AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 42-49
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
42
10.47200/ aossagcj.v6i1.3667 aossagcj@gmail.com
Relationship Between Community Knowledge and
the Utilization of Medicinal Plants Among the Moya
Community in the Gunung Gamalama Region,
Indonesia
Yusri Juma
a,1
, Tamalia
b,2
, Zulkifli I. Tuara
c,3
, Rasmi Hi Panu
d,4
, Fahrun Yamin
e,5
a,b,d
Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
c
Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
e
Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Inovasi Pendidikan, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
1
2
tamaliacici99@gmail.com;
3
4
5
fahrun.pascasarjana@gmail.com
*
yusri.juma12@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Maret 2026
Direvisi: 9 April 2026
Disetujui: 25 Mei 2026
Tersedia Daring:1 Juni 2026
Pemanfaatan tanaman obat merupakan salah satu bentuk kearifan
lokal yang masih dipraktikkan oleh masyarakat di berbagai daerah
Indonesia, termasuk masyarakat Moya di kawasan Gunung
Gamalama, Kota Ternate. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan
pemanfaatan tanaman obat serta menginventarisasi jenis-jenis
tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Moya. Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei
korelasional. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur dan
kuesioner terhadap 25 responden yang dipilih secara purposive
sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial
menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dan regresi linear
sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat memiliki nilai rata-rata 75,84 ± 11,48, sedangkan tingkat
pemanfaatan tanaman obat memiliki nilai rata-rata 78,28 ± 11,47.
Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat
kuat dan signifikan antara tingkat pengetahuan dan pemanfaatan
tanaman obat (r = 0,999; p < 0,05). Hasil regresi menunjukkan bahwa
tingkat pengetahuan berkontribusi sebesar 99,74% terhadap variasi
pemanfaatan tanaman obat. Inventarisasi etnobotani berhasil
mendokumentasikan 25 spesies tanaman obat yang berasal dari 17
famili tumbuhan, dengan daun sebagai bagian tumbuhan yang paling
banyak dimanfaatkan. Tanaman-tanaman tersebut digunakan untuk
mengatasi berbagai gangguan kesehatan, seperti diabetes, hipertensi,
malaria, gangguan pencernaan, penyakit kulit, dan batuk. Hasil
penelitian menegaskan bahwa pengetahuan masyarakat berperan
penting dalam mempertahankan pemanfaatan tanaman obat
sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal dan sumber daya
hayati di kawasan Gunung Gamalama.
Kata Kunci:
Etnobotani
Kearifan lokal
Masyarakat Moya
Tanaman obat
Tingkat Pengetahuan
ABSTRACT
Keywords:
Ethnobotany
Local wisdom
Medicinal plants
Moya community
Knowledge level
The use of medicinal plants represents an important component of local
wisdom that continues to be practiced by communities across Indonesia,
including the Moya community living in the Gunung Gamalama area,
Ternate City. This study aimed to examine the relationship between
community knowledge levels and the utilization of medicinal plants, as
well as to document the diversity of medicinal plant species used by the
Moya community. A quantitative approach with a correlational survey
design was employed. Data were collected through structured interviews
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
43
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
and questionnaires administered to 25 respondents selected using
purposive sampling. Descriptive and inferential statistical analyses were
performed using Pearson’s Product-Moment correlation and simple
linear regression. The results revealed that the mean knowledge score of
respondents was 75.84 ± 11.48, while the mean medicinal plant
utilization score was 78.28 ± 11.47. Pearson correlation analysis
demonstrated a very strong and significant positive relationship between
community knowledge and medicinal plant utilization (r = 0.999; p <
0.05). Regression analysis indicated that community knowledge
accounted for 99.74% of the variation in medicinal plant utilization.
Ethnobotanical inventory documented 25 medicinal plant species
belonging to 17 plant families, with leaves being the most frequently
utilized plant part. These medicinal plants were commonly used to treat
various health conditions, including diabetes, hypertension, malaria,
digestive disorders, skin diseases, and coughs. The findings highlight the
pivotal role of community knowledge in sustaining the utilization of
medicinal plants while simultaneously supporting the preservation of
local wisdom and biodiversity in the Gunung Gamalama region.
© 2026, Yusri Juma, Tamalia, Zulkifli I. Tuara, Rasmi Hi Panu, Fahrun Yamin
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di
dunia yang memiliki potensi besar sebagai sumber tanaman obat. Berbagai jenis tumbuhan
yang tumbuh di Indonesia telah dimanfaatkan secara turun-temurun sebagai bahan pengobatan
tradisional oleh masyarakat (Suprapto, S. J., & Rahardjanto, A. 2025). Pemanfaatan tanaman
obat menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan masyarakat karena relatif mudah
diperoleh, biaya pengobatan lebih murah, serta memiliki nilai budaya yang kuat. Selain itu,
meningkatnya kecenderungan masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan alami
(back to nature) turut mendorong pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif maupun
pelengkap pengobatan modern (Pramesthi, et al. 2024).
Pemanfaatan tanaman obat di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengobatan,
tetapi juga sebagai upaya pelestarian pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-
temurun. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sumber
daya hayati yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat (El-Yunusi, et al. 2025).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanaman obat masih banyak dilakukan
karena dianggap aman, mudah diakses, dan memiliki efek samping yang relatif lebih rendah
dibandingkan obat sintetis apabila digunakan secara tepat. Oleh karena itu, keberadaan
tanaman obat memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan kesehatan masyarakat,
terutama pada wilayah yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas Kesehatan
(Khoirunnisa, D. A., Listina, O., & Alfiraza, E. N. 2025).
Keberhasilan pemanfaatan tanaman obat sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan
masyarakat mengenai jenis tanaman, manfaat, cara pengolahan, dosis penggunaan, serta
keamanan pemakaiannya (Margitha, A. V. 2026). Pengetahuan yang baik akan mendorong
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
44
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
masyarakat untuk memanfaatkan tanaman obat secara tepat dan berkelanjutan. Sebaliknya,
rendahnya tingkat pengetahuan dapat menyebabkan kesalahan dalam identifikasi tanaman,
pengolahan yang tidak sesuai, maupun penggunaan yang kurang efektif. Pengetahuan
masyarakat umumnya diperoleh dari pengalaman pribadi, warisan keluarga, lingkungan sosial,
media informasi, maupun kegiatan penyuluhan kesehatan. Oleh karena itu, pengetahuan
menjadi faktor penting yang menentukan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan tanaman
obat (Fitria, A. A. 2025).
Kawasan Gunung Gamalama yang terletak di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara,
merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan flora yang cukup tinggi. Kondisi
geografis berupa gunung api aktif dengan ekosistem hutan tropis dan lahan perkebunan
menciptakan habitat yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan, termasuk
tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional (Erwin Ladjinga, et al. 2025). Sebagian
besar wilayah lereng Gunung Gamalama masih didominasi oleh kawasan perkebunan dan
hutan yang menyimpan berbagai sumber daya hayati yang bernilai ekologis maupun ekonomis
bagi masyarakat sekitar (Utami, S. M., & Arsi, A. A. 2022).
Kelurahan Moya merupakan salah satu wilayah yang berada pada kawasan kaki Gunung
Gamalama dan memiliki keterkaitan yang erat dengan pemanfaatan sumber daya alam di
sekitarnya. Masyarakat Moya secara turun-temurun memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan
sebagai bahan pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan Kesehatan (Erwin
Ladjinga, et al. 2025). Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh melalui pengalaman, praktik
pengobatan keluarga, serta pewarisan budaya dari generasi sebelumnya. Keberadaan
pengetahuan lokal ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat sekaligus
menjadi bentuk pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan (Margitha, A. V.
2026).
Penelitian mengenai pengetahuan lokal masyarakat Moya menunjukkan bahwa
masyarakat masih memiliki pemahaman yang cukup baik tentang pemanfaatan tumbuhan obat
tradisional. Sebanyak 27 spesies tumbuhan obat dari 19 famili telah dimanfaatkan oleh
masyarakat Moya sebagai obat tradisional (Hartono pitra, et al, 2017). Bagian tumbuhan yang
paling banyak digunakan adalah daun, sedangkan pengetahuan mengenai penggunaan tanaman
obat sebagian besar diperoleh secara turun-temurun dari orang tua dan leluhur. Temuan ini
menunjukkan bahwa masyarakat Moya memiliki kekayaan pengetahuan etnobotani yang perlu
dilestarikan dan dikembangkan (Nge, S. T. M., & Ballo, A. 2025).
Namun demikian, perkembangan ilmu pengetahuan, modernisasi, urbanisasi, serta
meningkatnya penggunaan obat-obatan modern berpotensi menyebabkan terjadinya
pergeseran pola pengobatan masyarakat (Zulkarnain, I. 2026). Pemanfaatan tumbuhan obat
tradisional yang dahulu menjadi pilihan utama mulai tergantikan oleh obat-obatan sintetis
yang dianggap lebih praktis dan mudah diperoleh (Ervin, R. D. 2022). Kondisi ini dapat
menyebabkan berkurangnya transfer pengetahuan lokal kepada generasi muda sehingga
keberlangsungan pemanfaatan tanaman obat menjadi terancam. Bahkan, beberapa penelitian
mengungkapkan bahwa modernisasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
menurunnya pengenalan masyarakat terhadap tanaman obat lokal (Yarmaliza, et al, 2025)
Selain memiliki nilai kesehatan, pemanfaatan tanaman obat juga berkontribusi terhadap
upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian budaya lokal. Pengetahuan
masyarakat mengenai tanaman obat merupakan bagian dari kearifan lokal yang tidak hanya
bermanfaat dalam pengobatan tradisional, tetapi juga berperan dalam menjaga hubungan
masyarakat dengan lingkungan alamnya. Pada masyarakat Ternate, pengetahuan lokal telah
menjadi bagian penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan sumber
daya alam dan mitigasi bencana di kawasan Gunung Gamalama. Oleh karena itu, pelestarian
pengetahuan mengenai tanaman obat menjadi penting untuk mendukung keberlanjutan budaya
dan lingkungan.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
45
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
Hingga saat ini, penelitian yang secara khusus mengkaji tingkat pemahaman masyarakat
Moya dalam pemanfaatan tanaman obat di kawasan Gunung Gamalama masih relatif terbatas.
Sebagian besar penelitian terdahulu lebih menitikberatkan pada identifikasi jenis tumbuhan
obat atau kajian etnobotani, sementara informasi mengenai tingkat pemahaman masyarakat
dan faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan tanaman obat masih belum banyak tersedia
(Ana, F. 2025). Padahal, informasi tersebut sangat penting sebagai dasar dalam penyusunan
program edukasi, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat berbasis potensi tanaman obat
lokal.
Penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan masyarakat Moya dengan
pemanfaatan tanaman obat menjadi penting untuk dilakukan karena dapat memberikan
informasi mengenai sejauh mana pengetahuan masyarakat memengaruhi perilaku pemanfaatan
tanaman obat. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, institusi
pendidikan, maupun pihak terkait dalam merancang program edukasi, konservasi, dan
pemberdayaan masyarakat berbasis tanaman obat. Selain itu, penelitian ini juga dapat
mendukung upaya pelestarian pengetahuan etnobotani yang merupakan bagian dari kekayaan
budaya masyarakat di Ternate.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional
untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan pemanfaatan
tanaman obat di kawasan Gunung Gamalama, Kelurahan Moya, Kota Ternate, Provinsi
Maluku Utara. Penelitian dilaksanakan pada masyarakat yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan mengenai penggunaan tanaman obat tradisional. Populasi penelitian adalah
masyarakat Kelurahan Moya yang memanfaatkan tanaman obat dalam kehidupan sehari-hari.
Sampel penelitian berjumlah 25 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive
sampling dengan kriteria responden berusia dewasa, berdomisili di Kelurahan Moya, dan
memiliki pengetahuan atau pengalaman dalam pemanfaatan tanaman obat. Data primer
diperoleh melalui wawancara terstruktur dan kuesioner yang disusun untuk mengukur tingkat
pengetahuan masyarakat mengenai tanaman obat serta tingkat pemanfaatannya.
Variabel penelitian terdiri atas tingkat pengetahuan masyarakat sebagai variabel bebas (X)
dan pemanfaatan tanaman obat sebagai variabel terikat (Y). Tingkat pengetahuan diukur
berdasarkan kemampuan responden mengenali jenis tanaman obat, manfaat, bagian tanaman
yang digunakan, serta cara pengolahannya. Sementara itu, tingkat pemanfaatan diukur
berdasarkan penggunaan tanaman obat dalam pengobatan tradisional dan pemeliharaan
kesehatan keluarga. Selain pengumpulan data kuantitatif, dilakukan inventarisasi jenis
tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat melalui observasi lapangan dan wawancara
dengan informan kunci. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial
dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics dan Microsoft Excel. Analisis deskriptif
digunakan untuk menggambarkan karakteristik data melalui nilai rata-rata, simpangan baku,
nilai minimum, dan maksimum. Hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan
pemanfaatan tanaman obat dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment pada
taraf signifikansi 5% = 0,05). Selanjutnya, koefisien determinasi (R²) digunakan untuk
mengetahui besarnya kontribusi tingkat pengetahuan terhadap pemanfaatan tanaman obat.
Data inventarisasi tumbuhan obat dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel
yang memuat nama lokal, nama ilmiah, famili, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, dan
khasiatnya.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
46
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
Tingkat Pengetahuan dan Pemanfaatan Tanaman Obat Masyarakat Moya
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Moya
mengenai pemanfaatan tanaman obat memiliki nilai rata-rata sebesar 75,84±11,48 dengan
rentang skor antara 5595. Sementara itu, tingkat pemanfaatan tanaman obat memiliki nilai
rata-rata sebesar 78,28±11,47 dengan rentang skor antara 5898. Data tersebut menunjukkan
bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan dan pemanfaatan tanaman
obat yang relatif tinggi. Deskripsi variabel penelitian disajikan pada Tabel 1. Sebagai berikut.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel
N
Minimum
Maksimum
Mean±SD
Pengetahuan
25
55
95
75,84±11,48
Pemanfaatan
25
58
98
78,28±11,47
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pemanfaatan Tanaman Obat
Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat
pengetahuan masyarakat dan pemanfaatan tanaman obat. Nilai koefisien korelasi yang
diperoleh sebesar 0,999 dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Korelasi pearson disajikan
pada Tabel 2. Sebagai berikut.
Tabel 2. Hasil Uji Korelasi Pearson
Variabel
r
Sig. (2-tailed)
Pengetahuan dan Pemanfaatan
0,999
0,000
Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan
antara tingkat pengetahuan masyarakat dan pemanfaatan tanaman obat. Uji Regresi Linear
diperoleh nilai R=0,999 dan nilai R
2
=0,999 seperti pada Gambar 1. Kurva regresi linear
antara pengetahuan dan pemanfaatan tanaman obat sebagai berikut.
Gambar 1. Kurva regresi linear hubungan antara pengetahuan dan pemanfaatan tanaman obat.
Keanekaragaman Tanaman Obat yang Dimanfaatkan Masyarakat Moya
Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa masyarakat Moya memanfaatkan 25 spesies
tanaman obat yang berasal dari 17 famili tumbuhan. Bagian tumbuhan yang paling banyak
dimanfaatkan adalah daun, diikuti oleh buah, akar, getah, umbi, dan rimpang. Tanaman-
tanaman tersebut digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan seperti diabetes,
hipertensi, malaria, diare, penyakit kulit, batuk, dan demam.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
47
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Moya memiliki tingkat pengetahuan
yang relatif tinggi mengenai tanaman obat. Tingginya tingkat pengetahuan tersebut
mengindikasikan bahwa masyarakat masih mempertahankan pengetahuan tradisional
mengenai jenis tanaman obat, bagian tanaman yang digunakan, cara pengolahan, serta
manfaatnya untuk pengobatan. Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh melalui proses
pewarisan budaya secara turun-temurun dan pengalaman empiris dalam kehidupan sehari-
hari. Keberlangsungan pengetahuan lokal ini menjadi salah satu faktor penting dalam
menjaga praktik pengobatan tradisional di tengah perkembangan sistem kesehatan modern.
Hubungan yang sangat kuat antara tingkat pengetahuan dan pemanfaatan tanaman obat
menunjukkan bahwa pengetahuan berperan penting dalam membentuk perilaku masyarakat
terhadap penggunaan tanaman obat. Masyarakat yang memiliki pengetahuan lebih baik
cenderung lebih yakin dalam memilih, mengolah, dan memanfaatkan tanaman obat untuk
mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Temuan ini sejalan dengan teori perilaku kesehatan
yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang memengaruhi
terbentuknya sikap dan tindakan seseorang dalam bidang kesehatan. Semakin tinggi tingkat
pengetahuan seseorang, semakin besar kemungkinan individu tersebut menerapkan
pengetahuan yang dimilikinya dalam bentuk perilaku nyata (Wardani et al, 2025).
Besarnya nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa variasi pemanfaatan tanaman
obat dalam penelitian ini sebagian besar dapat dijelaskan oleh tingkat pengetahuan
masyarakat. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan pengetahuan mengenai
tanaman obat berpotensi meningkatkan pemanfaatan tanaman obat dalam kehidupan sehari-
hari. Namun demikian, pemanfaatan tanaman obat pada dasarnya juga dapat dipengaruhi
oleh faktor lain seperti tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, kondisi ekonomi, akses terhadap
fasilitas kesehatan, pengalaman penggunaan obat tradisional, dan ketersediaan tanaman obat
di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang
lebih besar dan melibatkan lebih banyak variabel diperlukan untuk memperoleh gambaran
yang lebih komprehensif. (Wardani et al, 2025; Febrianti et al, 2026; Hosseini et al, 2021)
Inventarisasi tanaman obat menunjukkan bahwa masyarakat Moya memanfaatkan
sedikitnya 25 spesies tumbuhan obat yang berasal dari berbagai famili tumbuhan.
Keanekaragaman spesies tersebut mencerminkan tingginya pengetahuan etnobotani yang
dimiliki masyarakat serta ketersediaan sumber daya hayati yang mendukung praktik
pengobatan tradisional. Dominasi penggunaan daun sebagai bahan obat juga ditemukan pada
berbagai penelitian etnobotani di Indonesia. Daun umumnya lebih mudah diperoleh, tersedia
sepanjang tahun, serta mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid,
alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid yang diketahui memiliki aktivitas farmakologis.
Beberapa spesies yang ditemukan dalam penelitian ini, seperti pegagan (Centella asiatica),
sirih (Piper betle), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), dan
mengkudu (Morinda citrifolia), telah banyak dilaporkan memiliki aktivitas biologis yang
mendukung penggunaannya sebagai obat tradisional (WHO, 2026; Hidayat & Nusirwan,
2025).
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman obat di masyarakat
Moya tidak hanya berfungsi sebagai alternatif pengobatan, tetapi juga merupakan bagian dari
identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat. Oleh karena itu, upaya dokumentasi dan
pelestarian pengetahuan etnobotani menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan
pemanfaatan tanaman obat di masa mendatang. Program edukasi berbasis kearifan lokal,
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
48
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
pengembangan kebun tanaman obat keluarga, serta penelitian lanjutan mengenai potensi
farmakologis tanaman obat lokal dapat menjadi strategi yang efektif dalam mendukung
pelestarian keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional masyarakat Moya.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Moya tentang
tanaman obat berhubungan positif dan sangat signifikan dengan tingkat pemanfaatannya (r =
0,999; p < 0,05). Tingkat pengetahuan masyarakat tergolong tinggi (75,84 ± 11,48) dan diikuti
oleh tingkat pemanfaatan tanaman obat yang juga tinggi (78,28 ± 11,47). Selain itu,
teridentifikasi 25 spesies tanaman obat dari 17 famili yang dimanfaatkan untuk mengatasi
berbagai gangguan kesehatan. Hasil ini menegaskan bahwa pengetahuan masyarakat berperan
penting dalam mempertahankan pemanfaatan tanaman obat serta pelestarian kearifan lokal di
kawasan Gunung Gamalama.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan
selama pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat
Kelurahan Moya yang telah berpartisipasi sebagai responden dan memberikan informasi yang
diperlukan dalam penelitian ini. Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak sangat
membantu dalam penyelesaian penelitian dan penyusunan artikel ini.
6. References (Daftar Pustaka)
ANA, F. (2025). EKSPLORASI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT SUKU LAMPUNG
DESA KOTA BARU KECAMATAN NEGERI AGUNG KABUPATEN WAY
KANAN(Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).
El-Yunusi, M. Y. M., & Idris, M. (2025). Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk
Meningkatkan Kesehatan Masyarakat di Desa Grogol Sidoarjo. AL MURTADO: Journal
of Social Innovation and Community Service, 2(1), 35-43.
Ervin, R. D. (2022). Analisis faktor yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian obat
tradisional dan obat sintetik pada masyarakat Desa Bumiaji Kota Batu (Doctoral
dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Erwin Ladjinga, S. P., Ishak, I. L., & Sarif Robo, S. P. (2025). KARAKTERISTIK GENESIS
TANAH PADA BEBERAPA PULAU KECIL DI MALUKU UTARA. Lingkar Edukasi
Indonesia.
Febriyanti, R.M., Ramadhania, Z.M., Tjitraresmi, A. et al. (2026). A systematic review of
ethnobotanical study in Indonesia: diversity and cultural patterns of medicinal plant use. J
Ethnobiology Ethnomedicine 22, 42 (2026). https://doi.org/10.1186/s13002-026-00879-4
FITRIA, A. A. (2025). EKSPLORASI TUMBUHAN BERPOTENSI OBAT DI DESA
TANJUNG RAJA: IDENTIFIKASI DAN PEMANFAATAN SEBAGAI UPAYA
PELESTARIAN PENGETAHUAN LOKAL (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan
Lampung).
Hartono pitra, et al, (2017). Studi Pengetahuan Lokal Masyarakat Moya Tentang Pemanfaatan
Tumbuhan Sebagai Obat Tradisional.. Saintifik@ MIPA.
Hidayat, M. dan Nusirwan, N. (2025). Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Desa Lawe
Cimanok Kabupaten Aceh Selatan: Ethnobotany of Medicinal Plants of the Lawe
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 42-49
49
Yusri Juma et.al (Relationship Between Community Knowledge and....)
Cimanok Village Community, South Aceh Regency. Life Science, 14(2), 165-179.
https://doi.org/10.15294/unnesjlifesci.v14.i2.34584
Hosseini, S.H., Bibak, H., Ghara, A.R. et al. (2021). Ethnobotany of the medicinal plants used
by the ethnic communities of Kerman province, Southeast Iran. J Ethnobiology
Ethnomedicine 17, 31 (2021). https://doi.org/10.1186/s13002-021-00438-z
JABUNG LAMPUNG TIMUR (Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).
Khoirunnisa, D. A., Listina, O., & Alfiraza, E. N. (2025). Analisis keputusan pemilihan
penggunaan obat herbal dan obat konvensional di kalangan usia produktif Kecamatan
Pangkah. Biocity Journal of Pharmacy Bioscience and Clinical Community, 4(1), 33-42.
Margitha, A. V. (2026). STUDI ETNOFARMASI: PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
BERBASIS KEARIFAN LOKAL OLEH SUKU LAMPUNG DI PEKON UNGGAK,
KECAMATAN KELUMBAYAN, KABUPATEN TANGGAMUS.
Margitha, A. V. (2026). STUDI ETNOFARMASI: PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
BERBASIS KEARIFAN LOKAL OLEH SUKU LAMPUNG DI PEKON UNGGAK,
KECAMATAN KELUMBAYAN, KABUPATEN TANGGAMUS.
Nge, S. T. M., & Ballo, A. (2025). Warisan Hijau: Eksplorasi Tumbuhan Obat Tradisional
Rote Ndao. Penerbit NEM.
Pramesthi, A. Z., Purnamasari, F., & Setiawan, I. (2024). Eksplorasi Keanekaragaman Hayati
Tanaman Konsumsi di Pekarangan Desa Sumber RW 07 Surakarta Integrasi Fungsi
Pangan dan Pengobatan. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(6), 7865-
7880.
Qonitah, Fadilah, et al. "Peningkatan Pengetahuan dan Pemahaman Mahasiswa D3 Agrobisnis
UNS
Rohyani, Immy Suci, et al. "Pelatihan Pembuatan Kebun Obat Tradisional Berbasis Tumbuhan
Lokal Di Dusun Murpeji Desa Dasan Griya Kabupaten Lombok Barat." Jurnal
Pengabdian Magister Pendidikan IPA 8.4 (2025): 1230-1236.
Suprapto, S. J., & Rahardjanto, A. (2025). KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN YANG
BERPOTENSI UNTUK OBAT HERBAL DI WILAYAH KAMPUNG CIWANGUN
RT/RW 02/07 DESA CUPUNAGARA KEC. CISALAK, KAB. SUBANG JAWA
BARAT. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(5).
Utami, S. M., & Arsi, A. A. (2022). Lingkungan perdesaan: Sebuah tantangan perubahan bagi
masyarakat pegunungan. Bookchapter Alam Universitas Negeri Semarang, (1), 90-120.
Wardani IB, Nuruzzaman A, Nurlim R, Nasution NEA, dan Wanto WA. (2025).
Ethnobotanical Study Ethnobotanical Study and Phytochemical Review of Medicinal
Plants Used by the Pandalungan Community in Taman Village, Bondowoso, Indonesia:
An Insight into Traditional Knowledge and Bioactive Potential for Sustainable
Utilization. Bionature [Internet]. 2025 Dec. 10 [cited 2026 Jun. 13];26(2):1-14. Available
from: https://journal.unm.ac.id/index.php/bionature/article/view/9416
World Health Organization. (2025). Traditional Medicine. Diakses Tanggal 7 Juni 2026.
Yarmaliza, et al. Kesehatan Masyarakat Agraris: Konsep, Tantangan, dan Pemberdayaan. CV
Eureka Media Aksara, 2025.
Zulkarnain, I. (2026). Orang Mapor dan Strategi Bertahan dalam Pemanfaatan Obat
Tradisional di Era Modernisasi. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(03), 752-780.