uji interaksi dan pemodelan akhir.
Tabel 6. Analisis Multivariat Model Akhir
Variabel
B
SE
Wald
Df
Sig.
Exp(B)
95%
C.I for EXP(B)
Pendapatan
-1.486
1.019
2.128
1
0.145
0.226
0.031
1.666
Pengetahuan
3.038
1.192
6.496
1
0.011
20.873
2.018
215.945
KIE
2.374
1.171
4.105
1
0.043
10.736
1.081
106.657
Constant
0-.196
1.780
0.012
1
0.912
0.822
Sumber : Data Primer
Berdasarkan hasil tabel 6 Pemodel akhir analisis multivariate diatas variabel independen
yang paling dominan berpengaruh secara bermakna adalah variabel pendapatan, pengetahuan
dan keterampilan KIE terhadap kinerja tenaga promosi kesehatan dengan nilai p value ≤ 0.25.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
75
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
Hubungan tingkat pendidikan dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat
Di Provinsi DKI Jakarta
Dalam penelitian ini Hasil analisis uji bivariat menunjukan bahwa Hasil analisis uji
bivariat menunjukan bahwa sebagian besar tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku
mempunyai kinerja baik, dilihat dari tingkat pendidikan baik tenaga kerja kurang sebanyak
(35.3%%), tingkat pendidikan baik dengan kinerja baik (64.7%), sedangkan tingkat pendidikan
cukup dengan kinerja kurang (16.7%) dan tingkat pendidikan cukup dengan kinerja baik
sebanyak (83.3%). Hasil uji chi square untuk hubungan tingkat pendidikan dengan kinerja
tenaga promosi kesehatan masyarakat di peroleh p-value 0.369 > α 0.05 sehingga dinyatakan
Ho ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang siginifikan antara tingkat pendidikan dengan
kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat.
Hasil penelitian yang berbeda juga dilakukan oleh (Pakpahan, 2003) tentang Pengaruh
Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai (Studi pada Badan Kepegawaian Daerah
Kota Malang) menjelaskan bahwa Penelitian ini menghasilkan bahwa terdapat pengaruh yang
positif dan signifikan antara pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai ditunjukkan
nilai Fhitung = 9,222 > Ftabel = 3,195demikian pula dengan uji parsial dengan uji t, untuk
variabel pendidikan (X1) diperoleh nilai thitung tersebut lebih besar daripada ttabel (3.298 >
2.011) dan nilai signifikan lebih kecil daripada α = 0.05. Pengujian ini menunjukkan bahwa
pendidikanberpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Pendidikan merupakan faktor
yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan.
Dengan menempuh tingkat pendidikan tertentu menyebabkan seorang pegawai memiliki
pengetahuan tertentu sehingga mampu serta cakap untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
Dengan demikian pendidikan akan mempengaruhi kinerja pegawai.
Hubungan Jabatan dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat di Provinsi
DKI Jakarta
Jabatan Fungsional Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku adalah jabatan yang
mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan di
bidang promosi kesehatan pada Instansi Pemerintah. Hasil uji square untuk menenutukan
hubungan jabatan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyrakat di peroleh p-value 0.919
> α 0.05 sehingga dinyatakan Ho di tolak yang artinya tidak ada hubungan jabatan dengan
kinerja tenaga promosi kesehatan masyraakat. OR=0.933 yang artinya jabatan yang tinggi
memiliki pelung 0.9 kali mempunyai kinerja baik.
Sekalipun jabatan fungsional tidak ada hubungan yang signifikan terhadap kinerja tenaga
promosi kesehatan masyarakat itu sendiri tetapi bisa menjadi faktor protektif untuk
menghasilkan kinerja yang baik, karena jabatan seseorang bisa menjadi target apakah kienreja
baik ataupun tidak. Penelitian yang dilakukan oleh (Hendra et al., 2020) Hasil regresi linier
sederhana diperoleh nilai Y = 45.555 + 0.184X. Dari hasil uji secara parsial atau uji t diperoleh
nilai thitung(2.731) > ttabel (1.986) dengan tingkat sig 0.008 < 0.05 yang artinya analisa
jabatan berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Hasil uji koefisien determinasi (R2) sebesar
0.077 atau 7.7 %, artinya adalah besarnya pengaruh atau kontribusi yang diberikan oleh
variabel analisa jabatan terhadap variabel kinerja sebesar 7.7 %.
Hubungan Pelatihan Dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat di Provinsi
DKI Jakarta
Pelatihan adalah “Keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, me-ningkatkan
serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada
tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan
pekerjaan.”(Pakpahan, 2003). Sebagian besar tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku
memiliki kinerja baik, persentase pelatihan baik dengan kinerja baik sebanyak (40.0%)
sedangkan pelatihan sedang kinerja kurang sebanyak (25%). Hasil uji chi square untuk
menentukan hubungan pelatihan dengan kinerja diperoleh p-value 0.032 < α 0.05 sehingga
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
76
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
dinyatakan Ho diterima yang artinya ada hubungan yang signifikan antara pelatihan yang
diikuti dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat OR= 0.206, artinya pelatihan yang
dikuti oleh tenaga promosi kesehatan memiliki peluang 0.2 kali mempunyai kinerja baik.
Penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh (Pakpahan, 2003) dalam penelitiannya
menjelaskan bahwa pelatihan tidah ada hubungan yang signifikan dengan kinerja pegawai
karena hasil yang didapat saat uji statistic (X2) diperoleh nilai thitung sebesar 0.593 dengan
signifikansi sebesar 0.556. Nilai thitung tersebut lebih kecil daripadattabel (0.593 < 2.011) dan
nilai signifikan lebih besar daripada α = 0.05. Pengujian ini menunjukkan bahwa variabel
pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai.
Hubungan Pendapatan Dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat Di
Provinsi DKI Jakarta
Pendapatan atau Gaji adalah imbalan berupa uang yang diterima oleh seorang pegawai
dari pemberi kerja setiap akhir suatu masa, biasanya satu bulan, yang diterima secara teratur
dan biasanya jumlahnya tidak berubah untuk jangka waktu tertentu. (Ananda, 2009). Sebagian
besar tenaga promosi kesehatan memiliki kinerja baik, persentase kinerja tenaga promosi
kesehatan dan ilmu perilaku pendapatan tinggi dengn kinerja baik sebanyak (80.8%) sedangkan
pendapatan sedang dnegan kinerja kurang sebanyak (57.1%). Hasil uji chi square untuk
hubungan pendapatan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di peroleh p-
value 0.015< α 0.05 sehingga dinyatakan Ho di teriama yang artinya ada hubungan
pendapatan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat OR= 0.179 pendapatan baik
memiliki peluang 0.1 kali faktor protektif kali mempunyai kinerja baik. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh (D. I. Rsud et al., 1992) tentang Mempengaruhi Kinerja Perawat
Dalam Penerapan Proses Keperawatan Di Rsud Toto Kabupaten dimana hasil yang didapatkan
adalah pendapatan atau gaji sangat berpengaru terhadap kinerja perawat dengan persentase
sebesar 51%.
Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat di
Provinsi DKI Jakarta
Sebagian besar persentase tenaga promosi kesehatan masyarakat memiliki kinerja yang
baik dengan persentase pengetahuan baik kinerja baik (84.0%) sedangkan pengetahuan kurang
dengan kinerja kurang sebanyak (60.0%). Hasil uji chi square untuk mencari hubungan antar
dua variabel pengetahuan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan di peroleh p-value 0.004 <
α 0.05 yang artinya Ho diterima ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kinerja
tenaga promosi kesehatan masyarakat dengan nilai OR=7.875 ini menunjukan pengetahuan
baik memiliki peluang 7.8 kali lebih besar menjadi faktor risiko kinerja yang baik.
Pengetahuan merupakan hasil dari setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga bisa didapat
dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku dan surat kabar.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang(Lukwan, 2018).
Hubungan Sikap dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan Masyarakat di Provinsi
DKI Jakarta
Sikap merupakan pernyataan seseorang terhadap sesuatu baik suka maupun tidak suka
yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Sikap terbentuk berdasarkan apa yang telah dialami
oleh seseorang dan juga pengaruh dari lingkungan sekitar. Sikap berkaitan erat dengan
hubungannya terhadap pekerjaan dikarenakan dalam bekerja seseorang dituntut akan
profesionalitasnya dalam bersikap. Profesionalitas akan komitmennya terhadap organisasi,
kepuasan kerja dan keterlibatannya dalam pekerjaan yang dijalani. Sikap karyawan dalam
bekerja menjadi salah satu faktor dalam keberhasilannya berorganisasi (Ambiya, 2019).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
77
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh (Ambiya, 2019) tentang Pengaruh Sikap
Dan Keterampilan Terhadap Kinerja Karyawan, menjelaskan bahwa Hasil analisis
menunjukkan bahwa hubungan sikap terhadap kinerja karyawan dengan nilai R = 0,605, hal ini
menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara variabel X1 (Sikap) dengan variabel Y
(Kinerja Karyawan). Sedangkan arah hubungan positif pada 0,605 menunjukkan jika Sikap
meningkat, maka Kinerja Karyawan akan meningkat. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai t hitung
= 4,500 > t tabel = 2,030, maka Ho ditolak (Ha diterima) hal ini berarti terdapat pengaruh yang
signifikan antara Sikap terhadap Kinerja.
Sikap mempengaruhi reaksi karyawan terhadap orang lain, termasuk rekan kerja, supervisor
dan pelanggan; sikap mempengaruhi persepsinya tentang pekerjaannya dan penilaiannya
terhadap organisasi. Jika tugas kerja seorang karyawan melibatkan kerjasama dengan orang
lain, sikapnya dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan kelompok; hal ini dipengaruhi
oleh sikapnya dalam hubungan dengan orang lain.
Hubungan keterampilan Media/KIE dengan Kinerja Tenaga Promosi Kesehatan
Masyarakat di Provinsi DKI Jakarta
Media promosi kesehatan merupakan sebuah sarana yang berguna untuk menampilkan
pesan atau informasi yang ingin disampaikan ke komunikator. Media promosi kesehatan
bertujuan agar sasaran dapat mendapatkan pengetahuan dan kemudian mampu merubah
perilaku sasaran menjadi lebih positif. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Kesehatan
mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan
norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi
kesehatan.(Direktorat Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2018 I,
2018).
Hasil penelitian yang didapat dalam penelitian yaitu sebagian besar responden memiliki
keterampilan media/KIE dengan kategori baik hal ini bisa meningkatkan kinerja tenaga
promosi kesehatan itu sendiri, media sangat membantu dal hal menyampaikan pesan-pesan
kesehatan seperti penyuluhan kesehatan, Hasil uji statistic menunjukan nilai p-value 0.009 < α
0.05 hasil tersebut menunjukan bahwa Ho diterima yang artinya ada hubungan yang signifikan
antara KIE dan kinerja tenga promosi kesehatan masyarakat dengan nilai OR=6.429 artinya
bahwa KIE yang baik akan berpeluang 6.2 kali lebih besar menghasilkan kinerja yang baik.
Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara variabel keterampilan media/
KIE dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat, dilihat dari nilai OR menjelaskan
bahwa jika responden memiliki keterampilan media/KIE yang baik 6.2 kali lebih besar
berpeluang menghasilkan kinerja meningkat.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Of et al., n.d.) menjelaskan
bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan media/KIE dengan promosi
kesehatan masyarakat didukung dengan hasil penelitian Sebanyak separuh (51,0%) petugas
memiliki keterampilan promosi kesehatan rendah, dengan rincian tiga dari empat petugas
(79,9%) petugas memiliki keterampilan media (KIE) yang rendah, separuh (55,1%). Penelitian
tersebut menjelaskan bahwa Sebagai perbandingan pelaksanaan kompetensi promosi
kesehatan, disebutkan bahwa baik fokus maupun laju kemajuan pelaksanaan kompetensi
mencerminkan tingkat pembangunan infrastruktur dan kapasitas promosi kesehatan.
Kurangnya kesadaran terhadap kompetensi diidentifikasi sebagai faktor pembatas utama dalam
implementasi sehingga memerlukan perhatian khusus para pimpinan dan pengambil keputusan.
Terungkap adanya kesenjangan dalam bukti empiris tentang penggunaan dan dampak
kompetensi promosi kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaannya.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
78
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
Hubungan keterampilan pemberdayaan masyarakat dengan kinerja tenaga promosi
kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta
Pemberdayaan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian
bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
pemberdayaan masyarakat.(Direktorat Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat
Tahun 2018 I, 2018). Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Of et
al., n.d.) penelitian tersebut menjelaskan bahwa keterampilan pemberdayaan masyarakat sangat
berhubungan terhadap promotor promosi kesehatan tetapi Separuh (55,1%) petugas memiliki
keterampilan pemberdayaan masyarakat yang rendah, hal ini memprihatinkan karena terkait
langsung dengan ruang lingkup promosi kesehatan untuk memperkuat aksi masyarakat dan
menciptakan lingkungan yang mendukung.
Keterampilan pemberdayaan masyarakat pada penelitian ini rata-rata skor dengan nilai
baik, hasil sangat penting bagi seorang tenaga promosi kesehatan masyarakat dalam kerja
seorang tenega promosi kesehatan aharus memiliki keterampilan pemberdayaan masyarakat.
Karena pada permenkes no 65 tahun 2015 menjelaskan bahwa seeorang promosi kesehatan
harus memiliki keterampilan pemberdayaan masyarkat karena dapat Penyiapan bahan
bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengorganisasian dan peningkatan peran serta
masyarakat. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pengorganisasian dan peningkatan
peran serta masyarakat. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (vissi promosi
kesehatan). Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan,
antaralain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam
bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan
keluarga (income generating skill). Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan
berdampak terhadap kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya:
terbentuknya dana sehat,terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya.
Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyrakat sering disebut gerakan masyarakat untuk
kesehatan. Dari uaraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat
adalah masyarakat (Masnaani et al., n.d.).
Hubungan keterampilan advokasi dengan kinerja tenaga promosi kesehatan masyrakat
di Provinsi DKI Jakarta
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar orang lain tersebut
membantu atau mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan,
advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di
berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para penjabat tersebut mau mendukung
program kesehatan yang kita inginkan.(Masnaani et al., n.d.). Hasil uji chi square yang di
dapat yaitu nilai p-value 0.436 > α 0.05 hal ini menunjukan bahwa Ho ditolak artinya tidak ada
hubungan yang signifikan antara keterampilan advokasi dengan kinerja tenaga promosi
kesehatan masyarakat dengan nilai OR=1.697 hasil tersebut mengartikan bahwa keterampilan
advokasi memiliki peluang 1.6 kali lebih besar menjadi faktor risiko keterampilan advokasi
terhadap kinerja yang baik bagi tenaga promosi kesehatan masyarakat. Penelitian tersebut hasil
yang didapat keterampilan advokasi pada tenaga promosi kesehatan masyrakat terdapat pada
kategori baik.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Of et al., n.d.) menjelaskan
bahwa keterampilan advokasi sangat berpengaruh pada promotor promosi kesehatan
masyarakat, sekalipun Separuh (53,7%) petugas memiliki keterampilan advokasi yang rendah,
keterampilan ini terkait dengan ruang lingkup pembangunan kebijakan publik yang sehat dan
reorientasi layanan kesehatan yang diambil atau ditentukan oleh pemangku kepentingan utama
di berbagai tingkatan. Keterampilan advokasi dimulai dari perumusan masalah advokasi
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
79
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
promosi kesehatan, kemudian melibatkan mitra advokasi multi sektor mulai dari tingkat desa,
kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional. Selanjutnya menyelenggarakan kampanye publik
dan melobi pembuat kebijakan merupakan operasionalisasi kegiatan advokasi.
Hubungan keterampilan jejaring kemitraan dengan kinerja tenaga promosi kesehatan
masyrakat di Provinsi DKI Jakarta
Dalam pemberdayaan, bina suasana dan advokasi, prinsip-prinsip kemitraan harus
ditegakkan. Kemitraan dikembangkan antara petugas kesehatan Puskesmas dengan sasarannya
(para pasien atau pihak lain) dalam pelaksanaan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi. Di
samping itu, kemitraan juga dikembangkan karena kesadaran bahwa untuk meningkatkan
efektivitas promosi kesehatan, petugas kesehatan Puskesmas harus bekerjasama dengan
berbagai pihak terkait, seperti misalnya kelompok profesi, pemuka agama, LSM, media massa,
dan lain-lain. Hasil uji chi square yang didapat nilai p-value 0.091 > α 0.05 hasil tersebut
menunjukan bahwa Ho ditolah artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
keterampilan jejaring kemitraan terhadap kinerja tenaga promosi kesehatan masyarakat dnegan
nilai OR= 3.200. yang artinya keterampilan tersebut memiliki peluang 3.2 kali lebih besar
menjadi faktor risiko yang mempengaruhi pada hasil kinerja yang baik terhadap tenaga
promosi kesehatan masyarakat.
Penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh (Of et al., n.d.) dalam
penleitiannya menjelaskan bahwa ada hubungan keterampilan jejaring kemitraan dengan
promotor promosi kesehatan masyarakat, sekalipun Separuh (51,7%) memiliki keterampilan
berjejaring kemitraan yang rendah, hal ini memerlukan perhatian dan peningkatan karena
terkait erat dengan ruang lingkup promosi kesehatan memperkuat aksi masyarakat dan
menciptakan lingkungan yang mendukung. Kegiatan promosi kesehatan membutuhkan
kemitraan di dalam dan di luar kesehatan, keterampilan ini dimulai dengan perumusan strategi
kemitraan di dalam dan di luar sektor kesehatan, dengan masyarakat sipil dan swasta.
Diharapkan para mitra akan bekerja dengan merefleksikan prinsip-prinsip promosi kesehatan
dan memobilisasi tindakan kolaboratif strategis yang sedang berlangsung. Sangat penting
memiliki keterampilan inti bagi promotor kesehatan terkait erat dengan empat domain dalam
promosi kesehatan yaitu, mendorong perubahan, memediasi melalui kemitraan, komunikasi,
dan kepemimpinan. Aspek ini berasal dari minat dan komitmen kemitraan lintas sektoral,
penggunaan teknik komunikasi, dan peran fasilitator untuk mengkatalisasi pembelajaran dan
pemberdayaan.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian variabel yang berpengaruh adalah pendapatan, pengetahuan
dan media/ KIE. 5 variabel yang berhubungan secara signifikan terhadap kinerja tenaga
promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Provinsi DKI Jakarta adalah pendapatan, pelatihan,
pengetahuan, sikap, dan media/KIE. Hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai acuan dalam
merancang suatu kebijakan dalam Upaya meningkatkan kinerja tenaga promosi Kesehatan dan
ilmu perilaku di Provinsi DKI Jakarta.
5. Daftar Pustaka
Ambiya, d. (2019). Pengaruh sikap dan keterampilan terhadap kinerja karyawan. 2(3), 269
288.
Ananda, f. (2009). Pelaksanaan pemeriksaan surat pemberitahuan pajak penghasilan tindak
lanjutnya kantor pelayanan pajak yogyakarta. Https://law.uii.ac.id/wp-
content/uploads/2013/01/fh-uii-pelaksanaan-pemeriksaan-surat-pemberitahuan.pdf
Direktorat promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat tahun 2018 i. (2018).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 68-80
80
Nadra Dinamara et.al (Faktor-Faktor yang Berhubungan....)
Hendra, t., hafizah, v., daerah, p., & pekanbaru, v. K. (2020). Negeri sipil pada dinas kesehatan
kota pekanbaru kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk
pemberian berbagai pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui
penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menyeluruh kerjasama
ant.Jdih.kemkes.go.id. (2022).
Kementerian kesehatan ri. (2021). Profil kesehatan indonesia.
Lukwan, l. (2018). Kontribusi pengetahuan kader terhadap kinerja kader posyandu di
puskesmas matandahi konawe utara knowledge constribution to integrated post service
performance of cader ’ s in matandahi primary health care konawe utara. 2(1), 1722.
Masnaani, a., mkes, m., & pengantar, k. (n.d.). Strategi promosi kesehatan oleh : Of, a., health,
s., officers, p., west, i., on, b., & standards, p. (n.d.). Penilaian keterampilan petugas
promosi kesehatan di jawa barat berdasarkan standar profesional.
Of, a., health, s., officers, p., west, i., on, b., & standards, p. (n.d.). Penilaian keterampilan
petugas promosi kesehatan di jawa barat berdasarkan standar profesional
Pakpahan, e. S. (2003). Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai ( studi
pada badan kepegawaian daerah kota malang ). 2(1), 116121.
Rsud, d. I., kabupaten, t., & bolango, b. (1992). Faktor yang mempengaruhi kinerja perawat
dalam penerapan proses keperawatan di rsud toto kabupaten bone bolango.
Yasmin, d. U. (2017). Pengaruh penerapan akuntansi pertanggungjawaban dan pengendalian
biaya terhadap kinerja manajerial. Unpas, 53(9), 105.
Http://repository.unpas.ac.id/30128/6/bab iii acc.pdf