AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2016) page 33-41
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
33
10.47200/ aossagcj.v6i1.3655 aossagcj@gmail.com
Implementasi Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) di SMP Ghautsul Ibaad Kelas IX
dalam Membentuk Karakter Sosial Peserta Didik
Muhamad Rifqy Al Ghifari
a,1
, Heri Kurnia
b,2
a,b
Universitas Pamulang, Jl. Puspitek, Buaran, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, 15310
1
aalghifari14215@gmail.com;
2
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Maret 2026
Direvisi: 9 April 2026
Disetujui: 25 Mei 2026
Tersedia Daring:1 Juni 2026
Pendidikan karakter sosial di tingkat SMP masih menghadapi
tantangan dalam membentuk generasi yang berkualitas, ditandai
dengan sikap acuh dan intoleransi di kalangan remaja. Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menawarkan pendekatan
berbasis masalah nyata yang mendorong keterampilan berpikir kritis,
kolaborasi, serta pembentukan karakter sosial seperti kerjasama,
empati, dan tanggung jawab pada peserta didik kelas IX SMP Ghautsul
Ibaad yang berbasis pesantren. Penelitian ini menganalisis
implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di
SMP Ghautsul Ibaad kelas IX untuk membentuk karakter sosial peserta
didik, mengatasi tantangan pendidikan karakter di Indonesia seperti
intoleransi, dan kurangnya sikap peduli sosial yang masih marak. PBL
mendorong peserta didik memecahkan masalah nyata secara
kolaboratif, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kerjasama,
empati, komunikasi, serta disiplin berdasarkan studi sebelumnya.
Tujuan utamanya mendeskripsikan penerapan efektif PBL guna
merekomendasikan metode ini sebagai solusi pembelajaran aktif yang
membangun generasi berkarakter positif, meski masih ada tantangan
bagi penerapnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa
observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap proses
pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL di
kelas IX SMP Ghautsul Ibaad mampu mendorong peserta didik untuk
lebih aktif dalam diskusi kelompok, menghargai pendapat orang lain,
serta membiasakan diri mengambil keputusan bersama. Selain itu,
peserta didik lebih terlibat dalam kegiatan sosial yang menuntut
kerjasama dan sikap saling membantu di antara sesama.
Kesimpulannya, implementasi PBL efektif dalam membentuk karakter
sosial peserta didik karena menempatkan peserta didik sebagai subjek
pembelajaran, membiasakan mereka berinteraksi secara positif, serta
menanamkan nilai kerjasama dan empati melalui penyelesaian
masalah yang relevan dengan lingkungan sosial mereka.
Kata Kunci:
Implementasi,
PBL
Karakter Sosial
ABSTRACT
Keywords:
Implementation,
PBL,
Social Character
Social character education at the junior high school level still faces
challenges in developing a quality generation, characterized by apathy
and intolerance among adolescents. The Problem-Based Learning (PBL)
model offers a real-world problem-based approach that encourages
critical thinking skills, collaboration, and the development of social
character traits such as cooperation, empathy, and responsibility in
ninth-grade students at SMP Ghautsul Ibaad, a boarding school. This
study analyzes the implementation of the Problem-Based Learning (PBL)
model at SMP Ghautsul Ibaad to shape students' social character and
address challenges in character education in Indonesia, such as
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
34
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based...)
intolerance and a lack of social awareness that are still prevalent. PBL
encourages students to solve real-world problems collaboratively,
improving critical thinking skills, cooperation, empathy, communication,
and discipline, based on previous studies. The main objective is to
describe the effective implementation of PBL and recommend this
method as an active learning solution that builds a generation with
positive character, despite the challenges it faces. The method used in this
study is descriptive qualitative, with data collection techniques including
observation, interviews, and documentation of the learning process. The
results of the study indicate that the implementation of PBL in ninth-
grade students at Ghautsul Ibaad Middle School encouraged students to
be more active in group discussions, respect others' opinions, and develop
a habit of making decisions together. Furthermore, students were more
involved in social activities that required cooperation and mutual
assistance. In conclusion, PBL implementation is effective in shaping
students' social character because it positions them as the subjects of
learning, accustoms them to positive interactions, and instills the values
of cooperation and empathy through problem-solving relevant to their
social environment.
© 2026, Muhamad Rifqy Al Ghifari, Heri Kurnia
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Proses belajar selalu terikat antara guru dan peserta didik, dalam pembelajaran seorang
guru harus memahami dan menguasai tentang bagaimana cara agar peserta didik dapat
membangun rasa keingin tahuan terhadap sesuatu yang didasari dari pribadi peserta didik
tanpa adanya paksaan eksternal. Kemauan belajar peserta didik terhubung pada gurru pendidik
yang kreatif dan inovatif, hal ini bertujuan supaya peserta didik menganggap bahwa belajar itu
adalah hal yang menyenangkan. Purwanto mengatakan bahwa Ki Hajar Dewantara
menjelaskan mengenai pendidikan bahwa penidikan itu adalah tentang peningkatan kualitas
perkembangan karakter, mental, dan perkembangan fisik anak. Ungkapan yang diberikan
menyatakan bahwa kita dapat meningkatkan kualitas anak dalam kehidupan berkependidikan.
Pendidikan karakter di Indonesia menjadi hal yang semakin mendesak untuk diperhatikan
terutama dalam konteks pembentukan generasi bangsa yang berkualitas. Dalam beberapa
tahun terakhir, banyak hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti perundungan, sikap acuh,
intoleransi, dan bahkan kasus pelecehan seksual dikalangan remaja menunjukkan bahwa
pendidikan karakter terhadap pelajar masih menghadapi banyak tantangan. Asmara
berpendapat bahwa “guru yang efektif tidak hanya bergantung pada karisma atau kemampuan
presentasi yang meyakinkan. Sebaliknya, mereka melibatkan peserta didik dalam aktivitas
kognitif yang mendalam serta tugas-tugas sosial, sambil mengajarkan cara menggunakannya
secara produktif” (Asmara 2023). Model pembelajaran pada intinya adalah bentuk
pembelajaran yang terstruktur dari awal hingga akhir, yang disajikan secara khas oleh guru.
Menurut kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdapat tiga masalah besar yang
menganggu pembentukan karakter peserta didik seperti perundungan, pelecehan, dan
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
35
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based....)
intoleransi. Hal ini menandakan bahwa sistem pendidikan yang ada belum sepenuhnya mampu
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk pengembangan karakter sosial yang
positif. Endayani mengatakan belajar merupakan suatu proses yang melibatkan aktivitas
seperti mengamati, membuat, melihat, menyelesaikan masalah, mendengarkan, berlatih dan
sebagainya. (Endayani. H. 2023). Oleh karena itu, guru perlu membimbing dan memfasilitasi
peserta didik agar dapat menjalankan proses-proses tersebut dengan efektif.
Dalam proses belajar, guru pada saat ini banyak menerapkan gaya verbalistik yakni
ceramah atau bisa disebut dengan metode konvensional. Bukan berarti metode konvensional
tidak tepat dalam pembelajaran, akan tetapi ada kalanya seorang peserta didik merasa jenuh
dan bosan jika seorang guru menyampaikan materi dengan metode ceramah saja sedangkan
peserta didik hanya duduk diam melihat dan mendengarkan. Model pembelajaran berbasis
masalah atau Problem Based Learning (PBL) menjadikan pendekatan yang menerapkan situasi
nyata kepada peserta didik, mendorong mereka untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dengan cara ini, peserta didik dilatih untuk mengembangkan keterampilan dalam mencari
solusi dan mengatasi tantangan yang ada. Setelah peserta didik memperoleh kemampuan
dalam menyelesaikan masalah, diharapkan mereka juga mendapatkan pemahaman yang lebih
dalam dari proses tersebut, yang nantinya dapat menjadi referensi untuk materi ajar di masa
depan.
Pendidikan di Indonesia diatur oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Pasal 3 undang-undang ini menegaskan bahwa pendidikan nasional
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat. Ini mencakup pengembangan karakter peserta didik agar menjadi individu
yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab sebagai warga negara. Haris
mengemukakan PBL sebagai metode pembelajaran dapat dianggap sebagai alat untuk
mencapai tujuan tersebut dengan menekankan pada pembelajaran berbasis masalah yang
relevan dengan kehidupan sosial peserta didik.
PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah nyata,
di mana peserta didik dilibatkan dalam proses penyelidikan untuk menemukan solusi. Metode
ini tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik, tetapi juga
membangun karakter sosial seperti kerjasama dan komunikasi. PBL membantu peserta didik
untuk belajar dari pengalaman langsung dan berinteraksi dengan teman sebaya, yang penting
dalam pengembangan karakter sosial. Selain itu, PBL dapat memfasilitasi internalisasi nilai-
nilai sosial yang diperlukan untuk berfungsi dalam masyarakat.
Problem Based Learning (PBL) sebagai model pembelajaran yang menggunakan masalah
sebagai orientasi pembelajarannya. “Masalah-masalah yang diberikan berhubungan dengan
kehidupan nyata sebagai bahan untuk belajar dan memahami konsep tertentu” ujar Yandhari.
(Yandhari at al., dalam Marpaung 2021). Penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat
meningkatkan karakter disiplin dan percaya diri peserta didik. Misalnya, penelitian oleh
Mufidah & Muchlis dalam Haris (2013) menunjukkan bahwa 31,25% peserta didik mengalami
peningkatan dalam karakter peduli selama pembelajaran dengan model PBL.
Dengan demikian, implementasi pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat
direkomendasikan sebagai metode efektif dalam pendidikan di tingkat SMP. Penelitian ini
yang berjudul “Implementasi Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMP Ghautsul
Ibaad Kelas IX Dalam Membentuk Karakter Sosial Peserta Didik” diharapkan dapat menjadi
acuan bagi pendidik dan pihak sekolah untuk terus mengembangkan metode pembelajaran
yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter sosial
peserta didik.
Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) di SMP Ghautsul Ibaad, khususnya pada peserta didik kelas IX.
Penelitian ini akan mengkaji bagaimana metode PBL dapat berkontribusi dalam membentuk
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
36
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based...)
karakter sosial peserta didik, dengan menekankan aspek kolaborasi, komunikasi, dan
pemecahan masalah dalam konteks pembelajaran. Model PBL memiliki beberapa ciri atau
karakteristik yang dapat digunakan untuk membedakan dengan model pembelajaran yang
lainnya. Menurut Mufangati dan Juarsa (2018) dalam Sinaga at al (2022) menyatakan bahwa
pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh fokus utama pada pemecahan masalah, di mana
tanggung jawab proses tersebut sepenuhnya berada pada peserta didik, sementara guru
berperan mendukung aktivitas mereka dalam menyelesaikan masalah. Dirgatama at al (2016)
dalam jurnalnya mengatakan “karakteristik model pembelajaran PBL terdapat tiga unsur yang
esensial yang ada pada proses pembelajaran PBL, yaitu adanya suatu permasalahan yang harus
diselesaikan, pembelajaran berpusat pada peserta didik atau student centered, dan peserta didik
belajar pada kelompok kecil.”
Dalam jurnalnya, Hotimah (2020) memaparkan model Problem Based Learning (PBL)
dilaksanakan melalui lima tahap utama, yaitu mengorientasikan peserta didik pada
permasalahan, mengorganisasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, membimbing
diskusi kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah, serta
menganalisis dan mengevaluasi proses serta hasil pembelajaran. Langkah-langkah dalam
proses pembelajaran PBL terdapat beberapa point penting yang membedakan dengan model
pembelajaran lain, diantaranya adalah:
1. Orientasi Peserta Didik terhadap Masalah
Guru memperkenalkan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah dengan menyajikan fenomena atau cerita yang
relevan.
2. Mengorganisasi Peserta Didik untuk Belajar
Di tahap ini, guru membagi peserta didik ke dalam kelompok kecil dan membantu mereka
mendefinisikan serta mengatur tugas belajar yang berkaitan dengan masalah yang
diajukan.
3. Membimbing Diskusi Kelompok
Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dan
melakukan eksperimen guna mendapatkan penjelasan serta solusi terhadap masalah
tersebut.
4. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil
Peserta didik merencanakan dan menyiapkan laporan atau model hasil penyelidikan
mereka, sementara guru memberikan dukungan dalam proses ini dan memastikan semua
anggota kelompok berkontribusi.
5. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses serta Hasil Pemecahan Masalah
Pada tahap akhir, guru membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap proses dan
hasil yang telah dicapai, serta mengevaluasi apa yang telah dipelajari dan bagaimana
penerapannya dalam kehidupan nyata.
Penerapan PBL Dalam Membentuk Karakter Sosial Peserta didik
Model Problem Based Learning (PBL) memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk secara eksplisit mengungkapkan ide-ide mereka dan mengalami hal-hal yang berkaitan
dengan pengetahuan yang telah mereka miliki. Dengan demikian, peserta didik terdorong
untuk membedakan dan mengintegrasikan gagasan mengenai fenomena yang menantang. PBL
mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif, imajinatif, dan reflektif tentang model dan
teori, memperkenalkan gagasan-gagasan pada waktu yang tepat, serta mencoba ide-ide baru,
sehingga meningkatkan kepercayaan diri mereka.
2. Metode
Penelitian kualitatif menurut Waruwu (2023) adalah suatu metode penelitian yang
memanfaatkan narasi atau kata-kata untuk menjelaskan dan menggambarkan makna dari
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
37
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based....)
berbagai fenomena, gejala dan situasi sosial tertentu. Dalam penelitian kualitatif, peneliti
berperan sebagai instrumen utama dalam memberikan makna dan interpretasi terhadap setiap
fenomena, gejala, dan situasi sosial yang diteliti. Oleh karena itu, peneliti perlu menguasai
teori yang relevan untuk menganalisis kesenjangan yang mungkin muncul antara konsep
teoritis dan fakta yang ada. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dan analitis. Deskriptif dalam
konteks ini berarti menggambarkan dan menjelaskan peristiwa, fenomena, serta situasi sosial
yang sedang diteliti. Sementara itu, analisis mencakup proses memberikan makna,
menginterpretasikan, dan membandingkan data yang diperoleh dari penelitian. Analisis data
kualitatif yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data interaktif yang
dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Proses analisis ini umumnya melibatkan tiga
tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Qomaruddin dan
Sa’diyah 2024). Dalam model ini, analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan
selama proses penelitian. Reduksi data merupakan proses menyederhanakan data, penyajian
data berfungsi untuk menampilkan informasi secara sistematis, dan penarikan kesimpulan
adalah tahap interpretasi data untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian mengenai implementasi pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di
kelas IX SMP Ghautsul Ibaad dalam membentuk karakter sosial peserta didik. Pemaparan
pada bagian hasil penelitian ini merupakan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang
telah dilakukan selama penelitian. Peneliti menguraikan bagaimana penerapan metode PBL
berlangsung di kelas, respons peserta didik terhadap pembelajaran, serta dampak nyata yang
terlihat pada pembentukan karakter sosial peserta didik. Data yang disajikan bertujuan
memberikan gambaran obyektif tentang keberhasilan ataupun kendala yang muncul dalam
proses implementasi PBL, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode
pembelajaran di masa mendatang.
Peneliti memperoleh sejumlah data khusus yang berkaitan dengan Implementasi
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMP Ghautsul Ibaad Kelas IX dalam
Membentuk Karakter Sosial Peserta didik. Data tersebut diperoleh melalui metode wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Informasi yang terkumpul kemudian dijabarkan secara rinci untuk
mendukung analisis penelitian. Proses ini melibatkan peneliti yang mengumpulkan data
dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil
pengumpulan data tersebut, diperoleh informasi mengenai Implementasi Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) Di SMP Ghautsul Ibaad Kelas IX Dalam Membentuk
Karakter Sosial Peserta didik. Seluruh data hasil jawaban dari informan kemudian diolah
melalui tahap pengkodean (coding) untuk memudahkan analisis dan pengelompokan informasi
tersebut.
Hasil penelitian tentang penerapan Problem Based Learning (PBL) di kelas IX SMP
Ghautsul Ibaad menunjukkan bahwa PBL memberikan pengalaman pembelajaran yang aktif
dan bermakna bagi peserta didik. PBL, sebagai model pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik dan berfokus pada pemecahan masalah nyata, mendorong peserta didik untuk
berpikir kritis, mandiri, dan kolaboratif (Hosnan, 2014; Trianto, 2007). Temuan ini sejalan
dengan teori Piaget tentang perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif peserta didik
dalam membangun pengetahuan serta teori konstruktivis yang menyatakan bahwa
pembelajaran harus berbasis pengalaman nyata untuk membentuk pemahaman yang
mendalam.
Pelaksanaan PBL di SMP Ghautsul Ibaad melalui tahapan orientasi masalah,
pengorganisasian peserta didik, pembimbingan penyelidikan, pengembangan hasil, dan
evaluasi secara konsisten mengacu pada prosedur model PBL yang efektif (Hotimah, 2020).
Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar peserta didik, tanpa
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
38
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based...)
memberikan jawaban langsung, sehingga peserta didik terdorong untuk menemukan solusi
secara mandiri dan mengembangkan keterampilan analisis dan komunikasi. Dari segi
pembentukan karakter sosial, penelitian mendapati bahwa PBL efektif dalam mengembangkan
karakter seperti rasa empati, tanggung jawab, gotong royong, disiplin, dan kemampuan
komunikasi. Karakter ini merupakan bagian dari kecakapan sosial yang krusial untuk
pengembangan hubungan antarindividu di lingkungan sekolah dan masyarakat (Wardati,
2019).
Hal ini sesuai dengan pendapat Hermawan Kertajaya bahwa karakter adalah inti
kepribadian yang memengaruhi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, sementara
teori John Dewey menekankan pentingnya sekolah sebagai laboratorium kehidupan sosial di
mana peserta didik belajar melalui masalah yang bersangkutan dengan konteks sosial nyata.
Perubahan perilaku sosial yang terlihat dari hasil wawancara dan observasi menguatkan teori
bahwa PBL tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik tetapi juga membentuk karakter
sosial positif. Peserta didik menjadi lebih terbiasa bekerja sama dalam kelompok kecil,
mengemukakan pendapat dengan rasa hormat, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.
Proses pembelajaran yang kolaboratif ini memupuk rasa tanggung jawab sosial dan solidaritas
yang mendukung pengembangan karakter sosial yang kuat.
Metode evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini yakni observasi perilaku sosial
peserta didik, refleksi, dan penilaian berdasarkan indikator karakter sosial mengacu pada
model evaluasi formatif yang berfokus pada perkembangan holistik peserta didik. Dengan
pendekatan ini, guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif untuk memperbaiki dan
mengembangkan karakter sosial peserta didik secara berkelanjutan. Namun, tantangan yang
ditemukan seperti kebutuhan waktu yang lebih lama dalam pelaksanaan PBL dan variasi
tingkat keterlibatan peserta didik juga tercermin dalam literatur. Petugas pendidik harus
mampu mengelola kelas dan memastikan seluruh peserta didik dapat berpartisipasi aktif agar
manfaat PBL dapat optimal. Kesiapan guru sebagai fasilitator serta dukungan fasilitas menjadi
unsur penting yang direkomendasikan untuk pengembangan model ini kedepan.
Secara keseluruhan, penelitian ini mengonfirmasi bahwa penerapan PBL di SMP Ghautsul
Ibaad efektif dalam membentuk karakter sosial peserta didik dengan landasan teori yang kuat
dan konsisten. Hasil ini mendukung argumen bahwa pembelajaran berbasis masalah
merupakan strategi inovatif yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
tetapi juga karakter sosial peserta didik yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat.
4. Kesimpulan
Penelitian ini mengungkap bahwa implementasi model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) di kelas IX SMP Ghautsul Ibaad mampu menciptakan suasana belajar yang
lebih aktif dan bermakna, serta memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter
sosial peserta didik. Melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, mereka
dilibatkan secara aktif dalam pemecahan masalah nyata yang dilakukan secara kolaboratif.
Proses ini mendorong peserta didik untuk saling berinteraksi, bertukar pendapat, serta bekerja
sama dalam kelompok, sehingga mampu menumbuhkan sikap empati terhadap sesama, rasa
tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, serta kemampuan menghargai perbedaan
pendapat yang muncul selama diskusi berlangsung. Setelah implementasi model PBL, peserta
didik menunjukkan perubahan positif dalam proses pembelajaran. Mereka menjadi lebih aktif
dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat serta terlibat secara langsung dalam kegiatan
diskusi kelompok. Interaksi sosial antar peserta didik meningkat seiring dengan terbiasanya
mereka bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Selain itu,
kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik berkembang, serta karakter sosial seperti
empati, kerja sama, dan sikap toleransi semakin terbentuk dan tercermin dalam aktivitas
pembelajaran.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
39
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based....)
Dalam penerapan metode ini, guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya
menyampaikan materi, tetapi juga membimbing jalannya diskusi agar peserta didik tetap
fokus pada permasalahan yang dibahas. Guru memberikan arahan yang diperlukan sehingga
peserta didik dapat menggali permasalahan dan menemukan solusi. Selain itu, guru juga
memberikan umpan balik untuk membantu peserta didik meningkatkan kemampuan berpikir
dan berkomunikasi secara efektif. Walaupun demikian, terdapat beberapa tantangan selama
pelaksanaan PBL, misalnya kebutuhan waktu yang lebih lama untuk membiasakan peserta
didik membangun karakter sosial serta variasi tingkat keterlibatan peserta didik dalam diskusi
kelompok. Untuk itu, keteladanan guru diperlukan guna menciptakan suasana yang
mendukung dan memotivasi peserta didik untuk terus berpartisipasi aktif.
5. Daftar Pustaka
Ardianti, R., Sujarwanto, E., dan Surahman, E. 2021. Problem-based Learning: Apa dan
Bagaimana. Tasikmalaya: DIFFRACTION: Journal for Physics Education and Applied
Physics
Asmara. A., dan Septiana. A. 2023. Model Pembelajaran Berkonteks Masalah. Bengkulu.
CV. Azka Pustaka
Dahri. N. 2022. Problem and Project Based Learning (PPjBL). Padang. Cv. Muharika Rumah
Ilmiah
Dirgatama, C, H, Atma., Santoso, D., dan Ninghardjanti, P. 2016. Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning Dengan Mengimplementasi Program Microsoft
Excel Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Administrasi
Kepegawaian Di SMK Negeri 1 Surakarta. Surakarta: Jurnal Informasi Dan
Komunikasi Administrasi Perkantoran
Endayani. H. 2023. Bahan Ajar Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning).
Medan.
Handayani, A., dan Koeswanti, H Dewi. 2021. Meta-Analisis Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Salatiga:
Jurnal Basicedu.
Haris, M, A. 2013. Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning Terhadap
Kemampuan Memecahkan Masalah Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Blondo 1 Magelang. Yogyakarta:
eprints.uny.ac.id
Hasriadi. 2022. Strategi Pembelajaran. Bantul: Mata Kata Inspirasi.
Herianto, E., at al. 2025. Dampak Implementasi Problem Based Learning Berbantuan
Liveworksheet terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. NTB, Mataram: Pendas:
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Hotimah, H. 2020. Penerapan Metode Pembelajaran Problem Based Learning Dalam
Meningkatkan Kemampuan Bercerita Pada Siswa Sekolah Dasar. Jember: Jurnal
Edukasi
Khakim, N., at al. 2022. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar PPKn Di SMP YAKPI 1 DKI Jaya. Jakarta: Jurnal
Citizenship Virtues
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
40
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based...)
Kurniatin, E. 2021. Pengembangan Kepribadian Dan Karakter Sosial Peserta Didik Melalui
Pembiasaan Di Pondok Pesantren Nurul Amal Ciamis. Ciamis: Tsamratul Fikri
Marpaung, R. 2021. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learninguntuk
Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa. Binjai: Jurnal Informatika Dan Teknologi
Pendidikan.
Muhajirin., Risnita., Asrulla. 2024. Pendekatan Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Serta
Tahapan Penelitian. Jambi: Journal Genta Mulia
Nasution, W.N. 2017. Strategi Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing
Novianti, A., Bentri, A., dan Zikri, A. 2020. Pengaruh Penerapan Model Problem Based
Learning (PBL) Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran
Tematik Terpadu Di Kelas V Sekolah Dasar. Padang: Jurnal Basicedu.
Pertiwi, N. R., Sabila, H. N., Sintawati, A. 2023. Implementasi Model Pembelajaran
Problem-Based Learning Terhadap Keterampilan Kolaboratif Dan Komunikasi Sains
Pada Materi Sistem Ekskresi Di Smpn 1 Ciamis. Ciamis: Bioed: Jurnal Pendidikan
Biologi Vol 11
Purwanto, N. 2014. Pengantar Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Qomaruddin, dan Sa’diyah, H. 2024. Kajian Teoritis tentang Teknik Analisis Data dalam
Penelitian Kualitatif: Perspektif Spradley, Miles dan Huberman. Madura: Journal of
Management, Accounting and Administration.
Rahmawati, N., & Kusuma, H. 2021. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based
Learning terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Kelas IX SMP.
Risandy, L, Anna., at al. 2023. Penerapan Model Based Learning (PBL) dalam Pembelajaran
Tematik Terpadu di Kelas 5 Sekolah Dasar. Klaten: Jurnal Kajian dan Penelitian
Umum Rosyad, A, Miftakhu. 2019. Implementasi Pendidikan Karakter melalui
Kegiatan Pembelajaran di Lingkungan Sekolah. Jawa Barat: Tarbawi: Jurnal Keilmuan
Manajemen Pendidikan.
Sari, M., dan Rosidah, A. 2023. Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) Terhadap Hasil Belajar IPS SD. Majalengka: Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia.
Setiawan, B., & Pratiwi, R. 2023. Model Problem Based Learning dalam Membentuk
Karakter Peduli Sosial dan Tanggung Jawab Peserta Didik. JMK (Moral
Kemasyarakatan)
Sinaga, M, Ervina., Destiniar., dan Fudiah, N, Fahriza. 2022. Pengaruh Model Pembelajaran
PBL (Problem Based Learning) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa
Pada Materi Statistika. Palembang: Jurnal Pendidikan dan Konseling
Syamsidah, dan Suryani. H. 2018. Buku Model Problem Based Learning (PBL). Deepublish
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3
Wahidah, A, Solihatul. 2021. Pembentukan Karakter Sosial Anak Usia Dini: Di Lingkungan
Keluarga, Sekolah Dan Komunitas. Ngawi: Investama : Jurnal Ekonomi & Bisnis
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 33-41
41
Muhamad Rifqy Al Ghifari et.al (Implementasi Pembelajaran Problem Based....)
Waruwu, M. 2023. Pendekatan Penelitian Pendidikan: Metode Penelitian Kualitatif, Metode
Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Salatiga,
Jawa Tengah: Jurnal Pendidikan Tambusai
Wijaya, A., & Sari, D. 2022. Implementasi Model Problem Based Learning dalam
Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah Menengah Pertama. Moral Kemasyarakatan
(Unikama)
Windari, E, Pandu., Mulyati, Y., dan Kurniawan, K. 2021. Bagaimana Implementasi Model
Problem Based Learning dalam Berbagai Disiplin Ilmu?. Bandung: Riksa Bahasa