Selain kreativitas, kemandirian belajar juga diperkirakan berhubungan dengan literasi sains.
Kemandirian belajar atau self-regulated learning merupakan kemampuan siswa untuk berperan
aktif dalam mengelola proses belajarnya, yang meliputi penetapan tujuan, pemilihan strategi,
pengaturan waktu, pemantauan pemahaman, pengendalian motivasi, dan evaluasi hasil belajar.
Siswa yang memiliki kemandirian belajar tinggi tidak hanya menunggu penjelasan dari guru,
tetapi mampu mengenali kebutuhan belajarnya, mencari sumber yang relevan, mengatasi
kesulitan, serta memperbaiki strategi ketika hasil belajar belum sesuai dengan tujuan. Dalam
pembelajaran sains, siswa yang mandiri diperkirakan lebih mampu mempelajari materi
tambahan, mencari informasi ilmiah, mengulang konsep yang belum dipahami, dan
mengevaluasi jawaban berdasarkan data dan bukti. Kemandirian belajar juga dapat mendukung
kreativitas karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi informasi,
memilih pendekatan yang berbeda, dan memperbaiki gagasan secara mandiri (Afnan et al.,
2023; Evendi et al., 2025; Sari et al., 2025).
Pengujian hubungan kemandirian belajar, kreativitas, dan literasi sains menjadi semakin
penting dalam konteks Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Wilayah ini terdiri
atas delapan kecamatan dan 71 desa, dengan fasilitas pendidikan tingkat menengah berupa 13
SMA, lima Madrasah Aliyah, dan tujuh SMK. Sebaran satuan pendidikan di wilayah kepulauan
tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan jarak, aksesibilitas, dan kesempatan siswa dalam
memperoleh sumber belajar. Dari 71 desa, sebanyak 70 desa telah memiliki sinyal telepon
seluler, tetapi 41 desa masih memiliki kekuatan sinyal yang lemah dan satu desa belum
memiliki sinyal. Di sisi lain, sebanyak 56 desa memiliki mata pencaharian utama pada sektor
pertanian, kehutanan, dan perikanan. Wilayah ini juga menghadapi fenomena lingkungan
berupa banjir di 22 desa, gelombang pasang di empat desa, dan abrasi di tiga desa. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa Pulau Taliabu memiliki berbagai fenomena autentik yang dapat
digunakan sebagai konteks pembelajaran sains, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi
keterbatasan geografis dan konektivitas yang berpotensi memengaruhi akses terhadap sumber
belajar dan kualitas pengalaman belajar siswa.
Berdasarkan kondisi tersebut, literasi sains siswa di Pulau Taliabu tidak tepat apabila hanya
dipandang sebagai hasil dari kemampuan akademik siswa, tetapi perlu dianalisis melalui
keterkaitannya dengan sumber daya internal berupa kemandirian belajar dan kreativitas.
Karakteristik wilayah kepulauan menyebabkan hubungan ketiga variabel tersebut belum tentu
sama dengan kondisi siswa di daerah perkotaan yang memiliki fasilitas dan akses pendidikan
lebih lengkap. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menganalisis hubungan
kemandirian belajar dengan literasi sains, hubungan kreativitas dengan literasi sains, serta
hubungan kemandirian belajar dengan kreativitas siswa SMA di Pulau Taliabu menggunakan
pendekatan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares. Kebaruan penelitian terletak
pada pengujian secara simultan ketiga variabel dalam konteks pendidikan wilayah kepulauan
Indonesia Timur. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar empiris bagi sekolah dan
pemerintah daerah dalam merumuskan strategi peningkatan literasi sains melalui penguatan
kemandirian belajar, kreativitas, proses pembelajaran kontekstual, fasilitas praktik, dan akses
terhadap sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional berbasis ex
post facto. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel tanpa
memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap variabel penelitian. Fokus penelitian adalah
untuk menguji hubungan kemandirian belajar (self-regulated learning), kreativitas, dan literasi
sains siswa SMA di Pulau Taliabu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA
yang berada di Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Sampel penelitian berjumlah
104 siswa yang berasal dari lima sekolah, yaitu SMAN 1, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, dan