AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 11-17
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
11
10.47200/ aossagcj.v6i1.3596 aossagcj@gmail.com
Manajemen Sekolah Berbasis Makayaklo (Studi
Kasus MTs Swasta Muhammadiyah Matsa
Halmahera Selatan)
Irfandi R. Hi Mustafa
a,1
, Fahrun Yamin
b,2
, Iswadi M. Ahmad
c,3
a
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
b
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
c
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
1
irfandimustafa12@gmail.com;
2
fahrunyamin@unutara.ac.id;
3
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Maret 2026
Direvisi: 9 April 2026
Disetujui: 25 Mei 2026
Tersedia Daring:1 Juni 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai-
nilai kearifan lokal budaya Makayaklo pada masyarakat Suku Makian
serta mengkaji implementasinya sebagai pilar manajemen sekolah di
MTs Swasta Muhammadiyah Matsa, Kabupaten Halmahera Selatan,
Maluku Utara. Makayaklo merupakan filosofi gotong royong berbasis
kekerabatan yang mengedepankan kerja sama kolektif, tanggung jawab
moral, dan musyawarah. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui
wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Makayaklo terinternalisasi
dalam empat pilar manajemen sekolah: perencanaan partisipatif
(musyawarah mingguan), pengorganisasian berbasis solidaritas,
pelaksanaan program dengan kerja bakti kolektif, dan pengawasan
berbasis kepercayaan sosial. Kesimpulannya, budaya Makayaklo terbukti
efektif menjadi perekat sosial sekaligus strategi manajemen yang adaptif
terhadap konteks lokal.
Kata Kunci:
Budaya Makayaklo,
Suku Makian,
Manajemen Sekolah
ABSTRACT
Keywords:
Makayaklo Culture,
Makian Tribe,
School Management
This study aims to describe and analyze the local wisdom values of
Makayaklo culture in the Makian community and examine its
implementation as a pillar of school management at MTs Swasta
Muhammadiyah Matsa, South Halmahera Regency, North Maluku.
Makayaklo is a kinship-based mutual cooperation philosophy that
emphasizes collective cooperation, moral responsibility, and deliberation.
Using a qualitative approach with a case study method, this study
collected data through in-depth interviews, participant observation, and
documentation. The results show that Makayaklo values are internalized
in four pillars of school management: participatory planning (weekly
deliberation), solidarity-based organizing, program implementation
through collective community service, and social trust-based supervision.
In conclusion, Makayaklo culture has proven effective as a social glue as
well as a management strategy that is adaptive to the local context.
© 2026, Irfandi R. Hi Mustafa, Fahrun Yamin, Iswadi M. Ahmad
This is an open access article under CC BY-SA license
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
12
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
1. Pendahuluan
Manajemen sekolah yang efektif tidak hanya bergantung pada penerapan teori-teori
manajemen modern yang bersifat universal, tetapi juga harus sensitif terhadap konteks sosial-
budaya di mana sekolah itu berada (Fitriyanti et al, 2026) (Nurbudiyani & Solikin, 2025). Di
Indonesia yang multikultural, setiap daerah memiliki kearifan lokal yang dapat menjadi sumber
nilai bagi pengelolaan lembaga pendidikan (Afif, 2022). Namun, dominasi pendekatan
manajemen berbasis standar nasional seringkali mengabaikan potensi lokal tersebut, sehingga
menimbulkan ketidaksesuaian antara sistem yang diterapkan dengan realitas sosiologis
masyarakat setempat. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik gotong royong
seperti Makayaklo diterapkan dalam membangun rumah, mengolah kebun, hingga mengadakan
upacara adat. Menurut (Pasteruk, 2020), nilai-nilai komunal seperti ini memiliki potensi besar
untuk diintegrasikan dalam pembangunan komunitas, termasuk sektor pendidikan. Makayaklo
berfungsi tidak hanya untuk menyelesaikan pekerjaan berat dalam perayaan, tetapi juga sebagai
perekat sosial yang memperkuat hubungan antarkeluarga, antaretnis, bahkan dengan
pendatang. Budaya ini juga memiliki nilai ekonomi karena partisipasi anggota berupa tenaga
dan donasi sangat meringankan tuan rumah (Bakar, Saiful and Zubair, 2019).
Meskipun nilai-nilai Makayaklo sangat potensial untuk diterapkan dalam manajemen
sekolah misalnya dalam pengambilan keputusan kolektif, pembagian tugas, dan penyelesaian
konflik yang belum ada penelitian yang secara sistematis mengkaji hal tersebut. Kesenjangan
dalam penelitian ini adalah: (1) minimnya literatur tentang integrasi kearifan lokal dari
kawasan Indonesia Timur (khususnya Maluku Utara) dalam manajemen pendidikan; (2) belum
adanya model manajemen sekolah berbasis Makayaklo yang terdokumentasi secara empiris; (3)
kecenderungan penelitian sebelumnya hanya fokus pada budaya Jawa, Bali, atau Sumatera
dalam konteks pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengisi kekosongan
tersebut dengan menjawab pertanyaan: Bagaimana nilai-nilai budaya Makayaklo Suku Makian
diimplementasikan sebagai pilar manajemen sekolah di MTs Swasta Muhammadiyah Matsa?.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus tunggal
terpancang (single embedded case study). Lokasi penelitian di MTs Swasta Muhammadiyah
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
13
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
Matsa, Desa Sangapati Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, dipilih secara
purposif karena sekolah ini memiliki komposisi siswa dan guru dari Suku Makian (95%) serta
secara eksplisit mengklaim menggunakan nilai Makayaklo dalam pengelolaan sekolah. Sumber
data primer yakni 12 informan terdiri dari: Kepala Sekolah (1), Wakil Kepala Sekolah (2),
Guru (4), Komite Sekolah (2), Tokoh Adat (2), dan Siswa (3). Selain itu data sekunder terdiri
dari dokumen sekolah (notulen rapat, laporan tahunan, foto kegiatan). Teknik pengumpulan
data melalui wawancara semi-terstruktur (durasi 45-90 menit per informan), observasi
partisipatif selama 3 bulan (Juli-September 2025), dokumentasi. Analisis data penelitin ini
menggunakan model Miles & Huberman (2014) (reduksi data, penyajian data, verifikasi/
penarikan kesimpulan) dengan triangulasi sumber dan metode.
3. Hasil dan Pembahasan
1. Nilai-Nilai Budaya Makayaklo dalam Konteks Sosial Suku Makian
Berdasarkan wawancara dengan tokoh adat Bapak M. Hi Umar (65
tahun), Makayaklo mengandung tiga nilai utama: (a) Hasole tit tanggung jawab (tanggung
jawab kolektif), (b) Musyawarah tutin tit (musyawarah sampai bulat), dan (c) karja nit suka
rela (kerja tanpa imbalan materi). Berikut tabel 1 menyajikan dimensi nilai tersebut.
Table 1. Dimensi Nilai Budaya Makayaklo.
Nilai Inti
Definisi Operasional
Indikator dalam Tindakan
Sosial
Tanggung jawab kolektif
Setiap anggota komunitas
merasa bertanggung jawab
atas keberhasilan bersama
Kehadiran dalam kegiatan
desa; partisipasi tanpa
paksaan formal
Musyawarah mutakat
Keputusan diambil secara
bulat setelah semua pendapat
ditampung
Rapat adat hingga larut
malam; tidak ada voting
Kerja tanpa imbalan
materi
Bantuan diberikan karena
ikatan moral, bukan bayaran
Bergotong royong
membangun rumah; hanya
disuguhi makan sederhana
Sumber: Hasil Wawancara Diolah Peneliti, 2026
2. Implementasi Makayaklo dalam Manajemen Sekolah
Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa MTs Muhammadiyah Matsa
mengintegrasikan Makayaklo ke dalam empat fungsi manajemen (POAC: Planning,
Organizing, Actuating, Controlling).
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
14
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
a. Perencanaan (Planning)
Setiap hari Sabtu pagi, seluruh guru dan perwakilan komite mengadakan tutin
tit (musyawarah) yang difasilitasi Kepala Sekolah. Tidak ada agenda yang dipaksakan; setiap
usulan dibahas hingga mencapai konsensus. Dalam 12 kali observasi, tidak pernah terjadi
voting. Tabel 2 menunjukkan data jenis keputusan yang dihasilkan.
Tabel 2. Hasil Musyawarah Perencanaan (Data Januari-Juni 2025)
Bulan
Topik Utama
Waktu Musyawarah
Keputusan
Januari
Penyusunan
kalender
akademik
3 jam 15 menit
Disetujui tanpa
perubahan
Februari
Pembangunan
taman baca
4 jam 40 menit
Dilakukan kerja
bakti setiap Sabtu
Maret
Penanganan siswa
terlambat
2 jam 50 menit
Sanksi sosial
(membersihkan
kelas)
April
Persiapan ujian
sekolah
3 jam
Jadwal piket
tambahan guru
Mei
Penggalangan
dana seragam
5 jam
Iuran sukarela sesuai
kemampuan
Juni
Evaluasi semester
4 jam
Pembagian rapor
kolektif
Sumber: Diolah hasil observasi lapangan, 2026
3. Pengorganisasian (Organizing)
Struktur organisasi sekolah tidak hanya formal (kepala sekolah, wakil, guru) tetapi juga
informal berdasarkan tit kelompok (klan). Setiap tit kelompok yang memiliki minimal 3 anggota
di sekolah bertanggung jawab atas satu program unggulan. Tabel 3 menunjukkan pembagian
tersebut.
Tabel 3. Pengorganisasian Program Berbasis Tit Kelompok
Nama (klan)
Jumlah Anggota di
Sekolah
Program Unggulan
Bentuk Makayaklo
Hi. Umar
4 Orang
Literasi baca
Bergiliran menjaga
perpustakaan
Jufri
3 Orang
Kebun sekolah
Kerja bakti setiap
Kamis
Hasib
5 Orang
Ektrakulikuler Adat
Latihan tari dan
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
15
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
music (togal)
M. Arif
3 Orang
Kantin Kejujuran
Jaga dan setor hasil
secara kolektif
Sumber: Hasil Olahan Data Penelitian, 2026.
4. Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan program tidak menggunakan dana besar, melainkan mengandalkan karja nit
suka rela (kerja tanpa imbalan materi). Contoh konkretnya pembangunan taman baca pada
Februari-Maret 2025 dilakukan dengan 85% partisipasi warga sekolah (guru, siswa, komite)
tanpa bayaran. Gambar 1 menunjukkan tingkat partisipasi sukarela.
Gambar 1. Tingkat Partisipasi Sukarela dalam Kegiatan Fisik Sekolah
Sumber: Hasil Olahan Data Peneliti, 2026.
Berdasarkan data di atas, tingkat partisipasi masyarakat tidak dipengaruhi oleh ringannya
beban fisik suatu kegiatan. Masyarakat justru menunjukkan keterlibatan yang jauh lebih besar
(85%) pada kegiatan fasilitas publik yang berdampak luas seperti Pembangunan Taman Baca,
dibandingkan kegiatan estetika sederhana seperti Pengecatan Pagar (38%).
5. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan tidak berbentuk inspeksi formal, melainkan melalui mekanisme sanksi
moral dan pengakuan publik. Jika seorang guru atau siswa tidak melibatkan diri
dalam Makayaklo, sanksinya bukan teguran tertulis melainkan “dibicarakan dalam keluarga
besar tit kelompok Data dokumentasi sekolah menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir
tidak ada laporan pelanggaran berat dan tingkat absensi guru mencapai 96,5% dan tingkat
putus sekolah 0,3%.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
16
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
Temuan ini menunjukkan bahwa Makayaklo berfungsi sebagai pilar manajemen karena:
(1) menyediakan mekanisme pengambilan keputusan yang cepat dan legitimate (musyawarah
tanpa voting), (2) mengurangi biaya transaksi dan motivasi eksternal (kerja sukarela), (3)
membangun modal sosial yang kuat (kepercayaan horizontal antara guru, siswa, komite). Hal
ini sejalan dengan teori social capital Putnam (2000) dan konsep school-based
management yang menekankan partisipasi masyarakat. Namun berbeda dari model SBM pada
umumnya yang sering formalistik, Makayaklo mengakar pada sistem kekerabatan sehingga
lebih organik. Temuan ini juga mengkritisi asumsi manajemen modern yang terlalu
mengandalkan insentif material. Di MTs Matsa, motivasi guru dan staf justru lebih tinggi
ketika tidak ada honor tambahan untuk kegiatan Makayaklo dibandingkan kegiatan yang
dibayar. Hal ini merupakan paradox of motivation yang hanya bisa dijelaskan dalam kerangka
budaya komunal.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa: (1) Budaya Makayaklo Suku Makian
mengandung nilai tanggung jawab kolektif, musyawarah mutakat, dan kerja tanpa imbalan
materi yang terbukti adaptif untuk manajemen sekolah. (2) Implementasi Makayaklo di MTs
Swasta Muhammadiyah Matsa secara nyata menjadi pilar dalam perencanaan (musyawarah
mingguan), pengorganisasian (berbasis tit kelompok), pelaksanaan (kerja bakti kolektif), dan
pengawasan (sanksi moral dan kepercayaan sosial). (3) Model manajemen
berbasis Makayaklo mampu mengurangi biaya operasional, meningkatkan partisipasi, serta
menciptakan iklim sekolah yang harmonis di tengah keterbatasan sumber daya.
Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi Sekolah: Mendokumentasikan praktik baik Makayaklo dalam bentuk buku panduan
internal dan tetap menjaga keseimbangan antara nilai adat dan standar nasional pendidikan.
2. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan: Memfasilitasi pelatihan lintas
sekolah tentang manajemen berbasis kearifan lokal, serta memasukkan Makayaklo sebagai
muatan lokal kurikulum.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya: Melakukan studi komparatif dengan suku lain di Maluku Utara
untuk menemukan pola umum manajemen sekolah berbasis budaya.
5. Daftar Pustaka
Afif, N. (2022) ‘Pendidikan Islam Berbasis Kearifan Lokal dan Implementasinya Terhadap
Kurikulum Merdeka Belajar’, pp. 10411062. Available at:
https://doi.org/10.30868/ei.v11i03.3175.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 11-17
17
Mustafa, I. R. H. et.al (Sekolah Berbasis Makayaklo....)
Bakar, D., Saiful, D. and Zubair, S. (2019) ‘The Culture of Makayaklo in North Maluku
Society: Teaching the Values of Building Solidarity and Social Integration HAL Id : hal-
03090364’. Available at: https://doi.org/10.18848/2327-0055/CGP/V17I01/43-54.
Fitriyanti, E., Ardianti, T., Tjitrosumarno, S., Rini, D.P., Isnaldianto, V., (2026) ‘Manajemen
Sekolah Berbasis Data Sosial-Budaya’ Susunan Jurnal Pendidikan (SAP), 10(3).
Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community.
Simon & Schuster.
Pasteruk, I. (2020) ‘Community Development in Indonesia: Contemporary Aspects of
Culture’, 477(Iccd), pp. 338–342.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods
Sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Sari, E., Nurbudiyani, I. and Solikin, A. (2025) ‘Peran Manajemen Berbasis Sekolah Huma
betang Menuju Transformasi Karakter Peserta Didik (Studi Kasus: Sekolah Dasar di
Palangka Raya)’, Pedagogik Jurnal Pendidikan 20(2) 87-98.
Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan. (2024). Laporan Tahunan Program Sekolah
Sehat dan Berbudaya. Bacan: Disdik Halsel. https://www.disdikhalmaheraselatankab.id/
Observasi dan wawancara lapangan di MTs Swasta Muhammadiyah Matsa, periode Juli-
September 2025. (Data mentah disimpan di arsip peneliti).