AoSSaGCJ, Vol. 6, Issue 1, (2026) page 1-10
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
ISSN: 2988-7968 (Online)
Journal Homepage: https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/index
1
10.47200/aossagcj.v6i1.3576 aossagcj@gmail.com
Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured
Reality dan Polarisasi Informasi pada Ekosistem
Algoritma Digital
Ihab Muhammad Nursihab
Universitas Negeri Semarang, Jl. Taman Siswa, Sekarang, Gunung Pati, Semarang 50299
ihabmnursh@students.unnes.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 24 Maret 2026
Direvisi: 9 April 2026
Disetujui: 25 Mei 2026
Tersedia Daring:1 Juni 2026
Perkembangan ekosistem algoritma digital (EAD) menimbulkan risiko
epistemologis berupa
fractured reality
(FR), yaitu kondisi ketika
masyarakat membentuk pemahaman yang berbeda terhadap realitas
yang sama akibat kurasi informasi berbasis algoritma. Fenomena ini
memperkuat polarisasi informasi dan mengancam shared factual
ground sebagai dasar penting dalam demokrasi. Penelitian ini
bertujuan untuk: (1) menganalisis mekanisme pembentukan FR dan
polarisasi informasi dalam EAD; (2) mengkaji peran
digital citizenship
(DC) sebagai kerangka mitigasi; (3) merumuskan model integratif DC
yang relevan dengan EAD kontemporer; dan (4) mengidentifikasi
implikasi pedagogis serta kebijakan bagi penguatan kewarganegaraan
digital. Penelitian menggunakan metode
systematic literature review
(SLR) dengan prosedur PRISMA 2020 melalui penelusuran pada
Google Scholar, Scopus, dan DOAJ. Dari 74 artikel kandidat, dipilih 23
artikel sebagai sumber utama analisis yang dikelompokkan ke dalam
tiga klaster tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FR terbentuk
melalui tiga mekanisme utama,
yaitu algorithmic content curation,
filter bubble formation
, dan
echo chamber amplification
. Penelitian ini
juga menemukan bahwa DC, terutama pada dimensi
algorithmic
literacy, media and information literacy, data literacy, civic engagement
online
, dan
digital ethics
, berperan penting dalam membangun
resiliensi epistemologis warga digital. Penelitian menyimpulkan bahwa
mitigasi FR membutuhkan strategi berlapis yang berjalan secara
simultan pada level individu, komunitas, institusional, dan platform.
Integrasi nilai-nilai Pancasila ke dalam kerangka DC global
menawarkan model yang kontekstual bagi Indonesia dan relevan bagi
negara berkembang lain yang menghadapi polarisasi informasi
berbasis algorima.
Kata Kunci:
digital citizenship
fractured reality
ekosistem algoritma digital
polarisasi informasi
algorithmic literacy
ABSTRACT
Keywords:
digital citizenship
fractured reality
ekosistem algoritma digital
polarisasi informasi
algorithmic literacy
The development of the digital algorithm ecosystem (DAE) creates an
epistemological risk in the form of fractured reality (FR), namely a
condition in which society forms different understandings of the same
reality due to algorithm-based information curation. This phenomenon
strengthens information polarization and threatens the shared factual
ground as an important foundation in democracy. This study aims to: (1)
analyze the mechanisms of FR formation and information polarization in
the DAE; (2) examine the role of digital citizenship (DC) as a mitigation
framework; (3) formulate an integrative DC model relevant to the
contemporary DAE; and (4) identify pedagogical and policy implications
for strengthening digital citizenship. The study uses the systematic
literature review (SLR) method with the PRISMA 2020 procedure
through searches on Google Scholar, Scopus, and DOAJ. From 74
candidate articles, 23 articles were selected as the main sources of
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
2
Ihab Muhammad Nursihab (Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured....)
analysis and grouped into three thematic clusters. The results of the study
show that FR is formed through three main mechanisms, namely
algorithmic content curation, filter bubble formation, and echo chamber
amplification. The study also finds that DC, especially in the dimensions of
algorithmic literacy, media and information literacy, data literacy, civic
engagement online, and digital ethics, plays an important role in building
the epistemological resilience of digital citizens. The study concludes that
FR mitigation requires layered strategies that operate simultaneously at
the individual, community, institutional, and platform levels. The
integration of Pancasila values into the global DC framework offers a
contextual model for Indonesia and is relevant for other developing
countries facing algorithm-based information polarization.
© 2026, Ihab Muhammad Nursihab
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Perkembangan Ekosistem Algoritma Digital (EAD) telah mengubah cara individu
mengakses dan memahami informasi secara mendasar. Lebih dari 5 miliar pengguna aktif media
sosial di dunia menghabiskan rata-rata 2,23 jam per hari pada platform seperti YouTube, TikTok,
dan X (We Are Social & Meltwater, 2024). Kondisi ini menciptakan risiko epistemologis yang
serius, yakni fractured reality (FR), kondisi ketika masyarakat hidup dalam realitas informasi
yang berbeda akibat paparan informasi yang telah dikurasi secara algoritmik (Tomassi et al.,
2024).
FR diperparah oleh filter bubble, proses ketika algoritma menyaring konten berdasarkan
preferensi pengguna, serta echo chamber, yakni ruang informasi tertutup yang hanya
menampilkan pandangan yang sesuai dengan keyakinan pengguna (Cinelli et al., 2021; Bruns,
2019). Akibatnya, polarisasi informasi semakin meningkat dan mengancam landasan fakta
bersama yang diperlukan dalam proses demokrasi (Guess et al., 2023).
Studi eksperimental Piccardi et al. (2024) membuktikan bahwa paparan konten
antidemocratic attitudes and partisan animosity (AAPA) dalam umpan algoritmik mampu
meningkatkan animositas antarkelompok politik lebih dari dua poin pada skala 100, sehingga
menunjukkan bahwa algoritma memiliki pengaruh dalam membentuk polarisasi afektif. Metzler
dan Garcia (2024) menegaskan bahwa meskipun algoritma membantu menyediakan informasi
yang relevan bagi pengguna, platform digital juga berisiko memicu homogenitas ideologis dan
polarisasi politik. Kondisi ini diperparah oleh ketidaktransparanan sistem rekomendasi yang
membatasi kemampuan pengguna untuk bersikap kritis terhadap informasi yang diterima
(Gagrčin et al., 2024). Rendahnya kemampuan memahami dan mengkritisi cara kerja algoritma
juga terbukti meningkatkan kerentanan individu terhadap FR dan polarisasi berbasis afiliasi
politik (Calice et al., 2021).
Dalam menghadapi tantangan ini, digital citizenship (DC) menawarkan kerangka
kompetensi yang strategis. DC tidak hanya mencakup kemampuan teknis dalam menggunakan
teknologi, tetapi juga meliputi keterlibatan sipil, literasi media, literasi data, dan kemampuan
memahami algoritma yang diperlukan untuk membangun sikap kritis masyarakat di era disrupsi
informasi (Ribble, 2011; Carmi & Yates, 2023). Labayo (2024) menemukan bahwa DC yang
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
3
First Author et.al (Title of paper shortly, 3-5 first-words)
ditandai oleh keterlibatan sipil daring (online civic engagement) secara signifikan meningkatkan
kompetensi global mahasiswa.
Sejumlah penelitian relevan telah mengkaji aspek-aspek parsial dari fenomena ini. Srba et
al. (2023) mengaudit algoritma rekomendasi YouTube dan mengidentifikasi pola sistematik
pembentukan filter bubble misinformasi. Huang et al. (2024) melalui meta-analisis komprehensif
membuktikan bahwa intervensi literasi media secara konsisten meningkatkan resiliensi terhadap
misinformasi. Törnberg et al. (2022) mengaitkan krisis sosial kontemporer dengan efek samping
tak terduga dari inovasi teknologi digital.
Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan, Nisa et al. (2025) menemukan bahwa nilai-
nilai Pancasila berfungsi sebagai fondasi etika digital yang mendorong literasi kritis masyarakat,
sementara Supandri et al. (2025) menunjukkan bahwa integrasi Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn) dengan literasi platform digital memperkuat kesadaran etika mahasiswa. Sugiyanto et al.
(2025) menekankan urgensi penguasaan literasi digital oleh pendidik sebagai prasyarat
pembentukan warga digital yang kritis.
Meski demikian, terdapat kesenjangan penelitian (research gap) yang signifikan. Pertama,
belum ada kajian yang secara integratif menghubungkan FR sebagai dampak sistemik EAD
dengan strategi mitigasi berbasis kompetensi DC yang komprehensif, karena penelitian yang ada
cenderung membahas dampak algoritma dan strategi literasi media secara terpisah. Kedua,
dimensi kewargaan dari kemampuan memahami algoritma, terutama dalam memperkuat
partisipasi demokratis di tengah fragmentasi informasi, masih jarang dikaji secara sistematis.
Ketiga, penelitian yang menghubungkan nilai kewarganegaraan lokal, seperti nilai Pancasila,
dengan kerangka DC global dalam konteks mitigasi FR juga masih sangat terbatas dalam
publikasi ilmiah.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, artikel ini bertujuan untuk: (1) menganalisis mekanisme
pembentukan FR dan polarisasi informasi dalam EAD; (2) mengkaji peran DC sebagai kerangka
kompetensi dalam memitigasinya; (3) merumuskan model integratif DC yang relevan dengan
EAD kontemporer; dan (4) mengidentifikasi implikasi pedagogis dan kebijakan bagi penguatan
kewarganegaraan digital.
Artikel ini memberikan tiga kontribusi orisinal. Secara teoretis, artikel ini mengajukan
kerangka konseptual yang mengintegrasikan FR, polarisasi informasi algoritmik, dan DC dalam
satu kerangka analisis yang utuh. Secara metodologis, artikel ini memperkaya pendekatan meta-
analitik dengan memasukkan dimensi kritis terhadap EAD. Secara praktis, artikel ini
menawarkan rekomendasi berbasis bukti (evidence-based) bagi pengembang kebijakan
pendidikan dan platform digital, khususnya dalam konteks Indonesia yang menghadapi tekanan
polarisasi informasi yang semakin algoritmik.
2. Metode
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif deskriptif-analitik. Disebut
deskriptif karena penelitian ini menggambarkan fenomena fractured reality (FR) dan polarisasi
informasi sebagaimana terdokumentasi dalam literatur ilmiah yang ada. Disebut analitik karena
tidak berhenti pada deskripsi, melainkan melanjutkan pada upaya mengurai hubungan
antarvariabel, mengidentifikasi pola, dan menarik implikasi konseptual dari kumpulan temuan
yang dikaji. Creswell (2014) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif deskriptif tepat digunakan
untuk studi yang bertujuan menggambarkan karakteristik suatu fenomena secara sistematis tanpa
menguji hipotesis statistik.
Sejalan dengan itu, Sugiyono (2019) menegaskan bahwa penelitian deskriptif-kualitatif tidak
berusaha mencari hubungan sebab-akibat, melainkan berfokus pada pemahaman mendalam (in-
depth understanding) terhadap fenomena yang diteliti. Pilihan jenis penelitian ini selaras dengan
tujuan artikel yang bersifat konseptual-integratif, yakni merumuskan kerangka baru yang
menghubungkan kompetensi digital citizenship (DC), FR, dan polarisasi informasi dalam satu
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
4
Ihab Muhammad Nursihab (Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured....)
bangunan analitik yang kohesif, bukan menghasilkan data numerik atau menguji proposisi secara
empiris.
Pendekatan yang digunakan adalah kajian pustaka sistematis (systematic literature
review/SLR). Berbeda dengan tinjauan literatur naratif biasa yang bersifat selektif dan cenderung
subjektif, SLR menerapkan prosedur yang terstruktur, transparan, dan dapat direplikasi dalam
setiap tahapannya mulai dari penentuan kata kunci, kriteria inklusi dan eksklusi, hingga cara
menganalisis dan menyintesiskan temuan (Tranfield et al., 2003).
Pendekatan ini dipilih karena topik penelitian bersifat lintas disiplin, melibatkan literatur
dari ilmu komunikasi, ilmu politik, pendidikan, dan ilmu komputer, sehingga diperlukan metode
yang sistematis untuk memastikan tidak ada perspektif penting yang terlewat. Proses pelaksanaan
SLR dalam penelitian ini mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic
Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 sebagai standar transparansi dan reprodusibilitas
kajian (Page et al., 2021). Relevansi pendekatan SLR untuk kajian lintas disiplin seperti ini juga
ditegaskan oleh Huang et al. (2024), yang menggunakan meta-analisis berbasis prosedur serupa
untuk menyintesiskan bukti efektivitas intervensi literasi media dalam skala besar, serta oleh
Gagrčin et al. (2024) yang menerapkan tinjauan literatur integratif untuk memetakan relasi antara
penggunaan media algoritmik dan kompetensi literasi algoritmik.
Data penelitian bersumber dari literatur ilmiah yang relevan, terdiri dari dua jenis. Pertama,
sumber primer berupa artikel jurnal bereputasi yang terindeks di Scopus dan Web of Science,
mencakup topik DC, filter bubble, echo chamber, polarisasi informasi algoritmik, algorithmic
literacy, dan literasi media, yang diterbitkan dalam rentang tahun 20222026. Kedua, sumber
sekunder berupa buku referensi metodologi yang digunakan sebagai landasan prosedural kajian.
Pembatasan rentang tahun pada sumber primer bertujuan memastikan bahwa temuan yang
disintesiskan mencerminkan perkembangan EAD dan kompetensi DC yang paling mutakhir,
mengingat dinamika ekosistem platform digital yang berevolusi dengan sangat cepat. Untuk
sumber buku, karya-karya metodologi yang telah menjadi acuan klasik di bidangnya tetap
digunakan tanpa batasan tahun sebagai fondasi prosedural.
Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur pada basis data Google Scholar,
Scopus, dan DOAJ menggunakan kata kunci utama: digital citizenship, fractured reality,
algorithmic polarization, filter bubble, echo chamber, information disorder, dan algorithmic
literacy. Penelusuran tambahan dilakukan secara khusus pada jurnal Academy of Social Science
and Global Citizenship Journal (AoSSaGCJ) untuk mengidentifikasi artikel yang relevan dengan
fokus kewarganegaraan dan literasi digital.
Kriteria inklusi meliputi: (1) artikel yang membahas salah satu atau lebih variabel utama
penelitian, (2) diterbitkan di jurnal terindeks bereputasi, (3) tersedia dalam versi teks lengkap,
dan (4) dipublikasikan dalam rentang tahun 20222026 untuk sumber jurnal dan artikel. Artikel
yang tidak memenuhi kriteria relevansi tematis maupun rentang tahun dikeluarkan dari kajian.
Srba et al. (2023) dan Arguedas et al. (2022) menjadi contoh representatif sumber primer yang
memenuhi seluruh kriteria inklusi tersebut, masing-masing melalui audit sistematis algoritma
platform dan tinjauan literatur integratif tentang filter bubble dan polarisasi.
Analisis data dilakukan melalui empat tahapan yang saling berkaitan. Tahap pertama adalah
screening dan seleksi literatur, di mana seluruh hasil penelusuran disaring berdasarkan judul,
abstrak, dan relevansi tematis sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan, mengikuti alur
diagram PRISMA 2020 (Page et al., 2021). Tahap kedua adalah reduksi dan kategorisasi, yakni
mengelompokkan literatur yang lolos seleksi ke dalam tiga klaster tema besar: (a) mekanisme
EAD dan pembentukan FR, (b) dampak polarisasi informasi terhadap kehidupan sosial dan
demokrasi, serta (c) peran dan strategi DC sebagai instrumen mitigasi. Tahap ketiga adalah
analisis isi (content analysis). Krippendorff (2018) mendefinisikan analisis isi sebagai teknik
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat direplikasi dan valid dari
teks dalam konteks penggunaannya. Pada tahap ini, argumen pokok, temuan empiris, dan
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
5
First Author et.al (Title of paper shortly, 3-5 first-words)
kesimpulan dari setiap sumber dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi pola yang
konsisten, temuan yang saling melengkapi, maupun pertentangan antarstudi yang perlu dibahas
secara kritis. Tahap keempat adalah sintesis interpretatif, di mana hasil analisis isi dari berbagai
sumber diintegrasikan ke dalam satu kerangka konseptual baru. Pada tahap ini, peneliti tidak
sekadar merangkum, tetapi secara aktif membangun argumen tentang bagaimana DC dapat
menjadi respons yang memadai terhadap tantangan FR dan polarisasi informasi dalam konteks
EAD yang terus berkembang (Mayring, 2014).
Pendekatan sintesis interpretatif ini selaras dengan praktik yang diterapkan dalam kajian-
kajian terkini yang mengintegrasikan literatur lintas disiplin untuk membangun model konseptual
baru, seperti yang dilakukan oleh Metzler dan Garcia (2024) dalam memetakan mekanisme
sosial dan algoritmik pada media digital, serta Carmi dan Yates (2023) dalam merumuskan
kerangka data citizenship yang melampaui batas disiplin komunikasi dan ilmu politik.
3. Hasil dan Pembahasan
Mekanisme EAD: dari Kurasi ke Fragmentasi Epistemologis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa EAD tidak bekerja sebagai media netral dalam
mendistribusikan informasi. Sebaliknya, EAD menjadi sistem aktif yang membentuk realitas
sosial pengguna. Algoritma rekomendasi pada platform seperti YouTube, TikTok, dan X bekerja
dengan prinsip optimisasi engagement, yaitu mempertahankan perhatian pengguna selama
mungkin melalui konten yang sesuai dengan preferensi kognitif dan emosional mereka (Metzler
& Garcia, 2024). Akibatnya, keragaman dan akurasi informasi sering kali kalah dibandingkan
relevansi emosional jangka pendek.
Srba et al. (2023) menunjukkan bahwa YouTube secara sistematis dapat mengarahkan
pengguna menuju konten misinformasi melalui pola rekomendasi bertahap. Temuan ini diperkuat
oleh Arguedas et al. (2022) yang menjelaskan bahwa filter bubble tidak hanya terbentuk karena
pilihan pengguna, tetapi juga karena desain platform itu sendiri. Dalam konteks Indonesia,
persoalan ini semakin kompleks karena jumlah pengguna media sosial yang sangat besar, lebih
dari 167 juta orang, belum diimbangi pemerataan literasi digital (We Are Social & Meltwater,
2024). Yazid dan Darusman (2023) menemukan bahwa rendahnya literasi digital membuat
sebagian masyarakat lebih mudah mengalami FR karena tidak menyadari bahwa informasi yang
mereka terima sudah dikurasi algoritma.
Masalah lain yang memperkuat FR adalah opacity pada sistem platform digital. Gagrčin et
al. (2024) menjelaskan bahwa kurangnya transparansi membuat pengguna sulit memahami
mengapa suatu konten muncul dan konten lain tidak ditampilkan. Geschke et al. (2023)
menemukan bahwa pengguna dalam echo chamber algoritmik sering tidak sadar bahwa opini
mereka telah dipengaruhi oleh kurasi platform. Di Indonesia, Nugraha et al. (2022) menemukan
bahwa ketidaktransparanan platform ikut memperkuat fragmentasi narasi publik, terutama pada
masa pemilu.
Polarisasi Informasi sebagai Ancaman Demokrasi
Dampak terbesar dari FR bukan hanya perbedaan pendapat, tetapi meningkatnya affective
polarization. Piccardi et al. (2024) menunjukkan bahwa paparan terhadap konten antidemocratic
attitudes and partisan animosity (AAPA) di media sosial dapat meningkatkan animositas politik
pengguna. Walaupun dampaknya terlihat kecil pada individu, efeknya menjadi besar ketika
terjadi pada jutaan bahkan miliaran pengguna. Guess et al. (2023) juga membuktikan bahwa
algoritma media sosial dapat memengaruhi sikap dan perilaku politik selama masa pemilu. Di
Indonesia, Rahmatullah et al. (2023) menemukan bahwa polarisasi berbasis narasi digital
melemahkan kohesi sosial dan mempersulit tercapainya konsensus dalam ruang publik.
Selain meningkatkan polarisasi, FR juga mengikis shared factual ground. Metzler dan
Garcia (2024) menjelaskan bahwa algoritma memang membantu pengguna menemukan
informasi yang relevan, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan homogenitas ideologis
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
6
Ihab Muhammad Nursihab (Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured....)
yang berbahaya bagi demokrasi. Khasanah dan Wijaya (2023) menemukan bahwa mahasiswa
yang terlalu sering menerima informasi algoritmik tanpa kemampuan literasi kritis mengalami
penurunan kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif.
Digital Citizenship sebagai Mekanisme Mitigasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa DC perlu dipahami kembali dalam konteks EAD. DC
tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis penggunaan teknologi, tetapi juga harus
membangun kemampuan kritis untuk memahami bagaimana teknologi membentuk realitas
informasi pengguna. Pandangan ini sejalan dengan perkembangan konsep DC yang menekankan
pentingnya dimensi kewarganegaraan kritis (Carmi & Yates, 2023; Pangrazio & Sefton-Green,
2023).
Di antara seluruh dimensi DC, AL memiliki posisi paling penting. Bandy et al. (2022)
menemukan bahwa rendahnya AL membuat individu lebih mudah terpengaruh manipulasi
algoritmik. Gagrčin et al. (2024) membedakan antara algorithmic awareness dan AL.
Algorithmic awareness hanya berarti mengetahui keberadaan algoritma, sedangkan AL menuntut
kemampuan memahami, mempertanyakan, dan mengelola logika kurasi algoritma. Perbedaan ini
penting karena kesadaran saja tidak cukup membuat pengguna lebih tahan terhadap FR. Perdana
et al. (2023) menemukan bahwa siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis AL memiliki
kemampuan lebih baik dalam membedakan informasi yang dikurasi algoritma dengan informasi
yang lebih netral.
Huang et al. (2024) melalui meta-analisis menunjukkan bahwa intervensi literasi media
efektif meningkatkan ketahanan terhadap misinformasi. Temuan ini didukung oleh penelitian
Pratiwi dan Haryanto (2022) dalam konteks Indonesia. Namun, penelitian ini juga menemukan
keterbatasan penting: literasi media lebih efektif menghadapi informasi yang jelas salah
dibandingkan menghadapi fragmentasi realitas yang lebih halus akibat kurasi algoritmik. Karena
itu, AL perlu diintegrasikan secara langsung dalam kurikulum literasi media.
Dimensi civic engagement online juga memiliki peran penting. Labayo (2024) menemukan
bahwa keterlibatan sipil daring membantu mahasiswa lebih terbuka terhadap beragam perspektif.
Rahmatullah et al. (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam civic engagement
daring memiliki toleransi lebih tinggi terhadap perbedaan pandangan. Temuan ini
memperlihatkan bahwa partisipasi aktif dapat menjadi penyeimbang terhadap isolasi informasi
akibat algoritma. Mustofa et al. (2025) menegaskan bahwa pembentukan kewarganegaraan
digital tidak cukup dilakukan melalui pendekatan kognitif, tetapi juga membutuhkan pengalaman
partisipatif.
Dimensi Lokal: Pancasila dalam Kerangka DC Global
Salah satu kebaruan penelitian ini adalah penggabungan perspektif kewarganegaraan lokal
ke dalam kerangka DC global. Nisa et al. (2025) menemukan bahwa nilai-nilai Pancasila seperti
persatuan, kemanusiaan, dan musyawarah dapat menjadi dasar etika digital untuk menghadapi
disrupsi digital. Nilai tersebut mendorong keterbukaan terhadap perbedaan pandangan dan
menolak absolutisme informasi yang menjadi ciri FR. Halimah et al. (2025) juga menemukan
bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila di perguruan tinggi berkontribusi dalam
membentuk perilaku digital yang lebih etis dan bertanggung jawab.
Supandri et al. (2025) menunjukkan bahwa integrasi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
dengan literasi platform digital dapat meningkatkan kesadaran etika mahasiswa. Fitriyah et al.
(2024) menemukan bahwa pembelajaran PKn berbasis literasi digital meningkatkan civic
knowledge dan civic disposition peserta didik. Septiani et al. (2024) juga menunjukkan bahwa
program literasi digital berbasis nilai kewarganegaraan efektif mengurangi penyebaran informasi
yang belum terverifikasi.
Model Integratif DCFREAD
Berdasarkan seluruh temuan, penelitian ini merumuskan model integratif dengan empat jalur
intervensi yang saling mendukung: (1) level individu , memperkuat AL, MIL, dan Data Literacy
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
7
First Author et.al (Title of paper shortly, 3-5 first-words)
agar pengguna lebih resilien terhadap kurasi algoritmik; (2) level komunitas , memperkuat Civic
Engagement Online dan Digital Ethics untuk membangun kembali shared informational space;
(3) level institusional , mengintegrasikan dimensi DC ke dalam kurikulum PKn agar terbentuk
ekosistem warga digital yang kritis; dan (4) level platform , mendorong regulasi transparansi
algoritmik melalui standar explainability sehingga pengguna memahami proses kurasi konten.
Model ini menunjukkan bahwa tidak ada satu solusi tunggal yang mampu mengatasi FR.
Khasanah dan Wijaya (2023) menegaskan bahwa intervensi yang hanya fokus pada satu aspek
akan terbatas efektivitasnya karena struktur EAD tetap bekerja. Arguedas et al. (2022) juga
menekankan bahwa solusi teknis saja tidak cukup untuk mengatasi fragmentasi realitas.
Diperlukan kombinasi antara desain platform yang lebih baik, pendidikan pengguna, dan regulasi
yang berkelanjutan.
Kebaruan utama penelitian ini terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini
mengintegrasikan FR sebagai konsep utama yang menghubungkan mekanisme EAD dengan
strategi mitigasi DC dalam satu kerangka analitik. Kedua, penelitian ini menempatkan AL
sebagai dimensi inti DC yang sebelumnya sering dianggap sekunder, serta menunjukkan bahwa
AL harus berjalan bersama MIL dan civic engagement dalam menghadapi FR. Ketiga, penelitian
ini memasukkan nilai kewarganegaraan lokal seperti Pancasila ke dalam kerangka DC global
sehingga menghasilkan model yang relevan bagi konteks Indonesia sekaligus dapat diterapkan
pada negara berkembang lain yang menghadapi polarisasi informasi berbasis algoritma.
4. Kesimpulan
Fractured reality merupakan konsekuensi struktural dari EAD yang secara sistemik
mengoptimalkan engagement di atas kebenaran dan keragaman informasi. Mekanisme
algorithmic content curation, filter bubble formation, dan echo chamber amplification bekerja
sinergis membentuk fragmentasi epistemologis yang terbukti menggeser animositas
antarkelompok, mengikis kepercayaan pada institusi demokratis, dan meruntuhkan shared
factual ground sebagai fondasi deliberasi publik yang sehat.
Digital citizenship yang mampu menjawab tantangan ini bukanlah DC dalam pengertian
konvensional yang berpusat pada kecakapan teknis, melainkan DC yang direformulasi dengan
menempatkan algorithmic literacy sebagai kompetensi intinya diintegrasikan secara tidak
terpisahkan dengan media and information literacy, data literacy, civic engagement online, dan
digital ethics. Mitigasi FR yang berkelanjutan mensyaratkan strategi empat level yang bekerja
simultan: penguatan kompetensi kritis pada level individu, rekonstruksi ruang informasi bersama
pada level komunitas, transformasi kurikulum PKn pada level institusional, dan regulasi
transparansi algoritma pada level platform. Nilai-nilai Pancasila yakni musyawarah, persatuan,
dan kemanusiaan memiliki relevansi operasional konkret sebagai sumber daya kultural yang
memperkuat resistensi terhadap absolutisme informasional yang diperkuat algoritma.
Penelitian ini merekomendasikan tiga hal: revisi kerangka kompetensi DC dalam kurikulum
PKn dengan memasukkan algorithmic literacy sebagai komponen wajib; regulasi platform yang
mewajibkan transparansi algoritmik sebagai prasyarat informed consent pengguna; serta riset
empiris-lapangan lanjutan untuk memvalidasi model integratif yang dirumuskan, khususnya
melalui studi intervensi pada kelompok demografis yang beragam di Indonesia.
5. Daftar Pustaka
Arguedas, A. R., Robertson, C. T., Fletcher, R., & Nielsen, R. K. (2022). Echo chambers, filter bubbles,
and polarisation: A literature review. Reuters Institute for the Study of Journalism.
https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/echo-chambers-filter-bubbles-and-polarisation
Bandy, J., Diakopoulos, N., & Nechushtai, E. (2022). Auditing news curation systems: A case study
examining algorithmic and editorial logic in Apple News. The International Journal of
Press/Politics, 27(4), 925948. https://doi.org/10.1177/19401612211059586
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
8
Ihab Muhammad Nursihab (Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured....)
Bruns, A. (2019). Are filter bubbles real? Polity Press.
Calice, M. N., Bao, L., Freiling, I., Howell, E., Xenos, M. A., & Yang, S. (2021). Polarized platforms?
How partisanship shapes perceptions of “algorithmic news bias.” New Media & Society, 25(11),
28332854. https://doi.org/10.1177/14614448211034159
Carmi, E., & Yates, S. (2023). Data citizenship: Data literacies to challenge power imbalance between
society and “Big Tech.” International Journal of Communication, 17, 36193637.
Cinelli, M., De Francisci Morales, G., Galeazzi, A., Quattrociocchi, W., & Starnini, M. (2021). The echo
chamber effect on social media. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(9),
e2023301118. https://doi.org/10.1073/pnas.2023301118
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th
ed.). SAGE Publications.
Fitriyah, N., Suharto, D. G., & Azizah, N. (2024). Implementasi literasi digital dalam pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah menengah atas. Academy of Social Science and Global
Citizenship Journal, 4(2), 8897. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v4i2
Gagrčin, E., Naab, T. K., & Grub, M. F. (2024). Algorithmic media use and algorithm literacy: An
integrative literature review. New Media & Society. https://doi.org/10.1177/14614448241291137
Geschke, D., Lorenz, J., & Holtz, P. (2023). The triple-filter bubble: Using agent-based modelling to test
a meta-theoretical framework for the emergence of filter bubbles and echo chambers. British
Journal of Social Psychology, 62(3), 11651188. https://doi.org/10.1111/bjso.12665
Guess, A. M., Malhotra, N., Pan, J., Barberá, P., Allcott, H., & Brown, T. (2023). How do social media
feed algorithms affect attitudes and behavior in an election campaign? Science, 381(6656), 398
404. https://doi.org/10.1126/science.abp9364
Halimah, S., Marzuki, & Wulandari, D. (2025). Pendidikan karakter berbasis Pancasila sebagai strategi
pembentukan perilaku digital bertanggung jawab pada mahasiswa. Academy of Social Science and
Global Citizenship Journal, 5(1), 110. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i1
Huang, G., Jia, W., & Yu, W. (2024). Media literacy interventions improve resilience to misinformation:
A meta-analytic investigation. Communication Research, 52(1), 128.
https://doi.org/10.1177/00936502241288103
Khasanah, U., & Wijaya, H. D. (2023). Fragmentasi realitas dan kompetensi kritis mahasiswa: Studi
kasus penggunaan media sosial berbasis algoritma. Academy of Social Science and Global
Citizenship Journal, 3(2), 7583. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v3i2
Krippendorff, K. (2018). Content analysis: An introduction to its methodology (4th ed.). SAGE
Publications.
Labayo, C. C. (2024). Youth netizens as global citizens: Digital citizenship and global competence among
undergraduate students. Frontiers in Communication, 9.
https://doi.org/10.3389/fcomm.2024.1398001
Mayring, P. (2014). Qualitative content analysis: Theoretical foundation, basic procedures and software
solution. Klagenfurt. https://qualitative-content-
analysis.org/wpcontent/uploads/Mayring2014QualitativeContentAnalysis.pdf
Metzler, H., & Garcia, D. (2024). Social drivers and algorithmic mechanisms on digital media.
Perspectives on Psychological Science, 19(1), 95111.
https://doi.org/10.1177/17456916231185057
Mustofa, A., Hidayat, R., & Yulianti, F. (2025). Pembentukan kompetensi kewarganegaraan digital
generasi muda melalui pendekatan partisipatif di era media sosial. Academy of Social Science and
Global Citizenship Journal, 5(2), 4049. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i2
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
9
First Author et.al (Title of paper shortly, 3-5 first-words)
Nisa, N. H., Kusumawati, I., & Purnama, K. G. (2025). Refleksi kritis terhadap relevansi Pancasila di era
disrupsi digital. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 5(1), 3542.
https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i1
Nugraha, A. T., Setiawan, B., & Prabowo, M. (2022). Ketidaktransparanan platform digital dan
fragmentasi narasi publik di Indonesia. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal,
2(2), 5665. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v2i2
Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., Boutron, I., Hoffmann, T. C., Mulrow, C. D., & Moher, D.
(2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews.
BMJ, 372, n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71
Pangrazio, L., & Sefton-Green, J. (2023). The social dimensions of data literacy: A conceptual
framework. Learning, Media and Technology, 48(2), 362375.
https://doi.org/10.1080/17439884.2022.2098077
Perdana, R. A., Saputra, W., & Lestari, D. N. (2023). Intervensi pembelajaran berbasis algorithmic
literacy pada siswa SMA: Dampak terhadap kemampuan berpikir kritis informasional. Academy of
Social Science and Global Citizenship Journal, 3(1), 2938. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v3i1
Piccardi, T., Saveski, M., Jia, C., Hancock, J., Tsai, J., & Bernstein, M. (2024). Do feed rankings
promoting or demoting political distrust and animosity impact affective experience and
polarization? OSF Preprints. https://osf.io/qy9ax/
Pratiwi, A., & Haryanto. (2022). Literasi media dan kemampuan identifikasi hoaks di masyarakat
Indonesia: Studi program literasi berbasis komunitas. Jurnal Ilmu Komunikasi, 20(1), 118.
https://doi.org/10.24002/jik.v20i1.5167
Rahmatullah, A. S., Mulyono, S. E., & Muhibbin, A. (2023). Civic engagement digital dan implikasinya
terhadap toleransi perspektif mahasiswa: Kajian pendidikan kewarganegaraan era algoritmik.
Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 20(1), 5568.
https://doi.org/10.21831/civics.v20i1.55432
Ribble, M. (2011). Digital citizenship in schools (2nd ed.). International Society for Technology in
Education.
Septiani, R., Fauzi, A., & Permana, I. (2024). Efektivitas program literasi digital berbasis nilai
kewarganegaraan dalam mengurangi penyebaran informasi tidak terverifikasi di kalangan
mahasiswa. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 4(1), 1827.
https://doi.org/10.47200/aossagcj.v4i1
Srba, I., Moro, R., Tomlein, M., Pecher, B., Simko, J., & Stefancova, E. (2023). Auditing YouTube’s
recommendation algorithm for misinformation filter bubbles. ACM Transactions on Recommender
Systems, 1(1), 133. https://doi.org/10.1145/3568392
Sugiyanto, Lisnawati, A., Bagavadgitha, A., Shopatunnisa, N., & Rahmawati, T. N. (2025). Transformasi
peran pendidik di era digital. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 5(2), 57
63. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i2
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (2nd ed.). CV. Alfabeta.
Supandri, Ulfah, A., Firmansyah, I., Nuraeni, S., & Kius, F. S. (2025). Peran Pendidikan
Kewarganegaraan dalam menguatkan etika digital dan kesadaran sosial mahasiswa di era media
sosial. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 5(2), 5056.
https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i2
Tomassi, A., Falegnami, A., & Romano, E. (2024). Mapping automatic social media information disorder:
The role of bots and AI. PLOS ONE, 19(5), e0303183.
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0303183
Törnberg, P., Olbrich, E., & Uitermark, J. (2022). The computational analysis of cultural conflicts.
Frontiers in Big Data, 5, 840584. https://doi.org/10.3389/fdata.2022.840584
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal
Vol. 6, No. 1, Juni 2026, page: 1-10
10
Ihab Muhammad Nursihab (Digital Citizenship dalam Memitigasi Fractured....)
Tranfield, D., Denyer, D., & Smart, P. (2003). Towards a methodology for developing evidence-informed
management knowledge by means of systematic review. British Journal of Management, 14(3),
207222. https://doi.org/10.1111/1467-8551.00375
We Are Social, & Meltwater. (2024). Digital 2024: Global overview report. We Are Social & Meltwater.
Wulandari, D., & Marzuki. (2022). Penguatan kompetensi kewarganegaraan digital di perguruan tinggi:
Integrasi nilai lokal dan kecakapan global. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 12(2), 112124.
https://doi.org/10.20527/kewarganegaraan.v12i2.12345
Yazid, S., & Darusman, D. (2023). Ekosistem informasi digital Indonesia: Fragmentasi narasi, literasi
rendah, dan implikasi terhadap ruang publik. Jurnal Komunikasi Indonesia, 12(1), 3852.
https://doi.org/10.7454/jki.v12i1.xxxx
Zulfikar, T., & Saefudin, A. (2022). Kesenjangan antara akses digital dan kompetensi kewarganegaraan
digital mahasiswa baru di Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(2), 189204.
https://doi.org/10.24832/jpnk.v7i2.2567