50
10.47200/ aossagcj.v6i1.3703 aossagcj@gmail.com
AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 50-59
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam Menanamkan Karakter Disiplin
dan Tanggungjawab pada Santri Kelas VIII di Pesantren Salafiyah
Alkhairat Sasa
Fahrun Yamin
a,1
, Iswadi M. Ahmad
b,2
, Irfandi R. Hi. Mustafa
c,3
a,b,c
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
1
fahrun.pascas[email protected];
2
iswadiekinom@gmail.com;
3
iswadiekinom@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Maret 2026
Direvisi: 9 April 2026
Disetujui: 25 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni
2026
Dari hasil observasi yang peneliti laksanakan di tanggal 10 Maret 2026
ditemukan sebesar 52% santri berasal dari sejumlah santri kelas VIII yaitu 23
santri tidak mengerjakan tugas pada mata pelajaran IPS Terpadu. Penelitian
ini bertujuan mengetahui dan menganalisis upaya guru mata pelajaran IPS
dalam menanamkan karakter disiplin serta tanggung jawab santri melalui
pembelajaran IPS Terpadu pada kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa.
Penelitian ini memakai metode penelitian kualitatif. Teknik analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. hasil
penelitian ditemukan bahwa upaya pengajar mata pelajaran IPS dalam
menanamkan karakter disiplin dan tanggung jawab yaitu melalui prinsip
Contextual teaching and learning (CTL) yang dimana pengajar mengkaitkan
antara materi yang dipelajarinya menggunakan situasi global konkret santri.
Beberapa kendala dalam penanaman karakter disiplin serta tanggung jawab
tersebut, yaitu diantaranya a) Faktor keluarga/family, b) Faktor lingkungan, c)
Pembelajaran bold, d) Faktor berasal diri santri. Sedangkan solusi adanya
hambatan pada penanaman karakter displin dan tanggung jawab tadi yaitu
melalui, a) Kontrol oleh kepala Pesantren, b) peran aktif pengajar.
Kata Kunci:
Strategi Guru IPS;
Pendidikan Karakter;
Disiplin;
Tanggung Jawab;
Santri;
Pesantren Salafiyah
Alkhairat Sasa.
ABSTRACT
Keywords:
Social Studies Teacher
Strategies;
Character Education;
Discipline;
Responsibility;
Students (Santri);
Alkhairat Sasa Salafiyah
Islamic Boarding School.
From the results of observations that researchers carried out on March 10
2026 it was found that 52% of students came from the number of class VIII
students, namely 23 students did not work on assignments in the Integrated
Social Sciences subject. This study aims to find out and analyze the efforts of
social studies subject teachers in instilling the character of discipline and
student responsibility through integrated social studies learning in class VIII
Salafiyah Alkhairat Sasa. This research uses qualitative research methods.
The analysis technique used in this research is descriptive analysis technique.
the results of the study found that social studies teaching efforts in instilling
the character of discipline and responsibility, namely throughprinsip
Contextual teaching and learning (CTL) in which the teacher relates the
material he is studying using students' concrete global situations. Some of the
obstacles in cultivating the character of discipline and responsibility include
a) family factors, b) environmental factors, c) bold learning, d) factors
originating from the students themselves. Meanwhile, the solution to obstacles
in cultivating the character of discipline and responsibility is through, a)
Control by the head of the Islamic Boarding School, b) the active role of the
teacher
© 2026, Fahrun Yamin, Iswadi M. Ahmad, Irfandi R. Hi. Mustafa
This is an open access article under CC BY-SA license
How to Cite: Yamin, F., Ahmad, I. M., & Mustafa, I. R. H. (2026). Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam
Menanamkan Karakter Disiplin dan Tanggungjawab pada Santri Kelas VIII di Pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 6(1),
5059. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v6i1.3703
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
51
1. Pendahuluan
Pendidikan karakter di lingkungan pesantren merupakan aspek penting dalam membentuk
kepribadian santri. Guru, khususnya guru IPS, tidak hanya berperan sebagai penyampai materi,
tetapi juga sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab kepada
santri. Hal ini sejalan dengan pendapat Masinambow, Wakerkwa, dan Jacobus (2025) yang
menyatakan bahwa "guru memiliki peran strategis sebagai teladan dalam menanamkan
karakter positif peserta didik, seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan toleransi.
Keberhasilan pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh keteladanan guru dalam proses
pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah".
Pondok Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa adalah lembaga pendidikan formal yang
program pendidikannya dilaksanakan selama tiga tahun setelah menyelesaikan jenjang sekolah
dasar enam tahun. Pondok Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa memiliki beberapa tujuan
diantaranya: 1) pengembangan kualifikasi lulusan, 2) pengembangan standar isi, 3)
pengembangan standar proses, 4) pengembangan guru dan tenaga kependidikan, 5)
pengembangan sarana dan prasarana sekolah, 6) pengembangan standar manajemen, 7)
pengembangan standar administrasi. Standar keuangan, 8) Implementasi sistem pengembangan
dan evaluasi.
Sampai saat ini pendidikan karakter telah dilaksanakan di Pesantren Salafiyah Alkhairat
Sasa dan diajarkan kepada santri. Salah satu upaya pendidikan karakter tersebut dapat dilihat
dari penerapan didikan yang cenderung mencerminkan akhlak yang baik, para asatizah (guru)
menerapkan 3S (senyum, salam dan sapa) kepada setiap santri baik santri yang suda lama aktif
maupun kategori santri baru, kami memeriksa karakteristik santri dan dijadikan sebagai sarana
ketertiban dan kedisiplinan.
Berdasarkan temuan awal yang peneliti amati di Kelas VIII Pesantren Salafiyah Alkhairat
Sasa, peneliti menetapkan bahwa hal ini berkaitan dengan kurangnya kedisiplinan dan tanggung
jawab santri. temuan yang peneliti temukan pada tanggal 10 maret 2026 diketahui bahwa 52%
santri Kelas VIII yaitu. 10 santri, tidak menyelesaikan tugas IPS terpadu. Hal ini diperkuat
dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 maret 2026. Nahrawi (Guru
Mata Pelajaran IPS kelas VIII), diinformasikan bahwa santri kelas VIII kurang punya kepekaan
pada mata pelajaran IPS terpadu.
Berdasarkan permasalahan di atas dan pengamatan peneliti sebelumnya dalam proses
pembelajaran IPS terpadu di Kelas VIII Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa, dicermati berbagai
masalah dalam upaya menumbuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab santri. Peneliti mencoba
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
52
Fahrun Yamin et.al (Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam.)
mengidentifikasi permasalahan tersebut berdasarkan pengamatan. Oleh karena itu, peneliti tertarik
untuk mendalami dan mempelajari lebih dalam tentang upaya menanamkan kedisiplinan dan
tanggung jawab pada santri Salafiyah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mengangkat judul
: Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam Menanamkan Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab
pada Santri Kelas VIII di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa”.
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui dan menganalisis pengajaran disiplin dan
tanggung jawab santri melalui guru mata pelajaran IPS terpadu di Pesantren Salafiyah Alkhairat
Sasa, 2) Mengidentifikasi dan mendeskripsikan kendala dan solusi yang dihadapi Pesantren dan
guru mata pelajaran IPS dalam upaya menanamkan disiplin pada santri.
Beberapa manfaat yang penulis harapkan dari penelitian ini meliputi: Secara teoretis; (a)
Mempromosikan pemikiran ilmiah di lembaga lembaga pendidikan di Indonesia, (b)
Memperbesar dan memperkaya khazanah ilmu pendidikan, (c) Mempromosikan keilmuan di
bidang pendidikan dan disiplin ilmu lainnya, khususnya untuk Santri Salafiyah Alkhairat Sasa.
2) Dalam prakteknya; (a) Mengenai Santri kelas VIII, peneliti berharap penelitian ini dapat
memberikan masukan dan informasi yang konkrit kepada Santri sebagai titik tolak dalam upaya
peningkatan pembelajaran IPS terpadu di pesantren Salafiyah Alkhairat dalam rangka
pembudayaan santri, (b) Bagi pendidik adalah sebagai bahan masukan bagi guru IPS terpadu di
Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa untuk memperkuat karakter Santri, (c) bagi peneliti sendiri
adalah untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan pandangan yang luas, serta dapat
dijadikan sebagai alat digunakan untuk memperjelas tipologi pendidikan dalam dunia
pendidikan. (c) Bagi penulis lain, untuk memberikan inspirasi dan dorongan kepada peneliti lain
dalam melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan pemikiran peneliti.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu Peneliti sebagai umber
utama dalam wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian adalah guru IPS
terpadu untuk menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab santri dalam proses pembelajaran
IPS terpadu kelas VIII di pondok pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa. Pengumpulan data
dilakukan melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini
adalah manusia, yaitu peneliti itu sendiri. Teknik partisipasi yang diperluas, observasi aktif dan
triangulasi digunakan untuk menjaga keabsahan data. Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif yang menggunakan konsep tiga langkah
Miles dan Hubermen, yaitu reduksi data, penyajian, dan inferensi (kesimpulan).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
53
3. Hasil dan Pembahasan
Upaya Guru Mata Pelajaran IPS dalam Menanamkan Karakter Disiplin dan Tanggung
Jawab Santri Kelas VIII di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa
Menurut Koesoema (2007), Menanam adalah proses, cara, atau perbuatan menanam,
mengolah, atau menanam. Penanaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah metode yang
dilakukan pondok pesantren dalam menanamkan karakter pada santri. Karakter umumnya
diasosiasikan sebagai temperamen yang memberikan definisi menekankan unsur psikososial.
Menurut wiyani, Karakter dianggap sama dengan kepribadian sebagai sifat atau sifat atau
karakteristik seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan,
seperti keluarga.
Novitasari dan Jufri (2018), Merencanakan pelatihan karakter: Konsep dan penerapannya
dalam lembaga pendidikan menyatakan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku
setiap individu yang hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Orang yang
berkarakter baik adalah orang yang mampu mengambil keputusan dan bersedia memikul
tanggung jawab atas akibat dari keputusannya. Karakter adalah nilai-nilai yang diwujudkan
secara spiritual dari perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan. sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan
berdasarkan norma agama, hukum, adat istiadat, budaya dan adat istiadat. Pendidikan karakter
merupakan upaya mendamaikan perilaku manusia dengan nilai-nilai kehidupan. Pendidikan
karakter bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan pikiran, sikap, dan perilaku peserta
didik sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang positif, berakhlak mulia, berakhlak mulia,
dan bertanggung jawab.
Penanaman karakter merupakan suatu proses dalam menumbuhkan, menanamkan dan
mengembangkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik agar senantiasa melaksanakan tugas dan
kewajibannya yang dilandasi dengan sikap disiplin dan penuh tanggung jawab. Pelaksanaan
penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri dalam proses pembelajaran IPS Terpadu
kelas VIII di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa sudah ditanamkan secara baik kepada peserta
didik.
Gambar 1 Peneliti menberikan pemahaman kepada para Santri
Pengajaran karakter disiplin dan tanggung jawab di Pondok Pesantren Salafiyah Alkhairat
Sasa didasarkan pada penelitian yang peneliti peroleh dari hasil wawancara, observasi dan
dokumentasi di Pondok Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa. Dapat dilihat bahwa pengajaran
disiplin dan tanggung jawab diberikan. Hal ini tercermin dari santri kelas VIII Salafiyah
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
54
Fahrun Yamin et.al (Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam.)
Alkhairat Sasa yang datang tepat waktu di pondok pesantren ketika diadakan kelas tatap muka
terbatas. Selama proses pembelajaran, santri kelas VIII Ponpes Salafiyah Alkhairat Sasa
didisiplinkan untuk mengikuti praktik kesehatan terutama untuk selalu memakai masker,
menjaga jarak dan mencuci tangan sebelum masuk kelas selama proses pembelajaran lingkungan
pesantren. Inilah contoh kedisiplinan dan tanggung jawab yang ditanamkan di pondok pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa.
Penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab pada proses pembelajaran IPS Terpadu di
kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa merupakan bentuk dari contoh dan teladan yang diberikan
oleh Bapak guru baik dalam proses mengajar di dalam kelas maupun pada saat di luar kelas.
Penamanan karakter disiplin dan tanggung jawab juga terlihat dari lingkungan Pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa yang selalu terlihat bersih, hijau, rindang, indah, tamannya terlihat
sangat tertata dengan rapi dan sekitar lingkungan Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa juga di
pasang papan-papan aturan dan kata-kata motivasi pengingat untuk peserta didiknya. Selain itu
juga terlihat gazebo dan tempat duduk yang sangat tertata dengan rapi yang bisa digunakan santri
dalam belajar di luar kelas ataupun untuk aktivitas lainnya di luar kelas. Terdapat juga aturan
yang terkait dengan disiplin dalam mentaati aturan protokol kesehatan. Kebersihan dan
keindahan tersebut tidak terlepas dari kedisiplinan dan tanggung jawab semua warga Pesantren.
Selain itu, dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPS Terpadu yang dilaksanakan
secara daring di kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa. Ditemukan hasil bahwa santri-siswi kelas
VIII Salafiyah Alkhairat Sasa juga memiliki kedisiplinan dalam mengumpulkan tugas, dan
mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam penyusunan silabus dan RPP mata pelajaran IPS
Terpadu yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan karakter dimana nantinya bisa
membentuk sikap disiplin dan tanggungjawab yaitu dilakukan dengan cara mengembangkan
silabus dan RPP yang berbasis pendidikan karakter.
Menurut Nurhadi (2004), upaya dan strategi untuk menumbuhkan karakter disiplin dan
tanggung jawab dilakukan melalui prinsip-prinsip CTL. CTL adalah konsep pembelajaran yang
membantu guru menghubungkan materi yang dipelajarinya dengan situasi nyata santri, dan
mendorong santri membuat hubungan antara apa yang mereka ketahui dan bagaimana
penerapannya dalam situasi nyata dengan menghadirkan tujuh komponen efektif. CTL yaitu
menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi nyata sehingga santri dapat dengan mudah
memahami materi pembelajaran serta menemukan contoh baik dan buruk yang secara alami
dapat memunculkan karakter santri.
Meskipun telah ditanamkan nilai karakter displin dan tanggung jawab di Pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa, masih dapat ditemukan beberapa santri kelas VIII yang belum
menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab tersebut. Hal tersebut terlihat dari
beberapa santri yang telambat dalam pengumpulan tugas dan tidak mengikuti kegiatan
pembelajaran secara daring pada mata pelajaran IPS Terpadu. Oleh karena itu, penanaman
karakter disiplin dan tanggung jawab harus terus di evaluasi, diperbaiki dan ditingkatkan agar
kedisiplinan dan tanggung jawab santri tersebut berdampak terhadap prestasi santri-siswi kelas
VIII Salafiyah Alkhairat Sasa.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
55
Kendala dalam Penanaman Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Santri dalam Proses
Pembelajaran IPS Terpadu Kelas VIII Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa
Menurut Syamsul dan Kurniawan (2013), Pendidikan karakter harus dikembangkan
dengan pendekatan holistik, memanfaatkan seluruh aspek pesantren sebagai peluang
pengembangan karakter. Sehingga dapat menanamkan dalam diri santri nilai-nilai tanggung
jawab. Urgensi pembentukan karakter dijelaskan dalam buku Syamsul Kurniawan bahwa
pembentukan karakter merupakan usaha terpenting yang pernah dilakukan oleh manusia.
Pembangunan karakter adalah tujuan besar dari sistem pendidikan yang benar. Baik dalam
pendidikan keluarga maupun di pesantren, orang tua dan guru yang masih menyadari bahwa
berakhlak mulia adalah kewajiban mereka.
Menurut pengamatan peneliti, hampir tidak ada santri yang tidak mencerminkan nilai-nilai
karakter yaitu tidak ada sikap tanggung jawab atas tugas yang diberikan guru. Mengajari peserta
didik tanggungjawab adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan oleh guru manapun. Namun,
hal itu sangat penting untuk dilakukan karena pentingnya bagi seseorang untuk memiliki sifat
dan sikap ini dalam menjalani kehidupannya.
Dalam pelaksanaan penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri dalam proses
pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII Salafiyah Alkhairat
Sasa, pasti terdapat kendala dalam pelaksanaannya. Berdasarkan hasil temuan lapangan pada saat
penelitian yang peneliti laksanakan di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa terdapat beberapa
kendala dalam penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab tersebut, yaitu antara lain
sebagai berikut:
a.
Faktor Keluarga
Keluarga merupakan faktor penting dalam tumbuh kembangnya seorang anak. Suasana
kekeluargaan, interaksi dan komunikasi juga menentukan pembentukan karakter anak.
Kurangnya dukungan dan peran orang tua dan keluarga dalam menanamkan disiplin dan
tanggung jawab dapat menjadi kendala dalam menanamkan disiplin dan tanggung jawab di
pondok pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa.
b.
Faktor Lingkungan
Lingkungan pergaulan atau lingkungan tempat tinggal santri juga menjadi faktor yang
menjadi penghambat untuk meningkatkan disiplin dan tanggung jawab santri. Dalam
pembelajaran daring, santri lebih banyak menghabiskan waktunya di luar lingkungan
pesantren, sehingga pergaulan dan pengaruh negatif lingkungan juga menjadi faktor
kedisiplinan santri pondok pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa.
c.
Pembelajaran Daring
Pelaksanaan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh juga berdampak dan menjadi
kendala dalam upaya penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri di Pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa. Pembelajaran secara daring kurang dapat mengakomodir upaya
penanaman karakter kepada peserta didik kaitannya dalam ranah afektif. Seperti yang kita
ketahui, bahwa pembelajaran daring selama ini lebih terfokus kepada pencapaian dalam ranah
kognitif (pengetahuan).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
56
Fahrun Yamin et.al (Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam.)
d.
Faktor dari Diri Santri
Faktor internal yang berasal dari dalam diri santri seperti kurangnya motivasi, kurang
pahamnya santri terkait apa itu pendidikan karakter, serta mindset peserta didik yang
menganggap tanpa belajarpun akan tetap naik kelas juga menjadi salah satu faktor yang dapat
menjadi kendala upaya penanaman karakter disiplin dan tanggungjawan di Pesantren
Salafiyah Alkhairat Sasa.
Solusi Kendala Dalam Pembelajaran Karakter Kedisiplinan dan Tanggung Jawab Santri
Pada Pembelajaran IPS Terpadu Kelas VIII Di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa
Menurut
A. Ahma Noor S. Saad et al. (2021), pemecahan masalah adalah suatu proses
terencana yang harus dilakukan untuk memperoleh suatu pemecahan masalah tertentu yang
mungkin tidak segera tersedia. Menurut Matlin, dikutip Herlambang, pemecahan masalah
diperlukan jika kita menginginkannya untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi jalan menuju
solusinya tidak jelas. Dengan kata lain, ketika seorang santri dilatih untuk memecahkan suatu
masalah tertentu, mereka memiliki keterampilan yang baik dalam menghasilkan informasi yang
relevan, menganalisis informasi dan memahami kebutuhan untuk mengevaluasi kembali hasil
yang diperoleh.
Mengatasi kendala membutuhkan solusi yang dapat memberikan jalan keluar dari kendala
tersebut. Berdasarkan hasil penelitian lapangan oleh peneliti di Pondok Pesantren Salafiyah
Alkhairat Sasa, solusi untuk mengatasi kendala yang berkaitan dengan disiplin pengajaran
tanggungjawab adalah sebagai berikut:
Kontrol dari Kepala Pesantren
Kepala pondok selalu aktif turun mengecek pelaksanaan pembelajaran dari kelas ke kelas
lainnya setiap hari baik pembelajaran tatap muka secara terbatas ataupun mengontrol
pelaksanaan pembelajaran secara daring. Kontrol dari kepala Pondok sangat diperlukan dalam
upaya penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri. Kontrol dari kepala Pesantren
tersebut diwujudkan dalam upaya selalu bekerjasama dengan orang tua/wali dalam penerapan
pendidikan karakter peserta didik melalui wali kelas, guru BK dan humas dengan membentuk
grup whatsapp wali/orang tua, memotivasi peserta didik untuk bergaul dan bersosial dengan
lingkungan yang tepat agar tidak terkena pengaruh negatif, sanksi atas sikap tidak disiplin dan
tidak tanggung jawab tersebut. Sebab peran dan kebijakan dari kepala Pesantren juga menjadi
salah satu faktor penentu dalam keberhasilan penanaman kedisiplinan dan tanggung jawab dari
santri.
Kontrol yang dilakukan kepala Pondok dalam melakukan evaluasi dan penilaian Pesantren
terhadap pelaksanaan pendidikan karakter yang dilakukan dengan cara:
1)
Setiap hari senin, pada saat upacara bendera, selalu dilakukan evaluasi terhadap karakter
santri yang belum sepenuhnya menerapkan pendidikan karakter.
2)
Pada saat rapat dinas dilakukan pembahasan terkait evaluasi pelaksanaan pendidikan
karakter.
3)
Selalu mengingatkan guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada santri melalui
keteladanan, baik dalam pembelajaran maupun dalam perbuatannya.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
57
4)
Mendorong santri untuk menerapkan pendidikan karakter
e.
Peran Aktif Guru
Peran aktif dari Bapak Guru menjadi salah satu solusi dan kunci keberhasilan dalam
pelaksanaan penamanan karakter disiplin dan tanggung jawab santri. Sebab gurulah yang setiap
hari berinteraksi secara langsung kepada santri baik dalam proses pembelajaran di dalam kelas
maupun di luar kelas, serta salah satunya melalui contoh dan teladan yang baik kaitannya dengan
kedisiplinan dan tanggung jawab yang dicontohkan akan berdampak pula terhadap pembentukan
karakter disiplin dan tanggung jawab santri khususnya di kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa.
4. Penutup
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan di Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa tahun
ajaran 2025/2026 dapat disimpulkan bahwasanya, upaya guru IPS dalam menanamkan
kedisiplinan dan tanggung jawab santri di Kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa. Berdasarkan
penelitian yang peneliti peroleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi di Pondok
Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa dengan menggunakan metode kualitatif. Terlihat bahwa guru
IPS telah berusaha menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada santri yang tercermin
dari proses pembelajaran IPS yang terintegrasi melalui media pembelajaran dan pada kelas tatap
muka terbatas di Kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa
mengumpulkan tugas, mengikuti kegiatan belajar, datang tepat waktu dan disiplin dalam
melaksanakan praktik kesehatan. Ini adalah contoh disiplin dan tanggung jawab yang
ditanamkan di kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa. Guru IPS bertujuan menanamkan
kedisiplinan dan tanggung jawab melalui prinsip Contextual Teaching and Learning (CTL),
dimana guru menghubungkan pembelajarannya dengan situasi kehidupan nyata para santri.
Kendala dalam penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri dalam proses pembelajaran
IPS terpadu di kelas VIII Salafiyah Alkhairat Sasa yaitu
antara lain sebagai berikut:
a.
Faktor keluarga
Salah satu kendala dalam penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri pada proses
pembelajaran IPS terpadu di kelas VIII Pesantren Salafiyah Alkhairat Sasa adalah faktor
keluarga. Kurangnya dukungan dan perhatian dari orang tua maupun anggota keluarga dapat
memengaruhi pembentukan karakter santri. Orang tua yang kurang memberikan pengawasan,
teladan, serta pembiasaan sikap disiplin di rumah menyebabkan nilai-nilai karakter yang
ditanamkan di sekolah tidak berjalan secara optimal. Selain itu, minimnya komunikasi antara
pihak sekolah dan keluarga juga dapat menghambat keberhasilan dalam membentuk karakter
disiplin dan tanggung jawab pada diri santri.
b.
Faktor
lingkungan
Faktor
lingkungan juga menjadi kendala dalam penanaman karakter disiplin dan
tanggung jawab santri. Lingkungan tempat tinggal dan pergaulan santri memiliki
pengaruh yang besar terhadap perilaku mereka. Santri yang berada pada lingkungan
dengan praktik pergaulan yang kurang baik cenderung mudah terpengaruh oleh perilaku
negatif, seperti kurang disiplin, mengabaikan tanggung jawab, serta tidak mematuhi
aturan yang berlaku. Oleh karena itu, proses penyesuaian diri santri terhadap lingkungan
sosial di luar sekolah sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanaman
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
58
Fahrun Yamin et.al (Strategi Guru Mata Pelajaran IPS dalam.)
karakter yang dilakukan oleh guru.
c.
Faktor dari diri santri
Faktor yang berasal dari diri santri juga menjadi kendala dalam penanaman karakter
disiplin dan tanggung jawab. Kurangnya motivasi belajar, minimnya pemahaman santri
mengenai pentingnya pendidikan karakter, serta pola pikir (mindset) yang belum
mendukung menjadi hambatan dalam proses pembentukan karakter. Sebagian santri
masih menganggap bahwa pendidikan hanya berorientasi pada pencapaian akademik
semata, sehingga kurang menyadari pentingnya sikap disiplin dan tanggung jawab dalam
kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan santri kurang memiliki kesadaran
internal untuk menerapkan nilai-nilai karakter yang telah diajarkan oleh guru.
d.
Solusi atas kendala dalam penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab santri dalam
proses pembelajaran IPS terpadu di kelasVIII Salafiyah Alkhairat Sasa yaitu antara lain
sebagai berikut;
e.
Kontrol dari kepala Pesantren
Kontrol yang dilakukan kepala pondok dalam melakukan evaluasi dan penilaian santri
terhadap pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dengan cara:
1)
Setiap hari senin pada saat pelaksanaan upacara bendera selalu di evaluasi karakter-
karakter peserta didik yang belum menerapkan pendidikan karakter secara maksimal.
2)
Pada saat rapat dinas dilakukan pembahasan terkait evaluasi pelaksanan pendidikan
karakter.
3)
Mengingatkan kepada guru untuk memberikan penanaman nilai karakter kepada
peserta didik baik itu saat proses pembelajaran ataupun melaui karakter yang
dicontohkan dalam tindakannya.
4)
Memotivasi peserta didik untuk menerapkan pendidikan karakter
f.
Peran aktif guru
Melalui contoh dan teladan yang baik yang diberikan oleh guru kepada santri kaitannya
dengan kedisplinan dan tanggung jawab.
5. Daftar Pustaka
A, Ahma Noor S. Saad, dan Sazeli Ab Ghani. Mathematical Problem Solving Behavior of
Succesful Problem Solvers, Jurnal Pendidikan Sains dan Matematik, 2, no. 4,
(https://ejournal.upsi.edu.my/index.php, diakses 15 Mei 2023).
Ardy Wiyani, Membangun karakter berdasarkan iman dan takwa. Yogyakarta: Teras 2013.
Doni, Koesoma. Pendidikan karakter melalui strategi mendidik anak di era global. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana 2007.
Hamalik, Umar. Kegiatan belajar mengajar. Jakarta: Literasi Bumi, 2012. Herlambang.
“Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Santri. Tentang Bentuk Datar
dari Perspektif Teori Van Hielle", disertasi: PPS Universitas Bengkulu, 2013.
Mu’in, Fatchul. Pendidikan Karakter: Kontruksi Teoritik dan Praktik. Yogyakarta: Ar Ruzz
Media 2011.
Musli, Masnur. Menanggapi krisis multidimensi menghadirkan tantangan pembangunan
karakter. Jakarta: Sastra negara, 2011.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 50-59
59
Mustoip,Sofyan. “Implementation of Character Education,” International Journal Pedagogy of
Social Studies, 1 (2018), (https://ejournal.upi.edu/ index.php, diakses 17 Juni 2023).
Novitasari, Jupri. “Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Untuk Meningkatkan Tanggung
Jawab Santri Dalam Pembelajaran IPS”, International Journal of Social Studies
Pedagogy, 2 (2018), (https://membaca. upi.edu/index.php, per 15/05/2023).
Nurhadi, Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dan penerapannya
pada KBK. Malang: Universitas Negeri Malang 2004
Masinambow, C. J. R., Wakerkwa, T., & Jacobus, S. (2025). Peran Guru Sebagai Teladan
Dalam Pendidikan Karakter di Sulawesi Utara. Academy of Education Journal, 16(1).
https://doi.org/10.47200/aoej.v16i1.2721
Syamsul, Kurniawan. Pendidikan karakter: Perencanaan dan pelaksanaan terpadu dalam
lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Yogyakarta, Ar Ruzz
Media, 2013.
Sartika, Miss Ima. “Implementasi Pembelajaran IPS Terpadu Nilai-Nilai Karakter di SMA
Bakti Palembang”, Presentasi Seminar Nasional ke-20 Program Pascasarjana Universitas
PGRI Palembang,
Peraturan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 terkait Sistem Pendidikan Nasional
(DEPDIKNAS) Pasal 3. Wawancara dengan Ustadz Nahrawi pada Jumat sore, 12 Mei
2023
Zubaedi. Desain Character of Education: Konsep dan aplikasi di lembaga pendidikan. Jakarta:
Prenandamedia Group, 2012.