masyarakat untuk memanfaatkan tanaman obat secara tepat dan berkelanjutan. Sebaliknya,
rendahnya tingkat pengetahuan dapat menyebabkan kesalahan dalam identifikasi tanaman,
pengolahan yang tidak sesuai, maupun penggunaan yang kurang efektif. Pengetahuan
masyarakat umumnya diperoleh dari pengalaman pribadi, warisan keluarga, lingkungan sosial,
media informasi, maupun kegiatan penyuluhan kesehatan. Oleh karena itu, pengetahuan
menjadi faktor penting yang menentukan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan tanaman
obat (Fitria, A. A. 2025).
Kawasan Gunung Gamalama yang terletak di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara,
merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan flora yang cukup tinggi. Kondisi
geografis berupa gunung api aktif dengan ekosistem hutan tropis dan lahan perkebunan
menciptakan habitat yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan, termasuk
tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional (Erwin Ladjinga, et al. 2025). Sebagian
besar wilayah lereng Gunung Gamalama masih didominasi oleh kawasan perkebunan dan
hutan yang menyimpan berbagai sumber daya hayati yang bernilai ekologis maupun ekonomis
bagi masyarakat sekitar (Utami, S. M., & Arsi, A. A. 2022).
Kelurahan Moya merupakan salah satu wilayah yang berada pada kawasan kaki Gunung
Gamalama dan memiliki keterkaitan yang erat dengan pemanfaatan sumber daya alam di
sekitarnya. Masyarakat Moya secara turun-temurun memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan
sebagai bahan pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan Kesehatan (Erwin
Ladjinga, et al. 2025). Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh melalui pengalaman, praktik
pengobatan keluarga, serta pewarisan budaya dari generasi sebelumnya. Keberadaan
pengetahuan lokal ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat sekaligus
menjadi bentuk pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan (Margitha, A. V.
2026).
Penelitian mengenai pengetahuan lokal masyarakat Moya menunjukkan bahwa
masyarakat masih memiliki pemahaman yang cukup baik tentang pemanfaatan tumbuhan obat
tradisional. Sebanyak 27 spesies tumbuhan obat dari 19 famili telah dimanfaatkan oleh
masyarakat Moya sebagai obat tradisional (Hartono pitra, et al, 2017). Bagian tumbuhan yang
paling banyak digunakan adalah daun, sedangkan pengetahuan mengenai penggunaan tanaman
obat sebagian besar diperoleh secara turun-temurun dari orang tua dan leluhur. Temuan ini
menunjukkan bahwa masyarakat Moya memiliki kekayaan pengetahuan etnobotani yang perlu
dilestarikan dan dikembangkan (Nge, S. T. M., & Ballo, A. 2025).
Namun demikian, perkembangan ilmu pengetahuan, modernisasi, urbanisasi, serta
meningkatnya penggunaan obat-obatan modern berpotensi menyebabkan terjadinya
pergeseran pola pengobatan masyarakat (Zulkarnain, I. 2026). Pemanfaatan tumbuhan obat
tradisional yang dahulu menjadi pilihan utama mulai tergantikan oleh obat-obatan sintetis
yang dianggap lebih praktis dan mudah diperoleh (Ervin, R. D. 2022). Kondisi ini dapat
menyebabkan berkurangnya transfer pengetahuan lokal kepada generasi muda sehingga
keberlangsungan pemanfaatan tanaman obat menjadi terancam. Bahkan, beberapa penelitian
mengungkapkan bahwa modernisasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
menurunnya pengenalan masyarakat terhadap tanaman obat lokal (Yarmaliza, et al, 2025)
Selain memiliki nilai kesehatan, pemanfaatan tanaman obat juga berkontribusi terhadap
upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian budaya lokal. Pengetahuan
masyarakat mengenai tanaman obat merupakan bagian dari kearifan lokal yang tidak hanya
bermanfaat dalam pengobatan tradisional, tetapi juga berperan dalam menjaga hubungan
masyarakat dengan lingkungan alamnya. Pada masyarakat Ternate, pengetahuan lokal telah
menjadi bagian penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan sumber
daya alam dan mitigasi bencana di kawasan Gunung Gamalama. Oleh karena itu, pelestarian
pengetahuan mengenai tanaman obat menjadi penting untuk mendukung keberlanjutan budaya
dan lingkungan.