AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 60-67
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
60
10.47200/aossagcj.v6i1.3746 aossagcj@gmail.com
Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,
Kreativitas, dan Literasi Sains Siswa SMA di Pulau
Taliabu Menggunakan Structural Equation
Modeling-PLS
Ikhlashul Ihsan
a,1
, Eva Vianti
b,2
, Mujais Apling
c,3
Faradina
d,4
Fitri Ayu Lestari
e,5
Zulkifli I. Tuara
f,6
a,b,c,d,e,f
Pendidikan IPA, FIP, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Ternate
1
ikhlasuhulihsan96@gmail.com;
2
evavianti08@gmail.com;
3
4
5
fitriayulestari[email protected];
6
*
Ikhlashul Ihsan
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Maret 2026
Direvisi: 27 April 2026
Disetujui: 28 Mei 2026
Tersedia Daring: 30 Juni
2026
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kemandirian
belajar, kreativitas, dan literasi sains siswa SMA di Pulau Taliabu
menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling-Partial Least
Square (SEM-PLS). Penelitian menggunakan desain kuantitatif
korelasional dengan 104 responden. Analisis data dilakukan menggunakan
SmartPLS melalui evaluasi outer model dan inner model. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa seluruh variabel berada pada kategori sedang hingga
tinggi. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara kemandirian
belajar terhadap literasi sains (β=0,009; p=0,927), kreativitas terhadap
literasi sains (β=0,023; p=0,814), dan kemandirian belajar terhadap
kreativitas (β=-0,101; p=0,307). Nilai R-square sebesar 0,018
menunjukkan kemampuan prediksi model yang sangat rendah. Temuan ini
mengindikasikan dominasi faktor eksternal dalam pembentukan literasi
sains di wilayah kepulauan.
Kata Kunci:
SEM-PLS
Literasi Sains
Kreativitas
Kemandirian Belajar
Pulau Taliabu
ABSTRACT
Keywords:
SEM-PLS
Scientific Literacy
Creativity
Learning Independence
Taliabu Island
The relationships among self-regulated learning, creativity, and scientific
literacy among senior high school students on Taliabu Island were examined in
this study using the Structural Equation ModelingPartial Least Squares (SEM-
PLS) approach. A quantitative correlational research design was employed,
involving 104 respondents. Data were analyzed using SmartPLS through the
evaluation of both the outer and inner models. The findings revealed that all
variables were classified within moderate to high categories. However, no
significant relationships were found between self-regulated learning and
scientific literacy = 0.009; p = 0.927), creativity and scientific literacy =
0.023; p = 0.814), or self-regulated learning and creativity = −0.101; p =
0.307). An R-square value of 0.018 was obtained, indicating a very low
predictive capability of the proposed model. The predominance of external
factors in shaping scientific literacy in island regions was suggested by these
findings.
© 2026, Ikhlashul Ihsan, Eva Vianti, Mujais Apling,
Faradina, Fitri Ayu Lestari, Zulkifli I. Tuara
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
61
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
1. Pendahuluan
Perkembangan pendidikan abad ke-21 menuntut pendidikan untuk menghasilkan siswa yang
tidak hanya mampu mengingat dan memahami konsep, tetapi juga dapat menggunakan
pengetahuan dalam menjelaskan fenomena, menilai informasi, memecahkan masalah, dan
mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Salah satu kompetensi penting untuk
menghadapi tuntutan tersebut adalah literasi sains. Literasi sains mencakup kemampuan
menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan, serta
menafsirkan data dan bukti ilmiah. Oleh karena itu, literasi sains tidak terbatas pada
penguasaan materi pelajaran IPA, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan siswa menerapkan
pengetahuan ilmiah untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (Joshi et al.,
2025; Kelp et al., 2023; Turiman et al., 2012).
Kondisi literasi sains siswa Indonesia masih menunjukkan permasalahan yang perlu
mendapatkan perhatian. Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA)
2022, rata-rata skor kemampuan sains siswa Indonesia hanya mencapai 383 poin, sedangkan
rata-rata negara anggota OECD mencapai 485 poin. Skor tersebut juga mengalami penurunan
dibandingkan hasil PISA 2018. Selain itu, hanya sekitar 34% siswa Indonesia yang mencapai
tingkat kemahiran minimum atau Level 2 dalam bidang sains, jauh di bawah rata-rata OECD
sebesar 76%. Bahkan, hampir tidak terdapat siswa Indonesia yang mampu mencapai Level 5
dan Level 6, yaitu tingkat kemampuan yang menuntut siswa menerapkan pengetahuan ilmiah
secara kreatif dan mandiri dalam situasi yang kompleks dan belum dikenal. Data tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan literasi sains masih menjadi salah satu tantangan penting
dalam pembangunan pendidikan di Indonesia (Joshi et al., 2025; Wu, 2025).
Rendahnya literasi sains diduga berkaitan dengan kemampuan kreativitas siswa. Dalam
pembelajaran sains, kreativitas diperlukan untuk merumuskan pertanyaan, menyusun dugaan,
merancang percobaan, menghubungkan berbagai konsep, menafsirkan hasil pengamatan, serta
menghasilkan alternatif solusi terhadap permasalahan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Namun, hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa rata-rata skor berpikir kreatif siswa Indonesia
hanya sebesar 19 dari skala maksimum 60, sedangkan rata-rata OECD mencapai 33. Hanya
sekitar 31% siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi dasar berpikir kreatif,
dibandingkan rata-rata OECD sebesar 78%, dan hanya sekitar 5% siswa Indonesia yang
termasuk dalam kategori berkinerja tinggi. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian
besar siswa masih menghadapi kesulitan dalam menghasilkan gagasan yang beragam,
membangun solusi yang orisinal, serta mengevaluasi dan menyempurnakan gagasan untuk
menyelesaikan permasalahan yang kompleks (Fatmawati et al., 2022).
Secara konseptual, kreativitas memiliki hubungan yang erat dengan literasi sains karena
pembelajaran sains menuntut kegiatan penyelidikan, penalaran, dan pemecahan masalah. Siswa
yang memiliki kreativitas tinggi cenderung mampu melihat suatu fenomena dari berbagai sudut
pandang, menghubungkan beberapa konsep, dan menghasilkan lebih banyak alternatif
penyelesaian masalah. Sebaliknya, literasi sains memberikan dasar berupa pengetahuan, data,
dan bukti ilmiah agar gagasan kreatif yang dihasilkan tidak hanya bersifat imajinatif, tetapi
juga logis, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun demikian, hubungan
kreativitas dengan literasi sains tidak selalu terbentuk secara otomatis karena dapat dipengaruhi
oleh kualitas pembelajaran, kesempatan melakukan percobaan, pola interaksi guru dan siswa,
fasilitas laboratorium, serta ketersediaan sumber belajar (Afnan et al., 2023).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
62
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
Selain kreativitas, kemandirian belajar juga diperkirakan berhubungan dengan literasi sains.
Kemandirian belajar atau self-regulated learning merupakan kemampuan siswa untuk berperan
aktif dalam mengelola proses belajarnya, yang meliputi penetapan tujuan, pemilihan strategi,
pengaturan waktu, pemantauan pemahaman, pengendalian motivasi, dan evaluasi hasil belajar.
Siswa yang memiliki kemandirian belajar tinggi tidak hanya menunggu penjelasan dari guru,
tetapi mampu mengenali kebutuhan belajarnya, mencari sumber yang relevan, mengatasi
kesulitan, serta memperbaiki strategi ketika hasil belajar belum sesuai dengan tujuan. Dalam
pembelajaran sains, siswa yang mandiri diperkirakan lebih mampu mempelajari materi
tambahan, mencari informasi ilmiah, mengulang konsep yang belum dipahami, dan
mengevaluasi jawaban berdasarkan data dan bukti. Kemandirian belajar juga dapat mendukung
kreativitas karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi informasi,
memilih pendekatan yang berbeda, dan memperbaiki gagasan secara mandiri (Afnan et al.,
2023; Evendi et al., 2025; Sari et al., 2025).
Pengujian hubungan kemandirian belajar, kreativitas, dan literasi sains menjadi semakin
penting dalam konteks Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Wilayah ini terdiri
atas delapan kecamatan dan 71 desa, dengan fasilitas pendidikan tingkat menengah berupa 13
SMA, lima Madrasah Aliyah, dan tujuh SMK. Sebaran satuan pendidikan di wilayah kepulauan
tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan jarak, aksesibilitas, dan kesempatan siswa dalam
memperoleh sumber belajar. Dari 71 desa, sebanyak 70 desa telah memiliki sinyal telepon
seluler, tetapi 41 desa masih memiliki kekuatan sinyal yang lemah dan satu desa belum
memiliki sinyal. Di sisi lain, sebanyak 56 desa memiliki mata pencaharian utama pada sektor
pertanian, kehutanan, dan perikanan. Wilayah ini juga menghadapi fenomena lingkungan
berupa banjir di 22 desa, gelombang pasang di empat desa, dan abrasi di tiga desa. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa Pulau Taliabu memiliki berbagai fenomena autentik yang dapat
digunakan sebagai konteks pembelajaran sains, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi
keterbatasan geografis dan konektivitas yang berpotensi memengaruhi akses terhadap sumber
belajar dan kualitas pengalaman belajar siswa.
Berdasarkan kondisi tersebut, literasi sains siswa di Pulau Taliabu tidak tepat apabila hanya
dipandang sebagai hasil dari kemampuan akademik siswa, tetapi perlu dianalisis melalui
keterkaitannya dengan sumber daya internal berupa kemandirian belajar dan kreativitas.
Karakteristik wilayah kepulauan menyebabkan hubungan ketiga variabel tersebut belum tentu
sama dengan kondisi siswa di daerah perkotaan yang memiliki fasilitas dan akses pendidikan
lebih lengkap. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menganalisis hubungan
kemandirian belajar dengan literasi sains, hubungan kreativitas dengan literasi sains, serta
hubungan kemandirian belajar dengan kreativitas siswa SMA di Pulau Taliabu menggunakan
pendekatan Structural Equation ModelingPartial Least Squares. Kebaruan penelitian terletak
pada pengujian secara simultan ketiga variabel dalam konteks pendidikan wilayah kepulauan
Indonesia Timur. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar empiris bagi sekolah dan
pemerintah daerah dalam merumuskan strategi peningkatan literasi sains melalui penguatan
kemandirian belajar, kreativitas, proses pembelajaran kontekstual, fasilitas praktik, dan akses
terhadap sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional berbasis ex
post facto. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel tanpa
memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap variabel penelitian. Fokus penelitian adalah
untuk menguji hubungan kemandirian belajar (self-regulated learning), kreativitas, dan literasi
sains siswa SMA di Pulau Taliabu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA
yang berada di Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Sampel penelitian berjumlah
104 siswa yang berasal dari lima sekolah, yaitu SMAN 1, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, dan
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
63
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
SMAN 10. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu seluruh
anggota populasi yang tersedia pada lokasi penelitian dijadikan sebagai responden penelitian,
sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran yang representatif terhadap kondisi variabel
yang diteliti.
Data penelitian dikumpulkan menggunakan tiga instrumen utama yang disusun dalam
bentuk kuesioner. Instrumen pertama digunakan untuk mengukur kemandirian belajar dengan
jumlah 15 item pernyataan. Instrumen kedua mengukur kreativitas siswa yang juga terdiri dari
15 item pernyataan. Instrumen ketiga digunakan untuk mengukur literasi sains dengan 15 item
pernyataan. Seluruh instrumen menggunakan skala Likert empat poin untuk mengukur tingkat
persetujuan responden terhadap setiap pernyataan, sehingga menghasilkan data kuantitatif yang
dapat dianalisis secara statistik. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation
ModelingPartial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 3.0.
Tahapan analisis meliputi evaluasi outer model yang digunakan untuk menguji validitas dan
reliabilitas instrumen penelitian, termasuk validitas konvergen, validitas diskriminan, serta
reliabilitas konstruk. Selanjutnya dilakukan evaluasi inner model untuk melihat hubungan
antarvariabel melalui nilai koefisien jalur (path coefficient) dan koefisien determinasi (R²) yang
menunjukkan besarnya kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen.
Pengujian hipotesis dilakukan melalui prosedur bootstrapping untuk memperoleh nilai t-
statistic dan p-value guna menentukan signifikansi pengaruh antarvariabel. Dengan demikian,
metode ini memungkinkan peneliti untuk menganalisis hubungan langsung antara kemandirian
belajar dan literasi sains, kreativitas dan literasi sains, serta hubungan antara kemandirian
belajar dan kreativitas secara simultan dalam satu model struktural yang komprehensif.
3. Hasil dan Pembahasan
Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk menggambarkan tingkat kemandirian belajar,
kreativitas, dan literasi sains siswa SMA di Pulau Taliabu. Hasil analisis menunjukkan bahwa
kemandirian belajar memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 62,00 dan berada pada kategori
tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memiliki kemampuan yang
baik dalam merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri.
Hasil tersebut sejalan dengan pendapat (Zimmerman, 2002) yang menyatakan bahwa
kemandirian belajar merupakan kemampuan peserta didik dalam mengatur strategi belajar,
memonitor kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajar secara mandiri sebagai bagian dari proses
self-regulated learning.
Variabel kreativitas memperoleh nilai rata-rata sebesar 60,77 dan termasuk dalam kategori
sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menghasilkan gagasan, berpikir
fleksibel, dan menemukan alternatif pemecahan masalah masih perlu ditingkatkan. Temuan
tersebut sejalan dengan penelitian (Runco & Jaeger, 2012) yang menjelaskan bahwa kreativitas
merupakan kemampuan menghasilkan ide-ide baru yang bermanfaat dan berkembang melalui
lingkungan belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi, berinovasi,
dan memecahkan masalah secara mandiri.
Variabel literasi sains memiliki nilai rata-rata sebesar 58,57 dan berada pada kategori
sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami konsep sains,
menjelaskan fenomena ilmiah, serta menerapkan pengetahuan sains dalam kehidupan sehari-
hari masih perlu ditingkatkan. Temuan tersebut selaras dengan laporan (Ayu et al., 2025) yang
menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata
negara-negara anggota OECD sehingga memerlukan berbagai upaya untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran sains.
Secara keseluruhan, hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa kemandirian belajar
merupakan variabel dengan nilai rata-rata tertinggi, sedangkan kreativitas dan literasi sains
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
64
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
masih berada pada kategori sedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan belajar
mandiri siswa belum sepenuhnya diikuti oleh perkembangan kreativitas dan literasi sains. Hasil
ini sejalan dengan pendapat (Bybee, 2013) yang menjelaskan bahwa peningkatan literasi sains
tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kualitas pembelajaran,
pengalaman belajar berbasis inkuiri, serta lingkungan belajar yang mendukung pengembangan
kreativitas dan kemampuan berpikir ilmiah.
Evaluasi Outer Model
Validitas Konvergen
Tabel 1. Evaluasi Outer Model
Variabel
Cronbach’s Alpha
CR
AVE
Kemandirian Belajar
0,877
0,881
0,515
Kreativitas
0,867
0,875
0,590
Literasi Sains
0,886
0,810
0,522
Evaluasi outer model dilakukan untuk menguji kualitas instrumen penelitian melalui
pengujian reliabilitas dan validitas konvergen. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh
konstruk memiliki nilai Cronbach's Alpha di atas 0,70, yaitu kemandirian belajar sebesar
0,877, kreativitas sebesar 0,867, dan literasi sains sebesar 0,886. Nilai tersebut menunjukkan
bahwa setiap konstruk memiliki tingkat konsistensi internal yang baik sehingga instrumen
dinyatakan reliabel. Hasil pengujian Composite Reliability (CR) juga menunjukkan nilai di atas
batas minimum 0,70, yaitu 0,881 untuk kemandirian belajar, 0,875 untuk kreativitas, dan 0,810
untuk literasi sains. Temuan ini mengindikasikan bahwa masing-masing konstruk memiliki
reliabilitas yang baik dalam mengukur variabel penelitian.
Pengujian validitas konvergen berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE)
menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai di atas 0,50, yaitu 0,515 pada kemandirian
belajar, 0,590 pada kreativitas, dan 0,522 pada literasi sains. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa setiap konstruk mampu menjelaskan lebih dari 50% varians indikator yang
membentuknya, sehingga telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Secara keseluruhan,
hasil evaluasi outer model menunjukkan bahwa instrumen penelitian telah memenuhi
persyaratan reliabilitas dan validitas konvergen. Oleh karena itu, seluruh konstruk dinyatakan
layak untuk digunakan dalam analisis model struktural (inner model) pada tahap selanjutnya.
Evaluasi Inner Model
Hasil evaluasi inner model menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R-square)
untuk variabel literasi sains sebesar 0,018, sedangkan variabel kreativitas sebesar 0,012. Nilai
tersebut termasuk dalam kategori sangat rendah, yang menunjukkan bahwa model penelitian
hanya mampu menjelaskan 1,8% variasi literasi sains dan 1,2% variasi kreativitas. Sebagian
besar variasi kedua variabel tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak
dimasukkan ke dalam model penelitian.
Temuan ini menunjukkan bahwa kemandirian belajar belum memberikan kontribusi yang
berarti terhadap kreativitas maupun literasi sains siswa SMA di Pulau Taliabu. Hasil tersebut
sejalan dengan pendapat (Hair et al., 2017) yang menyatakan bahwa nilai R-square yang
rendah mengindikasikan kemampuan prediksi model yang terbatas sehingga masih terdapat
variabel lain yang lebih dominan dalam menjelaskan konstruk endogen. Temuan ini juga
didukung oleh penelitian (Zimmerman, 2002) yang menjelaskan bahwa pengaruh kemandirian
belajar terhadap hasil belajar sangat bergantung pada dukungan lingkungan belajar, kualitas
pembelajaran, serta ketersediaan sumber belajar yang memadai.
Ringkasan hasil evaluasi inner model berdasarkan nilai koefisien jalur, t-statistic, dan p-
value disajikan pada Tabel 2, berikut ini:
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
65
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
Tabel 2. Evaluasi Inner Model
Hubungan
Β
t-stat
p-value
Keputusan
X1 → Y
0,009
0,12
0,927
Tidak signifikan
X2 → Y
0,023
0,25
0,814
Tidak signifikan
X1 → X2
-0,101
1,02
0,307
Tidak signifikan
Hasil pengujian koefisien jalur (path coefficient) melalui prosedur bootstrapping
sebagaimana disajikan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh hubungan antarvariabel
dalam model penelitian tidak signifikan. Hubungan kemandirian belajar terhadap literasi sains
memperoleh nilai koefisien jalur (β) sebesar 0,009 dengan nilai t-statistic 0,12 dan p-value
0,927. Hubungan kreativitas terhadap literasi sains memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,023
dengan t-statistic 0,25 dan p-value 0,814. Sementara itu, hubungan kemandirian belajar
terhadap kreativitas menghasilkan koefisien jalur sebesar −0,101 dengan t-statistic 1,02 dan p-
value 0,307. Seluruh nilai p-value berada di atas taraf signifikansi 0,05, sehingga ketiga
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan tidak signifikan. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa kemandirian belajar maupun kreativitas belum memberikan pengaruh
yang bermakna terhadap literasi sains siswa SMA di Pulau Taliabu.
Diagram Model SEM-PLS
Gambar 1. Model Struktural SEM-PLS Hubungan Kemandirian Belajar, Kreativitas,
dan Literasi Sains
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut:
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
66
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
1. Kemandirian belajar siswa SMA di Pulau Taliabu berada pada kategori tinggi, sedangkan
kreativitas dan literasi sains berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
secara umum siswa memiliki kemampuan pengaturan diri dalam belajar yang baik, namun
kemampuan berpikir kreatif dan literasi sains masih belum optimal.
2. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan
antara kemandirian belajar terhadap literasi sains, kreativitas terhadap literasi sains, maupun
kemandirian belajar terhadap kreativitas. Dengan demikian, hubungan antar variabel dalam
model penelitian ini tidak terbukti secara empiris.
3. Model penelitian berbasis Structural Equation ModelingPartial Least Squares (SEM-PLS)
menunjukkan daya jelaskan yang sangat rendah terhadap variabel literasi sains, dengan nilai
koefisien determinasi (R²) sebesar 0,018. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dalam model
hanya mampu menjelaskan sebesar 1,8% variasi literasi sains siswa.
4. Rendahnya daya jelaskan model mengindikasikan bahwa literasi sains siswa di Pulau
Taliabu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di luar model penelitian,
seperti ketersediaan fasilitas pembelajaran, kualitas laboratorium IPA, akses sumber belajar
digital, serta kondisi geografis dan infrastruktur pendidikan di wilayah kepulauan.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
memberikan dukungan selama pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan
kepada kepala sekolah, guru, dan siswa SMA di Kabupaten Pulau Taliabu yang telah bersedia
menjadi responden serta memberikan bantuan selama proses pengumpulan data. Penghargaan
juga diberikan kepada rekan-rekan sejawat yang telah memberikan masukan, saran, dan
diskusi ilmiah sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian
ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam
bidang pendidikan sains, serta menjadi bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan literasi
sains siswa di wilayah kepulauan.
6. Daftar Pustaka
Afnan, R., Munasir, M., Budiyanto, M., & Aulia, M. I. R. (2023). The Role of Scientific
Literacy Instruments For Measuring Science Problem Solving Ability. IJORER:
International Journal of Recent Educational Research, 4(1), 4558.
https://doi.org/10.46245/ijorer.v4i1.271
Ayu, G. N., Putri, C. A., Riyanto, A. R., & Koto, I. (2025). The Scientific Literacy Competence
of Students in Indonesia and Mexico Based on PISA 2022: An International Comparative
Study. TOFEDU: The Future of Education Journal, 4(5), 10331038.
https://doi.org/10.61445/tofedu.v4i5.525
Bybee, R. (2013). How Is STEM Education Reform Different From Other Education Reforms?
The Case for Education Challenges and Opportunities, 3340.
www.nsta.org/permissions.
Evendi, Arviani, V., Ezmar, & Rizki Aria. (2025). Analysis of Elementary School Students’
Scientific Literacy Skills on the Topic of Animal Life Cycles. Journal Informatic,
Education and Management (JIEM), 7(2), 350356.
https://doi.org/10.61992/jiem.v7i2.151
Fatmawati, B., Jannah, B. M., & Sasmita, M. (2022). Students’ Creative Thinking Ability
Through Creative Problem Solving based Learning. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA,
8(4), 23842388. https://doi.org/10.29303/jppipa.v8i4.1846
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 60-67
67
Ikhlashul Ihsan et.al (Analisis Hubungan Kemandirian Belajar,....)
Hair, F, J., William, Rolph, J., B. B., & Babin. (2017). A Primer on Partial Least Squares
Structural Equation Modeling (PLS-SEM). In Sage.
Joshi, D. R., Khanal, J., Chapai, K. P. S., & Adhikari, K. P. (2025). The impact of digital
resource utilization on student learning outcomes and self-efficacy across different
economic contexts: A comparative analysis of PISA, 2022. International Journal of
Educational Research Open, 8, 100443.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijedro.2025.100443
Kelp, N. C., Mccartney, M., Sarvary, M. A., Shaffer, J. F., & Wolyniak, M. J. (2023). Special
Series : Scientific Literacy Developing Science Literacy in Students and Society : JMBE:
Journal of Microbiology & Biology Education, 24(2), 14.
Runco, M. A., & Jaeger, G. J. (2012). The Standard Definition of Creativity. Creativity
Research Journal, 24(1), 9296. https://doi.org/10.1080/10400419.2012.650092
Sari, D. R., Saputro, S., & Sajidan, S. (2025). A Systematic Review on Integrating SSI into
Science Education: Its Impact on 21
st
Century Skills (2014-2024). Educational Studies
and Research Journal, 2(1), 114. https://doi.org/10.60036/sa6n0870
Turiman, P., Omar, J., Daud, A. M., & Osman, K. (2012). Fostering the 21st Century Skills
through Scientific Literacy and Science Process Skills. Procedia - Social and Behavioral
Sciences, 59, 110116. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.09.253
Wu, Y. (2025). Scientific Literacy in Asia: Insights from the Top-Performing Economies in
PISA 2022. International Journal of Asian Education, 6(1), 116.
Zimmerman. (2002). Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview Theory Into Practice.
Routledge, 41(02), 6470. https://doi.org/10.1207/s15430421tip4102